Forbidden Love Part XVII


forbidden love

“Apa yang akan terjadi jika seorang wanita yang sedang patah hati memutuskan untuk menikahi pria dengan kelainan homoseksual?”

 

.

 

FORBIDDEN LOVE

.

A FanFiction

by

Heena Park

.

Genre: Romance–Sad–Marriage Life//Ratting: PG-15//Lenght: Multichapter

.

Starring: Shin Hee Ra-Kim Jong In–Park Chan Yeol–Choi Ha Neul–Do Kyung Soo

.

Follow my WATTPAD

Find me on FACEBOOK

.

.

Kehidupan rumah tangga Chan Yeol dan Ha Neul berjalan memuakkan. Dimana Chan Yeol selalu menolak untuk tidur satu kamar bersama Ha Neul dan lebih memilih untuk berada di ruang tamu.

Tidak hanya itu, akhir-akhir ini Chan Yeol sering menghabiskan waktu di luar rumah. Ia sibuk pada Praktek Kerja Lapangan di salah satu Rumah Sakit dan sering meninggalkan Ha Neul sendiri. Seharusnya mereka pergi ke Paris untuk bulan madu, tapi betapa bersyukurnya Chan Yeol ketika dosennya berkata bahwa ia harus melakukan PKL, dengan alasan ini Chan Yeol berhasil menghindar dari Ha Neul dan paksaan ibunya.

Ia baru saja menata bantal dan hendak merebahkan tubuh di kursi kemudian tidur ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Siapa yang menelponnya pagi-pagi begini? Pukul dua? Apa dia sudah gila?

Chan Yeol segera meraih ponselnya dengan kesal, hendak memarahi siapapun yang mengganggu jadwal tidurnya. Namun kemarahannya meluntur ketika melihat nama Hee Ra tertera di layar ponselnya.

Benarkah? Hee Ra menghubunginya?

Beberapa kali Chan Yeol mengusap matanya, berpikir bahwa yang sedang terjadi hanyalah mimpi, tapi kenyataannya tidak begitu. Ia benar-benar melihat nama Hee Ra tertera di sana, sehingga tanpa perlu berpikir lama Chan Yeol segera menerima panggilan itu.

“Yoboseo..”

Selesai mengucapkan kata tersebut, Chan Yeol mengerutkan keningnya. Ia tidak mendengar suara Hee Ra kecuali suara berisik, kedengarannya seperti klub malam.

“Yoboseo, apakah anda mengenal nona pemilik ponsel ini?”

Nona pemilik ponsel? Hee Ra?

Chan Yeol mengerjap, “Ya, aku mengenalnya. Tapi..tapi kenapa suaranya ramai sekali?”

Chan Yeol bisa mendengar desahan lega dari orang yang berbicara dengannya. “Syukurlah. Nona pemilik ponsel ini berada di tempat kami, dia terlalu mabuk sampai kehilangan kesadaran. Tadi salah satu pelayan kami melihat seorang pria hampir melakukan sesuatu yang buruk pada nona ini, tapi untunglah pelayan kami buru-buru membawa nona ini masuk ke ruangan khusus pegawai.”

“Berikan alamat anda, aku akan segera ke sana.” Chan Yeol terlihat serius kali ini.

“Baiklah, aku sangat bersyukur akhirnya ada yang menerima panggilan ini. Daritadi aku mencoba menghubungi sanak saudaranya tapi tidak ada yang mengangkat.” Tentu saja, sekarang sudah pukul dua pagi, mereka pasti sedang tidur. “Aku akan mengirim pesan berisi alamat tempat ini, tunggulah.”

Setelah memutus panggilannya, Chan Yeol segera melipat selimut yang sempat berantakan karena dibuangnya begitu saja. Seolah mendapat jackpot, Chan Yeol tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin saat inilah ia bisa memeluk Hee Ra untuk yang terakhir kali, walaupun gadis itu tidak akan menyadarinya.

Begitu mendapat pesan berisi alamat bar yang dikunjungi Hee Ra, Chan Yeol segera bangkit, berniat untuk segera berangkat, namun Ha Neul yang tidak disadarinya sudah berdiri di dekat dinding, entah sejak kapan itu-pun melayangkan protes.

“Kau mau kemana? Malam-malam begini? Tidak mungkin praktek-kan?”

Chan Yeol berusaha tetap tenang, ia berinisiatif mengambil almamater universitasnya, berbohong pada Ha Neul kedengarannya tidak masalahkan? Lagipula hanya untuk sekali ini saja.

“Aku harus ke rumah sakit.”

“Tapi kau bukan dokter, Park Chan Yeol.”

“Aku calon dokter,” ia berhenti sebentar, menengok dan menatap Ha Neul dengan lekat, “Mereka membutuhkan dokter jaga tambahan, aku tidak akan membiarkan orang lain kesakitan sementara aku bisa mengobatinya. Kau tidak perlu menungguku, mungkin aku akan pulang nanti siang, atau sore.”

Tidak menggubris omongan Ha Neul yang masih berusaha menahannya, Chan Yeol segera pergi, paling-paling besok ibunya akan menelepon atau yang lebih parah ia akan datang langsung ke rumah mereka, memarahi Chan Yeol karena meninggalkan Ha Neul sendirian di rumah. Tapi tidak masalah, toh yang penting Chan Yeol bisa menyelamatkan Hee Ra, gadis yang dicintainya.

Chan Yeol buru-buru mengegas mobilnya, meluncur ke alamat yang telah ia dapat, berharap Hee Ra belum sadar.

Jahat? Mungkin.

Tapi dengan begitu ia bisa melampiaskan rindu yang selama ini dipendamnya. Oh, apalagi kemarin saat melihat Hee Ra di cafe milik Min Hyuk, sungguh, betapa hatinya bergejolak, ingin sekali menarik gadis itu dalam pelukannya dan mengatakan betapa ia tersiksa dengan semua ini, ia ingin kembali pada Hee Ra, hidup dengan gadis itu, bukannya bersama Ha Neul yang bahkan tidak ia cintai sedikitpun.

Kakinya melangkah selebar mungkin, memasuki bar yang tak cukup luas, tapi juga tidak sempit. Beberapa gadis yang bekerja di sana sempat menghampiri Chan Yeol, menggoda, siapa tahu bisa bermain dengan pria tampan yang baru datang ini. Namun Chan Yeol tidak tertarik sama sekali, ia lebih memilih langsung bertanya pada salah satu bartender tentang kebenaran apakah Hee Ra memang ada di sini, dan bartender tersebut menjawab iya.

Tanpa pikir panjang, mereka menuju ruangan yang berada paling ujung. Begitu pintu di buka, nampak seorang gadis terbujur lemas di atas sofa, sementara dua gadis lain menjaganya, dan seorang pria berjas hitam nampak bersandar pada dinding, menyilangkan tangan dan mengamati gadis yang sedang tertidur pulas tersebut.

Betapa leganya Chan Yeol, kelihatannya Hee Ra tidak apa-apa, gadis itu hanya benar-benar mabuk. Entah, apa penyebabnya.

“Anda Park Chan Yeol?”

Pria yang tadi bersandar di dinding itupun mengeluarkan suaranya, dibalas beberapa kali anggukkan oleh Chan Yeol, membuatnya menarik napas panjang. Kelegaan.

“Saya akan membawanya pergi, terimakasih…terimakasih sudah menjaga…kekasih saya.”

Begitu mendapat persetujuan dari pria ber-jas tadi, Chan Yeol segera menggendong Hee Ra, membawa dan menidurkannya di kursi mobil, tepat di sampingnya. Sekarang, apa yang harus Chan Yeol lakukan? Apakah ia harus membawa Hee Ra ke rumahnya—atau bisa dibilang rumah Jong In—atau membawanya ke hotel?

Sesungguhnya, mengingat ekspresi Hee Ra kemarin…

Apakah ia sedang bertengkar dengan suaminya?

Dan tentu saja kalau tidak, mana mungkin sekarang Hee Ra bersama Chan Yeol dan bukannya Jong In yang datang menjemput istrinya? Apakah ada suami yang tega menelantarkan sang istri dan tidak mencarinya padahal sudah hampir pagi seperti ini?

Kalau begitu sudah jelas Hee Ra dan Jong In sedang bertengkar, dengan begini Chan Yeol memutuskan untuk membawa Hee Ra ke hotel.

Pilihannya jatuh pada Fraser Suites Insadong Seoul. Mungkin beberapa staff hotel merasa curiga karena Chan Yeol datang dengan menggendong Hee Ra dalam pelukannya. Oh, semoga saja tidak ada yang sadar jika wanita yang bersamanya kini adalah istri salah satu milyuner di Korea Selatan.

Mereka menempati kamar dengan kasur king size, berdinding krem-condong ke coklat, dan ah, sebenarnya kamar mereka sangat  kental dengan nuansa mewah nan klasik, hampir semua perabotan berwarna coklat, memberi kesan damai dan tenang.

Chan Yeol menempatkan Hee Ra selembut mungkin di kasur, menutupi tubuh gadis itu dengan selimut tebal dan menarik kursi tepat di sampingnya, sejenak saja ia ingin memandang wajah gadis yang dulu sempat menjadi miliknya.

Untuk saat ini saja, biarkan Chan Yeol menikmati apa yang ada di depannya. Ia berdoa agar tidak ada pengganggu yang merusak suasana damai ini. Bahkan Chan Yeol rela membayar berapapun asalkan ia bisa menikmati garis wajah Hee Ra yang sangat dirindukannya, suara nyaring Hee Ra yang selalu terlintas di kepalanya, dan sentuhan lembut Hee Ra yang terkadang terasa walau hanya ilusi semata.

Sebegitu rindukah Chan Yeol pada Hee Ra? Ya. Kenyataannya memang seperti itu.

 

 

Jong In baru saja menyelesaikan rapat dengan calon partner kerja perusahaannya. Ia hendak beristirahat dan akan mengunjungi neneknya di Rumah Sakit nanti malam, namun keingintahuannya mencuat ketika mendapati ponsel yang sengaja ia setel menjadi silent itu ternyata mendapat lebih dari lima puluh panggilan dan dua puluh pesan.

Panggilan yang ia dapat ternyata datang dari orang yang sama, salah satu tangan kanan kepercayaannya, Kim Do Young. Pria itulah yang ditugaskan untuk mengikuti Hee Ra kemanapun selama Jong In tidak ada di Korea, dan anehnya ia menelepon Jong In berkali-kali, mungkinkah telah terjadi sesuatu pada Hee Ra?

Jong In buru-buru menghubungi bodyguardnya itu, berharap penuh cemas, semoga Hee Ra tidak apa-apa.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau menghubungiku berkali-kali? Apa sesuatu telah terjadi pada Hee Ra?” Tanya Jong In tak sabar.

“Maafkan saya tuan, tapi nyonya sedang bersama seorang pria,” ia berhenti sebentar, menyiapkan diri kalau-kalau Jong In akan mengeluarkan sumpah serapah setelah mendengar kata yang keluar dari mulutnya setelah ini, “di hotel..”

“Apa? Apa maksudmu? Bagaimana mungkin Hee Ra?” Jong In mengacak rambutnya frustasi, “Bagaimana kalau orang itu melakukan hal yang buruk pada Hee Ra?! Kau sudah gila? Aku menyuruhmu mengawasinya agar dia baik-baik saja selama aku di sini, bagaimana mungkin kau malah membiarkannya? Argh! Aku tidak mau tahu, bawa Hee Ra keluar dari hotel itu sekarang juga!”

“Tapi tuan..” Kim Do Young berusaha memutar otaknya. Bagaimana mungkin ia bisa mengeluarkan Hee Ra dari sana sementara penjagaan hotel sangat ketat? Tidak, ia harus bisa mengeluarkan dan menyelamatkan Hee Ra. “Baiklah tuan, saya akan berusaha mengeluarkan nyonya dari sana.”

“Dan aku akan menuntut pertanggung jawaban bila sesuatu terjadi pada Hee Ra. Camkan itu.” Masih terdengar nada marah dalam kalimat Jong In. Do Young dengan jelas bisa merasakan betapa tuannya sangat mengkhawatirkan sang istri. Tapi anehnya, kalau sudah tahu akan sekhawatir ini, kenapa ia tega meninggalkan istrinya sendirian untuk waktu yang lama? Bukankah seharusnya suami-istri saling menjaga?

Setelah memutus hubungan teleponnya, hal yang terlintas pertama kali di pikiran Jong In adalah berusaha menghubungi Hee Ra. Ia tidak perduli lagi pada kontrak mereka yang akan segera usai, yang paling penting sekarang adalah ia harus menyelamatkan Hee Ra.

Jong In tidak bisa dan tidak mau membayangkan jika sesuatu terjadi pada gadis itu. Ia akan menghukum dirinya sendiri bila kulit Hee Ra tergores sedikit saja. Ia tidak akan membiarkan Hee Ra terluka, tidak akan pernah.

Sayangnya gadis itu tidak menerima panggilan Jong In, berkali-kali Jong In mencoba menelepon, yang ada hanya suara dari operator. Ada apa dengan Hee Ra? Kenapa ia seperti ini? Apa dia sudah gila? Masuk ke hotel bersama pria? Tidak bisa dibiarkan.

Apa Jong In harus terbang kembali ke Korea sekarang juga  dan mendobrak dengan kedua kakinya pintu hotel tempat Hee Ra berada?

Tidak. Jong In tidak bisa melakukan itu. Walaupun ia sudah mengesampingkan kontrak hubungan pura-pura mereka, tapi tetap saja, terbang ke Korea hanya karena hal seperti ini sangat kekanak-kanakan. Atau mungkin…tunggu dulu, ini sudah menyangkut nyawa seseorang bukan? Seharusnya tidak masalah kalau Jong In memang kembali ke Korea.

Baru saja Jong In bangkit dari sofa dan berniat menyuruh Mr. Lee menyiapkan penerbangan mereka kembali ke Korea, sebelum Jong In sempat mengucap, Mr. Lee sudah lebih dahulu bergumam, mengingatkan kalau sang nenek membutuhkan cucunya sekarang.

“Tuan, Presdir Kim meminta anda untuk segera datang.”

Oh ya ampun, Jong In harus bagaimana sekarang? Tidak ada pilihan lain, ia akan datang menemui neneknya, dan kalau bodyguard atau Hee Ra tidak menghubunginya selama Jong In di sana, maka tanpa ragu Jong In akan kembali ke Korea.

 

 

Ketika Hee Ra membuka kedua matanya, suasana asing langsung menerpa tubuh yang lemas dan tak bertenaga. Rasa mual begitu bergejolak dan mendorong agar ia segera berlari ke kamar mandi.

Walaupun belum seratus persen sadar, tapi Hee Ra tahu bahwa penyebab dari mualnya saat ini adalah gara-gara ia terlalu banyak minum kemarin malam. Jujur saja, Hee Ra bukanlah tipikal orang yang tahan terhadap alkohol.

Belum berpikir sampai bagaimana ia bisa ada di sini dan sebagainya, Hee Ra masih sibuk memegangi perutnya setelah muntah. Dalam pikirannya berharap ia tidak lupa membawa minyak kayu putih, siapa tahu bisa meredakan rasa mual dan pusing yang terus-terusan mengganggu.

Ia duduk termangu di kloset, diam selama beberapa menit sampai akhirnya benar-benar sadar. Pikirannya yang semrawut telah kembali, dan betapa bodohnya ia, Hee Ra bahkan mengutuk dirinya sendiri karena telat menyadari bahwa dirinya sedang berada di hotel, sedangkan seingatnya kemarin malam ia tidak pergi ke sini.

Lalu siapa yang membawanya?

Bagaimana kalau orang itu telah melakukan sesuatu pada Hee Ra ketika Hee Ra tak sadar?

Jangan-jangan Hee Ra sudah tak suci lagi?

Jantungnya berdegup lebih kencang sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Perlahan, ia berjalan dengan sedikit berjinjit dan berharap tidak kedengaran oleh orang yang sedang tertidur sambil duduk di samping kasur.

Hee Ra mengamati orang tersebut dari balik pintu kamar mandi, mencoba mengenali pria yang menundukkan kepalanya dan hampir terjatuh ke kasur itu.

Tunggu dulu…

Bukankah itu Chan Yeol?

Kenapa ia bisa di sini? Apa Hee Ra telah menghubunginya kemarin? Atau bagaimana?

Hee Ra benar-benar tidak bisa berpikir jernih, ia bimbang antara membangunkan Chan Yeol dari tidur atau diam-diam pergi. Tapi kalau ia langsung pergi, Hee Ra tidak akan tahu cerita jelasnya sampai ia bisa terdampar di hotel mewah ini bukan?

Aneh, Hee Ra mencoba membangunkan Chan Yeol dengan menepuk-nepuk pundak pria itu. Tidak terlalu keras dan tidak begitu menempel, entahlah, ia hanya merasa tidak enak karena menyentuh suami orang.

Beruntungnya Chan Yeol cepat terbangun, Hee Ra memberikan waktu agar pria itu bisa sepenuhnya sadar, ia kelihatan lelah sekali. Apakah mungkin semalaman Chan Yeol menjaganya dan tertidur dalam keadaan seperti itu?

“Oh..Shin Hee Ra?” Chan Yeol mengerjap-kerjapkan matanya, ia sempat menguap beberapa kali. Sementara Hee Ra yang sudah tidak sabar menuntut kejelasan langsung duduk di pinggir kasur, tepat menghadap Chan Yeol.

“Katakan, kenapa aku bisa di sini?”

Chan Yeol paham betul kalau Hee Ra pasti sedang dilanda rasa penasaran yang begitu besar, dan ia juga tidak mau menyembunyikan kenyataannya.

“Kemarin malam seseorang meneleponku, dia bilang kau mabuk berat, ia sudah mencoba menghubungi sanak saudara dan teman-temanmu yang lain, tapi saat itu jam dua pagi, dan kebetulan hanya aku yang menjawab panggilannya,” Chan Yeol berhenti sebentar, memastikan ekspresi Hee Ra menunjukkan rasa percaya atau tidak. Namun sepertinya sejauh ini Hee Ra percaya pada omongan Chan Yeol, cukup melegakan.

“Dia memintaku datang dan menjemputmu. Lalu aku bingung harus membawamu kemana, mungkinkah aku harus membawamu pulang ke rumah suamimu? Tapi aku terbayang ekspresimu kemarin, waktu di cafe Min Hyuk hyung, ku pikir kau sedang bertengkar dengan suamimu. Jadi aku membawamu ke sini.” Kali ini Chan Yeol mengangkat kedua tangannya di depan dada, “Tenang saja, aku tidak menyentuhmu kok.”

Mendengar penjelasan Chan Yeol, Hee Ra benar-benar lega. Tidak, sebenarnya ia sudah lega ketika mengetahui bahwa yang sedang bersamanya adalah Chan Yeol dan bukannya pria lain. Setidaknya Hee Ra tahu betul bahwa Chan Yeol bukanlah pria jahat yang akan melukainya.

Tanpa sadar seulas senyum terbentuk di kedua bibirnya, walau samar dan entah Chan Yeol menyadari atau tidak, tapi Hee Ra benar-benar lega  dan tak bisa menyembunyikan kesenangannya.

Jujur saja, ia sangat merindukan Chan Yeol. Walaupun hatinya sedikit sakit karena ucapan Chan Yeol kemarin.

Hening sejenak, Chan Yeol menunduk, sementara Hee Ra sibuk menggigit bibir bawahnya. Terasa tegang, namun begitu hangat. Tak bisa dipungkiri, hubungan yang sempat terjalin antara keduanya berakibat besar pada suasana saat ini.

Di saat kedua hati sibuk saling merindukan, ada status yang tak bisa menyatukan. Bukankah menyedihkan?

Hanya saja Hee Ra bingung pada perasaannya sendiri. Cintanya mengarah pada Jong In atau Chan Yeol? Tapi toh, Hee Ra tidak akan bisa memiliki keduanya, jadi ia berusaha mengacuhkan perasaan tersebut.

Hee Ra berdehem, “Aku…aku harus pergi. Terimakasih sudah menyelamatkanku, Park Chan Yeol.” Begitu menyelesaikan kalimatnya, Hee Ra segera meraih tas lengan di samping bantal dan bangkit dari kasur.

Ketika hendak membuka pintu, tiba-tiba Chan Yeol bergumam, “Tunggu! Setidaknya, untuk menunjukkan rasa terimakasihmu padaku…Ayo kita sarapan di sini. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dalam keadaan seperti itu.”

Menerima permintaan yang lebih mengarah ke perintah dari Chan Yeol sepertinya tidak masalah. Lagipula mereka hanya sarapan saja-kan?

Hee Ra berbalik, ia mengangguk setuju dan langsung direspon positif oleh Chan Yeol. Pria itu mengembangkan senyum lebarnya dan segera berdiri, menghampiri Hee Ra yang berdiri menunggunya di dekat pintu.

Mereka berjalan bersama restaurant yang berada tidak jauh dari hotel. Well, sepertinya sarapan di hotel terlalu biasa, jadi Chan Yeol memutuskan untuk mengajak Hee Ra keluar. Tidak ada perbincangan sama sekali karena terlalu canggung dan bingung bagaimana caranya untuk memulai. Ya ampun, padahal tahun lalu mereka masih saling menghibur satu sama lain, tapi sekarang?

Rupanya setahun bisa membuat perubahan yang begitu besar, ya?

Mereka duduk di meja paling ujung, dekat dengan kaca yang langsung menghadap ke jalan di salah satu cafe. Chan Yeol memesan secangkir kopi dan pancake, sementara Hee Ra memesan segelas susu dan pancake.

Mereka masih terdiam, sibuk pada pikiran masing-masing, dan percayalah yang sedang dipikirkan oleh Hee Ra sekarang adalah kaos yang melekat pada tubuh Chan Yeol. Ia yakin sekali pernah melihat kaos itu sebelumnya.

Chan Yeol yang segera menyadari bahwa Hee Ra sedang mengamatinya-pun terkekeh sambil menggaruk kepala, “Kau melihat kaos ini ya?” Ia menunduk dan memandang kaos yang dikenakannya selama beberapa detik. “Ya, ini kaos couple yang dulu kita beli di Myeongdong. Jujur saja, kainnya sangat nyaman jadi aku terus memakainya.”

Rona merah meliputi kedua pipi Hee Ra, membuatnya merasa hangat dan tersipu. Perasaan hangat macam apa ini? Kenapa Chan Yeol membuatnya berdebar tak karuan hanya karena kaos yang dulu sempat mereka beli?

Berusaha menutupi perasannya, Hee Ra mengangguk, “Ya, kainnya memang sangat nyaman. Aku juga masih menyimpannya.” Balasnya ringan.

Tidakkah mereka terdengar seperti sedang memberikan kode satu sama lain?

Seperti remaja yang baru jatuh cinta.

Ketika Hee Ra hendak menyantap kembali pancakenya, ponselnya berdering. Secepat kilat ia merogoh tas lengan kecil yang berada di atas meja dan melihat siapa yang menelepon.

Matanya langsung membulat, keningnya mengerut. Ia tidak pernah menyimpan nomor yang tertera di layar sebelumnya. Langsung saja Hee Ra memencet tombol jawab dan membuka percakapan.

“Yoboseo?”

“Shin Hee Ra, Kenapa kau baru menjawab panggilanku?!”

Suara itu…

Suara itu bukankah…

“Jong In?”

 

 

TO BE CONTINUED

 

.

RECOMMENDATION FANFICTION

one of these nights

[Klik Gambar]

Iklan

112 pemikiran pada “Forbidden Love Part XVII

  1. bakalan berakhir donk kisah antara hee ran dan jongin? chanyeol juga gak harmonis rumah tangganya, makin seru ceritanyaaaa

  2. Jongin cemburu heera kehotel sma cowo lain, dasar gk pekaan lu jong. Heera chanyeol kesannya kya flashback gitu ya, dududu. Jongin akhrnya brani nelpon heera juga. Duh senangnya

  3. aku bayangin kalo jongin bener2 pulang dari new york ke seoul buat mastiin hee ra baik baik ajhh, ngeliat sifatnya haneul, kayaknya ini orang bakal jadi nenek lampir dalan konflik klimakssss

  4. Dohh Heera sudah stres ampe ke bar n finally get drunk(?) Jongin ae ampe khawatir gitu u.u daebaak chingu like always 👍👍

  5. Si Jong In beneryah dia suka banget sama Hee Ra hingga marah khawatir juha jangan sampe pas dia pulang ke korea dia cerein Hee Ra dan neneknya baik baik aja.
    Kasian banget rumah tangga Chanyeol hhuhuhu
    Cusss ah ke part selanjutnya ^^

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s