Forbidden Love Part VIII


forbidden love

FORBIDDEN LOVE

 A FanFiction

by

Heena Park

Genre: Romance-Sad-Marriage Life//Ratting: PG-15//Lenght: Multichapter//Starring: Shin Hee Ra-Kim Jong In-Park Chan Yeol-Choi Ha Neul-Do Kyung Soo

Summary :

“Apa yang akan terjadi jika seorang wanita yang sedang mengalami patah hati memutuskan untuk menikahi pria dengan kelainan homoseksual?”

https://soundcloud.com/arumnarundana/suzy-of-miss-a-dont-forget-me

Forbidden Love Part VIII

Hee Ra mendengus, ia hampir mati beku ketika Jong In tiba-tiba menarik dan mencium keningnya, untung saja ia tidak berteriak atau bahkan yang lebih parah adalah melompat ke belakang. Lagipula, kenapa Jong In tidak memberitahu dulu jika ia akan melakukan gerakkan erotis—tidak, sebenarnya mencium kening bukanlah gerakkan yang erotis. Tapi ini tetap salah, seharusnya sebelum naik ke altar, Jong In memberitahu atau setidaknya memberi kode jika ia berniat untuk mencium kening Hee Ra.

Bersyukur karena bisa mengendalikan diri, sekarang Hee Ra benar-benar lemas. Ia masih terbayang akan kejadian tadi, bukannya apa, hanya saja jantungnya masih berdebar kencang dan entahlah—Hee Ra sendiri tidak tahu bagaimana harus mengutarakannya.

“Hei, Shin Hee Ra, kenapa bersembunyi di sini? Kau tahu para tamu menanyakanmu?” Jong In yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang ganti langsung duduk berjongkok di depan Hee Ra.

Masih mencoba mengatur napas, Hee Ra dengan sekuat tenaga berusaha menjawab, “Aku tidak akan berlari setelah upacara pernikahan jika kau tidak menciumku seperti itu. Kau tahu? Jantungku hampir saja meledak tadi.”

“Apa?” Jong In tertawa renyah. “Bukankah kau sudah berkali-kali pacaran? Masa dicium olehku saja sudah berdebar-debar.”

Pacaran? Ngomong-ngomong soal itu, sebenarnya Hee Ra hanya berpacaran sebanyak dua kali sepanjang hidupnya.

“Baiklah-baiklah, maafkan aku. Jadi sekarang maukah kau ikut keluar denganku? Aku tidak ingin mendengar berita kalau istri Kim Jong menghilang setelah upacara pernikahan,” ujar Jong In sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

Mendengar jawaban Hee Ra, Jong In menyipitkan matanya, “Kau akan menyesal.”

“Kenapa?”

“Karena…” Jong In mendekatkan bibirnya pada telinga Hee Ra dan berbisik, “Aku melihat Chan Yeol di pernikahan kita.”

“Apa?” Hee Ra membulatkan mulutnya. Antara percaya dan tidak percaya, ia menengok ke arah Jong In dan mendapati ekspresi senang dari pria itu. Benarkah bahwa Chan Yeol datang? Maksudku, apa dia sanggup melihat Hee Ra bersanding dengan pria lain? Atau jangan-jangan pria itu sudah melupakan Hee Ra dan dengan santainya menghadiri acara ini.

Ahh, sakit sekali rasanya.

“Tidak mau, aku tidak akan keluar.”

Jong In memutar bola matanya, “Ya! Shin Hee Ra kau—”

“Aku belum siap melihat Chan Yeol bersama wanita lain, ah kau benar-benar tidak mengerti apa yang aku rasakan. Pokoknya aku tidak mau keluar!”

Frustasi pada penolakkan Hee Ra, Jong In menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa gadis ini kekanakkan sekali sih?

“Bagaimana kalau ternyata Chan Yeol datang seorang diri? Maksudku dia tidak bersama gadis yang kau bicarakan itu.”

Hee Ra menggeleng, “Tidak mungkin. Dia pasti datang bersama gadis itu.”

“Tapi kenyataannya dia datang sendiri,” Aku bahkan tidak tahu seperti apa Chan Yeol itu, “dan dia kelihatan seperti orang patah hati,” Bukankah pria yang ditinggal kekasihnya menikah memang akan patah hati? Berbohong sedikit pada Hee Ra tidak akan membuat gadis itu marah besar bukan?

“Kau serius?” Hee Ra mengerutkan keningnya.

“Dua-rius Shin Hee Ra,” Jong In menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya pada Hee Ra, membentuk huruf V.

Akhirnya gadis itu menyerah juga. Ia bangkit dan menggigit pelan bibir bawahnya sebentar. “Baiklah, aku ikut keluar,” jawabnya pasrah.

Jong In tersenyum menang. Ia mengikuti Hee Ra untuk berdiri dan meraih telapak tangan kiri gadis itu, dan sekali lagi Jong In membuat Hee Ra terkejut. Tidak bisakah pria itu meminta izin sebelum melakukan sesuatu? Benar-benar seenaknya sendiri.

Mereka keluar dari ruang ganti bersamaan, tentu saja tangan Hee Ra mash berada dalam genggaman Jong In. Senyum tak lupa dipasang di wajah keduanya, beberapa tamu yang melihat mereka bahkan sempat memuji kecocokkan keduanya untuk menjadi suami-istri.

Akhirnya mereka berhenti di dekat meja prasmanan. Hee Ra berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Jong In, tapi pria itu malah meremas tangan Hee Ra semakin keras.

“Kim Jong In, lepaskan tanganku!” Hee Ra berbisik kasar, memerintah Jong In untuk melepaskan tangannya.

Alih-alih melepaskan Hee Ra, Jong In malah menggeleng dan menarik gadis itu makin dekat dengannya. “Kenapa kau cerewet sekali sih?” ia berhenti sebentar dan menengok ke kanan sambil memberi seulas senyum pada seseorang yang lewat di samping mereka lalu kembali memandang ke arah Hee Ra, “Bersikaplah seperti pengantin sungguhan, tetaplah di sampingku.”

“Tidak mau, aku harus menemuinya.”

“Siapa?”

“Dia.”

“Aku tidak mengerti.”

Hee Ra menggertakkan gigi frustasi. Matanya memandang sekitar dan menyerah. Ia akhirnya membisikkan sebuah nama di telinga Jong In.

“Chan Yeol. Park Chan Yeol.”

“Apa?” Begitu mendengar nama pria yang dimaksud oleh Hee Ra, Jong In refleks membelalakkan matanya. Wanita ini benar-benar menyebalkan, bagaimana mungkin dihari pernikahannya, ia malah sibuk mencari pria lain padahal suaminya daritadi berada di sampingnya.

Tunggu dulu. Lagipula ini hanya pernikahan sesaat. Seharusnya Jong In tidak mempermasalahkan hal itu bukan? Ia selalu mengingat salah satu point perjanjian mereka yang bertuliskan ‘Tidak diperbolehkan ikut campur pada urusan pribadi masing-masing’ dan ‘Diperbolehkan untuk dekat dengan orang yang disukai tanpa terkecuali.’

Itu berarti Jong In tidak memiliki hak untuk melarang Hee Ra menemui Chan Yeol meskipun statusnya kini adalah suami Hee Ra.

“Baiklah. Kau boleh mencarinya, tapi ingat satu hal, kau harus kembali dalam tiga puluh menit atau paling lambat satu jam.”

Mendengar Jong In mengizinkannya mencari Chan Yeol, hatinya bergejolak bahagia. Ia tidak menyangka pria seperti Jong In akan memberikannya kelonggaran dan dengan mudah memperbolehkannya untuk melakukan hal paling tidak masuk akal yang dilakukan oleh pengantin baru. Ah, sepertinya Hee Ra lupa pada butir perjanjian yang sangat diingat Jong In tersebut.

Tidak membuang waktu terlalu lama, Hee Ra segera melangkah untuk mencari Chan Yeol. Setidaknya untuk melihat keadaan pria itu, atau jika memungkinkan ia ingin menemui dan memeluknya. Tidak, ia tidak mungkin bisa memeluk Chan Yeol di tempat ini. Bagaimanapun ia adalah istri Jong In sekarang, dan jika Hee Ra tetap bersikeras memeluk Chan Yeol maka bukan tidak mungkin akan ada seseorang yang curiga dan mengira bahwa ia berselingkuh di belakang Jong In.

Ia mengitari hampir seluruh ruangan dan pelosok tempat ini. Memasang mata dan telinga sejeli mungkin, siapa tahu Chan Yeol ada diantara keramaian. Namun nihil, ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda keberadaan Chan Yeol. Hanya ada keluarga, teman-teman, dan beberapa kerabat beserta rekan kerja Jong In.

Lalu di mana Chan Yeol?

Apa Jong In berbohong?

Hei, memangnya Jong In sudah tahu seperti apa wajah Chan Yeol? Hee Ra bahkan tidak pernah memperlihatkan foto Chan Yeol pada Jong In sebelumnya. Ini berarti Hee Ra telah ditipu oleh Jong In agar ia mau keluar dari ruang ganti.

Benar, Hee Ra yakin pada apa yang ada di otaknya. Kim Jong In, pria itu benar-benar menyebalkan. Apakah dia tidak tahu seberapa besar harapan Hee Ra untuk bertemu Chan Yeol? Kenapa ia tega sekali menjadikan kelemahan Hee Ra sebagai alat mainnya?

“Cukup mom! Hee Ra bahkan tidak pernah merugikanmu, kenapa kau terus-terusan membuatnya terlihat buruk?”

Tiba-tiba telinganya menajam. Iamengenal suara yang baru saja didengarnya, mungkinkah itu….

“Park, jaga mulutmu. Kau tidak seharusnya berkata seperti itu pada ibumu.”

“Lihat itu, berbeda sekali bukan dia dengan Ha Neul? Mom benar-benar tidak habis pikir denganmu. Kau masih saja membela wanita yang salah.”

Jantungnya berdegup kencang. Tidak percaya pada apa yang ada di depan matanya sekarang. Dua orang wanita dan seorang pria sedang beradu mulut—tidak itu terlalu kasar. Hee Ra bisa melihat raut kesal di wajah wanita setengah baya yang duduk paling pinggir. Tiba-tiba saja wanita itu bangkit sambil menarik lengan wanita yang lebih muda darinya, sementara pria yang semula duduk di dekat wanita muda yang ditarik lengannya tadi hanya mendesah berat sambil memijit pelan pelipisnya beberapa detik.

Ia kelihatan frustasi. Hee Ra bahkan bisa melihat lingkaran hitam di sekitar mata pria yang sedang duduk itu. Selang beberapa detik, pria itu bangkit dan mencoba mengejar dua wanita yang telah pergi tadi.

Entah apa yang merasuki otak Hee Ra. Bibirnya tiba-tiba saja bergerak kaku, mencoba mengeluarkan suara paling rendahnya untuk bisa memanggil nama pria yang sangat ia rindukan selama ini. Pria yang pada kenyataannya harus menerima rasa sakit berlipat ganda.

Ia tidak tahu jika Chan Yeol terpaksa menerima perjodohan itu, ia bahkan baru tahu jika Chan Yeol memilih kabur dan mencarinya. Tapi apa yang dilakukan oleh Hee Ra? Ia berpikir terlalu pendek dan terburu-buru sehingga menerima lamaran Jong In. Tahu seperti ini, ia pasti menunggu Chan Yeol dan kabur ke luar kota atau yang lebih nekat lagi ia rela kabur ke luar negeri bersama pria itu. Ia rela melakukan hal-hal gila dan di luar nalar asal bisa bersama Chan Yeol.

Tapi apalah dayanya sekarang. Ia sudah menjadi milik Jong In dan Chan Yeol sudah berjanji untuk tidak kabur dari pernikahannya lagi. Semua sudah terlambat, percuma Hee Ra berandai-andai seperti tadi.

“Park Chan Yeol..”

Hee Ra tahu bahwa suaranya sangat serak dan kecil, tapi pria yang berjarak tidak terlalu jauh darinya itu berhenti. Ia terpaku sebentar tanpa gerakkan sedikitpun hingga akhirnya dengan perlahan berbalik. Matanya semakin membulat ketika mendapati Hee Ra berdiri di ujung sana, bukan hanya itu, napas pria itu bahkan kelihatan tidak teratur, dan yang paling penting adalah Hee Ra bisa menebak apa yang ingin di lakukan oleh Chan Yeol sekarang.

Memeluk Hee Ra se-erat mungkin.

Masih dengan tatapan percaya tidak percaya, Chan Yeol menelan ludah sehingga jakunnya ikut naik-turun. Mulutnya mencoba terbuka dan mengeluarkan suara beratnya yang khas, “Shin Hee Ra…”

Jong In benci menunggu. Terutama menunggu sesuatu yang tidak ingin dilakukannya. Wajahnya benar-benar memperlihatkan kondisi hatinya saat ini, duduk termenung tanpa perduli sekitar dengan tatapan lurus ke bawah. Pikirannya kalut setiap kali memikirkan apakah Hee Ra benar-benar bertemu dengan Chan Yeol. Ia hanya kesal jika wanita itu lebih mementingkan mantan kekasihnya daripada pernikahan mereka, tapi sekali lagi ini hanya sekedar drama saja. Tidak ada cinta di antara keduanya — sepertinya.

Ahh, kenapa dia belum kembali?” Sekali lagi Jong In mengacak-acak rambutnya tanpa mengalihkan pandangan dari jam tangan. Baru dua puluh menit memang, tapi perasaannya sudah tidak karuan. Apa ia harus mencari Hee Ra? Ia hanya takut kalau gadis itu dibawa kabur oleh Chan Yeol.

“Me-mu-ak-kan!”

Jong In mendongakkan wajahnya, menatap seorang pria kemayu yang sudah berdiri di depannya sambil menyilangkan lengan. Siapa lagi kalau bukan Kyung Soo? Ia terlihat tidak senang semenjak datang dipernikahan Jong In dan Hee Ra tadi siang. Terlebih lagi saat Jong In tiba-tiba mencium Hee Ra, ia sempat melirik ke arah Kyung Soo dan mendapati pria itu melotot menahan amarah.

“Apa-apaan tadi? Kenapa kau menciumnya? Kau tidak bilang jika—”

“Pelankan suaramu!” Jong In sedikit membentak, jari telunjuknya berada di depan bibir sebagai kode agar Kyung Soo mengecilkan volume suaranya. “Mereka bisa tahu jika kau berbicara sekeras itu,” tambah Jong In.

Kyung Soo memutar bola matanya. Ia tidak menyangka Jong In masih sempat memikirkan hal itu ketika kekasihnya sedang marah besar. Tidak tahukah Jong In kalau hati Kyung Soo sangat sakit sekarang? Apa belum cukup dengan menikahi Hee Ra? Kenapa harus ada adegan berciuman segala? Itu berarti setelah hari ini akan ada adegan-adegan lain yang lebih parah lagi, bukan?

“Aku mau menikah dengan pria lain saja.”

“Apa?”

“Iya, menikah dengan pria lain. Kau mengerti maksudku, Kim Jong In.”

“Tunggu dulu,” Jong In menggeleng. Ia bangkit dan berdiri tepat di depan Kyung Soo. “Baiklah, maafkan aku. Lagipula bukankah mencium mempelai wanita adalah hal yang wajar dalam pernikahan? Jika aku tidak melakukannya maka orang-orang akan berpikir ada sesuatu yang tidak beres diantara aku dan Hee Ra.”

Kyung Soo tersenyum kecut, “Bukankah memang seperti itu kenyataannya? Kalian hanya menikah agar kau bisa mendapat warisan saja.”

“Sudah ku bilang ini semua bukan cuma untukku, tapi untukmu juga. Kau mau aku jatuh miskin?”

“Tentu saja tidak. Kau sudah gila?”

Jong In mengkerutkan keningnya. Mencoba memelankan suaranya, “Kalau begitu biarkan aku dan Hee Ra menjalankan sandiwara ini. Setidaknya sampai warisan itu benar-benar jatuh padaku, setelah itu aku akan mengakhirinya.”

Perkataan Jong In sedikit menenangkan hati Kyung Soo. Tapi sekali lagi, apakah kata-kata Jong In barusan bisa dipegang?

“Kau berjanji?”

Jong In tidak menjawab, ia hanya tersenyum manis pada Kyung Soo. Sangat aneh bukan? Tidak seperti Jong In yang biasanya.

Angin sepertinya mengerti kegundahan yang menyelimuti keduanya. Mereka seolah mengalun lembut sebagai penghantar senja, sementara Chan Yeol dan Hee Ra berdiri di atap gedung dengan posisi Hee Ra menyandarkan tubuh dan kepalanya di dada Chan Yeol. Pria itu memeluk Hee Ra erat dari belakang dan sesekali mencium pipi Hee Ra, setidaknya hanya ini cara yang bisa mereka lakukan untuk mengobati rasa rindu.

“Maafkan aku…” Chan Yeol berbisik pelan di telinga kanan Hee Ra. Suaranya terdengar penuh akan sesal, hatinya hancur melihat Hee Ra memakai gaun pengantin seindah ini dan mengucap janji setia bersama pria lain.

Hee Ra berbalik. Kedua lengannya kini telah menggantung di leher Chan Yeol dan menggeleng, “Kau tidak salah. Maafkan aku…seharusnya aku tidak berpikir sependek itu dan menerima lamaran Jong In.” Tidak Shin Hee Ra. Gadis itu tidak menyesal menikah dengan Jong In, dia hanya merasa bersalah pada Chan Yeol. Benarkan?

“Seharusnya saat itu aku tidak memperlihatkan undangan pembawa sial itu,” Chan Yeol berhenti sebentar dan balik menatap kedua mata Hee Ra tajam, “seharusnya saat itu aku memelukmu erat dan berkata bahwa aku akan menikah denganmu, bukan dengan Ha Neul.”

Seharusnya..

Selalu saja berandai-andai…

Semua sudah berlalu, mereka tidak akan bisa memutar waktu dan menjalankan rencana yang sudah terlambat.

“Sekarang aku tahu apa yang kau rasakan ketika melihat undanganku waktu itu,” Chan Yeol kembali bergumam. Setiap kata yang keluar dari mulutnya bagaikan belati bagi Hee Ra. Kala itu yang ia rasakan sangat menyakitkan, dan Hee Ra yakin jika Chan Yeol merasakan yang lebih parah lagi.

“Aku tidak ingin kau merasakan yang lebih sakit lagi, aku akan membatalkan pernikahanku dengan Ha Neul.”

Membatalkan?

“Tidak. Kau tidak bo—”

Ssstt..” Chan Yeol menutup mulut Hee Ra menggunakan jari telunjuknya. “Ku mohon, ini adalah pilihanku. Aku tidak cukup bodoh untuk menyia-nyiakan sisa hidupku bersama wanita yang tidak aku cintai.”

“Tapi…”

“Aku ingin kau tahu sesuatu..sebenarnya aku bukan satu-satunya anak keluarga Park.”

“Apa maksudmu?” Hee Ra mengerutkan keningnya. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Ada apa dengan Chan Yeol dan keluarganya?

Berniat membuat Hee Ra semakin penasaran, Chan Yeol awalnya hanya tersenyum tipis. Ia melepaskan Hee Ra dari pelukkannya dan berjalan ke depan, “Aku..memiliki seorang adik yang tidak sempurna.” Ia menghentikan kalimatnya dan menunduk.

Sementara Hee Ra masih sibuk mencerna perkataan Chan Yeol. Apa yang pria itu maksud? Tidak sempurna bagaimana? Hee Ra benar-benar tidak mengerti.

“Namanya Park Cheon Sa,” Chan Yeol kembali melanjutkan penjelasannya sehingga pertanyaan yang menumpuk pada kepala Hee Ra menghilang begitu saja. “Sejak lahir Cheon Sa lumpuh dan mata kirinya mengalami kerusakkan sehingga ia hanya bisa melihat dengan mata kanannya. Ibuku selalu berusaha menyembunyikan Cheon Sa dari publik.” Chan Yeol berbalik, ia mengamati Hee Ra yang kini mulai mendekat padanya dan langsung memeluk pria itu ketika jarak mereka kurang dari lima puluh centi.

“Kenapa kau baru menceritakannya sekarang?”

Chan Yeol menjawab dengan lembut, “Karena aku tidak mau kelihatan lemah di matamu. Aku ingin melindungi Cheon Sa, sehingga aku terpaksa menerima perjodohan itu.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Chan Yeol memegang erat kedua pundak Hee Ra dan lagi-lagi menatap mata gadis itu dalam, “Maukah kau ikut denganku menjenguk Cheon Sa di rumah nenekku Minggu depan? Aku yakin Cheon Sa pasti senang bertemu denganmu.”

Hee Ra hampir saja mengangguk setuju, namun tiba-tiba terbesit  nama Jong In dalam pikirannya. Ia tidak yakin Jong In akan memberi ijin untuk pergi bersama Chan Yeol, tapi bagaimana lagi? Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

“Shin Hee Ra?” Chan Yeol nampak khawatir menunggu balasan Hee Ra, takut jika ditolak.

Sebaliknya, Hee Ra malah mengembangkan bibirnya untuk membentuk seulas senyum. Ia mengangguk pelan sambil menjawab pertanyaan Chan Yeol, “Iya, aku mau. Aku akan pergi bersamamu Minggu depan.

TO BE CONTINUED

Iklan

106 pemikiran pada “Forbidden Love Part VIII

  1. Kyung So amit dah kayaknya dia cinta Jong In karna harta fah hhuhuhu akan kah nanti Hee Ra jalan bareng Chanyeol?? Jangan sampe clbk ah
    Cuss ah ke part selanjutnya ^^

  2. kok yang moment sweet malah chanyeol sama hee ra sih. kyungsoo mah gitu bgt, bikin kai jadi gmana gitu, padahal aku yakin kai itu normal, dia kaya gitu itu cuma kena pengaruh D.O aja.

  3. Aduh kyungsoo sebenarnya cinta beneran sm jong in, atau sm hartanya jong in saja sih. Dasar kyungsoo, kelakuannya semakin menggelikan yah.

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s