Forbidden Love Part XIII


 

forbidden love

FORBIDDEN LOVE

.

A FanFiction

by

Heena Park

.

Genre: Romance–Sad–Marriage Life//Ratting: PG-15//Lenght: Multichapter//Starring: Shin Hee Ra-Kim Jong In–Park Chan Yeol–Choi Ha Neul–Do Kyung Soo

.

Summary :

“Apa yang akan terjadi jika seorang wanita yang sedang patah hati memutuskan untuk menikahi pria dengan kelainan homoseksual?”

.

♣Follow my WATTPAD

♣Find me on FACEBOOK

.

.

-FORBIDDEN LOVE-

 

Apakah Chan Yeol juga merasakan hal yang sama ketika Hee Ra menikah dengan Jong In waktu itu? Atau mungkin lebih sakit dari apa yang dirasakan Hee Ra sekarang? Kalau saja Jong In tidak mendapatkan undangan pasti Hee Ra lebih memilih untuk duduk di rumah berusaha mengabaikan hari bersejarah ini.

“Kau sudah siap?”

Jong In yang tiba-tiba membuka pintu kamar Hee Ra tanpa permisipun bahkan tidak membuat gadis itu terkejut. Tangannya lemas namun tetap berusaha menggambar alis coklat yang entah sejajar atau tidak.

“Sebentar lagi. Kau bisa menungguku di mobil kalau mau,” jawabnya pelan.

Tentu saja Jong In paham hari ini pasti sangat berat bagi Hee Ra. Sebenarnya tadi pagi Jong In sudah memberikan Hee Ra masukan agar ia tidak ikut dan tinggal di rumah, tapi Hee Ra menolak, ia bilang akan aneh jika Jong In datang seorang diri mengingat mereka sudah menikah. Pasti akan timbul gosip-gosip baru yang tak mengenakkan antara keduanya kalau hal itu sampai terjadi.

“Baiklah, kalau begitu aku memanasi mobil dulu. Kita berangkat tanpa sopir saja, akan lebih baik jika seperti itu karena kita bisa membicarakan sesuatu dengan santai.”

Menanggapi perkataan Jong In barusan, Hee Ra hanya mengangguk beberapa kali dan kembali fokus ke cermin. Otaknya mulai berpikir, haruskah ia berdandan untuk pernikahan kekasihnya dengan wanita lain? Bukan, tapi yang lebih tepat, haruskah ia datang? Kenapa Hee Ra membiarkan hatinya patah jika tahu ada pilihan lain?

Baru saja Jong In hendak berbalik keluar dari kamar Hee Ra, terdengar Hee Ra memanggil nama pria itu.

“Kim Jong In…”

Oh tidak, suara ini. Begitu lemah dan penuh akan kepasrahan. Sekarang Jong In tahu seberapa besar cinta Hee Ra pada Chan Yeol hanya dengan mendengarkan nada suara penuh putus asa yang barusan keluar dari mulut Hee Ra.

Jong In menengok ke arah Hee Ra, dahinya mengkerut penuh tanya, “Ya?”

Lantas Hee Ra menaruh pensil alisnya, perlahan bangkit dari meja rias dan berjalan mendekati Jong In. “Aku sudah selesai, apa aku sudah kelihatan cantik untuk datang ke sana?”

Kalau saja Jong In seorang wanita, ia pasti sudah menangis mendengar perkataan Hee Ra barusan. Betapa kuatnya Hee Ra hari ini, dengan perasaan sehancur itupun ia masih bertanya apakah penampilannya sudah mendukung untuk datang ke pernikahan Chan Yeol.

Kepalanya menunduk, dengan lembut rambut hitamnya terurai jatuh menutupi hampir sebagian muka Hee Ra. “Aku tidak ingin mengecewakan Chan Yeol. Aku harus berdandan secantik mungkin dan kelihatan sebahagia mungkin karena memang seharusnya begitu.” Matanya mulai berair, tanpa isakkan sedikitpun Jong In tahu bahwa Hee Ra ingin menangis namun tertahan.

“Bukankah kita harus bahagia jika seseorang akan menikah, Kim Jong In?”

Pernyataan bodoh darimana itu? Tidak ada kewajiban seperti itu Shin Hee Ra. Jong In beranjak menuju meja rias Hee Ra dan mengambil sesuatu lalu kembali menghampiri Hee Ra. Namun kali ini ia berdiri tepat di belakang Hee Ra. Kedua tangannya sibuk menyatukan rambut gadis di depannya dan berakhir dengan mengikatnya.

Setelah melakukan hal itu, Jong In memegang kedua pundak Hee Ra. Memutar badannya hingga menghadap Jong In dan mendongakkan wajah Hee Ra sehingga kedua bola mata mereka saling bertemu.

“Kau..kelihatan lebih cantik jika rambutmu di ikat,” Jong In berhenti sebentar dan menggenggam tangan kanan Hee Ra, “Ayo berangkat. Kau tidak ingin mengecewakan Chan Yeol dengan datang terlambat bukan?”

 

“Aku ingin menyapa rekanku sebentar, jangan kemana-mana.”

Dua kali anggukan dari Hee Ra nampaknya cukup untuk membuat Jong In lega. Ia bergegas menghampiri Tuan Han yang berdiri tidak jauh dari mereka, sementara Hee Ra tetap pada posisi awalnya. Ia juga tidak memiliki keinginan untuk pergi ke ruang tunggu pengantin wanita atau menghampiri Chan Yeol yang sibuk menyalami para tamu.

Sekali saja sudah cukup bagi Hee Ra. Hampir saja tangisannya pecah ketika pertama kali menginjakkan kaki di gedung ini. Melihat Chan Yeol sudah berdiri dan mengulurkan tangan menyambut kedatangannya merupakan pukulan tersendiri bagi Hee Ra. Untung saja saat itu Jong In berada di belakangnya, menumpu lengan kiri Hee Ra dan berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Well, lihat siapa yang datang.”

Refleks Hee Ra menengok, matanya membulat mendapati Nyonya Park telah berdiri di sampingnya. Saling menyilangkan kedua lengan dengan tatapan penuh kepuasan.

“Tentu saja, kau sudah mendapatkan yang lebih kaya sehingga dengan mudahnya melepas Chan Yeol.”

Bisakah Hee Ra pergi sekarang?

Mendapati ekspresi tegang yang nampak jelas pada raut wajah Hee Ra, Nyonya Park semakin senang. Ia menepuk pundak Hee Ra dan menunjuk ke arah Chan Yeol, “Lihatlah, putraku nampak lebih baik setelah kau pergi bukan? Haha, sekarang aku merasa kasihan pada Jong In. Dia harus menikah dengan wanita sepertimu yang hanya menginginkan hartanya saja.”

Ini sudah keterlaluan! Bagaimana mungkin kalimat murahan seperti itu keluar dari mulut orang yang katanya berpendidikan?

Kalau saja orang ini bukan Nyonya Park, Hee Ra pasti sudah menamparnya sekeras mungkin.

“Apakah anda sudah selesai?” Hee Ra berhenti sebentar, “kalau begitu biarkan saya pergi, dan saya tidak seburuk yang anda katakan.”

Terlepas dari perasaannya yang makin terluka, Hee Ra berusaha tegar dan berniat untuk menjauh dari Nyonya Park. Tapi baru saja ia melangkahkan kaki, lengan kanannya ditarik oleh Nyonya Park dan sebuah tamparan hampir saja mendarah di pipinya, tapi kejadian itu tidak berjalan mulus, seseorang tiba-tiba saja menghalangi tangan kanan Nyonya Park yang telah melayang ke arah Hee Ra.

Sontak keduanya terkejut, tidak hanya itu, beberapa orang yang berada disekitar merekapun menyaksikan kejadian itu. Sungguh memalukan, terlebih bagi Nyonya Park. Bagaimana mungkin ia bisa berlaku seperti itu disaat penting seperti ini?

“Apa masalah anda hingga berniat menampar istri saya?” Jong In semakin mengencangkan tekanannya pada lengan Nyonya Park hingga wanita setengah baya itu merasa kesakitan.

“Lepaskan aku!” Perintahnya kesal, “Bodoh! Kau membela wanita yang salah! Gadis ini adalah wanita muraha—“

“Mom!”

Kali ini giliran Chan Yeol, ia datang menghampiri ibunya dengan penuh amarah. Apakah tidak cukup baginya untuk melihat Chan Yeol menikah dengan Ha Neul? Kenapa ibunya masih saja menghina Hee Ra bahkan di depan puluhan tamu seperti ini? Chan Yeol benar-benar tidak menyangka bahwa ibunya akan berbuat senekad ini. Terlebih lagi sebagian besar para tamu adalah petinggi dan pejabat yang otomatis akan berpengaruh pada kehidupan Jong In yang notabennya adalah suami Hee Ra.

“Hah, bagus sekali. Jadi sekarang putraku juga datang untuk membela wanita murahan ini?”

Apakah Nyonya Park sengaja? Bahkan seisi ruangan bisa mendengar kalimat pedasnya barusan.

“Cukup mom! Sudah kukatakan bahwa Hee Ra bukanlah wanita murahan, apakah tidak cukup dengan memaksaku untuk menikah dengan Ha Neul?” Bagus Park Chan Yeol. Ia berbalik menyerang ibunya dengan pertanyaan itu. Kalau begini orang-orang pasti akan tahu bahwa pernikahan Chan Yeol dan Ha Neul adalah sebuah paksaan.

Menyadari orang-orang mulai membicarakan apa yang baru saja keluar dari mulut Chan Yeol, Nyonya Park buru-buru mengelak, “Apa maksudmu? Jangan bicara yang tidak-tidak Park Chan Yeol!”

“Kalau begitu seharusnya mom juga tidak asal bicara!”

Sial.

Chan Yeol sudah tidak bisa menahannya lagi.

Ia tahu ini kasar dan berlebihan, tapi ibunya sudah melewati batas kesabaran yang dimiliki manusia.

Nyonya Park menyumpah dalam hati. Kalau saja Chan Yeol tidak nekad ia pasti sudah menghancurkan harga diri Hee Ra saat ini juga. Tapi ia tidak bisa bertindak gegabah, pernikahan anaknya lebih penting daripada menghancurkan Hee Ra untuk saat ini.

Jong In yang semula diam kini telah menggenggam tangan Hee Ra, “Sudahlah. Lebih baik kita pergi dari sini. Acara ini benar-benar tidak penting,” Jong In menarik Hee Ra untuk lebih dekat dengannya. “Dan tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormatku pada anda, terimakasih atas undangannya. Ku harap anda segera berbenah diri, karena maaf sekali, sesungguhnya Hee Ra jauh lebih baik daripada anda, Nyonya Park.”

Jong In melepas jasnya dan memakaikannya pada Hee Ra yang masih tertunduk kemudian merangkul pinggang gadis itu sambil mengajaknya berjalan keluar dari gedung ini.

Sungguh, kali ini Jong In benar-benar merasa bersalah pada Hee Ra. Ia tidak tahu bahwa kejadiannya akan menjadi serumit ini. Lagipula, perkataan Nyonya Park tadi merupakan bom bagi dirinya sendiri bukan? Bukankah setelah ini orang-orang yang hadir di sana akan mulai berpikir bahwa Nyonya Park adalah wanita yang penuh kebencian dan tidak memiliki sopan santun?

Sesampainya di samping mobil, Jong In menenggelamkan Hee Ra dalam pelukkannya dan membiarkan gadis itu terisak. Ia tidak menyuruh Hee Ra menghentikan tangisnya karena Jong In paham betul bahwa Hee Ra benar-benar terluka. Bahkan Jong In semakin mempererat dekapan serta membelai lembut rambut Hee Ra.

Tidak apa-apa, ia akan meminjamkan bahunya untuk Hee Ra, karena untuk saat ini hanya itu yang bisa Jong In lakukan.

“Maafkan aku Shin Hee Ra, seharusnya aku tidak meninggalkanmu tadi..maafkan kebodohanku.”

 

 

Tidak tahu harus berbicara apa, sepanjang perjalanan hanya keheningan yang terasa. Jong In juga tidak sampai hati jika harus membicarakan soal rencana kehamilan palsu Hee Ra karena ia sangat mengerti jika hari ini perasaan gadis itu benar-benar sedang tidak baik.

Tiba-tiba saja Jong In teringat sesuatu. Mobil yang semula mengarah ke rumah itupun berputar balik menuju tempat lain. Tentu saja Hee Ra tidak menyadari hal ini karena sedaritadi yang ia lakukan hanya terdiam dan melamun.

Semoga saja hal ini bisa menghibur Hee Ra walaupun hanya sedikit. Setidaknya Jong In sudah berusaha bukan?

Mereka berhenti di taman parkir, sementara Hee Ra masih sibuk pada pikirannya, Jong In mengirim sesuatu kepada anak buahnya dan tersenyum tipis. Mereka berdiam diri di mobil selama hampir sepuluh menit sampai akhirnya Jong In mendahului keluar. Ia buru-buru membukakan pintu untuk Hee Ra dan menepuk pelan pundak gadis itu untuk menyadarkan dari lamunannya.

“Keluarlah, kita sudah sampai,” Gumam Jong In sembari mengulurkan tangannya.

Hee Ra menyambut uluran tangan Jong In dan keluar dari mobil. Pikirannya masih kacau sehingga ia tidak berpikir mereka berada dimana sekarang. Yang ia tahu hanya mengikuti perkataan Jong In dan jangan protes. Itu saja sudah cukup.

Jong In menuntun Hee Ra untuk berdiri tidak jauh dari sebuah menara. Kali ini Hee Ra mulai bingung, pikirannya telah kembali fokus dan bertanya-tanya untuk apa mereka pergi ke Namsan Tower, terlebih lagi hari sudah gelap dan sepi.

“Kau tahu Shin Hee Ra? Jika perasaanmu segelap malam, maka aku akan memberimu bintang untuk menyinarinya.”

Jong In tersenyum tipis, sementara Hee Ra masih tidak mengerti pada apa yang dikatakan oleh pria disampingnya tersebut. Keningnya mengkerut penuh tanda tanya, namun hal itu teralihkan ketika tiba-tiba saja tanah tempat mereka berpijak diterangi lampu warna-warni.

Bukan hanya itu, bahkan menara yang berada di depan merekapun juga mendapatkan pancaran cahaya dari sebuah helikopter yang berada dibelakang keduanya. Tidak berhenti sampai disana, lampu warna-warni yang awalnya tak beraturan itupun mulai membentuk kata-kata. Tersusun dengan begitu rapi berucap ‘Tersenyumlah Shin Hee Ra!’ pada dinding panjang menara.

Hee Ra yang tak kuasa menahan rasa senangnya hampir saja meneteskan air mata. Ia tidak menyangka bahwa Jong In akan melakukan hal seperti ini hanya untuk menghiburnya.

Ya Tuhan, kalau saja Hee Ra boleh egois, maka satukanlah mereka untuk seterusnya.

Dan yang lebih hebat lagi, tidak lama kemudian munculah kembang api dari belakang menara. Seperti yang diucapkan Jong In tadi, kembang api itu bagaikan bintang yang menerangi kegelapan dalam diri Hee Ra saat ini.

Apakah ini berarti bahwa Jong In-lah sang bintang sebenarnya? Kenapa ia selalu ada ketika Hee Ra membutuhkannya?

Bagaimana kalau nanti Hee Ra jatuh hati pada Jong In? Bagaimana kalau nanti Hee Ra berkeinginan untuk bersama Jong In? Jujur, ia sangat takut jika hal itu terjadi. Terlebih lagi Jong In yang selalu bersikap baik padanya. Apakah pria itu tidak mengerti bahwa perlakuannya itu bisa membuat seorang gadis jatuh cinta? Kenapa dia sangat tidak peka?

“Kim Jong In..”

Tanpa membalikan wajahnya, Jong In membalas panggilan Hee Ra, “Hm?”

Hee Ra membuang napasnya pelan, memandang wajah Jong In dari samping, “Terima kasih..terima kasih untuk segalanya.”

Sempat terdiam selama beberapa detik, Jong In akhirnya memutar tubuhnya, kedua matanya menatap dalam-dalam bola mata Hee Ra, “Berjanjilah padaku..kau tidak akan membuang air matamu hanya untuk wanita tadi,” kedua ibu jarinya mulai bergerak menghapus bulir air mata Hee Ra.

“Air matamu terlalu berharga untuk itu, Shin Hee Ra,” lanjut Jong In yang kemudian kembali menarik Hee Ra dalam dekapannya.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Jong In mulai merasa nyaman dan tenang hanya karena memeluk Hee Ra. Mungkin efek dari kejadian di Maldives beberapa waktu lalu, disaat mereka berciuman untuk pertama kalinya. Tapi entah kenapa sekarang hanya dengan memeluk Hee Ra, ia seolah memiliki kekuatan lebih dan timbul keinginan untuk selalu melindungi gadis itu, bahkan jika itu berarti ia harus mempertaruhkan nyawanya.

Drrttt

Sial. Siapa yang berani menganggu moment indah seperti ini?

“HP mu,” Hee Ra mendongak, memberitahu Jong In bahwa ponsel pria itu bergetar.

Menyebalkan sekali, kenapa ponselnya harus bergetar disaat yang tidak tepat? Akhirnya mau tak mau Jong In merogoh sakunya dan melihat siapa yang menghubunginya.

“Ah..”

Desahan berat seperti itu, sepertinya Hee Ra tahu siapa yang menghubungi Jong In.

“Ya Kyung Soo? Kenapa?”

 

 

“Sialan! Lagi-lagi aku terlambat!”

Nada penuh amarah seorang pria terdengar jelas hingga membuat dua bodyguardnya terkejut. Pria itu membanting ponselnya ke meja dan menjambak rambutnya kencang.

“Persiapkan diri kalian, besok aku ingin mendapatkannya. Aku akan ikut andil,” Ia berhenti sebentar, menatap tajam pada dua pria berbadan kekar di hadapannya, “dan aku tidak ingin sampai ada yang tertangkap lagi. Jadi persiapkanlah sematang mungkin.”

Matanya memicing, tersenyum licik penuh keyakinan bahwa esok akan berhasil. “Keluarlah dari kamarku dan cepat persiapkan segalanya. Kalian tahukan apa yang akan terjadi jika sampai aku kecewa?”

Melihat seringaian sang bos, kedua pria itupun bergidik ngeri. Mereka mengangguk dan segera keluar dari kamar bosnya tersebut. Kali ini tidak boleh gagal. Mereka tidak mau mempertaruhkan nyawa jika bosnya marah.

 

 

Rupanya kemarin cukup melelahkan bagi Hee Ra. Ia terbangun dengan badan pegal dan kantung mata. Tapi tidak masalah, ia harus tetap pergi ke kampus hari ini, mengingat sudah lebih dari seminggu ia tidak hadir sekalipun.

Begitu keluar kamar terlihat Jong In sedang sibuk memakai dasi sambil mengapit ponsel diantara telinga dan bahunya. Menyadari kehadiran Hee Ra, Jong In segera menutup panggilannya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.

“Kau pergi ke kampus hari ini?” Tanyanya.

Hee Ra mengangguk, “Hm, aku tidak ingin mempertaruhkan nilaiku. Kau tahukan aku sudah tidak hadir selama hampir dua minggu?”

“Kau sudah sarapan? Aku akan mengantarmu ke kampus,” kali ini Jong In menyodorkan selembar roti panggang kepada Hee Ra, namun gadis itu mengibas-kibaskan tangannya. “Aku sudah sarapan tadi, lagipula itu milikmu, jadi habiskanlah.”

Setuju pada perkataan Hee Ra, Jong In menggigit rotinya dan mengambil kunci mobil di meja. Mereka berjalan bersama keluar rumah, namun ada yang aneh akhir-akhir ini, entah kenapa Jong In lebih sering mengendarai mobil sendiri daripada menggunakan sopir. Sungguh, pria itu tidak pernah menggunakan sopir jika pergi bersama Hee Ra.

“Ah ya, kau pulang jam berapa hari ini?” Jong In melirik Hee Ra yang duduk disampingnya kemudian kembali fokus pada jalan.

Merespon pertanyaan Jong In, Hee Ra melihat jam di tangannya dan berpikir sejenak, “Hmm..mungkin setengah empat.”

“Kalau begitu aku akan menjemputmu,” Jong In berhenti sebentar, memberi jeda. “Kalau aku ada rapat mendadak, akan ada sopir yang menjemputmu nanti.”

Ahh, tidak usah repot-repot, aku bisa pulang bersama So Ra,” gumam Hee Ra.

Jong In menggeleng, “Begitu juga boleh. Kau bisa pulang bersama So Ra dan akan diantar oleh sopirku.”

Ya, bukan begitu maksudku.”

Jong In membuang napasnya berat, “Jadi maksudmu kau akan pulang bersama So Ra menggunakan kendaraan umum? Tidak Shin Hee Ra. Itu tidak aman bagimu. Sudahlah, aku tidak mau berdebat. Kau harus mengikuti kemauanku kali ini.”

Kim Jong In, sang pemaksa ulung. Pada akhirnya Hee Ra tidak memiliki pilihan kecuali mengiyakan keinginan Jong In.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan menghubungimu nanti,” Hee Ra mengambil tas lengannya dan keluar dari mobil yang telah berhenti di depan kampus. “Hati-hati di jalan, jangan lupa luangkan waktu untuk makan siang, Kim Jong In,” sambung Hee Ra yang dibalas anggukan dari Jong In.

Begitu selesai berpamitan, Jong In segera menyalakan mobilnya dan bergegas ke kantor, sementara Hee Ra sibuk mencari keberadaan So Ra. Mereka telah berjanji untuk bertemu di depan gerbang kampus, namun So Ra tidak ada.

Sekitar sepuluh menit menunggu, Hee Ra mendengar teriakkan seorang gadis dari arah kampus. Ternyata So Ra, ia sedang berlari menghampiri Hee Ra. Refleks saja Hee Ra melambaikan tangannya ke arah So Ra sebagai tanda panggilan bagi gadis itu.

Hee Ra bahkan berniat untuk berlari ke arah So Ra juga. Ia hendak melangkahkan kakinya, namun sebelum itu terjadi, seseorang tiba-tiba saja menyekap mulutnya dari belakang dan menyeretnya ke dalam sebuah mobil.

Beberapa mahasiswa yang melihat kejadian itu berusaha menolong namun beberapa orang lain berbadan besar menodongkan pistol ke arah mereka sehingga tidak ada yang berani mendekat.

Sementara So Ra mempercepat larinya dan hendak menolong Hee Ra, ia menerobos kerumunan dan terlonjak ketika mendapati seorang pria menodongkan pistol tepat di depan wajahnya.

Setelah memastikan Hee Ra masuk ke dalam mobil, para pria berpistol itu segera menyusul masuk ke mobil kedua dan pergi sambil menembakkan peluru beberapa kali ke arah mahasiswa.

So Ra yang kebingungan sontak berteriak memanggil nama Hee Ra. Ia hampir kehilangan akal sehatnya dan berniat untuk mengejar mobil yang membawa Hee Ra, namun beberapa mahasiswa lain menahannya dan menyuruh agar So Ra segera menghubungi Jong In sementara mahasiswa lain melaporkan pada dosen.

Tapi bagaimana caranya? So Ra bahkan tidak tahu berapa nomor ponsel Jong In dan Hee Ra sedang dalam bahaya!

Tidak ada pilihan lain, So Ra harus pergi ke kantor Jong In dan memberitahu pria itu secara langsung bahwa Hee Ra diculik. Ia harus bergegas secepat mungkin sebelum orang-orang jahat itu melukai Hee Ra.

So Ra tidak akan pernah mengampuni dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk sampai terjadi pada Hee Ra. Ia berjanji akan hal itu.

 

 

TO BE CONTINUED

.

♣♣♣

.

VOTE PLEASE

.

Iklan

161 pemikiran pada “Forbidden Love Part XIII

  1. Setelah ditunggu tunggu akhirnya update juga Forbidden Lovenya…
    Ahh kasihan Heera, siibunya Chanyeol jahat mulut ke Heera…
    Ahh Jongin so sweet banget ihh… bikin Heera baper ajaa…
    Siapa tuh yang nyulik Heera? Kyungsoo kah?? Ahh penasaran…

  2. aaaaah..sweet gilak >< ya kali dikasih kejutan modal banget kek gitu, siapa yang nggak meleleh coba :v dan.. oke, gue penasaran siapa yang nyulik Heera. jangan bilang Kyungsoo '-' plis, bias gue sudah cukup ternistakan di sini :'v
    uuuumm… author-nim, sebelumnya gue mau minta maaf karena baru bisa komen di sini. ampuuun.. tapi gue udah tobat kok. mulai sekarang bakalan tinggalin jejak 😉 keep writing 😀

  3. ihhh sikap jongin bikin baper nih…
    so sweet bgt hahaa
    ibunya chanyeol gtu amat.. terlalu…
    nah loh masih aja ada yg niat bgt nyulik hee ra.. emang maslahnya apa coba??
    yg pasti gw yakin ada hubungannya sm jongin deh
    ok d tunggu nextnya ya
    jgn lama2 klo bisa hahahaa #maksa

  4. Ommooo aduh deg”an sedih seneng gregetan .. Ah jongin makin so sweet, itu yg nyulik kyungsoo ya?? emak ny chanyeol nyebelin banget 😠

  5. Ya ampun lama bangget nunggu ff ini di posting, sempet ngira kalo ff ini bakal gak dilanjut huuhuuu. Semangaaat nglanjutin ff ini ya thor, bener2 bagus banggggeeet. Bahasanya sederhana tp bikin greget critanya, selalu ditunggu next chap

  6. huwaaaaaaa sekian lama aku menunggu
    betewe ini tebecenya cepet banget huhuuuu
    heera diculik. semoga jongin bisa bebasin heera

  7. btpa sakitnya menghadiri pernikahan kekasih sndri hiks hiks hiks tak terbayangkan lah miris bgt. pa lg d hina sma emaknya chan pula d tonton bnyak orang ckckckck dsar emaknya chanyeol mah g bsa diem mulutnya. untung jongin sll dtg dsaat yg tepat yeay prince jong kkkkk

  8. Halooo, thor, mau ninggalin jejak nih, hihi
    dulu kayaknya aku pernah baca ff di sini tapi lupa kapan,
    lagi sercing2 trus dapet ff menarik langsung kebut deh bacanya, hihi
    cerita menarik ini, kayaknya jong in sama heera udah mulai suka satu sama lain nih,
    dan penasaran binggo sama yg nyulik heera, kyungsoo kah atau malah emaknya chanyeol😱

  9. Kangenn banget sama nih fanfic kak. Akhirnya nongol juga udah sekian lama. Si Hee ra lemah banget sih, lawan aja tuh sih Ny. Park. Kesel gue. Siapa tuh cowo? Kyungsoo kali ya. Penasaran, ditunggu next nya kak.

  10. woowww…
    ada penculikan ini…
    jadi ikut deg2an,,,siapa yang nyulik? hehehe…
    sedih nih chap ini, soalnya heera nya kasian di pesta chanyeol…
    hiks….
    ditunggu banget lanjutannya…
    gomawoyo..

  11. emaknya chanyeol parah banget ya benci banget dia ama si hee ra gua berharap dia dibales sama mantunya yang namanya haneul yang selalu dia banggain itu kesel gua kesel…

    jongin sebenernya gimana perasaan mu sama heera?
    jangan bikin dia melayang terlalu tinggi kalo nantinya kamu hempaskan dia kedasar udah cukup berat hidupnya gua sayang hee ra krik..krik..krik….

    itu ko si hee ra diculik sih ayo sora semangat samperin jongin ke kantornya biar hee ra cepet diselametin

  12. apa aku lupa ingatan?
    apakah aku sudah komentar sebelumnya?
    jgn bilang tidak karena aku juga tidak tau…..lupa aing

    eh udah baca ff lanjutannya aje nih aing……
    intinya sih suka sama ff ini

  13. apa aku lupa ingatan?
    apakah aku sudah komentar sebelumnya?
    jgn bilang tidak karena aku juga tidak tau…..lupa aing

    eh udah baca ff lanjutannya aje nih aing……
    intinya sih suka sama ff ini

  14. Wuiiiihhhhh jong in💞💞 lopek bgt lah sama ff satu ni. Kece badai, kerenzzzz sukak banget. Ceritanya makin lama makin seruuu, nggak sabar mau baca lagi. Btw nasibnya kyungsoo gmn yah😂😂 semangat nulisnya kak

  15. Yaampun diriku ketinggalan update nih ff 😢
    Udah brapa bulan gak di post finally yahh wahh thanks banget kak udah berkurang rinduku sama kai-hera 😀😀

    Itu siapa lagi nyulik heera???

  16. Wah udah lanjut ya: (
    Baru sempet menjelajahi ff lagi huhu, baru baca udah dapet suguhan Heera nangis: ( tolong ya itu Ny. Park nya minta banget dijemur diatap uh.

    Wah harusnya Sora hafalin plat nomor mobilnya tuh’O’)b

  17. Ahhh….. akhirnya muncul juga!! Di kira gk d lanjutin lagi!!!
    Tapi, ff nya sweet banget….
    Keep Writing ♡♡♡

  18. Heera tegar jg ya jadi cwe, masih sanggup buat dtg ke acara nikahan chanyeol, salut deh ngliatnya. Duh, itu mamanya chan maunya apa sih? Gak bosen2 apa ngejudge heera mulu? Kesel deh ngeliatnya😠. Itu siapa sih yg nyulik heera? Duh,  semoga heera bisa bebas dari penculikan itu secepatnya deh😱

  19. hwaaaa jongin so sweet bangett aaaà apa banget sih nyonya park ,kamu ga tau apa yang terjadi sebenarnya janagan menghakimi heera seperti itu jangan bilang yang nyulik heera luhan aa makin penasaran apa motiv penculik nyulik heeraa semangatt eonni!!!

  20. Ibunya chanyeol si valak versi manusia 😂 gue doain cepet enyah deh elu ye…
    Kampret bner itu mulut.. skit empedu gue bacanya.
    Jongin homo tp kok sweetnya kebangetan sih :’)
    Bgus deh di chap ini no DO. Duh males klo ada si jin btol 😂
    Btw itu siapa yg nyulik heera? -,- buat apaan coba

  21. aq bner2 nyesel gk update ff ini.. dulu aq biarin ff ini gitu aja soalnya main cast nya jongin *bkn biasnya jongin.. tp ternyata ff ini punya daya tarik di summarynya makanya aq kepo.. n trnyata ni ff bner2 keren.. authornya daebak

  22. Mamanya chanyeol jhat bgt sih, ngatain-ngatain heera kyak gitu, gk nyadar diri bgt deh si nyonya park. Ugh jongin so sweet bgt, prlakuannya buat heera yang ampun bkin hati meleleh. Wkwk. Dan siapa yg bica diam-diam sma bodyguard itu. Kok ak ngerasa klo itu luhan ya. Soalnya wktu jongin honeymoon kmren bodyguardnya bilang yg mau nyulik heera itu luhan. Ah pnsaran, heera skrng diculik lagi. Aduhhh

  23. Hikz br sempet baca again😣 seruu like always, daebaak haha jadi nyesek klo jadi heera, hrs ngalamain kejadian macem gitu di acara nikahan chanyeol. Untung kai peka buat ngehibur.. ending nye bikin kepo why heera tau2 diculik.. daebak chingu🐯 #lanjut next chap

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s