Forbidden Love Part XXII


forbidden love

“Apa yang akan terjadi jika seorang wanita yang sedang patah hati memutuskan untuk menikahi pria dengan kelainan homoseksual?”

.

FORBIDDEN LOVE

.

A FanFiction

by

Heena Park

.

Genre: Romance–Sad–Marriage Life//Ratting: PG-15//Lenght: Multichapter

.

Starring: Shin Hee Ra-Kim Jong In–Park Chan Yeol–Choi Ha Neul–Do Kyung Soo

.

Follow my WATTPAD

Find me on FACEBOOK

.

.

FORBIDDEN LOVE

Semalam Jong In sempat terjaga beberapa kali dari tidurnya, memantau kalau-kalau Hee Ra membutuhkan sesuatu. Jadi tidak aneh kalau saat ini—pukul sepuluh pagi dan Jong In masih tertidur pulas di atas ranjang rawat Hee Ra.

Ia menggeliat beberapa kali sebelum akhirnya menguap dan membuka matanya perlahan. Hee Ra sudah menunggu di samping ranjang, ia duduk di kursi roda. Senyumnya melebar begitu mendapati Jong In terbangun.

Good morning,” ucapnya.

Jong In belum sadar seratus persen, ia duduk sembari menggosok matanya, “Apa aku kesiangan?” tanyanya yang sedetik kemudian menguap.

“Tak apa, kau pasti kelelahan.”

Jong In menyetujui perkataan Hee Ra dengan mengangguk. Ia menengok dan baru menyadari bahwa Hee Ra tak ada di sampingnya, melainkan duduk di kursi roda yang jaraknya sekitar dua meter dari ranjang.

Mendapati ekspresi bingung Jong In, Hee Ra tertawa kecil, “Suster yang membantuku duduk di sini. Tadi saat kau masih tidur aku harus menjalani pemeriksaan,” ia berhenti sebentar, mengingat bagaimana raut wajah sang suster ketika melihat Jong In dan Hee Ra tidur di atas satu ranjang, “kau harus melihat wajah suster itu ketika mengetahui kita tidur di ranjang yang sama.”

Jong In menyibir, “Memang salah kalau suami-istri tidur bersama?” Ia bangkit dan menghampiri Hee Ra, mendorong kursi roda istrinya untuk keluar kamar dan memilih taman Rumah Sakit sebagai pemberhentian.

“Kau tidak sarapan?” Hee Ra mendongak, menatap Jong In yang baru saja duduk di bangku taman.

“Nanti saja, aku masih ingin bersamamu tahu.”

Hee Ra menggeleng, “Biar kutebak, kau pasti tidak pernah ke kantor beberapa hari ini.”

Jong In tersenyum seperti kuda, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kalau aku ke kantor, siapa yang akan menjagamu?”

“Suster.” Hee Ra meraih tangan Jong In dan menariknya agar berdiri, “Pergilah ke kantor, kau tidak perlu terlalu khawatir padaku.”

Ah,” meracau layaknya anak kecil. Jong In mengerucutkan bibirnya, “Aku mau ke kantor asalkan kau berjanji satu hal.”

Baiklah, pria ini memang kekanakan. Tapi Hee Ra sangat menyukai itu.

“Hm?”

Jong In membungkuk, mendekatkan bibirnya ke telinga Hee Ra dan mulai berbisik, “Kalau kau sudah sembuh nanti, kita harus pergi untuk bulan madu lagi.”

Pipinya memerah, tentu Hee Ra mengerti apa maksud Jong In meskipun tidak dikatakan secara gamblang, mengingat keduanya sudah menjadi suami-istri dalam arti sesungguhnya.

“Bagaimana?”

Hee Ra hanya tersenyum kecil dan mengangguk beberapa kali. Jong In yang mengerti-pun menepuk kedua tangannya puas. Ia segera bangkit dan membawa Hee Ra kembali ke kamar lalu bergegas mandi.

“Kau yakin tidak apa-apa kalau sendirian?” Jong In mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil. Tubuhnya sudah terbungkus oleh kemeja hitam bergaris putih.

“Tidak apa-apa, aku sudah besar tahu.”

Jong In menyerah, ia mengecup sebentar kening Hee Ra sebelum beranjak pergi. Beberapa hari tidak ke kantor rupanya membuat Jong In cukup rindu pada ruangannya. Namun ada yang berbeda, sekumpulan wartawan nampak berkerumun di depan kantornya.

Apa terjadi sesuatu selama Jong In tidak ada?

Mencoba menerobos para wartawan, Jong In malah terjebak dan ditodong dengan kamera. Saat itu juga Jong In tersadar bahwa tidak ada yang salah dengan perusahaannya, melainkan dengan dirinya.

“Tuan Kim, benarkah bahwa pernikahan anda hanya sebatas kontrak seperti yang diucapkan oleh narasumber?”

“Apa pendapat anda tentang kabar yang tersiar?”

Para wartawan itu menghujaminya dengan pertanyaan tanpa ampun. Pasti semua ini adalah kerjaan Kyung Soo. Jong In yakin seribu persen bahwa pria itu telah menyebarkan berita perihal pernikahannya dengan Hee Ra pada media.

Menyadari pimpinannya terjebak, dua orang security langsung menerobos dan membantu Jong In untuk keluar. Antusias para wartawan yang begitu dahsyat membuatnya kewalahan.

Begitu berhasil keluar dari kerumunan, Jong In segera pergi ke ruangannya. Ia berusaha tidak perduli akan pandangan dari beberapa karyawan yang seolah meminta penjelasan apakah berita itu benar.

Atasannya menikah hanya karena perjanjian?

Ia melonggarkan dasi, mengambil ponsel di saku dengan kasar dan langsung mencari nama Kyung Soo di kontaknya. Pria itu sudah sangat keterlaluan, apa ia berniat menjatuhkan Jong In hanya karena hubungan mereka telah berakhir?

“Apa kau gila? Apa maksudmu dengan semua ini?!”

Terdengar tawa puas Kyung Soo dari sebrang, “Kau sudah menikmati hadiahmu ya,” ia berhenti sebentar dan membuang napas lega. “Seharusnya kau bersyukur aku tidak membuka hubungan kita, Kim Jong In.”

Tak ingin diliputi kemarahan yang semakin dalam, Jong In segera memutus panggilannya. Sekarang yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya untuk menyelesaikan masalah ini. Bukan hanya itu, bagaimana kalau orang tua Hee Ra merasa kecewa padanya dan lebih percaya pada berita di televisi?

Ia tidak ingin kehilangan Hee Ra untuk yang kedua kali.

 

 

Chan Yeol berjalan tergesa-gesa, tangan kanannya meremas sebuah koran yang baru saja dibeli tadi pagi. Ia membuka pintu kamar rawat Hee Ra dengan kasar dan memeluk gadis itu tanpa izin.

“Maafkan aku, maafkan aku..”

Tak mengerti pada apa yang dimaksud Chan Yeol, Hee Ra mendorong kuat tubuh pria itu agar menjauh darinya. “Apa maksudmu?”

Chan Yeol melonggarkan pelukannya, menangkup kedua pipi Hee Ra sambil terus memandang kedua manik mata itu dalam-dalam, “Semuanya telah terungkap, maafkan aku karena telah membuatmu terpaksa menikah dengan orang itu. Maafkan aku.”

Sementara Chan Yeol kembali menenggelamkan Hee Ra dalam pelukannya, ia tidak sanggup berkutik. Otaknya berputar mencoba mencerna apa yang baru saja didengar. Entah berapa menit berlalu sampai seseorang tiba-tiba menarik tubuh Chan Yeol menjauh dan mendorongnya ke dinding.

Hee Ra mendongak kaget, ia bisa melihat kemarahan Jong In akibat kelakuan Chan Yeol padanya beberapa menit lalu.

“Berani-beraninya kau menyentuhnya!” Jong In menunjuk tepat ke arah Chan Yeol, matanya menggambarkan kemarahan luar biasa yang selama ini tak pernah dilihat Hee Ra.

Chan Yeol melemparkan pandangannya, dagunya mengeras tak terima, “Atas dasar apa kau berkata seperti itu?” ia berhenti sebentar dan berjalan mendekat ke arah Jong In, kemudian melemparkan koran yang sedari tadi berada dalam genggamannya. “Bangkai tetaplah bangkai, kau tidak bisa menyembunyikan itu selamanya.”

Jong In paham kalau yang dimaksud Chan Yeol adalah berita tentang pernikahan bohongannya dengan Hee Ra, tapi media terlalu mudah dibodohi oleh Kyung Soo. Mereka tanpa menyaring langsung membuat artikel seperti itu, padahal Jong In dan Hee Ra telah memutuskan untuk menjadi suami-istri dalam arti yang sebenarnya.

“Tunggu dulu,” Hee Ra kebingungan, ia seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa, “apa yang sedang kalian bicarakan? Bangkai apa? Kenapa—“

“Pernikahan kontrak kalian. Media sudah mengetahuinya,” Chan Yeol berhasil membungkam mulut Hee Ra, “dan kalian tidak bisa mengelak dengan bukti-bukti yang ada.”

Tanpa permisi, Chan Yeol kembali mendekat pada Hee Ra, ia meraih tangan kanan gadis yang kini masih ternganga tak percaya pada kenyataan. “Kembalilah padaku Shin Hee Ra, kita bisa pergi dan menikah di negara lain, aku akan menceraikan Ha Neul kalau kau meminta.”

Tidak, Hee Ra tidak bisa melakukan itu. Ia memiliki Jong In yang jelas-jelas sangat mencintainya.

“Kumohon, hentikanlah pernikahan bodoh kalian. Aku tahu hatimu selalu menuntun agar bersamaku-kan? Shin Hee Ra jawab aku.”

Hee Ra tak mengerti kenapa Jong In hanya terdiam membelakangi mereka sementara Chan Yeol berbuat senekad itu. Apa Jong In sudah tak perduli padanya?

Memang Hee Ra belum membaca seperti apa beritanya, tapi ia yakin seribu persen kalau bukan Jong In yang menyebarkan.

Ia menepis pelan tangan Chan Yeol. “Ya, aku memang setuju untuk menikah dengan Jong In karena ingin membalas rasa sakit hatiku padamu.”

Mimik wajah Chan Yeol berubah lega, memang aneh kalau Hee Ra memutuskan menikah secara tiba-tiba setelah mereka putus beberapa hari sebelumnya.

“Tapi sekarang berbeda, terserah kau mau percaya atau tidak. Aku sudah mempercayakan hatiku pada Jong In, dia suamiku, aku tidak akan pernah meninggalkannya. Bahkan untukmu sekalipun. Kau memang pernah menjadi bagian indah dalam hidupku di masa lalu, tapi Jong In adalah masa depanku.”

Seolah tak puas pada jawaban Hee Ra, Chan Yeol kembali mencari celah, “Kau berkata seperti itu karena dia lebih kaya dariku-kan?”

Terkutuklah Chan Yeol, mulutnya tak bisa menjaga perkataan. Pikirannya terlalu kacau sampai-sampai mengatai Hee Ra hanya mengincar harta Jong In.

“Apakah aku kelihatan seperti itu?”

Jujur saja, mendengar Chan Yeol berkata demikian cukup membuat hatinya tergores. Ia tidak percaya orang yang selalu baik di hadapannya ternyata memiliki pikiran busuk seperti yang lainnya.

“Kalau rasa cintaku bisa dibeli dengan uang, seharusnya aku sudah pergi meninggalkan Jong In dengan membawa seluruh harta kekayaannya,” Hee-Ra berhenti sebentar, ia menarik kursi roda yang berada tepat di samping ranjang dan berusaha untuk pindah ke sana tanpa meminta bantuan siapapun.

“Lebih baik sekarang kau pergi, aku bisa melaporkanmu karena telah mengganggu pasien.”

“Kau serius? Shin Hee Ra kau—“

Dalam satu hentakkan, Hee Ra berusaha mendorong Chan Yeol keluar dari kamarnya dan menutup pintu. Ia bisa mendengar suara protes Chan Yeol dari luar sana, namun pandangannya terfokus pada Jong In yang masih terpaku tanpa bicara.

Hee Ra mendekat, ia meraih tangan Jong In dan meremasnya pelan, “Ada apa denganmu?” tanyanya.

Tidak ada jawaban dari Jong In, suasana hening sempat menyelimuti keduanya sampai akhirnya Jong In tersungkur ke lantai dan menangis. Ia berlutut di depan Hee Ra dan mengucap maaf berkali-kali.

“Maafkan aku Shin Hee Ra, aku gagal menjagamu,” ia terisak tanpa perduli pada statusnya sebagai seorang pria. Mungkin orang lain akan beranggapan Jong In lemah tanpa tahu beban berat yang telah dialami pria itu. Jauh dalam relung jiwanya sangat ketakutan apabila Hee Ra memilih untuk pergi.

“Seharusnya aku tidak memberitahu tentang perjanjian kita pada Kyung Soo, seharusnya aku tidak membiarkan dia memegang surat perjanjian kita walau hanya sebentar, seharusnya aku—“

Belum selesai Jong In mengungkapkan isi hatinya, Hee Ra sudah lebih dulu menarik pria itu dalam pelukannya. Ia tidak menyalahkan Jong In sama sekali karena mereka berdua sama-sama bersalah. Mereka sama-sama terlibat dalam perjanjian dan itu artinya Jong In tidak bersalah sepenuhnya.

“Aku tidak menyalahkanmu sedikitpun,” Hee Ra mengusap pelan punggung Jong In, berusaha keras menahan air mata yang akhirnya tetap terjatuh begitu saja, “kita tidak pernah tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Kau tidak perlu meminta maaf karena kau tidak bersalah..”

“Aku takut kehilanganmu, aku takut kedua orang tuamu akan membawamu pergi, aku takut..”

Hee Ra tahu ketulusan dalam diri Jong In, ia tersenyum dan mengangkat wajah suaminya sehingga kedua mata mereka saling bertemu, “Kita hadapi berdua, aku berjanji akan sekuat tenaga berada di sisimu, tak peduli apapun yang terjadi.”

Bolehkah Jong In merasa lega sekarang?

Ia sangat senang mendengar Hee Ra tak akan pergi apapun yang terjadi.

“Aku berjanji akan menyelesaikan segalanya, aku berjanji.”

 

 

Belum ada pergerakkan dari kerabat terdekat Hee Ra sampai malam ini. Ia dan Jong In duduk di sofa menatap pemandangan dari balik jendela Rumah Sakit, sementara Hee Ra menyandarkan kepala di dada sang suami, Jong In mengusap lembut rambut istrinya.

“Apa di bawah masih ada wartawan?” Hee Ra mendongakkan kepalamya, menatap Jong In yang kelihatan sedang berpikir.

“Sepertinya begitu,” ia mengusap lembut pipi Hee Ra, “kau tidak perlu khawatir, bodyguardku akan menjaga kita dua puluh empat jam, lagipula aku yakin pihak Rumah Sakit tidak akan mengizinkan mereka masuk.”

“Aku ingin membantumu..”

Jong In tersenyum tipis, “Kau selalu membantuku. Shin Hee Ra, dengan keberadaanmu di sampingku merupakan bantuan paling besar yang kubutuhkan.”

“Lalu apa langkah yang akan kau ambil selanjutnya?”

“Aku akan membuat klarifikasi, aku akan membeberkan segalanya pada publik.”

Segalanya?

Mungkinkah?

“Ya, termasuk tentang homoseksualku.”

Hee Ra menggeleng, Jong In tidak boleh melakukan itu, reputasinya bisa hancur.

“Kau tidak boleh melakukan itu,” Hee Ra terus menggeleng, “apa yang akan dikatakan oleh rekan bisnismu nanti?”

“Aku tidak peduli, mereka hanya memiliki urusan bisnis denganku, bukan kehidupan pribadi.” Jong In membuang napas berat, “Apa kau malu memiliki suami yang dulunya adalah seorang gay?”

Sungguh, Hee Ra tak pernah berpikir seperti itu. Ia tidak pernah malu sama sekali dengan status Jong In sebagai mantan gay. Hee Ra bangga, ia sangat bangga karena lelakinya kini benar-benar berada di jalan yang lurus.

Jong In yang kala itu memilih untuk menatap kedua mata Hee Ra dalam-dalam, membuat Hee Ra tak berkutik. Keseriusan dalam raut wajah Jong In tentang pertanyaannya barusan begitu kental. Ia menuntut jawaban dari Hee Ra, ia takut istrinya tidak menerima apa adanya.

“Apakah dengan pilihanku tetap berada di sampingmu belum cukup untuk menjawabnya?”

Jong In menunduk, melancarkan sekilas kecupan di bibir manis Hee Ra, persis seperti yang ia lakukan dikala Hee Ra belum sadar dulu.

“Aku mencintaimu Shin Hee Ra, terima kasih karena tetap bersamaku.”

 

 

Berita paling heboh di media saat ini membuat Shin Jae Woo naik pitam. Anak serta menantunya menjadi perbincangan di sana-sini. Untungnya ia dan sang istri masih berada di Seoul—mereka menginap di rumah Jong In selama beberapa hari agar mudah bila ingin mengunjungi Hee Ra di Rumah Sakit.

Niat awalnya meminta penjelasan pada Jong In tiba-tiba hancur ketika tak sengaja melihat putrinya tengah menyandar pada dada pria itu di kamar rawat. Shin Jae Woo diam-diam mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu, ia tidak ingin menghancurkan suasana. Toh, siapa tahu ia bisa mendapatkan penjelasan tanpa perlu bertanya.

“Apa kau malu memiliki suami yang dulunya adalah seorang gay?”

Shin Jae Woo yakin tidak salah dengar, jadi selama ini menantunya adalah seorang gay? Mungkinkah mereka benar-benar menikah kontrak?

Tak ingin bertindak gegabah, Shin Jae Woo memilih untuk tetap diam dan menunggu respon dari Hee Ra.

“Apakah dengan pilihanku tetap berada di sampingmu belum cukup untuk menjawabnya?”

Matanya membulat, kebingungan pada jalan cerita yang sebenarnya. Memang, seharusnya Shin Jae Woo tidak langsung percaya pada media, tapi mendengar Jong In berkata sebagai seorang gay dan jawaban Hee Ra yang seolah meyakinkan bahwa ia tidak menyesal telah menikah dengan Jong In semakin membuat benang merah tak bertemu.

Sepersekian detik kemudian, Shin Jae Woo tertegun, pemandangan menggetarkan di mana Jong In secara tiba-tiba memberikan sebuah kecupan mesra pada Hee Ra selama beberapa detik.

Hatinya bergetar, seolah mengerti bahwa cinta mereka tidaklah pura-pura.

“Aku mencintaimu Shin Hee Ra, terima kasih karena tetap bersamaku.”

Ia sebagai seorang lelaki bisa melihat betapa besar cinta Jong In untuk putrinya. Bukan cinta yang mudah dibagi, namun cinta suci tanpa perduli keadaan.

Shin Jae Woo mematri, perasaannya bercampur aduk sebagai sosok ayah dan lelaki. Sebulir air mata terjatuh begitu saja mengalir ke pipinya. Satu hal yang ia ketahui sekarang, putrinya telah menemukan orang yang pantas.

Shin Jae Woo memilih untuk berhenti, ia menutup pintu kamar rawat Hee Ra sepelan mungkin. Dengan begitu, Shin Jae Woo sudah tidak membutuhkan penjelasan lagi. Ia bahkan melihat dengan kedua matanya sendiri bahwa pernikahan mereka bukanlah permainan atau sebatas kontrak. Ya, walaupun tak menutup kemungkinan kalau awalnya memang hanya pernikahan pura-pura.

Tapi lihatlah sekarang?

Api asmara jelas tergambar dalam diri keduanya. Bahkan orang lain bisa merasakan itu.

 

 

“…terkait masalah ini, Kim Jong In akan segera memberikan klarifikasi melalui jumpa pers besok…”

Kyung Soo tersenyum puas sembari memencet tombol turn off pada remote televisi. Tubuhnya masih dilapisi jubah mandi bewarna coklat. Ia berbaring dan menepuk kedua tangannya beberapa kali sampai dua anak buahnya datang.

“Segera siapkan yang kusuruh, jangan sampai rencanaku gagal,” perintahnya.

Kedua pria yang berdiri di depan Kyung Soo itupun mengangguk bersamaan, tanpa menunggu perintah mereka segera pergi. Sementara Kyung Soo masih terbaring dan tertawa keras membayangkan betapa serunya esok hari.

Jong In telah menyakitinya, jadi tidak ada salahnya-kan kalau Kyung Soo membalaskan dendamnya?

 

TO BE CONTINUED

.

Notes : Bagi yang ingin membaca FF ini tanpa ribet minta password, bisa langsung ke wattpad aku ya, Heena Park.

.

RECOMMENDATION FANFICTION

twomoon3

[Klik gambar di atas untuk mulai membaca fanfic tersebut.]

Iklan

110 pemikiran pada “Forbidden Love Part XXII

  1. Aigooooooo!!! Yang kutunggu kutunggu kutunggu akhirnyaaa hahahaha.
    So sweet banget sih gilaak jongin. Nooo my cutie kyungsoo kamu bisa cari cowo lain atau jatuh cinta aja sama temennya heera hahaha. I think usahanya kyungsoo bakal gagal karena jongin keburu ngaku *haleh sotau* aaawww so excited nunggu kelanjutannya. Semangat authornim aku ngerti banyak pekerjaan yang harus dilakukan selain menulis ff soo tetap semangat nulis ffnyaaa yaaa xoxo❤

  2. So sweet saling menjaga dan mendampingi, Jong In suami idaman banget.
    Duh Kyung So emang gak ada habisnya yah buat ngerusak hubungan JongHee couple semoga mereka bener bener bisa mengatasinya.
    Sangat di tunggu part selanjutnya ^^

  3. Gila ya kyungsoo dendsm udah terlanjur merasuki hatinya dan sakit hati yang menumpuk
    Jongin semoga dia bisa kuat menghadapi rencana kyungsoo selanjutnya
    Seneng kalo akhirnya jongin dan hee ra bisa bersatu dengan status yang jelas atas dasar cinta dan kepercayaan

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s