Forbidden Love Part XIV


forbidden love

 

 

FORBIDDEN LOVE

.

A FanFiction

by

Heena Park

.

Genre: Romance–Sad–Marriage Life//Ratting: PG-15//Lenght: Multichapter//StarringShin Hee Ra-Kim Jong In–Park Chan Yeol–Choi Ha Neul–Do Kyung Soo

.

Summary :

“Apa yang akan terjadi jika seorang wanita yang sedang patah hati memutuskan untuk menikahi pria dengan kelainan homoseksual?”

.

Follow my WATTPAD

Find me on FACEBOOK

.

Special performing Lu Han’

.

.

-FORBIDDEN LOVE-

Setelah lebih dari dua belas tahun, untuk pertama kalinya ia bisa kembali sedekat ini dengan Hee Ra. Memandang wajah gadis itu dengan leluasa dalam kedamaian dan berharap mempunyai waktu lebih lama untuk melakukan ini.

Semenjak sepuluh menit lalu Hee Ra tidak bergerak sama sekali, kedua matanya masih tertutup karena pengaruh bius yang diberikan oleh anak buahnya.

“Maafkan aku, mungkin ini terlalu kasar,” pria bersweater abu-abu dan bermata redup itu memindahkan poni yang menutupi wajah Hee Ra.

Tentu saja ia sangat senang karena berhasil membawa Hee Ra bersamanya walaupun menggunakan sedikit kekerasan. Sejujurnya ia sendiri tidak tahu kenapa melakukan hal seburuk ini, tapi menghampiri Hee Ra secara baik-baik tidak mencerminkan dirinya—mengingat dulu sejak jaman SD ia selalu datang mengganggu Hee Ra untuk menyembunyikan kenyataan bahwa ia menyukai anak itu.

Yah, semacam cinta monyet yang berlanjut sampai sekarang. Meski ia tahu kalau Hee Ra telah menikah dengan seorang konglomerat muda.

Bukankah lucu jika seorang pria tampan sepertinya tetap bertahan pada cinta monyet—atau lebih tepatnya cinta pertama—yang gagal dan melakukan segala cara seperti sekarang?

“Kau pasti akan sangat terkejut melihatku, Shin Hee Ra,” tersenyum tipis kemudian bangkit dan berjalan ke samping jendela untuk melihat apakah anak buahnya benar-benar berjaga di luar sana.

Sementara itu, Hee Ra yang mulai mendapatkan kembali kesadarannya-pun membuka mata perlahan dan mengerjap-ngerjapkannya. Untuk sejenak ia tidak tahu dan tidak berpikir sedang berada dimana karena seluruh tubuhnya terasa sakit, mungkin efek dari apa yang ia lakukan saat dimasukkan ke mobil tadi.

Percayalah bahwa Hee Ra adalah pemegang sabuk hitam Taekwondo, tapi jika sudah terkena bius seperti tadi, apa yang bisa ia lakukan?

Kepalanya pusing dan terasa berputar-putar. Setelah terlihat seperti orang linglung selama beberapa detik, Hee Ra akhirnya sadar sepenuhnya dan mulai mempertanyakan keberadaannya sekarang.

“Tempat apa ini,” gumamnya yang lebih terdengar untuk diri sendiri.

“Kau sudah bangun?”

Hee Ra menoleh begitu mendengar suara seorang pria dari samping. Pria itu berdiri sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku celana dan berjalan riang mendekati Hee Ra.

Merasa tidak nyaman, Hee Ra berusaha sedikit menjauh ketika pria itu menghampirinya dengan memojokkan diri ke ujung kasur dan mengangkat kedua lengan seolah bersiap menyerang.

Bukannya takut atau panik, pria itu malah mengangguk-anggukkan kepala, “Shin Hee Ra, aku tahu kau adalah pemegang sabuk hitam Taekwondo sejak SMP, tapi kau tidak perlu mengeluarkan jurusmu padaku.”

Hee Ra memicingkan matanya, menatap tajam ke arah pria itu siaga, “Siapa kau?”

Pria itu semakin menarik kedua ujung bibirnya lebar, “Kau mengenalku Shin Hee Ra.”

Mengenalnya?

Siapa?

Kapan?

Hee Ra menggeleng, perilaku pria ini sangat mencurigakan. Jangan-jangan ini adalah cara terbaru para penculik untuk mengelabui korban?

“Tidak, jangan berbohong. Aku bisa saja menghajarmu,” ancam Hee Ra serius.

Ya, benar. Hee Ra memang bisa menghajar pria itu sampai babak belur, dengan syarat ia tidak dikepung oleh banyak orang seperti tadi. Terlebih lagi, mereka semua berbadan besar.

Ia semakin mendekat, kali ini duduk di pinggir kasur dan menatap Hee Ra lekat-lekat. Menunjukkan ekspresi polos dan semurni mungkin, berharap Hee Ra akan mengingat siapa pria ini.

Ekspresi ini..

Tunggu dulu, Hee Ra merasa pernah melihatnya dulu. Entah berapa tahun lamanya, tapi ia yakin mengenanya . Seseorang sering menunjukkan ekspresi seperti ini padanya. Hee Ra sangat yakin akan hal ini, tapi otaknya tidak bisa berpikir cepat dan mengingat siapa orang itu.

Mungkin kejadiannya sudah terlalu lama hingga memorinya sedikit terganggu atau semacamnya. Hal yang lumrah kan?

“Kau benar-benar tidak ingat padaku ya?” pria itu akhirnya menyerah dan bergerak sedikit menjauh dari Hee Ra sambil tersenyum kecut. Tangannya membuka laci kecil di meja samping kasur dan mengeluarkan amplop coklat.

“Mungkin setelah melihat ini kau akan sedikit mengingatku,” harapnya lirih. Ia mengeluarkan secarik kertas dari amplop tersebut. Warnanya sudah menguning dan ujung kanan bawahnya sobek.

Ia mengangkat kertas tersebut tepat di depan mata Hee Ra dan menunjukkan tulisan yang lebih mengarah kepada anak kecil. Kertas itu berisi puisi khas anak kecil yang menceritakan tentang orang yang ia benci.

Ini…

Hee Ra mengingat sesuatu..

Ia yakin seribu persen bahwa puisi ini adalah ciptaannya dan ditujukan kepada seseorang. Ya, seseorang yang sangat ia benci dulu.

Apakah mungkin orang ini?

Hee Ra menyipitkan matanya, kali ini otaknya berputar lebih cepat. Tiba-tiba saja ia teringat pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Kala itu ia selalu diganggu oleh seorang pria kecil sampai menangis.

Setiap hari anak itu selalu mengganggunya. Mulai dari hal kecil sampai besar. Bahkan Hee Ra pernah hampir meninggal gara-gara terjatuh ke jurang. Tapi anehnya, ketika melihat Hee Ra kesakitan anak itu menangis dan berusaha menolongnya.

Ia tidak pernah membiarkan orang lain mengganggu Hee Ra selain dirinya. Tapi ia tiba-tiba menghilang. Hee Ra tidak pernah melihat anak itu lagi. Bahkan diseluruh kota. Mungkin kedengarannya bodoh, tapi memang beginilah adanya. Hee Ra merasa rindu ketika anak itu menghilang. Tidak ada orang yang mengganggu dan membuat hidupnya terasa seru lagi.

Dan anak itu bernama…

Lu Han.

“Kau?” benarkah? Apa ia benar-benar anak itu? Hee Ra menggigit pelan bibir bawahnya, keningnya mengkerut, “Lu Han?”

Sungguh, Lu Han hampir melonjak saking senangnya mendengar Hee Ra menyebut namanya. Dugaannya benar, Hee Ra masih mengingatnya meskipun itu memerlukan waktu yang lama untuk memancing kembali ingatannya keluar.

“Ya,” Lu Han mengangguk-anggukkan kepalanya cepat, “aku Lu Han. Aku yang sering mengganggumu dulu, dan aku tetap mengganggumu sampai sekarang,” Lu Han tersenyum lebar.

Kalau saja emosi dan perilakunya tidak terkontrol, pasti Lu Han telah memeluk Hee Ra sekarang. Tapi Lu Han sadar bahwa ia tidak boleh melakukan itu, karena sekali lagi, Hee Ra sudah menikah.

Tak bisa dipungkiri, mengetahui bahwa Lu Han masih hidup dan sekarang berada di depan kedua matanya berhasil membuat Hee Ra hampir menangis senang. Kenapa baru sekarang ia datang? Tidak tahukah Lu Han bahwa Hee Ra sangat merindukan teman—setengah musuh—masa kecilnya itu?

Dengan suara yang mulai serak, Hee Ra berusaha bertanya kenapa ia pergi dulu, “Kau pergi tanpa mengatakan apapun padaku. Kenapa kau sangat jahat? Aku sudah terbiasa dengan gangguan darimu dan kau meninggalkanku begitu saja.”

Lu Han membelai lembut rambut Hee Ra. Ini tidak berlebihan-kan? Tidak apa-apa-kan kalau ia melakukan ini pada Hee Ra?

“Maafkan aku Shin Hee Ra, saat itu kami sekeluarga pindah secara mendadak,” ia berhenti sebentar dan menarik napas dalam lalu mengeluarkannya. “Kalau aku tidak pergi saat itu, maka aku tidak akan bisa memiliki semua ini dan aku juga tidak akan bisa bertemu denganmu secara dramatis, bukan?” gumamnya lalu dilanjutkan dengan gelak tawa.

Hee Ra ikut tertawa, ia setuju pada Lu Han kali ini. Bukankah bertemu secara dramatis lebih mengasyikan?

“Ah, maafkan aku karena telah menculikmu. Sebenarnya aku pernah melakukannya dulu, tapi kata anak buahku kau menghilang,” Lu Han menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengegesan.

“Jadi kau yang hampir menculikku saat itu?” Hee Ra mengerucutkan bibirnya, tangan kanannya mengepal dan memukul pelan dada Lu Han. “Kau memang tidak pernah berubah, selalu saja menggangguku,” ujarnya dengan nada riang.

Brakk!

“Shin Hee Ra!”

Jong In membanting tumpukan berkas di tangannya ke lantai begitu mendapat kabar bahwa Hee Ra diculik dari So Ra. Perasaannya kalut dan khawatir, siapa yang berani menculik Hee Ra? Jong In tidak akan membiarkannya hidup.

Ia langsung menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Hee Ra dan ikut turun tangan ke jalan bersama So Ra, siapa tahu mereka bisa menemukan Hee Ra di suatu tempat.

So Ra yang saat ini duduk bersebelahan dengan Jong In di mobil bisa merasakan betapa paniknya pria itu. Ia sibuk menghubungi banyak orang, bahkan ketika mengendarai mobil sekalipun.

Hanya saja, dari semua percakapan Jong In dengan beberapa orang di telepon, ada sebuah percakapan yang membuat So Ra cukup tertarik. Cara Jong In berbicara dengan orang itu sangat berbeda dengan sebelumnya. Apa ada sesuatu yang mereka sembunyikan?

“Katakan padaku, apa kau yang melakukannya?”

Perubahan air muka Jong In terlihat jelas walaupun dari samping. Emosinya lebih terkontrol kali ini, ia seolah sedang berusaha sekeras mungkin agar tidak kedengaran khawatir.

Memang So Ra tidak bisa mendengar apa jawaban dari orang yang sedang berbicara dengan Jong In tersebut, tapi sekali lagi hanya dengan melihat ekspresi Jong In, So Ra bisa merasakan bahwa ada suatu ketidak percayaan yang menerpa pria itu.

Jong In menghela napas panjang, menggigit bibir bawah dan dagunya mulai mengeras, tapi percayalah bahwa suara yang keluar dari mulutnya terdengar begitu halus.

“Aku sedang tidak bermain-main, aku tahu kau sangat membencinya.”

Tunggu dulu, siapa yang dibicarakan oleh Jong In?

Apakah Hee Ra?

Jadi ada seseorang yang membenci Hee Ra?

Apakah ia kekasih Jong In?

“Aku sedang tidak main-main sekarang,” perlahan wajah Jong In mulai memerah. Bukan tanda malu, tapi marah.

“Sialan! Jika terbukti kau adalah pelakunya, maka kita selesai sampai di sini, Do Kyung Soo!” Tanpa menunggu balasan dari lawan bicaranya, Jong In langsung menekan tombol merah pada ponsel dan melemparkannya ke dashboard mobil.

Jujur saja, sebenarnya So Ra takut melihat Jong In seperti ini. Dia tidak menyangka bahwa Jong In akan sangat khawatir pada Hee Ra, bahkan mungkin melebihi rasa khawatirnya.

Tidak ada percakapan yang terjadi antara So Ra dan Jong In, atau bisa saja Jong In melupakan kehadiran So Ra di dekatnya karena terlalu khawatir pada Hee Ra. Sampai akhirnya ponsel Jong In berdering. Setelah melirik siapa yang menghubunginya, Jong In langsung meraih ponsel tersebut dan menerimanya tanpa mengunakan headset.

“Apa kalian sudah menemukannya?”

So Ra bisa menebaknya.

Pasti dari anak buah Jong In.

“Apa? Lu Han?”

Jong In lupa. Ia benar-benar lupa kalau pria itu memang sedang mengincar Hee Ra sejak lama, dan bukankah beberapa waktu lalu Jong In sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari dimana keberadaan orang itu?

“Sialan, bukankah aku pernah menyuruh kalian mencari orang itu dulu?” Jelas saja amarah dalam diri Jong In semakin memuncak setelah mengingatnya. Bagaimana mungkin anak buahnya bisa mengabaikan perintahnya untuk mencari orang itu hingga Hee Ra diculik seperti ini. “Katakan padaku dimana dia sekarang!”

Begitu mendapatkan alamat Lu Han, Jong In menengok ke arah So Ra dan berkata, “Aku sudah mendapatkannya. Kencangkan sabuk pengamanmu karena aku tidak ingin membuang-buang waktu.”

Kencangkan sabuk pengaman?

Belum sempat mencerna dengan baik perkataan Jong In, mobil yang mereka tumpangi sudah melaju lebih cepat dan bahkan sangat cepat. So Ra tidak pernah naik mobil secepat ini, ia bahkan tidak berani menghadap ke depan dan lebih memilih menutup mata.

Jong In yang seolah menggila, tanpa takut mengendarai mobilnya sekencang mungkin, membuat So Ra gemetar dan mengencangkan sabuk pengamannya. Sepanjang jalan akhirnya So Ra memilih untuk memejamkan mata dan berpegang erat pada jok mobil.

Entah berapa lama waktu yang mereka perlukan untuk sampai di tempat ini karena yang ada dalam pikiran So Ra adalah mereka sangat lama berada dalam mobil—efek rasa takut pada diri So Ra.

Namun Jong In tidak membiarkan So Ra untuk turun dan menyuruh agar tetap di dalam mobil karena mungkin akan berbahaya jika So Ra ikut.

Terpaksa So Ra hanya mengamati Jong In menghampiri anak buahnya yang sudah sampai lebih dulu, mereka berbincang sebentar—lebih tepatnya merencanakan sesuatu lalu masuk ke sebuah rumah dikelilingi gerbang tinggi dan jarak yang jauh dari tetangga.

Sementara beberapa anak buahnya sibuk menangani para pria berbadan besar yang sudah berjaga di sekeliling rumah, Jong In dan empat orang bersamanya menerobos masuk ke rumah itu.

Tentu saja di dalam juga memiliki pengawalan yang cukup ketat hingga ke-empat anak buahnya-pun turun tangan untuk menghadapi orang-orang itu.

Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Jong In bergegas menuju ke lantai dua, membuka setiap kamar yang ia lihat dan berharap menemukan Hee Ra. Sampai akhirnya ia sampai di depan pintu kamar paling ujung.  Jong In mencoba memutar knop pintu tapi tidak terbuka, dan baiklah, sepertinya mendobrak adalah pilihan terakhirnya.

Ia mengambil ancang-ancang, berharap tubuhnya sanggup mendobrak pintu sebesar itu, ya walaupun kemungkinannya kecil. Tapi tidak apa-apa, Jong In sedang berusaha sekarang. Sekali, dua kali, tiga kali, pintu itu tidak juga terbuka, sampai akhirnya Jong In berinisiatip mengambil kursi kayu yang berada tak jauh dari tempatnya, kemudian menghentakkan kursi tersebut dengan keras ke arah pintu dan berhasil!

“Shin Hee Ra!”

Pintu akhirnya terbuka, buru-buru Jong In masuk ke sana dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Hee Ra bersama seorang pria yang ia yakini bernama Lu Han.

“Aku akan mengirimu ke neraka!”

Tanpa permisi sedikitpun Jong In langsung menerjang pria itu, menariknya ke lantai dan memukulinya tanpa ampun. Hanya saja tidak ada perlawanan dari orang yang sekarang berada di bawahnya ini, bahkan Lu Han hanya berusaha menutupi wajahnya dari pukulan Jong In tanpa memukul balik.

Sementara Hee Ra berteriak dari belakang, menghampiri Jong In dan berusaha memisahkan mereka berdua.

“Kim Jong In, hentikan!” teriak Hee Ra.

Namun Jong In tidak menggubrisnya sama sekali, ia tetap melanjutkan perbuatannya dengan skala yang lebih keras.

“Kim Jong In!” Merasa frustasi pada Jong In, Hee Ra akhirnya melakukan ini. Ia berdiri di samping Jong In dan menendang pria itu hingga terjatuh ke lantai, “Hentikan, ku mohon!”

Apa yang ada dalam pikiran Hee Ra sebenarnya? Kenapa ia malah membela orang yang jelas-jelas telah menculiknya?

“Ada apa denganmu? Kau gila? Dia adalah pria brengsek yang menculikmu Shin Hee Ra!” protes Jong In penuh amarah.

Hee Ra menggelengkan kepalanya beberapa kali dan terduduk di samping Lu Han, membantu Lu Han bangkit dari lantai, “Kau tidak tahu,” ia berhenti sebentar. “Lu Han adalah temanku, Kim Jong In.”

Matanya membulat, seolah tidak percaya pada apa yang keluar dari mulut Hee Ra barusan, “Teman?”

Karena babak belur oleh pukulan Jong In, ia dan Hee Ra akhirnya mengantar Lu Han ke rumah sakit untuk diobati, sementara sambil menunggu, Hee Ra menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Jong In dan So Ra.

“Aku mana tahu kalau dia temanmu,” gumam Jong In berusaha membela diri.

Ya, sebenarnya ini juga bukan salah Jong In sepenuhnya. Lagipula tadi Jong In benar-benar mengkhawatirkan Hee Ra, jadi tidak aneh kalau ia langsung memukul Lu Han seperti itu.

“Sudahlah, yang penting Hee Ra selamat dan Jong In sudah tahu kebenarannya. Bukankah kau juga baru menyadari kalau Lu Han adalah temanmu setelah ia mengaku? Jadi kupikir kalau terjadi hal seperti ini tidaklah aneh.” Kali ini So Ra memberikan pendapatnya dan dibalas anggukkan oleh keduanya.

Hee Ra memang tidak bisa menyalahkan Jong In karena sebenarnya ini adalah salah Lu Han. Jadi kalau dipikir-pikir, Lu Han cukup pantas mendapatkan pukulan dari Jong In.

“Kalau begitu karena hari mulai siang, sebaiknya aku kembali ke kampus,” So Ra bangkit dari kursi dan menepuk pelan pundak Hee Ra lalu berbisik, “dia sangat mengkhawatirkanmu tadi,” tukasnya sembari tersenyum.

Hee Ra tahu yang dimaksud oleh So Ra adalah Jong In, dan sepertinya memang begitu, Hee Ra bahkan melihat secara langsung seberapa khawatir Jong In padanya tadi.

“Kalau begitu aku pamit dulu, aku akan menghubungimu nanti,” So Ra membentuk ibu jari dan kelingkingnya selayaknya telepon.

“Sopirku akan mengantarmu,” Jong In bangkit dan menghampiri seorang pria berbaju hitam di ujung koridor, lalu tidak lama kemudian kembali di tengah-tengah Hee Ra dan So Ra. “Itu dia, anggap saja sebagai balasan karena tadi kau berlari ke kantorku untuk memberitahu tentang Hee Ra.”

Ide bagus, setidaknya So Ra tidak perlu mengeluarkan uang untuk naik bus ke kampus. Dan soal berlari ke kantor Jong In, sebenarnya ia hanya berlari sejauh satu kilo karena tadi taksi yang ia tumpangi mogok begitu saja.

Setelah So Ra pergi, Hee Ra mulai tertawa kecil teringat pada ekspresi Jong In ketika melihatnya bersama Lu Han tadi. Ia tidak pernah melihat Jong In secemas itu sebelumnya, sungguh.

Ya, kenapa kau tertawa?” Jong In yang merasa aneh pada perilaku Hee Ra-pun melayangkan protesnya.

Ia menepuk-nepuk lengan Jong In dan berkata terbata-bata karena tertawa, “Kau harus melihat lucunya ekspresimu tadi, sayangnya aku tidak sempat merekam itu,” gumam Hee Ra lalu kembali tertawa.

Huh,” Jong In memalingkan wajahnya, “Aku benar-benar tidak menyangka kau semenyebalkan ini, Shin Hee Ra.”

“Tidak-tidak,” berusaha menghentikan tawa di bibirnya, Hee Ra menarik napas se-dalam mungkin dan menangkup kedua pipi Jong In, membuat pria itu kembali menatapnya, “Bagaimanapun, terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku, Superhero Kim.”

Mendengar Hee Ra menyebutnya ‘Superhero Kim’ cukup membuat Jong In merona. Ia belum pernah dipanggil seperti itu sebelumnya, dan ngomong-ngomong, Jong In menyukai nama itu.

Sekali lagi, keduanya merasa nyaman bersama satu sama lain. Tapi tidak berlangsung lama, tiba-tiba Jong In teringat pada Kyung Soo. Ia merasa bersalah karena tadi sudah menuduh pria itu tanpa memiliki bukti.

“Aku ke belakang dulu, jangan kemana-mana, aku tidak ingin kau menghilang lagi,” perintah Jong In yang dibalas senyum kecut dari Hee Ra.

“Kau pikir aku anak kecil?”

Tanpa menjawab pertanyaan retoris Hee Ra, Jong In hanya tersenyum simpul dan mulai menjauh menuju taman Rumah Sakit lalu duduk di salah satu bangku. Mencoba menghubungi Kyung Soo dan meminta maaf.

Bagaimanapun, menuduh seseorang adalah hal yang sangat buruk bukan?

Beruntung Kyung Soo masih mau menerima panggilannya, walaupun nada bicaranya sedikit dingin.

“Kenapa?”

Suara dingin Kyung Soo terdengar menyakitkan di telinga Jong In.

“Maafkan aku..pikiranku sedang kalut tadi, aku tidak berniat berkata seperti itu padamu.”

Permintaan maaf dari Jong In rupanya tidak cukup untuk membuat hatinya terbuka. Tentu saja harus ada hal lain yang cukup membuat hati Kyung Soo tergerak.

“Kau tidak mau memaafkanku?” suara putus asa keluar dari mulut Jong In. Memutar otak sebentar, mencari sesuatu yang bisa membuat Kyung Soo memaafkannya.

“Kalau begitu, bagaimana jika besok kita makan malam bersama? Aku akan meminta maaf secara langsung…kumohon…”

Kalau sudah seperti ini Kyung Soo tidak akan bisa menolak, mengingat waktu mereka untuk berduaan semakin menyempit dan bisa dibilang hampir tidak pernah selama satu minggu ini.

Jujur saja Kyung Soo sangat merindukan Jong In, apalagi ketika mendapat telepon dari Jong In tadi siang. Hatinya sangat berharap bahwa Jong In akan mengatakan rindu, tapi apa yang malah ia dapatkan? Cacian dan amarah hanya karena gadis menyebalkan pengganggu hubungannya.

 

To Be Continued

.

[Recommendation FanFiction]

wolf2

Klik me to read the fanfiction

Iklan

135 pemikiran pada “Forbidden Love Part XIV

  1. Aigooo ternyata luhan toh yg nyulik heera wkwkwk, kirain memang si kyungsoo yg culik heera😁. Luhan sih mau ktemu sma heera aja pake cara penculikan segala wkwkwk.

  2. astaga luhaaaaan???? biaskuuuu suamikuuu wkkkkk akhirnya bisa nemu jg cast luhan mskipun bukan main cast. smoga castnya luhan lama ya dsni. eh jongin cemburu n khawatir bgt ya heera di culik. uda ad rasa nih… duh kduanya sma2 biasku. heera…. gmna prasaanmu antara luhan sma jongin???? selingkuh sma luhan aj deh biar jongin tobat dlu sma kyungsoo :p kangen loh sm ff ni.. lma g update. sng bsa d share

  3. bener kann yang nyulik heera luhan,jongin khawatir bangett sama heera jangan jangan beneran ada rasa sama heera . luhan ih sukandehbsama karakter dia disini hahahaah . semangattt yaa eonnii !!!!

  4. Duh abang lulu bisa nyulik orang yaaa 😂😂😂
    Ga bayangin ada penculik seimut lulu…
    Cieeee yg kawatir cieeeee
    Keknya emg jongin uda mulai punya perasaan ke heera deh.
    Alhamdulilah ya allah doaku terjawab :’)
    Smoga engga kena pelet kyungsoo lgi.. :’)
    Ahh jin botol satu itu ngebetein

  5. Ternyata Luhan teman masa kecilnya Hee Ra hhihihi bakal malu jadi Jongin udah mukul Luhan gtu hhahaha
    Cusss ah ke part selanjutnya ^^

  6. Aku uda baca chapter ini atau belom ya ? Uda komen apa blom ya ? Lupaa >< ya sudah baca lagi deh .. 😂😂 duh ternyata luhan ya yg "nyulik" .. bikin khawatir aja kirain sapa gitu ..
    Itu juga kyungsoo nya kasian dituduh sama jongin hahaha pasti sedih banget 😂
    Btw tapi seneng banget deh pas liat jongin khawatir banget sama heera .. sweet" gimana gitu lol

  7. Huahahahahahah kok aku ketawa ya yang Jongin ngoceh-ngoceh dimobil:”( udah ngotot salah lagi:”D
    Luhan ya hm, jadi kangen yaampun.
    Gara-gara udah lama gak liat Luhan kok jadi susah dapetin feel Luhan diff ya hafftt.

  8. Nah bener luhan yg nyulik heera. Duh manisnya cara luhan narik perhatian heera ya, dgn cara mengganggu heera tiap hri. Pas bgian jongin khawatir sma heera aku seneng bgt, jongin itu udh mlai pnya rsa sma heera, tpi dia gk sdr. Wktu dia maki-maki kyungsoo nuduh klo kyungsoo yg nyulik heera ketahuan bgt klo dia udh syang sma heera. Dan pas dia nyari heera drmh luhan keren bgt, pas mukul luhan ugh, jongin manly. Yg drmh skit pas heera megang pipi kai trus bilang superhero kim dan pipi kai merona lucu bgt. Gk kbyang gmna klo mka kai merona. Wkwk. Jongin apa-apaan sih pke acara ngajak kyungsoo makan malam, okelah hal itu sbgai wujud permintaan maaf atas tuduhan tdi, tpi please ya jongin, udhan lh cinta sma kyungsoo. Sma heera aja.

  9. aissshhhh… aku kira luhan ada apa apa sama heera ato jongin ternyata cuma teman dan itu hanya iseng.. daebaakk cuma luhan yg bisa kayak gitu dan juga kyungsoo, aku kira yg di caci ama jongin itu nyonta parj tapi ternyata kyungsoo sangat malang nasib nak

  10. Dohhh kai protek heera bgt yaa. Luhan ampe dihajar begitu ckck btw kasian d.o di tuduh, malu si klo jadi kai kkk daebaaak like always.. btw pgn lanjut read tapi nextchap nye di protect nihh.. aku minta lewat dm ya chingu~ gomapta😁

  11. Wah…q melompat jauh nih dr sembilan ke 14 hahaha..kayaknya harus belajar romawi lg nih…Wkwkwk…terlanjur ke sini lanjut aja deh ya…yg terlewat besok2 diulang bacanya begitu dpt password…kok pede bgt y q..hehehe

  12. Yah.. Kenpa si Jong In masih mikirin si Kyung So emang dasar yah kalau udah cinta susah di pisahin hhuhuhu
    Keren yah temen masa kecil yang cinta monyet masih inhet nyampe dewasa hhuhu sweet juga dah.
    Cusss ah ke part selanjutnya ^^

  13. aku kira luhan orang jahat, eh ternyata temenya hee ra. lucu juga sih, kenapa harus di culik segala kalau ingin bertemu.
    jongin kenapa kamu hubungin D.O sih, udah sama hee ra aja..

  14. aku fikir yang culik Hee Ra itu musuh Jong In atau org yang tidak suka sm Jong in. ini malah yang culik teman Hee Ra sendiri. Luhan,,, Luhan klu mau buat org kejutan tdk usah pake culik segal, kah kasihan jongin -_-

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s