Forbidden Love Part XIX


forbidden love

“Apa yang akan terjadi jika seorang wanita yang sedang patah hati memutuskan untuk menikahi pria dengan kelainan homoseksual?”

.

FORBIDDEN LOVE

.

A FanFiction

by

Heena Park

.

Genre: Romance–Sad–Marriage Life//Ratting: PG-15//Lenght: Multichapter

.

Starring: Shin Hee Ra-Kim Jong In–Park Chan Yeol–Choi Ha Neul–Do Kyung Soo

.

♣Follow my WATTPAD

♣Find me on FACEBOOK

.

.

FORBIDDEN LOVE

Hari-harinya di Amerika penuh dengan pertemuan bisnis dan menjaga sang nenek. Jong In sangat bersyukur setelah dokter mengatakan bahwa operasi yang dijalankan neneknya berhasil, keadaannya-pun berangsur membaik.

Selesai rapat, biasanya Jong In langsung pergi menjenguk neneknya dan tidur di sana. Ia tidak pernah menghubungi Hee Ra semenjak saat itu, untungnya, Hee Ra sering menghubungi neneknya. Pernah beberapa kali saat Jong In tiba di kamar rawat sang nenek, wanita paruh baya itu tengah asik berbincang dengan Hee Ra melalui telepon. Melihat cara neneknya mengobrol, Jong In yakin bahwa Hee Ra pasti baik-baik saja di sana.

Kalau boleh jujur, sebenarnya akhir-akhir ini Jong In tak bisa berhenti memikirkan Hee Ra, entah kenapa ia bimbang pada pilihannya sendiri. Mungkin akibat ucapan neneknya beberapa waktu lalu, tapi sungguh, Jong In mulai berpikir sebaiknya ia tidak menceraikan Hee Ra.

Hanya saja yang jadi masalah…

Apakah Hee Ra mau menerimanya?

Apakah Hee Ra bersedia benar-benar menjadi istrinya?

Karena sesungguhnya Jong In baru menyadari jika kebersamaannya dengan Hee Ra selama ini secara perlahan membuatnya terbiasa dan nyaman. Ia ingin sekali berbagi dan menceritakan soal keluh kesahnya pada seseorang, tapi Jong In tidak bisa, ia tidak boleh mengatakan kalau hubungan mereka hanya sebatas kontrak.

Ia mendengus kesal pada diri sendiri, kemudian menyandar pada jok mobil. Mr. Lee selaku sekretaris duduk di sampingnya. Pria berusia awal empat puluhan itu telah berkeluarga dan memiliki dua anak. Terkadang Jong In iri padanya, betapa beruntungnya Mr. Lee bisa memiliki keluarga kecil yang bahagia.

Memejamkan mata, Jong In mulai bergumam, “Menurutmu, memikirkan seseorang terus-menerus, mengkhawatirkan keadaannya, dan berharap bisa bertemu dengannya, itu kenapa?”

Mr. Lee mengerutkan kening, ia menengok ke Jong In dan mendapati atasannya terlihat lelah, “Apa Tuan berbicara dengan saya?” tanyanya.

Tidak ada gerakan dari Jong In, ia hanya membuka mulut dan mulai menjawab, “Mungkin.”

Mungkin? Jawaban macam apa itu?

Tidak memusingkan jawaban Jong In, Mr. Lee tersenyum, “Jatuh cinta, ia pasti sedang jatuh cinta.”

Jatuh cinta?

Jong In pernah merasakannya dulu. Memang terkesan seperti itu, tapi kali ini ia tidak memiliki keberanian untuk mengakui kalau sedang jatuh cinta.

“Tapi ia tidak mengakui perasaan itu. Maksudku, dia terlalu takut pada diri sendiri untuk mengakuinya.” Oh ya ampun, apa Jong In mulai menceritakan dirinya sendiri?

Sekali lagi Mr. Lee tersenyum, namun kali ini berbeda, ia sedikit terkikik, “Mudah saja, dia sangat mencintai orang itu sehingga tidak sanggup jika harus menghadapi kenyataan buruk. Tidak diterima contohnya, sehingga sekeras mungkin berusaha untuk tidak mengakui perasaannya pada diri sendiri.”

Ini…

Benarkah Jong In seperti itu?

Kenyataannya ia memang takut jika Hee Ra tidak menganggapnya. Ia takut Hee Ra masih memiliki perasaan pada Chan Yeol, dan ia takut Hee Ra jijik karena dicintai oleh pria homoseksual seperti Jong In.

Ketakutan itulah yang selama ini menggerogoti hati Jong In. Hanya saja, Jong In masih terus berharap dan berharap, apalagi saat Hee Ra pertama kali menciumnya, tidak apa-apa walaupun kala itu Hee Ra dalam keadaan mabuk berat, tapi percayalah, Jong In sangat senang sampai ia merasa ingin terbang tiap kali membayangkannya.

Kalau begitu, untuk pertama kalinya Jong In akan mengaku, walau kemungkinan Mr. Lee tidak paham akan apa yang sedang dibicarakan. “Ya, orang itu sangat mencintai gadisnya. Sangat-sangat cinta.”

Semenjak pertengkaran mereka beberapa hari lalu, Chan Yeol dan Ha Neul seperti hidup dalam garis keterpisahan yang begitu besar. Tidak ada interaksi antara keduanya. Aneh memang, biasanya Ha Neul akan menempel entah itu pagi, siang, sore atau malam.

Chan Yeol mulai berpikir bahwa ia tak seharusnya bersikap seperti itu pada Ha Neul. Mau bagaimana lagi? Mereka sudah sah menjadi suami-istri kan? Berarti Chan Yeol harus menjaga perasaan Ha Neul dan bukannya mencemaskan keadaan Hee Ra.

Tapi itu sulit, jujur saja Chan Yeol masih sangat-sangat mencintai Hee Ra.

“Mom mengajak kita makan malam bersama,” ujar Chan Yeol sembari terus menali sepatunya.

Sementara Ha Neul nampak sibuk dengan roti di mulutnya. Ia tidak langsung membalas perkataan Chan Yeol, membut pria itu menunggu. Sampai akhirnya Chan Yeol kembali berucap, “Aku akan menjemputmu di kantor.”

Ha Neul tertawa pahit selama beberapa saat, “Kenapa kau tidak mengajak Hee Ra saja? Bukankah dia yang kau anggap sebagai istrimu?”

Mulai lagi. Kenapa Ha Neul tidak bisa bersikap tenang? Ia selalu membahas Hee Ra dan membuat Chan Yeol tak bisa menahan amarahnya.

“Cukup!” Chan Yeol bangkit dan mendengus, “Hentikan semuanya. Aku tidak suka kau berkata seperti itu.”

“Kenapa?” Ha Neul mendecak, ia menyilangkan kedua lengannya dan menatap Chan Yeol tajam, “Aku sudah muak dengan semua ini. Kupikir kau bisa berubah mencintaiku dan melupakan gadis murahan itu, tapi ternyata aku salah. Katakan padaku Park Chan Yeol, apa hebatnya dia? Aku bahkan lebih hebat darinya dalam bidang apapun! Kau seharusnya bersyukur bisa memperistriku. Aku kaya, pintar, banyak pria menginginkanku. Apa yang kurang dariku?!”

Sesungguhnya Chan Yeol tidak dalam mood untuk bertengkar dengan Ha Neul, tapi mau diapakan lagi? Wanita itu terlanjur memancing amarahnya.

Chan Yeol mengatur napasnya yang mulai tak karuan, ia harus sekuat mungkin menahan agar tidak meledak-ledak di depan Ha Neul. Suaranya sedikit lirih namun begitu tegas, “Dia tidak pernah menyombong sepertimu dan kau tidak akan pernah bisa menandingi Hee Ra. Ingat itu.”

Ha Neul tak menyangka akan mendapat jawaban semenyakitkan itu dari Chan Yeol. Apakah suaminya benar-benar manusia? Chan Yeol bahkan tidak memiliki sedikitpun rasa kasihan pada Ha Neul yang jelas-jelas telah berjuang demi dirinya.

“Baiklah, jadi itu yang ada dalam pikiranmu?” Ha Neul berusaha menahan air mata yang sudah mendesak untuk keluar, “lebih baik kita bercerai. Aku sangat membencimu, Park Chan Yeol!”

Chan Yeol tersentak mendengar ucapan Ha Neul, baru saja ia berniat untuk membantah, Ha Neul tanpa permisi pergi begitu saja, berlari dan tak mau menengok ke belakang sedikitpun.

Dan Chan Yeol tahu satu hal.

Gadis itu menangis.

Karena Chan Yeol.

Hee Ra terbangun dari mimpi indahnya. Ia melihat jam dinding dan menggigiti bibir bawahnya, kecewa. Kenapa ia harus terbangun? Padahal mimpinya sangat indah.

Teringat akan sesuatu, Hee Ra segera membuka laci dan mengambil buku diary yang tak pernah digunakan sekalipun. Ini aneh, tapi Hee Ra mengingat dengan jelas bahwa dalam mimpi, ia menulis puisi untuk Jong In dan pria itu membacanya.

Bukan hanya itu, dalam mimpi keduanya adalah sepasang suami-istri dalam arti sebenarnya. Saling mencintai dan menjaga, Jong In bahkan sempat mengatakan betapa cintanya ia pada Hee Ra.

Sayangnya itu semua hanya dalam mimpi.

Hee Ra menorehkan pena di atas buku diary-nya, entah ada angin apa, tapi ia ingin sekali menulis puisi yang didapatkan dari mimpi tersebut*. Alasannya mendapat mimpi seperti itu, kemungkinan besar karena ia rindu pada Jong In, hanya saja Hee Ra tidak mau mengaku, dan ia tidak akan mengakuinya.

Selesai menulis tak lupa Hee Ra memberikan kode nama Jong In di bawah sana. Walau hanya sebatas ‘KJI’ tapi Hee Ra yakin orang-orang terdekatnya akan mengetahui jika puisi ini dikhususkan untuk Jong In.

Tringg..

Ponselnya berbunyi, Hee Ra segera menutup diary-nya dan mengembalikan benda itu ke laci kemudian meraih ponselnya. Oh, pesan dari Min Hyuk?

Hee Ra menyipitkan matanya, disitu tertulis bahwa Min Hyuk ingin Hee Ra kembali bekerja di cafe-nya, dan dia memaksa. Tunggu dulu, apa So Ra yang memberitahu Min Hyuk soal ini? Gadis itu benar-benar tidak bisa menjaga rahasia.

Sepertinya menerima tawaran bekerja di cafe Min Hyuk bukanlah sesuatu yang buruk, dengan catatan ia tidak bertemu Chan Yeol lagi. Hee Ra buru-buru bangkit dan membersihkan diri kemudian bersiap untuk pergi ke cafe Min Hyuk.

Kemeja kotak-kotak, celana jeans biru tua dan sneakers sudah cukup membuatnya kelihatan cantik. Tak lupa Hee Ra mengikat rambut dan memilih tas lengan kecil bewarna coklat untuk dibawa.

Butuh waktu setengah jam untuk sampai di cafe Min Hyuk dari apartemen barunya. Setelah turun di halte yang terletak beberapa meter dari cafe, Hee Ra segera mempercepat langkah kakinya.

Namun baru beberapa kali melangkah, ponselnya bergetar, kali ini sebuah pesan. Hee Ra merogoh sakunya, ah, nomor dari negara lain?

Otaknya berputar sedikit lambat sampai ia mengingat bahwa itu adalah nomor yang digunakan Jong In selama di Amerika.

Tunggu dulu.

Jong In mengiriminya pesan?

Hee Ra langsung menekan tombol baca dan melihat apa yang dikirimkan oleh Jong In.

From : +171xx-xxx-xxx

“Hai.”

Hee Ra mengerutkan kening dan mempertajam penglihatannya. Apa dia salah baca? Maksudku, kenapa Jong In tiba-tiba mengirim pesan seperti itu? Tidak biasanya.

Atau jangan-jangan Jong In sedang mabuk dan dengan gilanya mengirimi semua kontak gadis di ponselnya dengan kata seperti itu.

Hee Ra hendak menulis, ‘Kau salah minum?’ atau ‘Kau kerasukan apa?‘ pada Jong In, namun niatnya diurungkan ketika kedua matanya tak sengaja melihat wanita setengah baya sedang menyeberang sementara sebuah mobil melaju kencang dari kanan.

Hee Ra sempat bimbang, tapi ia menangkap dan menyadari bahwa wanita itu adalah ibu Chan Yeol. Ia tahu ibu Chan Yeol tidak pernah ramah padanya, tapi akan sangat jahat apabila Hee Ra membiarkan ibu mantan kekasihnya tertabrak mobil, ia tidak ingin hal itu terjadi.

Tanpa pikir panjang, Hee Ra segera berlari ke arah ibu Chan Yeol yang saat ini sedang sibuk merogoh tas lengannya, dan ayolah, kenapa dia melakukan itu di tengah jalan?

Hingga dalam satu hentakan kuat, Hee Ra mendorong tubuh ibu Chan Yeol sambil berteriak, “Nyonya Park, minggirlah!”

Seperti biasanya, kegiatan rutin ibu Chan Yeol setiap Seminggu sekali, pergi ke salon dan memanjakan diri, membebaskan diri sejenak dari seluruh kepenatan dan rumitnya hidup.

Ia bersyukur salon kepercayaannya berlokasi tidak terlalu jauh, dan lagi, salon tersebut berada di tempat ramai yang dipenuhi cafe juga tempat perbelanjaan, jadi tak aneh kalau ibu Chan Yeol biasanya mampir dulu untuk berbelanja atau sekedar menikmati secangkir teh hangat.

Ia baru saja menyelesaikan kegiatan rutinnya, wajahnya terlihat lebih segar sekarang, dan ia sudah siap untuk kembali menjalani hidup. Ia berniat untuk menelepon Ha Neul—menantunya—dan meminta agar datang ke cafe yang akan disinggahinya untuk sekedar mengobrol.

Sayangnya wanita itu entah dalam keadaan sadar atau tidak, dia berhenti agak jauh dari trotoar, malah terkesan di tengah jalan tanpa memperdulikan sekitarnya, sampai tiba-tiba seseorang berteriak dan mendorong tubuhnya, lalu terdengar bunyi hantaman cukup keras dari belakang.

Nyonya Park berbalik, kedua matanya melotot akibat terkejut setengah mati begitu melihat Hee Ra terbujur di jalan dengan tubuh bersimbah darah, sementara sebuah mobil penyok berhenti tak jauh darinya.

Apakah mungkin..

Hee Ra menyelamatkannya?

Nyonya Park sempat mengalami pusing akibat darah berceceran dimana-mana, tapi ia berusaha mengendalikan diri dan berjalan mendekati Hee Ra. Ia duduk di samping Hee Ra dan berusaha mengangkat kepala gadis itu di pahanya.

Hatinya bergetar, ia tak bisa menahan tangisnya ketika mendapati Hee Ra masih tersenyum dan berusaha mengatakan sesuatu.

“Untunglah….anda..baik…baik saja,” Hee Ra mengakhiri kalimatnya dengan helaan napas panjang dan sedetik kemudian kedua matanya tertutup.

Kerumunan orang-orang mulai melingkari mereka, Nyonya Park tak bisa menahan kesedihannya lagi, ia berteriak menyuruh seseorang segera menelepon ambulans.

Untuk pertama kalinya ia berharap Hee Ra selamat. Gadis yang selama ini sangat dibencinya ternyata masih memiliki hati untuk menyelamatkan orang yang selalu jahat padanya. Betapa malunya Nyonya Park, kenapa ia bisa sejahat itu?

Untungnya ambulans datang beberapa saat kemudian. Hee Ra masih bernapas, jantungnya masih berdebar, namun Nyonya Park tetap takut. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Hee Ra.

Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit tak henti-hentinya Nyonya Park berdoa dalam tangis dan berharap Tuhan masih memberikan kesempatan bagi Hee Ra untuk kembali melihat dunia, setidaknya sampai Nyonya Park bisa mengucapkan permintaan maafnya.

Nyonya Park terus menggenggam tangan Hee Ra, bahkan ketika mereka sampai di Rumah Sakit Nyonya Park ikut berlari bersama suster dan dokter ke Ruang Gawat Darurat, sampai akhirnya ia berhenti karena dokter harus melakukan tindakan untuk menyelamatkan nyawa gadis itu.

Ia tersungkur di lantai, menangisi kebodohannya selama ini. Nyonya Park merasa sangat berdosa pada Hee Ra, ia berkali-kali mengutuk dirinya sendiri karena kejadian ini, hingga seseorang menghampirinya.

Mom, apa yang terjadi?”

Otaknya harus berputar sedikit lebih lama sampai bisa mengingat kalau Chan Yeol sedang praktek di Rumah Sakit yang sama. Pria itu kelihatan khawatir.

Nyonya Park terus menangis, ia menenggelamkan diri dalam pelukkan Chan Yeol, “Aku berdosa pada gadis itu, dia terlalu baik untuk semua ini,” Nyonya Park memukul pelan dada Chan Yeol, membuat anaknya semakin bingung.

“Dia siapa mom? Ada apa sebenarnya?”

Nyonya Park mendongak menatap kedua manik mata putranya, isakannya tak pernah berhenti, “Maafkan aku Chan Yeol, tapi Hee Ra…dia sekarat karena menolongku.”

Seketika hatinya terasa dihujani ratusan pisau, Chan Yeol hanya terdiam dan menahan sesak di dadanya. Kalau ibunya sampai menangis seperti itu, bisa disimpulkan bahwa keadaan Hee Ra benar-benar kritis dan Chan Yeol tak bisa membayangkannya.

Tubuhnya lemas, ia hampir terhuyung dan jatuh ke lantai karena bergetar. Air matanya tak bisa dibendung lagi. Chan Yeol menangis dalam diam, ia takut kehilangan Hee Ra. Otaknya tak bisa berpikir jernih, tapi kalau boleh memilih, Chan Yeol akan merelakan Hee Ra untuk Jong In dan membiarkan gadis itu hidup bahagia, sementara ia akan berusaha menerima Ha Neul, asalkan Hee Ra selamat, ia tidak apa-apa harus berkorban. Ia rela.

Tring…

Kesadaran Chan Yeol kembali begitu mendengar suara ponsel seseorang, ia menatap tas lengan yang berada dalam genggaman ibunya.

“Ini milik Hee Ra,” ujar ibunya. Tangannya masih bergetar, ia berusaha menyodorkan tas lengan tersebut pada Chan Yeol.

Tanpa basa-basi, karena memang otaknya sedang menolak untuk melakukan itu, Chan Yeol segera mengambil ponsel Hee Ra dan melihat siapa yang mengirim pesan.

From : +171xx-xxx-xxx

“Ya! Kenapa kau tak membalas pesanku? Ini aku, Jong In. Apa kau tak menyimpan nomor baruku? Bukankah beberapa hari yang lalu sudah kuberitahu?”

Jong In..

Suami Hee Ra..

Chan Yeol menelan ludahnya kaku, ia menarik napas sedalam mungkin dan menekan tombol bewarna hijau di ponsel. Ia harus memberitahu Jong In akan apa yang terjadi pada Hee Ra. Walaupun besar kemungkinan kalau Jong In akan mengutuk keluarganya, karena tidak bisa dipungkiri bahwa penyebab Hee Ra terbaring di Rumah Sakit saat ini adalah ibunya.

Selang beberapa detik setelah ia menekan tombol panggil, suara antusias seorang pria langsung menyambutnya.

“Shin Hee Ra? Kenapa menelepon? Bukankah biaya panggilan antar negara sangat mahal?”

 

TO BE CONTINUED

.

Note :

*Puisi dan mimpi yang dimaksud adalah yang ada dalam FF [Forbiden Love-Scene] A Poem For You

Bagi yang ingin membaca FF ini tanpa ribet minta password, bisa langsung ke wattpad aku ya, Heena Park. Tapi belom aku share sampe part ini, pelan-pelan ya 🙂

.

RECOMMENDATION FANFICTION

UNFORGIVEN AUTUMN

[Klik gambar untuk membaca]

Iklan

137 pemikiran pada “Forbidden Love Part XIX

  1. Kyayayaa…..
    Kenapa harus disaat Chanyeol ingin memberi tahu kan pada Jongin kalau Hyera masuk rumah sakit akibat kecelakaaan menolong Nyonya Park.. Oh Tidak baru saja diatas angan-angan hufft.. Semoga saja dia selamat. Pasti kalau Jongin tau pasti ia akan langsung terbang kekorea..
    Huffftt….
    Selamatkan Hyera..
    Kakak tau aja deh buat orang penasaran 😄😄😄
    Next chapternya ya

  2. huaaa gua sedih banget qaqa huhuhuhu 😥
    haduh gua beneran berharap JongIn segera mengakui perasaannya. JongIn pokoknya lu harus bilang cinta ama hee ra. TITIK. duh dasar tuh kan emak emak gak tau diri untung aja lu udh tau diri habis ditoongin hee ra. heh, Ceye kasian banget sih ha neul lu gituin. Gua jd merasa sedih jugaan.. 😦
    FIGHTING EONNI CEPET UPDATE YA MWEHEHEHEHE 😀

  3. Sedih deh pas Haneul minta cerai sama Chanyeol. Heera kok bisa sih kecelakaan, kasian bgt. Plis Jongin balik ke Korea. Kak mau di password ya? Kasih tau dong gimana caranya, gak punya wattpad nih. Seru bgt kak makin lama. Keep writing. ^_^

  4. Cepat sadar heera… jongin pasti terbang ke korea….apa heera akan amnesia??????? Apa akan ada konflik lagi…….kasian jongin heera…….kapan ya mereka bersatu…….hwaiting writing

  5. eonni kembaliii yeyeyey .mohon maaf lahir batin yaa eonn .heera baik bangett nolongin ibunya chanyeol lu haruss hidup heera biar ibunya chan bisa saar kalo lu tuh orang baikk.penasaran apa reaksi si jongin tau heera kecelakaan abis itu penyebabnya juga karena nolongin ibunya chanyeol wahh makkn penasarann hwaiting eonni !!!!

  6. Jongin akhirnya lu sdr juga klo lu jatih cinta sama heera. Yaampun heera baik bgt dia bhkan nolongin ibunya chanyeol dan skrng msuk rmh skit, duh kok jdi sedih ya

  7. gara2 nolongin ny.park heera skrng sekarat
    moga aja heera cepat sadar dan moga aja g ilang ingatan
    aduh jong in cepat balik ke seoul kasian heera lg sekarat
    critanya makin seruuuu

  8. gak bisa bayangin jongin lagi excited nya dapet telpon dari hee ra tapi ternyata yang di denger malah berita hee ra kecelakaan 😦

  9. SUMPAH AKU BARU NGIKUTIN INI LAGI YAAMPUN KEMANA AJA AKU TUH. Tuhkan jongin……. Ih sebenernya aku sedih juga liat chanyeol yg gabisa nerima haneul ya meskipun haneul sombong gitu sih cuma kasian juga sama haneul huhuhu semoga aja kedepannya chanyeol bisa nerima haneul. BTW JONGINNNN KANN CINTA SAMA HEERA. TAPI KYUNGSOO BAKALAN KAYA GIMANAAAA YAAMPUN AKU PUSINGGGGG. Semangat terus yaaa

  10. Bahh fix Kai fall in love ama istrinye sendiri haha agak lucu sii, tapi maklum krn di story ini Kai seorang gay kk finally, back to your sense like I wish hehe tapi nyesek bgt pas tau Heera kecelakaan hikzz😣 Kai pasti lgsg shock.. daebaak chingu👍👍like always, makin seruu #lanjut next chap😁

  11. Kok sedih gini sih .. 😢 haduh gimana tuh keadaan heera .. dia terlalu baik … smoga aja dia baik” aja ya 😢 jongin harus tau secepetnya deh !

  12. Aku mau minta pw part 18 tapi keburu penasaran jadi aku langsung loncat ke part ini hhehehehe
    Duh kenapa harus nolong orang yang udah jahat sama dia? Cem hati Hee Ra bener bener baek dan semoga Hee Ra jangan mati kalau mati ending dong nih ff huhuhuhu
    Cuss ah ke part selanjutnya ^^

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s