Forbidden Love Part IV


forbidden love

 

 

Title : Forbidden Love

Author : Heena Park

Ratting : PG-15

Genre : Romance, Sad, Marriage Life

Lenght : Multichapter

Main Cast :

-Shin Hee Ra

-Kim Jong In

-Park Chan Yeol

-Lee Min Hyuk

-Choi Ha Neul

Sunmary :

 Apa yang akan terjadi jika seorang wanita yang sedang mengalami patah hati memutuskan untuk menikahi pria dengan kelainan homoseksual?

Chapter IV

 

 

 

 

 

Jong In memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah dengan pagar putih. Rumahnya sederhana, bahkan bisa dikatakan kecil. Rumah itu tidak memiliki lahan yang cukup untuk sekedar memarkir mobil, terlebih lagi jalan di depannya juga tidak selebar jalanan di Seoul. Dengan adanya mobil Jong In, maka dipastikan kendaraan seperti truk akan susah lewat, setidaknya setelah mengetahui hal ini, Jong In berniat menemui pemerintah dan meminta agar jalanan yang kecil diperlebar, jika mereka menolak karena alasan biaya, maka Jong In rela merogoh koceknya berapapun itu.

Seorang wanita dan pria berusia sekitar awal lima puluhan berdiri di teras, Hee Ra langsung berlari menghampiri mereka dan meninggalkan Jong In yang berjalan santai di belakangnya.

Hanya dengan melihat cara Hee Ra memeluk kedua orang tuanya, sudah membuat Jong In yakin bahwa hubungan mereka begitu baik dan hangat. Sangat jauh berbeda dengan apa yang Jong In rasakan dulu. Kedua orang tuanya selalu sibuk, mereka pergi pagi-pulang malam, bahkan tidak jarang dalam satu hari orang tuanya harus bepergian ke-2 negara atau lebih. Jong In bahkan lupa kapan terakhir kali orang tuanya memeluk atau hanya sekedar berbicara dari hati ke hati dengannya. Mereka seolah membuat dunianya sendiri dan meninggalkan Jong In bersama dengan babysitter dan neneknya, sehingga tidak aneh jika Jong In selalu berusaha membuat neneknya bahagia, kecuali untuk hal ini, ia mau menikah dengan Hee Ra bukan agar neneknya bahagia, tapi untuk kelangsungan hidupnya. Bahkan Jong In juga sadar bahwa ia tidak mungkin akan terus bersama Kyung Soo. Rupa tampannya tidak akan cocok jika harus terpampang di media dengan berita berjudul ‘Kim Jong In, Pewaris Satu-Satunya Grup Zorus Memiliki Kelainan Homoseksual.’  Tidak, Jong In tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

“Kenapa lama sekali sih?”

Suara protes Hee Ra membuyarkan lamunan Jong In, gadis itu mendecakkan lidah dan menggerakkan kepala ke arah kedua orang tuanya, sebagai tanda bahwa Jong In harus segera ke sana dan memperkenalkan diri.

Begitu keduanya berdiri di depan orang tua Hee Ra, Jong In hendak memberikan salam, Shin Ha Jun—Ayah Hee Ra tersentak dan hampir saja melompat ke belakang lalu menabrak tembok karena tidak percaya akan apa yang dilihatnya sekarang.

“K-au? Kim-Jong-In?” Shin Ha Jun berhenti sebentar dan menatap istrinya yang sama-sama sedang membulatkan mulut. Ini seperti mimpi, seorang pria kaya yang merupakan pewaris salah satu perusahaan paling besar  di Korea dan bahkan dunia, datang untuk melamar anak gadisnya.

“Iya, paman.”

“Pewaris Grub Zorus?!” Shin Ha Jun dan istrinya berteriak bersama.

Kenapa Hee Ra tidak pernah menceritakan bahwa calon suaminya adalah Kim Jong In? Kalau begini, tanpa perlu basa-basi lagi mereka tentu merestui rencana keduanya untuk segera menikah. Bahkan jika perlu, Shin Ha Jun bersedia  menikahkan keduanya hari ini juga.

Jong In hanya tersenyum kecil dan mengangguk, sementara Hee Ra meringis, berusaha menahan rasa malu akibat perbuatan ayah dan ibunya di depan Jong In. Kedua orang tuanya memang bukanlah orang yang kaya, namun Hee Ra selalu bersyukur akan apa yang telah ia dapatkan. Hanya saja, ia tidak pernah bisa melihat ekspresi kebahagiaan yang tergambar dalam wajah kedua orang tuanya, tapi saat ini? Wajah keduanya berseri-seri seolah mereka hidup kembali.

“Mari masuk Tuan Kim, Hee Ra akan membuatkanmu makanan,” gumam Shin Ha Jun sambil merangkul pundak Jong In dan mengajaknya masuk ke rumah. Andai saja kedua orang tua Hee Ra tahu bahwa Jong In bukanlah pria normal, apakah mereka masih sebahagia ini?

“Jadi kalian berencana menikah sesegera mungkin?” Shin Ha Jun menatap Jong In serius.

“Iya, saya tidak ingin kehilangan Hee Ra, dia adalah orang yang sangat berarti bagi saya,” tukas Jong In yang berhasil membuat seulas senyum tergambar di wajah Shin Ha Jun.

Sementara itu, Hee  Ra menguping pembicaraan Jong In dan ayahnya dari balik lemari sambil menunggu ibunya membuatkan makanan dan minuman. Mungkin ini aneh, tapi Hee Ra memang tidak pandai memasak. Ketika di Seoul, ia hanya makan dengan lauk telur, ayam, dan terkadang mie instan karena hanya itulah yang bisa ia masak. Sedangkan setelah menerima gaji, Hee Ra akan meluangkan waktu untuk makan di Restaurant. Bahkan tidak jarang Chan Yeol datang ke rumahnya dan memasak untuknya, sepertinya memang hanya Chan Yeol yang bisa melengkapi kekurangannya.

“Belajarlah memasak, kau harus membuktikan bahwa memang pantas untuk menjadi istri Jong In.” Shin Min Young yang tiba-tiba menyiku lengan Hee Ra langsung menyodorkan dua gelas coklat panas untuk Jong In dan Shin Ha Jun.

Hee Ra segera menerima uluran ibu-nya dan mengangguk walaupun sebenarnya yang ia pikirkan adalah seharusnya Jong In yang membuktikan bahwa dia memang pantas untuk menjadi suami Hee Ra. Bukan malah sebaliknya.

“Setelah ini, mama akan mengajarimu memasak, jadi malam ini kalian harus menginap di sini.”

Ibunya selalu membuat keputusan semaunya sendiri. Menginap di rumah ini? Bagaimana kalau Jong In punya kesibukkan lain? Bagaimanapun juga, Jong In adalah orang sibuk yang tidak bebas pergi ke suatu tempat  selama berhari-hari dan meninggalkan perusahaannya.

“Tapi Jong In..”

“Tidak ada tapi-tapian, bukankah kalian berniat menikah Minggu depan? Mama tidak ingin kau mengecewakan Jong In nantinya.”

Bukannya Jong In yang nantinya akan mengecewakan Hee Ra?

Hee Ra menyerah, ia tahu membantah perkataan ibunya hanya akan berakhir sia-sia, “Baiklah, aku akan berbicara dengannya.”

Hee Ra menggerakkan lehernya ke kanan dan kiri, pegal seharian di dapur karena paksaan ibunya untuk belajar memasak yang tidak membuahkan hasil sama sekali. Sudah berkali-kali mencoba, namun bukannya semakin baik, ada saja kesalahan yang terjadi, seperti gosong, kurang air, kurang manis, dan sebagainya.

Sunyinya malam yang damai mampu membuat Hee Ra sedikit lebih rileks, ia merebahkan tubuhnya di lantai teras begitu saja, sampai akhirnya  getaran ponsel seseorang membuatnya terganggu.

Rupanya Jong In, ia sedang berusaha mencari sinyal. Rumah orang tua Hee Ra bukanlah daerah pedalaman, sebenarnya semua sinyal ponsel selalu penuh, hanya saja salah satu tower operator sedang mengalami perbaikkan, dan kebetulan sekali Jong In adalah pengguna dari operator tersebut.

“Apakah di sini benar-benar tidak ada sinyal?” gerutu Jong In yang masih fokus menggoyang-goyangkan ponselnya.

“Towernya rusak.”

Ahh.. Kenapa tidak bilang dari tadi sih?” protes Jong In. Ia seperti orang bodoh yang berusaha mencari air laut di sungai tawar.

“Kau tidak bertanya,” Hee Ra mengambil ponselnya, “kau bisa gunakan ponselku kalau mau.”

Jong In mempertimbangkan tawaran Hee Ra, merasa terlalu lama, Hee Ra berniat untuk menarik ponselnya kembali, namun Jong In dengan cepat merebutnya, “Setuju. Aku akan menggunakan ponselmu untuk sementara ini.” Lalu masuk ke rumah dan menghilang di balik pintu.

Hee Ra hanya melengus, beberapa detik kemudian ia memutuskan untuk larut dalam sunyinya malam agar otaknya kembali segar. Ia menutup kedua matanya dan bernapas sedalam mungkin, lalu mengeluarkannya perlahan. Mungkin sebagian orang mengatakan bahwa angin malam tidak baik bagi tubuh. Hee Ra juga mengetahui hal itu, namun entah kenapa ia sangat menyukai kegiatan ini. Ia selalu merasa segar setelah melakukannya.

Terkadang poninya tertiup angin, matanya yang lelah seakan dibius untuk segera terpejam dan melupakan segala masalahnya walau hanya sekejap saja. Hee Ra tidak melakukan penolakkan, ia membiarkan rasa kantuk merasuki jiwa-raganya dan terus membawanya hingga benar-benar tertidur pulas.

Sudah pukul enam pagi. Lee Min Hyuk bersiap untuk membuka cafenya dan menyuguhi pembeli dengan breakfast spesial yang hanya ada setiap hari Senin. Sepertinya hari ini akan lebih berat, pasalnya Hee Ra meminta izin untuk libur kerja, entah apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu sebenarnya. Ia terlihat lebih sibuk akhir-akhir ini, dan terkadang tanpa alasan jelas Hee Ra meminta agar diperbolehkan pulang lebih awal daripada biasanya.

Baru saja membuka pintu kaca cafenya, Min Hyuk terbelalak mendapati seorang pria yang tidak asing baginya sedang tersungkur kedinginan di atas bangku depan cafe dengan pakaian resmi seperti baru pulang dari acara penting.

“Chan Yeol?!” teriak Min Hyuk, ia membopong badan Chan Yeol dan berusaha membuat pria itu berdiri dan mengalungkan salah satu lengannya ke leher Min Hyuk lalu membawanya ke dalam cafe.

Min Hyuk membaringkan Chan Yeol di kursi ruang kerjanya dan memberikan pria itu selimut yang kebetulan selalu tersedia di dalam lemari karena Min Hyuk sering tertidur di cafe akibat kelelahan.

Ia begitu panik mendapati bibir Chan Yeol mulai membiru, apakah pria ini gila? Apa dia bermalam di depan cafe? Apa dia tidak berpikir kalau sekarang sedang memasuki musim dingin?

Min Hyuk cepat-cepat menyeduh teh untuk Chan Yeol dan berharap setelah meminumnya keadaan Chan Yeol akan lebih baik.

“Minumlah, tubuhmu akan lebih hangat,” Min Hyuk menyodorkan segelas teh hangat yang langsung diterima oleh Chan Yeol.

“Terimakasih, hyeong,” balas Chan Yeol pelan.

Terakhir kali, ia melihat Hee Ra-lah yang putus asa seperti orang kehilangan arah. Namun sekarang? Keadaan itu berubah drastis. Chan Yeol yang saat itu menyebabkan Hee Ra sakit hati kini malah terlihat lebih mengenaskan. Tunggu dulu, dari pakaian yang dikenakan Chan Yeol, apakah ia baru saja kabur dari suatu acara? Bodoh, Min Hyuk ingat sekarang, Chan Yeol akan menikah dengan wanita pilihan ibunya dan itulah penyebab utama Hee Ra dan Chan Yeol putus.

Min Hyuk berjongkok, “Apa yang terjadi?” tanya-nya.

Sorot mata Chan Yeol semakin redup, “Apa kau tau dimana Hee Ra sekarang?”

Min Hyuk menggeleng, Chan Yeol tidak menjawab pertanyaannya dan malah memberikan pertanyaan. “Apakah kau kabur dari pernikahanmu?” sekali lagi, Min Hyuk mencoba bertanya dan berharap Chan Yeol mau menjawabnya. Ia benar-benar frustasi melihat kelakuan Hee Ra dan Chan Yeol yang kelihatan seperti mayat hidup, tapi tidak pernah mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Kami hanya..tidak, dia salah paham padaku, dia mengira bahwa aku akan benar-benar mau menikah dengan wanita pilihan ibuku, dan kemarin waktu aku pergi ke rumahnya…hyeong apa Hee Ra akan menikah dengan seseorang? Apa dia melupakanku secepat itu?”

Min Hyuk terkesiap. Hee Ra akan menikah? Dengan siapa? Apa ini alasan dibalik sikap Hee Ra yang berubah sejak beberapa hari lalu?

“Menikah? Dia tidak bilang apapun.”

“Benar, aku yakin So Ra pasti mengada-ngada, aku harus mencari Hee Ra sekarang juga.” Chan Yeol bangkit, tapi Min Hyuk menghalangi tubuh pria jakung itu.

“Setidaknya gantilah bajumu dan sarapan, akan ku pinjamkan bajuku untukmu,” gumam Min Hyuk lalu berjalan ke lemari di ujung ruangan dan memilih baju yang sekiranya cukup untuk Chan Yeol.

Apa yang ia lihat pagi ini membuat rencanya untuk memukul Chan Yeol karena telah menyakiti Hee Ra menghilang begitu saja. Ia sadar bahwa bukan hanya Hee Ra-lah yang tersakiti, namun keduanya.

Sementara Min Hyuk masih sibuk dengan baju, Chan Yeol memandang sebuah foto yang terpajang indah di dinding. Tiga buah foto yang disusun membentuk segitiga dengan empat orang di dalamnya.

Hee Ra, Min Hyuk, dan dua pelayan cafe lainnya. Matanya langsung menatap fokus gadis yang saat itu menggunakan sweater merah marun dan celana jeans pensil biru tua tersenyum lebar tanpa beban di sana.

She’s pretty, right?”

Suara bariton Min Hyuk bergema di telinga Chan Yeol dan langsung setuju dengan ucapan Min Hyuk barusan.

“Aku masih tidak percaya bahwa gadis yang tidak bisa memasak bisa diterima bekerja di sebuah cafe,” gumamnya tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari gambar Hee Ra.

Min Hyuk tertawa, “Karena dia pintar mempromosikan cafe sehingga banyak pembeli yang datang. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh ibuku ketika aku bertanya kenapa menerima Hee Ra.”Ia berhenti dan menengok ke arah Chan Yeol, “Dia gadis yang baik, bahagiakan dia sebelum orang lain melakukannya.”

Drrtt…

Drttt…

Drttt…

Hee Ra menggeliat, matanya membuka pelan dan kemudian menguap. Getaran yang berulang-ulang membuatnya terbangun, siapa yang menghubunginya pagi-pagi seperti ini?

Dengan kondisi mata yang masih setengah tertutup, Hee Ra meraih ponselnya dan melihat nama Chan Yeol tertera di layar, 20 panggilan – 40 pesan masuk .

Tunggu dulu. Sejak kapan Hee Ra tidur di kasur? Dan ponsel ini, bukankah Jong In yang membawanya?

“Seseorang mencoba menghubungimu, aku hampir saja menekan tombol jawab karena kukira Kyung Soo.”  Jong In yang tiba-tiba saja sudah berada di ambang pintu mendekati Hee Ra, “Badan kurus sepertimu seharusnya tidak tidur di luar rumah. Kau mau bunuh diri ya?”

Hee Ra mendengus, dari ucapannya barusan, kelihatannya Jong In-lah yang membawanya masuk dan tidur di kasur. “Aku ketiduran, lagipula aku tidak senaif itu untuk bunuh diri,” jawabnya acuh tak acuh.

Hening sesaat. Tidak ada interaksi apapun dari Hee Ra dan Jong In walaupun mereka sedang berada di satu ruang lingkup yang sama. Sibuk dengan pikiran masing-masing, Hee Ra dengan kesibukkan membaca pesan dari Chan Yeol yang mencarinya, Jong In dengan sebuah e-mail yang baru saja masuk dalam kotak pesannya.

“Bersiaplah, kita harus segera kembali ke Seoul.”

Jong In yang tiba-tiba melontarkan kalimat perintah agar Hee Ra segera bangun dan bersiap untuk kembali ke Seoul nampak sangat serius.

“Kenapa?”

“Nenekku ingin bertemu denganmu.”

“Nenek?” Hee Ra menggaruk lehernya dengan tiga jari, apa yang dimaksud Jong In adalah wanita yang ia tolong tempo hari?

“Sekretarisku mengatakan bahwa nenek akan segera tiba di rumah dalam beberapa jam lagi,” ia menarik napas dalam-dalam, “dan nenek ingin agar kau tinggal bersama kami mulai sekarang.”

“Apa?”

“Tidak ada waktu lagi, aku akan menunggumu di depan.”

Tanpa memperdulikan ekspresi terkejut Hee Ra, Jong In menyelesaikan ucapannya dan memilih untuk menunggu gadis itu di luar. Pria berwatak koleris seperti Jong In memang menyebalkan. Ia seenaknya sendiri memerintah dan memutuskan sesuatu tanpa persetujuan orang yang bersangkutan.

Tapi apalah daya Hee Ra sekarang, ia sudah menyetujui untuk menikah dengan Jong In, dan itu berarti konsekuensinya adalah watak dari pria yang menyebalkan itu akan terus menghantuinya setiap hari.

Tapi ini bukanlah hal yang berat. Hee Ra lebih baik tinggal dan hidup bersama dengan sikoleris daripada terus terjebak dalam kisah cinta penuh drama yang membuatnya dihantui rasa sakit hati dari si pria berwatak plegmatis seperti Chan Yeol.

Ia juga tidak mengerti kenapa Chan Yeol menghubunginya tadi, bukankah pria itu sudah menikah dengan gadis lain? Kenapa masih menghubungi Hee Ra? Dan satu lagi, jika dia memang berniat untuk mencari Hee Ra, seharusnya pria itu melakukannya dari dulu. Bukannya sekarang, saat semuanya telah berubah. Lagipula Hee Ra bukanlah gadis bodoh yang hanya karena alasan ‘cinta’ akan memberitahukan pada Chan Yeol tentang dimana keberadaannya saat ini, kemudian saling bertemu dan bersikap seolah-olah pria itu masih miliknya, dan bukan milik orang lain.

You’re too late, babe,” gumam Hee Ra lirih lalu bangkit dari ranjang dan segera bersiap sebelum Jong In kembali membuat telinganya panas.

Salah satu kelebihan Hee Ra adalah ia tidak membutuhkan waktu lama untuk bersiap seperti kebanyakan wanita se-usianya. Rasanya aneh ketika ia masih menggunakan tas lengan kecil dari Chan Yeol sebagai hadiah tiga bulan hubungan mereka. Bukan apa, hanya saja tas itu selalu mengingatkan tentang kenangan pahit yang sempat di toreskan oleh Chan Yeol. Ketika rasa cintanya sudah memuncak, pria itu malah pergi bersama wanita lain dan meninggalkan Hee Ra dalam rasa rapuhnya.

“Berhati-hatilah di jalan,” gumam ibu Hee Ra sambil memeluk anaknya. “Kalian bisa urus pernikahan sendiri? Yakin tidak butuh bantuan dari ibu?” lanjut Shin Min Young skeptis.

Hee Ra tersenyum simpul, “Mama jangan khawatir, lagipula aku dan Jong In hanya merencanakan pernikahan yang sederhana dengan beberapa tamu saja,” balas Hee Ra.

“Sopir saya akan menjemput paman dan bibi ketika mendekati hari pernikahan.” Jong In meraih tangan kanan Hee Ra hingga gadis itu terbelalak, namun kedua orang tua Hee Ra tidak menyadari ekspresi putrinya, mereka lebih terfokus pada Jong In. “Mulai saat ini Hee Ra akan tinggal di rumah saya, apakah paman dan bibi menyetujuinya?”

“Tinggal serumah?”

Kedua orang tua Hee Ra saling bertatapan dan membulatkan mulutnya. Apakah yang dimaksud Jong In adalah mereka akan bersikap seperti suami-istri bahkan sebelum menikah?

“Paman dan bibi tidak perlu khawatir. Saya berjanji tidak akan menyentuh Hee Ra sebelum kami sudah benar-benar sah menjadi suami-istri.” Atau bahkan tidak akan menyentuhnya satu kali-pun. Jong In berusaha meyakinkan kedua orang tua Hee Ra bahwa ia adalah pria baik-baik yang seolah ingin melindungi Hee Ra.

Awalnya tidak ada tanda-tanda bahwa kedua orang tua Hee Ra akan menyetujuinya, namun tanpa disangka, Shin Ha Jun—Ayah Hee Ra mengangguk dan menyetujui permintaan Jong In. Hee Ra bisa memaklumi, ayahnya pasti mengira bahwa yang dilakukan Jong In semata-mata karena dia tidak ingin kehilangan Hee Ra, tapi sebenarnya bukan seperti itu. Andai saja ayahnya tahu.

Jong In membungkukkan badannya sembilan puluh derajat sebagai ungkapan terimakasih. “Kalau begitu, kami pamit dulu,” Jong In masih menggenggam tangan Hee Ra, “terimakasih atas kepercayaannya,” lanjut Jong In disertai ulasan senyum manis di bibirnya.

Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Jong In segera menginjak gas dan mengendarai mobilnya untuk kembali ke Seoul dan pergi ke rumah Hee Ra, setidaknya Hee Ra harus berkemas dan membawa barang-barangnya untuk dibawa ke rumah Jong In.

Ia teringat kalau menitipkan rumahnya pada So Ra. Semoga saja gadis itu tidak kelayapan di jalan dan meninggalkan ponselnya sekarang, kalau itu terjadi Hee Ra terpaksa menunggu So Ra dengan lontang-lantung di depan rumah sampai dia kembali.

Awalnya Hee Ra mengira bahwa mereka akan pulang kemarin malam, makannya ia menitipkan rumah dan kuncinya pada So Ra karena temannya tersebut sedang mencari tempat kontrakkan baru.

Dengan kepindahannya ke rumah Jong In, berarti Hee Ra akan meninggalkan rumah yang telah di kontraknya untuk tiga tahun tersebut. Lalu siapa yang nantinya akan tinggal di sana? Sepertinya bukan suatu kesalahan jika Hee Ra membiarkan So Ra menempatinya nanti.

“Kenapa dia lama sekali?”

Jong In yang sudah uring-uringan karena kesal menunggu So Ra yang tak kunjung datang itupun mulai mengeluh. Sudah lebih dari satu jam mereka menunggu di depan rumah dan itu membuat mood-nya hancur.

“Bersabarlah.” Hee Ra mencoba menenangkan, matanya menerawang ke depan dan melihat sosok wanita sedang berlari ke arah mereka, tidak salah lagi itu pasti So Ra. “Itu dia, dia sudah datang,” gumam Hee Ra senang sambil menunjuk gadis di ujung sana.

Jong In mengikuti telunjuk Hee Ra dan memandang seorang gadis berbadan subur dengan napas terengah-engah yang kini sudah berada dekat dengan mereka.

Ahh,” So Ra menumpu kedua tangannya di lutut dan berusaha mengatur napasnya, “Maafkan aku. Ini ambilah kuncinya,” Ia menyodorkan kunci pada Hee Ra yang langsung disahut oleh gadis itu.

“Terimakasih,” jawab Hee Ra ringan kemudian masuk ke rumah

Ketika napasnya sudah mulai stabil, So Ra kembali berdiri tegak dan mendapati seorang pria sedang bersandar pada mobil, sementara Hee Ra sudah berada di dalam rumah. Ia mengerjap-kerjapkan kedua matanya seolah tak percaya pada apa yang ia lihat sekarang.

Apakah orang ini yang akan menikah dengan Hee Ra? Dia Kim Jong In? So Ra memang hanya melihat Jong In di foto yang ada di internet, tapi ia tidak tahu kalau Jong In jauh lebih tampan dari yang terlihat di foto.

Pria itu tidak memandangnya sama sekali, ia menatap ke arah rumah Hee Ra, tepatnya ke kaca jendela yang dimana sesekali nampak Hee Ra sedang berseliweran lalu menggaruk kepalanya seperti orang kebingungan.

Apa yang akan mereka lakukan? Pikir So Ra curiga.

Namun pertanyaan itu terjawab ketika Hee Ra akhirnya keluar sambil membawa sekoper penuh pakaian dan satu tas berukuran sedang yang entah apa isinya.

“Aku akan tinggal di rumah Jong In.” Hee Ra memegang lengan So Ra, “Kontrak rumah ini masih berlaku satu setengah tahun lagi. Aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja, kau mau kan tinggal di sini?” tanya Hee Ra tanpa ragu.

“Ti-tinggal di rumah Jong In?” So Ra tergagap dan memandang sekilas pria yang kini sedang menyilangkan kedua lengannya itu lalu kembali menatap Hee Ra, “Baiklah. Aku akan membayar biaya sewa rumah padamu,” lanjut So Ra.

“Apa? Tidak-tidak, kau tidak perlu membayarnya. Lagipula aku akan sering ke sini nanti. Aku pasti merindukanmu So Ra-ya.” Hee Ra menarik So Ra dalam pelukkannya, “Jaga dirimu baik-baik ya.”

“Tentu saja, kau juga. Jangan sampai sakit,” So Ra membalas pelukkan Hee Ra. Setelah hari ini pasti harinya lumayan sepi. Hee Ra akan pindah dengan Jong In dan kemudian menikah. Itu berarti besar kemungkinan bahwa Hee Ra juga akan berhenti kuliah.

Jika menyadari hal ini dari awal, So Ra bersumpah ia tidak akan pernah berkata bahwa tidak ada salahnya kalau Hee Ra menikah dengan Jong In.

“Kau benar-benar membuat tercoreng nama keluarga!” Nyona Park yang notabennya adalah ibu Chan Yeol mencoba menahan emosinya yang sudah memuncak.

“Apa yang ada dalam otakmu Park Chan Yeol? Kau kabur dari pernikahanmu dan mencari gadis  itu? Sudah ku bilang dia tidak sebanding dengan keluarga kita!” tambahnya.

Chan Yeol meringis menahan rasa sakit karena dihajar oleh anak buah ibunya. Ia menolak ketika mereka berusaha membawanya pulang. Bukan hanya itu, bagaimana caranya mereka bisa tahu kalo Chan Yeol berada di cafe tempat Hee Ra bekerja? Ia yakin, setelah Hee Ra kembali gadis itu akan dipecat oleh Mrs. Han—Ibu tiri Lee Min Hyuk—Karena ia sudah membuat keributan di cafe tersebut—Ya, walaupun sebenarnya keributan itu di sebabkan oleh Chan Yeol, namun alasan Chan Yeol kesana adalah karena Hee Ra. Itu berarti Mrs. Han pasti berpikir bahwa Hee Ra-lah biang keladi di balik semua kejadian ini.

“Sudah ku bilang, aku tidak ingin menikah dengan Ha Neul. Walaupun ia adalah teman masa kecilku,” jawab Chan Yeol dingin.

“Kau pikir jika kau tidak menikah dengannya hidup kita akan terus seperti ini? Berpikirlah lebih dewasa, ayahmu sudah sekarat Park Chan Yeol, kemungkinan hidupnya hanya tinggal sepuluh persen. Kalau kau dari awal tidak memilih untuk menjadi dokter, maka kejadiannya tidak akan seperti ini.”

Chan Yeol terdiam, yang dikatakan oleh ibunya memang tidak salah. Tapi bukankah memperjuangkan cita-cita adalah suatu kewajiban? Chan Yeol selalu mengingat ucapan ayahnya ketika ia masih kecil dulu. Beliau selalu memberi nasihat ‘Jika kau menyukai sesuatu dan memutuskan untuk menjadikan itu sebagai cita-citamu, kejarlah. Apapun yang terjadi. Bahkan jika kau sudah berada dalam masa sulit sekalipun.’

“Aku berjanji perusahaan tidak akan hancur.”

Nyonya Park menekan pelipisnya, “Kau tidak seharusnya berjanji seperti itu, dokter.” Setelah menyelesaikan ucapannya, nyonya Park memilih untuk pergi daripada semakin stres akibat ucapan yang keluar dari mulut Chan Yeol.

Sementara itu, Choi Ha Neul—Calon istrinya—Yang sedari tadi hanya diam menguping pembicaraan Chan Yeol dan ibunya kini memberanikan diri untuk masuk.

“Seharusnya kau tidak melawan ibumu, Park.” Ha Neul duduk di samping Chan Yeol sambil membawakan air es untuk mengobati luka memar di wajah Chan Yeol.

“Bukankah kau juga tidak menginginkan pernikahan ini?” Chan Yeol menimpali.

Ha Neul menggeleng, ia mengobati luka Chan Yeol dengan sangat lembut, “Tidak Park, aku berbohong padamu.” Ha Neul menatap ke dalam manik mata Chan Yeol yang bening, “Aku sangat senang ketika mendengar bahwa kita akan dijodohkan karena kau adalah orang yang kusukai semasa kecil. Tapi melihat ekspresimu ketika itu, kau seolah menolakku dan terpaksa melakukan pernikahan ini, lalu ku putuskan untuk berbohong padamu dan berkata bahwa aku tidak menginginkan menjadi pengantinmu.”

Chan Yeol tidak percaya pada apa yang didengarnya barusan. Ia sudah percaya pada gadis ini, dan ternyata apa yang ia dapat? Sebuah kebohongan.

“Park, kumohon jangan batalkan pernikahan kita. Apakah kau tidak kasihan pada kedua orang tuamu? Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk juga kau. Pernikahan kita adalah yang terbaik.”

“Tidak Ha Neul-ssi, hanya diri sendiri yang bisa menentukan apakah hal ini terbaik untuk kita atau sebaliknya. Bukan dari pikiran orang lain.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Adikmu memang pintar dalam mengelola perusahaan, tapi apalah dayanya ketika bahkan orang tuanya mencoba menyembunyikan Cheon Sa dari publik dan mengatakan bahwa hanya kaulah keturunan mereka.”

Chan Yeol terdiam. Perkataan Ha Neul sangat tepat. Selama ini kedua orang tuanya tidak pernah menunjukkan Cheon Sa pada publik dan hanya mengatakan bahwa Chan Yeol-lah anak mereka. Park Cheon Sa adalah adik Chan Yeol yang masih berusia dua puluh tahun, ia tidak bisa berjalan dan melihat dengan baik. Itulah sebabnya orang tua Chan Yeol selalu berusaha menyembunyikan Cheon Sa yang dianggap sebagai aib keluarga.

“Park, pikirkanlah baik-baik. Ini untuk masa depanmu, masa depan adikmu, dan masa depan kita semua. Apakah kau tega melihat keluargamu menderita?” Ha Neul memegang lengan Chan Yeol.

“Tidak, aku tidak ingin mereka menderita, tapi—”

Ssstt..” Ha Neul buru-buru menutup mulut Chan Yeol dengan jari telunjuknya, “Kalau kau tidak bisa menikah denganku karena tidak mencintaiku, maka menikahlah denganku karena masa depan adikmu. Kau tentu tidak inginkan jika ibumu semakin membenci Cheon Sa karena hal ini?”

Habis sudah. Chan Yeol berada di batas kemampuannya untuk bertahan. Ia sangat menyayangi Cheon Sa dan rela melakukan apapun demi adiknya, tapi jika harus menikah dengan Ha Neul, apakah Chan Yeol bisa?”

“Lagipula aku adalah wanita dewasa yang tumbuh dengan cantik, pintar, dan mengagumkan. Aku bahkan telah menolak banyak pria hanya untukmu, Park. Apa kau juga tega menyakitiku yang telah berusaha memperjuangkanmu?”

Sial. Chan Yeol benar-benar tidak bisa melihat wanita bersikap seperti ini. Jika ia kasihan pada perasaan Ha Neul, lalu bagaimana dengan perasaannya sendiri?

“Park, jawab aku..”

Ha Neul memegang kedua pipi Chan Yeol dan menuntun agar pria itu menatapnya. Tidak ada penolakkan kali ini, Chan Yeol pasrah pada apa yang dilakukan oleh Ha Neul dan berusaha memandang kedua mata Ha Neul.

Ia laki-laki. Ia harus memiliki pendirian. Ia harus bisa memutuskan yang terbaik, meski itu menyakitkan.

“Baiklah, kita akan menikah dan aku berjanji tidak akan ada  lagi peristiwa kabur dari pernikahan,” gumam Chan Yeol serius.

Ha Neul tersenyum puas mendengar jawaban Chan Yeol. Seperti yang ia tebak sebelumnya, sedikit sabar, perhatian, dan info terhangat dari Chan Yeol akan membuatnya mendapatkan pria itu.

 

 

To Be Continued

Iklan

153 pemikiran pada “Forbidden Love Part IV

  1. ha neul muka dua ya?? kok ngelakuin itu sih? emang bnr kl dia suka sama chanyeol??
    aduh jadi rumit bngt ya..

    keep writing

  2. Kyaaaaaaaaaa…
    Chanyeol ababil bgtz sihh, owhh ternya haneul udh ska sm chanyeol sejak dlu yaa jdi mkanya dia lgsg mau menikah sm chanyeol begitu tau chanyeollah pria yg dijodohkan…mudah2an mrk berdua bsa bahagia sll dh baik itu chanyeol dan haneul maupun jongin dan shin heera…wahhhh bkl pnasaran bgtz nih gmn nnt kehidupan rumah tangga jongin dan shin heera dmn keduanya ngga slg mencintai dan masing2 pny sifat unik…

  3. Eeeaakk chanyeol jadi nikah nih yee ama choi haneul uhuyy hihihi….

    tapi gimana dengan shin hee ra?
    jadi ceritanya si hee ra ini udah tau ya kalo jong in itu homo?

    yah daripada penasaran gua lanjut baca aja ya 🙂

  4. Ugh gemas bgt tau lhat sikap labilnya chanyeol😫 aigoo haneul jago ya mempengaruhi chanyeol, sampe-sampe chanyeol bersedia nikah sama dia😒.  Buat shin hee ra, moga bisa cepat move on dari chanyeol deh, trus berpling ke jongin😄

  5. Chap 4 nya bener2 sesuatu. Uwaah ortu Heera bener2 ga habis pikir, kirain bakal ngga setuju eh tahunya gara2 calon mnantu holkay lgs approach aja haha
    Chanyeol kamu bener2 frustasi bgt disini, sampe berasa bgt feelnya, I Like it thor.

  6. Aigoooo aigoooo haneul hedeh ulet keket kelas banget yeee mulut lu -_______-
    Uda deh sana nikah ama chanyeol ntar keburu di ambil valak lgi :v
    Heera gue doain jong in engga di goda ama valak lgi dan normal :v

  7. Ha Neul bener bener nyebelin ya… segitu pengen nya dapetin si Chanyeol… jadi kasihan sama Chanyeol kena perangkap Ha Neul…

  8. duh kasian chanyeol sampe kedinginan. Perjuangan cintanya duh ngenes. Ceritanya makin seru. Haneul bilang gk suka tp nyatanya hmm. Penasaran duh. Chanyeol heera kyknya udh gk ada harapan. Nunggu heera jong in nikah nih, gk sbar hihi

  9. aduuhhh baru awal ajah complicated nya udah terasa banget yahh, disini kyungsoo blm muncul mungkin nanti tapi aku berharapa kyungsoo jangab muncul seterusnya 😀 hehe..

  10. Yahh.. Ternyata Haneul picik juga yah hebat bisan ngerayu Chanyeol, gmana masa depan cinta Chanyeol sama Hee Ra?? Putus kandas sudah mereka akan mencintai pasangan masing masing perlahan dengan berjalannya waktu pasti.
    Cuss ahh ke part selanjutnya ^^

  11. “You’re too late, babe ,” seperti kata hee ra kamu udah terlambat chanyeol. dan pada akhirnya chanyeol memilih untuk menikah dgn ha neul.
    tapi gak papa deh toh hee ra nya juga mau nikah sama kai.

  12. Astaga Ha Neul licik bangetsih, Chanyeol jg knp harus termakan omongan Ha Neul sih. Tp yah mau bagaimana lg Chanyeol dan Hee Ra tdk mubgkin jg bersama.

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s