Unforgiven Autumn [PROLOG]


UNFORGIVEN AUTUMN

Apakah aku tetap menjadi Autumn-mu, Spring?

 

 

A FanFiction

By

Heena Park

.

Poster

by 

leensArt

.

Samantha Shin [Shin Hee Ra]—Kim Jong In [Kai]—Justin Bieber

.

Romance-Drama-PG15-Multichapter

.

.

 

 

PROLOG

 

.

 

Akhir-akhir ini Jong In suka memandang dedaunan kering dari balik kaca jendela kamarnya. Beruntung tepat di samping dorm masih ada pohon yang lumayan besar sehingga dia masih bisa merasakan aroma musim gugur.

Managernya bilang, mereka—EXO—mendapat libur selama empat hari, tentu saja hal tersebut tidak di sia-siakan oleh Jong In, ia akan pulang ke rumah dan bermanja-manja dengan ibunya selama liburan.

“Kau sudah berkemas?” Kyung Soo nampak kebingungan, ia beberapa kali berjalan di belakang Jong In sambil membawa beberapa barang yang hendak dibawanya pulang.

Jong In menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun, “Semua yang kubutuhkan sudah ada dirumah,” ia berbalik, “apa kita sudah boleh pergi sekarang?”

Bukan Jong In namanya jika tidak bersemangat saat mendapat jatah libur, daridulu memang ialah yang selalu pergi paling pertama dan pulang paling akhir sampai-sampai manager sering memarahinya.

Tapi Jong In tidak menyesal sama sekali, ia terus saja melakukan itu dan selalu menjawab dengan kalimat yang sama. “Aku datang tepat sebelum konser dimulai, jadi aku belum telat, hyeong.”

Menyadari bahwa memarahi Jong In adalah hal yang percuma, Mr. Lee selaku manager merekapun akhirnya angkat tangan dan membiarkan Jong In berlaku seenaknya, yang penting mereka tidak mendapat denda dan tampil tepat waktu. Begitu saja Mr. Lee sudah sangat bersyukur.

“Jaga diri kalian baik-baik, kita bertemu empat hari lagi,” Mr. Lee menyilangkan kedua lengannya, “dan kau Jong In, jangan sampai terlambat.”

Jong In terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Ehehehe, aku mengerti hyeong.”

Member lain ikut tersenyum melihat tingkah konyol manager dan teman mereka, bahkan Se Hun yang dikenal paling mudapun tidak selambat Jong In.

“Ah iya, Baek.” Panggilan Mr. Lee membuat Baek Hyun menghentikan aktifitasnya dan menengok, “Ya hyeong?”

“Akan ada kolaborasi spesial untukmu, jadi kau jangan sampai terlambat seperti Jong In.”

“Ya! Hyeong, kenapa kau selalu memojokkanku,” protes Jong In tidak terima.

Tidak menghiraukan protes yang dilontarkan Jong In dan memilih tetap fokus pada Baek Hyun, Mr. Lee kembali bergumam, “Kau akan berkolaborasi dengan Justin Bieber untuk single terbaru sebagai tanda awal kerjasama SM Ent dengan Universal.”

Sontak Chan Yeol dan Se Hun membulatkan matanya dan berteriak secara bersamaan, “APA?!” Mereka seolah tidak terima karena Baek Hyun-lah yang beruntung, mengingat keduanya sangat menyukai musisi asal Kanada tersebut.

“Ya! Kenapa kau bisa terpilih? Ah, kau membuatku sakit hati,” celoteh Chan Yeol yang kini sedang memegangi dadanya seolah kesakitan.

Sementara Se Hun tidak mau kalah, ia memenyunkan bibirnya, “Aku dan Chan Yeol hyeong akan menguntit kemanapun kalian pergi, pokoknya dia adalah milik kami.”

“Aih,” Baek Hyun mendecak, “kalian tidak perlu melakukan itu. Duduklah dengan santai dan aku akan berbagi fotoku dengannya, kalian tidak perlu repot-repot menguntit.” Jawab Baek Hyun seraya menunjukkan barisan gigi putihnya.

Semakin sebal setelah mendengar perkataan Baek Hyun, Chan Yeol dan Se Hun merengek, mereka bilang juga ingin bekerja dengan Justin Bieber. Walaupun Cuma jadi pembuat kopi dan pemberi semangat selama latihan, mereka mau.

Benar-benar fanboy.

“Ayolah hyeong, kau bisa merayu atasan kita-kan?”

Se Hun mengedip-kedipkan matanya, membuat Mr. Lee geli, kalau anak itu melakukannya pada manager wanita mungkin ia akan berhasil, tapi pada Mr. Lee? Kemungkinan Mr. Lee akan semakin menyuruhnya menjauh dari Justin Bieber.

“Sekarang lebih baik kalian segera pulang, habiskan liburan kalian. Dan kau,” Mr. Lee menujuk Chan Yeol dan Se Hun bergantian, “sepertinya menjadi pembuat kopi dan tukang bersih-bersih bisa diperhitungkan,” ucapnya seraya tersenyum licik.

Sementara Se Hun dan Chan Yeol sibuk merengek pada managernya, Jong In sudah menaiki skuter lebih dulu, ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu berharga untuk berkumpul dengan keluarga.

Baiklah, sebentar lagi ia akan kembali ke rumah dan bisa menjadi anak manja. Pasti menyenangkan.

Hanya perlu waktu tiga puluh menit untuk sampai di kediaman keluarga Jong In. Setelah memakirkan skuter, Jong In bergegas mengetuk pintu, “Ibu, aku pulang.”

Beberapa menit berlalu, tidak ada jawaban dari ibunya sehingga Jong In bernisiatif untuk langsung mengecek lewat samping. Rupanya pekarangan rumahnya belum berubah sejak lima bulan lalu—terakhir kali ia datang dan menginap.

Jong In menyusuri rumahnya, kedua kakinya berhenti ketika melihat sesosok perempuan bermasker baju yang ditali di kepala serta bersarung tangan sedang sibuk memindahkan kardus-kardus lusuh dari gudang.

“Ibu?”

Wanita itu berbalik begitu mendengar suara seseorang, matanya membulat dan segera melepas masker baju di wajahnya, “Jong In?” ia berjalan mendekati anaknya dan mengangkat kedua tangannya, “Apa kau mengetuk pintu depan? Maafkan ibu, sepertinya aku tidak mendengarmu karena terlalu sibuk dengan semua ini,” ucapnya sembari melirik ke tumpukan kardus di belakang.

Jong In mengangguk kemudian menaruh begitu saja ransel kecil yang dibawanya, “Butuh bantuan bu?”

Belum sempat terjawab, Jong In langsung berjalan melewati ibunya dan mengeluarkan kardus-kardus yang sudah bertumpuk, “Dimana aku harus meletakkannya?” tanyanya lagi.

Kim Il Seok tersenyum, memiliki anak laki-laki disaat seperti ini memang sangat berguna, “Taruh di dekat tiang itu, ibu akan memilih barang yang sekiranya masih berguna.”

Menganggukkan kepalanya dua kali sebagai tanda mengerti, Jong In segera menaruh kardus-kardus itu ke tempat yang diinginkan, sementara ibunya mulai memilah-milah barang. Banyak juga barang berharga yang ada dalam tumpukan kardus itu, pikir Jong In.

Tapi tiba-tiba saja ibunya menyuruh untuk berhenti dan memanggil agar Jong In mendekat, tangannya memegang sebuah kotak bewarna biru muda. Masih bagus tapi kotor.

“Kau bisa membuka kotak ini? Sepertinya berisi sesuatu yang berharga,” pinta Kim Il Seok.

Lantas Jong In segera mengambil alih kotak di tangan ibunya, karena sudah terlalu lama didiamkan, kotak besi itu menjadi sedikit susah untuk dibuka. Jong In sempat berpikir kemungkinan kotak ini memiliki kunci, tapi ia salah, karena pada kenyataannya tidak ada lubang kunci di sana.

Sekuat tenaga Jong In berusaha membuka kotak itu, perasaannya makin penasaran. Apakah kotak ini berisi emas? Uang? Atau apapun itu yang sangat berharga?

Hingga pada tarikan terakhir sampai akhirnya kotak biru itu berhasil terbuka, karena menarik terlalu kuat Jong In sampai terjatuh, isi kotak itu berjatuhan, kumpulan amplop bewarna-warni yang masih sangat bagus, sontak Kim Il Seok mengambil salah satu dan membaca tulisan yang ada di amplop tersebut.

Dear Autumn?

 

 

Dear Autumn..

Hari ini tepat empat tahun sejak kita pertama kali bertemu dan Seminggu setelah kau bilang akan pergi.

Ini pertama kalinya aku menulis surat, apa kelihatan kaku? Aku benar-benar tidak pintar dalam merangkai kata-kata, kau tahu itukan?

Oh iya, maafkan ketidak dewasaanku beberapa hari lalu. Aku tidak bermaksud marah karena kau memilih untuk menggapai cita-citamu. Aku benar-benar minta maaf, dan mulai sekarang aku akan mendukungmu, jadi kita masih bisa berteman-kan?

Aku bingung bagaimana caranya untuk menghubungimu, jadi aku menulis surat ini dan sebentar lagi akan menitipkannya pada ibum, semoga surat ini sampai padamu.

Sekali lagi, mari berbaikan dan menjadi teman, aku akan menunggu balasan suratmu. Kim Jong In, semangat!

 

 

From : Your Spring.

 

 

TO BE CONTINUED

Iklan

20 pemikiran pada “Unforgiven Autumn [PROLOG]

  1. Ping balik: Unforgiven Autumn by Heena Park – EXO FanFiction Indonesia

  2. Autumn spring gitu huhuu lucuuu, kenapa justin bieber yaaa kak mgkn mau beda aja gitu ya karakternya heheh gapapa sih aku sukaaaa. Semangat teruuuus

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s