Forbidden Love Part XI


forbidden love

FORBIDDEN LOVE

A FanFiction

by

Heena Park

Genre: Romance–Sad–Marriage Life//Ratting: PG-15//Lenght: Multichapter//Starring: Shin Hee Ra-Kim Jong In–Park Chan Yeol–Choi Ha Neul–Do Kyung Soo

Summary :

“Apa yang akan terjadi jika seorang wanita yang sedang patah hati memutuskan untuk menikahi pria dengan kelainan homoseksual?”

Follow my WATTPAD

Matanya tak bisa lepas dari apa yang ada di hadapannya. Ikan, terumbu karang, dan penghuni laut lainnya yang seolah menari dan memberi pertunjukkan spesial baginya, benar-benar sangat menakjubkan.

Jong In yang sedaritadi mendampingi Hee Ra, sesekali melirik ke arahnya karena takut kalau tiba-tiba Hee Ra kehilangan konsentrasi atau mungkin kram karena terlalu lama menyelam-pun juga tak bisa menampik rasa takjub akan keindahan bawah laut Maldives.

Beberapa kali Jong In memotret yang ada di depannya dan baiklah, ia juga tidak lupa memotret Hee Ra tanpa sepengetahuan gadis itu.

Tiba-tiba saja Hee Ra menyentuh lengan Jong In dan menggerakkan kepalanya ke atas, sepertinya ia sudah tidak sanggup lagi berada di bawah. Jong In langsung mengerti, mereka berenang ke permukaan dengan perlahan, dan sekali lagi, ia masih mengawasi Hee Ra.

“Bagaimana?” Jong In langsung melontarkan pertanyaan begitu mereka sampai di bibir pantai.

“Kau gila? Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan! Berenang bersama ikan dan melewati terumbu karang yang sangat indah. Kim Jong In, aku tidak tahu harus membalasmu dengan apa.”

Jong In tersenyum tipis, “Kau ingin tahu?”

Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Jong In, Hee Ra hanya menaikkan kedua pundaknya secara bersamaan.

“Tetaplah bersamaku, Shin Hee Ra.”

Bersamanya? Apa Jong In mulai punya rasa pada Hee Ra atau bagaimana? Hee Ra bisa saja terlalu percaya diri dan merasa bahwa Jong In tertarik padanya, tapi tunggu dulu, ini memang sangat membingungkan.

“Maksudku..apapun yang Kyung Soo lakukan berjanjilah untuk tidak meninggalkanku, dan aku berjanji akan memberi apapun yang kau mau. Kesenangan, uang, kekuasaan, apapun itu.”

Seharusnya Hee Ra tidak berharap lebih. Ia tahu kalau akhirnya Jong In akan berkata seperti itu karena pada kenyataannya mereka memang hanya sebatas rekan bisnis yang berusaha menguntungkan satu sama lain dan bukanlah sepasang suami-istri.

Ia tidak boleh kecewa dengan apa yang barusan dikatakan oleh Jong In. Ia tidak seharusnya memiliki harapan pada pria itu.

“Aku mengerti, Kim Jong In..”

“Baiklah, kalau begitu kau sudah siap dengan tujuan selanjutnya?”

Hee Ra mengerjap, “Apa? Kemana?”

Tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Hee Ra, Jong In mendorong punggung gadis itu pelan ke arah ruang ganti, “Cepat ganti pakaianmu dan kita akan bersenang-senang hari ini.”

Entah pengetahuannya yang sangat terbatas atau karena sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh Hee Ra, Jong In mengajaknya ke tempat-tempat yang bahkan baru pertama kali ia dengar, seperti Tsunami Monument, Masjid Hukuru Miskiiy, dan Pasar Ikan Male. Ah ya, mereka juga menyempatkan diri membeli beberapa ekor ikan untuk dibawa ke villa dan sepertinya Jong In akan meminta chef restaurant memasaknya.

“Kau suka ikan bakar?” Jong In tiba-tiba bertanya

Hee Ra berpikir sebentar, “Lumayan, kenapa?”

“Bagus, kalau begitu kita harus meriasmu dahulu.”

“Ha?”

Sekali lagi Jong In nampak tak berniat menjawab pertanyaan Hee Ra, ia selalu seperti itu, membawa seseorang seenaknya tanpa persetujuan. Sepanjang perjalanan tidak ada yang dilakukan Hee Ra selain merasakan angin sepoi-sepoi dan mengantuk. Sebenarnya ia heran, bagaimana bisa Jong In hapal dengan jalanan di sepanjang Maldives. Apa dia sudah pernah ke sini sebelumnya?

Mereka berhenti di sebuah Butik yang lumayan ramai, begitu Jong In dan Hee Ra keluar, seorang wanita berambut coklat langsung menghampiri keduanya.

“Selamat datang Mr. dan Mrs. Kim, kami sudah menantikan kedatangan kalian, kalau begitu langsung saja akan saya antar,” gumam wanita itu.

Hee Ra yang tak mengerti apapun hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengikuti wanita tadi, namun setibanya di depan pintu bertuliskan VIP Room, Jong In berhenti. “Masuklah bersama Ma’am Elyse, dia adalah pemilik butik ini.”

“Aku? Untuk apa?”

“Berhentilah bertanya dan masuk saja, kau akan tahu nanti.”

Hee Ra mendecakkan lidah, tapi ia tidak mengelak dan mengikuti kemauan Jong In. Ia masuk ke ruangan tersebut bersama Ma’am Elyse dan betapa terkejutnya Hee Ra ketika melihat gaun bewarna hitam berada tepat di depan matanya, tak jauh dari sana terdapat meja rias dengan berbagai keperluan make up lainnya.

gaun heera

“Suamimu sangat romantis, aku tidak akan mengecewakannya.” Ma’am Elyse mendorong pelan bahu Hee Ra untuk duduk di kursi rias. “Awalnya aku tidak menerima hal seperti ini, aku pemilik butik dan bukan perias, tapi suamimu memintaku dengan amat sangat dan ia membuatku terharu karena pengorbanannya untukmu, jadi aku menyetujui untuk meriasmu,” ia tersenyum dan mengikat rambut Hee Ra.

“Maafkan kami, seharusnya kami tidak merepotkanmu.”

“Apa? Tidak-tidak, aku tidak merasa direpotkan sama sekali. Suatu kehormatan bagiku bisa meriasmu, dan aku berjanji tidak akan membuat kalian kecewa pada hasilnya,” jawab Ma’am Elyse lalu memulai pekerjaannya.

Entah berapa puluh menit berlalu, keramahan Ma’am Elyse membuat Hee Ra tidak merasa jenuh ketika dirias, mereka mengobrol kecil dan tertawa bersama, mengingatkan Hee Ra pada Nona Choi, wanita yang meriasnya saat akan menikah dengan Jong In beberapa waktu lalu.

Ia sudah berdiri di depan cermin, bersiap untuk keluar ruangan dan melihat bagaimana reaksi Jong In ketika melihatnya nanti.

Rupanya Jong In sudah berdiri di depan pintu, matanya langsung terfokus pada Hee Ra yang baru saja melangkahkan kakinya keluar. Sekali lagi, ia terpesona pada gadis itu, sama seperti saat Hee Ra mengenakan gaun pernikahan mereka. Sebenarnya jika dilihat-lihat, Hee Ra selalu cocok mengenakan apapun, dan kali ini ia sangat cantik.

“Kau..terlihat lumayan dengan gaun itu..”

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Jong In, tidak sebenarnya bukan lumayan yang ingin ia ucapkan, melainkan sangat, namun otaknya berpikir cepat dan mengganti kata tersebut sebelum terdengar oleh Hee Ra.

“Lumayan katamu? Kau bahkan terus memandangku seperti itu, aku sangat paham kalau sebenarnya kau ingin berkata cantik padaku, Kim Jong In.”

“Kau terlalu percaya diri, Shin Hee Ra.”

“Benarkah?”

Jong In memutar matanya dan meraih telapak tangan Hee Ra, “Jadi lebih baik sekarang kita segera pergi dan melanjutkan perdebatan ini di dalam mobil,” lanjutnya sambil mengedipkan sebelah mata.

“Perayu.”

“Apa?”

“Tidak, memang apa yang aku katakan?”

“Ah,” Jong In mendecakkan lidah, pandangannya berpindah pada Ma’am Elyse yang memandangi keduanya sambil tersenyum. Ya, mereka berdua memang kelihatan seperti sepasang suami-isti yang kekanak-kanakkan.

“Terimakasih atas bantuannya Ma’am, ku harap Hee Ra tidak menyusahkanmu.” Jong In membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat.

Ya! Kau pikir aku anak kecil? Kau benar-benar—”

Ma’am Elyse tertawa, ia sudah mencoba menahannya daritadi namun nyatanya ia sudah tidak sanggup. Ia adalah wanita keturunan Korea yang hijrah ke Maldives sehingga mengerti apa yang sedang Jong In dan Hee Ra bicarakan.

“Kalian adalah pasangan yang menarik, kuharap kalian akan bahagia dan bersama selamanya,” gumamnya diiringi tersenyum lebar.

Selamanya?

Hee Ra bahkan tidak yakin jika tahun depan mereka masih bersama. Ayolah, ini hanya pernikahan yang didasari perjanjian saja, jangan mengharap terlalu tinggi Shin Hee Ra.

Jong In segera mengajak Hee Ra untuk kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan, entah sebenarnya apa yang direncanakan Jong In untuknya, tapi Hee Ra menikmati hari ini. Ia yakin Jong In pasti akan mengajaknya ke suatu tempat yang indah, karena sesungguhnya Jong In adalah type pria romantis.

Tiba-tiba Jong In berhenti dan mengeluarkan sapu tangan, ia menyuruh Hee Ra membelakanginya dan menutup mata gadis itu lalu kembali melanjutkan perjalanan. Hee Ra benar-benar tidak tahu kemana mereka akan pergi, bahkan ketika sudah keluar dari mobilpun ia harus memegang erat tangan Jong In dan mengikuti instruksi darinya agar sampai ke tempat dengan selamat.

Sampai akhirnya ia bisa merasakan Jong In berdiri di belakangnya dan dengan perlahan melepaskan ikatan sapu tangan tersebut, membuat Hee Ra bisa melihat lagi, dan betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa mereka berada di bawah laut. Berdiri di dalam sebuah ruangan berlapis kaca dan ikan-ikan dengan santainya berenang di sekitar ruangan kaca tersebut.

Sial.

Hee Ra harus mengakui bahwa Jong In benar-benar membuatnya tak bisa berkata-kata lagi. Ini terlalu luar biasa, ia bisa melihat dua buah kursi dan meja yang berada di tengah ruangan, bahkan seorang pemain biola sudah bersiap untuk memainkan alatnya. Ini benar-benar luar biasa, hal yang tak pernah terpikirkan oleh Hee Ra sebelumnya.

“Tidak perlu terharu dan jangan menangis, riasanmu akan luntur nanti,” Jong In menggoda, ia tertawa kecil ketika melihat ekspresi kesal Hee Ra. Namun itu tidak berlangsung lama, ia mengajak Hee Ra untuk duduk di kursi dan tidak lama kemudian hidangan pembuka-pun sudah tersaji di depan mata mereka.

“Katakan padaku apa lagu yang kau sukai?”

Hee Ra berpikir sebentar, mengingat-ingat apa lagu yang ia sukai, “Kurasa…Frank Sinatra-Fly Me To The Moon.”

“Baiklah, Bisa anda mainkan lagu untuk wanita cantik di depanku ini?”

Vionist itu mengangguk dan tersenyum, selang beberapa detik kemudian datang seorang pria lagi sambil membawa ukulele. Tidak perlu menunggu lama lagi, keduanyapun bersatu dan membawakan lagu milik Frank Sinatra tersebut dengan sangat indah.

Setelah menyelesaikan hidangan pembuka, Jong In menunjuk steak ikan yang berada di tengah-tengah mereka, “Ini adalah hasil olahan ikan yang kita beli di pasar tadi, cobalah, kau pasti suka.”

Hee Ra mengangguk, ia sangat menikmati makan malam bersama para ikan dan musik romantis ini. Semuanya terasa sempurna, suami yang tampan, bulan madu romantis, harta berlimpah, ini adalah hidup yang diinginkan semua wanita di muka bumi, dan Hee Ra beruntung karena sempat merasakannya, walaupun mungkin sebentar lagi akan segera berakhir.

Tapi tidak apa-apa, biarkan saja ia bahagia untuk sesaat, biarkan ia menikmati hidup sebelum nantinya harus kembali kepada berbagai masalah dan kenyataan yang memuakkan.

“Mau berdansa denganku?” Jong In mengulurkan tangannya, berharap Hee Ra menerima.

Sempat diam beberapa detik, Hee Ra akhirnya mengangguk dan menerima tawaran Jong In. Mereka berjalan sedikit lebih jauh dari tempatnya semula. Sang vionist-pun telah bersiap memainkan biolanya. Begitu Jong In meletakkan kedua tangannya di pinggang Hee Ra dan gadis itu melingkarkan lengannya ke leher Jong In, sebuah lagu-pun dimainkan.

Flightless Bird American Mouth milik Iron & Wine mengiringi keduanya. Sejenak ikan-ikan di sekitar mereka terasa sedang mengikuti iringan musik, sementara Hee Ra yang tak kuasa untuk menatap kedua mata Jong In-pun hanya bisa pasrah. Pria itu menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman, matanya menatap balik Hee Ra, jatuh semakin dalam bersama musik yang terdengar, membuat jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang, meronta dan terus saja seperti itu hingga ia khawatir Hee Ra mendengarnya.

Keduanya tetap berpandangan tanpa berucap, mencoba menguasai perasaan dan ego sendiri, menahan diri agar tidak terjadi sesuatu yang melampai batas. Hasrat ingin memiliki yang entah bagaimana bisa muncul dalam diri keduanya membuat keadaan semakin tidak kondusif, tapi tangan itu sangat sulit untuk dilepaskan, mata itu sangat sakit jika harus dipalingkan. Jadi biarkan saja keduanya seperti ini, untuk sesaat.

Jong In menutup pintu mobil setelah ia berhasil menarik Hee Ra keluar, gadis itu mabuk karena terlalu banyak minum. Ia bahkan sempat mengigau dan muntah dalam perjalanan sehingga Jong In terpaksa berhenti di pinggir jalan beberapa kali.

“Kau mengatakan aku payah karena tidak kuat minum, padahal kenyataannya kau tidak jauh berbeda denganku, bodoh.” Setelah menyelesaikan ucapannya, Jong In segera menggendong Hee Ra yang nampaknya tidak mampu untuk berjalan lagi.

Tidak ada respon berlebih dari Hee Ra kecuali tertawa kecil karena efek mabuk, entah sadar atau tidak beberapa detik kemudian ia telah melingkarkan lengannya pada leher Jong In.

“Kau lebih merepotkan dari yang kupikir, Shin Hee Ra,” gumam Jong In lagi.

“Aku membencimu.”

Suara serak Hee Ra terdengar rancau di telinga Jong In. Matanya menyipit, tidak mengerti pada apa yang dimaksud oleh Hee Ra.

Hee Ra memukul pelan dada Jong In sebisanya, “Kau! Pria jahat yang mempesona.” Ia tertawa hambar dan menarik kerah baju Jong In. Ayolah, Hee Ra sedang mabuk sehingga Jong In tidak bisa melakukan apapun.

“Kau tenang saja, aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu seperti yang kau minta, walaupun hatiku sedikit tergerak karena perlakuan manismu, aku pasti akan menahan diri, Kim Jong In,” suaranya terdengar semakin kacau, ia tidak tahu seberapa mabuk gadis ini.

“Ya, baiklah, terserahmu saja.”

Hee Ra menggeleng, ia menutup mulut Jong In dengan jari telunjuknya, “Kau, benar-benar memuakkan, Kim Jong In.” Begitu selesai mengucapkan kalimat barusan, Hee Ra menarik kepala Jong In mendekat dan mengecup bibir pria itu selama beberapa saat.

Jong In yang tidak menyangka bahwa Hee Ra akan melakukan hal seperti itu padanya-pun hanya membulatkan mata dan berdiri kaku. Tidak ada perlawanan sama sekali dari Jong In karena ia tahu melawan orang mabuk akan sia-sia.

Jong In bisa merasakan jantungnya berdegup kencang sekali lagi, merasakan bibir lembut Hee Ra membuatnya tak bisa menahan diri. Entah apa yang merasukinya sampai ia membalas kecupan Hee Ra dengan sebuah ciuman manis nan dalam selama beberapa detik.

Ini salah.

Seharusnya mereka tidak melakukan hal semacam ini.

Ini sudah menyalahi perjanjian.

Dan Jong In membiarkannya.

Musim dingin rupanya belum berganti, walaupun sudah jarang terjadi hujan salju tapi hidupnya tetap terasa dingin, terlebih lagi setelah wanita yang sangat ia cintai harus jatuh di tangan pria lain.

“Kau ingin bulan madu dimana?” suara nyaring Ha Neul membuat Chan Yeol tersadar dari lamunannya.

“Apakah kita harus melakukannya?”

Ha Neul mencibir, “Bukankah semua pasangan pergi bulan madu setelah menikah?” Ia berhenti sebentar dan mendecakkan lidah, “Baiklah, kalau kau tidak mau biar aku saja yang memilih tempatnya.”

Pasrah, Chan Yeol hanya menarik napasnya sedalam mungkin dan kembali fokus keluar jendela, ia tidak menyangka jika hidupnya akan semenyedihkan ini. Satu-satunya orang yang ingin ia nikahi lebih memilih pria lain, sementara ia terjebak dan diharuskan menikah dengan gadis yang bahkan tidak menarik perhatiannya sedikitpun.

Kalau saja bukan demi perusahaan dan ayahnya ia tidak akan seperti ini. Kalau saja ayahnya sehat, pasti mereka bisa mengerti dan membiarkan Chan Yeol hidup bahagia dengan Hee Ra.

Dua hari lagi ia harus rela mengucapkan janji setia dan memasrahkan hidupnya. Mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, bahkan Chan Yeol sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya, namun tiba-tiba bayangan Hee Ra melintas dan membuatnya menarik kembali pikiran tersebut.

Setidaknya masih ada hal yang membuatnya kuat, Hee Ra berjanji akan menemaninya untuk bertemu Cheon Sa, dan ia harap Hee Ra benar-benar datang.

“Bagimana kalau Belgia?” Ha Neul mendekati Chan Yeol sambil menunjukkan gambar yang didapat dari google, “atau mungkin Perancis?”

Tidak tertarik, Chan Yeol menggigit pelan bibir bawahnya dan mendorong ponsel Ha Neul menjauh darinya, “Kau saja yang atur, aku sedang tidak enak badan. Aku istirahat dulu,” gumamnya tanpa memandang Ha Neul sedikitpun dan berlalu pergi.

Orang bilang cinta tumbuh karena terbiasa. Lalu apakah yang dirasakan Jong In dan Hee Ra akhir-akhir ini adalah cinta? Atau mungkin hanya pelampiasan belaka? Entahlah, hanya mereka yang tahu.

Hee Ra yang tidak sadar akan apa yang terjadi kemarin malam merasa aneh pada perubahan sikap Jong In yang sedikit kaku, pria itu bahkan terdengar agak gagap ketika tadi Hee Ra menanyakan tentang ponselnya yang entah berada dimana.

Bahkan tidak ada sedikitpun percakapan antara keduanya walaupun kini mereka duduk berhadapan dan menyantap makanan yang sama. Jong In sibuk dengan ponsel dan Hee Ra tak bisa mengalihkan pandangannya dari deburan ombak di lepas pantai tak jauh dari Villa.

Musik yang semula lembut tiba-tiba saja berganti, orang-orang yang semula duduk santai itupun mulai berdiri dan menari diiringi lagu milik Bruno Mars-Marry You.

Apakah ini juga salah satu kejutan dari Jong In?

Namun, sepertinya Hee Ra salah. Jong In bahkan terlihat kaget ketika menyadari orang-orang disekitarnya mulai menari, itu berarti bukan dia-kan yang memiliki ide?

“Apa yang orang-orang itu lakukan?”

Akhirnya Jong In bersuara juga. Mulutnya masih membulat dan merasa bingung, sementara Hee Ra hanya merespon dengan dua kali gelengan kepala.

Di tengah lagu, orang-orang yang tadi menari itupun berjalan mendekati sebuah pasangan yang duduk berjarak empat meja dari Jong In dan Hee Ra. Mereka melingkari pasangan tersebut dan terus menari. Sampai tak lama kemudian pria berbaju putih itupun berdiri dan mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya sambil berlutut.

Begitu kejadian tersebut berlangsung, lagu kembali berganti menjadi Marry Me milik Train. Tidak hanya itu, pria itu bahkan diberi michropone untuk sekedar menyanyikan beberapa bait lagu dari lagu tersebut dan mengungkapkan keinginannya untuk menikahi gadis itu.

Raut wajah senang dan terharu tentu saja tidak bisa ditahan lagi. Gadis itupun segera mengangguk dan setelah sang pria selesai memasukkan cincin di jari manis, ia langsung memeluk erat kekasihnya dan riuh tepuk tangan-pun mulai terdengar.

Melihat hal tersebut membuat Hee Ra teringat pada bagaimana Jong In melamarnya dahulu. Tunggu dulu, apa saat itu bisa disebut sebagai lamaran? Jong In bahkan hanya berteriak dan Hee Ra menamparnya kala itu.

Betapa beruntungnya gadis itu karena bisa menikah dengan pria yang ia cintai, tidak seperti Hee Ra. Ia terperangkap dalam sandiwara yang bisa sewaktu-waktu terbongkar dan menyebabkan kerugian banyak pihak.

“Kau menangis?” Jong In mendekat pada Hee Ra dan memandang wajahnya lebih dekat, membuat Hee Ra terkejut dan hampir saja melompat.

Ia segera sadar dan menghapus air mata yang entah bagaimana bisa mengalir begitu saja. “A-apa?” Ia memutar bola matanya. “Aku terharu melihat pasangan itu.”

Jong In mendecakkan lidah, “Cih, kau bahkan terharu hanya karena pria itu melamar kekasihnya di tempat ini. Kau tahu? Sebenarnya tadi biasa saja, hanya sedikit tarian dan tidak lama kemudian ia mengungkapkan maksudnya. Benar-benar biasa saja.” Ia berhenti sebentar dan menyilangkan tangan, “Kau benar-benar aneh, menangis untuk hal kecil dan biasa saja untuk hal besar yang kulakukan.”

“Karena pria itu melamar kekasihnya dengan tulus, berbeda dengan apa yang kau lakukan, Kim Jong In.”

Jong In tak mengerti, “Apa maksudmu? Aku juga tulus memberimu kejutan seperti kemarin.”

“Tidak bukan seperti itu, aku tahu kau tulus, tapi pria itu juga menggunakan perasaannya. Aku bahkan bisa merasakan bahwa ia sangat mencintai kekasihnya dan bersungguh-sungguh untuk mengajaknya menikah.”

Jawaban Hee Ra berhasil membuat Jong In kehabisan kata-kata. Jadi itu alasan kenapa mereka terlihat bahagia? Karena keduanya saling mencintai dan mengerti satu sama lain?

Memang, Jong In mengakui bahwa yang dilakukan pria itu terasa sangat romantis walaupun sebenarnya kadar keromantisannya jauh berada di bawah Jong In. Tapi aura pasangan tersebut benar-benar membuat atmosfer disekitarnya menjadi sama. Mereka seperti bisa merasakan kebahagiaan keduanya yang bahkan tak mereka kenali.

Keduanya terdiam sebentar, menyadari kenyataan yang  tidak sesuai dengan keinginan. Namun masih bisakah harapan untuk bahagia datang pada mereka?

Drrtt..

Suasana hening kembali terpecahkan oleh ponsel Jong In yang bergetar. Ia buru-buru mengambil ponselnya dari atas meja dan menerima penggilan tanpa menjauh dari Hee Ra.

Baru berbicara beberapa kata, wajah Jong In berubah. Matanya menajam dan pipinya memerah padam, sepertinya ada yang tidak beres.

Tanpa permisi Jong In meraih tangan Hee Ra dan menariknya untuk pergi, “Kita tidak punya waktu lagi. Kau harus segera berbenah dan kita akan pulang,” gumamnya sambil terus menarik Hee Ra menuju Villa.

“Apa? Memang kenapa?”

Jong In menarik napas, berhenti sebentar dan berbalik ke arah Hee Ra, “Nenekku, masuk Rumah Sakit lagi.”

To Be Continued.

Iklan

103 pemikiran pada “Forbidden Love Part XI

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s