Forbidden Love Part XX


forbidden love

“Apa yang akan terjadi jika seorang wanita yang sedang patah hati memutuskan untuk menikahi pria dengan kelainan homoseksual?”

.

FORBIDDEN LOVE

.

A FanFiction

by

Heena Park

.

Genre: Romance–Sad–Marriage Life//Ratting: PG-15//Lenght: Multichapter

.

Starring: Shin Hee Ra-Kim Jong In–Park Chan Yeol–Choi Ha Neul–Do Kyung Soo

.

♣Follow my WATTPAD

♣Find me on FACEBOOK

.

.

FORBIDDEN LOVE

Jong In mendengus kesal karena Hee Ra tidak membalas pesannya. Ia masuk ke kamar rawat sang nenek dengan uring-uringan, wajahnya kusut seperti pakaian yang tak disetrika.

Melihat kelakuan cucunya, Kim Eun Sang mengambil ponsel dan menunjukkan percakapannya dengan seseorang pada Jong In, “Hee Ra belum membalas pesan nenek dari tadi pagi. Kau bagaimana?”

Menggeleng selama beberapa saat, “Dia juga tidak membalas pesanku, apa mungkin Hee Ra marah?”

Kim Eun Sang mendecakkan lidah, “Kau pikir dia sama kekanakannya denganmu?”

Baiklah, Jong In sedang tidak dalam mood untuk bercanda sekarang, tapi perkataan Kim Eun Sang ada benarnya juga. Hee Ra tidak sekekanakan dirinya.

Ketika akhirnya ponselnya berbunyi, Jong In dengan antusias segera menekan tombol jawab begitu melihat nama Hee Ra tertera di sana.

“Shin Hee Ra? Kenapa menelepon? Bukankah biaya panggilan antar negara sangat mahal?” tanyanya tanpa basa-basi.

Namun beberapa detik berlalu, Hee Ra tak mengeluarkan sepatah kata apapun, membuat Jong In khawatir.

“Shin Hee Ra?” panggilnya sekali lagi.

Terdengar tarikan napas dari sebrang sana. Tunggu dulu, sejak kapan Hee Ra memiliki napas seberat itu?

“Aku…bukan Shin Hee Ra.”

Jong In mengerutkan keningnya, ia menatap neneknya sebentar, wanita itu kelihatan sangat penasaran pada apa yang didengar Jong In.

“Aku Chan Yeol.”

Seketika emosinya memuncak, Jong In hampir kehilangan kontrol dan berniat untuk mengatai Chan Yeol dengan puluhan umpatan khas lelaki, namun keinginannya terhalang ketika Chan Yeol kembali mengeluarkan suaranya.

“Hee Ra…dia kecelakaan..,” Chan Yeol sedikit terisak, ia tidak mungkin membiarkan Jong In tahu betapa sedihnya ia saat ini. “Maafkan aku…maafkan aku..”

Jantungnya seolah berhenti saat itu juga. Matanya membulat tak percaya pada apa yang baru saja keluar dari mulut Chan Yeol. Maksudku, bisa saja Hee Ra dan Chan Yeol hanya mengada-ngada tentang kecelakaan ini dan mereka berdua pergi ke luar negeri lalu menikah. Siapa yang tahu?

“Apa maksudmu? Apa yang terjadi dengan Hee Ra?” Jong In berusaha meyakinkan diri, ia tidak ingin percaya begitu saja, terlebih pada ucapan yang keluar dari mulut Chan Yeol.

“Sudah kubilang dia kecelakaan! Aku serius dan kau menjawab seolah aku adalah dalang di balik semua ini, seolah aku sedang mengada-ada!” Chan Yeol kehabisan suaranya, ia tak sanggup lagi menahan kesedihan dan pecahlah gelak tangisnya, “Dia sekarat…dan aku takut, aku sangat takut Hee Ra tidak bisa bertahan…aku tidak ingin kehilangan dia..”

Jadi, Chan Yeol serius?

Hidupnya seolah dipermainkan, Jong In lemas, otaknya tak mau mencerna apapun lagi, bahkan pertanyaan dari sang nenek.

Kalau memang sekarang Hee Ra sedang kritis, kalau memang Chan Yeol setakut itu untuk kehilangan Hee Ra, lalu bagaimana dengan Jong In? Ia berada jauh dari Hee Ra bahkan disaat paling sulit untuk gadis itu.

Jong In takut ia tidak memiliki waktu untuk mengungkapkan perasaannya selama ini. Jong In takut Hee Ra pergi tanpa tahu betapa besar rasa cinta yang dimiliki untuknya. Jong In takut, ia sangat takut tidak memiliki kesempatan kedua.

Kalau saja harapan masih berlaku untuknya, kalau saja Tuhan mendengar doanya, maka Jong In berharap masih diberi waktu untuk bisa mengungkapkan perasaannya pada Hee Ra dan membuat gadis itu bahagia walau hanya sebentar saja.

Setelah berhasil meyakinkan neneknya bahwa ia pasti akan membawa Hee Ra dalam keadaan sehat dan tanpa kekurangan apapun, Jong In segera kembali ke Seoul. Tadi, neneknya sempat memaksa untuk ikut pulang, namun Jong In menolak, bagaimanapun keadaan sang nenek belum stabil dan ia masih membutuhkan perawatan intensif.

Tubuhnya remuk, ia belum istirahat sama sekali dan langsung menuju ke Rumah Sakit yang dimaksud oleh Chan Yeol. Kedua matanya terpaku ketika melihat Chan Yeol sedang berbicara dengan dokter. Ia ingin langsung menerobos dan bertanya bagaimana keadaan Hee Ra pada dokter tersebut, tapi kelihatannya bertanya pada Chan Yeol akan lebih baik, dan lagi, pria itu juga akan menjadi seorang dokter.

Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan dokter Jang, Chan Yeol mendapati Jong In sudah berdiri tak jauh darinya. Ia tidak mengucapkan apapun dan langsung membuka pintu rawat Hee Ra, mempersilahkan Jong In masuk ke sana.

Pemandangan asing langsung menyergap begitu Jong In menyadari Nyonya Park—ibu Chan Yeol tengah duduk dan memegang erat tangan Hee Ra. Sementara itu, seorang gadis terbaring lemah di atas ranjang. Ia tidak bergerak sama sekali, bahkan untuk bernapas-pun perlu bantuan tabung oksigen.

Jong In berasa mati kutu. Ia berjalan pelan mendekati Hee Ra, tangan kanannya membelai lembut rambut gadis itu dan mengecup keningnya.

“Aku sudah di sini, aku akan menemanimu.” Jong In mengambil alih tangan Hee Ra yang tadi sempat digenggam oleh ibu Chan Yeol. Suaranya bergetar, “Maafkan aku karena terlalu lama meninggalkanmu, Shin Hee Ra.”

“Hee Ra…keadaannya sudah lebih stabil daripada kemarin,” Chan Yeol menjelaskan tanpa diminta. Kali ini gilirannya untuk mendekati ketiga orang tersebut. “Dokter Jang bilang…luka di kepalanya memungkinkan Hee Ra amnesia sementara.”

Amnesia?

“Apa maksudmu dia akan melupakanku?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Jong In.

Chan Yeol menggeleng, “Aku tidak tahu. Itu masih perkiraan dokter,” jawabnya lembut.

“Maaf Tuan Kim,” giliran ibu Chan Yeol membuka suaranya. Ia bangkit dan menatap Jong In lekat-lekat, “Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Menghela napas panjang, Jong In mengikuti Nyonya Park dari belakang. Mereka berhenti di depan kamar rawat Hee Ra, beberapa detik kemudian tangis Nyonya Park pecah. Wanita itu berlutut di hadapan Jong In dan menangis tersedu-sedu.

“Maafkan aku Tuan Kim, semua ini terjadi karena aku. Kalau saja aku tidak berhenti di tengah jalan pasti Hee Ra tidak perlu menyelamatkanku dan terluka parah seperti itu,” isaknya.

Otaknya membeku, dalam hati ia mengumpat. Hee Ra jadi seperti ini karena menyelamatkan wanita yang membencinya. Tapi Jong In tidak boleh bertindak gegabah, bagaimanapun mereka sama-sama manusia yang harus menolong satu sama lain meskipun dalam prakteknya mereka sama-sama egois.

Kalau saja saat itu Jong In yang berada di posisi Hee Ra, ia pasti lebih memilih untuk melihat kejadian menarik itu. Saat dimana musuhnya terluka, bukannya malah sok heroik menyelamatkannya.

Tubuhnya menegang, ia tidak menatap Nyonya Park sama sekali, “Aku tidak akan melakukan apapun sampai tahu perkembangan Hee Ra selanjutnya. Tapi ingatlah, kalau sampai terjadi sesuatu pada Hee Ra, anda bisa segera mengucapkan selamat tinggal pada SP Companies yang sempat berjaya itu.”

Nyonya Park mendongak tak percaya, bisa-bisanya Jong In berkata akan menghancurkan perusahaannya, “Tidak Tuan, kumohon jangan lakukan itu.”

Tidak bisa dipungkiri, Jong In memang memiliki saham di perusahaan keluarga Chan Yeol, di balik itu, kenyataan bahwa Jong In memiliki banyak jaringan dengan mafia se-antero Korea, bahkan luar negeri semakin membuat Nyonya Park bergidik ngeri.

“Sudah kubilang, semua tergantung pada perkembangan Hee Ra!” Jong In menjauhkan kakinya dari Nyonya Park. “Seharusnya anda berpikir ulang untuk membenci Hee Ra ketika mengetahui dia akan menjadi istriku, karena bagaimanapun, aku akan melindungi keluargaku bagaimanapun caranya.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Jong In berbalik dan berniat kembali ke kamar rawat Hee Ra. Matanya kembali dikejutkan dengan pemandangan sialan dimana Chan Yeol telah menempelkan bibirnya pada bibir pucat Hee Ra.

Sialan!

“Park Chan Yeol, jauhkan tubuhmu dari istriku!” Jong In berteriak tanpa memerdulikan keadaan sekitar. Ia berjalan penuh emosi dan menarik lengan Chan Yeol menjauh dari Hee Ra. “Walaupun kau sedang praktek di sini, itu bukan berarti kau boleh menyentuh pasienmu seenaknya. Bajingan.”

Chan Yeol tersenyum simpul, entah mendapat keberanian dari mana, tapi ia menentang Jong In, “Besar kemungkinan Hee Ra akan lupa ingatan, itu berarti bisa saja dia melupakanmu karena kau adalah memori baru di otaknya.”

“Bedebah kecil,” Jong In mendengus dan menatap Chan Yeol lekat-lekat, “Dengarkan aku baik-baik. Perusahaanmu menjadi taruhannya jika kau berani melangkah sejauh itu.”

Chan Yeol terkekeh, “Kau mungkin bisa menghancurkan perusahaanku, tapi tidak untuk hatiku.”

Sejujurnya Jong In tidak dalam mood untuk bersitegang, tapi Chan Yeol—sikeparat itu benar-benar membuatnya tak tahan. Jong In bisa saja memukuli Chan Yeol sampai kehilangan nyawa, tapi Hee Ra pasti tidak akan suka.

Chan Yeol mendekatkan bibirnya ke telinga Jong In, “Kuharap kau tidak akan menghalangi ketika Hee Ra lebih memilihku,” bisiknya kemudian pergi begitu saja.

Jong In tidak paham bagaimana bisa seorang Chan Yeol yang selalu tampak baik di depan Hee Ra kini berubah licik padanya. Ah, tentu saja, mereka sama-sama pria yang harus bertanding untuk mendapatkan Hee Ra. Tapi apakah Chan Yeol tidak punya malu? Dia sudah memiliki istri dan masih mengharapkan istri orang lain, benar-benar rendah.

“Jangan bermimpi Park Chan Yeol,” Jong In menantap Hee Ra sekilas dan kembali memandangi pintu yang kini telah tertutup, “Aku tidak akan pernah melepaskan istriku.”

Selama tiga hari berturut-turut Jong In memilih untuk tetap menemani Hee Ra. Selama itu pula perusahaannya diabaikan. Alasan utamanya melakukan ini agar ketika Hee Ra membuka mata, dirinyalah yang pertama kali dilihat oleh gadis itu, dan bukannya Chan Yeol.

Jong In menggenggam erat tangan kiri Hee Ra, memandang gadis yang sedang tertidur lelap di depannya tersebut.

“Lihatlah, karena kau sok pahlawan wajah cantikmu jadi terluka seperti ini,” Jong In mengambil lotion di meja dan mengusapkannya lembut di tangan Hee Ra, “kulitmu sampai kering begini, kau harus cepat bangun Shin Hee Ra, mengerti?”

Kedua orang tua Hee Ra sempat menjenguk sesaat setelah Jong In sampai di Korea, namun Jong In berkata bahwa lebih baik mereka istirahat dan membiarkan Jong In saja yang menunggu Hee Ra. Awalnya Shin Min Young menolak, ia bersikeras ingin selalu berada di samping anak semata wayangnya, tapi keadaan berubah ketika wanita setengah baya itu jatuh sakit. Akhirnya mereka menyerah dan membiarkan Jong In yang menunggu Hee Ra, walaupun terkadang mereka akan menjenguk.

“Bulan apa ini? Bukankah sekarang musim panas? Kenapa sangat dingin ya?” Jong In membuang napas sekeras mungkin, “Sepertinya aku harus memelukmu agar merasa hangat, jadi cepatlah bangun, Shin Hee Ra.”

Jong In meremas-remas tangan Hee Ra, “Rasanya aneh berbicara sendiri, biasanya kau akan menyahut se-enakmu sendiri. Oh iya, ngomong-ngomong aku sangat rindu saat kau cemberut.”

Tidak ada balasan dari Hee Ra.

“Sebenarnya aku tidak punya keberanian untuk mengatakan ini karena mungkin kau akan kesal padaku, tapi dengan keadaanmu yang seperti ini kau pasti tidak bisa memukulku, jadi aku memutuskan untuk mengatakannya,” Jong In berhenti sebentar dan mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan ini, “mungkin bagimu aku hanyalah seorang pria menjijikkan. Dalam kasusku karena aku adalah seorang gay,” ujarnya sambil tertawa renyah.

“Tapi…menurutmu bagaimana kalau aku sudah sembuh? Apa kau akan memberiku kesempatan untuk benar-benar menjadi suamimu?” Jong In tersenyum pahit. Ia merasa seperti pecundang karena mengakui perasaannya disaat seperti ini. Saat di mana Hee Ra kemungkinan besar tidak bisa mendengarnya, saat dimana kemungkinan Hee Ra akan segera pergi. Tapi toh lebih baik Jong In mengungkapkan perasaannya daripada tidak sama sekali.

“Maafkan aku Shin Hee Ra, maafkan aku tidak bisa melindungimu.” Air matanya jatuh begitu saja. Sungguh, Jong In tidak ingin kelihatan lemah di depan orang-orang, tapi di depan Hee Ra? Entahlah, perasaannya sudah tak bisa dibendung lagi. “Kumohon bangunlah, beri aku satu kesempatan lagi. Tidak apa-apa kalau nantinya kau melupakanku, tidak apa-apa kalau nantinya kau lebih memilih Chan Yeol. Aku berjanji tidak akan menghalangimu, asal kau sadar…buka matamu Shin Hee Ra…beri aku satu kesempatan untuk bisa memulai semuanya dari awal. Aku bahkan tidak masalah jika nantinya harus mengenalkan diri lagi padamu, aku benar-benar rela….tapi bangunlah…” Jong In semakin terisak, ia sedikit tegak dan mengusap kening Hee Ra, perlahan bibirnya mendekat dan terus mendekat pada bibir Hee Ra, berusaha selembut mungkin untuk mencium bibir dingin gadis yang berbaring di hadapannya.

Hanya beberapa detik sampai akhirnya Jong In kembali menjauhkan bibirnya. Air matanya jatuh di atas wajah Hee Ra dan turun sampai ke lehernya.

“Aku…aku mencintaimu Shin Hee Ra…sangat mencintaimu.”

So Ra mendapat kabar bahwa Hee Ra kecelakaan saat sedang berada di rumah neneknya. Pantas saja gadis itu tak menghubunginya beberapa hari belakangan ini, untung saja berita tentang kecelakaan Hee Ra menjadi perbincangan di televisi sehingga So Ra bisa mengetahuinya.

Setelah tahu akan hal itu ia segera terbang ke Seoul dan pergi ke Rumah Sakit tempat Hee Ra dirawat. Langkahnya terhenti ketika baru saja membuka sedikit pintu kamar rawat Hee Ra dan mendapati Jong In berada di sana.

Ia tidak bisa mendengar suara Jong In dengan baik karena pria itu agak berbisik dan posisinya membelakangi, ia tidak sadar akan kehadiran So Ra.

Hingga tiba-tiba Jong In bangkit dan mencium bibir Hee Ra, So Ra agak tersentak dan segera menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Beberapa saat kemudian pria itu terdengar berkata, “Aku…aku mencintaimu Shin Hee Ra…sangat mencintaimu.”

Pemandangan tersebut cukup membuat hati So Ra tersentuh, ia yang tidak begitu mengenal Jong In bahkan bisa merasakan betapa besarnya cinta pria itu untuk Hee Ra. Sekarang So Ra benar-benar yakin bahwa Jong In adalah pilihan yang tepat bagi Hee Ra.

Lagi, So Ra belum pernah melihat seseorang melakukan apa yang barusan dilihatnya kecuali dalam drama.

Tubuhnya oleng ketika seorang pria menabrak dan membuka pintu kamar rawat Hee Ra kasar, So Ra mengerutkan kening dan berusaha menahan diri. Siapa pria itu? Apa dia tidak punya mata? Kenapa tidak merasa bersalah sama sekali sih?

“Kau!” pria itu nampak marah dan langsung menarik lengan Jong In, kemudian membawanya keluar. Tunggu dulu, apa yang terjadi antara mereka?

Sebelumnya Jong In sempat menengok ke arah So Ra dan seolah memberi isyarat agar gadis itu tetap berada di kamar Hee Ra sampai mereka kembali, tapi tetap saja, keduanya kelihatan tidak wajar. Apakah tidak apa-apa kalau So Ra menguping?

Walaupun kedengaran tidak sopan tapi pergelakan dari hati So Ra terus menuntut agar ia bergerak dan mencari di mana Jong In dan pria tadi. Cukup lama, sampai akhirnya So Ra memutuskan untuk mencari keberadaan keduanya daripada penasaran setengah mati. Toh ia mungkin bisa menolong Jong In kalau ternyata pria yang menyeretnya tadi adalah orang jahat.

So Ra mengitari Rumah Sakit, kakinya terhenti di salah satu lorong buntu. Jong In dan pria aneh tadi berdiri tak jauh darinya, kelihatannya mereka sedang bersiteru.

“Sialan kau! Jadi kau lebih memilih gadis itu daripada aku?”

So Ra menyipitkan matanya, pria aneh itu sepertinya sangat marah pada Jong In.

“Hubungan kita tidak wajar, dari awal memang seharusnya kita tidak menjalin hubungan Do Kyung Soo. Kau pasti mengerti itu.”

“Oh, baiklah. Aku akan melepaskanmu untuk gadis itu, tapi jangan salahkan aku kalau sebentar lagi media akan tahu soal hubungan kita. Kim Jong In ternyata seorang gay.”

“Tutup mulutmu Kyung Soo!”

So Ra tersentak dan hampir saja jatuh. Telinganya tidak salah dengar-kan? Maksudku, Jong In gay? Lalu pernikahannya dengan Hee Ra itu apa? Apakah selama ini Jong In membohongi Hee Ra dan pergi dengan pria lain di belakangnya?

“Kwon So Ra?”

Jong In yang akhirnya menyadari kehadirannya-pun nampak terkejut, wajahnya berubah pucat pasi, takut kalau So Ra telah mendengar kebenarannya.

Jong In berusaha mendekat, “Kwon So Ra, aku bisa menjelaskan semuanya.”

“Tidak, jangan mendekat,” So Ra mengangkat tangannya di depan dada, “Aku benar-benar tidak menyangka kalau selama ini kau hanya mempermainkan Hee Ra,” ia kalut, emosinya memuncak, “kau benar-benar menjijikkan Kim Jong In.”

Segera setelah menyelesaikan ucapannya, So Ra berlari menuju kamar rawat Hee Ra, sementara Jong In berusaha mengejar. Ia tidak mau mendengar suara pria itu, ia tidak rela Hee Ra dipermainkan. So Ra sangat menyesal sempat berpikir kalau Jong In adalah pria yang tepat bagi Hee Ra.

Brukk

Tubuhnya tak sengaja menabrak seseorang, tanpa mengangkat wajah, So Ra segera meminta maaf. Namun bukannya memaafkan, orang itu malah memegang kedua pundak So Ra dan menahannya.

“Kwon So Ra?”

Akhirnya So Ra mendongak, Chan Yeol menatapnya bingung, “Ada apa denganmu? Kenapa berlarian?”

Seperti sebuah kebetulan, sepersekian detik kemudian Jong In dan pria yang dipanggil Kyung Soo datang dengan napas terengah-engah.

“Kwon So Ra,” Jong In berusaha mengatur napasnya. Ia menumpu lengannya di lutut, “Aku bisa menjelaskan semuanya,” lanjutnya terputus-putus.

Chan Yeol yang semakin bingung-pun tak bisa menahan lagi, “Apa yang terjadi? Kenapa kalian berlarian?”

So Ra bimbang. Apakah ia harus mengatakannya pada Chan Yeol? Ia menatap ke arah Jong In, pria itu menggeleng dan berharap So Ra tidak menyinggung soal gay.

Ia tidak mau menjadi pembohong, tapi mengatakan keadaan sebenarnya pada Chan Yeol sama saja dengan ia membunuh Jong In. Chan Yeol pasti akan sangat marah dan ia bisa saja menggila lalu memukul Jong In di tempat ini.

“Kami…” So Ra tersenyum tipis, “tidak apa-apa, kami hanya ingin cepat sampai di kamar Hee Ra…jadi kami berlari.”

Bodoh, alasan macam apa itu?

“Benarkah?” Chan Yeol mendecakkan lidah. “Jangan berlarian di Rumah Sakit, kalian bisa mengganggu,” lanjutnya.

So Ra mengangguk beberapa kali, “Maafkan kami.”

Sempat hening beberapa saat, mereka akhirnya kembali ke kamar Hee Ra. Begitu juga Chan Yeol dan Kyung Soo. Jong In sangat bersyukur So Ra tidak mengatakan apapun soal yang didengarnya tadi, dan Kyung Soo juga tidak berulah lagi.

“Apa sudah ada kemajuan?” Chan Yeol bertanya, matanya tak lepas dari Hee Ra.

Mendengar pertanyaan Chan Yeol, Jong In segera berdiri di samping pria itu, kedua tangannya di masukan ke saku dan menggeleng, “Belum. Tapi aku yakin dia akan segera bangun.”

Chan Yeol terkekeh, “Bagaimana, apa sudah kau pikirkan?”

Ah, Jong In paham yang dimaksud Chan Yeol adalah apabila Hee Ra ternyata melupakannya dan memorinya berkata bahwa ia masih menjadi kekasih Chan Yeol.

“Aku akan berusaha,” Jong In berhenti sebentar dan mengusap lembut punggung tangan Hee Ra, “aku akan menjaga apa yang menjadi milikku.”

Tiba-tiba Jong In merasa tangan Hee Ra bergerak, ia sangat yakin karena beberapa detik kemudian kelopak mata Hee Ra mulai terbuka secara perlahan. Jantungnya berdebar kencang, ketakutan akan dilupakan oleh Hee Ra menyerangnya begitu saja.

Ketika akhirnya Hee Ra benar-benar membuka mata dan menatap ke arahnya, gadis itu tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Matanya sayu dan lelah. Namun keadaan berbeda ketika Hee Ra menggerakkan matanya untuk melihat Chan Yeol, bibirnya berusaha untuk terbuka dan akhirnya mereka mendengar bisikkan dari mulut Hee Ra.

“Chan…Yeol”

 

TO BE CONTINUED

.

 

Note : Bagi yang ingin membaca FF ini tanpa ribet minta password, bisa langsung ke wattpad aku ya, Heena Park.

.

 

Iklan

123 pemikiran pada “Forbidden Love Part XX

  1. aishhh,,,, selalu begini udah aku tebak kalo hee ra bakal nginget chanyeol dari awal chanyeol udh bilang hee ra bakal amnesia dan yg melukai hati hee ra akhir akhir ini kan jongin, seperti jongin di beri pelajaran dengan ketidak pekaannya terharap hee ra

  2. Dag dig dug serr~ degdegan aku bacanya-..- gilaya secara bersamaan aku langsung ngga suka sama chanyeol and kyungsoo-_- aku kelewat baper baca ffnya kak heena. Tapi ini tetep kece, kai-nya sangat mempesona, semoga dia diberikan ketabahan hati dan kekuatan jiwa untuk menghadapi semuanya, wkwkwkwk. Semangat Jongin, semangat kak heenaaa

  3. Cess.. Pastinya sakit mendengar wanita yang kau cintai memanggil nama lelaki lain daripada kamu istrinya. Ya ampun akibat kecelakaan menolong Nyonya Park malah ia hilang ingatan. Bagaimana ini??
    Apa yang akan terjadi selanjutnya.
    Kumohon cepat kembalikan ingatannya Hyera.
    Next chapternya ya

  4. Hhuuaaa miris bgt ngebayangin jdi Jongin, sakit banget psti lebih sakit drpd sekedar diputusin gegara org ketiga
    Yang sabar yah Jong, aku slalu ada buatmu kok #LoL
    Next yaaa

  5. KENAPAAA CHANYEOL HAH KENAPA. MAAAF HUHUHUHUHU GAKUATTT AKUTUH. KENAPA MUSTI AMNESIA SIHHHHH, mgkn kalau posisinya chanyeol masih lanjang mungkin aku bakalan fine aja gitu tapi disini chanyeol udah punya istri……… Semoga aja hubungan mereka semuanya kedepan bakalan baikbaik aja. Sora jangan sampe nyebarin ke siapapun tapi pasti kyungsoo ga bakalan tinggal diam huhu gimanaaaa donggggggg aku bimbang. Semangat terus yaaa

  6. Actually aku speechless baca chap yg ini.. ngebayangin scene KaiHee di ruang rawatnye pasti sweet bgt dah u.u jadi envy paraah.. ahh parah Kyungsoo merusak momen nih, make ketauan Sora lagi zzz untung Sora gabilang dulu yg sbenernya.n fix sedih pas tau Heera jadi amnesia beneran, eotteohke dengan Kai?? Jadi sedih kk.. makin daebaak chinguu..👍👍👍😁 #lanjut next chap

  7. Ajdjcncmcmskakxj gilaa ngeselin banget >< kenapa juga heera harus amnesia sementara 😢😢 gimana kalo dia bener" ngelupain jongin 😭 haduh jadi ikutan baper nih …

  8. Kenapa harus Amnesia di saat Jong In sama Hee Ra saling jatuh cinta bener bener yah bikin esmosi aja hhuhuhu
    Cusss ah ke part selanjutnya ^^

  9. sudahla kyungsoo iklaskan saja jongin bersama hee ra, toh hubungan kalian memang dari awal sudah salah.
    hee ra sudah sadar loh, malah kalimat yang pertama kali diucapkan nama chanyeol sih, kasihan jongin.

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s