Unforgiven Autumn Chapter 2


UNFORGIVEN AUTUMN

Apakah aku tetap menjadi Autumn-mu, Spring?

.

A FanFiction

By

Heena Park

.

Poster

by 

leensArt

.

Samantha Shin [Shin Hee Ra]Kim Jong In [Kai]Justin Bieber

.

Romance-Drama-Idol Life-A Little Bit Comedy-PG15-Multichapter

.

♣Follow my WATTPAD

♣Find me on FACEBOOK

.

.

UNFORGIVEN AUTUMN

Korea ternyata tidak banyak berubah sejak lima tahun lalu. Hee Ra melangkah sambil menarik koper di sebelah kirinya, tangan kanan gadis itu sibuk memencet angka lima pada layar ponselnya untuk menghubungi Justin.

Tanpa permisi, Justin langsung bertanya ke inti, “Kau sudah sampai?”

Hee Ra mengangguk beberapa kali walaupun ia yakin Justin tidak bisa melihatnya, “Hm. Kau dimana?”

“Aku di SM, aku akan menjemputmu, tunggulah di sana.”

“No,” Kali ini Hee Ra menggeleng. “Aku yang akan ke sana untuk menemuimu,” dan menemui mantan kekasihku hahahaha, “apa ada peraturan kalau orang luar tidak boleh kesana? Maksudku, aku bisa masuk ke sana kan?”

Justin menghela napas panjang, “Kau yakin akan kesini? Apakah tidak sebaiknya aku yang menjemputmu saja?”

“Tidak, Bieber.” Hee Ra berusaha meyakinkan kekasihnya yang sebenarnya tidak jauh lebih keras kepala dari dirinya. “Aku tidak ingin menggangu waktu kerjamu, percayalah padaku. Lagipula aku orang Korea, pokoknya kau hanya perlu duduk sambil bekerja lalu aku akan sampai di sana dalam satu setengah jam.”

“Langsung ke sini? Kau tidak istirahat dulu?”

Hee Ra menarik kedua ujung bibirnya, “Tidak, aku sudah sangat merindukanmu,” dan mantan kekasihku.

Tanpa pikir panjang Hee Ra segera mencari taksi dan meminta agar diantarkan ke gedung SM Entertainment. Dalam otaknya berputar tentang apa yang harus dilakukan kalau ia bertemu Jong In. Mungkinkah menyapa? Diam saja? Atau menangis? Hahaha, tidak. Ku pikir menangis bukan pilihan tepat.

Karena perjalanan masih cukup jauh, Hee Ra memutuskan untuk mengambil ipod, memasang earphone dan memutar lagu kesukaannya. Selama dua malam ia akan menginap di hotel yang sama dengan Justin, selanjutnya ia akan tinggal di Apartemen yang telah disewanya beberapa hari lalu, tapi saat ini Apartemen tersebut belum bisa digunakan dan ia harus menunggu sampai dua hari ke depan.

Semoga saja satu hotel dengan Justin bukan pilihan yang salah, awas saja kalau dia berani melakukan hal yang tidak-tidak pada Hee Ra.

Satu setengah jam kemudian Hee Ra sudah berdiri di depan gedung SM Entertainment dengan koper di sampingnya. Sungguh, kalau tahu akan kelihatan seperti sasaengfans begini lebih baik Hee Ra pergi ke hotel dulu.

Jujur saja daritadi ia menjadi sorotan para karyawan dan orang yang lewat di depan gedung. Kalau sudah seperti ini, apa Hee Ra masih yakin untuk masuk? Ia bisa langsung diusir satpam nanti.

Tidak kehilangan akal, Hee Ra segera merogoh saku dan mengambil ponselnya, meminta Justin untuk keluar gedung sepertinya pilihan yang benar.

“Halo,” Ujar Hee Ra memulai pembicaraan. Ia tidak membiarkan Justin bicara dan langsung melanjutkan ucapannya, “Aku sudah sampai di depan gedung. Aku tidak bisa masuk dengan keadaan seperti ini, kau tidak keberatan untuk keluar-kan?”

Terdengar gelak tawa Justin selama beberapa saat. “Biar ku tebak, kau pasti masih membawa koper-kan?” Oh ya ampun, kenapa dia bisa tahu? “Tunggulah, aku akan segera keluar, shawty.” Lanjutnnya lalu memutus panggilan.

Baiklah, sekarang Hee Ra sudah boleh tenang. Ia tinggal menunggu Justin keluar, beberapa menit, ingat, cuma beberapa menit. Biarkan saja orang-orang itu berbisik dan mengira ia sasaengfans.

Hee Ra menidurkan kopernya dan duduk di atasnya, seperti orang hilang. Ia menumpu dagu pada telapak tangan dan berharap Justin segera datang.

Ugh, kemanasih sebenarnya pria itu? Lama sekali.

“Ah, kenapa orang sepertimu tidak pernah absen datang kesini sih?”

Suara seseorang dalam bahasa Korea membuat Hee Ra tersadar dari lamunannya, ia mendongak dan mendapati wanita berusia awal tiga puluhan sedang berkacak pinggang dan menatapnya sinis.

Siapa maksudnya? Hee Ra? Memang apa yang Hee Ra lakukan?

Wanita itu menarik paksa lengan Hee Ra hingga membuatnya hampir melompat karena kaget, untungnya Hee Ra bisa mengontrol diri dan meraih kopernya di tanah.

“Nak, umurmu masih terlalu muda. Kau akan menyesal jika menyia-nyiakan masa mudamu hanya untuk mengikuti mereka,” Gumam wanita itu frustasi.

“Aku?” Hee Ra menggeleng tak mengerti, “Memang apa yang kulakukan?”

Kali ini wanita bername-tag Jang Ga Eun dengan rambut ikal coklat itu mengambil alih koper Hee Ra tanpa permisi, “Mengikuti artis kemanapun ia pergi. Aku benar-benar khawatir pada penerus Bangsaku jika melihatmu.”

Mengikuti artis?

Yang benar saja!

Merasa tidak terima, Hee Ra berusaha mengambil kopernya dan berkata dengan nada yang  lebih tinggi daripada biasanya, “Nona Jang Ga Eun atau siapapun anda karena itulah name tag yang anda gunakan, aku bukanlah sasaengfans atau penguntit seperti yang anda bayangkan. Aku kemari karena harus menemui Justin Bieber, aku kekasihnya.”

“Ya ampun, oh-oh-oh,” Jang Ga Eun mengipas-kipaskan kedua telapak tangannya di depan wajah sambil membulatkan mulut, seolah ia muak dengan semua omong kosong yang keluar dari mulut Hee Ra. “Kau tahu? Sampai tengah hari ini aku sudah mendapati lima gadis sebelumu yang mengaku sebagai kekasih Justin Bieber. Baiklah, kalau begitu aku juga kekasih Justin Bieber.”

Sungguh, bolehkah Hee Ra mengumpat sekarang? Tidak terlalu kasar, ia berjanji tidak akan menunjukkan jari tengahnya di depan wanita menyebalkan itu.

“Aku serius!” Apa Hee Ra terlampau kasar? “Aku tidak mengada-ada seperti gadis yang anda ceritakan itu, sungguh!”

“Ya, ya, ya, terserah. Lagipula mana mungkin seorang Justin Bieber melirik gadis Korea sepertimu?”

Ok, Hee Ra merasa dilecehkan sekarang.

“Pulanglah nak, lebih baik kau belajar dan jadi orang sukses.”

Terserah.

Hee Ra menggaruk kepalanya frustasi, ia melihat wajah puas wanita garang di depannya. Apakah dia merasa menang? Lihatlah wajah bangganya itu.

Mencoba memutar otak cemerlangnya, Hee Ra menepuk kedua tangan dan segera mengambil ponselnya. Lihat saja, ia akan membuktikan bahwa dirinya memang kekasih Justin Bieber pada nona—tidak, lebih pantas kalau Hee Ra menyebutnya bibi—menyebalkan itu.

Hee Ra buru-buru memencet angka lima dan menunggu Bieber mengangkat teleponnya. Tunggu saja, ia akan tertawa puas setelah berhasil membuktikan kebenarannya.

Melihat ekspresi aneh Hee Ra, wanita itu menyipitkan mata dan kembali bertanya, “Apa yang kau lakukan?”

Sayangnya Hee Ra tidak berniat menjawab, hanya mengukir sedikit senyum licik di wajahnya sambil menunggu Justin mengangkat teleponnya.

Hei! Kenapa Justin lama sekali sih? Apa dia tidak merasa kalo ponselnya bergetar? Menyebalkan sekali.

“Samantha, what’s wrong?”

Hee Ra hampir kehilangan mood-nya sampai akhirnya ia  mendengar suara yang sangat familiar dari arah kanan. Keduanya menengok dan mendapati pria berkaos putih dengan jeans sobek-sobek sedang berjalan ke arah mereka.

Itu Justin.

Ia berhenti di samping Hee Ra dan menatapnya beberapa detik sebelum memutuskan untuk mengambil alih koper dalam genggaman gadis itu.

“What’s wrong shawty? Why are you still here?” Tanyanya.

Hee Ra memicingkan matanya, “I’m waiting for you, jerk!”

Justin nampak berpikir selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa hambar, jujur saja, ia lupa menyuruh Hee Ra menunggu di depan.

“Hahaha, seriously? I’m sorry.”

Wanita yang tadi sempat menceramahi Hee Ra kini hanya sanggup membulatkan mulutnya melihat apa yang sedang terjadi. Dengan ini, walaupun ia tidak terlalu mengerti percakapan dalam bahasa Inggris, tapi setidaknya bisa ditarik kesimpulan bahwa gadis itu tidak berbohong.

Jadi, kalau boleh ia ingin lari tanpa pamit sekarang.

Teringat dengan wanita tadi, Hee Ra berbalik dan tersenyum paksa, “Terima kasih sudah menemaniku sampai dia datang, bibi,” Gumamnya lalu menarik lengan Bieber agar segera berjalan bersamanya.

Tapi, tunggu dulu. Ia bilang apa tadi?

Bibi? Apakah Ga Eun terlihat setua itu?! Ugh.

Mereka berjalan tanpa tujuan, hanya lurus dan masuk ke gedung. Hee Ra mengerucutkan bibirnya, kesal karena Justin melupakannya. Ingin sekali rasanya memukul tepat di wajah tampan pria itu, tapi mau bagaimana lagi, kalau Justin kehilangan ketampanannya, bagaimana ia bisa menghidupi mereka ketika menikah nanti? Benar-benar menyebalkan.

“Kau marah?” Justin mengamati Hee Ra yang tidak kelihatan ingin mengobrol dengannya. “Kita bahkan berjalan tanpa tujuan.” Tanpa diduga, Bieber melepaskan tautan tangan mereka dan menarik tubuh Hee Ra lebih dekat, lalu merangkulnya.

Apa dia gila? Para karyawan di gedung ini sudah memasang mata dan telinga dengan tajam daritadi.

“Kalau kau tidak mau bicara, aku akan menciumu di depan orang-orang ini, dan sepuluh menit kemudian kita menjadi hot topic. Bagaimana?”

Stupid jerk.” Hee Ra tidak memberi penekanan pada perkataannya, ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Muak melihat ekspresi kemenangan Justin atas dirinya.

“Lebih baik kita masuk ke studio dance, tidak ada orang di sana.”

Pervert.”

Bieber tak bisa menahan tawa lagi, ia hampir terbahak karena reaksi Hee Ra. “Oh God, Sam, kau bahkan menamparku karena sedikit mencuri kesempatan. Bagaimana mungkin aku berani melakukan hal seperti itu di studio? Bisa-bisa aku kehilangan ketampanan dan kejatananku.”

Oh ya ampun, menjijikkan.

Namun belum sempat Hee Ra menjawab, Justin sudah lebih dulu menenggelamkan gadis itu dalam pelukannya. Ia mengusap lembut punggung Hee Ra dan beberapa kali menciumi keningnya.

“I miss you, so much.” Desaunya penuh kerinduan.

Tentu saja para karyawan di tempat ini tidak menyia-nyiakan momen bersejarah yang ada di depan mereka. Hee Ra bahkan bisa mendengar omongan yang diantaranya berteriak, juga suara jepretan foto. Tapi Justin tetap memeluknya, ia seolah mengatakan pada Hee Ra agar mengacuhkan orang-orang itu, toh mereka memang sepasang kekasih.

Hee Ra membenamkan kepalanya di dada Justin, bibirnya tak bisa menahan untuk tersenyum dan mulai membalas pelukan kekasihnya. “I miss you too, stupid.”

Untuk sementara keduanya merasa dunia seperti milik berdua. Biarkan saja orang-orang mencemooh, menggunjing, atau apapun itu. Siapa perduli? Toh apalah artinya hidup kalau tidak pernah dibicarakan orang lain?

 

 

“Kau sudah bertemu dengannya?” Chan Yeol bertanya pada Baek Hyun tanpa memalingkan mata dari gadget di tangannya.

“Hm, kemarin kami bertemu. Setelah ini aku akan membicarakan duet kami lagi, kalian mau ikut?” Yang disebut kalian dalam kalimat Baek Hyun adalah Chan Yeol dan Se Hun.

Tanpa berpikir keduanya langsung mengatakan ‘Ya’ dengan nada tinggi. Se Hun bahkan sedikit melompat dari tempat duduknya dan mengenai Jong In yang sedang tidur. Tidak sadarkah Se Hun akan badan bongsornya yang refleks membuat Jong In terkejut lalu bangun.

“Ups. Maaf,” Ujarnya sambil menahan tawa.

“Ah lihatlah EXO Kai, dia selalu tidur dimana saja dan lupa membalas chatt kekasihnya.”

Ucapan Kyung Soo sontak membuat Jong In membelalakkan mata dan cepat-cepat merogoh saku, benar saja, sepuluh chatt masuk dari Soo Jung. Matilah Jong In, gadis itu pasti marah padanya.

“Tenanglah hyeong, masih banyak gadis yang tertarik padamu kalau kalian putus,” Se Hun menepuk-nepuk pundak Jong In seolah ikut sedih, sebenarnya kalau dipikir-pikir dia sedang menyindir Jong In.

Sontak gelak tawa pecah begitu saja, mobil fan yang semula terasa sepi selama beberapa menit belakangan kini jadi paling ramai dan heboh. Sampai akhirnya Chan Yeol hampir mengumpat karena melihat artikel paling atas dan terpanas pada layar ponselnya.

“What de? Lihatlah ini,” Chan Yeol menunjukkan artikel di ponselnya pada Se Hun dan Baek Hyun. Sejujurnya kalau mau Jong In bisa ikut membaca, tapi pria sok dingin itu sepertinya masih kelimpungan karena kekasihnya.

“Justin Bieber?” Se Hun ikut menajamkan matanya dan berteriak pada Su Ho, “Hyeong bisakah kau lebih cepat? Katanya Justin Bieber memeluk gadis di gedung SM.”

“Kau serius?”

“Apa?”

“Kekasihnya?”

Hyeong lebih cepat!”

Suara-suara terkejut dari Lay, Chen, Xiu Min dan Kyung Soo menggema di dalam mobil. Sementara Jong In masih memasang tampang cool dan sok tidak perduli. Beberapa detik kemudian kening Se Hun mengerut, entah kenapa ia merasa gadis yang ada di foto tersebut tidak asing baginya.

Ia mendekatkan matanya ke ponsel dan mengingat-ingat apakah pernah melihat gadis ini sebelumnya. Walaupun gambarnya tidak terlalu jelas, tapi ia yakin betul kalau gadis ini memang tidak asing.

Tunggu dulu, apakah mungkin?

Ia menengok ke arah Jong In, haruskah ia bertanya? Bagaimana kalau nanti Jong In marah? Mengingat pria yang berusia beberapa bulan lebih tua darinya itu baru saja bertengkar dengan sang kekasih. Tapi Se Hun penasaran sekali, ia yakin Jong In pasti mengenal gadis di foto ini, entah kenapa, Se Hun hanya memiliki keyakinan.

 

 

Berada di studio dance bersama Justin rupanya bukan pilihan yang tepat. Walaupun Hee Ra cuma duduk menyandar dinding sambil memainkan ponselnya, sementara Justin sibuk menari, orang-orang tetap memperhatikan mereka.

Memang, orang-orang itu tidak melihat secara langsung melainkan diam-diam mengintip. Ia ingin sekali segera pergi dan bersembunyi di dalam kamar, inilah alasan kenapa Hee Ra tidak ingin dikenal sebagai kekasih Justin, ia tidak suka menjadi pusat perhatian seperti sekarang.

Hee Ra tidak benar-benar memperhatikan Justin sampai pria itu mengganti lagu ke We Don’t Talk Anymore milik Charlie Puth dan Selena Gomez. Oh serius, Hee Ra membenci lagu itu, tidak, Hee Ra membenci penyanyinya.

Bukannya berhenti, Justin semakin mengeraskan volume tape-nya dan mulai menari, kali ini ia maju ke arah Hee Ra dan menarik lengan gadis itu untuk berdiri di hadapannya.

Hee Ra menggelengkan kepalanya, “Tidak Bieber, aku tidak mau.”

“Come on,” Justin duduk di lantai, kaki kanannya ditekuk, sementara yang kiri diluruskan. “Satu lagu saja, please,” mohonnya pada Hee Ra.

Tak kuasa menolak, Hee Ra kembali mengerucutkan bibirnya dan memutar bola matanya. Namun ia akhirnya menyerah dan berbaring di lantai, kepalanya berada di paha kiri Justin.

Ketika lagu itu kembali mengulang dari awal, keduanya mulai menari, membuat gerakan indah dan seolah menceritakan kemarahan juga rindu. Mengesampingkan para karyawan yang sudah terang-terangan melihat sepasang kekasih itu menari, Justin dan Hee Ra tetap melanjutkan tarian mereka.

 

Dalam indahnya tarian mereka, Justin memutar badan Hee Ra dari belakang kemudian memeluknya beberapa saat sambil mencium bahu gadis itu, menunjukan seberapa besar kerinduan yang ia pendam lewat tarian ini.

Kejadian menarik tersebut membuat para karyawan yang menonton histeris dan menepuk kedua tangannya. Tidak ingin menjadi tontonan terlalu lama, Hee Ra menjauhkan tubuhnya dari Justin yang nampak begitu senang.

Suasana terasa hangat namun juga canggung, diantara orang-orang yang histeris dan Justin yang begitu senang membuat Hee Ra kebingungan harus bersikap seperti apa. Tak berhenti sampai disitu, seorang laki-laki berkacamata masuk ke studio sambil bertepuk tangan.

Wow! Luar biasa,” ia kelihatan begitu terpukau dengan aksi Justin dan Hee Ra. “Perkenalkan, aku Jae Won, biasa dipanggil Beatburger. Aku yang akan membuat koreografer untuk music video-mu dengan Baek Hyun.” Ia melirik Hee Ra, senyuman mereka di bibir pria bernama Jae Won tersebut. “Kalau kau tidak keberatan, nona?”

“Nona Samantha,” Justin menjawab sebelum Hee Ra membuka mulutnya. “Kekasihku.”

Sontak Jae Won membelalakkan matanya, tak percaya kalau gadis berwajah Korea di depannya adalah kekasih sang bintang. Hanya berselang beberapa detik kemudian, Jae Won mendapat sebuah ide besar.

“Kalau nona mau, dan kekasihmu tidak keberatan, kau bisa tampil di music video mereka. Kami butuh penari yang sekaligus bisa menjadi model video klip, kurasa kau sangat cocok,” gumamnya menawari.

Berlibur sambil merangkap bekerja bukanlah hal yang buruk, tapi seperti yang sudah kubilang, Hee Ra berusaha sebisa mungkin untuk meminimalisir keinginan menarinya karena hal itu akan membuatnya teringat pada Jong In.

“Maa—“

“Ya, dia akan melakukannya.” Justin yang tiba-tiba menyela kalimat Hee Ra langsung mendapat ekspresi kesal dari gadis itu, tapi sekali lagi, Justin tidak perduli. Ia akan sangat senang kalau Hee Ra mau muncul di videonya.

“Bagus!” Jae Won menepuk kedua tangannya. “Kalau begitu, besok datanglah lagi. Aku akan memberitahu siapa lawan mainmu,” ucap Jae Won kemudian mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Hee Ra.

Serius. Kalau sudah seperti ini apa yang harus dilakukan Hee Ra kecuali pasrah?

Berniat untuk membalas dendam pada Justin setelah ini, Hee Ra mulai menyusun rencana. Mungkin ia bisa menyekik Justin sampai kehabisan napas atau memasukkan banyak cabai di makanannya nanti.

Hyeong, kami datang!”

Terdengar teriakan beberapa pria dari arah luar dan membuat Jae Won berbalik badan yang kemudian diikuti arah pandangannya oleh Hee Ra dan Justin. Lima orang pria masuk ke ruangan dan berhasil membuat Hee Ra berniat lari.

Mereka, EXO?!

Hee Ra belom siap untuk bertemu Jong In, ia harus mengontrol perasaannya dulu sebelum mampu menatap pria itu. Yang benar saja, ia ingin pergi sekarang juga.

Buru-buru Hee Ra menunduk dan menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh Justin sambil berharap tidak ada yang mengenalinya, terutama Se Hun dan Jong In. Dulu Hee Ra sempat berada di kelas yang sama dengan Se Hun ketika SMA.

“Se Hun, mana Kai dan yang lain?”

Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin ketika Jae Won mengucap nama Se Hun, Hee Ra tak berani mendongakkan wajahnya.

“Mereka di belakang ku rasa.” Sudah sangat jelas ini adalah suara Se Hun. Pria itu berhenti sebentar, namun terdengar tarikkan napasnya.

“K-kau?!”

 

TO BE CONTINUED

.

RECOMMENDATION FANFICTION

wolf2

[Klik Gambarnya]

Iklan

26 pemikiran pada “Unforgiven Autumn Chapter 2

  1. Ping balik: Unforgiven Autumn Chapter 2 – by Heena Park – EXO FanFiction Indonesia

  2. HADOH DAG DIG DUG SERR BACANYA :”””” kno tbc di situ :” ini tidak adil (halah) gas terus mas jastin :v ternyata heera jago nari y? *prokprok* semangat kak lanjutinnya, ditunggu yaaa ^^

  3. huaaa, aku ikutan deg degan bacanya, sehun langsung ngenalin heera ya,
    kayaknya lawan dance heera di mv jong in ya,

  4. anyeonghaseo- aku reader baru.. hehehee…

    awalnya aku hanya iseng baca Forbidden Love Part XIX.. pas di tbc liat poster FF ini.. aku yg memang orang yg penasaran tingkat tinggi terlebih ada foto JB, jdi aku bca deh.. heheheee…

    awalnya aku engg bgitu ngerti krena lansung bca chap 2 tpi, stelah bca dri awal ternyata FF ini keren..
    bahasa engga terlalu ribet, jdi aku engg prluh muter otak untuk memahaminya..

    Hee ra sbenarnya masih ngarep sma jong in atau cuman balas dendam sih..??? ciyeeee… yg mati kutu gra” slah sangka ngirain Hee ra sesaeng Fans..

    Next chap. thor.. SEMANGAT..

  5. anyeonghaseo- aku reader baru.. hehehee…

    awalnya aku hanya iseng baca Forbidden Love Part XIX.. pas di tbc liat poster FF ini.. aku yg memang orang yg penasaran tngkat tinggi terlbih ada foto JB, jdi aku bca deh.. heheheee…

    awalnya aku engg bgitu ngerti krena lansung bca chap 2(pletak) tpi, stelah bca dri awal ternyata FF ini keren..
    bahasa engga terlalu ribet, jdi aku engg prluh muter otak untuk memahaminya..

    Hee ra sbenarnya masih ngarep sma jong in atau cuman balas dendam sih..??? ciyeeee… yg mati kutu gra” slah sangka ngirain Hee ra sesaeng Fans..

    Next chap. thor.. SEMANGAT..

  6. OMGGG sumpah ane baca Ampe tereak sumpaaah keren bukan fokus ke Exo tapi malah kejustin OMGG gregettt eonnieee cepet lanjuttt dongggg udh penasaraaan huaaaaahhhh 😫😫😫😫😫😫 apa lagi pas bagian video dnce cowonya ganteng jadi tambah bisa ngebayangin justinn OMGGG ini ff pertama yang bikin gue comment panjang banget

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s