Another Soul


D-O-Overdose-exo-k-37047527-507-700

 

 

 

Title : Another Soul // Author : Heena Park // Genre : Romance, Psycho // Ratting : PG-15 // Lenght : Oneshoot // Main Cast : -Do Kyungsoo, -Kim Su Jin, -Han Yoon He // Song Recommended : Kyuhyun –At Gwanghwamun, Howl – Love You, Peterpan – Menunggumu

Author Notes : Hallu! FF ini aku buat untuk memperingati Ulang Tahun Do Kyung Soo~

*****

 

 

“Kau benar-benar tidak akan mengajakku ke sana?”

Kyung Soo menggeleng pelan, ia menutup buku tebal bewarna coklat tua yang sudah lusuh, sepertinya buku ini sudah berumur puluhan tahun.

Kicauan Su Jin membuatnya tidak bisa berkonsentrasi, gadis itu terus-terusan mengulangi pertanyaan yang sama selama tiga hari terakhir. Begitu pula Kyung Soo, ia juga memberi jawaban yang sama setiap harinya.

“Someday babe, not now.”

“Why?”

Kyung Soo hanya mengangkat kedua pundaknya bersamaan. Ia bangkit dari kursi perpustakaan dan memilih untuk segera pergi sebelum semua orang protes karena kehadirannya bersama dengan gadis cerewet dan manja seperti Su Jin.

Beberapa kali Kyung Soo mendapat teguran halus melalui tatapan tajam dari beberapa orang yang terusik ketenangannya ketika membaca membaca buku. Bermaksud membuat Su Jin diam dan tidak menanyakan hal itu dengan membawanya ke perpustakaan ternyata adalah sebuah kesalahan besar. Gadis itu—Su Jin—Tanpa perduli dengan keadaan sekitar, dan seolah menganggap manusia di sana tidak ada atau apapun itu, terus menanyakan hal yang sama.

“Mau ku traktir fish and chips?”

“Kau berusaha mengalihkan pembicaraan kita?”

“Bagaimana jika ditambah orange juice?”

Su Jin menggertakkan giginya, ia menoleh ke kiri dan mendapati tatapan protes dari orang-orang disekitarnya. Sebenarnya ia sangat sadar jika apa yang ia lakukan bersama Kyung Soo sangat mengganggu. Tidak, sebenarnya Kyung Soo hanya diam dan fokus pada bukunya, sementara ialah yang terus-terusan menuntut jawaban sehingga Kyung Soo memilih untuk bangkit dan berusaha mengajaknya pergi.

“Baiklah, aku ikut denganmu.”

Tersenyum simpul, itulah yang dilakukan pertama kali oleh Kyung Soo begitu mendengar jawaban pasrah dari mulut Su Jin. Pria itu langsung meraih tangan Su Jin dan menggenggamnya.

Kyung Soo adalah tipe pria yang sedikit bicara namun sangat perhatian. Ia selalu memaklumi sifat Su Jin yang kekanak-kanakkan dan manja. Mata bulatnya selalu menatap Su Jin dengan ramah. Tidak jarang, Kyung Soo mendapat masalah akibat kelalaian Su Jin yang terkadang menjengkelkan. Kyung Soo pernah hampir tertabrak mobil karena menolong Su Jin yang tiba-tiba saja berlari ke tengah jalan dengan alasan ingin menyelamatkan seekor burung yang terluka, pernah juga dikejar dua orang preman karena Su Jin tidak sengaja menabrak mereka. Namun Kyung Soo hanya tersenyum dan berkata ‘Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja.’ Sambil memeluk gadis yang ia cintai tersebut.

 

*****

 

Sudah pukul sembilan malam, Su Jin masih betah menatap novel baru miliknya sembari menunggu Kyung Soo, sementara Kwon Min Soo—Sahabatnya—Duduk bersila sambil tersenyum tak jelas ketika membaca pesan masuk di ponselnya. Su Jin yakin betul bahwa itu adalah pesan singkat dari Dae Hyun.

“Apa kau mulai gila?” Celoteh Su Jin tanpa menengok ke arah Min Soo sedikitpun.

“Huh,” Min Soo mengerucutkan bibirnya, “hanya orang jatuh cinta yang akan mengerti.”

Min Soo memang sedang dimabuk asmara semenjak mengenal Dae Hyun. Mahasiswa baru yang cukup menarik. Setiap hari telinga Su Jin memerah dan bisa saja pecah karena Min Soo tak pernah berhenti membicarakan pria itu.

“Eh,” Min Soo mengernyit, “bagaimana respon Kyung Soo?”

Respon?

Pasti yang dimaksud Min Soo adalah keinginan Su Jin agar Kyung Soo mengajaknya ke rumah dan bertemu dengan orang tua kekasihnya. Berlebihan? Tidak. Kyung Soo dan Su Jin telah berpacaran selama 3 tahun, dan pria itu tidak pernah mengenalkan Su Jin pada saudaranya, dan bahkan Su Jin tidak tahu dimana rumah Kyung Soo yang sebenarnya.

Beberapa siswa sempat mengikuti Kyung Soo ketika pulang, namun sayang, mereka tidak pernah berhasil dan kehilangan jejak Kyung Soo. Ini tidak aneh karena Kyung Soo adalah seorang pengendara yang tidak bisa diremehkan kehebatannya. Ia bisa menyetir dengan kecepatan lebih dari 60 km/jam dalam keadaan macet.

“Tidak ada, dia selalu menolak dan mengalihkan pembicaraan.” Jawab Su Jin lemas, “Apa sebaiknya aku menyerah saja?”

Min Soo memukul pundak Su Jin hingga gadis itu memekik kesakitan, “Menyerah bagaimana? Tidak boleh. Kau ini, bagaimana jika ternyata Kyung Soo adalah pria beristri? Bagaimana jika ternyata Kyung Soo adalah pembunuh? Makanya kau tidak pernah boleh ke rumahnya. Lagipula 3 tahun pacaran bukanlah waktu yang singkat Kim Su Jin!”

Aaah! Lalu aku harus bagaimana?” Su Jin menundukkan kepalanya, “lagipula itu privasinya…”

Tanpa melihat wajah Su Jin-pun semua orang bisa menebak bahwa ia sudah benar-benar menyerah. Sesungguhnya Su Jin tidak ingin selalu menanyakan tentang hal itu pada Kyung Soo, ia takut jika nantinya Kyung Soo menjadi tidak nyaman dan meninggalkannya. Namun di sisi lain, ketertutupan Kyung Soo terasa sangat aneh. Seperti ada yang tidak beres.

“Kalau begitu, besok apapun yang terjadi, kita ikuti dia.”

“Ha?”

“Itu satu-satunya cara agar kita tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

“Tapi Kyung Soo pengendara—“

“Ambil alih mobil Kyung Soo untuk hari ini dan besok. Oh ya, sebentar lagi Kyung Soo akan menjemputmu bukan? Nanti, ketika sampai di flat-mu, katakan bahwa kau meminjam mobilnya untuk pergi ke suatu tempat, jadi besok Kyung Soo tidak akan mengendarai mobil dan kita bisa mengikutinya dari belakang.”

“Apa iya ini akan berhasil?”

“Percayalah padaku Kim Su Jin.” Min Soo menarik-turunkan alisnya sambil tersenyum layaknya pemenang. Ia merasa bahwa idenya sangat briliant dan tidak akan gagal.

Pip..Pip..

Sebuah pesan masuk..

Dari Kyung Soo…

 

From : 도경수

“Aku sudah di depan.”

Su Jin menyipitkan matanya beberapa saat dan menggeleng pelan lalu memasukkan novelnya ke dalam tas dan pamit pada Min Soo untuk pulang. Sementara itu, lampu mobil Kyung Soo kelihatan begitu terang, bahkan dari halaman rumah Min Soo yang notabendnya tertutup oleh tembok besar, sinarnya masih menyilaukan. Tidak biasanya Kyung Soo melakukan hal itu.

Tidak ingin memikirkan hal sepele tersebut, Su Jin segera menghampiri Kyung Soo dan duduk tepat di samping kekasihnya. Malam ini nampak sedikit berbeda. Kyung Soo menggunakan anting magnet bewarna hitam di telinga kanannya saja, rambutnya juga bewarna agak merah ke unguan, apa Kyung Soo menyemir rambutnya?

Su Jin mencoba meraih beberapa helai rambut Kyung Soo yang bewarna samar dan mendekatkan layar ponselnya agar  ia bisa mengamati warnanya secara seksama, namun Kyung Soo malah menepis tangan Su Jin dengan kasar dan beberapa detik kemudian melengus lalu meminta maaf akan perlakuannya pada Su Jin tadi.

Tidak berhenti sampai disitu, Su Jin mencium bau parfum yang sedikit asing, tapi ia mengenali merek dari parfum tersebut.

“Kau memakai Hermes 24 Faubourg?” Su Jin menarik napasnya dalam-dalam. Ia yakin bahwa hidungnya tidak salah cium.

Kyung Soo menengok dan mengikuti Su Jin untuk menarik napasnya dalam-dalam, “Baunya enak bukan?” Jawabnya sambil meringis.

Su Jin tidak setuju pada pernyataan Kyung Soo. Bukan masalah baunya, tapi masalah untuk siapa parfum itu dibuat, “Tapi ini parfum untuk perempuan….”

“Ah?” Kyung Soo tertawa renyah dan menggaruk pelipisnya pelan, “Benarkah? Aku memang sangat payah dalam hal memilih parfum. Ngomong-ngomong, tidak ada yang ingin kau beli?” Kyung Soo mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Tidak.”

“Baiklah.”

“Tapi…” Su Jin menghentikan ucapannya yang terdengar mengambang di ujung tenggorokkan, menanti respon Kyung Soo selanjutnya.

“Tapi apa?”

“Bolehkah aku meminjam mobilmu malam ini sampai besok sore?” Su Jin menghentikan sebentar kata-katanya dan mencengkeram erat lengan Kyung Soo, “Aku dan Min Soo berencana pergi ke rumah dosen kami, aku berjanji akan membelikan bensin, membawanya kembali padamu dengan selamat, dan bahkan jika kau mau, aku akan membayar uang untuk menyewa mobilmu.”

Kyung Soo tertawa kecil dan mengangguk, “Tidak masalah, kau bisa membawa mobilku mulai malam ini. Nanti aku akan pulang menggunakan taksi.”

Su Jin mengerucutkan bibirnya, kenapa Kyung Soo tidak memintanya untuk mengantarnya sampai di rumah dan setelah itu barulah Su Jin membawa mobil Kyung Soo.

“Kau tidak mau ku antar saja?”

“Apa? Tidak, aku tidak akan membiarkanmu berkendara sendirian dari rumahku ke rumahmu malam-malam begini.” Tukas Kyung Soo.

 

*****

 

Semua berjalan lancar hingga sore hari ini, terhitung sejak kemarin malam Kyung Soo meninggalkan mobilnya di rumah Su Jin dan pamit pulang menggunakan taksi. Tidak ada sedikitpun hal yang membuatnya curiga, kecuali saat mereka masih berada di dalam mobil. Parfum, rambut, dan lampu.

Tiga puluh menit lagi dan Su Jin bisa memastikan bahwa Kyung Soo akan segera keluar dari kelasnya, kemudian bergegas pulang. Sementara itu, Min Soo sibuk memasukkan rambutnya ke dalam wig dan memasang kumis palsu, ia juga menutup kepalanya dengan topi jaket.  Sepertinya gadis itu benar-benar serius pada idenya kemarin.

“Bagaimana menurutmu?” Min Soo menaikkan sebelah alisnya. Su Jin hampir tidak mengenali bahwa itu adalah Min Soo. Gadis itu sangat pintar berkamuflase, bahkan dadanya terlihat rata. Mungkin orang-orang tidak akan menyadari bahwa orang yang disamping Su Jin sekarang adalah wanita. Sedangkan Su Jin tidak menyamar sedikitpun.

Akhirnya yang ditunggu-tunggupun menampakkan wujudnya. Kyung Soo baru saja keluar melalui gerbang kampus dan berjalan ke kanan lalu berhenti di halte bis. Tidak butuh waktu lama, sebuah bis telah berhenti dan Kyung Soo segera naik, sedangkan Min Soo dan Su Jin sedang bersiap untuk mengikuti bis tersebut menggunakan sepatu roda. Setidaknya ini satu-satunya cara agar Kyung Soo tidak menyadari kehadiran mereka.

Melihat tujuan yang tertulis di kaca bis, Min Soo dan Su Jin memutuskan untuk memotong jalan dan berpisah. Mereka berharap dengan memotong jalan maka akan lebih cepat. Su Jin pergi ke lokasi pertama, sedangkan Min Soo kedua. Setidaknya jika menggunakan sepatu roda, Su Jin memerlukan waktu sekitar 50 menit untuk sampai ke halte bis yang dituju, tentu saja jika Kyung Soo turun di halte bis, pria itu bisa saja turun sewaktu-waktu. Namun dengan keyakinan yang besar, Su Jin melambaikan tangannya kepada Min Soo dan segera bergerak ke tempat tujuannya.

Ketika sampai di halte bis pertama, Su Jin bersembunyi di dalam Supermarket yang berada tepat di belakang halte bis, namun ketika bis itu lewat, tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan berhenti. Kyung Soo juga masih duduk manis di kursinya. Begitu pula dengan pemberhentian yang ke-2 dan ke-3, tidak ada tanda-tanda bahwa Kyung Soo akan turun. Menggunakan sepatu roda sejauh 20 kilometer bukanlah pekerjaan mudah. Su Jin sempat berpikiran untuk menyerah dan mengakhiri ide gilanya, namun tepat ketika bis tersebut berhenti pada halte terakhir, Kyung Soo turun dan berjalan menuju sebuah perumahan.

Tiba-tiba saja semangat Su Jin kembali bergemuruh, ia melepas sepatu rodanya dan berjalan mengendap mengikuti Kyung Soo. Nampaknya sejauh ini tidak ada yang mencurigakan, Kyung Soo tetap bersikap biasa saja dan tidak menyadari kehadiran Su Jin. Sampai akhirnya, tanpa sengaja Su Jin melompat dan membentur tong sampah kecil di pinggir jalan akibat seekor kucing menyeberang dan mengejutkannya.

Suara ricuh yang disebabkan Su Jin tentu saja terdengar oleh Kyung Soo. Pria itu berhenti dan membalik badannya untuk melihat apa yang terjadi. Jantungnya berdebar kencang, Su Jin tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Kyung Soo ketika pria itu tahu bahwa Su Jin mengikutinya. Otaknya berputar cepat agar ia bisa mendapatkan alasan yang logis untuk mengelak tuduhan yang nanti akan Su Jin dapatkan, namun apa daya? Otaknya terasa beku dan tidak ada satu alasan-pun yang ia temukan. Tidak ada waktu lagi, lebih baik Su Jin menutup kedua matanya dan meminta maaf pada Kyung Soo sebelum pria itu marah besar.

“Maafkan aku Do Kyung Soo! Aku benar-benar tidak berniat untuk menguntit atau apapun yang ada dalam pikiranmu!” Gumam Su Jin sambil merapatkan kedua telapak tangannya dan berlutut dalam jarak sekitar 20 meter dari tempat Kyung Soo berdiri sekarang.

Sepuluh detik berlalu, tidak ada respon apapun dari Kyung Soo. Merasa aneh, Su Jin membuka kedua matanya dan mendapati Kyung Soo telah berjalan kembali dan tidak sekalipun menoleh ke arahnya.

Hei..

Tunggu dulu..

Apa maksudnya ini?

Ada apa dengan Kyung Soo?

Semarah apapun Kyung Soo pada Su Jin, pria itu tidak pernah mengacuhkannya. Su Jin yakin, pasti ada yang tidak beres. Ini bukan Kyung Soo yang Su Jin kenal selama ini, karena Kyung Soo tidak akan membiarkan gadisnya terluka walau hanya sebatas goresan kecil.

Su Jin memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Kali ini agak berbeda, ia lebih dekat beberapa meter dari Kyung Soo dan nampaknya pria itu sama sekali tidak perduli, bahkan hingga ia berbelok dan masuk ke sebuah rumah berpagar krem. Tidak, Su Jin tidak cukup bodoh untuk ikut Kyung Soo masuk, Ia memilih untuk bersembunyi dan memandang dari luar saja. Rumah tersebut memiliki dua lantai dengan dua pohon besar di pojok kiri dan kanannya. Bukan hanya itu, tidak lama kemudian datanglah 3 orang pria yang tidak asing bagi Su Jin. Mereka adalah tukang kebun, penjaga kantin, dan salah satu tukang parkir di kampus. Hei. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa seperti ini?

Ke-3 orang tersebut berlari masuk ke rumah dan tidak lama kemudian terdengar teriakkan seseorang yang dibarengi dengan kegaduhan. Ya Tuhan, apa ada sesuatu? Apa sedang terjadi tindak kriminal di sana? Su Jin berniat untuk melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumah tersebut, namun tiba-tiba matanya menangkap sesosok wanita berambut kriting-kuning dan lipstick berantakkan menatapnya dari balik jendela lantai dua. Wanita itu terlihat terengah-engah seperti baru saja di keroyok oleh banyak orang.

Semakin lama, mata wanita itu makin melotot dan menatap Su Jin dengan penuh aura gelap, hingga ke-3 orang yang Su Jin yakini sebagai tukang kebun, tukang parkir, dan penjaga kantin di kampusnya menarik wanita itu dengan kasar dan menghilang di balik dinding.

Su Jin tidak bisa berpikir dengan jernih akan apa yang telah ia lihat barusan, tubuhnya gemetar, bibirnya mulai membiru, dan keringat dingin tiba-tiba saja keluar dari tubuhnya. Ia harus segera pergi, apa yang ia saksikan pasti hanyalah sebuah ilusi. Kyung Soo tidak mungkin menjadi otak dibalik kekerasan pada wanita yang ia lihat barusan. Tidak. Ia yakin itu.

 

*****

 

“Apa? Kau juga tidak bisa menemukan rumah Kyung Soo?” Min Soo meletakkan kepalanya di atas kedua lengan yang memanjang di meja kantin, “aku bahkan tidak melihat bis yang ditumpangi olehnya lagi, ku pikir bis itu ke arahmu.”

Su Jin menundukkan kepalanya, “Sepertinya memang lebih baik kita biarkan saja, lagipula itu adalah privasi Kyung Soo bukan?” Aku tentu tidak akan memberitahukan perihal apa yang ku lihat kemarin. Kyung Soo yang tidak mengenaliku. Tukang parkir, penjaga kantin, dan tukang kebun kampus yang tiba-tiba datang. Wanita aneh dengan mata melotot. Dan kekerasan yang ku dengar.

Min Soo menyerah dan terpaksa menganggukkan kepalnya, “Baiklah. Kita lupakan saja hal ini.” Kepalanya mendongak sebentar dan menghembuskan napas berat, “He’s come.”

Su Jin mengikuti arah pandang Min Soo, nampak Kyung Soo sedang berjalan ke arah mereka dengan senyum yang terpancar seperti biasanya. Pria itu bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi kemarin, ia bahkan membawa sebuah buku yang masih berlapiskan plastik, sepertinya untuk Su Jin.

“Hai girls.” Kyung Soo berhenti tepat di samping Su Jin, “apa kau keberatan jika aku membawa Su Jin?” Lanjut Kyung Soo yang ditujukan pada Min Soo.

Min Soo terkekeh, “Kau bercanda?” Ia mengibas-kibaskan tangannya beberapa kali, “dia milikmu Kyung Soo-ssi. Lagipula aku harus menemui Dae Hyun sekarang, dia pasti sudah menungguku.” Celoteh Min Soo yang tiba-tiba saja menyangkut ke arah Dae Hyun. Benar-benar sedang di mabuk asmara sepertinya.

Beberapa detik kemudian Min Soo telah meninggalkan Su Jin dan Kyung Soo. Tanpa ragu, pria itu menarik kursinya mendekat pada Su Jin dan menyodorkan buku di tangannya. “Ini, aku membelikanmu sebuah novel, kata penjualnya ini best seller.” Kyung Soo merangkul pundak Su Jin dan berharap bahwa kekasihnya akan senang.

Sementara itu, Su Jin hanya tersenyum tipis. Tubuhnya tiba-tiba saja menegang ketika merasakan tangan Kyung Soo menyentuh tubuhnya, ia sedikit terkejut dan agak menegakkan tubuhnya, tapi untung saja Kyung Soo tidak menyadarinya sehingga Su Jin bisa langsung memegang novel pemberian Kyung Soo tanpa rasa curiga sedikitpun dari pria itu.

“Thank’s.” Entahlah, Su Jin tahu bahwa ini terlalu aneh. Ia seperti kehilangan kecakapannya ketika berada di samping Kyung Soo sekarang. Setidaknya Su Jin masih bisa mengatakan sesuatu, daripada hanya terdiam kaku.

“Kau menyukainya?” Kyung Soo beralih, ia membenahi poni Su Jin yang terjatuh di muka lalu membelai lembut pipi mulus nan bersih milik Su Jin. Tatapan ini. Su Jin mengenalinya, Kyung Soo seperti inilah yang selalu menemani hari-harinya, bukan Kyung Soo yang acuh dan aneh seperti kemarin.

Tidak ada yang Su Jin lakukan, ia hanya memandang novel tersebut beberapa detik dan memberanikan diri untuk menatap Kyung Soo, “Kemarin apa yang kau lakukan setelah pulang dari kampus?” Tanyanya hati-hati.

Kyung Soo mengkerutkan keningnya, “Aku? Pulang ke rumah, memang apalagi?”

“Tidak, bukan itu. Maksudku apa yang kau lakukan di rumah, tidur, atau apa?”

Kyung Soo semakin tidak mengerti akan apa yang dikatakan oleh Su Jin. Ia terdiam sejenak dan mencoba memutar otaknya ke masa lalu. Se-ingatnya, ia tidak melakukan hal apapun. Hanya tertidur karena kelelahan. Itu saja. “Tidak ada, aku tidur sampai malam dan terbangun untuk mengerjakan tugas. Kenapa?”

Omong kosong.

Kalau ia tertidur kemarin, lalu siapa yang dilihat oleh Su Jin? Tidak mungkin Su Jin salah orang karena jelas-jelas pria itu berwajah dan memakai pakaian yang sama persis dengan Kyung Soo, hanya sifatnya saja yang berbeda. Ia semakin yakin jika Kyung Soo menyembunyikan sesuatu yang tidak beres di balik alasan kenapa ia tidak pernah mengajak Su Jin ke rumahnya.

Su Jin mencoba memenuhi paru-paru dengan oksigen dan bangkit, ia tidak membawa novel pemberian Kyung Soo. “Kita, putus saja.” Ujarnya singkat seperti tidak ada beban sedikitpun.

“Apa? Kenapa?” Kyung Soo yang tidak terima dengan keputusan sepihak Su Jin-pun menuntut agar gadis itu memberinya alasan yang jelas. Apa yang dilakukan Kyung Soo selama ini belum cukup?

“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa bahwa kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama,” Su Jin mengambil kunci mobil dari tas lengannya dan memberikan benda tersebut pada Kyung Soo, “Ini, aku sudah mengisi penuh bensin mobilmu. Kau tidak perlu khawatir.” Lanjutnya dingin lalu pergi meninggalkan Kyung Soo yang masih terpaku pada posisinya sekarang.

Tidak. Su Jin harus berusaha untuk tidak menengok dan kembali. Jika ia menengok, maka hatinya akan tergerak untuk berlari ke arah Kyung Soo dan memeluk pria itu. Namun sekarang ceritanya berbeda. Ia sudah tidak bisa mentoleransi lagi atas kebohongan yang keluar dari mulut Kyung Soo.

Sudah jelas-jelas kemarin Su Jin melihatnya masuk ke sebuah rumah yang Su Jin yakini sebagai rumah Kyung Soo dan membuat seorang wanita berteriak ketakutan. Tapi Kyung Soo malah berdalih dan mengatakan bahwa ia tidak melakukan apapun. Su Jin benar-benar kecewa. Ia khawatir jika dibalik sikap manis Kyung Soo terdapat racun yang sangat mematikan.

 

*****

 

Kyung Soo membanting ranselnya ke lantai, wajahnya memerah padam penuh emosi. Terdengar teriakkan seorang pria di balik pintu yang memanggil namanya dan terus berusaha untuk mendobraknya.

“Tuan buka pintunya! Tuan ku mohon jangan bersikap seperti ini!”

Kyung Soo tidak menggubris teriakkan orang tersebut. Ia muak pada hidupnya. Ia muak pada sosok lain yang berusaha untuk menguasai raganya. Sosok wanita psikopat yang tiba-tiba saja muncul dalam dirinya sebagai alter ego dari kenangan buruk masa lalu.

“Keluar kau wanita keparat! Sudah puas kau menghancurkanku, hah?! Keluarlah wanita jalang! Jangan terus-terusan bersembunyi dalam tubuhku!” Kyung Soo berusaha menyakiti dirinya sendiri agak sosok alter egonya bisa terpancing keluar.

Ia tidak tahu apa yang telah Su Jin lihat kemarin, atau apa yang sebenarnya terjadi hingga gadis itu memilih untuk mengakhiri hubungan mereka. Tapi, jika dilihat dari caranya berbicara, gadis itu pasti telah melihat sosok alter ego yang bersemayam dalam diri Kyung Soo. Dan bodohnya Kyung Soo tidak bisa melakukan apapun. Wanita psikopat dalam alter egonya terlalu kuat dan tak terkendali.

“Keluarlah wanita jalang! Apa yang telah kau lakukan pada Su Jin?! Keparat kau! Hanya dia satu-satunya hartaku yang paling berharga sekarang, harta yang paling ku jaga, dan kau berusaha untuk menghancurkannya! Aku bersumpah akan mengalahkanmu! Aghh.”

Kyung Soo terjatuh, tiba-tiba ekspresinya berubah. Matanya tidak lagi seredup saat bersama Su Jin. Senyumnya tidak lagi manis dan menarik, melainkan dingin dan penuh dendam. “Kau hanya pria lemah Do Kyung Soo. Aku-lah yang berkuasa di sini! Kau hanyalah sampah yang terbuang Do Kyung Soo.”

Yoon He. Sosok lain dari Kyung Soo yang muncul ketika pria itu masih berusia 20 tahun* . Sosok wanita kejam dan penuh dendam yang tidak akan pernah merasa segan untuk membunuh siapapun yang berusaha menghalanginya. Wanita itu jugalah yang telah membunuh tragis ayah serta paman dan bibinya lalu memakannya mentah-mentah dua tahun lalu.

Wanita yang menguasai tubuhnya hampir 60% dalam sehari. Alter ego yang membuatnya merasa terasingkan dan ketakutan setiap harinya. Ia takut menyakiti tetangganya, ia takut menakuti 3 orang bodyguard khusus yang ia sewa untuk mengatasi ketika tiba-tiba alter egonya keluar, 3 orang yang menyamar sebagai tukang kebun, tukang parkir, dan penjaga kantin di kampusnya. Ia juga takut menyakiti teman-temannya, dan yang paling ia takuti adalah menyakiti Su Jin. Gadis yang selalu berusaha ia jaga dan satu-satunya harta paling berharga dalam hidupnya. Dan saat ini, si keparat telah menyakiti Su Jin, ia telah membuat Su Jin pergi dari hidup Kyung Soo.

“Tuan bangkitlah! Kendalikan emosimu Tuan, jangan biarkan dia menguasai tubuhmu!”

Teriakkan salah satu bodyguard Kyung Soo membuat kuping Yoon He panas. “Diam kau! Bos-mu akan segera mati! Hahahahahahaha!” Tawa nyaring keluar dari mulut Yoon He. Ia begitu senang ketika Kyung Soo dipenuhi amarah sehingga dengan mudah dan perlahan, jiwa pria bernama Do Kyung Soo itu akan tertidur lalu tergantikan olehnya. Sebentar lagi, dan keinginan itu akan segera terwujud.

“Kyung Soo, kau mendengarku?!”

 

*****

 

Su Jin termenung. Tidak tahu akan apa yang ia rasakan sekarang. Bolehkah ia menyesal? Kenapa penyesalan selalu datang terlambat? Tapi jika ia tidak meninggalkan Kyung Soo, maka pria itu bisa saja melakukan hal yang tidak diinginkan olehnya.

God, jika memang benar pilihanku, maka hilangkan rasa sesal ini. Ku mohon.” Su Jin menutup mukanya dengan kedua telapak tangan yang sudah basah akibat air matanya tidak mau berhenti sejak tadi.

“Hei, what’s wrong honey?”

Sentuhan lembut seorang perempuan menarik Su Jin dalam pelukkannya. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya lagi. Biarlah sang ibu tahu kalau putrinya sedang patah hati sekarang.

“Ma, apa aku salah jika meninggalkan seorang pria yang  ku cintai karena alasan bahwa ia memiliki kemungkinan sebagai penjahat?” Su Jin mendongakkan wajahnya, berusaha menahan air mata yang sudah di ujung sakitnya.

Kim Min Ji menggeleng, ia menghapus air mata yang terasa sangat menyakitkan karena keluar dari salah satu panca indra putrinya, “Tidak sayang.” Ia mencium ujung kepala Su Jin sebentar, “Kau tidak salah jika meninggalkan seorang penjahat.”

Tidak. Kyung Soo bukan orang jahat. Itu hanya asumsi Su Jin saja. “Tidak ma, aku belum mempunyai bukti yang cukup bahwa ia adalah seorang penjahat seperti tuduhanku.”

Layaknya seorang ibu yang selalu ingin ada ketika anaknya senang ataupun sedih, Kim Min Ji mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Ceritakan pada mama, kita cari tahu kebenarannya bersama-sama.” Gumam Kim Min Ji penuh rasa kasih sayang.

 

*****

 

Su Jin dan ibunya kini telah berdiri tepat di depan pagar rumah Kyung Soo atau siapapun itu. Tidak ada yang mencurigakan, sama seperti saat pertama kali Su Jin melihatnya. Namun kali ini agak berbeda, samar-samar telinga mereka mendengar seseorang berteriak khawatir dan berusaha untuk menyelamatkan.

Belum sempat Su Jin meyakinkan apakah yang ia dengar benar-benar nyata, dua orang pria berlari ke arah mereka. Tidak salah lagi, orang itu adalah si Tukang Kebun dan Penjaga Kantin Kampus. Mereka nampak terengah-engah dan kebingungan.

Bibirnya bergetar, ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi, entah itu padanya atau pada Kyung Soo.

“Nona Su Jin, untunglah kau berada di sini!” Seorang yang di anggap Su Jin berprofesi sebagai tukang kebun tersebut memperlihatkan rasa leganya.

“Apa? Apa maksudnya?”

“Tidak ada waktu lagi, hanya nona yang bisa mengembalikan jiwa Tuan Kyung Soo sebelum Yoon He menguasainya!”

Pria itu menarik Su Jin tanpa permisi dan diikuti oleh ibu serta pria penjaga kantin di belakang. Mereka masuk melalui pintu yang lumayan besar dan berlari ke lantai dua. Nampak tukang parkir sedang berusaha mendobrak pintu dan berkali-kali berteriak bahwa Kyung Soo harus bangkit dan tidak membiarkan ‘dia’ menguasai tubuhnya.

Apa ini? Su Jin benar-benar tidak mengerti.

“Nona, hanya anda yang bisa menguatkan Tuan Kyung Soo agar jiwanya kembali hidup dan tidak dikuasai oleh alter egonya. Kami mohon, bantu dia nona.”

Su Jin menggeleng tidak mengerti, ia memang pernah mendengar soal alter ego, tapi ia tidak tau penyakit macam apa itu. “Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan.” Tukasnya putus asa.

Tiba-tiba ibunya mendekat dan mencengkeram lengan Su Jin, “Panggil namanya, berikan dia kekuatan dengan dukungan bahwa Kyung Soo bisa bangun dan melawan alter egonya.”

“Mama..”

“Kyung Soo tidak bersalah sayang, kau harus membantunya.” Kim Min Ji menepuk pundak anaknya, sementara Su Jin mengangguk setuju. Ia tidak boleh menyesal untuk yang kedua kalinya. Ia tidak boleh kehilangan Kyung Soo.

“Kyung Soo, kau mendengarku?!”

Su Jin mencoba berteriak, ia mundur beberapa langkah dan membiarkan 3 orang pria tadi mendobrak pintu bersama. Begitu pintu terbuka, nampak seorang pria sedang memasang wig kriting bewarna kuning dan lipstick merah mencolok yang dipoles tidak teratur. Bukan hanya itu, bahkan maskara yang seharusnya memperindah bulu mata, kini malah tercoret tidak jelas hampir di seluruh wajah Kyung Soo.

Tidak salah lagi. Ini adalah orang yang sama dengan apa yang Su Jin lihat waktu itu. Jelmaan alter ego Kyung Soo yang menggunakan badan pria baik itu untuk merusaknya.

Begitu melihat wajah Su Jin, orang itu mendekat. Yoon He. Su Jin ingat bahwa ketika masih di luar, si tukang kebun mengatakan bahwa nama alter ego dari Kyung Soo ini adalah Yoon He. Ia mencoba untuk mendorong Su Jin dan mencekiknya. Ibu dan ketiga orang tadi berusaha untuk menolong Su Jin, namun tiba-tiba Yoon He mengeluarkan pisau dari balik saku celananya dan mengancam akan membunuh Su Jin jika mereka mendekat.

“Menjauh atau dia akan mati.”

Su Jin bergidik. Mata yang seharusnya tenang itu berubah sangat dingin dan menyeramkan. Ia tidak bisa diam saja, ia harus membangunkan jiwa Kyung Soo. Ia harus.

“Kyung Soo, ku mohon bangunlah. Lawan dia!”

Mendengar ucapan Su Jin, Yoon He memutar kepalanya dan semakin marah. Ucapan yang keluar dari mulut Su Jin sangat berpengaruh bagi jiwa Kyung Soo dan Yoon He tidak ingin jika jiwa bodoh itu terbangun kembali.

“Kyung Soo sudah mati.” Tegasnya yakin.

“Tidak, aku yakin Kyung Soo masih hi—“

Belum selesai Su Jin mengucapkan kalimatnya, Yoon He telah melayangkan pisau tersebut tepat di jantungnya, dengan tangkas Su Jin menahan tangan alter ego psikopat itu dengan sekuat tenaga sambil terus berusaha membangunkan jiwa Kyung Soo.

“Kyung Soo ku mohon bangunlah! Kyung Soo aku tahu kau mendengarku!”

“Sialan!”

Yoon He semakin memperkuat dorongan pisaunya terhadap Su Jin yang masih belum percaya jika Kyung Soo telah mati.

“Kyung Soo! Bangunlah! Lawan dia! Kyung Soo..ku mohon..” Tanpa terasa, air matanya menetes begitu saja. Ia merasa sia-sia. Apa yang dilakukannya tetap tidak membuahkan hasil. Apa benar jika Kyung Soo telah pergi dan digantikan sepenuhnya oleh Yoon He? Tidak, Su Jin belum siap jika harus kehilangan Kyung Soo. Ia bahkan belum mengucapkan perasaannya yang begitu mendalam pada pria itu.

“Kyung Soo… Ku mohon…Sadarlah..Kyung Soo…” Tangan Su Jin semakin melemas, ia sudah tidak kuat jika harus menahan Yoon He. Untuk terakhir kalinya, Su Jin menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, “Bangunlah Kyung So… Datanglah padaku… Karena aku mencintaimu.”

Dag!

Tiba-tiba tubuh Yoon He ambruk di atas Su Jin dan pisaunya terjatuh di lantai. Isak tangis Su Jin semakin menjadi-jadi. Ia takut jika ambruknya tubuh ini sebagai tanda bahwa Kyung Soo benar-benar pergi. Su Jin tidak ingin kehilangan Kyung Soo.

Dua dari tiga orang pria tadi mengangkat tubuh Kyung Soo ke kasur, sedangkan yang ketiga dan Kim Min Ji membantu Su Jin untuk berdiri. Ia rapuh sekarang. Percuma raganya berdiri namun jiwanya tidak.

Kim Min Ji menarik Su Jin dalam pelukkannya dan berusaha menenangkan putrinya bahwa Kyung Soo pasti akan segera sadar dan benar-benar kembali. Kembali menjadi Kyung Soo seutuhnya.

 

*****

 

Su Jin dengan setia menunggu sampai Kyung Soo terbangun. Badan pria itu sudah dibersihkan dan ketampanannya kembali terlihat. Ia bisa melihat wajah tenang dan lembut Kyung Soo yang hangat dan menyenangkan. Ia bisa mengamati garis  wajah serta bibir pria itu dengan sangat jelas sekarang.

Tiba-tiba saja hatinya sakit. Bagaimana mungkin Su Jin membiarkan Kyung Soo selalu melindunginya bahkan ketika sebenarnya ialah yang membutuhkan perlindungan, bukannya Su Jin.

Mendengar penjelasan Jeon Goo Sin yang merupakan salah satu bodyguard Kyung Soo dengan penyamaran sebagai Tukang Kebun di Kampus membuat seluruh tubuhnya terasa ngilu.

Do Kyung Soo—Pria berusia 24 tahun dengan alter ego seorang wanita bernama Han Yoon He yang bersifat kejam, tanpa hati, tidak segan-segan membunuh, psikopat, suka memakan daging dan darah manusia, menyukai parfum khusus wanita, suka berdandan tapi selalu jelek, dan ia jugalah yang telah membunuh ayah, paman, dan bibi Kyung Soo—Yoon He pertama kali muncul saat Kyung Soo berusia 20 tahun. Awalnya Kyung Soo tidak menyadarinya, namun lambat laun ia merasakan keanehan dan bisa berinteraksi dengan alter egonya tersebut dengan membagi setengah raganya—Yoon He bilang bahwa ia muncul akibat kenangan pahit yang diciptakan oleh ayah Kyung Soo dan selingkuhannya—Karena ketahuan berselingkuh oleh istrinya, tanpa perasaan Do Seung Ha membunuh wanita itu tepat di depan mata Kyung Soo yang masih berusia 4 tahun dan dibantu oleh selingkuhannya. Untuk menghilangkan jejak, ayah Kyung Soo dan selingkuhannya memotong lalu memasak tubuh ibu Kyung Soo dan memakannya—Tidak berhenti sampai di situ. Kyung Soo kecil juga sering mendapat siksaan fisik berupa cambuk dan siksaan batin berupa umpatan-umpatan menyakitkann dari mulut ayahnya—Ia juga melihat ayahnya melakukan hubungan badan dengan selingkuhannya kemudian membunuh wanita itu dan untuk menghilangkan jejak, mereka pergi merantau ke Seoul—Kyung Soo tinggal bersama paman dan bibinya sampai usianya 19 tahun dan tiba-tiba saja ayahnya datang—Sebelum ayahnya datang, kehidupan Kyung Soo sangat baik dan teratur. Namun ketika kedua bola matanya melihat ayahnya, tiba-tiba hatinya bergemuruh dan terus terjadi hingga alter egonya keluar—Tanpa sadar, Kyung Soo membunuh ayah, paman, dan bibinya dalam satu malam dan memakan daging mereka. Ketika alter egonya kembali tertidur dan jiwa aslinya sadar, Kyung Soo terkejut karena ia memegang daging manusia  beserta mayat dimana-mana—Ia mencoba berobat ke salah satu psikiater, namun bukannya sembuh, Kyung Soo malah membunuh psikiater tersebut hingga ia memutuskan untuk menyewa 3 orang bodyguard yang akan mengawasinya ketika tiba-tiba dikuasai oleh alter egonya.

 

“Maafkan aku, seharusnya aku melindungimu.” Su Jin memeluk tubuh Kyung Soo dan menggenggam tangan pria itu erat. Ia tidak akan kembali sebelum Kyung Soo membuka matanya dan menjadi Kyung Soo seutuhnya.

Kelopak mata Kyung Soo bergerak. Ketika pertama kali melihat bola matanya, Su Jin tersenyum. Yang berada di hadapannya sekarang adalah Kyung Soo, bukan Yoon He. Karena Su Jin hapal pada mata redup dan tenang Kyung Soo.

“Kim Su Jin?”

Su Jin mengangguk, ia mencondongkan tubuhnya kepada Kyung Soo dan mencium kening pria itu sekilas. “Iya, ini aku, dan kau adalah Kyung Soo. Pria yang ku cintai.”

“Maafkan aku, apa yang kau lihat waktu it—“

“Sssttt..” Su Jin menutup mulut Kyung Soo menggunakan biirnya. Ia mengecup bibir manis Kyung Soo selama beberapa  detik sebelum akhirnya melepaskannya, “Aku sudah tahu semuanya, dan aku berjanji akan membuat Do Kyung Soo benar-benar utuh.”

Kyung Soo tidak tahu lagi apa yang harus ia ucapkan. Ia tidak salah memilih Su Jin sebagai harta paling berharga dalam hidupnya, karena gadis  ini selalu berhasil membuatnya menjadi lebih baik.

“Kim Su Jin…” Kyung Soo memanggil nama kekasihnya dengan sedikit berbisik.

Su Jin mengerutkan keningnya. “Ya?”

“Aku Mencintaimu..”

Su Jin tersenyum bahagia, untuk sekali lagi dia memeluk Kyung Soo dan menghirup aroma khas yang dimiliki oleh kekasihnya tersebut. Bukan aroma parfum khusus perempuan, namun aroma yang selalu menenangkan jiwanya. Aroma yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

 

*****

 

Setidaknya, setelah kejadian itu. Su Jin berusaha meyakinkan Kyung Soo agar ia mau menjalani pengobatan dan menemui psikiater lagi. Kali ini kemajuannya lumayan pesat. Yoon He sudah mulai jarang muncul dalam diri Kyung Soo dan pria itu-pun selalu terlihat lebih ceria setiap harinya.

Namun berita soal Kyung Soo yang memiliki alter ego menyebar dengan cepat di seluruh kampus, sehingga tidak jarang Su Jin harus menutup telinganya erat-erat akibat gunjingan beberapa temannya.

Tidak jarang juga beberapa di antara mereka memuji kesetiaan Su Jin pada Kyung Soo dan bahkan ia bisa dibilang bosan karena mendapat pertanyaan yang sama secara terus-menerus, seperti ‘Dia berbahaya, kenapa kau tetap bersamanya?’ , ‘Kau tidak takut jika dia membunuhmu?’, dan ‘Bagaimana jika tiba-tiba alter egonya muncul kembali?’

Namun Su Jin hanya tersenyum dan menjawab dengan satu jawaban sama ‘Aku tidak perduli, aku percaya bahwa Kyung Soo akan selalu melindungiku, bahkan ketika  jiwanya sedang tertidur dan digantikan oleh alter egonya. Karena dia mencintaiku, sama seperti aku mencintainya’ .

 

The End

 

 

  • Alter Ego : Suatu penyakit yang membuat penderitanya mempunyai 2 kepribadian atau lebih. Alter Ego di sebabkan oleh trauma ataupun ketakutan yang sangat besar pada masa lalu . Sifat Alter Ego selalu bertolak belakang dengan sifat alsi seseorang. Oleh karna itu orang yang mengidap penyakit ini dan Alter Egonya saling melengkapi.
Iklan

26 pemikiran pada “Another Soul

  1. Ahhh Kyungsoo kasian banget selama ini, tp ngilu juga pas alter egonya muncul selalu bunuh orang bahkan dimakan ><
    Tp karena kejadian ini si Su Jin lebih dewasa 🙂
    Baru pernah baca ff kek gini yg main castnya Kyungsoo. Nice ff. Keep writing ^^

  2. Alter ego emng nya ada yaaa hahah barubdenger entah lah aku kasihan disisi lain kyungsoo baik tp kalo udh muncul jd jahat .. aigoo aku suka alur nya kesetiaan dan cinta lah yg akan menang hahaha

  3. Keren banget, kak
    Awalnya ak gak mudeng apa itu alter ego, sumpah deh baru denger…
    Okayy, d tunggu karya selanjutnya kak
    Keep writing

  4. Baru tau yang namanya alter ego ‘-‘ keren banget ….
    Kasihan kyungsoo harus punya 2 kepribadian gitu, salut buat su jin yg setia ama kyungsoo (´⌣`ʃƪ)

  5. happy birthday kyungsoo (ups,,dah lama ya,,,hehhe)
    ceritanya bener2 beda,,,
    ini sama dengan kepribadian ganda ya?
    dan entah kenapa,,kalo liat kyungsoo memang cocok dengan gaya begini (hehehe,,ups..)
    but,,its because his style dan rasa pendiam nya dia dibanding sama yang lain yang rame banget..
    but,,his always be my cute prince 🙂
    gomawoyo 4 the story…

  6. wow gak ngebayangin alter egonya kyungsoo itu gmn.. ya ampun ayahnya kyungsoo tuh bnr2 gila kali ya dah ngebunuh trus.. trus.. hadeuh jadi bingung ngomongnya.. tapi keseluruhan ceritanhnya bnr2 krn dan rapi bngt

    keep writing

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s