[1st SONG] 너의 세상으로 – ANGEL


 

angel

Cast : Kim Jong-In x Shin Hee-Ra

.

Romance; Fluff PG-15 Ficlet

.

Author Notes : FanFiction ini masih berhubungan dengan Forbidden Love 

.

.

 

ANGEL ©2017

.

 

I have come to love you now

There’s no place for me to go back

My wings have been taken away (oh no)

Even if I lost eternal life, the reason why I’m happy

Is because my forever is now you

Eternally love

 

 

“Aku tidak suka kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

Jong-In menyilangkan kedua lengannya, melemparkan pandangan protes pada Hee-Ra yang sibuk mencuci piring di dapur. Sarapan mereka terasa hambar. Bukan mengenai suasananya, tapi benar-benar mengacu pada rasanya.

Oke, setidaknya Hee-Ra sudah berusaha untuk memasak sebaik mungkin bagi suaminya—Kim Jong-In.

Menjadi istri seorang pebisnis muda sekaligus pewaris Grup Zorus rupanya tidak buruk. Jong-In selalu mengajaknya ke manapun. Kecuali satu minggu ini. Sebenarnya masalahnya ada pada Hee-Ra, ia menolak ajakan Jong-In dan memilih untuk tetap di rumah.

Hee-Ra berbalik sambil melepas sarung tangan pink-nya. “Aku tidak menyembunyikan apapun,” gumamnya sambil menggedikkan bahu.

“Benarkah?”

Hee-Ra mengangguk cepat. Wajah polosnya berusaha meyakinkan Jong-In kalau dirinya memang tidak berbohong.

Sayangnya pria itu tak bisa dikelabui. Status mereka sebagai suami-istri yang telah berjalan selama dua tahun belakangan membuat keduanya hapal pada reaksi masing-masing.

“Aku tidak percaya.” Jong-In mendengus. “Aku menyuruh bodyguard-ku untuk mengikutimu dan—“

“Kau berjanji tak akan melakukannya? Kenapa kau masih menyuruh bodyguard-mu mengikutiku?” potong Hee-Ra kesal.

Ya, Jong-In memang sudah berjanji pada Hee-Ra untuk tidak menyuruh bodyguard-nya mengikuti wanita itu diam-diam. Well, Hee-Ra benci dengan penguntit.

“Bisakah kita lupakan sejenak soal perjanjian itu?”

No. Kau sendiri yang berjanji.” Hee-Ra melangkah pergi meninggalkan Jong-In yang otomatis diikuti oleh pria itu. Mereka harus menyelesaikan persoalan ini sekarang juga.

Mereka berhenti di kamar dengan posisi Hee-Ra menghadap almari. Entah apa yang sedang ia lakukan, tapi sepertinya Hee-Ra tengah mencari sesuatu.

“Oke, aku salah,” aku Jong-In. “Tapi bagaimana denganmu? Bodyguard-ku melihatmu keluar dari rumah tiga kali dalam seminggu. Mereka bahkan mengirimkan fotomu yang terlihat rapi.”

“Apakah aneh bila wanita terlihat rapi saat ingin pergi?”

Skak mat.

Jong-In kalah telak.

Tidak, ia belum kalah. Jong-In masih memiliki kartu AS-nya sendiri.

“Tidak, tentu saja kau tidak salah. Hanya saja waktu aku menghubungimu kau selalu berkata sedang di rumah.” Ia berhenti sejenak dan meraih lengan kanan Hee-Ra, lalu membalik badan wanita itu dan menatapnya kesal. “Jadi kau berada di rumah siapa?”

Hee-Ra terdiam. Ia kebingungan harus menjawab seperti apa. Sepertinya berbohong pada Jong-In tak akan ada gunanya.

“Kenapa kau diam? Apa aku benar? Jadi kau pergi ke rumah lelaki lain sementara suamimu sedang bekerja?” Jong-In naik pitam. Wajahnya memerah padam seolah berapi-api.

Tangannya mulai mengepal. Hei! Siapa yang berani menggoda istriku? Apa dia tidak tahu sekuat apa Kim Jong-In? Aku akan membunuhnya!

“Katakan, siapa lelaki itu? Apa dia Chan-Yeol? Apa yang—“

“Kim Jong-In, dia perempuan.”

“Apa?”

Hee-Ra menghela napas dan kembali bergumam, “kubilang, dia pe-rem-pu-an!” ujarnya dengan penekanan pada setiap suku kata.

“Perempuan?” Hell no! “Apa maksudmu? Kau selingkuh dengan pere—“

“Aku hamil.”

“Apa?”

Serius, bisakah pria ini berhenti berkata apa?

Hee-Ra kembali berbalik ke almari dan mengambil amplop dari dalam tasnya, kemudian memberikan amplop tersebut pada Jong-In.

Senyumnya merekah, sementara Jong-In menatapnya bingung. Wajar, ia takut salah dengar.

“Kubilang, aku hamil.” Hee-Ra menggerakkan dagunya ke amplop tersebut. “Dan aku yakin dia adalah perempuan.”

Hamil?

Mengadung seorang bayi?

Anaknya?

Mulutnya membulat. Dengan cepat Jong-In membuka amplop dari Hee-Ra dan membaca setiap kata yang tertulis dalam kertas di dalamnya. Jantungnya berpacu cepat, kedua matanya membelalak begitu melihat tulisan yang menyatakan bahwa Hee-Ra memang positif hamil.

Ia hampir berteriak saking senangnya. Ucapannya tergagap tak karuan, Jong-In mematung namun senyumnya mengembang.

“K-KAU HAMIL? KAU BENAR-BENAR HAMIL?” teriaknya tak percaya.

Tatapan Jong-In menggambarkan segalanya. Kebahagiaan, haru, rasa tak percaya, semuanya bercampur aduk menjadi satu.

Hee-Ra tak bisa menahan rasa gelinya. Ia tak menyangka Jong-In akan memberikan reaksi seheboh itu. Ini menyenangkan di saat suami lebih heboh daripada sang istri.

Hee-Ra mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Ya, aku hamil… anak kita.”

Demi apapun!

Jong-In tak tahu harus mengekspresikan rasa bahagianya dengan melakukan apa. Kakinya bergetar hebat, ia berlutut di lantai dan memeluk perut Hee-Ra. Tak terasa air matanya menetes begitu saja.

“Apa kau benar-benar ada di sini? Apa kau bisa mendengar ayah?” ujar Jong-In sambil mengelus pelan perut Hee-Ra.

Hal ini semakin membuat Hee-Ra merasa beruntung memiliki suami seperti Jong-In. Tanpa ragu Hee-Ra mengusap rambut Jong-In. “Hari Selasa, aku pergi ke supermarket untuk membeli alat uji kehamilan. Karena tak percaya pada hasil yang pertama, hari Rabu aku kembali membeli alat uji kehamilan dengan merk dan tempat yang berbeda. Entah, aku masih merasa tak percaya. Sampai akhirnya hari Jumat aku pergi ke Rumah Sakit dan mengunjungi dokter kandungan… dan inilah akhirnya, aku benar-benar hamil. Kita akan memiliki anak, Kim Jong-In.”

Jong-In memandang takjub. Seolah bayi dalam kandungan Hee-Ra adalah suatu keajaiban. “Jadi kau benar-benar ada di sini, sayang?” Ia mengecup perut Hee-Ra beberapa kali, memberikan sensasi geli pada wanita itu.

Detik berikutnya, Jong-In mendongak dan menatap Hee-Ra dengan kedua mata berkaca-kaca. “Apa jenis kelaminnya?”

Seriously, Hee-Ra terkikik geli. “Dia baru berusia tiga minggu. Kita belum bisa mengetahui jenis kelaminnya,” jelas Hee-Ra. Ia menunduk dan mengecup kening Jong-In. “Tapi aku yakin dia perempuan.”

“Apapun jenis kelaminmu, ayah akan selalu menyayangimu,” ujar Jong-In sambil menempelkan keningnya di perut Hee-Ra.

Kali ini pria itu bangkit dan menangkup kedua pipi Hee-Ra. “Terima kasih sudah menghadirkan malaikat kecil dalam hidupku, aku mencintaimu, Shin Hee-Ra,” tuturnya penuh kasih sayang nan dalam.

Hee-Ra langsung menarik pinggang Jong-In agar tubuh mereka saling menempel, sebuah pelukan hangat untuk menyempurnakan kebahagiaan mereka pagi ini.

“Aku juga mencintaimu, terima kasih sudah membuatku menjadi wanita paling bahagia di dunia.”

 

FIN

 

.

 

HALOOOOO

Maaf ya baru muncul lagi soalnya kemarin-kemarin sibuk sama UN + Cari kuliah hehe :’) Oke, jadi the next project ini aku bakal bikin fanfict entah itu oneshot/ficlet menggunakan judul lagu EXO dari jaman MAMA – THE WAR.

Nah, berhubung album pertama EXO itu MAMA jadi pembukaannya aku make lagu yang ada di album itu hehehe. Nanti buat FanFict yang berikutnya juga masih make lagu yang ada di album MAMA, kalau MAMA udah selesai baru deh ke album berikutnya 😀

 

Iklan

15 pemikiran pada “[1st SONG] 너의 세상으로 – ANGEL

  1. Wah sequelnya ya kak?
    Suka bngt kak. Wah akhrny punya anak jga mreka hehe . Akhrny yg ditunggu2 sequelnya up jga jdi sneng hati wkwk. Next kak , semoga makn bahagia mereka.

  2. Ping balik: [1st SONG] 너의 세상으로 – ANGEL by Heena Park | EXO FanFiction Indonesia

  3. waaaahhhhh akhirnyaaa setelah sekian lama menunggu… di update juga sequelnya…. suka banget, setelah 2 tahun lalu punya anak .. selamat jong in hee ra :))

  4. Weeeessss aku senyum2 sendiri…
    Kemaren seharian baca forbidden love di web nya kakak,ya meskipun gak puas karena jelang satu chapter di protect tpi gak apa2lah,pengen koment tapi kelamaan karena baru baca,maaf gk bermaksud jadi siders…
    Moga2 banyak fanfic yang seru deh…
    See you.

  5. Ini sequelnya kak? Akhirnya Hee Ra hamil 🙂 Seru banget kalau perjalanan mereka dibikin sequel 🙂
    Selain forbiden Love aku juga ngikutin cerita yang lain. Semangat terus kak, buat ngelanjutin ceritanya 🙂

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s