Something Like Love


something

Heena Park Present

SOMETHING LIKE LVE”

Byun Baek Hyun//Jung Min Hyun

OneshootGeneralRomanceSchool Life

*Ps : FanFic ini adalah pesanan dari teman author hehe

 

“Berhentilah , kau hanya membuang-buang uang.”

Untuk sekian dan kesekian kalinya aku mendengar kalimat itu. Ibuku selalu mengatakannya ketika aku akan pergi ke Supermarket yang berada di persimpangan jalan. Baiklah, sebenarnya ibuku tidak berlebihan, justru aku yang kelihatan aneh di sini.

Setiap hari, tepat pada pukul delapan aku selalu menyempatkan diri untuk pergi ke Supermarket, untuk sekedar membeli sekaleng kopi, sebuah snack atau apapun itu yang bahkan bisa dikatakan tidak perlu.

“Biarkan saja dia, pemuda jaman sekarang berbeda dengan kita dulu. Membeli sesuatu kalau tidak di Supermarket tidak mau.”

“Tapi dia melakukannya setiap hari.”

Kali ini terdengar suara ayah dan ibuku yang mulai berdebat. Ya, baiklah lebih baik aku segera bergegas saja.

Aku memutari Supermarket cukup lama. Bukannya bingung harus membeli apa, namun bingung kenapa dia belum datang juga. Biasanya ia sudah datang terlebih dahulu, tapi kali ini tidak. Apa aku yang terlalu cepat?

Haraboji, pesananku?”

Tiba-tiba seorang pria berlari dari luar dan mendorong pintu masuk dengan sedikit kasar kemudian langsung menuju kasir tanpa perlu mengambil barang di rak.

Melihatnya sudah datang, aku segera mengambil barang yang berada di depanku. Aku bahkan tidak sempat melihat barang apa yang ku ambil dan langsung membawanya ke kasir.

“Kau terlihat lelah sakali, duduklah dan minum dahulu.” Ujar seorang pria yang berdiri di belakang meja kasir.

“Tidak bisa haraboji, aku harus segera kembali.” Balasnya diiringi senyum sambil merogoh saku.

Setelah memberikan selembar uang, ia tidak sengaja menengok ke arah dimana aku berdiri, kali ini senyum pria itu makin lebar, namun keningnya mengkerut.

“Jung Min Hyun? Baiklah, ini sudah keberapa kali kita selalu berpapasan ketika berada di Supermarket?”

“A-apa?” Pipiku memerah. Mungkin ia merasa sedikit atau bahkan sangat aneh karena kita kebetulan—selalu—bertemu di sini. Tidak, sebenarnya ini bukan kebetulan, asal dia tahu. “Entahlah…mungkin…lebih dari seratus kali.” Jawabku terpatah-patah.

“Ya, mungkin,” Ia berhenti sebentar, melepaskan syal yang melingkar di lehernya lalu memakaikannya padaku. “Gunakan ini, di luar sangat dingin. Kau bisa mengembalikannya besok di sekolah.” Tukasnya lagi kemudian terburu-buru keluar dari Supermarket.

“Sampai jumpa besok, Jung Min Hyun!” Teriaknya dari luar Supermarket sambil melambaikan tangannya padaku.

Aku tersenyum, hanya itu yang bisa aku lakukan. “Sampai jumpa besok, Byun Baek Hyun.”

Pria dengan senyum menarik dan sedikit cantik, namun memiliki kharisma yang sangat luar biasa. Itulah dia.

“Nona, untuk apa kau membeli celana dalam pria?”

Celana dalam Pria?

“APA?!”

Udara pagi ini lumayan dingin, aku memutuskan untuk memakai syal dari Baek Hyun kemarin malam dan berniat mengembalikannya nanti. Tapi sekarang, di depan kaca ini, entah kenapa aku merasa sayang sekali jika harus mengembalikannya. Maksudku, apakah syal ini tidak bisa lebih lama lagi berada dalam genggamanku? Dalam sejarah hidupku, baru pertama kali Baek Hyun meminjamiku sesuatu.

Ngomong-ngomong aku sudah membuat persiapan ketika akhirnya harus mengembalikan syal ini. Ya, aku sudah mengambil beberapa gambar dengan ponselku dan berniat untuk mengupload-nya di media sosial hahaha.

Baiklah, lupakan soal media sosial, lebih baik aku segera berangkat sebelum ibu mulai menceramahiku.

“Akhir-akhir ini kau terlihat kelelahan, apa kau bekerja?”

Suara Chan Yeol terdengar jelas olehku yang duduk berjarak satu bangku dari kumpulan Baek Hyun di kelas. Sementara itu Baek Hyun nampak menopang kepalanya di meja dan membuang napas berat.

“Tidak…Aku hanya harus menyiapkan sesuatu.” Jawabnya lemas.

“Sesuatu? Pesta ulang tahun sekolah?” Sahut Jong In tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari komik di tangannya.

“Ah, bukan. Nanti kalian juga akan tahu.”

Chan Yeol mengerucutkan bibirnya, “Apalah kau ini, merahasiakan sesuatu dari kami.”

“Hahaha, tidak, aku tidak merahasiakan apapun dari kalian, hanya saja ini adalah kejutan.”

Mendengar kata kejutan, Jong In langsung menaruh komiknya dan berbalik ke arah Baek Hyun. “Kejutan? Apa kita akan berpesta bersama gadis-gadis cantik? Atau mungkin kau—“

“Hilangkan pikiran kotormu Kim Jong In,” Baek Hyun tertawa selama beberapa detik kemudian berbalik ke belakang, pandangannya tepat ke arah dimana aku duduk sekarang. Mungkinkah?

“Bagaimana? Kau tidak kedinginan-kan kemarin malam?”

Siapa? Dia berbicara dengan siapa?

Aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun pada kenyataannya hanya ada aku di barisan tempat duduk ini. “Kau bertanya padaku?” Gugup, aku bertanya dengan gugup dan terpatah-patah.

“Apakah ada orang lain yang berada di situ? Dan apakah ada gadis lain yang kutemui selain kau kemarin malam?”

“Eh,” Rasanya aneh sekali mendengar jawaban Baek Hyun, oke, untuk kalimat pertama mungkin masih wajar, tapi kalimat kedua? Benarkah dia tidak menemui gadis selain aku kemarin malam?

Sudahlah, lagipula untuk apa ku pikirkan. Langsung saja aku membuka laci meja dan mengambil syal milik Baek Hyun lalu menyodorkannya, “Terimakasih, syal-mu benar-benar menolong kemarin malam.” Ucapku sembari sedikit tersenyum—walaupun kaku.

“Tunggu dulu…apakah kalian?”

“Kami sering bertemu di Supermarket.” Baek Hyun menimpali begitu mendengar Chan Yeol yang sepertinya mulai berpikir ke arah yang bukan-bukan. “Dan kemarin kami bertemu lagi, ku pikir udara sangat dingin, jadi aku meminjamkan ini padanya.” Gumamnya sambil menerima syal dariku

“Bertemu yang tidak disengaja atau bertemu yang…” Kali ini gantian Jong In yang menimpali, ia berkata sambil menaikkan kedua alisnya.

Baek Hyun menaikkan kedua pundaknya bersamaan, “Entahlah, mungkin ketidak sengajaan yang menjadi disengaja.”

“Apa maksudmu?” Kali ini aku tidak tinggal diam, perkataan pria ini benar-benar tidak mudah dicerna, membingungkan.

Tapi nampaknya Baek Hyun tidak berniat menjelaskan perkataannya padaku. Benar-benar menyebalkan. Kenapa ia berkata sesuatu yang rumit namun tidak mau menjelaskannya ketika orang-orang bertanya? Kerumitannya melebihi soal matematika.

Perkataan Baek Hyun terngiang di kepalaku sedari tadi. Bodoh, kenapa aku harus memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada artinya? Aku yakin bahwa ia hanya berkata tanpa maksud apapun.

“Aaaa Park Chan Yeol, dia keren sekali!”

Jeritan kecil Jang Mi membuatku kehilangan konsentrasi, dia adalah satu dari sekian banyak gadis yang tergila-gila pada Chan Yeol di sekolah ini. Tidak diragukan lagi, Chan Yeol mendapat predikat sebagai pria paling populer di sekolahku yang ditentukan dengan voting tiga bulan lalu. Gila memang, tapi memang begini adanya.

“Lihatlah lengan kekarnya Min Hyun, aku benar-benar bisa pingsan sekarang!”

Cukup, apa yang dibilang kekar oleh Jang Mi adalah lengan kurus itu? Dimana yang kekar? Aku bahkan tidak bisa melihatnya.

Aaaa caranya menendang bola sama seperti caranya menendang hatiku!”

“Apa yang kau katakan? Mana mungkin kau bisa mengeluarkan hatimu dan membiarkan Chan Yeol menendangnya?”

Dakk

Jang Mi memukulku dengan buku kimia yang berada di tangannya. Apa-apaan dia? Memang apa salahku?

“Bodoh, kau benar-benar tidak romantis Jung Min Hyun. Sudahlah, kau tidak akan mengerti perasaanku sebagai gadis yang sedang jatuh cinta.”

Jatuh cinta? Omong kosong.

Apa dia melakukan apa yang aku lakukan? Dia bahkan tidak tahu.

“Ya baiklah, terserah kau saja.” Aku berhenti sebentar, tiba-tiba saja terbesit keinginan untuk pergi ke kantin dan membeli sekaleng minuman dingin. “Aku ingin ke kantin, kau ikut tidak?”

“Ah tidak, aku masih ingin melihat Chan Yeol bermain futsal.” Balas Jang Mi cepat. Ia memang tidak bisa diganggu jika sudah sibuk memandang Chan Yeol seperti itu.

Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke kantin seorang diri. Rupanya cukup ramai, dan aku harus mengantri untuk bisa membeli minuman di mesin penjual minuman kaleng.

“Apa kau akan pergi ke Supermarket malam ini?”

Tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku, untung saja aku belum melompat atau berteriak, kalau tidak aku bisa menjadi pusat perhatian semua orang.

“Byun Baek Hyun! Apa yang kau lakukan? Kau mengagetkanku.” Protesku sambil memukul pelan lengannya.

Untuk pertama kali.

Baek Hyun mengaduh, ia mengelus-elus lengannya, “Maafkan aku,” Wajahnya meringis, ia membuat huruf ‘V’ dengan jari telunjuk dan tengahnya. “Jadi bagaimana, apa kau akan pergi ke Supermarket nanti malam?”

“Apa maksudmu?” Aku kembali menatap ke depan, menunggu giliranku untuk membeli minuman, “Mana aku tahu, lagipula pergi ke supermarket atau tidak bukanlah hal yang ku sengaja setiap harinya. Kau tahu, entah kenapa setiap hari salah satu anggota keluargaku selalu membutuhkan sesuatu, jadi aku terpaksa pergi ke Supermarket.” Hahahahahaha, aku berbohong.

“Kalau boleh memberi saran, lebih baik kau tidak usah pergi ke Supermarket malam ini karena nampaknya nanti malam akan turun hujan.”

“A-apa? Lagipula aku tidak berniat pergi ke Supermarket malam ini. Kau benar-benar terlalu percaya diri.”

“Ya baiklah, dan satu lagi, jika kau masih bersikeras untuk datang, kemungkinan besar aku tidak akan ada di sana.”

Aku terkesiap, tidak tahu harus menjawab apa.

Byun Baek Hyun, apa dia mengetahui maksudku selama ini? Apa dia tahu jika aku menyukainya? Ahh, tidak, dia tidak boleh mengetahuinya atau aku akan malu setengah mati.

“Kalau begitu aku pergi dulu, ingat aku tidak berjanji akan ada di Supermarket malam ini, Jung Min Hyun.”

Byun Baek Hyun, kenapa hari ini ia sangat membingungkan? Apa karena kejadian kemarin malam? Apa syal itu sangat berpengaruh bagi kami? Tidak, jangan berpikir yang aneh-aneh Jung Min Hyun.

“Min Hyun-a, belikan Ibu beras di Supermarket!”

Teriakkan Ibu dari dapur cukup membuatku kesal, kenapa disaat aku tidak ingin pergi ke Supermarket ia malah menyuruhku ke sana? Menyabalkan.

“Tidak mau, suruh saja Min Hwan yang membeli, dia kan laki-laki!”

Bukk

Ahh, sakit sekali. Ibu selalu memukul punggungku ketika aku tidak melakukan apa yang dia mau.

Ahh, aku tidak mau. Tidak mau!”

“Kalau kau tidak mau, kau tidak dapat sarapan besok pagi!”

“Apa? Ibu kenapa pilih kasih seperti itu.”

“Ibu tidak pilih kasih, jadi kau mau atau tidak?”

Mengesalkan. Rasanya ingin sekali membelah meja di depanku ini menjadi dua atau memukul televisi yang sedang menyala, ah atau mungkin yang lebih parah adalah memukul Min Hwan yang sedang tertawa puas melihatku menderita. Benar-benar menyebalkan, kalau saja ayah sudah pulang pasti aku tidak akan disuruh untuk membeli beras.

“Dia belum datang.”

Aku mendengar suara kasir Supermarket yang telah berusia lebih dari setengah abad. Supermarket ini adalah warisan turun-temurun bagi keluarga mereka sehingga bukanlah suatu hal aneh jika yang berjaga adalah kakek berusia lanjut.

“Maaf, dia siapa?”

Sebenarnya aku tahu siapa yang dibicarakan oleh kakek itu, tapi alangkah baiknya jika aku berpura-pura tidak tahu dan menganggap semuanya seolah kebetulan belaka.

“Pria muda itu,” Ia berhenti sebentar dan keluar dari meja kasir. “Dia bilang hari ini akan sangat sibuk jadi tidak akan mampir kemari.”

Sepertinya kakek ini sudah tahu jika aku selalu datang hanya karena Baek Hyun, tentu saja kecuali hari ini.

“Jika kau menyukainya lebih baik katakan saja sebelum terlambat. Akhir-akhir ini aku lihat dia sangat sibuk dan sering kelelahan.”

Aku tertawa renyah, tidak terlalu keras memang—berusaha mengurangi kecanggungan karena pembicaraan berat ini. Lagipula aku juga tidak segila itu, mana mungkin aku mau mengakui perasaanku pada pria terlebih dahulu? Belum lagi jika ternyata Baek Hyun tidak memiliki perasaan apapun padaku.

“Dia pria yang baik dan bertanggung jawab, mungkin dia juga menyukaimu, anak muda.”

Apa?

Menyukaiku?

Begitu mendengar kalimat yang keluar dari kakek kasir Supermarket, mataku membulat. Atas dasar apa ia bisa menyimpulkan bahwa Baek Hyun kemungkinan juga menyukaiku? Tunggu dulu, ia sering bertemu dengan Baek Hyun, jadi bukan hal aneh jika apa yang ia katakan barusan adalah fakta.

Di sisi lain aku tidak percaya, bagaimanapun Baek Hyun tidak menunjukkan kesan tertarik padaku sama sekali, ia bahkan menganggap bahwa pertemuan kami setiap harinya adalah ketidak sengajaan.

“Aku memang tidak menjamin kebenaran akan apa yang ku ucapkan barusan, hanya saja melihat tingkahnya ketika bertemu denganmu di Supermarket, aku yakin dia melihatmu dengan tatapan yang berbeda.”

Baiklah, aku tidak sanggup lagi jika harus mendengarkan perkataan kakek ini. Apa dia sengaja ingin membuatku terbang? Ayolah Jung Min Hyun, kau tidak boleh terlalu percaya diri.

“Tapi baiklah, tunggu sebentar lagi, mungkin ia akan datang.”

Setelah mengucapkan kalimat barusan, sang kakek kembali ke belakang meja kasir dan duduk di kursi kecil sambil membaca koran. Sementara aku mendekat dan membawa sebungkus beras lima kilo lalu meletakkannya di meja kasir.

“Apa dia mengatakan sesuatu?”

Entah kenapa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Rasa penasaranku akan Baek Hyun sudah tidak bisa terbendung lagi. Sebenarnya apa yang ia lakukan setiap harinya?

Kakek itu menurunkan korannya dan menghitung harga beras yang ku beli kemudian memasukkannya ke kantong plastik. “Sesuatu?”

“Maksudku,” Aku berhenti sebentar, berpikir apakah yang akan ku tanyakan ini sudah melebihi batas atau belum.

Sepertinya belum, pertanyaanku akan terdengar wajar.

“Maaf, apakah dia memberitahu apa yang ia kerjakan? Ia selalu terlihat lelah dan berkeringat setiap ke Supermarket.”

“Dia bilang ingin meraih mimpinya.”

Kalimat pendek dari kakek itu membuatku semakin penasaran. Si periang Byun Baek Hyun memiliki mimpi yang kelihatannya sangat berat dan mengharuskannya untuk bekerja sekeras mungkin, aku benar-benar tidak menyangka itu.

“Kalau boleh tahu..”

“Ya! Aku mana tahu apa mimpinya, dia tidak pernah menceritakan itu.”

Kenapa tiba-tiba kakek ini menjadi sensi? Aku bahkan belum menyelesaikan pertanyaanku. Huh.

Menggigit pelan bibir bawah cukup membuatku tenang, sampai akhirnya aku memutuskan untuk segera pergi dari sini.

“Terimakasih haraboji.” Gumamku singkat sambil membungkukkan badan dan sepersekian detik kemudian telah berada di luar Supermarket.

Masih terasa jika kakek penjaga kasir itu mengamatiku, tapi tidak apa-apa, aku tetap berjalan pelan, lagipula membawa beras seberat lima kilo bukanlah sesuatu yang ringan.

Terngiang kata-kata Baek Hyun tadi. Ia benar-benar tidak datang ke Supermarket, dan bodohnya aku tetap memiliki harapan yang entah itu berapa persen bahwa ia akan muncul dan bisa bertemu dengannya.

Sungguh menyedihkan karena pada akhirnya aku pulang hanya dengan membawa beras dan harapan kosong. Langit mendung semakin memperburuk suasana hatiku. Seharusnya aku tidak datang, seharusnya tadi aku memaksa Min Hwan, seharusnya aku tidak boleh berharap dan masih banyak lagi kata ‘seharusnya’ yang terlintas di benakku.

Tiba-tiba aku merasa sesuatu membasahi rambutku. Sial, hujan benar-benar turun. Sekali lagi perkataan Baek Hyun kembali membuatku menyesal. Ia tadi telah mengatakan bahwa hujan akan turun dan ini benar terjadi, dan percayalah padaku bahwa hujan yang turun benar-benar lebat.

Aku tidak mungkin berteduh karena pasti akan menghabiskan waktu yang cukup lama. Sekarang sudah pukul delapan malam lebih dan aku adalah seorang gadis, jadi mau tidak mau hanya berlari dan melawan hujanlah pilihanku.

Antara takut dan berani aku berlari sebisa mungkin dengan tangan membawa sekantong beras yang lumayan berat, ditambah lagi jalanan begitu licin, angin bertiup cukup kencang dan aku menyerah, tiba-tiba kakiku terpeleset, entah bagaimana aku terjatuh meringkuk di tanah. Tanganku berdarah karena bergesekkan dengan trotoar, tapi untunglah kantong berasku tidak pecah.

Tidak ada yang lewat di dekatku sehingga aku tidak perlu menahan malu karena terjatuh, tubuhku yang awalnya basah terasa tidak terkena air lagi. Apakah hujannya sudah reda? Bagaimana mungkin bisa secepat ini?

Alih-alih reda, aku melihat sepasang kaki berdiri di depanku, perlahan ku naikkan kepala dan menatap samar seorang pria yang sedang memegang payung menatapku nanar. Wajahnya tidak begitu terlihat karena cahaya di belakangnya membuatku silau.

Ia sedikit menunduk, menarik lenganku untuk berdiri, dan betapa terkejutnya aku ketika akhirnya bisa melihat dengan jelas siapakah pria yang menolongku tersebut.

“Byun Baek Hyun?”

Aku sungguh tidak bisa menahannya lagi, malu dan senang serasa bertempur dalam hati. Malu karena terjatuh dan Baek Hyun melihatnya, namun senang karena ia datang dan menolongku. Apakah ini sebuah kebetulan? Atau Baek Hyun memang sengaja menyempatkan waktunya untuk menemuiku?

“Sudah kubilang bukan kalau malam ini akan turun hujan? Kenapa kau begitu keras kepala?”

Aku mendengar suaranya, begitu lembut dan penuh perhatian. Ia mengamati tanganku yang terluka lalu menyobek sebagian kain kemejanya dan membalut lukaku.

“Kau benar-benar keras kepala, Jung Min Hyun.” Ia bergumam sekali lagi, namun kali ini tangan kanan Baek Hyun menarik tubuhku sehingga jatuh dalam pelukkannya. Seketika tubuhku terasa memanas, ia mengusap pelan punggungku dan semakin mempererat pelukkannya.

Tidak ada penolakkan dari tubuhku, walaupun aku tidak bergerak untuk membalas pelukkannya, namun aku sangat menikmati. Ini seperti mimpi, Baek Hyun memelukku di bawah payung dan kami berlindung dari hujan. Rasanya seperti drama romantis yang sering diputar di televisi akhir-akhir ini. Dan baiklah, aku memiliki permohonan. Jika ini memang hanya mimpi, maka biarkan lebih lama, beberapa menit lagi, biarkan aku merasakan pelukkan hangat Baek Hyun yang menenangkan.

Tapi tidak berlangsung lama, Baek Hyun melepaskan pelukkannya dan menatapku lekat, “Biarkan aku yang membawanya, aku akan mengantarmu pulang.” Kali ini ia langsung mengambil kantong berasa dalam pelukkanku dan menyodorkan payungnya, “Bawa ini, tanganmu tidak apa-apakan kalau membawa payung?”

Semalaman aku tidak bisa tidur karena terus saja terbayang-bayang oleh Baek Hyun, namun pagi ini wajahku tidak terliaht kusut sama sekali dan bahkan aku bisa menyimpulkan bahwa hari ini aku sangat segar. Aku siap untuk pergi ke sekolah dan berlaku malu-malu kucing di depan Baek Hyun.

Rasanya aku ingin bersenandung di sepanjang jalan, lagu-lagu romantis anak muda berputar begitu saja di otakku sehingga dengan mudah keluar dari mulutku. Bahkan Jang Mi menatapku aneh hari ini, ia sedari tadi menaikkan alisnya karena tingkahku yang lumayan aneh. Ayolah, ia pasti akan melakukan apa yang aku lakukan kalau Chan Yeol memperlakukannya seperti apa yang dilakukan Baek Hyun padaku kemarin.

Bukk!

Sesuatu membuat seisi kelas terkejut, mereka menatap Chan Yeol yang tiba-tiba saja mendorong Baek Hyun ke meja guru dengan keras. Bisa dilihat dengan jelas bahwa Chan Yeol sangat marah. Wajahnya merah padam penuh emosi.

Ia dan Jong In mendekati Baek Hyun dan Chan Yeol langsung menarik kerah baju Baek Hyun yang masih berusaha berdiri.

“Kau! Kau anggap kami apa? Aku benar-benar muak denganmu, pergilah dan jangan pernah kembali Byun Baek Hyun!”

Setelah mengucapkan perkatannya dengan keras, Chan Yeol kembali mendorong Baek Hyun hingga ia terbentur lantai dan bibirnya berdarah. Namun Baek Hyun tidak melawan sama sekali.

Tunggu dulu, ada apa ini? Bukankah mereka bersahabat? Tapi kenapa?

Tidak, bukan saatnya berpikir seperti ini, yang terpenting aku harus segera menolong Baek Hyun sebelum lukanya semakin parah.

Aku segera berlari menghampiri Baek Hyun. Melihatku datang, ia tersenyum lembut dan menerima bantuanku. Secepat mungkin aku membantu Baek Hyun untuk pergi ke UKS dan mendapatkan perawatan untuk lukanya.

Selama Baek Hyun diobati aku tidak pergi kemanapun, tetap menunggu di depan dan berniat untuk menanyakan apa masalah yang sedang dihadapinya.

Begitu perawat keluar, aku segera masuk dan mendapati Baek Hyun sedang duduk di pinggir ranjang meringis menahan sakit.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanyaku sambil terus mendekat hingga akhirnya berdiri tepat di depannya.

“Lebih baik, terimakasih Jung Min Hyun.”

“Hanya Min Hyun, kenapa kau selalu memanggil nama lengkapku?”

Baek Hyun tertawa mendengar pertanyaan konyol dariku, ia menepuk pundakku pelan. “Tidak apa-apa, aku hanya menyukai namamu.”

Jawaban konyol untuk pertanyaan yang konyol juga.

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi denganmu dan mereka?”

Baek Hyun mengkerutkan keningnya seolah ia tidak paham siapa yang sedang kubicarakan. Tapi ayolah, ia tidak perlu berpura-pura seperti ini.

“Byun Baek Hyun, kau mengerti maksudku. Aku tahu itu.”

“Ah, baiklah-baiklah.” Ia berhenti sebentar dan mendesah berat, “Jadi karena kau menolongku maka aku harus menceritakan masalahku padamu?”

Apa? Kenapa jawabannya seperti itu?

“Apa? Baiklah, lupakan saja. Aku akan pergi.”

Tidak tahu harus menjawab apa, kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku, dan ketika hendak berbalik, tiba-tiba Baek Hyun meraih lenganku dan menahanku untuk tetap di tempat.

“Tidak, jangan pergi Jung Min Hyun. Aku tidak benar-benar serius pada perkataanku barusan.”

Aku berbalik, “Tidak, aku memang tidak seharusnya bertanya seperti—“

“Mereka marah karena aku menyembunyikan apa yang sedang ku lakukan.”

Ucapan Baek Hyun memotong perkataanku. Wajahnya berubah sedih dan ia menatap lantai.

“Sebenarnya, selama beberapa bulan ini aku sedang mempersiapkan diri mengikuti sebuah audisi masuk agency musik, dan kemarin adalah hari audisinya, itulah alasan kenapa aku mengatakan kau tidak perlu ke Supermarket dan menungguku. Tapi aku tahu kau keras kepala, jadi selesai audisi aku mencarimu ke Supermarket tapi tidak mendapatkan apapun sampai kakek penjaga kasir memberitahuku bahwa kau baru saja pergi dan kemungkinan kehujanan.”

Ia menarikku lebih dekat, dan menggenggam kedua telapak tanganku erat-erat, “Tadi, aku baru saja memberitahu Chan Yeol dan Jong In bahwa nanti sore aku harus pindah ke Seoul dan melanjutkan sekolah di sana sekaligus menjalani trainee. Ini memang sangat mendadak tapi aku harus melakukannya, aku ingin meraih mimpiku Jung Min Hyun, aku sudah sangat mempersiapkan semuanya.”

“Awalnya aku berpikir bahwa semuanya akan berjalan lancar dan jika aku berhasil audisi maka aku akan pergi dengan mudah, namun aku salah, meninggalkan Chan Yeol dan Jong In begitu berat bagiku.”

Baek Hyun berdiri, ia menangkup kedua pipiku dan mendongakkan kepalaku untuk menatap kedua matanya. “Dan kau, aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul. Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu, kau berpengaruh pada hidupku dan kau semakin membuatku bimbang. Tapi aku sudah berhasil menjalani audisi dan harus pergi, kalaupun kau memiliki perasan yang sama denganku…maukah kau membiarkamku pergi dan menunggu untuk kembali, Jung Min Hyun?”

Sial.

Ucapan Baek Hyun berhasil membuatku menangis. Ini sangat menyakitkan. Rasaya seperti kau baru saja berhasil terbang dan tiba-tiba saja sayapmu patah hingga terjatuh ke jurang yang paling dalam.

Melihatku menitikkan air mata, Baek Hyun segera menarik tubuhku dalam pelukkannya. Erat sekali, hingga aku bisa merasakan debar jantungnya. Tapi apalah arti semua ini, aku sudah terlanjur sedih. Aku belum bisa merelakan Baek Hyun pergi, tapi aku harus. Aku tidak mungkin menghancurkan mimpi yang telah dirangkainya dengan begitu indah bukan?

Aku tidak sejahat itu.

“Jung Min Hyun, berjanjilah padaku bahwa kau akan menungguku untuk kembali. Berjanjilah, karena aku…aku mencintaimu.”

-END-

Iklan

36 pemikiran pada “Something Like Love

  1. Ya ampun, author, serius ini bagus banget…
    waktu mereka masih saling ketemu di sipermarket, bikin greget
    waktu baekhyun udah nunjukin kalo dia suka sama minhyun juga bikin greget:3
    bahkan waktu baekhyun nolongin minhyun pas kehujanan bikin melayang~
    eh… pas tau baekhyun bakal ninggalin minhyun buat training, jadi ikut nyesek
    intinya, jadi kebawa suasana, feelnya dapet =D
    sukaaa^o^

  2. Sial
    .
    Ending nanggung
    .
    Mana pakek ke seoul segala
    .
    POKOK E SQUEL !
    .
    Ga mau tau ye
    .
    Jarang-jarang gue review di blog yu nih
    .
    Happy ending kek ah
    .
    Baper asli
    .
    Buat request’an gue nanggung ah ini, squel squel squel squel :3

  3. waaaaaaaaaaaa, padahal baekhyunnya kece disiniiii. sumpah sedih bgt, kok baekhyun gitu sih…., tapi baekhyun juga tetep harusngapai inpiannya juga sih-_- tapi…. kasiannn min hyung sakittt, aghhh udh nyatain pas udh mau pergi #salamjomblo #jomblotegar #aku rapopo

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s