UNWANTED MARRIAGE [EP 3 – BRIDE]


unwanted-marriage

Heena Park Present

.

UNWANTED MARRIAGE”

.

Park Chan-Yeol & Choi Ha-Neul

Others.

.

Romance-Drama-Multichapter-PG15

.

Author Notes : Sebelum membaca FF ini, disarankan untuk membaca Forbidden Love terlebih dahulu karena saling berhubungan.

.

Follow me on WATTPAD

Add me on FACEBOOK

.

Poster by Alkindi @Poster Channel

.

.

Chan-Yeol membuang napasnya berat berkali-kali, keputusan Ha-Neul untuk tidak membantunya membatalkan pernikahan rupanya berakibat cukup berat bagi Chan-Yeol, pasalnya pria itu terpaksa memutar otak untuk melakukan hal yang sekiranya bisa mengakibatkan dibatalkannya pernikahan mereka.

Tentu saja tidak mudah, ibunya yang keras kepala tidak mungkin bisa dipengaruhi kecuali menggunakan alasan-alasan berat dan masuk akal.

Suara ketukan pintu berhasil membuat Chan-Yeol mengakhiri lamunannya, tidak lama kemudian masuklah sosok Nyonya Park.

“Bukankah hari ini seharusnya kau melakukan pemotretan untuk foto undangan kalian?”

Chan-Yeol mengerutkan kening. Ia benar-benar tidak ingat memiliki janji seperti itu. Yah, mau bagaimana lagi? Sejak awal dia memang tidak tertarik dengan pernikahannya dan Ha-Neul walaupun calon istrinya itu memang sangat cantik.

“Aku akan berangkat sebentar lagi,” sahut Chan-Yeol yang akhirnya terpaksa berdiri. “Apa aku harus menjemputnya?” tanyanya kemudian.

Mom heran kau merasa perlu bertanya.” Nyonya Park menggeleng beberapa kali. “Tentu saja kau harus menjemput Ha-Neul. Dia adalah calon istrimu, otomatis segala keperluannya merupakan tanggung jawabmu,” balas Nyonya Park sedikit kesal.

“Baiklah.”

Jawaban Chan-Yeol agaknya berhasil membuat senyum ibunya mengembang. Wanita setengah baya itu mengusap pelan pundak Chan-Yeol dan kemudian berbalik. Namun, sebelum beliau benar-benar menghilang di balik pintu, Nyonya Park kembali menengok ke arah Chan-Yeol.

“Oh ya, sebaiknya mulai sekarang kau tidak menemui gadis itu lagi. Akan tidak baik bagi hubunganmu dengan Ha-Neul. Gadis itu cuma rumput liar yang mengganggu tumbuhnya padi.”

Chan-Yeol paham kalau yang sedang dibicarakan ibunya adalah Hee-Ra. Kekasihnya yang sangat ia cintai selama setahun belakangan ini. Gadis yang berhasil melunakan hati kerasnya, gadis baik hati yang tulus dan tak pernah memandang kekayaannya.

“Tidak bisakah mom berhenti mengatai Hee-Ra? Aku tidak paham kenapa mom sangat membencinya,” balas Chan-Yeol cepat. “Bahkan jika aku benar-benar menikah dengan Ha-Neul, perasaanku padanya tidak akan pernah lebih dari seorang teman.”

Nyonya Park mendecih. “Aku tidak peduli dengan perasaanmu pada Ha-Neul. Selama kau bisa dipisahkan dengan Hee-Ra, itu sudah cukup bagiku.”

Dari dulu ibunya memang selalu berusaha memisahkan Hee-Ra dengan Chan-Yeol, entah secara diam-diam maupun gamblang. Namun, untuk kali ini sepertinya Chan-Yeol tak bisa mengelak, pernikahannya dengan Ha-Neul dilakukan untuk menyelamatkan perusahaan juga keluarganya.

Sebenarnya Chan-Yeol bisa berhenti dari pendidikannya sebagai calon dokter, tapi itu terasa sulit, ditambah sang ayah—sebelum koma—pernah mengatakan kalau beliau ingin melihat Chan-Yeol mengenakan jas putih dan stetoskop melingkar di lehernya.

“Sudahlah, tidak ada gunanya bertengkar. Cepat pergi sebelum Ha-Neul menunggumu terlalu lama,” ujar Nyonya Park akhirnya.

 

••

 

Berkali-kali Ha-Neul mencuri pandang ketika mereka tengah melakukan pemotretan. Memang Chan-Yeol nampak tersenyum, tapi Ha-Neul tahu bahwa hati pria itu tidaklah seperti apa yang sedang dilihatnya.

Berbeda dengan Ha-Neul, jujur ia menikmati setiap detik kebersamaannya dengan Chan-Yeol. Memang dari awal Ha-Neul lah yang jatuh cinta padanya, bahkan setelah bertahun-tahun tidak bertemu dan tanpa terduga mereka kembali disatukan, Ha-Neul dengan polosnya menerima perjodohan setelah mendengar suara Chan-Yeol waktu itu. Ya, memang cinta pertama yang terbaik.

Kalau saja Chan-Yeol tahu bahwa dulu Ha-Neul sempat mencintainya, apakah pria itu akan berubah pikiran dan meninggalkan kekasihnya saat ini? Apakah dia mau berkorban demi Ha-Neul? Tentu saja tidak.

Ha-Neul menundukkan kepalanya, berbisik pada diri sendiri, “Ini lucu. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta padamu lagi, Park?”

Ia menunduk, meratapi diri yang kedengaran begitu menyedihkan. Serius, Ha-Neul mencintai kekasih orang lain dan berharap pria itu mau menjadi suaminya? Ia dulu menyumpahi wanita yang mau menjadi selingkuhan Myung-Soo, tapi setelah kejadian ini, ia sadar kalau cinta memang tidak bersalah. Ia tidak seharusnya marah pada wanita itu.

“Kau tidak ke kantor?” Vokal Chan-Yeol membuyarkan lamunan Ha-Neul, pria itu datang sambil membawa dua kaleng soda dan memberikan salah satunya pada Ha-Neul kemudian duduk di sampingnya.

Ha-Neul terkikik pelan, “Aku bos, jadi bisa pergi atau datang sesuka hati.”

“Ah, benar-benar.” Chan-Yeol mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia melirik sebentar jam di tangan dan mengerutkan kening. Seingatnya tadi masih pukul empat sore, tapi sekarang jarum pendek sudah mengarah ke angka delapan.

“Kau sendiri kenapa tidak kuliah? Bukannya kau calon dokter?” tanya Ha-Neul kemudian.

“Aku mengambil cuti selama Seminggu, tapi besok sudah masuk lagi.”

“Oh, kau sudah makan malam?”

Menggeleng beberapa detik. “Belum. Mau makan bersama?” tanya Chan-Yeol akhirnya.

Demi apapun, tidak mungkin Ha-Neul menolak ajakan Chan-Yeol untuk makan malam. “Tentu saja kalau kau tidak keberatan.”

Ketika keduanya hendak bangkit, Chan-Yeol dikejutkan dengan ponselnya yang tiba-tiba berdering. Pria itu nampak serius dan langsung menjauh dari Ha-Neul hanya demi menerima panggilan. Mungkinkah dari kekasihnya? Ah, Ha-Neul sakit hati memikirkannya.

Sempat menunggu beberapa menit, Chan-Yeol akhirnya kembali. Dia nampak buru-buru dan ingin segera pergi. “Maafkan aku, kurasa aku harus pergi. Kau tidak apa-apakan makan malam sendiri? Kau bisa menggunakan mobilku kalau mau,” ujar Chan-Yeol sambil memberikan kunci mobilnya pada Ha-Neul. “Aku akan naik taksi, kau tidak perlu khawatir,” sambungnya lalu berlari meninggalkan Ha-Neul begitu saja.

 

••

 

“Ada apa denganmu?” Ji-Eun menaruh tas lengannya di kasur Ha-Neul, kemudian menghampiri gadis yang tengah termenung memandang keluar jendela tersebut.

“Apa aku memang tidak akan pernah bertemu dengan pria yang mencintaiku?” Ha-Neul berbalik menatap Ji-Eun yang tengah memandangnya aneh. “Calon suamiku memiliki kekasih dan dia kelihatan sangat mencintai kekasihnya,” ungkap Ha-Neul resah.

Sebenarnya Ha-Neul sangat cantik, banyak pria yang tertarik padanya. Tapi memang dasarnya saja gadis itu selalu jatuh cinta pada pria yang tak baik, jadi dia selalu menderita. Tunggu, sepertinya Chan-Yeol tidak termasuk dalam daftar pria yang tidak baik.

“Dia tidak pernah menghubungiku lagi sejak kami melakukan pemotretan untuk undangan pernikahan.”

“Berapa hari lagi kalian akan menikah?”

Menyedihkan kalau Ha-Neul harus mengingatnya. “Empat. Apa Tuhan tengah menghukumku? Kenapa aku seolah menjadi wanita perebut kekasih orang lain?”

Ya! Kau tidak boleh bicara seperti itu.” Ji-Eun bangkit menuju kulkas di sudut kamar dan mengambil beberapa kaleng beer. “Mau minum? Calon pengantin biasanya memang dilanda keresahan.”

Berbeda dengan biasanya, Ha-Neul nampak tak bersemangat, padahal ia sangat suka jika diajak minum, tapi tidak untuk hari ini. “Tidak usah, kau bisa minum sesukamu. Sepertinya aku harus minum obat penenang, entah kenapa aku terus memikirkan Chan-Yeol dan takut kalau dia kabur saat pernikahan kami nanti.”

 

••

 

Undangan pernikahannya dengan Ha-Neul telah di sebar. Kedua matanya menatap foto dirinya dengan gadis itu beberapa hari lalu, saat mereka tersenyum lebar dan sebuah jepretan indahpun dihasilkan. Oh, Chan-Yeol tak bisa memandang lebih lama, ia segera memasukan undangan tersebut ke saku jaket.

Kakinya bergetar berdiri di depan sebuah cafe, diam-diam memandang gadis yang tengah berdiri di balik meja kasir. Ingin masuk namun terasa tak mampu. Bagaimana kalau Hee-Ra marah nanti? Ia benar-benar tidak ingin menyakiti perasaan gadinya.

Ketika hendak berbalik, Chan-Yeol menadapati Lee Min-Hyuk—bos Hee-Ra—tengah mengatakan sesuatu sambil mengalunkan dagu ke arahnya. Sontak Hee-Ra yang semula tak sadar akan kehadiran Chan-Yeol langsung berlari senang menghampiri pria itu. Sungguh, Chan-Yeol merasa merasa jahat melihat senyum manis Hee-Ra saat ini. Mungkin beberapa menit ke depan gadis itu akan membencinya seumur hidup.

“Kau ke mana saja? Aku sangat merindukanmu,” ujar Hee-Ra bersamaan dengan tenggelamnya ia dalam dalam pelukan hangat yang dibuatnya sendiri pada tubuh Chan-Yeol.

Chan-Yeol belum menjawab. Pria itu bahkan tidak membalas pelukan Hee-Ra. Ia hanya terdiam sambil menarik-keluarkan napas  secara tidak teratur dan terkesan bingung.

Hee-Ra melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat kedua mata Chan-Yeol. “Apa yang terjadi? Semua baik-baik saja, kan?” tanyanya khawatir.

Chan-Yeol menggeleng. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik saku jaket kirinya dan menyodorkan pada Hee-Ra. “Maafkan aku Shin Hee Ra, maafkan aku..”

Chan-Yeol menggigit bibir bawahnya.  Ia bisa melihat perubahan ekspresi Hee-Ra ketika menyadari bahwa yang diberikan oleh Chan-Yeol adalah sebuah undangan pernikahan antara dirinya dengan wanita pilihan ibunya.

Bukan hanya Hee-Ra yang sakit, tapi Chan-Yeol juga. Ia butuh keberanian yang tinggi untuk memberitahukan perihal pernikahannya dengan Ha-Neul pada Hee-Ra. Hatinya remuk, impian indah yang dibangun bersama sang kekasih sejak setahun lalu itupun hancur tanpa sisa.

“Shin Hee-Ra kumohon, aku bisa menjelaskan semuanya!” Chan-Yeol berusaha menarik Hee-Ra kembali dalam pelukannya. Namun gadis itu menolak dan menjauhkan tubuhnya dari Chan-Yeol.

“Jangan sentuh aku!” Hee-Ra melepaskan tangannya dari genggaman Chan-Yeol, mulutnya yang semula diam kini mulai terisak kecil dan berusaha untuk menahannya. Namun ia tidak bisa. Ini terlalu sakit untuk dirasakan.

Matanya berkaca-kaca, Hee-Ra kehilangan kontrol diri dan ingin sekali berteriak juga menangis di depan kedua mata Chan-Yeol. “Kenapa kau menjanjikanku sesuatu yang tidak akan pernah terwujud? Apa karena aku hanya gadis biasa yang levelnya jauh berada di bawahmu lalu kau bisa mempermainkan hatiku begitu saja?”

Tidak!

Chan-Yeol tidak pernah berpikir seperti itu, sungguh!

“Shin Hee Ra, aku tidak pernah berbohong soal perasaanku padamu. Aku benar-benar mencintaimu, hanya saja..”

“Hanya saja kau lebih mencintai gadis itu kan?!”

Hee-Ra meraih undangan yang berada dalam genggaman Chan-Yeol, kemudian membuang benda tersebut di bawah kaki dan menginjaknya dengan penuh rasa kesal.

“Kau lihat sekarang? Persetan dengan undangan ini, aku membencimu Park Chan-Yeol. Sangat membencimu!”

Napasnya tercekat. Chan-Yeol tidak pernah melihat Hee-Ra begitu marah sebelumnya. Dan hari ini gadis itu menunjukkan kemarahan juga kekecewaannya yang begitu mendalam. Chan-Yeol tahu dan sadar bahwa ia lelaki brengsek yang tidak berhasil menjaga keutuhan hubungannya dengan wanita yang sangat ia cintai. Ia tahu bahwa dirinya sangat bodoh sampai Hee-Ra membencinya sekarang.

 

Gadis yang paling berharga dalam hidupnya telah berubah membencinya.

Tanpa menunggu reaksi Chan-Yeol, Hee-Ra langsung masuk ke cafe. Meninggalkan Chan-Yeol dalam kesendirian dan juga rasa salah yang mendalam. Ia sadar telah menjadi tontonan banyak orang, semua mata tertuju padanya, dan mengejar Hee-Ra sama saja kembali memberikan tontonan gratis pada orang-orang itu. Lagipula Hee-Ra tengah diliputi kemarahan sekarang. Chan-Yeol harus menunggu untuk meminta maaf.

 

••

 

Kepalanya pening, masalah yang tiba-tiba datang saling menumpuk membuat Chan-Yeol kehilangan dirinya dan juga sang kekasih. Ia cuma ingin bahagia, tapi kenapa terasa begitu berat?

Tangannya meraih ponsel dan mulai membuka Instagram, ah entah kenapa akhir-akhir ini ia suka melihat akun Ha-Neul. Tidak, Chan-Yeol belum memiliki perasaan pada gadis itu, ia hanya suka melihat foto-foto Ha-Neul yang bagus. Haruskah Chan-Yeol mulai mengikuti Ha-Neul?

Sepertinya boleh juga.

Dilihatnya ada yang baru di Instagram Ha-Neul, gadis itu baru saja menunggah foto beberapa jam yang lalu dan memiliki lumayan banyak komentar juga suka.

 

INSTAGRAM

choihaneul

@choihnl : Missing him was dark grey, all alone.

996 likes

———

@siwon1987 : Aku akan segera pulang @choihnl

@kangji.eun : Heol~ @choihnl

@taeminlee : Kau tidak mungkin merindukan @siwon1987 kan? @choihnl

@myungsook : Akhirnya aku menemukanmu @choihnl

@choihnl : Kau Myung-Soo? @myungsook

@siwon1987 : Ah, jadi kau mengacuhkanku, sister? @choihnl

@myungsook : Mari bertemu @choihnl

@siwon1987 : @myungsook Dia akan segera menikah, kusarankan kau menjauhinya^^

@choihnl : Berhentilah berkata omong kosong-_- @siwon1987 // berikan nomormu padaku @myungsook

 

Myung-Soo? Chan-Yeol tidak pernah sekalipun mendengar nama itu keluar dari mulut Ha-Neul. Apa dia kekasih baru Ha-Neul? Kalau memang iya maka bagus karena kemungkinan Ha-Neul akan berubah pikiran dan memilih untuk membatalkan pernikahan mereka. Tapi seingatnya beberapa hari ini dia tidak pernah menghubungi Ha-Neul lagi.

Mungkinkah caption dalam foto Ha-Neul itu untuknya?

Ah tidak-tidak, mana mungkin Ha-Neul merindukannya. Tidak masuk akal sama sekali. Iya, kan?

 

••

 

Hari berganti, Chan-Yeol tak juga menghubungi, bahkan sampai Ha-Neul duduk di meja rias, menunggu gaun pengantin yang tak ia ketahui seperti apa bentuknya. Ya, mereka akan menikah hari ini. Tapi pengantin macam apa yang tak saling menghubungi dan menanyakan kabar? Chan-Yeol bahkan tidak melihat matanya ketika mereka bertemu tadi, pria itu dirundung kesedihan, berbeda dengan Ha-Neul yang sejujurnya sangat bahagia karena hari ini telah tiba.

Sosok wanita yang tadi meriasnya kini telah kembali sambil membawa sebuah gaun bewarna putih yang begitu cantik. Ha-Neul hampir saja menitikan air matanya, tak percaya kalau dia akan benar-benar menikah hari ini.

“Gaun ini pasti akan cocok untuk anda,” gumam wanita tersebut dan berhasil membuat Ha-Neul tersenyum.

Ia kembali bertanya-tanya, apakah Chan-Yeol akan berubah pikiran dan jatuh cinta setelah melihat Ha-Neul mengenakan gaun ini? Oh sungguh pertanyaan yang bodoh.

Setelah gaun itu melekat indah di tubuhnya, Ha-Neul di tuntun untuk pergi ke ruang tunggu pengantin. Duduk cantik sambil menunggu orang-orang datang juga mengucapkan selamat atas pernikahannya.

Ia mendengar pujian berkali-kali. Semua orang memang akan tersihir oleh kecantikannya hari ini, tapi entah apakah Chan-Yeol juga akan seperti itu.

Matanya berbinar, sesekali Ha-Neul memandang buket bunga mawar di genggamannya. Warna merah, putih dan kuning menjadi satu hingga begitu indah. Ia benar-benar menjadi pengantin hari ini. Hidupnya yang baru akan segera di mulai.

Hatinya dipenuhi kegembiraan, dadanya terasa mengembang saking bahagianya. Detak jantung yang tiba-tiba terdengar lebih keras dan cepat membuat Ha-Neul merasakan sensasi yang berbeda.

Langkah buru-buru Ji-Eun membuyarkan kebahagiaan Ha-Neul. Gadis berambut coklat itu kelihatan bingung, keringat dingin bercucuran dari tubuhnya sembari mendekatkan mulut ke telinga Ha-Neul.

“Chan-Yeol kabur!”

Dua kata yang keluar dari mulut Ji-Eun sontak membuat Ha-Neul terpekik tak percaya. Sebentar, yang dimaksud Chan-Yeol kabur di sini adalah pria itu menghindari pernikahan mereka dan membiarkan Ha-Neul menjadi sosok calon pengantin yang terlalu berharap?

Sungguh kejam sekali hati Park Chan-Yeol!

Bisa-bisanya dia pergi saat pernikahan mereka. Bukan hanya membuat malu keluarganya sendiri, tapi juga keluarga Ha-Neul. Kalau sudah begini Ha-Neul harus bagaimana? Wajahnya harus ditaruh di mana? Ha-Neul tidak akan membiarkan Chan-Yeol menghindar begitu saja. Ia akan mendapatkan Chan-Yeol kembali!

 

TO BE CONTINUED

Iklan

46 pemikiran pada “UNWANTED MARRIAGE [EP 3 – BRIDE]

  1. Ping balik: UNWANTED MARRIAGE [EP 3 – BRIDE] | EXO FanFiction Indonesia

  2. Wahhh bagus banget ceritanya….😄
    Sebenernya aku bingung mau kaihan sama siapa disisni. Soalnya keduanya keliatan kalo orang baik. Tapi…kasihan juga sama haneul ditinggal di pernikahanya…
    Hmm bingung banget harus mihak siapa
    Fighting…😊
    Ditunggu kelanjutanya

  3. Chanyeol mulai kepo ya sama haneul?? Wkwkwk,, stalking lg..
    Kasihan haneul chanyeol walaupun kabur toh nanti juga ttep bkalan nikah sama haneul,, krna heera lbh milih jongin,,,
    dtunggu lanjutannya

  4. Sebenarnya kasihan sama mereka berdua. Haneul yang suka sama chanyeol tapi chanyeol suka sama heera. Tapi aku salut sama haneul tetap memperjuangkan cinta nya walaupun sakit. Chanyeol ayo dong mulai memperhatikan haneul.

  5. Aduh kasian bngt haneul tapi kasian juga buat chanyeol sama heera.. aduh kl begini siapa yg harus disalahin, nenek lampir kali yaaaa
    Keep writing

  6. OMG Chanyeol kaburr??
    trus pernikahannya gimana?
    chanyeol jahat kenapa gak bilang dari awal aja kalo gak mau, kalo gini kan jadinya repot
    Kasian kan si ha neul yang udah berharap
    Lanjut kaka

  7. Aduh chanyeol, padahal udah liat ignya haneul. Haneul pasti nyesek banget. Ditunggu cerita selanjutnya ya kaa. Aku penasaran banget. Makasihhh 💪💪💪💪💪😁

  8. Yeol please klu mau kabur knapa pas hari H 😑 sblum2 nya kek hahaha
    Karna aku udh baca ff sblumnya jdi aku udh tau jadi apa gaknya mereka nikah tpi aku lupa part berapa kkk
    Haneul cantik bener ih

  9. Disini chan keliatan jht bgt. Dia nggk berani mmperjuangin Heera. Mgkn efek cinta bgt sm Forbidden Love kali ya, jd bawaannya ttp ngebela Heera. Wkw. Haneul jg kasian, tp salut deh dia ttp mau brjuang buat sm Chan. Heol, mamanya Chan jahat bgt. Jd inget dia ngata2in Heera wkt Heera sm Jongin dtg ke nikahan Chan Haneul-_- Btw, kak nggk ngelanjutin Flame kah? Pdhl ceritany bagus lo. Smgt, dtgg chpt selanjutnya^^

  10. Aaaaaaa sedih banget w jadi chanyeol jadi heera apalagi jadi haneul jugaa 😦 cinta berat sebelah emang paling enggak enak…

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s