Two Moons [Chapter 5]


twomoon3

-Heena Park Present-

.

Starring: Shin Hee-Ra, EXO's Kai, EXO's Se-Hun, others.

.

Fantasy–Romance–Action//PG–15//Multichapter

.

PosterBySifixo@PosterChanel

.

Notes : ff ini sudah pernah aku share sebelumnya, dan kali ini aku mau me-remake ff tersebut.

.

Follow me on WATTPAD

.

.

TWO MOONS

©2016

.

Hee-Ra menemani Min-Ho semalaman. Awalnya ibunya sempat melarang karena keadaan Hee-Ra sendiri tak cukup baik, tapi bukanlah Hee-Ra jika tak keras kepala. Ia tetap kukuh akan berada di samping Min-Ho sampai kedua orang tua pria itu datang esok siang.

Mentari agaknya enggan untuk keluar, awan mendung menghiasi langit kota Seoul beserta rintik hujan yang tak mau reda. Hee-Ra mengintip dari balik jendela, tangan kanannya menyibakkan gorden bewarna coklat dan mendapati taman Rumah Sakit tepat di depan kamar Min-Ho.

Dedaunan di sana basah, mereka pasti akan begitu segar setelah rintik hujan berhenti. Hee-Ra tersenyum simpul dan kembali menatap Min-Ho. Pria itu sangat baik, ia merelakan nyawanya terancam bahaya demi menyelamatkan Hee-Ra. Untung saja Min-Ho masih bisa ditolong, kalau tidak? Hee-Ra pasti akan menyalahkan dirinya sendiri seumur hidup.

Balas budi, Hee-Ra harus melakukannya. Ia akan melakukan apapun yang diminta Min-Ho ketika tersadar nanti.

Knop pintu bergerak, dua orang gadis dan seorang pria masuk dengan keadaan agak basah. Hee-Ra bangkit dan melemparkan senyuman.

“Kalian datang?” ujarnya seolah tak percaya akan kehadiran Ma-Ri, Jennifer dan Tae-Yong.

Tae-Yong mengangkat kedua lengannya, memberi kode agar Hee-Ra mau memeluknya, “Kau pikir aku akan membiarkan gadis sepertimu menjaga Min-Ho sendirian? Kemarilah, aku akan memelukmu, kau pasti telah mengalami malam yang sangat panjang dan melelahkan.”

“Cih, casanova,” Jennifer mendesah berat, membuat Hee-Ra dan Ma-Ri terkikik geli.

Sepersekian detik kemudian Hee-Ra mendekat ke arah Tae-Yong dan menenggelamkan diri dalam pelukan pria itu, ia berpikir tidak ada salahnya untuk membagi sejenak kegundahan dan ketakutan yang menyerangnya seharian ini.

“Tenanglah, aku yakin Min-Ho pasti akan baik-baik saja,” Tae-Yong bergumam pelan, tangannya terus mengusap lembut punggung Hee-Ra, memberikan kenyamanan bagi gadis itu untuk sementara.

Hee-Ra memejamkan matanya, kedua tangannya memeluk Tae-Yong erat, “Aku takut..aku takut..”

Seolah mengerti ketakutan yang begitu dalam pada diri Hee-Ra, Tae-Yong menggerakkan kepalanya pada Ma-Ri dan Jennifer hingga kedua gadis itu kini ikut memeluk Hee-Ra dari samping.

Mereka berempat saling berpelukan untuk menguatkan Hee-Ra, sungguh pemandangan yang indah.

“Kami akan selalu bersamamu Shin Hee-Ra, kau tidak perlu takut,” aku Ma-Ri.

“Min-Ho adalah pria yang kuat, dia tak akan kalah hanya karena satu pluru seperti itu. Ia pasti akan membuka matanya,” Jennifer berusaha menenangkan.

Hari ini, untuk pertama kalinya Hee-Ra sangat bersyukur karena pindah ke Korea. Jujur saja selama di Amerika dia tidak pernah memiliki teman yang seperti ini. Hee-Ra bisa merasakan ketulusan dari ketiga temannya, mereka benar-benar teman yang sangat baik.

Tae-Yong melonggarkan pelukannya, diikuti oleh Ma-Ri dan Jennifer. “Kau pasti belum sarapan, jadi sekarang biarkan aku yang menjaga Min-Ho dan mereka akan mengantarmu ke kafetaria,” gumam Tae-Yong.

Hee-Ra menggeleng, “Aku akan ke sana sendiri, aku tidak apa-apa,” balasnya cepat. “Aku lebih suka bila kalian bersama Min-Ho, dia lebih membutuhkan kalian saat ini.”

“Yah,” Ma-Ri menaikkan kedua pundaknya bersamaan, “Bukan Shin Hee-Ra namanya kalau mudah diatur,” ia berhenti sebentar dan menepuk-nepukkan tangan kanannya ke pundak kiri Hee-Ra, “Makan yang banyak, aku tidak ingin melihat wajahmu yang seperti mayat  hidup itu, mengerti?”

Hee-Ra mengangguk dua kali dan kemudian berjalan pergi. Perutnya memang sudah keroncongan dari kemarin malam, tapi tiba-tiba hilang begitu saja karena kejadian mengerikan yang membuat Min-Ho terbaring di Rumah Sakit.

Untungnya kafetaria terletak tidak begitu jauh dari kamar Min-Ho, ia segera mengambil piring. Entah kenapa kepalanya yang sebelumnya baik-baik saja kini terasa agak pusing, mungkin akibat telat makan atau bisa juga karena ketakutan berlebih.

Mengesampingkan itu, Hee-Ra tetap berusaha berdiri tegak, ia harus segera mengambil nasi, lauk pauk serta minuman lalu bergegas duduk. Ia tidak ingin sampai pingsan di tempat ini.

Sayangnya rasa pusing yang ia alami tak bisa diajak kerja sama, tangannya bergetar kala ingin mengambil mangkuk sop, tanpa bisa dikendalikan Hee-Ra terjatuh ke belakang, namun seseorang menahan tubuhnya.

“Kau seharusnya tidak memaksakan diri.”

Hee-Ra mencoba bertahan, ia tak menepis sanggahan orang itu dan membiarkannya membawa Hee-Ra untuk duduk. Ketika akhirnya Hee-Ra bisa melihat siapakah orang yang telah menolongnya dengan kedua mata yang hampir terpejam karena tak sanggup terjaga lagi, ia membelalakkan matanya, bagaimana mungkin Kai ada di sini?

Pria itu berdiri di hadapannya yang kini tengah terduduk lemas. Ia mengambil nampan di tangan Hee-Ra, “Tetaplah di sini dan aku akan mengambilkan makanan untukmu,” gumamnya lalu pergi begitu saja.

Tak begitu lama kemudian Kai telah kembali sambil membawa nasi, sop, ikan dan teh hangat bagi Hee-Ra. Pria itu menaruh nampan di meja lalu duduk berseberangan dengan Hee-Ra.

“Makanlah,” ia mendorong nampan agar lebih dekat pada Hee-Ra.

Tanpa perlu waktu lama, Hee-Ra segera mengambil sendok dan mulai melahap makanannya. Benar saja, setelah beberapa kali menelan makanan, pusing yang dideritanya perlahan menghilang.

“Kau seharusnya tidak pergi seorang diri,” Kai kembali berucap, “gadis keras kepala.”

Hee-Ra tak tahu apakah kalimat yang diucapkan Kai barusan sebagai penggambaran rasa khawatir atau hanya ejekan belaka. Tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya tentang alasan Kai datang kemari, pria itu tidak mungkin datang hanya untuk melihatnya, bukan?

Hee-Ra mengangkat wajahnya setelah menelan nasi, “Kenapa kau ada di sini?” tanyanya berhati-hati.

Kai tak langsung menjawab, ia nampak berpikir, tapi tak memakan waktu cukup lama sehingga Hee-Ra tak menyadarinya, “Aku agak tak enak badan.” Aku ingin melihat keadaanmu. “Mintalah obat pada dokter, kau tentu tidak mau terbaring lemas seperti temanmu itu kan?”

“Kau tahu Min-Ho dirawat di sini?”

Oh tidak, sepertinya Kai salah bicara.

“Ya..,” ia tergagap, “Siapa yang tidak tahu? Berita tentang penyerangan kemarin malam bahkan menjadi pembicaraan hangat di seluruh media.”

Hee-Ra terdiam, ia setuju pada omongan Kai. Tidak mungkin penyerangan sebesar itu tidak diliput media.

“Kau benar…,” ia berhenti sebentar, menggigiti bibir bawahnya dan mengingat-ingat kejadian menyeramkan kemarin malam. Entah kenapa rasanya sangat aneh. Ia merasa bahwa para penjahat bertopeng yang menyerang Restoran bukanlah orang biasa.

“Apakah penjahatnya sudah tertangkap?” tanyanya kemudian.

Kai menggeleng, “Tidak ada satupun yang tertangkap oleh polisi.”

Bagaimana mungkin mereka tidak tertangkap satupun? Aneh sekali…

“Aku tidak tahu kenapa tapi…aku merasa bahwa mereka bukanlah penjahat biasa.”

Ingin sekali Kai mengatakan bahwa perasaan Hee-Ra benar. Ya, mereka memang bukan penjahat biasa. Mereka sangat berbahaya dan bisa membunuh manusia dengan mudah, termasuk membunuh Hee-Ra.

Tapi Kai tidak bisa mengatakan itu sekarang.

“Mungkin mereka hanya sedang beruntung kemarin, aku yakin polisi pasti akan bisa menangkapnya.”

“Semoga saja begitu,” Hee-Ra mengangguk-anggukkan kepalanya.

Hening selama beberapa saat, Kai membiarkan Hee-Ra untuk melanjutkan melahap makanannya sampai habis. Sesunggunya ia tak berniat pergi dan ingin menemani Hee-Ra, tapi sayang sekali ia harus pergi menemui teman-temannya.

Setelah memastikan makanan yang ada di depannya telah dihabiskan oleh Hee-Ra, Kai segera bangkit. Ia menepuk pelan pundak Hee-Ra, “Shin Hee-Ra…”

Hee-Ra mendongak, hampir melompat karena terkejut, “Ya?”

“Hubungi aku kalau kau sedang kesulitan. Aku yakin kau sudah tahu nomor ponselku,” ia berhenti sebentar dan memalingkan pandangannya, “Senang melihatmu baik-baik saja,” lanjutnya kemudian pergi begitu saja, membuat Hee-Ra bertanya-tanya apakah maksud dari ucapannya.

 

 

Pria berjubah hitam itu mengeluarkan aura hitam dari sekujur tubuhnya, wajahnya memerah padam menahan amarah, kedua tangannya mengepal seolah siap memukul mereka yang ada di hadapannya.

“Bodoh! Kenapa kalian membiarkannya lolos?!” teriakannya menggema di seluruh ruangan, membuat semua yang ada di sana bergidik ngeri.

“Maafkan kami Tuan, tapi ksatria EXO Planet tiba-tiba datang dan—“

“Aku tidak perduli! Jumlah kalian bahkan berkali-kali lipat lebih banyak dari mereka!” ia berhenti sebentar. Tak ada jalan lain lagi, ia harus menggunakan Tao sebagai umpan. “Gunakan Tao sebagai umpan untuk ditukar, jangan sampai kalian gagal lagi!”

Pria yang tengah berlutut itupun mengangguk, “Baiklah Tuan Edian, kami akan segera melaksanakannya,” ujar pria itu lalu berdiri dan pergi.

Edian kembali duduk di atas singgasananya dengan kesal, “Si brengsek Aiden itu, kalau saja dia tidak menanamkan black pearl dalam tubuh manusia, semua pasti tidak akan serumit ini,” erangnya pada diri sendiri.

 

 

Kesebelas pria itu berkumpul di ruang tengah. Menatap was-was pada Lu-Han yang tengah berkomunikasi dengan musuh.

Aneh memang, tiba-tiba saja Lu-Han dihubungi oleh musuh dengan telepatinya. Sayangnya Lu-Han tak mampu menembus terlalu dalam hingga tahu siapakah lawan mereka sebenarnya.

“Mereka ingin bertemu dan membuat perjanjian dengan kita,” Lu-Han berucap sambil terus menutup matanya, “Tao akan dikembalikan pada kita.”

Sontak kesepuluh pria lainnya-pun berubah antusias. Kris sebagai sang pemimpin angkat bicara, “Tanyakan di mana kita harus bertemu, lebih cepat lebih baik.”

Lu-Han mengangguk, beberapa detik kemudian kembali bergumam, “Makau.”

“Makau?” Chan-Yeol menatap Kris serius, “sebaiknya kita pergi menggunakan pesawat biasa, tempat itu sangat ramai.”

Lay mengangguk setuju, “Kudengar banyak bandar judi di sana.”

Kris menimbang-nimbang sebentar sebelum akhirnya menetapkan keputusan, “Kita akan datang secepatnya, tanyakan alamat yang harus kita tuju,” perintahnya pada Lu-Han.

Sementara Lu-Han tengah berkomunikasi dengan musuh, Kris berusaha mengatur strategi. Mereka tidak mungkin meninggalkan Seoul seluruhnya, mau tak mau harus ada minimal satu orang untuk tetap di sini.

“Kita tak boleh lengah, bisa jadi setelah kita berangkat ke Makau akan ada pasukan musuh yang menyerang Seoul,” ia mengalihkan pandangan ke arah Se-Hun, “Kau dan Chan-Yeol akan tetap di sini.”

“Aku?” Se-Hun menunjuk dirinya sendiri, “tapi kena—“

“Karena kekuatanmu dan Chan-Yeol bila disatukan akan mudah untuk mengalahkan lawan. Kekuatan kalian berdua sama besar dan berbahayanya.”

Jujur saja Kai tidak begitu menyukai keputusan Kris. Kalau Se-Hun yang tetap tinggal, berarti sama saja dengan membiarkan pria itu semakin leluasa terhadap Hee-Ra. Ia tak suka, ia tak mau Se-Hun dan Hee-Ra berdekatan di luar jangkauannya.

Selayaknya cenayang, Kris yang melihat perubahan ekspresi Kai mulai angkat bicara, “Kuharap kau bisa mengontrol perasaanmu, Kai.”

Kai menyibir, ia tak suka dengan kalimat Kris barusan, “Sudah kukatakan padamu kalau aku tidak tertarik padanya.”

“Berhenti bertengkar!” suara tinggi Se-Hun berusaha memecah pertengkaran antara Kris dan Kai, “Dia sudah berkata tak tertarik pada gadis itu bukan? Jadi kupikir tak akan ada masalah kalau aku dan Chan-Yeol yang akan tetap tinggal.”

Tak tahan lagi, Kai memutuskan untuk berdiri, “Aku mau ke kamar, aku butuh waktu untuk bersiap. Kalian bisa memanggilku kalau akan berangkat,” gumamnya.

Setelah Kai menjauh dan hilang di balik pintu kamarnya, D.O yang sedari tadi hanya diam akhirnya berkomentar, “Aku tidak percaya dengan ucapannya barusan.”

Su-Ho setuju, “Ya, dia berusaha menyembunyikan perasaannya sendiri, tapi perilaku orang yang sedang kasmaran begitu terlihat darinya.”

 

 

Menyenangkan sekali setelah Min-Ho akhirnya membuka kedua matanya, Hee-Ra bahkan hampir menangis saking senangnya. Hal itu pulalah yang membuat Hee-Ra memutuskan pergi ke kampus hari ini, lagipula kedua orang tua Min-Ho juga sudah datang.

Hanya saja…

Kenapa ia tidak melihat kehadiran Kai hari sini?

Bukan cuma itu, Hee-Ra bahkan hanya mendapati Se-Hun dan Chan-Yeol, ke mana yang lainnya? Tidak mungkin mereka sakit bersamaan.

Tiba-tiba saja napsu makannya kembali turun, Hee-Ra hanya memandangi nasi di piringnya dan sesekali menyesap teh hangat, membuat Ma-Ri kebingungan.

“Kau baik-baik saja?” tanya Ma-Ri tak tahan.

Tersenyum kecut selama beberapa detik sebelum akhirnya meraih tas lengannya dan bangkit, “Aku hanya tak begitu napsu makan. Aku duluan ya, ada sesuatu yang harus ku-urus.”

“Oh, baiklah. Nanti kau ikut mengunjungi Min-Ho, kan?” tanya Ma-Ri sebelum Hee-Ra melangkah.

Gadis itu hanya menanggapi pertanyaan Ma-Ri dengan dua kali anggukkan. Ia berjalan cepat dan menghilang dari pandangan Ma-Ri, menuju ke halaman kampus, tempat di mana ia mengembalikan jaket Kai tempo hari.

Hee-Ra juga tak tahu kenapa, tapi hatinya seolah menarik untuk berjalan ke sana.

Ia duduk di batang pohon yang telah ambruk, sendirian, membayangkan saat di mana kala itu Kai datang dan duduk bersamanya. Menyenangkan sekali, sampai-sampai Hee-Ra tak sadar kalau bibirnya secara refleks merangkai seuntai senyuman.

Ia menunduk dan terkikik pelan, “Kita tidak bertemu sehari dan kurasa aku merindukanmu,” ia menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya, “lucu sekali.”

Dalam kesunyiannya, tiba-tiba Hee-Ra merasa kulitnya merinding. Bukan hanya itu, burung yang semula berhinggapan di ranting pohon juga secara bersamaan terbang menjauh begitu saja.

Sontak Hee-Ra bangkit, dadanya serasa nyeri, membuat Hee-Ra ingin sekali menusuk kulit dan meremas jantungnya sendiri. Hee-Ra berteriak sangat keras, ia bahkan tersungkur ke tanah, memukul-mukul tanah dengan keras, berharap rasa sakit di dadanya menghilang.

Namun nihil!

Bukannya kesembuhan, rasa nyeri di dadanya semakin dalam dan dalam. Tenggorokannya mengering karena ia terus-terusan berteriak menahan sakit. Kedua matanya semakin menyipit, tak sanggup untuk terus terbuka. Namun ia yakin seratus persen tak salah lihat. Lima orang berjubah hitam berdiri di hadapannya dan mulai berjalan mendekat.

Salah satu dari kelima orang itu mengayunkan tongkatnya ke arah Hee-Ra, seolah ingin merobek dadanya dan menancapkan ujung lancip tongkat tersebut ke jantung Hee-Ra.

Namun belum sempat tongkat tersebut menempel, Hee-Ra sudah merasakan sentuhan seseorang terlebih dahulu di pundak kanannya dan kemudian gelap.

Ia tak tahu apa yang terjadi…

 

TO BE CONTINUED

Iklan

13 pemikiran pada “Two Moons [Chapter 5]

  1. Makin keren, makin penasaran. Makin geregetan. Makin makin deh. Aaa~ jeongmal daebak choroyo. Next chapter, i’m really waiting you.

  2. Setelah sekian lama nunggu ini epep akhirnya muncul.
    Ceritanya makin menjurus skrng, huuhh knp kai hrs kya gth, kya anak kecil tpi lucu itu malah nunjukin klo dia emng lg jatuh cinta.
    Kai heera moment please authornim…

    Aku request sma author, pliss jgn gantung ampe lama bgt gth yah, penasaran dan capek nunggu :’v you know authornim klo menunggu pekerjaan yg pling mengesalkan hehe, fighting 😘

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s