Two Moons [Chapter 1]


twomoon3

-Heena Park Present-

.

Starring: Shin Hee-Ra, EXO's Kai, EXO's Se-Hun, others.

.

FantasyRomanceAction//PG–15//Multichapter

.

PosterBySifixo@PosterChanel

.

Notes : ff ini sudah pernah aku share sebelumnya, dan kali ini aku mau me-remake ff tersebut.

.

.

TWO MOONS

©2016

.

Liburan musim panas berakhir, artinya Hee-Ra harus rela mengikuti kedua orang tuanya untuk pindah ke kota kelahirannya dulu.

Seoul, sudah lebih dari delapan tahun ia meninggalkan kota tersebut dan pindah ke Manhattan. Rasanya sedikit asing kembali berada di sana. Ia tidak masalah kalau harus mencari teman-teman baru, tapi suasana dan keadaan yang jauh berbeda dengan Amerika membuatnya harus lebih baik dalam menyesuaikan diri.

Ia pasti akan merindukan Manhattan, sangat.

Ayahnya datang terlambat, seharusnya pria itu menjemput Hee-Ra dan ibunya sejak tiga puluh menit lalu, tapi tidak apa-apa, toh keduanya mengerti akan kesibukan sang kepala keluarga.

Shin Jae-Woo sudah lebih dulu pergi ke Korea sebelum istri dan anaknya datang. Ia harus memastikan keluarganya mendapatkan tempat tinggal yang layak serta mengurus surat kepindahan.

“Maafkan papa, kalian boleh menodong makan malam mahal hari ini,” Shin Jae-Woo mengangkat kedua tangannya di depan dada, membuat anak dan istrinya tertawa.

Hee-Ra menghambur dalam pelukan sang ayah, “Aku ingin makan kepiting hari ini.”

Ok, you got it, babe,” Shin Jae-Woo mengusap lembut rambut putrinya. Usianya memasuki akhir empat puluhan, namun wajah tampannya tidak berubah sama sekali.

Mereka berjalan ke mobil, sementara Shin Jae-Woo membantu membawa koper dan memasukannya ke bagasi.

“Sepertinya Seoul bukan tempat yang buruk,” Choi Jin-Hee melirik putrinya sebentar, “putriku tidak akan keluar dengan pria bertindik lagi, bukan?”

“Mama…”

Protes yang keluar dari mulut Hee-Ra membuat ibunya makin senang, “Mama yakin pria di sini jauh lebih baik daripada si rambut pirang bertindik itu.”

Pembicaraan tidak menyenangkan itu membuat Hee-Ra mengerucutkan bibir. Ibunya memang tidak merestui hubungannya dengan Daniel. Sejak awal Choi Jin-Hee tidak memiliki simpati sedikitpun dengan pria bertindik, sayang sekali, padahal Daniel adalah pria baik walaupun cover-nya kelihatan brutal.

“Oh ya, besok papa akan mengantar ke kampus barumu,” Shin Jae-Woo melirik dari kaca mobil.

Hee-Ra mengangguk beberapa kali, ia cukup khawatir kalau teman-teman barunya tidak menerima dengan baik. Yah, pengalamannya ketika bersekolah di Korea beberapa tahun silam masih membekas. Saat itu ada seorang gadis kecil yang selalu menjadi bahan bully-an teman-teman SD-nya. Ia tidak bisa melakukan apapun kecuali melihat dan terdiam, ia tidak menyangka anak SD sudah bisa berbuat seperti itu.

 

 

Salah satu hal paling baik dan menyenangkan di Bumi adalah klub malam. Wanita cantik, tarian seksi, ke-enam pria itu sangat menyukainya. Bagaimanapun mereka tetaplah sekumpulan pria normal yang masih tertarik pada wanita, dan karena harus tinggal di Bumi, jadi menikmati malam indah seperti saat ini bukan masalah besar.

Se-Hun duduk di samping Kai, ia menyodorkan gelas kecil berisi vodka, “Kurasa Bumi harus masuk dalam jajaran planet terbaik dalam tata surya,” gumamnya seraya mengedarkan pandangan.

Kai tertawa hambar dan metelakkan rokoknya, “Kau sudah mencobanya?”

Mencoba apa?

Se-Hun berpikir sejenak, ia butuh waktu untuk bisa mengerti maksud dari perkataan ambigu Kai. Sampai akhirnya Se-Hun tertawa keras dan memukul pundak Kai, “Hahahaha, aku masih suci, asal kau tahu,” jawabnya disambung tawa kembali.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kita lakukan,” Se-Hun berubah serius. “Kita sudah berada di Bumi lebih dari enam bulan dan tidak mendapatkan apapun, hanya pergi ke tempat yang disebut kampus, makan, bermain dan ke klub malam.”

“Yah, mau bagaimana lagi, kita harus menunggu perintah dari Raja sebelum bertindak. Lagipula Raja sangat yakin kalau Tao akan dibawa ke Seoul, jadi kita harus menunggu.”

“Tapi Kai,” Se-Hun menghentikan kalimatnya sebentar, ia tidak yakin harus menceritakan pada Kai atau tidak. “Akhir-akhir ini aku selalu bermimpi tentang gerhana matahari dan dua bulan bewarna merah, aku tidak tahu apa artinya.”

“Mungkin akibat pikiranmu yang sedang kacau.”

“Mungkin,” Se-Hun mengangguk setuju, ia meneguk vodkanya.

Tiba-tiba seseorang menyahut vodka dalam genggaman Se-Hun, pria itu mendecakkan lidah, “Berhentilah minum. Aku tidak ingin melihatmu mengacau lagi, kau berubah menjadi orang gila setiap kali mabuk.”

Ah,” Se-Hun menggaruk kepalanya. Ia seringkali mendengar omelan Su-Ho karena harus menanggung malu setiap kali Se-Hun mabuk. Pria berbadan jakung itu bisa mencium setiap orang yang berada di dekatnya dan mengacau.

“Ayo pulang, kita harus membicarakan sesuatu. Yang lain sudah menunggu di mobil,” ajaknya.

Kai dan Se-Hun segera mengikuti Su-Ho dari belakang. Tidak ada percakapan sedikitpun selama dalam perjalanan menuju rumah. Mereka tampak sibuk pada pikiran masing-masing, berusaha menebak apa yang akan dikatakan oleh Su-Ho nanti.

Sesampainya di rumah, Su-Ho segera berdiri di tengah, sementara yang lain duduk melingkar. Ia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan beberapa gambar, “Kris mengirimiku ini. Kejadiannya baru tadi siang, para penjaga kastil tidak mengetahui adanya gerak-gerik aneh, bahkan tidak ada seorangpun yang masuk ke tempat penyimpanan barang bersejarah, tapi anehnya, dua buah mutiara hitam menghilang. Hampir enam jam mereka mencari dan tiba-tiba saja mutiara itu kembali lagi.”

D.O langsung paham pada yang dibicarakan Su-Ho, “Jadi ada kemungkinan orang yang melakukan itu menggunakan kekuatan Tao untuk menghentikan waktu?”

“Ya, bisa jadi,” Su-Ho menggigit bibir bawahnya. “Sepertinya Raja akan segera menyuruh kita untuk bergerak karena Kris dan yang lainnya juga sudah mendapat perintah.”

“Sebenarnya apa yang mereka cari?” kali ini Baek-Hyun bertanya penasaran.

“Entahlah, mungkin sesuatu yang bentuknya hampir mirip mutiara, mengingat barang yang hilang di kastil adalah mutiara.”

Se-Hun menyibir, “Tidak masuk akal, untuk apa mereka mencari mutiara? Aku tidak pernah mendengar ada barang ajaib atau apapun itu yang berbentuk bulat.”

Kai melirik Se-Hun sebentar, “Kaupikir di dunia kita ada yang masuk akal?” ia bangkit dan memasukkan kedua tangannya ke saku, “sudah cukupkan? Aku mau istirahat,” ujarnya lalu pergi begitu saja.

Kelima pria itu-pun keheranan melihat perubahan sikap Kai akhir-akhir ini. Ia lebih suka menyendiri dan melamun, tidak terlalu banyak bicara dan hanya merespon secukupnya.

Sebenarnya ada apa dengan Kai?

Aneh sekali.

 

 

Hee-Ra tidak percaya harus melakukannya lagi. Datang sebagai siswi baru, memperkenalkan diri, mencari teman dan mencoba beradaptasi. Ia tidak menyukai lingkungan asing—walaupun sebenarnya sempat tinggal di sini.

Suara nyaring ibunya sudah terngiang sejak beberapa menit lalu, Hee-Ra segera mengambil ransel dan turun ke dapur. Kedua orang tuanya telah siap sambil memegang rotinya masing-masing.

Ready?” Shin Jae-Woo memandangi putrinya.

I think..yes,” Hee-Ra mengambil sepotong roti dan hanya menelan beberapa gigit sebelum akhirnya meninggalkan roti tersebut di atas piring.

Sebelum anaknya pergi, Jin-Hee menyodorkan segelas susu putih, “Berhentilah diet dan habiskan sarapanmu,” ia mendecak kesal, “lagipula putriku cantik apa adanya, kau bahkan tidak perlu operasi atau apapun itu untuk mengubah dirimu.”

Ibunya memang sangat perhatian, berbeda dengan anak perempuan pada umumnya, sang ibu akan melarang dengan keras apabila Hee-Ra berniat melakukan operasi plastik. Ia bilang menjadi apa adanya lebih baik daripada menjadi luar biasa namun hanya buatan.

Ok, sekarang pergilah dan temui teman barumu,” Choi Jin-Hee mendorong pelan punggung Hee-Ra yang kemudian diteruskan melakukan hal yang sama kepada suaminya.

Mereka berdua memiliki sifat yang sama, sangat suka mengulur waktu, dan Jin-Hee harus bisa mengatasi kemalasan suami juga anaknya.

Setelah mendapat kecupan hangat dari sang ibu, Hee-Ra segera masuk ke mobil. Sepanjang perjalanan ia berusaha menghapal rute dan nama jalan, ia pikir mulai besok sudah bisa mengemudi sendiri.

Seoul, populasi lebih dari sepuluh juta jiwa. Kota besar yang cukup indah.

“Kau masih ingat dengan Han Ma-Ri?”

Hee-Ra yakin pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi ia tidak ingat kapan.

Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Hee-Ra, Shin Jae-Woo kembali berucap, “Anak teman papa, dia juga kuliah di universitas yang sama denganmu.”

“Oh…”

Meh, kenapa putrinya dingin sekali-sih?

“Papa sudah memberitahu kalau kau akan pindah kemari, kupikir kalian bisa jadi teman baik. Bukankah kalian berada dalam satu taman kanak-kanak dulu?”

Oh ayolah, sudah berapa tahun kejadian itu berlalu? Hee-Ra benar-benar tidak ingat pada sebagian besar teman masa kanak-kanaknya.

Hee-Ra tersenyum kecut, badannya masih pegal karena perjalanan jauh kemarin, “Pa..”

Hm?”

Thanks.

You’re welcome.” Mobil mereka berhenti tepat setelah Shin Jae-Woo menyelesaikan kalimatnya. Ia turun dahulu dan membukakan pintu untuk Hee-Ra, membuat pipi putrinya sedikit merona.

Ia menunjuk seorang gadis yang berdiri di pinggir jalan sembari melambai-lambaikan tangan, “Itu Han Ma-Ri, kau bisa menghampirinya, papa masih ada urusan.”

Kelihatannya Ma-Ri adalah perempuan yang ramah, bisa dilihat dari caranya memanggil Hee-Ra barusan. Ia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya. Hee-Ra buru-buru menghampiri Ma-Ri.

“Kau Shin Hee-Ra, kan?” Ma-Ri langsung bertanya tanpa basa-basi, “paman sudah bercerita banyak tentangmu, kuharap kita bisa menjadi teman,” sambungnya sembari mengulurkan tangan.

Syukurlah ternyata tebakan Hee-Ra benar, Ma-Ri sangat ramah dan menyenangkan. “Kau pasti Han Ma-Ri, papa sempat bercerita tentangmu tadi.”

Tanpa permisi, Ma-Ri meraih tangan Hee-Ra dan menariknya, “Kau harus bertemu yang lain, mereka pasti sangat senang melihatmu,” gumamnya kemudian berlari.

Akhirnya mau tak mau Hee-Ra pasrah dan ikut berlari. Mereka menuju ke gedung yang berada tepat di samping kampus, sepertinya kantin.

Mereka berhenti di depan dua orang lelaki dan seorang wanita, ketiga orang itu menatap Ma-Ri dan Hee-Ra bingung.

“Lihat siapa yang datang bersamaku,” Ma-Ri menarik Hee-Ra untuk berdiri di sampingnya. “Dia Shin Hee-Ra, gadis yang kuceritakan beberapa hari lalu. Yang kubilang baru pindah dari Amerika.”

Pipinya merona, Hee-Ra tidak tahu kalau Ma-Ri ternyata sangat bersemangat. “Halo, aku Shin Hee-Ra,” ujarnya memperkenalkan diri.

Pria berambut pirang yang semula asik dengan gadget-nya berdiri, ia mengulurkan tangan pada Hee-Ra, “Lee Tae-Yong, kau bisa memanggilku tampan, genius, sweety boy, atau sepertinya lebih cocok lagi memanggilku sayang.”

Heol, berhentilah Lee Tae-Yong, dasar casanova.” Gadis berambut pendek sepundak, mengenakan kacamata dan kelihatannya bukan orang Korea itu-pun berdiri, ia mendorong Tae-Yong untuk duduk, “Jangan termakan rayuanya, dia casanova paling kejam yang pernah kutemui,” ia berhenti sebentar dan mengulurkan tangan, “Jennifer Hudson.”

Hee-Ra dengan senang hati menerima uluran tangan Jennifer, “Kau bukan orang Korea?”

“Begitulah, kami pindah dari Melbeurne ketika usiaku masih sepuluh tahun.”

“Choi Min-Ho,” kali ini giliran pria berwajah tak kalah tampan dari Tae-Yong, ia hanya tersenyum tipis tanpa melakukan gerakan lain.

Well, Hee-Ra bisa bergabung dengan kita-kan?” Ma-Ri bertanya penuh antusias.

Ke-empat orang itu mengangguk bersamaan, membuat Ma-Ri senang bukan kepalang. Tae-Yong segera mengambil kursi dan menyuruh Hee-Ra duduk di sampingnya.

Tinggal di Korea rupanya tidak begitu buruk, Hee-Ra beruntung bisa mendapatkan teman-teman baru yang baik dan mau menerimanya. Mereka mengobrol kecil dan beberapa kali tertawa, tidak sulit bagi Hee-Ra untuk beradaptasi dengan lingkungannya saat ini. Terlebih untuk dekat dengan Ma-Ri, sikap cerianya membuat Hee-Ra nyaman.

Ketika Hee-Ra hendak mengambil sendok sop pertama, kedua matanya terfokus pada sekumpulan pria yang baru saja masuk ke kantin. Ia tanpa sadar terus memperhatikan ke-enam pria itu, bagaikan tersihir dalam aura ketampanan yang begitu luar biasa.

Jennifer sepertinya menyadari pandangan Hee-Ra, ia menyiku lengan gadis itu dan berucap, “Mereka baru pindah semester lalu.”

“Oh?” Hee-Ra hampir melompat karena terkejut ketika Jennifer menyiku-nya, untung ia bisa dengan cepat mengontrol diri hingga tidak ada kejadian memalukan terjadi.

“Mereka adalah sekumpulan pria paling tampan di kampus kita,” Ma-Ri mengangkat kedua bahunya.

Benar, Hee-Ra setuju kalau mereka disebut sekumpulan pria paling tampan di kampus ini, tidak heran lagi, bahkan Hee-Ra hampir kehilangan kesadarannya karena terlalu terpesona pada ketampanan mereka.

Ciptaan Tuhan yang sangat indah.

Jennifer mendekatkan bibirnya pada telinga Hee-Ra, ia sedikit berbisik, “Pria berambut hitam yang duduk paling kiri adalah Su-Ho, kupikir dia adalah pemimpin grup, sementara yang di sampingnya adalah Chan-Yeol, dia sangat aneh.”

“Dan tentu saja tampan,” Ma-Ri menambahkan. Tangannya menunjuk seorang pria berwajah cantik, “Dia Baek-Hyun, yang di sampingnya D.O. Sebenarnya nama aslinya adalah Do Kyung-Soo, tapi dia tidak suka dipanggil Kyung-Soo.”

Seolah tahu sedang dibicarakan, ke-enam pria itu menatap kelompoknya intensif. Apa pembicaraan mereka mudah ditebak?

Hee-Ra memalingkan wajahnya, “Mereka sedang melihat kita.”

“Aku yakin mereka sudah biasa dibicarakan, bahkan secara terang-terangan.” Min-Ho mendesah berat. “Aku berusaha mengajak mereka masuk dalam klub basket tapi semuanya menolak. Aku sangat membenci mereka.”

“Bukan hanya kau yang membenci mereka, aku juga,” Tae-Yong melirik ke-enam pria itu sebal. “Gara-gara mereka, popularitasku sebagai pria tampan menurun, mereka merebut para gadis cantik dari genggamanku.”

Baru saja menyelesaikan kalimatnya, Jennifer sudah memukul pelan kepala Tae-Yong, “Apa jiwa casanova memang melekat dalam dirimu sejak lahir?” protesnya.

Sikap konyol dan percaya diri Tae-Yong merupakan hiburan tersendiri bagi mereka. Hanya saja, Hee-Ra sangat penasaran pada dua orang lelaki yang duduk paling pinggir.

“Lalu siapa kedua lelaki itu?”

Ma-Ri ambil suara, “Oh Se-Hun, dia yang tertampan. Kau lihat? Kulit putihnya, bibir mungilnya, rambut hitamnya, bukankah dia kelihatan seperti pangeran dalam negeri dongeng? Aku bahkan merekomendasikan pada pelatih teater agar memilih Se-Hun sebagai pangeran dalam pementasan drama beberapa bulan lalu, sayangnya dia menolak.”

“Jangan perdulikan Ma-Ri, dia memang menyukai Se-Hun sejak pertama kali bertemu, makanya dia memuji seperti itu,” Jennifer terkikik. “Sedangkan pria yang terakhir, dia Kim Jong In, orang-orang memanggilnya Kai. Dia sangat jarang bicara, ekspresinya selalu dingin, dan jujur saja ia membuatku sedikit takut. Tapi tidak ada seorang gadispun yang bisa mengelak pesonanya.”

“Kupikir sifat dinginnya yang membuat Kai sangat mempesona,” Ma-Ri mengeluarkan pendapatnya yang kemudian disetujui oleh Jennifer.

“Ayolah guys, kalian terlalu polos sampai jatuh dalam pesona mereka,” Tae-Yong tidak terima. “Begini, mereka pria yang katanya tampan, tapi aku tidak pernah melihat salah satu dari mereka bersama gadis, mereka selalu bersama. Kau tahu maksudku-kan?”

“Tidak, mereka bukan gay,” bela Jennifer dan Ma-Ri. Keduanya paham kalau Tae-Yong selalu berusaha mencari kejelekan dari sekumpulan pria tampan yang merebut popularitasnya.

“Baiklah, terserah kalian saja. Lagipula mereka ber-enam, berarti ada tiga pasangan, kan?”

Ya! Lee Tae-Yong!”

Hee-Ra tidak terlalu mendengarkan lagi pertengkaran ke-tiga temannya, matanya seolah tertarik untuk terus melihat ke arah mereka. Ia hanya bisa mencuri-curi pandang sambil menggigiti bibir.

Entah perasaan macam apa yang menggerogoti hatinya, tapi Hee-Ra benar-benar tertarik untuk mencari tahu lebih banyak.

 

 

Hee-Ra menyesali keputusannya karena menolak ajakan Ma-Ri untuk pulang bersama dan lebih memilih menunggu ayahnya. Ia sudah menelepon tadi, katanya akan terlambat, entah berapa lama. Terpaksa Hee-Ra harus sabar karena ia sendiri tidak tahu harus menggunakan bus mana untuk pulang. Ah, ia bisa saja menggunakan taksi, tapi itu akan menjadi pilihan terakhir kalau satu jam ke depan ayahnya belum datang.

Ia berdiri di dekat gerbang sambil menyilangkan kedua lengan, sekumpulan pria yang dilihatnya di kantin muncul dari balik taman parkir. Lima orang duduk di mobil dan seorang lainnya lebih memilih menggunakan motor, apa mereka tinggal serumah? Jangan-jangan yang dikatakan Tae-Yong benar? Mereka…gay?

Hee-Ra berusaha menahan diri untuk tidak menatap mereka, namun ia gagal. Kai-lah yang kelihatannya menyadari tatapan intens Hee-Ra, pria itu balas menatapnya sedingin mungkin. Membuat Hee-Ra bergidik ngeri, namun tetap tak mampu berpaling.

Sebenarnya jenis racun mematikan apa yang ada dalam tatapan pria itu?

Brukk

Tubuhnya oleng ketika seseorang dengan setumpuk buku menabrak. Hee-Ra yang lebih dulu bangkit segera membantu wanita yang menabraknya untuk mengumpulkan buku.

“Maafkan aku, aku tidak sengaja,” mohon wanita itu gemetar.

Hee-Ra menggeleng pelan, “Tidak masalah, kau butuh bantuan?” ia menaruh buku terakhir pada susunan paling atas. Pantas saja ia menabrak, buku dalam tangannya menggunung dan menutupi penglihatannya.

“Terima kasih atas tawaranmu, tapi aku bisa membawa semua buku ini sendiri. Sekali lagi maafkan aku…?”

“Shin Hee-Ra, kau bisa memanggilku Hee-Ra.”

“Baiklah,” ia mengangguk beberapa kali dan menunjukkan ekspresi amat menyesal, “Maafkan aku, Shin Hee-Ra,” lanjutnya lalu pergi.

Kejadian barusan membuat Hee-Ra lupa pada Kai. Saat ia kembali menatap di mana Kai berada, mereka sudah menghilang. Ah, kalau saja ia tidak tertabrak pasti Hee-Ra bisa memandangi ke-enam pria tampan tadi lebih lama.

Tentu saja Hee-Ra harus berusaha agar tidak ketahuan. Ia tidak ingin dicap sebagai penguntit atau apapun itu yang membuat imej-nya jelek.

 

 

Kai bersiap-siap, kedua matanya melirik Se-Hun dan Chan-Yeol yang berada pada mobil di samping kanan dan kirinya. Ia menurunkan kaca mobil, “Apa taruhan kita kali ini?”

Se-Hun berpikir sebentar, “Kau boleh memakai motorku seharian kalau aku kalah.”

“Setuju!” Keduanya menjawab bersamaan, membuat Se-Hun mendengus. Daridulu Kai dan Chan-Yeol memang ingin mencoba mengendarai motor Se-Hun, tapi ia selalu menolak.

“Aku akan membersihkan kamar kalian selama seminggu,” Kai mengangkat alisnya.

“Kau? Hahahaha!” Chan-Yeol menepuk-nepukkan kedua tangannya senang. “Boleh juga, sekalian kau juga harus merapikan baju kami, deal?”

“Sialan.”

Se-Hun menyibir, “Ayolah, cuma kamar kami berdua kok.”

Paham kalau ia tidak mungkin bisa mengelak dengan cara apapun, Kai akhirnya setuju, “Ok, tapi hanya tiga hari.”

Ah,” Chan-Yeol mengerucutkan bibirnya, “Yasudah, daripada tidak sama sekali.”

“Sekarang apa taruhanmu?” Kai gantian menyerang Chan-Yeol.

“Aku akan menraktir kalian makan siang selama seminggu, deal?”

“Apa-apaan? Aku merelakan kalian memakai motorku, sementara kalian hanya berani taruhan seperti itu?” protes Se-Hun. Merelakan motornya berada di tangan Kai dan Chan-Yeol sama saja membiarkan kedua pria itu menghancurkan hidupnya.

“Kau-kan cuma sehari,” Chan Yeol membenarkan kaca spionnya. “Ok, kita mulai pada hitungan ke-tiga, ready?”

Setelah mendapat persetujuan dari kedua temannya, Chan-Yeol segera menghitung mundur angka tiga sampai satu dan kemudian ketiga mobil itupun melaju kencang menyusuri jalanan.

Mereka balapan dikala hari sudah menjelang tengah malam, tentu saja mereka memilih tempat sepi dengan jalanan berkelok, kalau hanya jalan lurus, tidak akan ada sensasinya, bukan?

Ketiganya sama-sama ahli dalam mengendarai mobil berkecepatan tinggi. Sesekali mereka membuang pandangan dan semakin mempercepat laju mobilnya. Entah berapa kilometer yang sudah terlewati sampai akhirnya Kai-lah yang pertama berhenti di garis finish. Ia berteriak senang dan segera keluar dari mobil, menyandar pada pintu sambil menyilangkan kedua lengannya menunggu Se-Hun dan Chan-Yeol datang.

Well, karena Se-Hun yang datang paling akhir, ia harus merelakan motornya digunakan oleh Kai dan Chan-Yeol selama satu hari.

“Aku tidak percaya sudah mempertaruhkan motorku,” ia mengambil kunci motornya dari saku dan melemparkan pada Kai. “Satu hari, ingat itu.”

Dengan senang hati Kai menerima kunci motor Se-Hun dan mengantonginya, ia membentuk ibu jari dan telunjuknya menyerupai lingkaran, “Tenang saja, aku pasti akan menjaga motormu dengan baik.”

Sementara Chan-Yeol menunggu gilirannya. “Dan lusa adalah giliranku menggunakan motor itu.”

Ahh,” Se-Hun mengacak-acak rambutnya. Selalu saja seperti ini, menyesali apa yang telah diperbuatnya.

 

TO BE CONTINUED

 .

CHAPTER 2 

[Klik tulisan di atas]

Iklan

32 pemikiran pada “Two Moons [Chapter 1]

  1. Ping balik: Two Moons [Chapter 1] by Heena Park – EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: TWO MOONS [Prolog] by Heena Park – EXO FanFiction Indonesia

  3. Ahh kayaknya lebih bagus yang remake, oia aku ngerasa ganjil baca dialog pake papa dan mama, kayaknya lebih enak ayah dan ibu
    Dan pleaseee buat Sehun cintanya terbalaskan disini, di two moons nasib percintaannya udah cukup ngenes

  4. Yuhuu… New reader is here. Mrk (exo) dr luar bumi kah? Blom baca prolog soalnya. ff nya keren. Aku suka apalagi sama couple kai-heera. Really nice story. Next ff juseyo…? 😉

  5. Hmmm masih liat liatan nih ya, feelingku di pasanginnya sama sehun kali ini *apaansih sotau gue*
    Akupun sama sih jadi heera kalo ngeliat a bunch of handsome boys make a squad in campus. I definitely will turn to be a lil pervert… ㅋㅋㅋ

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s