UNWANTED MARRIAGE [EP 2 – SORRY]


unwanted-marriage

Heena Park Present

.

UNWANTED MARRIAGE”

.

Park Chan-Yeol & Choi Ha-Neul

Others.

.

Romance-Drama-Multichapter-PG15

.

Author Notes : Sebelum membaca FF ini, disarankan untuk membaca Forbidden Love terlebih dahulu karena saling berhubungan.

.

Follow me on WATTPAD

Add me on FACEBOOK

.

Poster by Alkindi @Poster Channel

.

.

Chan-Yeol duduk di pinggir ranjang. Tatapannya mengarah ke ponsel, menunggu balasan pesan dari Hee-Ra—kekasihnya.

Hari ini ia akan bertemu dengan wanita yang dijodohkan sang ibu. Jujur, Chan-Yeol sangat menentang perjodohan bodoh ini. Maksudku, ia telah memiliki kekasih dan ibunya tetap memaksa untuk menikahi gadis lain? Apa sang ibu tidak memikirkan bagaimana perasaan gadis itu?

Fokusnya terpecah saat mendengar ketukan pintu yang dilanjutkan dengan suara sang ibu. “Apa kau sudah siap? Kita harus segera berangkat, Park Chan-Yeol,” gumam ibunya.

Chan-Yeol tak langsung menjawab. Ia memandang tubuhnya yang hanya mengenakan celana panjang dan bertelanjang dada.

“Sebentar lagi, mom,” kata Chan-Yeol.

“Kutunggu di mobil, ya?”

Setelah megatakan kalimat barusan, Nyonya Park langsung beranjak ke mobil. Sementara Chan-Yeol masih enggan bergerak. Ia tak berniat menemui calon istrinya. Ia hanya ingin menikah dengan Hee-Ra, bukannya si wanita kaya yang akan memimpin perusahaan mereka.

Mungkinkah Chan-Yeol harus melepas impiannya menjadi seorang dokter dan lebih memilih untuk memimpin perusahaan saja? Tapi pendidikannya sudah berjalan selama empat tahun, dan akan sangat disayangkan apabila Chan-Yeol melepaskan begitu saja.

“Argh!” Chan-Yeol mengacak-acak rambutnya. Frustasi pada kenyataan yang begitu menyesakkan.

Kuatkan dirimu Park Chan-Yeol, kau pasti bisa melewati semua ini.

Akhirnya Chan-Yeol bangkit dan mengenakan kemeja hitamnya. Begitu tampan dan rapi, layaknya pangeran ketika berniat menemui sang putri. Lantas, Chan-Yeol menyusul ibunya. Wanita baya itu menyunggingkan senyum lebar penuh kebahagiaan.

Ia menang. Putranya mau melakukan apa yang diinginkan.

Mereka segera menuju ke salah satu restoran. Masih pukul tiga sore, biasanya jam-jam seperti ini Chan-Yeol akan menghampiri Hee-Ra ke kampusnya.

Sesampainya di tujuan, Chan-Yeol serta sang ibu langsung diantar ke ruangan VVIP. Nampak seorang wanita duduk sendiri di sana, dari gaya berpakaiannya kelihatan seperti wanita berkelas dan berusia agak tua.

Apa wanita itu yang akan dijodohkan dengan Chan-Yeol? Apa ibunya serius?

Chan-Yeol mendecak, tak mampu membayangkan harus menikahi wanita berusia jauh di atasnya.

“Nyonya Ahn, senang bertemu lagi denganmu,” sapa ibu Chan-Yeol kepada wanita yang baru saja menengok itu.

Nyonya Ahn? Chan-Yeol yakin ia pernah melihat wajah wanita itu. Tunggu, bukankah Nyonya Ahn dan ibunya adalah teman? Kalau begitu bukan Nyonya Ahn yang akan dijodohkan dengan Chan-Yeol, melainkan putrinya.

Gadis yang dulu pernah menjadi teman dekat Chan-Yeol waktu kecil. Gadis yang sempat tak sengaja ia temui tiga tahun lalu setelah bertahun-tahun lamanya. Gadis yang banyak dibilang sombong oleh teman-temannya.

Choi Ha-Neul.

“Park Chan-Yeol, lama tidak bertemu denganmu, nak. Kau sudah sebesar dan setampan ini rupanya.”

Chan-Yeol tersenyum. Ia membungkuk sebentar. “Senang bertemu anda lagi, bibi.”

“Mari duduk,” ajak Nyonya Ahn. Ia menggandeng tangan ibu Chan-Yeol, sementara pria itu mengikuti dari belakang untuk duduk di kursi.

“Ha-Neul akan datang sebentar lagi, ia sudah dijemput oleh kakaknya,” jelas beliau.

“Sudah lama aku tidak bertemu dengan putrimu, dia pasti tumbuh menjadi gadis yang cantik,” kata Nyonya Park.

Chan-Yeol tak tertarik untuk ikut dalam pembicaraan kedua wanita di sampingnya. Ia hanya terdiam, kedua matanya terfokus ke arah gitar di panggung kecil. Sudah lama Chan-Yeol tak memainkan gitar.

“Bagaimana kalau kau menyanyikan sebuah lagu untuk kami?” celetuk Nyonya Park yang berakhir membuat Chan-Yeol membulatkan mata.

“Ayolah Park Chan-Yeol.” Nyonya Park menarik Chan-Yeol untuk maju dan memberikan gitar itu padanya. “Sekarang, nyanyikan sebuah lagu untuk kami,” lanjutnya.

Chan-Yeol menurut, ia menempatkan gitar dan berpikir sebentar. Lagu apa yang kira-kira cocok?

Terbesit dalam pikirannya untuk menyanyikan lagu Imagination milik Shawn Mendes. Chan-Yeol mendesah panjang, jarinya mulai memetik senar dan bernyanyi.

 

In my dreams, you’re with me

We’ll be everything I want us to be

And from there—who knows?

Maybe this will be the night that we kiss for the first time..

Or is that just me and my imagination?

 

Setelah menyelesaikan lagunya, Chan-Yeol segera menaruh gitar kembali ke tempatnya. Tepat saat ia berbalik, kedua netranya tak sengaja bertemu dengan tatapan penuh kekaguman dari seorang gadis yang tengah berdiri di dekat pintu.

Mungkinkah dia Choi Ha-Neul?

Chan-Yeol menyipitkan matanya untuk mengenali apakah gadis itu benar-benar Ha-Neul, dan memang iya. Sepersekian detik kemudian, Nyonya Ahn bangkit menghampiri gadis itu dan memanggilnya dengan nama Ha-Neul.

Chan-Yeol terkesiap, Ha-Neul tumbuh jauh lebih cantik dari tiga tahun lalu. Tidak hanya itu, ia bahkan kelihatan begitu dewasa. Cocok menjadi pemimpin perusahaan.

 

••

 

Kedua ibu mereka menyarankan agar Chan-Yeol dan Ha-Neul menghabiskan waktu bersama, sekedar untuk saling mengenal kembali satu sama lain. Mengingat keduanya telah lama tak bertemu.

Chan-Yeol menuruti keinginan sang ibu, lagipula ia dan Ha-Neul memang berteman dulu, jadi tak masalah kan kalau mereka berbincang sebentar? Mengesampingkan kenyataan bahwa akan segera dijodohkan.

Jam menunjukkan pukul lima sore, Chan-Yeol memutuskan untuk mengajak Ha-Neul ke tepi sungai Han sambil menunggu sunset.

Mereka duduk di salah satu bangku, bersampingan dan sibuk pada pikiran masing-masing selama beberapa saat. Chan-Yeol dengan keinginannya untuk memulai pembicaraan, namun juga tak ingin terkesan memberi lampu hijau pada perjodohan tak masuk akal itu. Sedangkan Ha-Neul yang gugup karena duduk bersampingan dengan Chan-Yeol, pikirannya melayang mengingat beberapa tahun lalu sempat memiliki perasaan pada pria yang tengah duduk di sampingnya.

Yah…hanya cinta monyet sih, tapi tetap saja berkesan.

“Sudah cukup lama, ya?” Chan-Yeol mengawali pembicaraan.

Sontak Ha-Neul langsung merespon ucapan Chan-Yeol, ia berpikir, cukup lama yang dimaksud Chan-Yeol itu artinya apa?

Mengerti kebingungan dalam wajah Ha-Neul, Chan-Yeol menambahi, “Sudah tiga tahun kita tidak bertemu, padahal kita sama-sama ada di Korea. Pebisnis muda sepertimu pasti sangat sibuk.”

“Ya begitulah, aku sempat pergi ke luar negeri beberapa kali dalam waktu yang cukup lama. Sebenarnya beberapa Minggu lalu aku sudah berlibur sih, bekerja terus menerus membuat otakku panas.”

Chan-Yeol tertawa. “Itulah alasan kenapa aku tidak berniat melanjutkan perusahaan keluarga.”

“Dan karena itulah kita akhirnya dijodohkan, begitu?”

“Ya..” Chan-Yeol mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku berharap mom akan menjadikan sepupu kami sebagai penerus, tapi ternyata aku salah, mom malah menjodohkanku.”

Ha-Neul mengerutkan keningnya. Itu artinya Chan-Yeol terpaksa menjalani perjodohan mereka?

“Kau terpaksa melakukannya?”

Tatapan Chan-Yeol melembut, ia menengok ke arah Chan-Yeol dan sepersekian detik kemudian menerawang ke langit jingga. “Ada seorang gadis yang telah membuatku jatuh hati.”

“Kalian berkencan?”

Chan-Yeol mengangguk. “Sudah satu tahun.”

“Dia tahu?”

“Begitulah.”

“Dan?”

“Aku tak mau menyakitinya..” Chan-Yeol terhenti. Ia membuang napas kasar, membayangkan betapa kecewanya Hee-Ra saat itu. Ya, waktu ia berkata kalau sang ibu berniat menjodohkannya.

Mom tidak merestui hubungan kami, dia adalah gadis yang sangat baik dan penyayang. Aku tak ingin kehilangannya. Dia sangat berarti bagiku.”

Hatinya terenyuh, bimbang antara kesal dan sedih. Juju saja Ha-Neul tak begitu suka saat Chan-Yeol mengatakan bahwa dirinya telah memiliki kekasih, namun di satu sisi Ha-Neul juga merasa kasihan pada kedua sejoli tersebut. Betapa tersiksanya hati mereka saat ini.

“Choi Ha-Neul..”

Ha-Neul menengok cepat. “Ya?”

“Aku bersyukur kaulah yang akan dijodohkan denganku.”

“Eh?” Ha-Neul tak mengerti. Apakah ini artinya Chan-Yeol akan melepaskan kekasihnya demi Ha-Neul?

“Aku lega, dengan keadaan kita yang sama-sama saling mengenal sejak lama, berarti kau pasti mau membantuku, kan? Maksudku, aku tak perlu canggung atau ragu untuk mengatakannya.”

“Aku tak mengerti.”

Chan-Yeol menampilkan senyuman tercerahnya. “Kau maukan membantuku untuk membatalkan perjodohan kita?”

“Membatalkan perjodohan?”

“Ya.” Chan-Yeol kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan kekasihku. Kau tidak keberatan kan untuk membantu?”

Entah kenapa hati Ha-Neul terasa sesak. Ia tersenyum pilu, betapa bahagianya bisa dicintai Chan-Yeol dengan begitu dalam. Gadis itu sangat beruntung. Berbeda jauh dengan Ha-Neul yang selalu dicampakkan dan dimanfaatkan.

Ingin rasanya Ha-Neul menolak, tapi apa haknya? Ia tidak ingin terlihat egois dan jahat di depan Chan-Yeol, walaupun dulu Ha-Neul sempat tak sengaja bertindak buruk pada Chan-Yeol. Sungguh, saat itu ia benar-benar kelepasan.

“Aku..” Ha-Neul menggigit bibir bawahnya pelan selama beberapa saat. “Baiklah, aku akan membantumu.”

Chan-Yeol bernapas lega dan mengulurkan tangannya. “Janji?”

Oh, Ha-Neul tidak suka berjanji. Tapi keadaan memaksa.

“Janji,” balasnya sembari membalas uluran tangan Chan-Yeol dan meremasnya.

 

••

 

 

Sejak pertemuannya dengan Chan-Yeol kemarin, entah kenapa pikirannya tak bisa lepas dari pria itu. Baru saja ia senang karena dijodohkan dengan Chan-Yeol, tapi kenyataan kembali memukulnya dengan begitu keras. Chan-Yeol telah memiliki kekasih dan ia terpaksa membantu Chan-Yeol untuk membatalkan perjodohan mereka.

“Kenapa kau mau sih?” Ye-Rin menggertakkan giginya. Ha-Neul memang memang pintar, tapi dia sangat bodoh dalam hal percintaan.

“Aku tidak mungkin menolaknya. Kau tahu kan kami berteman dulu? Apakah logis kalau kau tidak mau membantunya?”

Well, aku tidak tahu kalau kalian dulu berteman.”

Ya! Baek Ye-Rin!”

Ye-Rin mendengus, “Berhentilah meneriakiku, Choi Ha-Neul. Aku tidak paham pada jalan pikiranmu. Kalau aku jadi kau, maka kemarin aku akan menolaknya dengan alasan itu adalah urusannya, bukan urusanku.”

Ha-Neul mengerutkan keningnya. “Aku tidak mungkin berbuat sejahat itu padanya.”

“Kenapa tidak? Kau kan terbiasa jahat pada orang lain? Oh ayolah, kau bahkan sangat kejam padaku.”

Ha-Neul tertawa hampa. Seingatnya ia tak pernah terlalu kejam pada Ye-Rin selama ini. Gadis itu memang suka melebih-melebihkan sesuatu.

“Jadi aku harus bagaimana sekarang? Ibu menyuruhku untuk kencan dengannya setiap hari. Nanti pukul sepuluh dia akan menjemputku, kami berencana untuk makan siang.”

“Bagaimana apanya? Kau cuma harus kencan dengannya, kan?”

Ahh.” Ha-Neul mendesah frustasi. Ye-Rin terlalu menggampangkan situasi, ia tak tahu perasaan Ha-Neul yang sebenarnya. Ia tak berada dalam posisi Ha-Neul sehingga bersikap kalau semuanya terlalu mudah, padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Melihat ekspresi Ha-Neul  yang makin kebingungan, Ye-Rin lantas menggenggam tangan kanan gadis itu di atas meja. “Percayalah pada hatimu, tapi gunakan juga otakmu.”

“Ck.” Ha-Neul melepaskan genggaman Ye-Rin dari tangannya dan bangkit. “Aku mau pulang ke rumah, tapi fotokan dulu di depan cafe.”

Demi apapun, bahkan saat ia merasa bingung  seperti ini, masih saja terlintas dalam otaknya untuk berfoto. Ha-Neul memang benar-benar IG  Influencer.

 

••

 

dhj

INSTAGRAM

@choihnl : What should I do?

1.884 likes

———

@yerin_1990 : @choihnl Taken by?

@siwon1987 : Kau bolos bekerja dan malah asik berfoto. Menikahlah Choi Ha-Neul @choihnl

@choihnl : -_- @yerin_1990 // @siwon1987 : Kenapa tidak kau saja yang menikah lebih dulu? Kau mau jadi bujangan lapuk? ^^

@siwon1987 : @choihnl Jangan malu-malu, kau sudah bertemu calon suamimu dan kelihatan sangat bahagia^^

@choihnl : TIDAK!!!!! @siwon1987

@joonmyeonkim : Kau benar-benar akan menikah? @choihnl

@choihnl : Jangan hiraukan kakakku. Dia sudah gila @joonmyeonkim

 

Sedang asik membalas komentar dan berperang dengan sang kakak, tiba-tiba Ha-Neul membulatkan matanya. Ia Hampir melempar ponsel dalam genggamannya ke lantai.

Bagaimana tidak? Ketika membuka notifikasi Instagram, yang paling atas bertuliskan ‘real__pcy liked your photo.” Sontak pipinya memerah. Itu artinya Chan-Yeol telah mengetahui komentar-komentar bodoh itu, bukan? Betapa malunya Ha-Neul saat ini. Kalau saja Si-Won tidak terlalu banyak berkicau soal pernikahannya, pasti ia tak akan semalu ini. Dan bagaimana kalau nanti Chan-Yeol menyinggung soal komentar Si-Won? Apa yang harus  ia katakan?

Sempat bimbang beberapa saat, Ha-Neul akhirnya memutuskan untuk melakukan stalking pada Instagram Chan-Yeol, namun gagal, mereka tidak saling mengikuti dan Chan-Yeol mengunci akunnya. Benar-benar menyebalkan.

Waktu berlalu cepat ketika Ha-Neul mendengar teriakan ibunya dari lantai bawah, buru-buru gadis itu meraih tas lengan dan meluncur menyusul sang ibu. Dilihatnya sosok Chan-Yeol dengan mantel coklat telah menanti di depan pintu. Pria itu tersenyum manis ke arahnya, membuat perasaan Ha-Neul berangsur hangat.

“Kau sudah siap?” tanya Chan-Yeol begitu menyadari Ha-Neul telah berdiri di depannya.

Gadis itu mengangguk tegas. “Ya.” Aku sudah siap sejak tadi, asal kau tahu. “Kita mau ke mana?”

Chan-Yeol mengangkat kedua pundaknya bersamaan. “Kau bisa memilih mau pergi ke mana,” ia berhenti sebentar dan mendekatkan bibir ke telinga Ha-Neul. “Tapi aku tidak bisa menemanimu sampai sore karena harus bertemu dengan kekasihku. Kau tidak masalah, kan?”

Ahh..

Lagi-lagi Chan-Yeol lebih memberatkan kekasihnya daripada Ha-Neul yang notabene-nya adalah calon istri bagi pria itu. Baiklah, tidak masalah, yang penting Chan-Yeol masih menyisakan sedikit waktu baginya.

“Aku tidak apa-apa, aku juga tidak ingin memaksamu melakukan hal yang tidak kau mau,” jawab Ha-Neul sok tegar.

Mata mereka bertemu, ada kebahagiaan di netra Chan-Yeol ketika mendengar Ha-Neul memperbolehkannya pergi lebih awal untuk menemui kekasihnya, namun tahukah Chan-Yeol kalau sesungguhnya Ha-Neul terpaksa?

Bukannya egois, Ha-Neul hanya merasa tertandingi. Rencananya untuk membantu Chan-Yeol membatalkan perjodohan dirasa tidak efektif dan lebih baik tidak dilakukan saja. Ha-Neul cuma tidak ingin membohongi perasaanya, ia menginginkan Chan-Yeol sejak lama, pria itu adalah cinta pertamanya, dan ia tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa menjadi istri dari sang pria idaman.

“Kita berangkat sekarang?”

Pertanyaan Chan-Yeol akhirnya menyadarkan Ha-Neul dari lamunan sesaatnya, gadis itu mengangguk cepat dan mengekori Chan-Yeol menuju ke mobil bewarna merah yang terparkir di depan pagar.

Mereka mengitari Seoul dan mampir ke salah satu mall untuk sekedar makan siang dan mengobrol kecil. Sampai saat ini segalanya masih berjalan lancar, Chan-Yeol menunjukan sikap baik dan nyaman pada segala sesuatu yang dilakukan Ha-Neul. Pria itu juga tidak mengeluh saat Ha-Neul mengajaknya masuk ke arena permainan, bahkan mereka beberapa kali bermain bersama.

Bukankah keduanya terlihat cocok bersama?

Ha-Neul jadi penasaran seperti apa wajah kekasih Chan-Yeol sebenarnya. Apa dia lebih cantik dari Ha-Neul? Lebih kaya? Lebih pintar? Ha-Neul yakin perempuan itu tidak melebihi dirinya dalam bidang tadi, karena jika ia lebih dari Ha-Neul, tidak mungkin ibu Chan-Yeol memilihnya untuk menjadi istri putranya.

Mereka menghabiskan waktu cukup lama, dari jam sepuluh sampai dua siang. Empat jam yang sangat berharga bagi Ha-Neul, namun merupakan empat jam sia-sia untuk Chan-Yeol. Menyedihkan sekali, mereka hidup dalam sisi berbeda.

Ketika akhirnya Chan-Yeol berkata ingin pamit, Ha-Neul menggenggam salah satu tangan pria itu dan menatapnya nanar. Ia tidak tahu keputusannya salah atau benar, Ha-Neul cuma mengikuti kata hati tanpa peduli apakah egois atau tidak.

“Aku..tidak bisa membantumu untuk menggagalkan pernikahan kita, Park.”

Ya, bagus. Begitulah seharusnya. Ha-Neul tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas dan kembali dirundung kesedihan karena kehilangan orang yang dicintainya.

Mata Chan-Yeol melebar, terkejut akan ucapan Ha-Neul. “Kenapa?”

Karena aku mencintaimu. “Aku tidak ingin melawan orang tuaku, Park.” Ia berhenti sebentar dan menarik napas dalam-dalam kemudian melepaskannya perlahan. “Tapi aku akan tetap menghormati apapun keputusanmu,” lanjutnya yang sedetik kemudian telah melepaskan genggamannya dari lengan Chan-Yeol.

“Maafkan aku, Park. Maafkan aku…”

 

TO BE CONTINUED

Iklan

36 pemikiran pada “UNWANTED MARRIAGE [EP 2 – SORRY]

  1. Ping balik: UNWANTED MARRIAGE [EP 2 – SORRY] by Heena Park | EXO FanFiction Indonesia

  2. Gatau harus sedih ato seneng. Tapi lebih ke sedih sih, kenapa chan hrus punya pacar? Chan putus aja sama hee ra. Chan sama ha neul aja. Next chapter, juseyo?

  3. Brarti sejak awal ketemu chan jg udh mulai ada rasa sm haneul ya? Kasian heera dong, tp untg heera ketemu Jongin. Wkw. Nggk nyalahin chan sm haneul jg sih, org suka mau gmn lg. Semoga haneul nggk jd jahat:( btw kak, ak komennya suka pindah2, kdg disini kdg di SKF. Nggk ppa kan? Apa harus dsalah satu aja?? Ijin baca Forbidden Love lg ya kak. Dtgg lanjutannya. Dtgg lanjutannya Show You jg *wkw. Bnyk maunya* smgt kak^^

  4. Jeng jeng jenggg, ternyata beneran cy wkwk yahh cy udah punya pacar sii yaa, kasian haneul. Ga tau deh gimana mereka. Kasian juga ama pacarnya cy yg skrng kalo di tinggal in. Udah dehh, cy sama ku aja #apasi wkwk. Next ya kaa

  5. Ohh ternyata begitu tohhh.. emang dasar labil haneul tapi mau gmn lagi yang manya perasaan kan gak bisa diboongin semangat haneul hihihi
    Keep writing di tunggu bngt loh kelanjutannya kepoo sama tindakan2 konyol chanyeol kedepannya

  6. Sedih banget jd haneul,, aku jg prnah brada di posisi itu,, cuma 1 pihak yg berharap wkwkwk.. Sakiiittt..
    Chanyeol peka donx,, kasihan haneul nya,, oh ya dtunggu moment haneul chanyeol heera ketemu..

  7. Chanyeol kenapa gak jujur aja sama pacarnya kalo dijodohin kan kasian haneulnya
    Gini ya jadi orang ganteng mah bebas vanyak yang suka lagi emang pesona bang ceye tak tertandingi hehehe
    Lanjut ya ka

  8. Gak bisa bilang chanyeol jahat sih ya mnta sesuatu yg nyakitin ke haneul karna dia gatau haneul suka sama dia
    Dan chanyeol jga cinta bnget sama heera
    Seenggaknya haneul udh bisa nolak buat bantuin chanyeol gagalin perjodohan ini

    Btw, apa ff ini gak di post di wattpad kak? Hehe

  9. Pas dulu baca forbidden love tuh aku kek kesel bat sama si haneul sama emaknya pcy juga tapi pas baca ini kasian sama dua duanya… kasian haneul kesempatan ga dateng 2 kali kasian jg chanyeol… tp karna heera ntar ketemu yg lebih mantap #teamhaneulchanyeol

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s