Forbidden Love Part XVI


forbidden love

 

 

FORBIDDEN LOVE

.

A FanFiction

by

Heena Park

.

Genre: Romance–Sad–Marriage Life//Ratting: PG-15//Lenght: Multichapter

.

Starring: Shin Hee Ra-Kim Jong In–Park Chan Yeol–Choi Ha Neul–Do Kyung Soo

.

Summary :

“Apa yang akan terjadi jika seorang wanita yang sedang patah hati memutuskan untuk menikahi pria dengan kelainan homoseksual?”

.

♣Follow my WATTPAD

♣Find me on FACEBOOK

.

Special performing Lu Han’

.

.

FORBIDDEN LOVE-

Sepi..

Rumah besar yang ditempati Hee Ra, Jong In dan nenek Eun Sang bersama beberapa pesuruh mereka pagi ini terasa sepi. Biasanya Hee Ra makan pagi bersama Jong In, tapi hari ini dia duduk seorang diri, tepat di kursi paling ujung. Menatap lurus ke depan, tidak berniat menghabiskan sarapannya.

Ternyata Jong In serius pada ucapannya, pria itu pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal pagi tadi. Bagaimana mungkin ia bisa setega itu pada Hee Ra?

Hee Ra mendorong piringnya menjauh dan meletakkan sendok juga garpunya, “Aku ingin pergi mengunjungi temanku,” ia berhenti sebentar kemudian bangkit dari kursi. “Aku akan berangkat sendiri, aku akan pergi naik bus.”

“Tapi nyonya, Tuan Kim menyuruh kami untuk mengantar anda kemanapun, bahkan Tuan sudah menyiapkan bodyguard khusus untuk nyonya,” sela kepala pelayan di rumah ini.

Hee Ra menggeleng, “Tidak, kalian tidak perlu melakukannya. Aku akan pergi sendiri.” Menghela napas panjang dan menatap kepala pelayan, “Tolong bereskan pakaianku, Tuan Kim bilang hari ini aku sudah bisa pergi ke sana kan?”

Mengerti apa yang dimaksud oleh Hee Ra, kepala pelayan tersebut segera menganggukkan kepala. Memang benar, sebelum berangkat Jong In sempat berpesan padanya bahwa Hee Ra bisa pindah ke rumah barunya kapanpun, dan sepertinya Hee Ra ingin pergi secepatnya.

Memang tidak sopan jika mencampuri urusan majikan, tapi bukankah mereka menikah? Lalu kenapa Hee Ra malah pindah? Tunggu dulu, mungkin saja mereka ingin memiliki rumah sendiri—kira-kira seperti itulah pikiran positifnya.

Sebelum beranjak dari tempatnya, Hee Ra kembali mengangkat wajahnya dan menatap kepala pelayan penuh harap, “Apakah dia meninggalkan pesan untukku sebelum pergi?”

Menyadari ekspresi Hee Ra nampak begitu putus asa, kepala pelayan itu berusaha memutar otaknya, mengingat-ingat apakah tuannya meninggalkan pesan. Tunggu dulu, ia yakin mendengar ini. Kalau tidak salah tadi tuannya sempat mengatakan sesuatu, ya pasti benar.

Ia mengangguk, kedua ujung bibirnya ditarik hingga membentuk seukir senyuman yang begitu lembut, “Ya, Tuan mengatakan bahwa nyonya harus menjaga diri baik-baik dan jangan sampai sakit.”

Setidaknya Jong In masih sedikit perduli padanya. Hee Ra tidak bisa menampik perasaan senangnya mendengar Jong In berkata seperti itu. Tentu saja seulas senyum tanpa sadar muncul di wajahnya, walaupun kedua mata itu jelas menyuratkan kepedihan, kesedihan, dan kehilangan, tapi bibir dan hatinya tidak bisa berbohong, ia benar-benar bahagia Jong In masih mengingat dan perduli padanya.

“Terimakasih,” Hee Ra membungkukkan badannya sembilan puluh derajat, membuat kepala pelayan terkejut dan merasa sungkan, “Aku pergi dulu, aku akan segera pulang dan pergi ke rumah baru,” ucapnya lalu berbalik dan meraih mantel di kursi kemudian berjalan pergi.

Rupanya Hee Ra serius pada ucapannya, ia tanpa ragu melangkahkan kaki menuju halte bus, menunggu bus datang dan pergi ke tujuan pertamanya. Sejujurnya Hee Ra tahu bahwa banyak dari penumpang bus yang mengetahui siapa dirinya, orang-orang itu bahkan sempat berbisik-bisik dan menatap Hee Ra dengan berbagai macam pandangan. Mulai dari takjub, sinis, benci, senang, Hee Ra tahu mereka melakukannya, tapi toh ia tidak perduli, biarkan saja mereka bersikap seperti itu, Hee Ra hanya ingin pergi dan menemui orang-orang di masa lalunya, saat semuanya masih berjalan normal.

Selepas turun dari bus dan berusaha mengalihkan perhatian dari orang-orang yang terus membicarakannya, Hee Ra masuk ke sebuah cafe yang jelas tidak asing baginya. Benar, di sini-lah ia kerja dulu, sebelum mengenal Jong In.

Nampak Lee Min Hyuk sedang sibuk di balik meja kasir, pria itu menggunakan celemek hijau muda dan menunjukan senyum tercerahnya pada setiap pengunjung. Sepersekian detik kemudian, kemungkinan ia merasa bahwa seseorang sedang mengamatinya hingga Min Hyuk tergerak untuk menengok, matanya membulat kala itu, tepat saat ia menyadari Hee Ra sedang berdiri di ambang pintu.

Buru-buru Min Hyuk keluar dari meja kasir, menyuruh pegawainya untuk menggantikan dan segera menghampiri Hee Ra, mengajak gadis itu untuk masuk ke kantornya.

Lee Min Hyuk meletakkan segelas coklat dingin di depan Hee Ra dan duduk di sampingnya, mencoba memperhatikan wajah Hee Ra dan membaca apa yang terjadi. Ia kelihatan berantakan dan muram, apa Hee Ra sedang bertengkar dengan Jong In?

“Aku tidak menyangka kau akan ke sini,” Min Hyuk mendorong coklat tersebut makin dekat dengan Hee Ra. “Minumlah, dan ceritakan padaku apa yang terjadi.”

Apakah Min Hyuk bisa membaca pikirannya? Seingat Hee Ra, ia sudah menutup kesedihannya rapat-rapat, tapi kelihatannya wajahnya sulit untuk berbohong, tapi baiklah, Hee Ra tidak boleh menceritakan hal ini pada Min Hyuk.

“Apa aku kelihatan memiliki masalah?” Terkikik pelan, ia meraih gelas berisi coklat dingin di hadapannya dan meneguknya pelan, persiapan untuk mengarang bebas.

“Lalu?”

“Ayolah, aku merindukan tempat ini. Aku berharap bisa bekerja di sini lagi, aku sangat merindukan kalian. Kau pasti paham-kan?”

“Ah,” Min Hyuk menyilangkan kedua lengannya, “semenjak kau pergi aku sangat kesulitan mengatur cafe ini. Pegawai baruku tidak begitu membantu, beberapa dari mereka sangat menyebalkan. Mereka bahkan tidak mau mencuci piring dan gelas kotor, jadi untuk apa aku menggaji mereka? Aku benar-benar frustasi.”

Tiba-tiba pintu ruangan Min Hyuk terbuka, seorang pria bertubuh jakung mengenakan sweater abu-abu masuk begitu saja tanpa mengucap permisi sambil mengoceh.

“Apa ranselku tertinggal di sini hyung?”

Hee Ra dan Min Hyuk menengok. Mengenali siapa pria yang barusan datang, Hee Ra hampir melompat dari tempat duduknya, kenapa Chan Yeol datang kemari? Dan juga, sejak kapan Min Hyuk dan Chan Yeol se-akrab ini?

“Oh,” Min Hyuk buru-buru memecah keheningan yang terjadi antara Hee Ra dan Chan Yeol. Nampak jelas dalam ekspresi keduanya, tidak menyangka bisa bertemu seperti ini, terlebih lagi mereka kini telah berstatus menikah dengan pasangan masing-masing.

“Entahlah, aku tidak sempat memeriksa ruanganku,” tambah  Min Hyuk.

Sementara Hee Ra masih terpaku sampai sepersekian detik kemudian gadis itu bangkit dari kursi dan meraih tas lengannya, “Aku permisi dulu,” gumamnya tanpa berani menatap kedua mata Min Hyuk dan langsung berjalan melewatinya.

Namun tak disangka, ketika Hee Ra hendak keluar, tepat saat ia berjalan di depan Chan Yeol dengan kepala menunduk, pria itu menahan lengan Hee Ra, memberi kode agar ia berhenti.

Nampaknya Hee Ra tidak suka dengan perlakuan Chan Yeol, ia berusaha melepaskan tangannya tanpa memandang pria itu sedikitpun. Membuat Chan Yeol naik darah.

“Kau tidak perlu pergi untuk menghindariku, aku yang akan pergi,” Chan Yeol menarik lengan Hee Ra menjauh dari pintu dan melepaskannya. “Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengganggumu Shin Hee Ra. Lagipula kita sudah memiliki dunia masing-masing, kau dengan suamimu dan aku dengan istriku. Aku tidak akan mengambil apa yang menjadi milik orang lain.”

Sakit sekali. Sungguh. Entah kenapa saat mendengar Chan Yeol berkata ia tidak akan mengambil milik orang lain begitu menusuk hati Hee Ra. Andai saja Chan Yeol tahu kalau selama ini Hee Ra bukanlah milik Jong In. Apa pria itu akan tetap bertingkah seperti sekarang?

Terlebih, Chan Yeol kelihatannya sudah mulai bisa menerima Ha Neul sebagai istrinya. Seharusnya Hee Ra bahagia ketika menyadari hal ini, tapi mengingat keadaannya yang terasa tak diinginkan, jujur saja Hee Ra merasa iri dan sakit hati. Seharusnya dia yang ada di sisi Chan Yeol dan bukannya malah terjebak bersama Jong In yang sebentar lagi akan membuangnya.

“Aku hanya ingin menanyakan ranselku, toh kalau tidak ada aku akan segera pergi,” Chan Yeol berhenti sebentar dan mengamati seluruh sudut ruangan milik Min Hyuk dan kembali menatap Hee Ra, “Sepertinya tidak ada. Jadi aku akan segera pergi. Senang melihatmu sehat Shin Hee Ra, ku harap kau juga senang melihatku.”

Bibirnya beku, ingin Hee Ra berkata bahwa ia juga senang bisa bertemu Chan Yeol. Hanya saja lidahnya terasa kelu dan tak sanggup bergerak, ia masih terpaku dan bingung harus bagaimana.

Perasaannya kalut, antara marah, benci, senang, sedih, semua bercampur jadi satu. Ia senang bisa bertemu Chan Yeol, tapi ia juga sangat sedih karena harus menghadapi kenyataan bahwa perasaannya pada Jong In ternyata tak akan pernah terbalaskan.

 

 

Jong In baru saja sampai di New York, setelah mengantar neneknya ke Rumah Sakit dan istirahat sebentar di sana, ia kini sudah dalam perjalanan menuju hotel.

“Apa yang dia lakukan hari ini?” Jong In tak sabar menunggu jawaban dari seseorang yang kini mengobrol dengannya.

“Tadi pagi nyonya pergi ke cafe tempatnya bekerja dulu, lalu siangnya nyonya meminta agar barangnya dibereskan dan segera pindah ke rumah barunya.”

“Jadi sekarang dia sudah pindah?”

“Ya Tuan, nyonya sudah pindah.”

Jong In menghela napasnya sepanjang mungkin. Tidak menyangka bahwa Hee Ra akan pindah secepat ini.

“Tetap awasi dia. Aku tidak mau sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya selama aku di New York. Dan lagi, jangan sampai Hee Ra kesusahan. Tabungannya sudah kau berikan padanyakan?”

“Sudah Tuan, tapi nyonya menolak. Ia bilang tabungannya sendiri masih lebih dari cukup untuk hidup sehari-hari.”

Jong In lupa kalau Hee Ra adalah tipe gadis keras kepala yang berlaku semaunya sendiri. “Baiklah, kalau begitu pastikan saja dia mendapat kemudahan ketika menginginkan apapun. Pokoknya aku mau hidupnya semudah mungkin ketika aku pergi.”

“Baik Tuan, kami akan berusaha semaksimal mungkin.”

Jong In menutup ponselnya, pikiran-pikiran buruk tentang hal yang mungkin saja terjadi terkait kepergiannya ke Amerika dan meninggalkan Hee Ra selalu muncul di benaknya.

Ia takut musuh bisnisnya akan membahayakan Hee Ra, atau bahkan Kyung Soo, tidak menutup kemungkinan pria itu akan mengganggu Hee Ra walaupun Jong In sudah berjanji akan melepaskan gadis itu.

 

 

Apartemen baru yang dibelikan Jong In rupanya benar-benar indah. Sudah ada perabotan yang tertata rapi dan kelihatan berkonsep. Balkonnya tepat menghadap ke Barat sehingga ia bisa menyaksikan indahnya matahari tenggelam yang untungnya tidak ditutupi oleh gedung bertingkat lain.

Ditemani cahaya temaram, Hee Ra duduk bersandar di balkon. Menatap ke langit dan berharap bahwa semua ini hanya mimpi. Hatinya masih berderu tidak jelas sejak kemarin, tepatnya saat Jong In mengatakan mereka harus berpisah dan mengakhiri semuanya.

Jujur saja, Hee Ra telah terbiasa dengan adanya Jong In. Mengingat betapa baik dan perhatiannya pria itu, yang entah Jong In sadari atau tidak telah membuat Hee Ra perlahan jatuh hati padanya, dan kemudian sanggup melupakan Chan Yeol.

Lamunannya yang tak kenal waktu akhirnya terpecah ketika Hee Ra mendapati ponselnya berdering.

Rupanya Lu Han menelpon.

Begitu menekan tombol jawab, Hee Ra tidak langsung mengeluarkan suara, ia membiarkan Lu Han mengatakan apa tujuannya terlebih dahulu. Lagipula Hee Ra juga tidak dalam mood untuk banyak bicara hari ini.

“Shin Hee Ra, kau di sana? Apa kau bisa mendengar suaraku?”

Hee Ra tersenyum tipis mendengar ucapan Lu Han, pasti pria itu khawatir sesuatu terjadi padanya karena tidak kunjung mengucapkan sesuatu.

“Ya, aku di sini.”

“Oh syukurlah,” Terdengar nada kelegaan dalam suara Lu Han. “Bisakah kita bertemu sekarang? Kau bisa memilih tempatnya kalau mau.”

Hee Ra mengerutkan keningnya, “Memang kenapa?” Ia melirik jam tangannya sebentar dan menyadari sekarang sudah pukul setengah sembilan malam. Akan tidak baik bagi perempuan untuk keluar sendiri.

“Aku akan kembali ke Beijing jam setengah sebelas nanti. Aku ingin bertemu denganmu sebentar saja.”

“Apa?!” Hee Ra membelalakkan matanya, bagaimana mungkin Lu Han berniat pergi secepat ini? Apa dia benar-benar ingin menyiksa Hee Ra? Mereka baru saja bertemu. “Kalau begitu, temui aku di Sungai Han, aku akan segera ke sana.”

Setelah menutup teleponnya, Hee Ra segera bangkit dan meraih tas lengan yang ia letakkan di sofa tadi. Untung saja Apartemennya berada tak jauh dari Sungai Han sehingga Hee Ra tidak perlu menggunakan banyak waktu untuk sampai ke sana. Tapi apakah Lu Han juga tidak membutuhkan banyak waktu untuk sampai? Bagaimana kalau Lu Han berada di tempat yang lumayan jauh?

Mengesampingkan pikiran negatif tadi, Hee Ra mengacak rambutnya frustasi. Apakah orang yang disayanginya akan berangsur-angsur pergi? Semua ini terlalu mendadak.

“Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama?”

Lu Han muncul dengan mantel coklat, ia mengembangkan senyum cerah begitu Hee Ra menengok dan menatapnya. Ya Ampun, melihat ekspresi sedih Hee Ra yang begitu nampak, bahkan matanya berkaca-kaca sudah cukup untuk mencambuk perasaan Lu Han.

Apakah Hee Ra sedih mendengarnya akan pergi?

Hee Ra berdiri dan memukul-mukul dada Lu Han, walaupun tidak kencang tapi sudah lebih dari cukup untuk membuat Lu Han mengaduh kesakitan, “Kenapa kau jahat sekali? Kita bahkan baru bertemu dan kau bilang ingin pergi? Kau benar-benar jahat Lu!”

Lu Han membiarkan Hee Ra memukul dadanya, tidak apa-apa asal gadis itu bisa mengekspresikan apa yang kini bersarang di otak dan hatinya. Hanya saja, biarkan Lu Han memeluk Hee Ra untuk pertama dan terakhir kalinya.

Tentu saja Hee Ra sempat terkejut ketika Lu Han tiba-tiba menenggelamkan tubuh gadis itu dalam pelukannya. Ia mendekap Hee Ra begitu erat dan mencium aroma khas yang pasti akan sangat dirindukannya selama berada di Beijing nanti.

Kalau saja Hee Ra tahu bahwa Lu Han sangat mencintainya.

Kalau saja Hee Ra meminta agar Lu Han tetap tinggal, pasti ia akan membatalkan penerbangannya dan menemani gadis itu.

“Maafkan aku Shin Hee Ra,” Lu Han masih tidak mau melepaskan pelukannya, “Jaga dirimu baik-baik. Aku berjanji akan segera kembali dan menemuimu lagi.”

Sementara keduanya masih hanyut dalam perpisahan, seseorang yang sedang duduk tak jauh dari mereka, yang sedari tadi terus mengamati tanpa henti, kini mendekatkan ponselnya ke telinga, berharap orang yang berusaha dihubungi segera mengangkat panggilannya.

Dan ketika orang tersebut menerima panggilannya, ia segera melaporkan.

“Nyonya, sedang berpelukan dengan pria lain.”

Seketika ia menjauhkan ponselnya, membuka galeri dan mengirim sebuah foto yang diambilnya beberapa waktu lalu. Tepat ketika orang yang ia sebut nyonya sedang berada dalam pelukan Lu Han.

 

 

Hatinya memanas, foto yang dikirimkan anak buahnya membuat Jong In ingin meremas dan menghancurkan ponselnya sekarang juga. Ia tidak suka melihat Hee Ra berada dalam pelukan pria lain, apalagi dalam pelukan Lu Han, orang yang beberapa hari lalu ia pukuli.

“Tuan, anda baik-baik saja?”

Mr. Lee selaku asistennya memegang lengan Jong In, takut kalau atasannya kenapa-napa. Tapi Jong In segera menggeleng, “Aku tidak apa-apa.”

“Nenek anda sudah menunggu di kamarnya, dia bilang ingin anda segera menandatangani surat warisan tersebut.”

Jong In mengangguk, ia berusaha berdiri tegak dan masuk ke kamar rawat neneknya. Mencoba menutupi kenyataan dan bersikap bahwa Hee Ra adalah istrinya.

“Apa kau sakit?”

Nenek Eun Sang memperhatikan gerak-gerik Jong In sejak baru melangkah masuk ke kamarnya tadi. Wajahnya pucat pasi, kelihatannya Jong In butuh perawatan.

“Tidak nek, aku hanya sedikit kelelahan.”

Nenek Eun Sang mengerutkan keningnya, “Apa kau merindukan istrimu?”

Pertanyaan Nenek Eun Sang berhasil membuatnya terhenyak sebentar. Apakah ia merindukan Hee Ra? Dan melihat Hee Ra berada dalam pelukan Lu Han semakin memperburuk keadannya. Apakah memang seperti itu? Tapi kalo iya, kenapa pula ia harus merindukan gadis yang bahkan bukan siapa-siapanya.

Ingat, mereka hanya terikat kontrak bisnis dan bukannya hati.

Jong In menarik ujung bibirnya, “Ya, sepertinya begitu.” Jawabnya.

“Kalau begitu hubungi dia. Katakan kau merindukannya, kalian-kan suami-istri. Aku yakin Hee Ra juga sedang merindukanmu saat ini.”

Tidak, Hee Ra tidak sedang merindukanku. Ia sedang bersama pria lain. “Ya, aku berencana menelponnya setelah ini, Lagipula di Korea sudah malam bukan?”

Nenek Eun Sang mengangguk setuju, “Benar juga. Hee Ra harus banyak istirahat, dia pasti lelah setelah seharian berada di kampus.”

“Dan aku tidak ingin mengganggu jam istirahatnya.” Sungguh, Hee Ra bahkan tidak datang ke kampus. Anak buahku mengikutinya. “Aku akan menghubunginya nanti malam kalau begitu.”

Matanya tertuju pada map yang berada di meja, Nenek Eun Sang memberi kode agar Jong In mengambil map tersebut dan membukanya. Di dalamnya sudah tersedia pena untuk bertanda tangan.

Nenek Eun Sang segera mengambil pena tersebut dan membubukan tanda tangannya pada secarik kertas yang disebut sebagai surat warisan tersebut. Ia kelihatan bahagia dan puas, semoga saja keputusannya untuk memberikan seluruh hartanya pada Jong In tidak salah, dan cucunya benar-benar bisa menjaga apa yang telah diberikan padanya.

“Nenek sangat berharap padamu. Kau tahukan umur nenek sudah tidak panjang lagi?”

Jong In mengambil pena yang diberikan oleh neneknya, “Tidak, nenek akan selalu bersamaku. Dokter pasti akan menyembuhkan nenek. Bukankah dokter juga sudah bilang kalau keadaan nenek akan semakin membaik setelah operasi besok?”

Nenek Eun Sang mengusap lembut rambut Jong In, senyuman lembut yang ditunjukkan wanita baya itu membuat hati Jong In hangat, tapi juga ketakutan.

“Cucuku, kita tidak bisa percaya dengan vonis dokter. Ia mengatakan aku akan semakin baik, tapi bagaimana kalau Tuhan berkehendak lain? Aku percaya padamu. Kau harus menjaga perusahaan dengan sebaik mungkin,” Ia berhenti sebentar, menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan pelan. “Dan kau harus menjaga Hee Ra. Nenek ingin dia bahagia.”

Oh Ya Tuhan, apa yang harus Jong In katakan pada neneknya nanti? Ia tidak bisa menebak se dalam apa kekecewaan neneknya saat tahu bahwa mereka akan segera bercerai.

Hubungan mereka dari awal memang salah. Terlalu penuh kebohongan dan kepura-puraan. Jong In sangat menyadari itu, dan ia tak mau hal tersebut terus berlanjut karena akan menyakiti kedua belah pihak.

Lebih baik terluka sekarang daripada diakhir bukan?

“Ya nek, aku akan menjaga Hee Ra. Aku pasti berusaha membuatnya bahagia.”

Satu lagi kebohongan, untuk sekarang sepertinya tidak apa-apa. Tapi Jong In berjanji akan segera menyelesaikan urusannya dengan Hee Ra hingga kedua belah pihak sama-sama setuju.

Dan ya, dengan ditorehkannya pena berbentuk tanda tangan di atas kertas berstempel itu, mulai sekarang Jong In sudah sah menjadi pewaris saham serta kekayaan yang dimiliki oleh keluarganya. Dia akan belajar dan terus belajar untuk membuat perusahaannya semakin berkembang.

 

TO BE CONTINUED

Iklan

114 pemikiran pada “Forbidden Love Part XVI

  1. Congrats jongin yg uda berhasil dapet harta karun dri nenek 😂
    Di jga tuh baik baik jgn bnyak ngedengerin bisikan valak ya ntar berabe 😂😂😂
    Saallah luhan gue jg sdih lu ke beijing. Tar siapa yg jgain hee ra tega amat. Hee ra bakal di tinggal jongin. Chanyeol uda cinte ama bininya. trus lu lagi pergi.. kasian hee ra.
    😭😭😭

  2. Sudahlah Jong In… sadarlah kamu sudah mencintai Hee Ra!! Sadarlah… greget juga jadinya….. 😧 seharusnya Jong In sadar bahwa dia sudah mencintai Hee Ra!!

  3. Greget juga sama si Jong In… seharusnya dia sadar kalau dia sudah suka Hee Ra… Tapi terharu ya Jong In sayang banget sama nenek nya….

  4. Duh ayolah jongin jangan cerai’in heera .. heera cinta kok sama kamu cuma kamu nya aja yang gak peka :v
    Smoga gak jadi cerai mereka nya ya .. sumpa ngga rela ._.

  5. jongin dan hee ra yang belum menyadari perasaan masing”; serta luhan yang menyukai hee ra sejak lama hiks hiks aku nangis bacanya

  6. Heera kuat bgt jadi cewe ya, ditinggal jongin, chanyeol, trus luhan jga ninggalin dia. Kasian nenek eun sang dia gk thu klo pernikahan jongin cuma naskah cerita doang, jongin emg gk ngerti sma perasaannya sndiri atau apa sih, udh jelas dia tertarik sama heera, tp ttep aja. Ugh makin seru pokoknya

  7. yaaaahhhhh…. jangan tinggalin hee ra nanti sedihh kan kasihan, nanti siapa yang jagain hee ra lagi 😦 nenek jongin cepat lah tau bahwa cucu nya hanya sandiwara trs akhir di nikahin beneran

  8. Dohh beneran pisah bgt nihh KaiHee?? Jgn pliss.. Chanyeol juga mulai fokus dgn hidupnye skrg. Luhan back to beijing.. Heera feel so lonely nih.. Kai juga ga rela tuh pisah ama Heera hm. Daebaak like always chinguu👍👍😁

  9. Jong In marah ngeliat photo Hee Ra pelukan itu tandanya Jong In cemburu dong cemburu kan tandanya cinta semoga saja hhehehehhe
    Cuss ah ke part selanjutnya ^^

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s