[Two-Shot] L.I.N.A.M [1/2]


req-heena-park-in-hsg-by-laykim

Heena Park Present

 

L.I.N.A.M

Katherine Morgan//Oh Se Hun//Park Chan Yeol

TwoShot//RomanceHurt//PG15

Poster by LAYKIM @ HSG

“To love is never wrong. It may be disastrous; it may never be possible; it may be the deepest agony. But it is never wrong.” – Alison Croggon, The Riddle

 

 

Berkali-kali Katherine mengutuk dirinya sendiri. Membayangkan betapa mengerikan tatapan dingin dan kejam yang terpancar dari mata saudara tirinya ketika pria itu menyadari bahwa Katherine belum juga pulang padahal malam sudah selarut ini. Ditambah lagi kedua orang tua mereka sedang berada di London untuk urusan pekerjaan sehingga mau tak mau Katherine hanya tinggal bersama dengan saudara tiri, tiga pembantu, dan dua sopirnya, itupun jika mereka belum pulang.

Semenjak orang tua mereka ke luar negeri, Se Hun menyuruh pembantu dan sopirnya untuk datang pagi dan pulang malam. Tanpa dijelaskan-pun Katherine mengerti bahwa Se Hun melakukan itu agar ia bisa menghabiskan waktu dengan-nya.

Berusaha agar tidak ketahuan. Katherine melepas high heels-nya dan berjinjit pelan setelah tangannya berhasil membuka pintu tanpa adanya decitan atau suara mengganggu lainnya. Sepertinya keadaan cukup aman. Ia tidak melihat tanda-tanda bahwa saudara tirinya masih terjaga atau mungkin pria itu sedang tidak ada di rumah sekarang? Ya, semoga saja begitu.

Berniat untuk langsung masuk ke kamar, Katherine mempercepat langkah kaki yang masih berjinjit itu. Ketika tangan kanannya berhasil meraih knop pintu, seseorang menepuk pundaknya dari belakang sehingga gadis itu refleks berbalik cepat dan sempat berteriak kaget ketika mendapati Se Hun berada tepat di belakangnya sambil menerangi wajahnya dengan handphone.

“Kau terlambat, Kath.” Se Hun menghela napas dan menekan tombol lampu yang berada tepat di samping Katherine. “Berhenti berhubungan dengan pria itu. Dia bukan orang baik.”

Katherine membeci ini. Se Hun selalu menilai seseorang semaunya. Pria itu bahkan tidak mengenal seperti apa orang yang sedang ia bicarakan.

“Apa maksudmu?” Katherine menyilangkan kedua lengannya, “Kalian bahkan belum pernah bertemu.”

Well, aku tidak berniat untuk bertemu dengannya.” Melihat Katherine mendecakkan lidah setelah mendengar jawabannya, Se Hun menghimpit gadis itu dengan kedua lengan dan menatapnya tajam, “Pria baik-baik tidak akan pernah membiarkan seorang gadis pulang seorang diri saat malam sudah selarut ini.”

Berani sekali Se Hun membicarakan soal pria baik-baik di depan Katherine. Apa dia sudah lupa pada perbuatannya?

Mendorong dada Se Hun untuk menjauh darinya, “Ya, kau benar. Mungkin Dave memang bukan pria baik-baik, tapi setidaknya dia tidak mengencani saudara tirinya sendiri.” Katherine tersenyum kecut setiap kali mengingat kenyataan bahwa ia dan Se Hun sedang menjalin hubungan.

Empat tahun lalu, setelah orang tua Se Hun dan Katherine memutuskan untuk menikah, Se Hun yang awalnya tinggal di Korea terpaksa pindah ke Los Angeles dan menjadi saudara tiri Katherine. Awalnya mereka biasa saja, berusaha untuk saling mengenal satu sama lain sebagai saudara, tapi lama-kelamaan sikap Se Hun berubah. Pria itu menjadi lebih protektif dan seringkali menatap Katherine seolah-olah ia ingin memilikinya. Katherine sadar akan hal itu, ia hanya berusaha bersikap sewajar mungkin, namun perhatian Se Hun yang semakin besar akhirnya membuat Katherine menyerah. Ketika pada akhirnya Se Hun mengakui perasaannya, tanpa pikir panjang gadis itu juga mengatakan bahwa ia memiliki rasa yang sama dengan saudara tirinya tersebut.

“Kath!” Se Hun meraih lengan kanan Katherine yang berniat untuk masuk ke kamarnya. Ia menarik gadis itu kembali dalam himpitan kedua lengannya. “Sudah ku katakan padamu berkali-kali. Kau adalah milikku, jangan coba-coba untuk melepaskan diri.”

Demi apapun Katherine mengutuk hari saat ia bersedia menjadi kekasih saudaranya tirinya tersebut. Baiklah, siapa yang bisa menolak pesona Se Hun? Pria Korea berbibir mungil, suara berat, kulit putih-bersih, badan tinggi-tegap, dan mata dingin yang tentu saja mampu membuat banyak gadis bertekuk lutut padanya. Bukankah Katherine sangat beruntung karena ia bisa memiliki Se Hun? Tentu saja, jika mereka tidak berstatus saudara tiri.

“Berhenti mengkhawatirkanku secara berlebihan!” Untuk pertama kalinya dalam sehari Katherine berani membalas tatapan Se Hun. “Usiaku sudah hampir sembilan belas tahun. Ini Los Angeles, wajar jika remaja seusiaku pulang larut malam.”

“Tidak. Kau pikir karena kita tinggal di Kota ini lalu kau bisa mengikuti cara bergaul mereka? Kau salah Katherine Morgan.” Sejenak Se Hun menghentikan ucapannya. Ia mengkerutkan kening dan mendekatkan hidungnya ke badan Katherine. Sial. Apa gadis ini mabuk?

“Apa yang kau lakukan?” Katherine bergidik ngeri. Ia berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangan, namun Se Hun menyergahnya. Pria itu menyingkirkan paksa tangan Katherine dan menyadari bahwa lipstick kekasihnya tercoret sampai ke luar batas bibir.

Se Hun mengerti sekarang. Katherine tidak minum karena pada kenyataannya gadis itu tidak kehilangan kesadaran, tapi ia berciuman dengan orang yang baru saja meminum banyak vodka sampai baunya menempel pada Katherine.

“Katakan padaku dimana pria itu sekarang?” Ini sudah berlebihan. Se Hun tidak bisa membiarkan ada pria lain yang menyentuh kekasihnya, dan bahkan Katherine membiarkan pria itu menciumnya dalam keadaan tidak sadar.

Katherine menggeleng, ia tidak mau mengambil resiko untuk mendapat kabar bahwa Dave harus masuk Rumah Sakit karena perbuatan Se Hun. Ia tahu seperti apa sifat lelaki yang sedang berhadapan dengannya kini. Si pria tampan penuh pesona yang berbahaya, walaupun sebenarnya mencoba merahasiakan keberadaan Dave dari Se Hun merupakan hal yang sia-sia karena pria itu pasti bisa dengan mudah mendapatkan apa yang ia mau.

Se Hun marah. Ia tidak mengerti kenapa Katherine berusaha melindungi pria yang telah berlaku kurang ajar padanya. Sepertinya pria itu benar-benar membawa pengaruh buruk pada Katherine, ini tidak bisa dibiarkan. Se Hun harus segera mendapatkan pria bernama Dave itu dan menghukumnya.

“Baiklah, jadi kau memilih untuk melindunginya?” Se Hun menggenggam telapak tangan Katherine dan meremasnya kasar. “Bersiaplah untuk mendapat kabar paling buruk yang pernah kau dengar, Katherine Morgan.”

Katherine berusaha mengemudikan mini coopernya secepat mungkin begitu mendapat kabar dari Andy jika seorang pria berwajah Asia bersama dua orang lainnya tiba-tiba saja menyerang mereka. Namun sasaran utama pria itu adalah Dave, dan Katherine yakin bahwa Se Hun-lah yang melakukannya.

Ia berhenti di sebuah gang buntu tempat Dave dan teman-temannya biasa berkumpul. Benar saja, Katherine mendapati Se Hun sedang memukuli pria yang bahkan sudah tidak bisa menggerakkan lengannya sedikitpun.

Oh Se Hun, stop it!!

Teriakkan Katherine tidak begitu dihiraukan oleh Se Hun, ia terlalu marah dan bahkan berniat untuk membunuh pria bernama Dave ini. Tentu saja jika Katherine tidak menarik lengannya secara tiba-tiba dan mendorongnya untuk masuk ke mini cooper lalu menguncinya dan mengucapkan beberapa patah kata ke arah kumpulan Dave sebelum akhirnya menyalakan mesin dan menjauh dari mereka.

Stop being idiot, Oh Se Hun!

Tanpa memalingkan pandangannya sedikitpun, Se Hun tertawa kecil dan mengusap pipinya yang memar akibat perkelahian tadi. “No, I’m not.”

Katherine bisa mendengar suara Se Hun lebih bergetar dari biasanya. Ia khawatir pada pria itu sekarang, apa dia tidak menggunakan otaknya?

We’re gonna talk about this later,” Ia berhenti sebentar dan memberikan selembar tissue pada pria yang duduk di sampingnya. “Aku akan mengantarmu ke Rumah Sakit terlebih dahulu.”

Se Hun berusaha menggelengkan kepalanya, “Please, don’t. I hate Hospitals.” Ia menerawang dibalik kaca, “Lagipula temanku akan datang dan menginap di rumah.”

“Apa?”

Temannya? Datang dan menginap di rumah? Apa maksudnya? Kenapa Se Hun tidak memberitahu Katherine soal ini sebelumnya?

“Kenapa kau tidak memberitahuku? Apa mom dan dad tau soal ini?”

“Memberitahumu?” Se Hun memutar cermin kecil yang berada di atap mobil ke arah Katherine. “Lihat lingkaran hitam di matamu, kau bahkan hanya tidur sebentar di rumah dan pergi pagi-pagi sekali. Bagaimana caranya aku memberitahumu? Kau juga tidak pernah membalas pesanku bukan?”

Skak mat. Apa yang dikatakan Se Hun barusan membuat Katherine sadar bahwa ia terlalu berlebihan. Ia memang selalu pergi pagi dan pulang malam selama kedua orang tuanya ke luar negeri. Bukannya apa, Katherine hanya takut jika Se Hun melakukan hal yang tidak-tidak padanya, mengingat bahwa pria itu menyukainya dan mereka hanya tinggal berdua ketika malam hari. Tapi ayolah, Se Hun bahkan tidak memiliki keberanian untuk sekedar mengambil ciuman Katherine jika gadis itu tidak mengijinkannya, bukankah berlebihan jika Katherine sempat berpikir bahwa pria itu akan melakukan hal yang lebih lagi?

“Maafkan aku…”

Tidak ada yang bisa ia ucapkan kecuali permintaan maaf. Untuk sekedar melirik Se Hun-pun ia tidak sanggup.

“It’s okay..” Kali ini nada suara Se Hun berubah lebih tenang dan halus. Ia mengusap pelan rambut Katherine, “Kita pulang sekarang. Kau mau mengobatiku kan?”

Ketika sikap dewasa Se Hun keluar, Katherine benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya. Ini yang selalu ia inginkan, perhatian dan kasih sayang dari pria itu. Ia tidak bisa menolak jika Se Hun sudah memintanya dengan nada selembut tadi. Seketika keadaan berubah lebih hangat, tidak terlalu tegang, dan yang paling terpenting adalah sekarang atmosfer diantara keduanya bukan lagi sebagai saudara tiri—melainkan sebagai pasangan kekasih.

Begitu sampai di rumah, secepat mungkin Katherine menyiapkan es batu dan sehelai kain untuk mengompres luka memar pada beberapa bagian tubuh Se Hun. Sementara pria itu menunggu sambil merebahkan tubuhnya di sofa. Katherine bisa melihat dengan jelas wajah lelah Se Hun. Ia juga bisa melihat seberapa besar pria itu mencintainya—sebagai kekasih—bukan saudara tiri. Andai boleh jujur, Katherine sendiri sebenarnya juga sangat mencintai Se Hun. Ia hanya berusaha menghilangkan perasaan tersebut dengan menyibukkan diri dan berjauhan dengan Se Hun. Tapi apa dayanya, perasaan tetaplah perasaan. Seberapa jauh dan besar ia berusaha untuk menghilangkannya, perasaannya malah semakin dalam dan menjadi-jadi.

“Kenapa kau melakukannya?” Katherine duduk di samping Se Hun, tangannya mulai mengompres memar di bagian pipi kekasihnya dengan hati-hati. “Lihat sekarang, bukan hanya Dave yang terluka, tapi kau juga.”

Selama beberapa detik tidak ada respon apapun dari Se Hun sampai tangan dingin yang semula diam itu bergerak meraih telapak tangan Katherine dan menggenggamnya erat. “Kath, dengarkan aku.” Se Hun menarik tangan Katherine ke atas dadanya, matanya masih terpejam. “Aku memang memperbolehkanmu dekat dengan pria lain, tapi tidak bisakah kau bergaul dengan orang yang lebih baik dari Dave? Bagaimanapun aku tetaplah kekasih yang merangkap sebagai saudara tirimu. Aku tidak suka kau melawanku.”

Ucapan Se Hun berhasil membuat penyesalan Katherine semakin bertambah. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa mau menerima ajakkan Dave untuk berkencan dengannya. Padahal ia sendiri sudah sangat tahu bahwa Dave bukanlah pria baik-baik. Lagipula siapa yang tidak tahu itu? Dave dan geng-nya yang terkenal sebagai bad boy nomor satu di sekolah.

“Kath, kau mengerti kan? Walaupun kita hanya berada dalam sekolah yang sama selama setahun, tapi aku tahu atau bahkan kalau tidak salah pernah mendengar orang-orang membicarakan Dave  dan geng-nya. Lagipula aku ini kakak kelasmu, aku tahu mana pria yang baik dan tidak.”

“Maafkan aku…” Katherine menggigit bibir bawahnya, “Seharusnya aku tidak menerima ajakkan kencannya malam itu jadi kau tidak akan berakhir seperti ini.” Matanya memandang Se Hun penuh sesal. Ia merasa bodoh karena harus melihat Se Hun bersimbah luka seperti saat ini.

Hening sempat menyelimuti keduanya. Sibuk dengan pikiran masing-masing, tapi semua pecah ketika terdengar bel pintu rumah berbunyi. Tidak perlu menunggu lama salah satu pembantu mereka langsung berlari ke arah pintu dan membukanya. Seorang pria berperawakkan tinggi dan dibalut jaket kulit serta celana jeans biru tua berdiri di sana. Se Hun yang awalnya berbaring di sofa itupun melompat ke lantai dan menghampiri orang yang sudah tidak asing lagi baginya. Park Chan Yeol, kapten tim basket SMP-nya dulu.

Tanpa gengsi Se Hun langsung memeluk pria yang sedikit lebih tinggi darinya tersebut. Keduanya terlihat sangat senang, sepertinya mereka berteman akrab dahulu. Katherine bahkan bisa merasakan napas lega yang keluar dari hidung Se Hun ketika pria itu melihat Chan Yeol berdiri di ambang pintu sambil menggenggam pegangan kopernya erat.

“Hei man, kau memelukku di depan seorang gadis.” Chan Yeol bergumam diselingi tawa. Ia melonggarkan pelukkannya dari tubuh Se Hun dan perlahan melepaskannya. Sementara Se Hun juga ikut tertawa dan memukul kecil lengan Chan Yeol kemudian menyuruh Katherine mendekat padanya.

“Kenalkan, ini Katherine. Dia saudara tiriku. Dan Kath, dia adalah Chan Yeol. Dia akan menginap di sini selama dua Minggu.” Se Hun merangkul pundak Katherine.

Setelah Se Hun memperkenalkannya pada pria yang dibilang temannya itu, Katherine membungkukkan badannya sembilan puluh derajat. Seperti yang pernah dibilang oleh Se Hun, bahwa orang Korea melakukan itu sebagai ungkapan salam mereka. Sontak Chan Yeol sedikit terkejut, ia tidak menyangka bahwa Katherine akan melakukannya, tapi itu tidak bertahan lama sampai Chan Yeol berhasil menguasai dirinya dan balas membungkukkan badan sembilan puluh derajat.

Hey, Se Hun yang mengajarimu?” Chan Yeol menyipitkan mata, namun senyumannya tidak pernah pudar.

Katherine mengangguk, “Ya, dia mengajariku beberapa kebiasaan di Korea.” Jawabnya.

“Kau benar-benar saudara yang baik Oh Se Hun.” Kali ini giliran Chan Yeol yang memukul pelan lengan Se Hun. “Perkenalkan aku Park Chan Yeol. Kau bisa memanggilku Park, Chan, Yeol, atau sesukamu, asal jangan memanggilku hei saja. Walaupun Se Hun sudah mengenalkanku padamu tapi tetap saja lengkap jika aku tidak memperkenalkan diri lewat mulutku sendiri.” Barisan gigi putih Chan Yeol nampak rapi ketika pria itu tersenyum lebar seperti saat ini, dan hei, ia bahkan mengulurkan tangan kanannya. Berbeda dengan Se Hun, ia nampak canggung ketika pertama kali bertemu dengan Katherine dulu.

Menerima uluran tangan Chan Yeol serta meremasnya pelan sebagai tanda perkenalan, Katherine mengangguk dan membalas, “Katherine Morgan. Kau bisa memanggilku Katherine. Selamat datang di Los Angeles, kau bisa memanggilku jika membutuhkan sesuatu.” Ujar Katherine menawarkan diri.

Tidak biasanya Se Hun pulang larut malam, lelaki itu selalu berusaha menyelesaikan urusannya paling lama pukul sembilan. Tapi kali ini berbeda, ia akan mengikuti test masuk perguruan tinggi Harvard sehingga memerlukan cukup waktu untuk mengurus dokumen ini-itu. Sementara Katherine hanya menunggu di rumah dan menonton televisi.

Oh ayolah, besok ia libur. Seharusnya malam ini ia bisa keluar bersama teman-temannya atau paling tidak menghabiskan waktu bersama Se Hun, tapi nyatanya pria itu malah sibuk dengan urusannya sendiri.

I’m home..

Suara seseorang membuat Katherine memutar kepalanya. Chan Yeol berdiri di ambang pintu sambil membawa dua buah kantong plastik besar di tangannya. Ia tersenyum dan mengangkat kantong tersebut, “Se Hun bilang di rumah tidak ada persediaan makanan karena tadi sore kami menghabiskannya, jadi aku memutuskan untuk membeli beberapa makanan kecil. Kau sudah makan malam?”

Sudah tiga hari pria itu tinggal di rumah ini dan menjadi bagian keluarga mereka. Katherine juga sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Chan Yeol di antara ia dan Se Hun.

Hampir saja Katherine lupa kalau perutnya masih kosong malam ini. Awalnya ia berniat untuk makan seadanya, tapi nyatanya ia harus menelan rasa kecewa karena di dalam kulkas hanya ada sebotol susu dan sebutir telur.

Katherine menggeleng, ia bangkit dari duduknya dan mendekati Chan Yeol lalu mengambil satu kantong plastik yang ditenteng oleh pria itu. “Kau membeli daging dan sayur-sayuran?” Ia membuka kantong plastik yang sudah berada dalam genggamannya dan kembali menatap Chan Yeol, “Kau berbelanja semua ini seorang diri?”

Chan Yeol mengangkat kedua pundaknya bersamaan dan berdehem mengiyakan, “Walaupun aku tidak pintar memasak tapi setidaknya aku tahu bahan apa saja yang diperlukan.” Ia berhenti sebentar dan mengambil sesuatu dari dalam kantong plastik lalu menunjukkannya pada Katherine, “Tetanggaku bilang kalau kau pergi ke Amerika jangan lupa mencoba sarapan pancake. Tadi aku tidak sengaja menemukan tepung pancake di mini market. Kau tidak keberatan kan kalau besok kita sarapan ini saja? Eh, tentu saja aku juga membeli susu.”

Benar. Sekali lagi Katherine hampir lupa kalau selama beberapa bulan ini ia tidak pernah menyantap pancake sebagai sarapannya. Kelihatannya ide lelaki itu boleh juga, besok ia akan bangun pagi dan memasak pancake untuk makan pagi.

“Baiklah, omong-omong kau membeli apa untuk makan malam?” Kali ini Katherine menampakkan barisan giginya.

“Mmm..pasta! Kau bisa memasak-kan?”

“Ku rasa bisa.” Katherine membawa kantong plastik yang sedari tadi ia genggam ke dapur dan meletakkannya di atas meja. “Well, kau mau membantuku atau memilih untuk berdiam diri di meja makan?”

Chan Yeol bergidik. Ia meletakkan kantong plastik yang ada dalam pelukannya ke meja dan mengibas-kibaskan tangannya beberapa kali, “Sepertinya lebih baik aku duduk manis dan menunggu pasta buatanmu jadi. Aku hanya tidak ingin dapur indah ini berakhir kacau.”

Ugh, Park Chan Yeol. Katherine tidak menyangka pria seperti dia masih ada di dunia ini. Periang, baik hati, humoris dan yang paling penting adalah berbanding terbalik dengan sifat Se Hun. Tunggu dulu, kalau saja Chan Yeol datang lebih cepat, pasti Katherine sudah jatuh cinta pada pria itu.

Sementara Chan Yeol mengamatinya dari meja makan, Katherine secepat mungkin memasak pasta instan yang dibeli oleh pria itu lalu menghidangkannya. Kehadiran Chan Yeol ternyata merupakan keuntungan bagi Katherine. Setidaknya ia bisa menghabiskan malam ini bersama seseorang dan tidak harus menelan rasa kecewa terlalu dalam karena Se Hun sibuk pada urusannya sendiri.

“Ah, sepertinya enak,” Chan Yeol mengambil garpu di dekatnya dan menggigit bibir seperti anak kecil yang sudah tidak sabar menikmati makan malamnya. “Omong-omong kita tidak menunggu Se Hun?”

“Sepertinya dia akan pulang terlambat. Aku sudah kelaparan, ia pasti mengerti jika kita menghabiskan makanan ini sekarang.”

Mendengar jawaban Katherine, Chan Yeol sontak mengangguk setuju dan tertawa keras. Pria itu kemudian menyantap pasta buatan Katherine lahap, pelan-pelan Park Chan Yeol, dia bisa tersedak jika makan terburu-buru seperti itu.

“Kath..”

“Ya?”

“Bolehkah aku meminta bantuanmu?”

Katherine menyipitkan matanya, “Jika aku bisa membantumu, aku pasti melakukannya.”

“Begini…” Chan Yeol mendekatkan kepalanya pada Katherine dan hendak membisikkan sesuatu. “Sebenarnya aku ingin—“

I’m home!”

Se Hun baru saja memakirkan mobilnya. Hari yang sangat melelahkan, tapi tidak apa-apa, lagipula semua ini ia lakukan agar bisa meraih cita-citanya untuk masuk ke perguruan tinggi Harvard.

Keadaan rumah nampak sepi, bahkan lampu ruang tamu-pun mati. Apakah Katherine dan Chan Yeol sudah tidur?

Se Hun mengintip dari balik jendela kaca yang dibatasi gorden. Gelap. Tapi tunggu dulu, ia melihat sinar dari kejauhan di dalam sana, berarti salah satu dari mereka belum tidur. Buru-buru Se Hun mengeluarkan kunci duplikatnya dan membuka pintu masuk. Ternyata benar, lampu dapur dan televisi di ruang tengah menyala.

“I’m home!”

Pria itu berteriak dengan kencang tanpa memperdulikan sekitarnya. Matanya terfokus pada Katherine dan Chan Yeol yang kelihatan akrab sambil menyantap pasta. Tapi bukan itu masalahnya, melainkan Katherine nampak senang karena kehadiran Chan Yeol. Se Hun bahkan bisa menebak jika Katherine tidak menyadari kalau kekasih—atau yang lebih tepat adalah saudara tirinya sudah kembali.

Chan Yeol yang sedang mengucapkan sesuatu pada Katherine langsung menghentikan kalimatnya ketika mendengar teriakkan seorang pria. Ia langsung berdiri dan melambaikan tangannya pada Se Hun.

“Oh man, kau sudah pulang rupanya.” Barisan gigi rapi Chan Yeol menyambut kedatangan Se Hun yang semakin membuat perasaan pria itu tidak enak.

“Tentu.” Se Hun mengalihkan pandangannya pada Katherine yang sedang menatapnya sambil menggigiti bibir bawahnya. Sontak Se Hun menggeleng pelan dan menghampiri kedua orang itu lalu berdiri di antara Se Hun dan Katherine. “Kath, ada yang ingin ku bicarakan. Berhubungan dengan sekolahmu, jadi kau tidak keberatan-kan kalau menungguku di ruang kerja dad?”

Katherine tahu Se Hun sedang mengada-ada.

“Baiklah.” Katherine bangkit dari kursi. “Aku menyisakan sepiring pasta untukmu, sebenarnya tidak sampai sepiring sih. Tapi setidaknya itu bisa mengisi perutmu, brother.” Gumamnya lalu pergi ke tempat yang dikatakan Se Hun.

Beberapa saat setelah Katherine menghilang dari pandangan, Chan Yeol yang semula memilih untuk melanjutkan makannya setelah menyapa Se Hun itu-pun kini kembali mengeluarkan suaranya. “Bagaimana? Kau sudah melengkapi datanya?”

“Apa? Oh ya, sudah tujuh puluh persen. Besok aku akan menyelesaikan semuanya, lagipula orang tuaku akan kembali ke LA besok.”

“Benarkah?” Chan Yeol melepaskan garpunya dari mulut dan meletakkan benda itu di pinggir piring. “Apa kau akan menjemput mereka di Bandara? Maksudku, mungkin aku bisa ikut dan membantu membawakan barang.”

“Boleh juga, besok aku akan menjemput mereka jam lima sore. Kau tidak keberatan-kan kalau pergi ke Bandara tanpa aku?”

Chan Yeol tertawa keras dan memukul bahu Se Hun, “Kau bercanda? Hei Oh Se Hun, aku ini pria berusia dua puluh tahun. Lagipula aku tidak akan tersesat jika pergi bersama adikmu.”

Pergi bersama Katherine? Tidak. Se Hun tidak menghendaki hal itu terjadi.

“Kau tidak keberatan-kan?”

Tentu saja iya.

“Apa? Tentu saja tidak. Ajaklah Katherine, jika ia mau maka kau bisa pergi bersamanya besok.”

“Benarkah?”

Se Hun mengalihkan pandangannya dan meneguk segelas air dingin sambil mengangguk pelan.

Tidak ada yang ia lakukan selain duduk termenung. Kepalanya penuh akan tanda tanya tentang apa yang akan dilakukan oleh Se Hun dan tujuan pria itu.

“Apa aku terlalu lama?”

Se Hun muncul dari balik pintu sambil membawa dua cangkir teh, dan baiklah, Katherine bisa meleleh jika pria itu terus tersenyum padanya seperti sekarang.

“Ini, minumlah,” Se Hun meletakkan secangkir teh hangat di depan Katherine lalu duduk di samping kekasihnya. “Aku tidak tahu kenapa kau terus-terusan memasang wajah tegang ketika bersamaku. Apakah aku menyeramkan? Aku bukan monster, baby.” Kembali menyesap tehnya dan merangkul pundak Katherine.

“Maafkan aku, aku benar-benar tidak berniat membuatmu cemburu.” Katherine menelan ludahnya berat.

“Apakah aku mengatakan sesuatu tentang itu?”

“Apa? Jadi kau tidak…”

“Kath, sudah bertahun-tahun aku mengenalmu. Berkali-kali kau mencoba lari dariku, tapi pada akhirnya kau kembali juga bukan?” Ia berhenti sebentar dan memegang kedua pipi Katherine lalu menarik pelan wajah gadis itu untuk membalas tatapannya. “Aku hanya tidak ingin kau terlalu dekat dengan Chan Yeol. Kau mengerti?”

Demi apapun, Katherine selalu saja luluh ketika Se Hun memintanya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. “Aku mengerti.” Jawabnya singkat.

Se Hun tersenyum puas. Ia menenggelamkan Katherine dalam pelukkannya. Well, seharian tanpa gadisnya sudah cukup membuat Se Hun khawatir dan tidak tenang. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya ia memikirkan Katherine, dan sekarang setelah sehari panjang terlewati akhirnya kedua lengannya berhasil mendekap Katherine erat dan meluapkan perasaannya.

“Kath..”

“Mmm?” Katherine mendongak.

I Miss You.”

Tersenyum simpul dan kembali membiarkan kepalanya menyandar pada dada bidang Se Hun sambil memejamkan mata, “Miss You More, Mr. Oh.”

“Kau mau tidur dengan posisi seperti ini?”

Katherine semakin mengeratkan pelukkannya, “Aku tidak menolak. Lagipula ini sangat nyaman.” Balasnya hangat.

Segalanya berjalan dengan lancar sejauh ini. Se Hun yang berangkat pagi-pagi buta untuk kembali disibukkan dengan persiapannya mengikuti test di Harvard, Chan Yeol yang sedang menulis sesuatu di lembaran kertas, dan Katherine yang tengah mempersiapkan dua buah pancake madu.

Mereka tidak perlu banyak waktu untuk menyantap pancake buatan Katherine, sampai akhirnya Chan Yeol memberanikan diri untuk mengajak gadis itu pergi bersamanya. Tentu saja tidak hanya untuk menjemput kedua orang tua Katherine, namun juga untuk menemani pria itu berkeliling Los Angeles.

Sepertinya Dewi Keberuntungan berpihak pada Chan Yeol sehingga Katherine mengiyakan permintaannya. Well, bukankah ini suatu keuntungan bagi Chan Yeol? Karena sepertinya ia mulai tertarik pada Katherine, bukan hanya wajah, tapi juga kepribadian dan pembawaannya yang tenang.

Mereka menyusuri jalan Los Angeles menggunakan Mercedes Benz SLK 55 AMG putih milik Se Hun yang kebetulan sekali tidak digunakan hari ini. Kaos putih berlengan 3/4, celana jeans, dan kaca mata hitam kelihatan  cocok melekat di badan Chan Yeol. Tidak kalah simple dengan Chan Yeol, Katherine juga hanya mengenakan shirt dress dan leggings hitam. Percayalah padaku bahwa mereka seperti sepasang kekasih yang sedang berlibur.

Siapapun pasti setuju jika pergi ke Los Angeles harus singgah ke Hollywood Boulevard, begitupula Chan Yeol dan Katherine. Terutama Chan Yeol, ia sangat antusias begitu sampai di sana. Pria itu bahkan hampir saja melompat sambil berteriak ketika menemukan nama Scarlett Johansson di salah satu bintang yang ada. Dan ya, pria itu sangat berisik.

“Kath! Kau lihat itu? Scarlett Johansson?!” Chan Yeol mengeluarkan ponsel dari saku dan memberikannya pada Katherine. “Foto aku! Aku harus mencetak dan memajangnya di dinding kamarku!”

Katherine hanya tersenyum simpul, tidak, ia sebenarnya sedang menahan gelak tawa menyaksikan Chan Yeol dengan gaya idiotnya meminta Katherine untuk mengambil gambar. Ia tidak tahu jika Chan Yeol akan sesenang itu ketika menemukan bintang Scarlett Johansson.

Sementara Katherine dan Chan Yeol sibuk mengambil gambar diri mereka bergantian, beberapa kali ponsel Katherine bergetar dan gadis itu tidak menyadarinya. Ia terlalu senang bersama Chan Yeol, pria itu benar-benar moodboster akhir-akhir ini.

Setelah puas berkeliling di Hollywood Boulevard, Katherine membimbing Chan Yeol dalam memilih jalan untuk pergi ke Pacific Park. Menurut penglihatannya selama ini, orang seperti Chan Yeol pasti sangat senang jika diajak ke taman bermain, dan benar saja, pria itu begitu antusias ketika mereka telah sampai di depan gerbang Pacific Park.

Selain berbagai pemainan, di samping Pacific Park terdapat sebuah pantai yang rencananya akan mereka datangi setelah ini. Tentu saja jika waktunya cukup.

Sifat kekanakkan Chan Yeol mulai muncul, ia mengajak Katherine untuk menaiki hampir semua wahana. Mulai dari yang biasa hingga luar biasa, sebenarnya Katherine ingin menangis ketika Chan Yeol memaksanya menaiki roaler coaster, tapi nyatanya ia sedikit lebih tenang karena Chan Yeol menggenggam tangannya.

“Mau ku belikan minum?” Chan Yeol membantu Katherine berjalan, ia merasa bersalah karena sudah mengajak Katherine menaiki roaler coaster hingga lemas seperti ini.

Katherine mengangguk, ia juga tidak menolak ketika Chan Yeol membantunya sampai mereka mendapat tempat duduk di pinggir jalanan Pacific Park.

“Tunggu sebentar, aku akan segera kembali Kath, dan jangan sampai pingsan.” Gumam Chan Yeol lagi sambil mengedipkan sebelah matanya.

Katherine hanya tertawa, ia masih lemas, tapi setiap kalimat yang keluar dari mulut Chan Yeol benar-benar menghibur dan membuat perutnya seperti di kocok. Jika ia tidak lemas, pasti tawanya sudah membahana sekarang.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, lengannya merogoh tas lengan dan mengambil ponsel. Damn, Se Hun pasti sangat marah. Katherine tidak sadar jika Se Hun mencoba menghubunginya lebih dari sepuluh kali.

Buru-buru Katherine memencet tombol pesan singkat dan mencari nama Se Hun.

To : Oh Se Hun

“Maafkan aku, aku tidak tahu kau menelfon. Ada apa?”

Dengan perasaan bimbang Katherine mengirimkan pesan tersebut pada Se Hun. Ia tahu betul kekasihnya sangat tidak suka jika diabaikan, ia juga tidak suka jika Katherine hanya mengirim pesan singkat saja. Baiklah, bukan masalah ia malas berbicara dengan Se Hun atau apapun itu, tapi Katherine takut jika menelfon Se Hun sekarang ia akan mendapatkan balasan dingin dari pria itu.

Benar saja, tidak lama kemudian nama Se Hun terpampang di layar ponsel Katherine. Antara yakin dan tidak, Katherine bingung harus menerima atau menolaknya. Jika ia menerima panggilan Se Hun, maka pria itu pasti akan bersikap dingin atau bahkan menghukumnya ketika ia sampai di rumah, namun yang lebih parah jika Katherine tidak menerima panggilannya, maka pria itu akan melakukan hal paling menakutkan, apalagi kalau bukan menghajar Chan Yeol. Tunggu dulu, Chan Yeol adalah teman baik Se Hun, mana mungkin ia tega menyakiti temannya sendiri?

Tapi ini Se Hun.

Dia bisa melakukan apapun.

Dan pada siapapun.

Lebih baik Katherine menerimanya daripada harus mengorbankan Chan Yeol untuk kemarahan Se Hun.

“Hallo…”

“Dimana kau? Apa aku pernah mengijinkanmu untuk pergi bersama Chan Yeol?”

Katherine terdiam, ia takut salah bicara.

“Cepat pergi ke Airport dan kau harus pulang satu mobil denganku.”

“Tapi…”

“Aku bisa melakukan hal yang sama untuk ke-sekian kalinya, Kath.”

“Dia temanmu! Kau sudah gila!”

Se Hun tertawa datar, “Tentu saja, kau yang membuatku gila. Jadi cepatlah kemari sebelum kegilaanku benar-benar muncul.”

“Psycopath.”

“Pardon, Miss?

Bodoh. Katherine bisa mendengar nada kemarahan Se Hun. Ia tidak tahu kenapa mulutnya bisa mengeluarkan kata seperti itu, bodoh benar-benar bodoh, Se Hun pasti sangat marah sekarang.

Se Hun menghela napas, “You’ll get your punishment, Katherine Morgan.”

 

To Be Continued.

Iklan

13 pemikiran pada “[Two-Shot] L.I.N.A.M [1/2]

  1. Waah cinta terlarang yaa
    Ngeri ah sehun nih……tpi perhatian dan baik ya dia bahkan ngg berani cium kathrine klo nggak di izinin ya ampun kpn ya punya pacar begitu baiknya tpi yaa tetep aja ngeri klo udah marah itu yg nggak aku suka wkwkwkwk tdk ada yg sempurna di dunia ini….

  2. cinta terlarang yaa?
    Sehun bikin ngeri, gila, Kath itu adikmu bang.
    tapo si Kath ya jg sii, udah tahu itu abanh sendiri….

    tapi di bakik sifat nya ya over protectif terselip sifat sweet baget ^-^

  3. Wlqpn ga sedarah tp ttp aj mereka ga bs terusin hubunganx ya..dan si yeol ga akn diapain kan ya..sehun ga terkendali kyx klo udh menyangkut si kath

  4. Duh cinta terlarang nya udh keterlaluan dehh.. Sehun udh protectiv banget sama khatrine… Masa iya dia mah mukulin sahabatnya sendiri sihh

  5. ya tepat aja sih kena semprot sebagai psikopat, si cadel nih.
    nakal /jewer thehun/

    Nunggu the last shot! /two shot kan?/

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s