UNWANTED MARRIAGE [EP 4 – BACK]


unwanted-marriage

Heena Park Present

.

UNWANTED MARRIAGE”

.

Park Chan-Yeol & Choi Ha-Neul

Others.

.

Romance-Drama-Multichapter-PG15

.

Author Notes : Sebelum membaca FF ini, disarankan untuk membaca Forbidden Love terlebih dahulu karena saling berhubungan.

.

Follow me on WATTPAD

Add me on FACEBOOK

Follow me on INSTAGRAM

.

Poster by Alkindi @Poster Channel

.

.

Chan-Yeol menatap penampilannya di depan cermin. Ia mengenakan sweater coklat dan celana kain milik Min-Hyuk—bos Hee-Ra. Kemarin Chan-Yeol sudah berusaha mencari Hee-Ra di rumahnya, tapi yang muncul malah So-Ra, dia bilang kalau Hee-Ra akan segera menikah dengan pria lain, tentu saja Chan-Yeol tidak percaya. Mereka baru putus beberapa hari lalu dan Hee-Ra berencana menikah dengan pria lain? Tidak masuk akal sama sekali.

“Makanlah, aku sudah menyiapkannya untukmu,” ujar Min-Hyuk yang baru saja membuka pintu ruangan. Ia memberikan Chan-Yeol tempat untuk sekedar membersihkan diri dan makan.

Yah, Min-Hyuk memang pria yang baik. Ia tidak tega meliahat Chan-Yeol kedinginan di depan cafenya. Min-Hyuk bahkan sangat terkejut mendapati pria itu ada di sana, tapi yang lebih aneh lagi, Chan-Yeol mengenakan tuxedo seperti baru pulang dari acara penting. Ah, benar, seharusnya hari ini Chan-Yeol menikah dengan seseorang, tapi faktanya Chan-Yeol berada di sini, itu berarti dia kabur, kan?

Belum lagi pertanyaan Chan-Yeol yang terlontar setelahnya, ia bertanya apakah Hee-Ra benar-benar akan menikah? Min-Hyuk tidak pernah mendengar Hee-Ra berkata seperti itu, sungguh.

“Terima kasih hyeong, aku tidak tahu bagaimana kalau kau tidak menolongku tadi,” ujar Chan-Yeol putus asa. Ia masih menatap foto Hee-Ra bersama staff Min-Hyuk lainnya yang tergantung di dinding.

“Makanlah dulu, kau sudah memandangi foto itu sejak tadi.” Min-Hyuk melontarkan protes. “Aku akan berusaha mencari di mana keberadaan Hee-Ra sekarang. Jadi makanlah,” lanjutnya.

Lantas Chan-Yeol mengangguk pasrah. Ia mengekori Min-Hyuk untuk duduk di salah satu meja yang masih kosong dan membiarkan Min-Hyuk membawakan dua porsi panekuk untuk mereka.

“Makanlah, kau harus mengisi tenagamu.”

Ide bagus, Chan-Yeol memang harus mengisi tenaganya, tapi apa daya? Nafsunya benar-benar hancur saat ini. Ia ingin bertemu Hee-Ra, gadis itu adalah tenaganya.

Ya! Park Chan-Yeol, kau mendengarku atau tidak?” gertak Min-Hyuk akhirnya. Ia tak tahan lagi dengan sikap Chan-Yeol yang bagaikan patung tersebut.

Terpaksa Chan-Yeol bergerak, meraih pisau dan garpu dengan lemas. Ia mengiris sepotong kecil panekuk madu di hadapannya dan mulai memakannya mesti tenggorokannya terasa perih.

“Terima kasih, hyeong,” ujarnya lagi yang semakin membuat Min-Hyuk prihatin.

Min-Hyuk mendecak. “Kau kabur dari pernikahanmu?”

Ah, sepertinya Min-Hyuk memang tipikal pria yang sangat peka. “Hyeong tahu aku akan menikah?” tanyanya bingung.

“Begitulah.” Mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa saat dan mengeluarkan sesuatu dari saku. “Aku menemukan ini di depan cafe beberapa waktu lalu.”

Rupanya undangan pernikahan Chan-Yeol dengan Ha-Neul. Ya, ia ingat dulu memberikan itu pada Hee-Ra tapi dibuang dan diinjak begitu saja, ternyata Min-Hyuk mengambilnya.

“Aku kabur dari pernikahan.” Chan-Yeol kembali melepaskan garpu dan pisau di tangannya. Ia menyandar ke badan kursi. “Aku masih sangat mencintai Hee-Ra, aku tidak ingin kehilangan dia, hyeong.”

Min-Hyuk paham kegundahan yang dirasakan Chan-Yeol, tapi kabur dari pernikahan dan membuat malu nama kedua belah keluarga juga sang mempelai wanita bukanlah hal yang patut dilakukan. Ia melipat kedua lengan di meja dan menatap Chan-Yeol dalam-dalam.

“Kalau kau memang pria sejati, pulanglah dan katakan keinginanmu, Park Chan-Yeol. Tidak ada untungnya kau kabur seperti ini, bukan hanya keluargamu yang hancur, tapi keluarga calon pengantinmu juga. Aku yakin Hee-Ra tidak mau melihatmu seperti ini, lebih lagi bisa saja kebencian ibumu pada Hee-Ra semakin membesar. Kau tentu tidak ingin hal itu terjadi, kan?”

Memang benar apa yang dikatakan Min-Hyuk barusan. Ia bisa menyelamatkan diri untuk menghindar dari pernikahan bodoh itu beberapa waktu, tapi bagaimana dengan Hee-Ra? Ibunya pasti akan semakin membenci kekasihnya tersebut, dan kemungkinan Ha-Neul juga.

“Tuan Muda Park, anda harus ikut kami pulang sekarang juga.”

Chan-Yeol menengok, terkejut melihat empat pria berbadan besar yang tiba-tiba masuk ke cafe Min-Hyuk. Tunggu dulu, bukankah mereka anak buah ibunya? Dan hei! Mereka tahu dari mana kalau Chan-Yeol berada di sini?

 

••

 

In my dreams you’re with me

We’ll be everything I want us to be

And from there—who knows?

Maybe this will be the night that we kiss for the first time.

Or is that just me and my imagination?

 

Brengsek! Park Chan-Yeol brengsek!

Ha-Neul membanting iPod yang barusan memutar Imagination milik Shan Mendes. Hatinya kacau setiap mendengar lagu yang mengingatkan pada Chan-Yeol tersebut.

Kenapa Park Chan-Yeol? Kenapa kau tega kabur dari pernikahan begitu saja? Apa memang Ha-Neul sebegitu tidak pantasnya untuk menjadi istrimu?

Ha-Neul meremas rambutnya, matanya merah akibat menangis semalaman. Ia benar-benar malu dan sakit hati kemarin. Para tamu yang datang membicarakannya dengan terang-terangan, mereka bilang Ha-Neul sangat kasian karena ditinggal calon suaminya sendiri, mereka bilang Ha-Neul gadis malang yang terlalu ingin cepat-cepat menikah padahal calon suaminya belum siap dan memilih pergi.

Sekarang tidak ada gunanya lagi untuk memiliki gaun pengantin indah yang terpajang di pojok kamarnya, kan?

Ha-Neul bangkit, tangan kanannya meraih gunting di atas meja dan berdiri kaku di depan gaun pengantin yang seharusnya menjadi saksi bisu pernikahan mereka kemarin.

“Aku tidak akan membiarkanmu lari lagi, Park Chan-Yeol. Aku berjanji akan mendapatkanmu setelah semua pelecehan harga diri yang kau lakukan padaku kemarin.” Ha-Neul menatap nanar gaun pengantinnya. Hatinya memanas, pipinya merah padam, otaknya berasa ingin meledak karena kemarahan yang begitu besar.

Setelahnya, Ha-Neul berteriak sekeras mungkin dan menghujamkan gunting ke gaun pengantinnya hingga berlubang. Ia membiarkan kemarahan menguasainya, sakit hati yang dirasakan bukan hanya berakibat pada tubuh, tapi juga jiwa dan mentalnya. Ha-Neul merasa bodoh dan naif karena cintanya pada Chan-Yeol.

Ia tidak akan membiarkan Chan-Yeol menginjak-injak harga dirinya, ia akan berusaha mendapatkan Chan-Yeol kembali dan tidak peduli dengan perasaan pria itu. Tak masalah kalau Chan-Yeol tidak mencintainya, tidak masalah kalau nantinya Chan-Yeol akan berusaha teruse menemui wanita murahan—kekasihnya—Ha-Neul akan berusaha dan terus berusaha untuk memiliki Chan-Yeol seutuhnya. Pria itu harus tahu dan takluk pada Ha-Neul.

Tangisannya tidak bisa berhenti, tangannya terus menghujam juga merobek gaun pengantin sialan yang akhirnya berakhir sia-sia tersebut. Apa Ha-Neul memang ditakdirkan untuk menyendiri sampai mati? Apa sebenarnya kesalahan Ha-Neul? Kenapa cinta seolah tak pernah berpihak kepadanya?

“Choi Ha-Neul, apa yang kau lakukan?!”

Vokal familiar seorang pria beserta gesekan pintu tetap tak menghentikan kegiatan Ha-Neul. Sontak Si-Won segera berlari dan mendekap adiknya dari belakang, berusaha mencegah Ha-Neul kembali merusak gaun pengantinnya.

“Lepaskan aku! Biarkan aku menghancurkan gaun sialan itu!” racau Ha-Neul yang masih berusaha melepaskan tangan Si-Won dari perutnya.

“Hentikan, Choi Ha-Neul!”

“Lepaskan aku…” Ia mulai lemah, pukulannya pada lengan Si-Won berhenti. “Biarkan aku menghancurkan semuanya, seperti dia menghancurkan impianku..”

Si-Won memang sering melihat hatinya patah hati dulu, tapi tidak pernah sampai seperti ini. Ia membalik badan Ha-Neul dan mendekapnya erat, berusaha menenangkan hati sang adik yang tengah terluka.

“Jangan melakukannya, kumohon..” Si-Won mengecup lembut puncak kepala Ha-Neul, sudah lama ia tak melakukannya. Sang adik yang selalu menjadi bulan-bulanan keusilannya kini tengah patah hati.

“Aku akan memukulnya sampai babak belur.” Si-Won melonggarkan pelukannya, mendongakkan wajah Ha-Neul. “Aku akan membunuh Park Chan-Yeol kalau kau mau.”

Ha-Neul menggeleng, ia tidak mau Chan-Yeol terluka. Dan hal tersebut berhasil membuat Si-Won menyunggingkan senyumnya.

“Si brengsek itu sudah pulang, kau mau bertemu dan langsung menonjok wajahnya?” Ia mengusap air mata yang membasahi pipi Ha-Neul. “Aku akan mengantarmu ke sana kalau kau mau,” lanjutnya.

 

••

 

Si-Won mengantarnya ke rumah Chan-Yeol. Entah berada di mana harga diri Ha-Neul saat ini. Ia telah ditolak pria itu untuk menjadi mempelainya dan malah menghampiri ke rumah? Mungkinkah Ha-Neul sudah tidak punya rasa malu lagi?

“Kalau dia membuatmu kesal, langsung pukul saja wajahnya,” tukas Si-Won tanpa memalingkan wajah dari depan.

Ha-Neul tertawa pelan. “Baiklah, aku akan mengingat nasihat oppa,” jawabnya.

Setelahnya Ha-Neul segera keluar dari mobil Si-Won dan beranjak masuk ke rumah Chan-Yeol. Untungnya security di sana sudah pernah melihat kedatangan Ha-Neul sebelumnya, sehingga ia langsung dipersilakan untuk masuk.

Pertama kali menginjakkan kaki di rumah besar nan sepi ini, Ha-Neul mendengar suara samar-samar yang kelihatannya berasal dari ruang tengah. Entah apakah kelakuannya sopan atau tidak, tapi Ha-Neul benar-benar penasaran.

“Sudah kubilang, aku tidak ingin menikah dengan Ha Neul. Walaupun ia adalah teman masa kecilku.”

Suara itu?

Ha-Neul mengintip dari balik dinding, sosok Chan-Yeol yang babak belur tengah berbicara dengan ibunya.

“Kaupikir jika tidak menikah dengannya hidup kita akan terus seperti ini? Berpikirlah lebih dewasa, ayahmu sudah sekarat Park Chan Yeol, kemungkinan hidupnya tinggal sepuluh persen. Kalau kau dari awal tidak memilih untuk menjadi dokter, maka kejadiannya tidak akan seperti ini.”

Lama keheningan menerpa sampai akhirnya kembali terdengar suara Chan-Yeol. “Aku berjanji perusahaan tidak akan hancur.”

“Kau tidak seharusnya berjanji seperti itu, dokter.”

Nada pasrah jelas terdengar dalam kalimat terakhir Nyonya Park, Ha-Neul terus berdiam tak menyangka kegigihan Chan-Yeol untuk tetap mempertahankan kekasihnya begitu besar. Dalam satu sisi ia memang gigih, namun di sisi lain, Chan-Yeol terdengar gila karena mengorbankan keluarganya sendiri.

Suara langkah kaki seseorang terdengar samar di telinga Ha-Neul, Nyonya Park yang baru saja keluar dari ruang tengah tak sengaja mendapati keberadaan Ha-Neul. Gadis itu menyandar ke dinding, kepalanya menunduk.

“Ha-Neul?”

Seolah tak menyangka akan kedatangan Ha-Neul, Nyonya Park membulatkan mata sambil memanggil calon menantunya tersebut. Ia mengusap lengan kiri Ha-Neul. “Kau datang? Maaf bibi tidak menyadari kedatanganmu,” lanjutnya.

Ha-Neul menggeleng. “Tidak, maafkan aku karena tak sengaja mendengar pembicaraan bibi dan Chan-Yeol.”

Nyonya Park menarik kedua ujung bibirnya. “Ambilah air es dan obati luka Chan-Yeol. Bibi yakin dia akan lebih mendengarkanmu daripada wanita tua ini,” tukasnya lalu menepuk pelan pundak Ha-Neul.

Tanpa membuang-buang waktu, setelah kepergian Nyonya Park, Ha-Neul segera meluncur ke dapur, mengambil air es juga sebuah handuk kecil untuk mengobati luka Chan-Yeol lalu kembali ke ruang tengah.

Dilihatnya Chan-Yeol masih di sana, duduk termenung dan tak punya tenaga. Jujur, pemandangan di depannya membuat kemarahan juga kebencian Ha-Neul pada Chan-Yeol menghilang begitu saja. Ia sendiri tak paham pada hatinya, kenapa perasaannya bisa berubah seratus delapan puluh derajat hanya karena hal kecil seperti ini?

“Seharusnya kau tidak melawan ibumu, Park.”

Ha-Neul tak mengucapkan kata permisi, ia langsung duduk di samping Chan-Yeol sambil mengucapkan kalimat barusan. Cukup membuat pria itu terkejut dan langsung menengok ke samping.

Setelah menyadari bahwa Ha-Neul lah yang datang, Chan-Yeol membuang napas lega. “Bukankah kau juga tidak menginginkan pernikahan ini?” timpalnya.

Ha-Neul menggeleng, ia mengobati luka Chan-Yeol dengan sangat lembut. “Tidak Park, aku berbohong padamu.” Ia  menatap ke dalam manik mata Chan-Yeol yang bening. “Aku sangat senang ketika mendengar bahwa kita akan dijodohkan karena kau adalah orang yang kusukai semasa kecil. Tapi melihat ekspresimu saat itu, kau seolah menolakku dan terpaksa melakukan pernikahan ini, lalu kuputuskan untuk berbohong padamu dan berkata bahwa aku tidak ingin menjadi pengantinmu.”

Chan-Yeol tidak percaya pada apa yang didengarnya barusan. Ia sudah percaya pada gadis ini dan ternyata apa yang ia dapat? Sebuah kebohongan.

“Park, kumohon jangan batalkan pernikahan kita. Apa kau tidak kasihan pada kedua orang tuamu? Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk juga kau. Pernikahan kita adalah yang terbaik.”

Chan-Yeol tidak setuju!

Apa yang terbaik baginya bukanlah mengikuti keinginan orang tua. Chan-Yeol sudah dewasa, dia bisa menentukan pilihannya sendiri.

“Tidak Ha-Neul-ssi, hanya diri sendiri yang bisa menentukan apa ini baik untuk kita atau sebaliknya. Bukan dari pikiran orang lain.”

Seperti dugaannya tadi, Chan-Yeol selalu gigih pada pilihannya. Dengan begini Ha-Neul harus kembali memutar otak untuk menggoyahkan keyakinan Chan-Yeol. Ah, benar! Ha-Neul bisa membawa nama Cheon-Sa—adik perempuan Chan-Yeol yang fisiknya tidak sempurna—untuk hal ini.

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Adikmu memang pintar dalam mengelola perusahaan, tapi apalah dayanya ketika orang tuamu bahkan mencoba menyembunyikan Cheon-Sa dari publik dan mengatakan hanya kaulah keturunan mereka.”

Chan Yeol terdiam. Perkataan Ha-Neul sangat tepat. Selama ini kedua orang tuanya tidak pernah menunjukkan Cheon-Sa pada publik dan hanya mengatakan bahwa Chan-Yeol lah anak mereka. Park Cheon-Sa adalah adik Chan Yeol yang masih berusia dua puluh tahun, ia tidak bisa berjalan dan melihat dengan baik. Itulah sebabnya orang tua Chan-Yeol selalu berusaha menyembunyikan Cheon-Sa yang dianggap sebagai aib keluarga.

“Park, pikirkanlah baik-baik. Ini untuk masa depanmu, masa depan adikmu, dan masa depan kita semua. Apakah kau tega melihat keluargamu menderita?” Ha-Neul memegang lengan Chan-Yeol.

“Tidak, aku tidak ingin mereka menderita, tapi—”

Ssstt..” Ha-Neul buru-buru menutup mulut Chan-Yeol dengan jari telunjuknya. “Kalau kau tidak bisa menikah denganku karena tidak mencintaiku, maka menikahlah denganku karena masa depan adikmu. Kau tentu tidak inginkan kalau ibumu semakin membenci Cheon-Sa karena hal ini?”

Habis sudah. Chan-Yeol berada di batas kemampuannya untuk bertahan. Ia sangat menyayangi Cheon-Sa dan rela melakukan apapun demi adiknya, tapi jika harus menikah dengan Ha-Neul, apakah Chan-Yeol bisa?”

“Lagipula aku adalah wanita dewasa yang tumbuh dengan cantik, pintar, dan mengagumkan. Aku bahkan telah menolak banyak pria hanya untukmu, Park. Apa kau juga tega menyakitiku yang telah berusaha memperjuangkanmu?”

Sial. Chan-Yeol benar-benar tidak bisa melihat wanita bersikap seperti ini. Jika ia kasihan pada perasaan Ha-Neul, lalu bagaimana dengan perasaannya sendiri?

“Park, jawab aku..”

Ha-Neul memegang kedua pipi Chan Yeol dan menuntun agar pria itu menatapnya. Tidak ada penolakan kali ini, Chan-Yeol pasrah pada apa yang dilakukan oleh Ha-Neul dan berusaha memandang kedua mata Ha-Neul.

Ia laki-laki. Ia harus memiliki pendirian. Ia harus bisa memutuskan yang terbaik meski itu menyakitkan.

“Baiklah, kita akan menikah dan aku berjanji tidak akan ada  lagi peristiwa kabur dari pernikahan,” gumam Chan-Yeol serius.

Ha-Neul tersenyum puas mendengar jawaban Chan Yeol. Seperti yang ia tebak sebelumnya, sedikit sabar, perhatian, dan info terhangat dari Chan-Yeol akan membuatnya mendapatkan pria itu.

 

TO BE CONTINUED

Iklan

33 pemikiran pada “UNWANTED MARRIAGE [EP 4 – BACK]

  1. Ping balik: UNWANTED MARRIAGE [EP 4 – BACK] by Heena Park | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ini sebenernya tiap part bisa dibilang lumayan panjang ya tpi msh berasa kependekan buat aku pribadi kkk

    Suka peran haneul disini, klu yeoja lain mungkin milih bunuh diri atau apa karna malu tpi dia tetep gigih.
    Karna aku udh baca ff forbiden love jdi pas baca ff ini kok ngerasa kek lambat ya alurnya? Haha pingin lgsg2 ke kehidupan seudah nikah nyaa 😂

  3. Chanyeol kamu kok suka membolak balik hati wanita
    Hanneul cinta banget ya sama ceye
    Mending cari aja lagi ceye nya jahat

  4. Chan. Jgn plin plan dong. Tp gpp, km sm haneul aj. Heera biar sm Jongin. Wkw. Gregeten sm Chan. Ak suka bgt sm Heera, jd bawaannya agak gmn gt sm Chan-Haneul. Wkwkw. *piss kak ._.v* Btw dtgg lanjutan Show You kak, beneran deh ak penasaran bgttttttt:'( wkw. Smgt kak, dtgg next nya^^

  5. Satu sisi kasihan sama Chanyeol tapi disisi yang lainnya Haneul juga kasihan
    Semoga Chanyeol bisa berubah dan bisa ngelupain Heera

  6. Aku masih g bisa nebak sifat haneul yg sebenernya. Kelihatannya dia baik tapi kalo udah berurusan dg chanyeol kq dia kaya tipe cewek yg terobsesi gitu ya…?/
    Btw, haneul manggil chanyeol dg sebutan “park” agak gimana gitu yaa 😆

  7. Batal sudah haneul mukul chanyeol. Chanyeolnya keburu babak belur wkwkwk. Tambah greget kaa. Ditunggu chalter selanjutnya 💪💪💪💪💪💪😁😁😁😁

  8. Kasihan haneul sudah disakiti tapi masih tetap sabar sama chanyeol dan nggak mau menyerah. Kapan chanyeol sadar akan perasaan haneul dan tau kalo haneul itu tulus suka sama chanyeol. Fighting haneul pasti bisa kok dapatin hatinya chanyeol, kamu yang sabar ya. Fighting juga untuk authornim.

  9. Chanyeo jgn salahin haneul kalau nanti sifatnya brubah jahat ya,, itu krna kamu sndiri,, coba deh hargain sdikit perasaan haneul uuhhh gemes deh,, dtunggu lanjutannya

  10. ngeri pas adegan haneul gunting2 gaun pengantin, haneul bisa mengerikan juga ternyata ;-D
    hmm… agak sedikit g sreg aja waktu chanyeol dengan mudahnya menerima rayuan haneul, tapi bodo amat lah ya, orang ganteng mah bebas wkwk
    btw part yg ini emang lebih pendek dari biasanya atau aku doang yg bacanya kecepetan? 😀
    next part ditungguuuu, fighting authornim ^^

  11. Aduh ketinggalan tapi gpp deh msh sempet baca.sebenernya sih kasian sama chanyeol tapi… mungkin itu yg terbaik buat sekarang, pelan-pelan pasti chanyeol bakalan sadar kl ha neul itu lumayan baik heehe
    Keep writing

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s