Two Moons [Chapter 4]


twomoon3

-Heena Park Present-

.

Starring: Shin Hee-Ra, EXO's Kai, EXO's Se-Hun, others.

.

Fantasy–Romance–Action//PG–15//Multichapter

.

PosterBySifixo@PosterChanel

.

Notes : ff ini sudah pernah aku share sebelumnya, dan kali ini aku mau me-remake ff tersebut.

.

Follow me on WATTPAD

.

.

TWO MOONS

©2016

.

Lu-Han, Kris, Lay, Chen, Tao dan Xiu-Min baru sampai di Seoul tiga jam yang lalu. Dikala mereka tengah asyik menebar rindu dan bertanya kabar masing-masing dengan Su-Ho beserta yang lain, tiba-tiba Lu-Han bangkit dari sofa. Kedua matanya menajam, ekspresinya berubah serius.

“Aku bisa membaca pikiran salah satu dari mereka,” dadanya mengembang dan mengempis lebih cepat daripada biasanya. “Penembakan di restaurant, incaran mereka berada di sana.”

Ke-sebelas pasang mata lainnya saling memandang. Kris berdiri dan mendekat pada Lu-Han, “Kau bisa membaca pikiran mereka? Apa kau tahu siapa mereka sebenarnya?”

Lu-Han menggeleng, “Aku tidak tahu dan tidak bisa merasakannya setiap saat. Mereka menggunakan semacam perisai agar aku tak bisa mengetahui siapa mereka sebenarnya. Hanya saja, aku sempat merasakan pikiran salah satunya tadi. Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai bisa menembus pikiran mereka walau hanya sekelebat.”

Kali ini Su-Ho tak tinggal diam, ia meraih mantel coklat dan segera memakainya. “Artinya kita harus ke sana, kita tidak boleh membiarkan mereka mendapatkan apa yang diinginkan.”

Yang lainnya mengangguk setuju. Mereka bersiap untuk pergi ke restaurant yang dimaksud. Sementara Se-Hun tetap terpaku di tempatnya sembari memegangi dada. Ia meringis menahan sakit yang tiba-tiba saja datang entah karena apa.

Chan-Yeol yang khawatir segera menahan lengan pria itu agar tidak terjatuh, “Ada apa denganmu?”

Se-Hun menggeleng, “Aku tidak tahu,” ia berhenti sejenak, kembali merintih kesakitan dan meremas dadanya, “tiba-tiba saja aku merasa ada bagian lain dalam diriku yang sedang ketakutan.”

“Sebaiknya kau di rumah saja,” Lay menyarankan, “aku akan memeriksamu nanti.”

Tidak, Se-Hun tidak mau di rumah, ia merasa ada sesuatu yang harus ditemui dan diselamatkannya. Salah satu bagian dalam dirinya yang tiba-tiba saja mendorong keluar.

“Aku ikut. Aku yakin rasa sakit ini akan segera hilang.”

Xiu-Min mengerutkan kening, “Kau yakin?”

Mengangguk sekali tanpa ragu. Keputusannya bulat, Se-Hun merasa bahwa dirinya memang ditakdirkan untuk datang dan menemui seseorang di sana.

Tak perlu banyak bicara lagi, ke-dua belas pria itu segera berangkat. Kai yang memiliki kekuatan teleportasi membawa Se-Hun dan Kris untuk pergi bersama. Kekuatan Kai memang tidak hanya bisa digunakan seorang diri, ia bisa membawa dua orang sekaligus untuk menghilang bersama.

Mereka sampai dikala keadaan sangat runyam. Orang-orang berlari dan berteriak tak karuan, suara tembakan dan puluhan mayat berlumuran darah ada di sana-sini.

Kejadian ini membuat tidak ada satupun orang yang berani mendekat ke restaurant, sehingga Kris dengan mudah bisa menggunakan kekuatannya. Ia membakar setiap orang bersenjata yang dijumpainya, sementara Kai dan Se-Hun berusaha menyelamatkan orang-orang yang masih memiliki kesempatan untuk hidup.

Walau hanya beberapa yang masih sanggup bernapas kala dalam tubuhnya bersarang peluru, mereka tetap berusaha menyelamatkan orang-orang itu. Untungnya Su-Ho dan yang lainnya datang dengan cepat, sehingga pergerakkan mereka semakin kuat dan membuat lawan terpojok.

Tiba-tiba dadanya kembali nyeri, di saat yang sama ia juga mendengar teriakan seorang gadis yang sepertinya berada di tempat yang sama. Berusaha menahan rasa sakit, Se-Hun kembali berjalan dan mendapati seorang gadis menangis di dekat tubuh pria yang bisa dikatakan sekarat.

Ketika gadis itu berdiri, seseorang dari arah lain menebakkan sebuah peluru yang hanya dalam hitungan detik bisa menembus kulit gadis itu. Lantas Se-Hun berlari secepat mungkin, menarik gadis yang kulitnya baru saja tergesek oleh peluru kecil hingga pingsan dalam pelukannya.

Ia mendorong telapak tangan kanannya dan mengeluarkan pusaran angin hingga membuat sang penembak terhempas ke dinding. Kai yang beberapa detik kemudian datang langsung berjongkok dan memeriksa napas pria di bawah kaki Se-Hun.

“Apa yang kau lakukan? Kalau dia masih hidup segera bawa keluar! Aku akan membawa orang ini!” teriak Kai lalu membawa orang itu menghilang bersamanya.

Bukannya mendengarkan, Se-Hun melonggarkan pelukannya, menamati wajah siapa yang berada bersamanya saat ini.

Kedua matanya membulat tak percaya begitu mendapati mahasiswi baru itulah yang baru saja ia selamatkan. Apakah mungkin gadis ini yang membuat dada Se-Hun terasa nyeri? Tapi kenapa hal itu bisa terjadi?

Pada akhirnya Se-Hun memilih untuk duduk dan menumpu kepala gadis itu di lengannya, memandang wajah damai nan tenang dalam sinar temaram yang membuatnya bertanya-tanya.

Ia mengusap lembut pipi kanan sang gadis sembari menutup mata, dadanya yang semula nyeri sudah tak terasa lagi dan berangsur energinya kembali penuh, bahkan Se-Hun merasa sangat sehat. Kekuatan macam apa yang sebenarnya terkandung dalam tubuh kecil di pangkuannya?

Suara sirine mobil polisi terdengar dari kejauhan, ke-sebelas pria tadi segera menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap untuk pergi. Sementara mereka tidak melihat kehadiran Se-Hun.

Kai mendengus dan masuk kembali ke restaurant, ia yakin Se-Hun masih terpaku di tempat tadi. Untungnya tebakan Kai benar, pria itu terduduk memandangi seseorang di pangkuannya. Kedua matanya menatap begitu dalam sampai-sampai Kai merasa bahwa dia sedang jatuh cinta.

Kai mendekat, kini ia bisa melihat dengan jelas siapa yang ada dalam pangkuan Se-Hun. Matanya membulat tak percaya, bagaimana mungkin Shin Hee-Ra ada di sana?

Ia beniat memprotes Se-Hun karena perlakuannya pada Hee-Ra, namun batal ketika tiba-tiba Kris berteriak agar mereka segera pergi. Otomatis Kai memilih untuk menarik lengan Se-Hun agar bangkit bersamanya dan kemudian membawa pria itu menghilang kembali ke kediaman mereka tanpa tahu apakah Hee-Ra masih hidup atau sudah mati.

 

 

Hee-Ra gemetar tak karuan, ia duduk sendirian sembari berdoa agar Min-Ho berhasil diselamatkan di dalam sana. Sesungguhnya ia sendiri tak tahu bagaimana bisa selamat dari peluru yang diyakini berjarak beberapa centi darinya, Hee-Ra bahkan bisa merasakan peluru itu menggores sedikit kulitnya dan kesadarannya hilang.

Ia terbangun ketika mendengar sirine mobil polisi, menyadari Min-Ho sudah tak ada di sampingnya dan segera mencaritahu apa yang sedang terjadi hingga bisa selamat seperti sekarang.

“Shin Hee-Ra?”

Terdengar panggilan dari seseorang yang sudah tak asing baginya. Choi Jin-Hee dan Shin Jae-Woo berlari menghampiri putrinya kemudian memeluknya erat. Mereka hampir terkena jantung setelah mendapati wajah Hee-Ra terpampang di televisi sebagai salah satu korban penembakkan.

“Mama tidak akan pernah memaafkan diri sendiri kalau sampai terjadi sesuatu padamu,” Choi Jin-Hee mengusap badan Hee-Ra sembari mengamati apakah ada bagian yang lecet atau terluka.

Hee-Ra menggeleng, “Aku baik-baik saja Ma, Pa, tapi temanku…aku tidak tahu apa Min-Ho masih bisa diselamatkan atau tidak,” seketika tangisnya pecah. Hee-Ra sangat ketakutan apabila Min-Ho harus meregang nyawa.

Para dokter sedang sangat sibuk menangani korban yang dirasa masih bisa diselamatkan, termasuk Min-Ho. Lelaki itu sedang berada di dalam ruang operasi. Dokter bilang ada dua peluru yang bersarang dalam tubuhnya.

Beberapa detik kemudian Hee-Ra merasakan ponselnya bergetar. Ia segera merogoh saku dan melihat nomor tak dikenal terpampang di layarnya.

Sebelum menerima panggilan, Hee-Ra memandangi sebentar kedua orang tuanya, seolah meminta izin untuk pergi sebentar. Setelah mendapatkan persetujuan dengan sekali anggukkan dari ibunya, Hee-Ra segera berjalan menjauh dan memencet tombol jawab.

“Halo?”

Entah berapa detik berlalu, Hee-Ra tak kunjung mendapat balasan dari orang yang sedang berbincang dengannya.

Ia mengerutkan kening dan kembali bertanya, “Apa ada yang bisa saya bantu?”

Sayangnya, sekali lagi Hee-Ra harus menelan kekecewaan. Orang itu tak kunjung bicara, membuat Hee-Ra terpaksa memutuskan untuk segera mengakhiri panggilan, toh siapa tahu yang sedang menghubunginya hanya orang iseng.

“Apa…apa kau..baik-baik saja…Shin Hee-Ra?”

Niatnya terhenti begitu Hee-Ra mendengar suara orang yang tidak lagi asing baginya. Mungkinkah orang yang menelponnya adalah Kai?

Hee-Ra menggigiti bibir bawahnya resah, jantungnya kembali berdegup kencang tak karuan. Baru menerka bahwa Kai yang menghubunginya saja sudah berhasil membuat Hee-Ra kebingungan setengah mati, bagaimana kalau ternyata itu benar-benar Kai?

Setelah mengumpulkan segenap keberanian, Hee-Ra kembali berucap, “Kau…mungkinkah kau…Kai?”

 

 

Kai buru-buru membuka log panggilan di ponsel Se-Hun, mencari nomor yang sempat menghubungi pria itu beberapa hari lalu. Ia tersenyum puas begitu mendapatkan apa yang dimau dan segera mencatat nomor tersebut ke dalam kontaknya.

Ia tidak boleh terlalu lama di sini, begitu selesai Kai langsung menaruh ponsel Se-Hun di atas laci dan hendak keluar. Sayangnya, tepat sebelum Kai sempat memutar knop pintu, seseorang telah lebih dulu membukanya. Nampak Se-Hun dan Lu-Han sudah berdiri di sana, mereka saling berpandangan selama beberapa saat.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?” Se-Hun mengawali, ia mendorong Kai agak menjauh dan masuk ke kamarnya. Mengamati keadaan sebentar lalu kembali menatap Kai penuh tanya.

Berusaha agar tak kelihatan mencurigakan, Kai mencoba memasang wajah datar, “Tidak apa-apa, aku hanya sedang iseng.”

Kali ini Lu-Han mendekatkan wajahnya, “Benarkah? Aku bisa merasakan apa yang sedang terjadi padamu.”

Wajahnya memerah, “Kau tidak seharusnya menggunakan kekuatanmu!”

“Wah,” Lu-Han mengangkat kedua tangannya bersamaan, “aku tidak menggunakannya, pikiran itu terbesit begitu saja dalam benakku, Kai.”

“Omong kosong,” Kai mendecak kesal. Seolah tak terima, Kai segera pergi dari kamar Se-Hun tanpa permisi, membuat kedua pria itu semakin bingung. Jujur saja, akhir-akhir ini Kai memang lebih sensitif daripada sebelumnya, dan Lu-Han yakin kalau Se-Hun ikut andil terhadap keadaan Kai.

“Aku yakin dia sangat khawatir dengan gadis itu,” Se-Hun membuang napas gundah. Ia terduduk di kasur dan memberi kode agar Lu-Han mendekat.

Bagaimanapun mereka adalah satu team, Se-Hun tak bisa tetap diam dan membiarkan Kai seperti itu, ia harus berbagi cerita pada Lu-Han, siapa tahu ia bisa membantu.

“Kurasa Kai jatuh cinta pada mahasiswi baru di kampus, aku tidak tahu siapa namanya,” Se-Hun berhenti sejenak untuk mengingat kejadian yang baru saja menimpanya tadi. Saat ia merasa terpanggil oleh sesuatu agar diselamatkan. “Di tempat penembakkan tadi, aku menyelamatkan gadis itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi rasa sakit di dadakulah yang membawaku untuk menyelamatkannya, aku merasa kami memiliki ikatan.”

“Tunggu dulu,” Lu-Han merasa tak paham pada apa yang dibicarakan Se-Hun barusan, “siapa yang kau maksud dengan gadis itu?”

“Orang yang disukai Kai, memang siapa lagi?”

“Ini aneh.”

Se-Hun setuju, ia mengangguk dua kali, “Ya, aku memang aneh.”

“Bukan, maksudku adalah timing-nya. Kai menyukai gadis itu, sementara kau merasa terpanggil ketika ia berada dalam masalah. Kupikir kau harus menceritakan ini pada yang lain.”

“Tidak, kau gila? Kai bisa membunuhku kalau sampai aku menyebarkan berita ini.”

Lu-Han menggeleng, “Kita adalah satu team, kau ingat? Toh siapa tahu gadis itu ada hubungannya dengan apa yang sedang terjadi. Dan satu lagi, kupikir kita harus mulai menyelidiki gadis itu.”

 

 

Kai memukul kepalanya beberapa kali, akibat kecerobohannya sendiri ia bisa ketahuan tadi. Tapi tidak apa-apa, yang penting Kai sudah mendapatkan nomor ponsel Hee-Ra. Ia sangat khawatir pada gadis itu, apalagi saat mengetahui kalau gadis yang ada dalam pelukan Se-Hun tadi adalah Hee-Ra. Sebenarnya Kai ingin marah dan protes, kenapa pula harus Se-Hun yang menyelamatkan Hee-Ra.

Sempat merasa bingung, Kai akhirnya memutuskan untuk memencet tombol panggil pada layar ponselnya. Ia takut Hee-Ra memandangnya aneh karena menelpon.

Selama beberapa detik Kai mengerutkan keningnya, Hee-Ra tak kunjung menjawab panggilannya, sempat terlintas dalam benaknya untuk membatalkan saja. Namun berubah begitu Kai akhirnya bisa mendengar suara seseorang di sebrang.

“Halo?”

Suara itu…

Hee-Ra ternyata baik-baik saja..

Dia selamat-kan?

“Apa ada yang bisa saya bantu?”

Gadis itu bertanya sekali lagi, membuat Kai semakin yakin bahwa yang sedang berbicara dengannya memang Hee-Ra.

Kai membeku, suaranya serak tak mau keluar, namun dengan susah payah ia berhasil mengeluarkan suara, “Apa…apa kau..baik-baik saja…Shin Hee-Ra?”

Nada ragu sempat terdengar dalam tarikan napas Hee-Ra. Kelihatannya ia sedang berpikir dan mencoba menebak siapa yang sedang berbicara dengannya.

Selang beberapa detik kemudian, Kai kembali mendengar pertanyaan tak terduga yang keluar dari mulut lawan bicaranya, “Kau…mungkinkah kau…Kai?”

Ada dua fakta yang terjadi saat ini, pertama Kai mengkhawatirkan Hee-Ra, kedua Hee-Ra dapat mengenali suara Kai tanpa perlu waktu lama. Apakah ingatannya memang sebaik itu?

Kai sedikit tergagap, “Ya..ini..aku.”

Keduanya sama-sama canggung. Tentu saja, Kai yang notabennya sangat dingin dan terkesan cuek pada sekitarnya tiba-tiba menelpon si mahasiswi baru dan menanyakan apakah ia baik-baik saja? Apa Kai terdengar seperti penguntit? Diam-diam memperhatikan.

Takut kalau Hee-Ra tak berbicara, Kai berniat menanyakan sesuatu lagi atau mungkin langsung memutus telepon. Namun Hee-Ra lebih dulu mengeluarkan suaranya, “Aku baik-baik saja,” ia berhenti sebentar dan kembali berbicara dengan nada ragu, “terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”

Segaris senyum tipis sempat hinggap di wajah Kai sebelum akhirnya memudar beberapa detik kemudian. “Senang mendengarmu baik-baik saja…aku akan menutup telepon, Shin Hee-Ra.”

Tak tahan lagi, Kai menyerah dan memutus panggilannya. Berbicara dengan Hee-Ra rupanya bukan hal mudah bagi Kai. Wanita memang sulit dimengerti.

“Sepertinya dia baik-baik saja.”

Kai menoleh, mendapati Se-Hun, Lu-Han, Kris dan Su-Ho telah berdiri tak jauh darinya. Ia berani bertaruh bahwa ke-empat orang itu menguping pembicaraannya dengan Hee-Ra barusan.

Kai buru-buru memasukkan ponselnya ke saku celana. “Aku tidak ada hubungan dengannya.”

Kris terkekeh, “Sebenarnya tidak masalah kalau kalian memiliki hubungan,” ia mendekat ke arah Kai dan mulai menepuk pundak pria itu, “ada sesuatu yang harus kita bicarakan….dan itu ada hubungannya dengan orang yang kau panggil Shin Hee-Ra barusan.”

“Jangan masukkan Hee-Ra dalam masalah kita atau kerajaan, aku tidak akan membiarkan kalian menyentuhnya.”

Slow dude,” Kris mengangkat kedua lengannya ke samping telinga, “Kau harus mendengarkan kami sebelum mengambil kesimpulan.”

Kai memandangi ke-empat pria itu intens. Mereka tidak sedang merencanakan sesuatu untuk memisahkan Kai dengan Hee-Ra kan? Apakah jatuh cinta sebegitu hinanya bagi mereka?

Mereka kemudian berkumpul di ruang tengah, Se-Hun sebagai narasumber segera menceritakan apa yang dirasakannya ketika menolong Hee-Ra tadi. Sementara yang lain nampak serius, Kai malah sibuk tenggelam dalam kecemburuan. Ia berpikir bahwa Se-Hun hanya mengada-ada, pria itu berniat mengambil Hee-Ra darinya.

“Aku tahu beberapa dari kalian mungkin berpikir bahwa omonganku hanyalah omong kosong belaka, tapi aku tidak bohong sama sekali,” seolah menyindir Kai, Se-Hun berusaha meyakinkan bahwa ia tak berbohong.

“Aku juga baru merasakannya hari ini, aku tidak tahu apa artinya.”

Merasakan panas karena ketegangan yang terjadi antara Kai dan Se-Hun, Kris berusaha menengahi, “Kita harus menyelidikinya,” ia berhenti sebentar dan menatap Kai, “kenapa kau tidak mendekatinya?”

Kai melengus, “Untuk apa? Bukankah Se-Hun yang memiliki perasaan padanya? Kenapa kau tidak menyuruh dia saja yang mendekati Hee-Ra?”

Oh, rupanya ada yang sedang terbakar api cemburu.

“Sebenarnya aku tidak memiliki perasaan pada gadis itu. Kutegaskan sekali lagi, aku bisa merasakan ketakutannya dan seolah mampu terhubung dengannya, jadi itu tidak ada hubungannya dengan perasaan.”

“Apa bedanya? Perasaan kalian saling terhubung, artinya kalian jodohkan?”

“Hentikan pertengkaran bodoh ini!”

Lay yang tiba-tiba bangkit karena tak sanggup lagi mendengar pertengkaran kedua pria barusan langsung memberi tatapan marah. Ayolah, kenapa mereka harus bertengkar hanya karena seorang wanita?

Jarinya menunjuk ke arah Kai, “Kalau kau tak mau mendekatinya, biarkan Se-Hun yang melakukan.”

Membiarkan Se-Hun mendekati Hee-Ra sama saja dengan bunuh diri. “Ayolah, untuk apa kita mendekati Hee-Ra? Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini, toh bisa saja Se-Hun hanya kebetulan bisa merasakan apa yang dirasakan Hee-Ra.”

“Jadi kau berpikir seperti itu?” giliran Xiu-Min mengeluarkan suaranya. Kebetulan tak pernah ada dalam kamus hidup ksatria EXO Planet Selatan. Semua hal pasti ada sebab dan akibat. “Aku pikir kau sudah cukup belajar tentang tidak adanya kebetulan di dunia ini. Ternyata aku salah ya?”

 

TO BE CONTINUED

Iklan

22 pemikiran pada “Two Moons [Chapter 4]

  1. Ping balik: Two Moons [Chapter 4] by Heena Park | EXO FanFiction Indonesia

  2. Wah makin kesini makin keren. Tambah penasaran. Aduh, kalo bkan kai yg deketin hee ra tp malah sehun, ntar kai cemburu. Udahlah kai trunkan gengsimu dikit aja. Next chapter,, fast update juseyo..? *bbuingbbuing

  3. Oh oh kai cemburu cieee 😁
    Oh tidak jgn biarin sehun yg deketin kai.
    Part ini scean kai heeranya dikit :’V
    Porbidden love kpn d post?

  4. Perasaan aku udah pernah baca cerita ini yg Sehun punya ikatan dengan Hee Ra. Mereka bisa merasakan sakit yang sama, tapi Jong In yg jatuh cinta sama Hee Ra merasa cemburu. Meskipun udh pernah baca tapi gak pernah bosen 😀

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s