FLAME [Chapter 1]


flame

-HEENA PARK STORYLINE-

.

Shin Hee-Ra ● Kris Wu ● Kim Jong-In ● Kim Na-Na ● Lu-Han ● Han So-Mi

.

Romance-DramaAction//PG-17 [and a little bit NC]// Multichapter

.

♣Follow my WATTPAD

♣Find me on FACEBOOK

.

.

Notes : Sebenernya aku pengen share chap 1 setelah Forbidden Love selesai, tapi karena aku lagi UTS dan Forbidden Love belum selesai aku tulis, jadi aku share ini duluan aja hehe. Btw FF ini juga aku share di Wattpad dengan original cast.

 

.

Previous :

PROLOGUE+INTRODUCTION

.

 

FLAME

 

 

Shin Hee-Ra tidak pernah setakut ini sebelumnya, tubuhnya gemetar, berusaha menjauhkan sang ayah dari atas tubuhnya. Pria setengah baya itu terus saja memaksa dan berusaha menempelkan bibirnya pada leher Hee-Ra.

“Ayah, sadarlah!” teriakannya menggema di seluruh ruangan, namun Han-Kang tampak tak menghiraukan, ia terus melanjutkan kegiatannya, berusaha menyetubuhi anaknya sendiri.

Hee-Ra tentu tidak mau menjadi anak yang kurang ajar, ia tak tega berlaku kasar pada sang ayah yang saat ini terus memaksa dan memaksa untuk dapat menyentuh beberapa titik sensitifnya. Di sisi lain, Hee-Ra tidak bisa marah karena ayahnya bertindak seperti itu secara tidak sadar.

Shin Han-Kang mengalami gangguan mental sejak dua tahun lalu, beberapa bulan setelah perusahaannya bangkrut. Tapi di balik keterpurukan James, ada Hee-Ra yang jauh lebih tersakiti. Sejak berusia sebelas tahun, Ji-Yoon—ibunya, pergi begitu saja meninggalkan Hee-Ra dan ayahnya, ia tak pernah kembali sampai saat ini. Kehidupan mereka yang masih sedikit berjalan normal tiba-tiba hancur setelah ayahnya bangkrut, ditambah lagi kondisi sang ayah yang semakin parah.

Hee-Ra berusaha untuk tak menangis, tapi apalah dayanya ketika sang ayah berhasil menyobek sisi kanan lengan bajunya, tangisnya pecah.

“Ayah, kumohon sadarlah!” pintanya sekali lagi dengan suara serak akibat isakannya sendiri. Sementara tangannya masih berusaha mendorong Han-Kang.

“Paman, hentikan!”

Seseorang tiba-tiba menarik Han-Kang menjauhi Hee-Ra, tanpa pikir panjang Hee-Ra berusaha bangkit, ia menarik lengan Lu-Han untuk keluar kamar dan segera mengunci pintu, sekali lagi Hee-Ra terpaksa mengurung ayahnya dalam kamar.

“Kau baik-baik saja?” Lu-Han nampak khawatir, matanya memandang cepat tubuh Hee-Ra dari atas sampai bawah, kemudian menariknya ke dalam pelukan, “Maafkan aku Shin Hee-Ra, maafkan aku,” gumamnya sambil terus mempererat pelukannya.

Hee-Ra bergeming, ia hanya terisak dan membiarkan Lu-Han menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan hangat itu. Jantungnya masih berdebar kencang, keringatnya masih bercucuran, rasa takut pada apa yang dilakukan sang ayah barusan masih tetap terbayang.

Bagaimana mungkin seorang ayah berniat memperkosa putrinya sendiri?

Lu-Han mendongakkan wajah Hee-Ra, mengusap lembut pipi gadis yang berada dalam pelukannya, “Jangan takut, aku sudah ada bersamamu, Shin Hee-Ra.”

Hee-Ra mengangguk beberapa kali. “Aku takut beliau semakin parah,” akunya.

“Kita harus membawa ayahmu ke Rumah Sakit Jiwa, aku tidak ingin melihatmu seperti ini lagi…”

Hee-Ra menggeleng, “Aku tidak punya cukup biaya untuk itu.”

“Aku akan membantumu, kau bisa meminjam uangku untuk sementara,” Lu-Han menawarkan. Sejujurnya ia ikhlas memberikan sejumlah uang untuk Hee-Ra tapi ia pasti menolak. Hee-Ra tidak suka dikasihani.

Keningnya mengerut, “Tidak, aku tidak mau menyusahkanmu lagi. Aku akan mencari pekerjaan untuk biaya perawatan ayah.”

“Tapi kau harus kuliah, Shin Hee-Ra.”

“Aku bisa mencari kerja paruh waktu yang tak akan mengganggu jadwal kuliahku,” yakinnya.

“Lagi?” Lu-Han menggeleng pelan, kedua tangannya memegang lengan Hee-Ra, “kau mau mencari berapa banyak pekerjaan paruh waktu lagi? Aku bahkan tak pernah melihatmu santai sehari saja. Kau butuh istirahat!”

“Kalau aku santai, kebutuhanku tidak akan bisa terpenuhi.” Hee-Ra menurunkan tangan Lu-Han dan meremasnya lembut, “Kau adalah sahabatku Han, aku berterima kasih atas semua bantuanmu. Aku tidak tahu kalau kau tak ada, akan jadi seperti apa aku sekarang.”

 

Tidak ada perubahan suasana dalam rumah Kris Wu walaupun ia telah menikah. Dingin, kelam, semua orang nampak hidup sendiri-sendiri tanpa saling memperdulikan.

Kim Na-Na—istrinya sedang duduk di sofa sembari sesekali menyesap secangkir kopi—menyadari kehadiran Kris yang baru saja duduk. Tanpa memandang Kris, wanita itu langsung berbicara, “Orang tuaku menginginkan cucu,” gumamnya acuh tak acuh.

Kris mengerutkan kening, tangan kanannya berusaha melonggarkan dasi, “Secepat itu?” balasnya tak suka.

Na-Na menaruh majalahnya di meja, ia mendesah kesal, “Aku tidak mau mengandung ataupun melahirkan. Aku tidak ingin mengorbankan tubuh indahku.”

Well, Na-Na adalah tipikal wanita yang selalu berusaha menjaga tubuh indahnya. Kris berani bertaruh bahwa sebenarnya Na-Na tidak berniat menikah ataupun memiliki anak. Toh tanpa menikah ia bisa memenuhi kebutuhan finansialnya sendiri.

“Lalu apa rencanamu?”

Tersenyum penuh arti selama beberapa detik, Na-Na mendekatkan bibirnya ke telinga Kris, “Ibu pengganti.”

Pernikahan Na-Na dan Kris memang tidak didasari cinta, melainkan harta. Suatu hal yang biasa bagi para orang kaya untuk menikah bisnis. Keduabelah pihak akan menggabungkan perusahaan mereka sehingga menjadi lebih besar, begitupula antara Na-Na dan Kris.

Namun Kris tak memberi balasan, ia nampak tak suka pada keputusan Na-Na, membuatnya bertanya, “Bagaimana menurutmu?”

“Sebenarnya aku tidak begitu suka,” Kris berhenti sebentar lalu bangkit dari sofa dan mengangkat kedua bahunya, “tapi terserahmu saja, yang penting ibu pengganti bagi anakku adalah wanita baik-baik dan sehat, oh, tentu saja ia tidak boleh memiliki catatan kriminal.”

Na-Na memicingkan matanya, “Kau pikir aku akan menyewa rahim wanita murahan di luar sana?”

Ya…

Bisa jadi, kan?

Kris tak tertarik menjawab pertanyaan Na-Na. “Aku lelah, aku mempercayakannya padamu. Kau bisa mencari gadis baik-baik sendiri kan?”

Na-Na menggeleng, “Tidak, kau calon ayahnya Kris. Tentu saja kita berdua yang harus memilih ibu pengganti untuk anak kita.”

Keinginannya untuk segera beranjak dan beristirahat harus diurungkan, Kris menarik napas panjang dan kembali duduk, “Kau tahukan aku sangat sibuk? Aku tidak punya waktu untuk mengurusi hal seperti itu.”

Mengingat perusahaannya semakin berkembang setelah menikah dengan Na-Na memang memberi efek pada Kris. Pria itu semakin sibuk dan seringkali lupa untuk pulang ke rumah, tapi tak masalah, toh istrinya juga tidak begitu membutuhkannya.

Na-Na sering kali membawa pria lain ke rumah. Semua pelayan mereka telah mengetahui bahwa tuannya menikah karena bisnis, begitu juga keluarga Na-Na, mereka tak keberatan pada kenyataan, lagipula menikah bisnis tanpa perasaan sudah menjadi kebiasaan turun-temurun.

Ah baiklah kalau begitu, aku bisa mengambil gadis dari klub malam, mereka pasti tidak keberata—”

Kris buru-buru mendecakkan lidah, “Baiklah, aku ikut denganmu,” balasnya cepat.

 

Dengkuran khas seorang Shin Han-Kang masih menggema, sementara Hee-Ra berjinjit masuk, berusaha agar tak membangunkan ayahnya. Ia duduk di pinggir kasur dan mengecup sebentar kening sang ayah sebelum berpamitan.

Have a nice day, doakan aku mendapat pekerjaan lagi supaya bisa membawa ayah berobat,” bisiknya lembut.

Ia kembali berjinjit dan keluar dari kamar sang ayah. Lu-Han sudah menunggu di depan, rencananya ia akan menemani Hee-Ra untuk mencari pekerjaan tambahan lagi. Well, kemarin Lu-Han sudah berusaha memaksa Hee-Ra agar mau menerima bantuannya, tapi bukanlah Hee-Ra kalau tidak keras kepala, gadis itu tetap menolak dan memilih untuk mencari pekerjaan.

Good morning,” sapaan hangat Lu-Han menyambut begitu Hee-Ra menampakan dirinya dari balik pintu.

Ia tersenyum simpul, “Morning too, kau sudah sarapan?”

Lu-Han berpikir sebentar sebelum akhirnya menggeleng, “Belum, kau?”

Puas mendengar jawaban Lu-Han, Hee-Ra menepukkan kedua telapak tangannya, “Bagus, kenapa kita tidak sarapan di cafe baru yang berada tak jauh dari sini? Sekalian aku ingin melamar pekerjaan, siapa tahu diterima.”

Lu-Han hanya mengangguk dua kali, rupanya Hee-Ra sangat bersemangat untuk mencari pekerjaan. Yah, bisa disimpulkan bahwa gadis itu benar-benar serius pada keputusannya.

Beruntungnya, cafe yang dimaksud Hee-Ra berada tak jauh dari rumah. Masih baru, bahkan bau cat kerap tercium ketika mereka berjalan masuk. Nuansa klasik bewarna coklat-putih membuat cafe semakin mewah, mungkin cafe ini lebih cocok untuk keluarga, kenapa tidak sekalian dibuat restoran?

Pelayan cafe nampak ramah begitu menyadari kehadiran Hee-Ra dan Lu-Han, mereka diantar ke meja dan diberikan buku menu. Sementara Lu-Han sibuk memilih, Hee-Ra memberi kode agar sang pelayan menunduk, kemudian berbisik pelan.

“Apakah saya bisa bertemu atasan anda?” tanyanya tanpa basa-basi.

Pelayan itu mengangguk dan meminta Hee-Ra mengikutinya, mereka berhenti di depan ruangan yang berada paling ujung. Sang pelayan mempersilahkan Hee-Ra untuk masuk, yah, semoga saja ia tidak ditolak.

Setelah mengetuk tiga kali dan mendapat izin masuk, Hee-Ra segera membuka pintu, melangkahkan kaki dan mendapati seorang gadis yang kira-kira berusia pertengahan dua puluhan sedang sibuk menatap laptop.

“Permisi…” Hee-Ra menggigiti bibir bawahnya, ia sudah mendorong agar suaranya keluar sedikit lebih kencang, namun keberuntungan tak berpihak.

Untungnya wanita itu langsung mendongakkan kepala, ia tersenyum simpul dan mempersilahkan Hee-Ra duduk.

“Apa ada yang bisa kubantu?” tanyanya tanpa basa-basi.

Hee-Ra bergeming selama beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan map dari dalam tas lengannya. “Saya Shin Hee-Ra,” ia menaruh map tadi di atas meja. “Saya berniat melamar pekerjaan di cafe anda,” ia menggantungkan ucapannya, berpikir sebentar dan mulai bergumam lagi, “saya bersedia mengerjakan apapun asal tidak menyalahi hukum…Nona Han,” beruntung ia sempat membaca name-tag wanita yang sedang duduk di depannya. Han Sol-Mi.

Wanita yang dipanggil Han Sol-Mi barusan mengambil map milik Hee-Ra dan membacanya sebentar, sejujurnya ia tak butuh pegawai lagi, namun gadis ini kelihatan sangat membutuhkan pekerjaan.

Mungkinkah Sol-Mi harus membantu?

Ia membalik lembar demi lembar kertas yang ada di hadapannya, lumayan juga, Hee-Ra masih kuliah, mempunyai beberapa prestasi dan pernah menulis sebuah novel ketika masih kecil.

Well, kenapa dia tidak menjadi penulis lagi?

“Aku akan mempertimbangkanmu,” ia menutup map milik Hee-Ra dan menaruhnya di meja. “Aku akan menghubungi lagi, Nona Shin,” lanjutnya.

Hee-Ra mengangguk, ia menyalami Sol-Mi sebelum keluar. Oh, tentu saja Hee-Ra mengucapkan terima kasih karena Sol-Mi berniat mempertimbangkannya. Ya, walaupun itu berarti kesempatannya kecil, tapi tak apa, Hee-Ra menggantungkan harapan pada Sol-Mi.

Kemudian ia berbalik, hendak keluar ruangan dan kembali menemani Lu-Han. Ia teringat sesuatu, Hee-Ra seharusnya menelpon bibinya agar menemani sang ayah di rumah. Tentu saja ia tidak mau gegabah meninggalkan ayahnya sendirian dalam keadaan seperti itu.

Setelah menutup pintu ruangan Sol-Mi, Hee-Ra berjalan sambil merogoh tas lengannya, berusaha menemukan di mana ponsel kecil bewarna putih miliknya. Dengan begitu ia menjadi tak fokus pada jalan, sampai tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke belakang dan jatuh begitu saja ke lantai.

Tasnya jatuh, barang-barangnya berserakan. Hee-Ra kelimpungan dan segera membereskannya, namun seseorang membantu. Ia mendongak dan mendapati seorang gadis berambut lurus-sebahu berjongkok di depannya sembari memunguti beberapa barang Hee-Ra dan menyodorkannya.

“Maaf aku tak sengaja,” gumam gadis itu. Senyumnya mengembang, usianya mungkin sekitar akhir dua puluhan.

Hee-Ra segera mengambil barang di tangan gadis itu dan memasukkannya ke tas, ia menggeleng dua kali, “Tidak, seharusnya saya yang meminta maaf pada anda karena terlalu sibuk pada tas lengan dan lupa melihat jalan,” ia berhenti sebentar, “tapi terima kasih karena sudah membantu,” lanjutnya diselingi senyuman.

Gadis itu mengangguk lalu membantu Hee-Ra berdiri. “Kalau boleh tahu, apa yang sedang kau lakukan? Tidak biasanya pengunjung pergi ke sini,” tanyanya tanpa basa-basi.

Ah, benarkan? Dia pasti teman Sol-Mi. Lihatlah gaya berpakaian mereka, sama-sama mewah namun tetap simple.

“Saya berusaha melamar pekerjaan,” jawabnya jujur.

“Oh…,” gadis itu mengangguk-angguk. “Kau tidak perlu terlalu formal padaku, usiaku masih dua puluh tujuh tahun.” Ia memperhatikan Hee-Ra secara seksama, seperti menimbang-nimbang sesuatu.

Salah tingkah, Hee-Ra menggigiti bibir bawahnya, “B-baiklah..,” gumamnya. Sekali lagi otaknya kembali teringat pada tujuan utamanya, ia menepuk keningnya pelan. “Maafkan aku, sepertinya aku harus segera pergi,” pamitnya lalu berjalan meninggalkan gadis barusan.

Setelah Hee-Ra pergi, gadis itu segera masuk ke ruangan Sol-Mi. Yah, ia sepertinya tertarik pada Hee-Ra dan kebetulan sekali gadis itu sedang membutuhkan pekerjaan.

Na-Na menatap senang foto-foto di mejanya, Hee-Ra rupanya gadis yang baik. Semenjak bertemu dengan Hee-Ra beberapa hari lalu, ia menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki gadis itu, dan ia benar, Hee-Ra sangat cocok menjadi ibu pengganti bagi bayinya kelak.

Riwayat hidupnya mengatakan bahwa Hee-ra berpendidikan, ia tidak memiliki catatan kriminal, kuliah di Universitas yang bisa dibilang terpandang, sayangnya ayah Hee-Ra memiliki gangguan mental, dan itulah poinnya. Na-Na bisa menggunakan keadaan ayah Hee-Ra sebagai alat agar ia mau bekerjasama.

Suara bantingan pintu menggema, membuat Na-Na mengeram, “Tidak bisakah kau masuk dengan lebih sopan?” protesnya

Jong-In tidak begitu mendengarkan ucapan kakaknya, ia hanya membuang napas keras dan menumpu kedua lengan di atas meja, “Berikan aku uang.”

“Lagi?” Na-Na nampak tak senang, “Dua hari lalu kau sudah meminta uang padaku, kemarin kau meminta pada Kris, dan sekarang? Di mana semua uang dalam tabunganmu?”

“Kau tidak perlu banyak protes,” Jong-In mengancam, “kekasihku hamil, ah bukan, wanita murahan itu hamil dan aku ingin dia menggugurkan kandungannya. Aku tidak mau menggunakan uangku untuk itu, jadi kau yang harus membayarnya.”

Jong-In tak pernah berubah, ia selalu membuat masalah dan berpikir segalanya bisa diselesaikan dengan uang. Tapi mau bagaimana lagi? Na-Na tak bisa menolak kali ini, ia mendecak kesal dan mengambil setumpuk uang dari brangkas lalu memberikannya pada Jong-In.

“Berhentilah bermain dengan gadis-gadis itu, kau membuat rugi keluarga.”

Jong-In tersenyum licik, “Benarkah? Lalu apa yang harus kulakukan? Menikah bisnis dan membawa banyak gadis ke rumah setiap hari? Sepertimu?”

“DIAM!” Na-Na tak bisa menahan lagi. Ya, ia tahu bahwa yang dilakukannya salah. Dalam Seminggu setidaknya Na-Na membawa dua atau tiga pria ke rumah ini untuk bersenang-senang. Kris juga tak pernah marah padanya karena pria itu memang tak pernah tertarik sedikitpun untuk menyentuh Na-Na.

Kalau saja Kris mau menyentuhnya, Na-Na pasti tidak akan membawa pria lain. Ya, dia memang pernah menggoda Kris, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali, tapi apa? Na-Na harus berakhir menyedihkan. Kris bahkan tak melirik ke arahnya sedikitpun.

Ia memang tak mencintai Kris, begitupun sebaliknya. Tapi semua wanita juga butuh tempat untuk melampiaskan gairahnya. Begitu juga Na-Na.

“Cepat berikan uang itu padanya, aku tidak ingin nama keluarga kita tercoreng,” Na-Na berusaha menahan umpatannya. Muak mendapati senyuman kemenangan dari bibir Jong-In.

 

Hee-Ra merenung sepanjang hari, menyaksikan ayahnya dari balik jendela kaca, duduk berpangku tangan di halaman. Seharusnya ia istirahat di kamar karena akhirnya mendapat libur, entah itu di kampus ataupun tempat kerja. Tapi otaknya terus saja meneriakkan agar ia mulai mengambil langkah baru, ia harus keluar dari Universitas dan fokus bekerja untuk kesembuhan ayahnya.

Lagipula ia tidak mau terus-terusan menyusahkan Bibi Jung—tetangganya—yang setiap hari dengan senang hati mau menemani ayahnya dikala Hee-Ra tak ada di rumah. Tentu saja Bibi Jung tidak sendiri, ia kadang ditemani oleh Baek-Hyun, putranya yang berusia delapan belas tahun dan baru saja lulus dari SMA.

“BOOM!”

Hee-Ra tersentak karena ulah seseorang yang mengejutkannya dari belakang, ia menengok sembari mengelus dadanya. Bisa-bisa aku terkena serangan jantung, batinnya.

Cengiran Lu-Han membuat Hee-Ra tak jadi marah, pria itu duduk di depannya, “Apa yang kau lakukan? Kenapa melamun?”

“Tidak ada,” menggeleng beberapa kali dan menyubit lengan kanan Lu-Han hingga kesakitan, “kau membuatku hampir terkena serangan jantung tahu,” protesnya tanpa memperdulikan erangan kesakitan Lu-Han.

Ahh, iya-iya maafkan aku,” Lu-Han sibuk mengusap lengannya setelah Hee-Ra bersedia melepaskan, ia meringis kesakitan, “kau benar-benar jahat.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Melaporkan aku ke Polisi?”

Lu-Han memutar bola matanya, “Seharusnya begitu.”

Baru berniat untuk memukul pelan lengan Lu-Han, ponsel Hee-Ra berbunyi, ia mengurungkan niatnya sebentar dan segera meraih ponsel.

Nomor tak dikenal?

Ia menekan tombol jawab dan menempelkan ke telinganya, “Halo?”

Orang di seberang sana nampak senang, “Shin Hee-Ra? Ini aku Han Sol-Mi.”

Hee-Ra berubah antusias, ia menatap Lu-Han sekilas sebelum kembali fokus, “Nona Han? Apa ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

“Yap! Aku ingin kita bertemu sore ini di cafeku. Aku punya pekerjaan untukmu.”

 

.

TO BE CONTINUED

Iklan

22 pemikiran pada “FLAME [Chapter 1]

  1. Yeeey. Ff baru, sbnrny lebih suka kl Jongin yg jd main castnya:( Tp gpp, mgkn ak hrs move on dr Forbidden Love kali ya. Hehe. Ceritany menarik, ide baru, cast baru(?), karakter baru. Semoga idenya ngalir trs ya Kak. Dtunggu chapter selanjutnya, dtunggu jg Forbidden Love-nya:p fighting!^^

  2. Kasian heera mau d perkaos ama bpknya :’v
    Ah i like about kris image dia bgt 😍
    Kai d cubit jg nih :V
    Oke nunggu two moons ama FB lama hiksss 😭 kkkk~
    Fighing

  3. Ping balik: FLAME [CHAPTER 1] by Heena Park | EXO FanFiction Indonesia

  4. Wooooowwwww… keren abis sumpah ibu pengganti, udah kris sama heera aja gak usah sama yg lain lebih setuju sama heera dari pada nana.. palingan nanti nana juga punya perasaan sama kria heheh
    Keep writing di tunggu forbiden love

  5. ya aku kira jongin jadi cast utama disini ternyata ada abang kris tapi jongin akan ada banyak interaksi dengan heera kan???aku harap iya
    dan semoga heera gak akan menerima tawaran nana…..
    dan jongin bisa berubah setelah bertemu dengan heera

  6. Seru crt y..d tunggu bgt next chapt y..kaya y ntar heera d tawarin yach jd ibu pengganti..ntar ktmu kris…trz…hehehehe…

  7. Hee ra mau dijadiin ibu pengganti gitu. Kasian bgt Hee ra tapi kurang greget pas awal Hee ra kayak biasa aja diperlakukan sm Appanya. Lu Han baik bgt jadi bingung dia ada rasa gak ya sama Hee ra. Jong in mau ngapain nih?

  8. Aaaa!!! Akhirnya main castnya Kris Wu, lg fallin banget ama Kris wkwk
    Apa rasanya coba nikah ama Kris tp belom pernah ngrasain Kris? Gue yakin Nana kepo banget, ampe sebergairah itu yaa? Hohoo
    Mungkin tar HeeRa satu2nya cewe yg bisa nikmatin tubuh Kris, jg satu2nya yg bakal dilirik Kris, ekhemmm… Ya smoga aja HeeRa jg bisa ngrubah Kris yg lebih baik
    Yayayaa, fanfict yg bikin penasaran banget, ditunggu next part ka, tengkyu + semangadd!!!^^

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s