Who Are You?


Who Are You Cover

A FanFiction by Heena Park

Who Are You

Oneshot//General//RomanceFluff

Shin Hee RaKim Jong InOh Se HunPark Chan YeolHuang Zi Tao

♣Twitter : @arumnarundana

♣Instagram : @arumnrd

Kepalanya terasa berat untuk mengikuti tubuh yang telah bangkit dari kasurnya. Hee Ra menguap beberapa kali, tangannya meraih ponsel di atas meja kecil di samping ranjang dan tersenyum ketika melihat nama ‘Baby Bear’ muncul di layar notifikasi ponselnya.

 

-Baby Bear-

“Aku tidak tahu kenapa hari Senin datang secepat ini, apa kau sependapat denganku?”

Hee Ra mengangguk setuju meskipun orang yang sedang berkirim chatt dengannya tidak akan pernah bisa melihatnya. Well, ia sendiri juga tidak tahu siapakah orang dibalik nama Baby Bear dengan id Kakao Talk ‘puppyohat’  tersebut.

Beberapa hari lalu, tepatnya setelah ponselnya sempat tertinggal di bangku taman sekolah, Hee Ra mulai mendapatkan pesan di Kakao Talk dari orang tersebut. Terlebih lagi orang bernama Baby Bear itu selalu menggunakan display picture topi bewarna hitam.

-Hee-Ra

“DAEBAKK! KITA BENAR-BENAR MEMILIKI PEMIKIRAN YANG SAMA.”

-Baby Bear-

“Mungkin ini yang dinamakan jodoh. Ngomong-ngomong Shin Hee Ra, apa sekarang seluruh jarimu berubah menjadi jempol? Hahahaha.”

Hee Ra mengerucutkan bibirnya, ia kembali merebahkan tubuhnya di kasur dan memutuskan untuk mengulur waktu sedikit lebih lama, lagipula ia tidak butuh banyak waktu untuk sekedar berdandan dan berangkat ke sekolah.

-Hee-Ra

“asdfghjkl katakan lagi aku tidak bisa mendengarnya..”

 

-Baby Bear-

“I baiklah Shin Hee Ra DI aku bahkan tidak mengatakan apapun OT aku menulisnya T_T”

-Hee-Ra

“What the…Kau selalu menyelipkan kata idiot ketika mengirim pesan padaku, anak beruang!”

-Baby Bear-

“I kau bahkan tidak bisa menemukanku DI padahal aku selalu memberi kode OT kau benar-benar tidak peka, Shin Hee Ra.”

-Hee-Ra

“Baiklah. hari ini aku pasti akan menemukanmu.”

-Baby Bear-

“Kalau tidak?”

-Hee-Ra

“Panggil aku idiot selama hidupmu, anak beruang!”

-Baby Bear-

“Boleh juga. Kalau begitu temukan aku. pagi ini panas, aku akan berada diantara mereka yang melawan panas tersebut.”

Seperti apa yang dikatakannya tadi. Ia tidak perlu banyak waktu untuk sekedar mempersiapkan diri. Jong In yang baru saja datang langsung menyapa begitu melihat Hee Ra keluar dari pintu rumahnya, kebetulan pria itu tinggal berhadapan dengan Hee Ra.

“Mau berangkat bersama?” Jong In melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Hee Ra segera menyusul.

Baiklah, bukankah mereka selalu berangkat bersama setiap pagi? Dan setiap hari pula Jong In menanyakan hal yang sama.

Hee Ra mengangguk, ia segera berlari ke arah Jong In dan berjalan di sampingnya, “Kau pergi kemarin malam?” Tanyanya sambil memiringkan kepala beberapa derajat.

Jong In mengangguk, “Tentu saja, lalu kenapa kau tidak datang kemarin?” Ia balik bertanya.

“Entahlah, aku hanya tidak terlalu suka hadir di pesta, apalagi pesta senior. Benar-benar membosankan dan membuatku merasa tertekan.”

Jong In mendesah berat, “Ayolah Shin Hee Ra, banyak gadis cantik di pesta kemarin. Kau benar-benar melewatkan sesuatu yang sangat hebat!”

“Tunggu dulu, sebenarnya aku tidak tertarik pada gadis cantik yang kau bilang.”

Jong In tertawa dan merangkul pundak gadis di sampingnya tersebut, “Baiklah, aku salah. Seharusnya aku mengatakan, banyak pria tampan di sana, termasuk aku.” Ujarnya lalu memasang senyum lebar-lebar.

Baru saja Hee Ra ingin membuka mulutnya, namun ponselnya bergetar. Buru-buru ia merogoh sakunya dan membulatkan mata ketika sekali lagi melihat nama ‘Baby Bear’ tertera di sana.

-Baby Bear-

koreanschool

“Jam berapa sekarang? Kenapa masih sepi? Apa kau masih berada di atas kasur?”

-Hee-Ra

“Apa katamu? Lima menit lagi aku pasti sampai di sekolah dan menemukanmu, anak beruangㅋㅋㅋ

“Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa tersenyum sendiri?”

Suara Jong In memecah konsentrasi Hee Ra pada layar ponselnya, pria itu nampak mencondongkan kepala ke arahnya dan berusaha melihat apa yang sebenernya sedang dibaca oleh Hee Ra, namun gadis itu cepat-cepat menjauhkan ponselnya dari jarak pandang Jong In sehingga Jong In tidak bisa melihatnya.

“Menjauhlah Kim Jong In, kenapa kau tahu sekali sih?” Hee Ra memukul pelan pundak Jong In agar ia menjauh, setidaknya pria itu harus memberi jarak minimal tiga puluh centi antara wajahnya dan Hee Ra.

Jong In menggerutu, ia menyerah dan sedikit menjauh, “Heol, Jadi apa yang sedang kau baca? Kau bersama pria lain? Maksudku apa kau berkencan dengannya?”

Baiklah Kim Jong In, apakah ia tidak sadar jika perkataannya tadi mencerminkan seorang pria yang sedang cemburu? Ku harap Hee Ra menyadarinya.

“Kenapa pikiranmu dangkal sekali? Lagipula siapa yang tertarik padaku hahaha.”

Jong In mengerti, Hee Ra hanya sedang merendahkan dirinya dan berharap mendapat pujian yang mengelak perkataan bahwa ia tidak menarik. Bukankah semua gadis seperti itu?

“Wanita,” Jong In menyilangkan kedua lengannya. “Lebih baik kau mengatakan padanya untuk menjauhimu, kau tahu kan kalau aku—“

“Kau menyukaiku tapi tidak berani mengungkapkannya?” Hee Ra mendecak pelan, “Kau bahkan baru saja berniat mengatakannya Kim Jong In.”

Mendengar sahutan Hee Ra cukup membuat Jong In susah berkutik. Ia menggaruk kepalanya frustasi. Hee Ra memang telah mengetahui perasaannya, namun Jong In belum berani mengungkapkan secara blak-blakkan atau bertanya apakah gadis itu mau menjadi kekasihnya.

Ia bahkan pernah berkata bahwa  menyetak seratus gol ketika pertandingan futsal jauh lebih mudah daripada harus bertanya apakah Hee Ra memiliki perasaan yang sama dengannya.

Jong In melepas jersey dan meraih handuk kecil di atas ranselnya, ia meneguk air mineral dengan cepat sambil berharap rasa lelahnya sedikit berkurang. Sementara Zi Tao baru saja datang, seragamnya masih lengkap. Tunggu dulu, apa pria itu lupa jika hari ini mereka harus bertanding dengan sekolah sebelah?

“Kemana saja kau? Kenapa tidak ikut babak pertama?” Jong In menatap Zi Tao dengan sedikit kesal. Bagaimanapun pria itulah yang memberi saran agar mereka kembali bertanding futsal dengan tim sekolah sebelah untuk membalas kekalahan telak yang mereka alami minggu lalu.

Belum sempat Zi Tao menjawab pertanyaan Jong In, dua orang pria mendatangi mereka. Ah ya, Oh Se Hun dan Park Chan Yeol. Mereka adalah dua dari banyak pria terkenal dari sekolah sebelah. Bagaimana mungkin tidak terkenal jika Se Hun adalah ketua tim futsal sedangkan Chan Yeol adalah kiper selain itu mereka juga aktif di ekstrakulikuler basket.

“Bagaimana, lanjut atau cukup sampai di sini saja?” Chan Yeol menarik sisi kiri bibirnya sambil melirik papan angka jumlah gol dimana sekolahnya lebih unggul dari sekolah Jong In.

Melihat ekspresi meremehkan Chan Yeol, Jong In tidak terima. Ia berdiri dan segera menyuruh Zi Tao berganti pakaian. “Cepat ganti pakaianmu,” Ia berhenti sebentar dan menatap Chan Yeol, “Kita akan melanjutkan pertandingan ini sampai titik darah penghabisan.”

Mendengar ucapan Jong In, Zi Tao terkikik. Ia tidak mengerti kenapa pria ini sedikit berlebihan, lagipula mereka tidak cukup bodoh jika mati hanya gara-gara melawan sekolah sebelah.

Sementara ketiganya sibuk membicarakan bola, Se Hun sang kapten tampak tidak terlalu tertarik. Ia malah mengambil gambar di sekitar mereka dan bahkan mungkin pria itu tidak mendengarkan percakapan sama sekali.

Chan Yeol yang sedikit geram akhirnya menyikut lengan Se Hun dan menarik perhatian dua orang lainnya. “Ya, Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Chan Yeol

Se Hun menurunkan ponselnya, “Memotret, memang apalagi?”

Menyebalkan. Ia harus ekstra sabar karena memiliki kapten tim futsal seperti ini. Tidak, sebenarnya dulu Se Hun tidak suka memotret pemandangan, tapi entah kenapa akhir-akhir ini pria itu nampak sibuk dengan ponselnya.

Chan Yeol mendesah berat, ia melirik jam di tangannya lalu kembali meluruskan pandangannya pada Jong In dan Zi Tao. “Sepertinya sudah sangat sore, apa tidak apa-apa melanjutkan pertandingan?”

Zi Tao memandang langit yang terlihat mendung dan mengangkat kedua bahunya, “Bagaimana kalau kita lanjutkan besok atau lusa? Sepertinya akan turun hujan.”

Jong In tidak setuju. Ia masih tidak terima tim Se Hun berada satu angka di atasnya. “Kalian kan pria, seorang pria tidak mungkin takut hujan.” Gumamnya acuh tak acuh.

Se Hun menurunkan ponselnya, “Sepertinya memang harus dilanjutkan besok, aku tidak ingin mengambil resiko jika anggotaku masuk angin.” Well, akhirnya jiwa pemimpinnya keluar juga.

Jong In masih berusaha mengelak, ia menggelengkan kepalanya, “Tapi..”

“Kim Jong In, kau mau pulang bersamaku atau tidak?!”

Hee Ra tersenyum kecil melihat gambar yang dikirimkan oleh Baby Bear. Ia berniat mencari Jong In karena pria itu berkata ingin pulang bersamanya. Jadi, bukankah seharusnya Jong In yang mencari Hee Ra? Kenapa malah gadis ini yang melakukannya? Menyusahkan sekali pria itu.

Ah, itu dia. Bersama tiga pria lain? Zi Tao, tentu saja Hee Ra mengenal Zi Tao, tapi dua orang lainnya? Bukankah mereka orang yang sama dengan beberapa hari lalu?

“Kim Jong In, kau mau pulang bersamaku atau tidak?!”

Begitu Hee Ra berteriak sambil berlari ke arah pria itu, Jong In yang semula berniat mengatakan sesuatu pada tiga orang di dekatnya itupun langsung menengok ke arahnya dan tersenyum lebar sambil memberi isyarat agar Hee Ra mendekat padanya.

“Aku kira kau meninggalkanku.” Jong In meraih tangan Hee Ra agar tepat berdiri di sampingnya, sementara itu Hee Ra hanya menurut.

“Kenalkan, ini Chan Yeol, dan yang di sebelahnya adalah Se Hun.” Jong In buru-buru menunjuk seorang pria yang sedang tersenyum lebar, dan ia menyebut orang itu Chan Yeol. Tidak lama kemudian, ia beralih menunjuk seorang pria berbadan tinggi-tegap, dan mengenakan topi sehingga wajahnya tidak terlihat jelas. Pria itu tidak tersenyum sedikitpun melainkan sedikit membuka mulutnya namun dengan cepat ia menjilat bibirnya dan berusaha untuk tersenyum. Apa dia gugup?

“Park Chan Yeol, panggil aku Chan Yeol.” Nampaknya Chan Yeol lebih ramah dari Se Hun. Begitu diperkenalkan oleh Jong In pria itu langsung mengambil alih untuk memperkenalkan dirinya sendiri dan menjulurkan tangannya ke arah Hee Ra.

Menerima uluran tangan Chan Yeol, Hee Ra segera berganti memperkenalkan dirinya. “Shin Hee Ra, panggil aku Hee Ra.”

Ia bisa merasakan remasan tangan Chan Yeol, “Nama yang cantik, Shin Hee Ra.”

“Kau bisa dipenggal Jong In jika mencoba menggodanya.” Zi Tao yang tiba-tiba menyahut membuat Hee Ra tertawa, tidak lama kemudian disusul oleh tawa yang lainnya.

Well, berita tentang Jong In yang menyukai Hee Ra memang telah diketahui hampir semua siswa di sekolah ini.

“Apa kau tidak mau berkenalan dengannya?” Zi Tao tiba-tiba menyindir Se Hun yang masih sibuk mengatur ekspresi wajahnya. Pria itu sedikit salah tingkah ketika mendengar Zi Tao menyebut namanya hingga topi yang semula berada di kepala-pun terjatuh.

Hee Ra yang kebetulan memiliki jarak paling dekat dengan topi Se Hun segera mengambil dan mengembalikannya pada pria yang akhirnya memperlihatkan garis wajahnya dengan jelas, dan ya, dia tampan.

“Ah, Terimakasih, Shin Hee Ra.” Ia meraih topi yang diulurkan Hee Ra dan tersenyum kecil, “Oh Se Hun, panggil aku Se Hun.” Lanjutnya sedikit terpotong-potong.

Hee Ra kembali mengulurkan tangannya ke arah Se Hun, namun kali ini berniat untuk memberi salam. “Senang berkenalan denganmu, Oh Se Hun.” Ujarnya yang tidak lama kemudian dibalas oleh Se Hun dengan menyalami tangan Hee Ra.

Merasa keduanya terlalu lama meremas telapak tangan satu sama lain, Hee Ra yang pertama menyadarinya langsung menarik tangannya dan menggaruk pelan rambutnya.

“Sepertinya aku harus segera pulang.” Ujar Hee Ra mencoba mengalihkan perhatian.

Jong In mengangguk setuju, “Ya, kau benar. Sebenarnya perkataan Se Hun untuk melanjutkan pertandingan besok memang tidak salah, kau benar-benar pemimpin yang hebat,” Jong In menepuk-nepuk pundak Se Hun lalu mengambil ransel dan merangkul pundak Hee Ra. “Kami pulang dahulu, ku harap kalian tidak pulang terlalu malam. Besok kita lanjutkan pertandingannya.” Gumam Jong In.

Sepersekian detik kemudian Jong In telah menyeret Hee Ra bersamanya, namun sebelum menghilang dari pandangan, gadis itu menengok ke arah tiga orang lainnya dan memperlihatkan barisan gigi putihnya yang cantik beberapa detik sebelum benar-benar berjalan sambil melihat ke arah depan.

-Baby Bear-

 My_middle_school_by_petrophyllum

“Aku sengaja mengambil ini.”

Hee Ra yang semula sibuk mendengarkan ocehan Jong In itupun segera kehilangan konsentrasinya pada pria yang sedang berjalan bersamanya tersebut. Ia memusatkan perhatiannya pada layar ponsel yang menunjukkan nama Baby Bear

-Hee-Ra

“Kapan kau mengambil gambar itu?”

-Baby Bear-

“Sore ini, beberapa menit yang lalu.”

 

-Hee-Ra

“Benarkah? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu T_T”

-Baby Bear-

“Kau mungkin tidak melihatku, tapi aku selalu melihatmu.”

Hee Ra baru saja berniat membalas pesan Baby Bear, namun tiba-tiba Jong In merebut ponselnya dan dengan nada kesal memprotes karena omongannya tidak di respon sama sekali.

“Ya! Kau tidak mendengarkanku?” Jong In menyembunyikan ponsel Hee Ra di belakang tubuhnya.

“Apa?” Hee Ra berusaha mengambil ponselnya kembali, tapi Jong In sepertinya tidak berniat untuk mengembalikannya. “Kim Jong In, kembalikan ponselku!”

“Tidak mau, kau bahkan tidak mendengarkanku.”

“Kata siapa?” Hee Ra mendengus kesal, “Aku mendengarkanmu, aku bahkan bisa menceritakan kembali apa yang kau katakan tadi.”

“Benarkah?”

Kesal, Hee Ra merebut dengan agak kasar ponselnya dari Jong In dan mengangguk, “Ya.”

“You’re so liar, Shin Hee Ra.”

“Liar?” Hee Ra mengerucutkan bibirnya. “Aku bahkan tidak pernah berbohong padamu.”

“Benarkah? Kalau begitu katakan kenapa kau daritadi tersenyum setiap menerima pesan?”

“A..apa?”

“Jadi?” Jong In menyipitkan matanya, ia mendekatkan kepalanya ke wajah Hee Ra dan menunggu jawaban dari gadis itu.

Gugup akan perlakuan Jong In, ia segera mendorong tubuh pria tersebut beberapa centi darinya. “Aku tersenyum karena orang yang mengirimiku pesan adalah orang yang menyenangkan, apa itu aneh?”

“Aku tidak yakin..”

“Kau—“

Tringg…

Sekali lagi ponselnya berbunyi, melupakan Jong In sejenak, Hee Ra segera melihat siapa yang menghubunginya, dan ah, ternyata Baby Bear.

-Baby Bear-

“Shin Hee Ra, kau sebenarnya melihatku. Karena pada saat itu, kau bahkan membantuku…untuk mengambil topi.”

Mengambil topi? Apakah dia?

“Oh Se Hun?” Hee Ra sontak mengucapkan nama pria yang baru saja dikenalnya tadi.

Jong In yang tidak sengaja mendengarnya langsung memutar kepala dan menaikkan alis, “Apa? Kenapa kau memanggilnya?”

Tidak, Jong In tidak boleh mengetahuinya. “Tidak apa-apa, aku hanya suka pada namanya.”

“Shin Hee Ra..”

“Ah,” Hee Ra berlari mendahului Jong In dan berhenti sejenak lalu menengok ke belakang. “Aku harus pulang lebih cepat darimu, aku duluan, Kim Jong In!” Teriaknya dari kejauhan lalu kembali berlari.

Well, Hee Ra benar-benar sedang berusaha untuk menghindari pertanyaan Jong In.

 

The End

► Aduh gaje ya :’| Aku juga gak tahu lagi nulis apa yaampun wkwkwk. Lagi ada sedikit waktu kosong hihi, soalnya abis UKK dan bentar lagi mau kemah jadi belum sempet ngelanjutin FF yang lain dan FF request-an :’| Maaf banget ya huhu T_T tapi janji deh bakal segera di ketik kalo ada waktu♥

Iklan

18 pemikiran pada “Who Are You?

  1. keren thorrr!!!

    tapi aku mau nya Hee Ra ama bang Jong In ajaa… *_* kalo ama Sehun,,, duh gak usah… Jong In ajaa yaaa? kesian tuhh si Jong In
    hehehe… 😀

    keep writing ya thor.

  2. Wooowww….
    Bagus ceritanya…
    Apakah kira2 akan ada lanjutannya?
    Kalo ada…aq mauuu…nunggu banget nih….
    Ceritanya seru….
    Apakah jongin rela heera sama sehun? Hehehehe
    Penasaran abis….xixixixi
    Gomawoyo

  3. lari Hee ra, lari secepat mungkin.. jangan sampai Jongin menanyakan hal macam2 lagi :3 bacanya bikin senyum2 geje :3 masih ngegantung sie endingnya, berharap ada kelanjutan kisah dari Sehun dan Hee ra :3

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s