[BTD-Kris Version] –STARELLA [1/2]


Starella

Title : [BTD-Kris Version] –STARELLA

Author : Heena Park

Lenght : Twoshoot

Genre : Romance, Family

Ratting : PG

 

Main Cast :

-Wu Kris / Kris

-Stella Choi

Recommended Song :

  1. Paradise [ T-Max ]
  2. Something Happened To My Heart [ T-Max ]

Author Notes :

Aduh, sorry ya BTD-nya molor banget, soalnya aku bener-bener sibuk akhir-akhir ini dan beberapa kali laptop aku sempet disita gara-gara kelamaan maen wkwkw

 

STARELLA ©2015

Srekk

Kris membuka payung bermotif bintang—kesukaan So Ra—putrinya. Jalanan sedikit licin sehingga ia harus berhati-hati dengan sepatu kulit hitam mengkilap yang baru ia beli beberapa hari lalu di Paris.

“Dad!” So Ra membuka lebar kedua matanya begitu melihat Kris sedang berjalan ke arahnya. Gadis berusia 4 tahun bermata coklat itu langsung berlari ke arah Kris tanpa memperdulikan kondisi jalan hingga ia terpeleset, untung saja Kris dengan sigap langsung menggendong So Ra dengan tangan kanannya dan membawa putrinya ke dalam mobil.

“Lain kali berhati-hatilah princess.” Kris membersihkan lutut So Ra dengan penuh kasih sayang.

“Maaf dad, aku terlalu senang melihat daddy pulang.” Sesalnya.

Kris dan segala kesibukkannya di dalam maupun luar negeri membuatnya jarang bertemu So Ra akhir-akhir ini. Ia mengerti betul bahwa So Ra sangat membutuhkan kasih sayangnya, apalagi dia tidak memiliki ibu lagi.

“Everything’s gonna be okay,princess,” Kris menerawang di balik jendela mobil, “Sepertinya hujan mulai deras, kita harus segera pulang sebelum nenekmu menelfon polisi karena cucu kesayangannya belum juga pulang.”

*****

“Apa tidak masalah berangkat sepagi ini?”

Kris yang semula sedang meneguk kopi buatan ibu mertuanya itupun langsung menaruh cangkir kecil tersebut ke meja dan mengangkat kedua bahunya, “Entahlah, katakan pada So Ra bahwa aku akan kembali 10 hari lagi,” Ia berhenti sebentar dan memeluk ibu mertuanya dari belakang, “Aku tidak mungkin membiarkan client-ku menunggu terlalu lama bukan, mama?”

Ia benar-benar menganggap Park Ye Jin sebagai ibu kandungnya sendiri. Semenjak kepergian istrinya 4 tahun lalu, ibu mertuanya-lah yang selalu mendampingi Kris dan membantunya untuk merawat So Ra. Ia benar-benar beruntung memiliki ibu mertua sebaik ini. Di masa paling kelam-pun wanita itu masih berusaha menguatkan orang lain.

“Baiklah, berhati-hatilah di jalan, Kris.” Pesan Park Ye Jin.

Kris tersenyum tipis dan melambaikan tangannya sebentar kemudian keluar dari rumah dan pergi ke bandara secepat mungkin. Walaupun ia akan ke Seoul menggunakan pesawat pribadi, namun tetap saja, ia tidak ingin dilihat sebagai Bos yang pemalas.

Ia tiba tepat waktu. Geumhe, wakil dari salah satu perusahaan di Korea Selatan yang akan menjadi partner perusahaannya tersebut juga baru saja tiba.

“Good Morning Mr. Wu.” Ucapan salam hangat dari gadis itu terlempat begitu nyaman di telinga Kris, ia membalasnya sambil membungkuk 90 derajat.

Itu yang ia sukai dari Korea. Sopan santun dan keramahan mereka membuat Kris jatuh cinta pada salah satu warga-nya yang tidak lain adalah ibu kandung So Ra.

“Kita berangkat sekarang?” Tanya Geumhe

“Of course.” Kris mempersilahkan wanita itu untuk masuk ke dalam pesawat dahulu dan baru kemudian ia menyusul di belakang.

Perjalanan dari Cina ke Korea terasa tidak begitu melelahkan karena sepanjang jalan mereka berbincang kecil. Geumhe adalah teman yang enak diajak bicara, namun bukan berarti Kris menyukai wanita itu, ia hanya merasa nyaman berbicara dengan Geumhe.

Sudah lama rupanya. Ia tidak pernah datang ke Korea lagi semenjak istrinya meninggal dan memilih untuk menetap di Cina, setidaknya cara itu mampu membuat rasa sakit hati akan kehilangan istrinya sedikit terobati. Dan sekarang, untuk pertama kalinya setelah kejadian memilukan itu ia kembali ke Korea dan bukan tidak mungkin bahwa kenangan masa lalunya akan menghantui setiap saat dalam jangka 10 hari ke depan.

“Ah..” Kris memegang perutnya. Kenapa peristiwa seperti ini selalu datang di saat yang tidak tepat?

“Apa terjadi sesuatu Mr. Wu?” Tanya Geumhe yang diikuti oleh tatapan penuh tanya dari sekretaris-nya.

“Tidak, aku tidak apa-apa, hanya saja sepertinya aku harus segera pergi ke toilet.” Jawabnya sedikit gelagapan kemudian langsung berlari mencari toilet secepat mungkin.

Betapa leganya Kris karena ia masih ingat dimana letak toilet di Bandara ini sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan tempat tersebut. Kalau saja ia terlambat sebentar saja maka bukan tidak mungkin bahwa akan terjadi kejadian yang sangat memalukan.

Begitu selesai, ia buru-buru keluar dan berniat untuk segera menghampiri tiga orang tadi. Tapi apa ini? Seorang wanita dan security nampak sedang bertengkar di depan toilet. Hey, apakah kedua orang ini tidak sadar bahwa mereka menutupi jalan?

“Tidak bisa pak, sudah jelas-jelas ini milik saya, kenapa masih tidak percaya sih?”

“Tapi nona kami harus memeriksanya terlebih dahulu karena kedua barang ini keluar di tempat yang berbeda.”

“Permisi..” Kris mencoba untuk meminta jalan

“Diamlah.” Tanpa melirik sedikitpun wanita itu menyuruh agar Kris diam.

“Pak, tapi ini benar-benar milik saya!”

“Permisi nona..”

“Kau bisa diam atau tidak sih?!”

Plokk

“Oh Shit!”

Wanita itu melemparkan es krim cokelat dan mengenai kemeja putih Kris. Ia terkejut dan langsung menghentikan perdebatannya dengan security tadi.

“Ma..maafkan aku tuan..” Wanita itu meringis dan mengangkat jari tengah beserta jari telunjuknya membentuk huruf V dan tanpa pamit langsung berlari meninggalkan Kris bersama security tadi.

“Hey kau mau kemana?! Kau harus membersihkan kemejaku!” Kris berteriak dan hampir mengejar wanita dengan koper bewarna hitam serta sebuah kotak di tangannya, namun ditahan oleh security yang sempat bertengkar dengan wanita itu.

“Biar saya saja yang mengejarnya tuan.” Ujar security tersebut lalu berlari ke arah yang sama dengan wanita tadi.

“Damn it! Seharusnya aku menolak untuk datang ke Korea, arggh!”

*****

Stella benar-benar tidak habis pikir bahwa ia akan kesusahan seperti ini setibanya di Korea. Seharusnya ia tidak menolak tawaran Danis—Temannya saat masih kuliah di salah satu Universitas di Indonesia untuk mengantarkannya ke Korea, apalagi pria berlesung pipi itu juga sudah berkali-kali datang ke negara ini. Penyesalan memang datang belakangan.

Lagipula semua ini tidak akan terjadi kalau ibunya tidak jatuh cinta pada orang Korea untuk yang kedua kalinya. Ia memang keturunan Indonesia-Korea Selatan. Ayah kandungnya meninggal ketika Stella masih berusia 10 tahun, dan selama itu mereka tidak pernah pergi ke negara kelahiran ayahnya sama sekali karena pada kenyataannya sang ayah selalu menolak jika di ajak untuk ke sini. Entahlah, Stella tidak tahu pasti apa alasannya dan ia juga tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menanyakan hal itu.

Massage from : Mama

“Kamu dimana? Kenapa nggak nelfon mama kalau mau ke Seoul? Mama lagi di luar kota, mungkin 3-4 hari lagi baru pulang.”

Stella tersenyum kecut. Ia melempar ponselnya ke kasur tanpa perduli tepat sasaran atau tidak, intinya sekarang ia sudah lelah dengan hal memuakkan yang terjadi seharian ini. Ia bahkan membutuhkan waktu 3 jam untuk sampai di Grand Hyatt Hotel karena security tadi terus saja mengejarnya sehingga terpaksa ia menurut dan kembali ke Bandara untuk membuktikan bahwa kotak tadi benar-benar miliknya.

Sudah pukul 10 malam dan ia belum makan apapun sejak tadi pagi. Bahkan makanan dalam pesawat-pun tidak di liriknya sama sekali karena sibuk dengan pikirannya dan kemudian tertidur.

Sekarang ia harus makan dimana? Restaurant hotel? Tidak. Ia tidak akan menghabiskan uangnya untuk membeli makanan yang mahal itu, lagipula ia harus bertahan di hotel ini selama beberapa hari ke depan, bukan?

Pilihan terakhir jatuh pada pedagang kaki lima atau kedai yang berada tidak jauh dari hotel. Dengan modal pengetahuan yang pas-pasan, Stella mencoba untuk menyusuri jalan dan melihat apa yang bisa ia dapatkan. Sudah mulai sepi rupanya, banyak kedai yang sudah tutup. Tepat di kanan Stella terdapat beberapa pria yang sedang mabuk dan mencoba untuk memanggilnya. Cepat-cepat Stella berlari agar pria itu tidak mengejarnya.

Namun perkiraannya meleset, dua orang pria berbaju hitam beserta masker menutupi setengah wajahnya menghadang Stella dari pertigaan. Pria berbadan besar mengacungkan pisau tepat di depan leher Stella sedangkan yang lebih kecil berada di belakangnya, alih-alih kalau Stella kabur.

“Cepat serahkan uangmu atau kau akan mati!” Gertaknya pada Stella.

Jantungnya berdebar kencang, ia sama sekali tidak memiliki keahlian bela diri untuk melawan orang-orang tersebut, tapi jika Stella memberikan dompetnya, maka ia akan menjadi gelandangan di Seoul. Ini benar-benar membuatnya frustasi.

“Ak..aku tidak punya uang..”

“Ahh! Tidak usah berbohong, Gyu cepat kau cari dimana gadis itu menyembunyikan uangnya!” Ujar pria berbadan besar.

Setelah mendengar perintah, pria yang berdiri di belakang Stella langsung mendekat dan mencoba menemukan dimana dompetnya berada, ketakutan yang teramat dalam tentu saja menghantui Stella, namun baru beberapa detik berjalan, seseorang melemparkan kaleng kosong ke arah pria berbadan besar.

Apakah orang itu adalah Malaikat yang dikirimkan Tuhan untuknya?

“Pengecut, mengganggu wanita di malam hari.” Pria itu tersenyum pahit.

“Kau! Siapa kau? Tidak usah ikut campur!” Bentak pria berbadan besar. Ia mengambil kaleng yang sempat mengenai tubuhnya dan meremasnya hingga hancur.

“Oh, tentu aku tidak ingin ikut campur, hanya saja sepertinya gadis itu membutuhkan bantuanku jadi—“

“Tidak usah banyak bicara! Ku bunuh kau!” Pria berbadan besar tadi mengarahkan pisaunya dan mencoba untuk menyerang pria di ujung sana sedangkan Stella masih terbujur kaku dengan kedua tangan di sekap oleh pria satunya serta sebuah pisau yang siap menggores lehernya kapan saja.

Tapi tiba-tiba saja pisau yang berada di depan lehernya itu terjatuh bersamaan dengan pria yang menahan tangannya lari terbirit-birit. Ia tidak tahu betul, intinya sekarang ia sudah lemas karena jantungnya hampir saja melompat karena kejadian barusan.

“Kau, tidak apa-apa kan?”

Suara serak seorang pria membuat Stella mengangkat kepalanya dan mengangguk pelan. Tiba-tiba pikirannya terbang, ia seperti pernah melihat wajah pria ini sebelumnya, entah dimana, tapi ia yakin betul tentang itu.

“Kau…” Pria itu mengamati wajah Stella dengan seksama dan berpikir sebentar. Sepersekian detik kemudian wajah pria itu berubah dan melotot ke arah Stella, “Kau wanita yang tadi mengotori kemeja ku dengan es krim bukan?!”

Sial!

Stella ingat sekarang. Ia bisa melihat tatapan murka yang tergambar jelas di wajah pria ini. Entah apa yang bisa dilakukannya sekarang kecuali meminta maaf, setidaknya mungkin pria ini akan menyuruhnya untuk mencuci kemeja atau kemungkinan selanjutnya adalah mengganti dengan kemeja baru.

“Maafkan aku paman, aku benar-benar tidak sengaja..eh..maksudku aku tidak sadar jika tanganku mengayun begitu saja ke arahmu..” Stella menempelkan kedua telapak tangannya dan memohon ke arah pria itu sambil membungkukkan badan beberapa kali. Ia tidak berani melihat ekspresi orang itu sekarang, sehingga matanya tertutup.

“Benar-benar memuakkan,” Pria itu mendengus dan menyuruh Stella untuk berhenti, “Kenapa kau baru meminta maaf padaku sekarang? Apa karena aku menolongmu jadi kau meminta maaf?”

“Apa?” Stella mendongakkan kepalanya, “Tidak, bukannya begitu paman, hanya saja tadi aku sedang terburu-buru dan aku benar-benar dalam keadaan darurat.”

“Apa maksudmu dengan keadaan darurat?”

“Itu.. security tadi…tunggu,” Stella menatap tepat ke dalam manik mata pria di depannya, “Kenapa paman sangat penasaran? Aku tidak akan menceritakannya pada orang asing seperti paman.” Balas Stella.

Pria itu tertawa acuh tak acuh, “Lupakan saja. Ngomong-ngomong berhentilah memanggilku paman karena aku tidak setua yang kau pikirkan, gadis kecil.” Ia lalu berjalan mendahului gadis aneh itu.

“Paman..eh, maksudku tuan!”

Pria itu menghentikan langkahnya sesaat setelah mendengar teriakkan yang menggema di telinganya, ia berbalik dan mendapati gadis tadi sedang berlari ke arahnya.

“Ada apa?”

“Bolehkah aku berjalan bersamamu?” Ia berhenti sebentar dan menunjuk ke depan, “Disana ada beberapa orang mabuk, maksudku—“

“Kalau begitu cepatlah.” Ujar pria itu kemudian berbalik dan kembali berjalan. Tidak lama kemudian Stella juga menyusulnya dan mengimbangi pria itu.

“Kau mau kemana?” Stella mencoba membuka percakapan.

“Bukankah kita tidak boleh sembarangan berbicara dengan orang asing?” Pria itu tetap menatap ke depan dan menjawab pertanyaan Stella seperti apa yang diucapkan oleh gadis itu tadi.

“Ah..baiklah kalau begitu.”

Ia menyerah dan diam. Sepanjang perjalanan hanya terdengar suara langkah kaki dan semilir angin dingin bulan Desember yang bertiup kencang. Musim dingin, Stella sangat penasaran seperti apa rasanya memegang salju.

Mereka berhenti di depan Grand Hyatt Hotel. Stella membungkukkan badannya dan mengucapkan terima kasih pada pria itu lalu masuk hotel. Bukannya pergi, pria itu malah mengikutinya masuk ke hotel. Apa jangan-jangan?

“Kau? Kenapa kau juga masuk?” Stella menunjuk tepat di wajah pria itu.

Ia mendecakkan lidah, “Kau pikir jika aku masuk ke sini maka apa alasannya?”

Stella menurunkan jarinya, “Kau…menginap disini?”

“Seharusnya tanpa bertanyapun kau juga sudah tahu.” Pria itu masuk ke lift, begitu juga Stella. Mereka sama-sama akan menuju ke lantai 10, dan itu berarti pria ini menginap di salah satu kamar yang tidak jauh dari kamarnya.

Begitu lift terbuka keduanya langsung menghambur ke luar dan menuju ke kamar masing-masing. Sejauh ini kaki mereka masih berjalan ke arah yang sama, sedangkan hanya tinggal 4 kamar lagi yang tersisa, dan jaraknya-pun juga berdekatan. Apakah ini?

Sial. Ternyata pria itu menginap pada kamar nomor 106 sedangkan Stella 105. Ia tidak menyangka bahwa kamar mereka berhadapan, dan ini berarti besar kemungkinan bahwa mereka akan sering bertemu. Kecuali jika besok pria ini sudah kembali ke asalnya.

*****

Massage From : Mama

“Mama nggak bisa pulang sekarang, kamu tahu kan calon papamu itu sibuknya kaya gimana? Dia bahkan kadang-kadang harus bolak-balik Kanada-Korea.”

Stella benar-benar tidak habis pikir kenapa ibunya lebih mengutamakan calon suaminya tersebut dibandingkan dengan anaknya sendiri. Apakah pria itu benar-benar telah membuat ibunya jatuh cinta?

Calon ayah tirinya adalah pria Kanada yang harus pindah ke Korea karena urusan bisnis, sehingga seringkali pria tersebut terbang ke Kanada dan kembali lagi ke Korea hanya dalam 1 hari. Benar-benar orang yang sibuk.

Tapi baiklah, Stella bukanlah gadis manja yang akan menangis seharian karena tinggal di Korea sendirian, lagipula sekarang sudah pukul 9 pagi, ia harus segera mengambil sarapannya dan memenuhi perutnya yang sudah melilit sejak kemarin malam karena batal makan.

Tanpa perduli pada paikannya sekarang, Stella segera menyisir rambutnya dan mengenakan sandal kamar dengan boneka doraemon di atasnya kemudian keluar dar kamar. Tepat ketika ia hendak berbalik setelah menutup pintu, seorang pria hampir saja membuat jantungnya copot karena mereka berbalik bersama-sama.

“Anjir!” Kata-kata itu keluar begitu saja ketika matanya yang belum benar-benar terbuka harus dihadapkan dengan pemandangan mengejutkan dimana ia melihat tetangga depan kamarnya juga sedang berbalik seperti dirinya sekarang.

Wajah Stella memerah, hidungnya kembang-kempis, sedangkan pria itu menatapnya tak mengerti sambil berkacak pinggang.

“Apa yang kau katakan? Bahasa apa tadi?” Pria itu menatapnya tajam.

“A..apa?” Suaranya sedikit bergetar, Stella bingung bagaimana caranya menjelaskan pada pria itu, “Bahasa ibu-ku.. Tidak, maksudku ini bahasa Indonesia, kau mengerti bahasa keren anak Kota bukan? Maksudku—“

Pria itu menggeleng, “Lupakan saja.” Ujarnya lalu berjalan mendahului Stella.

Pria aneh. Bukannya tadi dia sendiri yang ingin tahu apa arti dari kata yang Stella ucapkan? Lalu kenapa sekarang ia malah seolah bersikap masa bodoh seperti itu?

Tidak penting, untuk apa Stella memikirkan hal itu. Sekarang, lebih baik ia segera pergi ke Restaurant dan mengisi penuh perutnya lalu tidur seharian di dalam kamar. Setidaknya itu adalah satu-satunya rencana yang tidak akan mengancam keselamatannya bukan?

Ia mengambil nasi dan lauk-pauk yang sekiranya dikenali. Seperti olahan daging sapi dan sayur-sayuran. Stella memang lancar berbahasa Korea karena sejak kecil kedua orang tuanya sudah mengajarkannya untuk berbicara dalam 3 bahasa. Indonesia-Inggris-Korea. Namun tidak dengan makanan Korea, orang tuanya hampir tidak pernah mengenalkan Stella pada hal tersebut sehingga ia harus mencari di internet tentang beberapa makanan Korea yang mungkin akan ia temui.

Setelah merasa cukup, Stella segera duduk di meja bundar dengan 4 kursi yang melingkar. Sekitar 4 meja dari-nya nampak pria tadi sedang sibuk menelepon dan sesekali memasukkan nasi dalam mulutnya. Apakah ia orang penting? Haha baiklah Stella, berhenti memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak tepat untukmu. Lagipula jika pria itu memang orang penting ataupun tidak bukanlah urusannya bukan?

Akhirnya Stella memilih untuk membuang pikirannya tentang pria itu jauh-jauh dan mulai menikmati makanan, ia tentu tidak ingin membuang waktunya dengan sia-sia.

Tidak perlu waktu lama bagi Stella untuk menghabiskan sepiring penuh makanan dan segelas air putih yang sekarang sudah nampak kosong. Bagaimana lagi, perutnya yang seperti karet itu sudah tidak bisa untuk di ajak kompromi lagi. Andai saja kemarin perutnya sudah diisi, maka hari ini ia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri untuk menghabiskan makanan sebanyak itu.

Stella sadar bahwa mungkin beberapa mata mengharah kepadanya sambil membatin bahwa Stella sedang kelaparan atau apapun itu, namun ia sudah tidak perduli pada hal itu lagi, yang penting perutnya terisi dan ia bisa tidur dengan tenang. Lagipula ia juga tidak merugikan orang-orang itu bukan? Kenapa mereka harus protes jika Stella makan sebanyak ini?

Sudah cukup, perutnya benar-benar kenyang sekarang. Dengan sedikit susah Stella mencoba untuk berdiri dan kembali ke kamarnya, ini bukanlah masalah yang kecil. Perutnya terlalu kenyang dan itu membuat Stella menjadi sulit untuk berjalan. Alih-alih segera sampai di kamar, tangannya malah ditarik oleh seseorang tanpa permisi dan memaksa Stella untuk berlari secepat kilat untuk keluar dari hotel.

Dengan susah payah Stella mencoba untuk melepaskan tangannya dari orang itu, namun bukannya melepas, pria itu malah menggertakkan giginya dan menaikkan Stella dalam gendongannya lalu memasukkan gadis itu ke dalam mobil yang entah akan pergi kemana.

“Ya! Apa maksudmu?!” Stella mencoba untuk membuka pintu mobil, namun nihil, itu terlalu susah baginya.

Pria itu menatap Stella sebentar dan kembali fokus ke jalan, “Tidak ada waktu lagi, aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang pakailah sabuk pengaman karena aku tidak bertanggung jawab jika tubuhmu terbentur salah satu bagian mobil.”

“Kau—Argh!” Stella menyerah, ia segera memasang sabuk pengaman karena pada kenyatannya pria itu dengan—tanpa—menggunakan pikirannya dan keselamatan keduanya—Mengemudikan mobil dengan kecepatan hampir 140 Km/Jam. Apa dia sudah bosan hidup? Tidak-tidak. Stella tentu tidak ingin nyawanya melayang hanya karena kebodohan pria ini, jadi sebaiknya Stella berdoa agar pria ini tidak terlalu gila untuk membuat nyawa mereka melayang sia-sia.

Mereka berhenti di depan Toko yang menjual pakaian kerja kantoran. Sebenarnya apa yang direncanakan oleh pria ini?

Ia keluar dan menarik Stella kemudian mendorong gadis itu untuk masuk ke dalam Toko dan langsung menyuruh pelayan untuk mengambil pakaian terbaik mereka lalu menyuruh Stella untuk segera mengganti pakaiannya.

Setelah itu mereka pergi ke Toko Sepatu yang berada di ujung jalan. Stella mengkerutkan keningnya frustasi, sementara pria berambut pirang di sampingnya kini sibuk mencari sepatu yang cocok untuk Stella.

Hampir 10 menit berlalu, akhirnya ia membulatkan keputusan untuk memilih sepasang high heels bewarna coklat kayu.

“Apa yang ingin kau lakukan?” Stella menatap bingung pria yang kini sedang berjongkok sambil mengganti sandal kamar milik Stella dengan sepatu yang baru saja ia beli.

“Memangnya apalagi? Aku sedang mengganti sepatumu bukan?”

“Maksudku..”

Pria itu berdiri dan menarik lengan Stella seenaknya, “Aku tidak punya waktu lagi, kau harus menggantikan sekretarisku.”

“APA?!!”

*****

“Ku harap dengan pertemuan yang singkat ini kita bisa menjadi rekan bisnis yang baik.” Kris tersenyum simpul sambil memandang setiap wajah yang kini sedang bertepuk tangan karena terpesona pada kharisma Kris selama melakukan presentasi.

Setelah bersalaman dengan rekan kerjanya, Kris menghampiri Stella yang telah menyelamatkan hidupnya hari ini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika gadis itu tidak sedang di Restaurant tadi pagi, mengingat sektretarisnya yang tiba-tiba sakit begitu sampai di Seoul membuat Kris harus mengantarnya ke Rumah Sakit. Itulah sebabnya kenapa kemarin Kris bisa menemukan Stella yang sedang diganggu oleh preman di pinggir jalan.

“Ini untukmu.” Kris memberikan sebuah amplop bewarna putih pada Stella, namun gadis itu hanya memicingkan matanya tanda tak mengerti, “kenapa? Kau tidak mau dibayar?”

“Apa maksudmu dibayar?” Stella berkacak pinggang.

Kris mendesah berat dan mendekatkan kepalanya pada wajah Stella, “Kau sudah menolong hidupku hari ini, setidaknya terimalah uang ini. Meskipun seharusnya aku tidak perlu melakukannya karena  ini bisa dianggap sebagai balas jasa atas aku menyelamatkanmu kemarin malam, tapi baiklah aku bukan tipe orang yang perhitungan.” Ia meraih tangan Stella dan meletakkan amplop tersebut di atas telapak tangan gadis itu.

Stella mengerucutkan bibirnya, namun sepersekian detik kemudian senyumnya muncul, setidaknya uang ini bisa digunakan untuk menanggung beban hidupnya selama ibunya belum kembali ke Seoul bukan?

“Kau mau ikut pulang atau tidak?”

Suara serak pria yang kini sudah tidak asing bagi telinganya tersebut membuat senyum Stella memudar, ia memandang Kris yang kini sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan memegang knop pintu. Buru-buru Stella berlari menyusul Kris sebelum pria itu meninggalkannya sendiri.

Bukannya kembali ke hotel, Kris malah memutar balik mobilnya ke arah lain, hal itu semakin membuat Stella tidak mengerti. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh pria aneh ini? Semoga saja pria ini tidak melakukan hal gila yang bisa membuat nyawa mereka melayang seperti tadi.

Awalnya Stella berniat untuk bertanya kemana mereka akan pergi, namun baru membuka sedikit mulutnya, Stella buru-buru menutupnya lagi karena ia yakin bahwa pria aneh disampingnya ini tidak akan menjawabnya.

Mereka akhirnya berhenti di depan gerbang masuk menuju ke ‘Lotte World’ salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika pergi ke Korea Selatan, namun tentu saja hal itu tidak terpikir sama sekali oleh Stella karena tujuannya kemari hanya untuk bertemu dengan ibunya dan melupakan kejadian beberapa hari lalu.

Mereka keluar dari mobil, Kris yang awalnya mengenakan jas kini telah melepaskan jas tersebut, dan percayalah bahwa Stella bisa saja lupa diri karena tubuh kekar Kris begitu nampak akibat kemeja putih yang ia kenakan.

“Ini adalah bonus bagimu,” Kris mengenakan kacamata hitam, “aku sangat terganggu karena wajahmu selalu menyiratkan aura suram, kau butuh hiburan.”

“Apa?” Stella membulatkan mulutnya. Akhir-akhir ini memang banyak kejadian yang cukup membuatnya depresi, namun apakah aura suram cocok baginya?

Setelah membeli tiket, keduanya langsung masuk ke Lotte World yang begitu megah dan kokoh. Hal ini membuat Stella sadar bahwa  ia sangat bodoh karena tidak pernah berpikir untuk pergi ke tempat ini.

Tidak ada percakapan antara keduanya, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing dan sesekali berhenti di depan wahana permainan. Sungguh, Stella benar-benar ingin menaiki semua wahana tersebut namun apa mau dikata, pakaiannya tidak mendukung, ditambah lagi high heels yang sangat menyusahkan ini.

Mencoba menelan rasa kecewanya dalam-dalam, Stella memilih untuk memaksa kakinya berjalan menjauh, namun baru beberapa langkah tiba-tiba hak sepatunya patah karena kakinya oleng, ia hampir saja terjatuh, namun hal memalukan itu tidak sempat terjadi karena Kris telah lebih dulu menumpu badannya menggunakan kedua lengannya.

Kejadian itu membuat pikiran Stella terfokus pada Kris, mendapati tubuh mereka yang berjarak sangat dekat dan mata mereka saling berpandangan menimbulkan rasa nyaman bagi Stella. Sejenak ingatan buruk tentang kejadian beberapa hari lalu menghilang begitu saja dari otak Stella. Apakah mata pria memiliki sihir?

Entah berapa lama mereka mereka seperti itu, namun yang pasti sekarang keduanya sudah sadar dan segera berdiri tegak karena merasa menjadi pusat perhatian. Kris langsung menggenggam tangan Stella dan membawanya ke suatu tempat.

Ternyata Kris membawa Stella ke barisan toko souvernir dan mencari kaos serta celana yang sekiranya bisa mereka kenakan. Keduanya sama-sama memakai kaos bertuliskan ‘I Love Lotte World’ bewarna putih dan celana jeans biru serta sandal karet bewarna biru muda. Sekarang, siapapun yang melihat mereka pasti mengira bahwa Kris dan Stella adalah pasangan anak muda yang sedang dimabuk cinta.

“Gomawo..” Stella tersenyum simpul dan mengucapkan kata itu dengan begitu manis, sementara Kris menanggapinya dengan mengangguk.

“Jadi, apa kau mau bermain?”

“Apa?”

Kris memutar bola matanya, “Bermain? Kau mengerti maksudku kan?”

Stella terdiam sebentar untuk membiarkan otaknya berpikir, dan ya, ia baru sadar bahwa maksud dari perkataan Kris adalah menaiki wahana yang ada di Lotte World ini. Raut antusias muncul begitu saja dari wajah Stella, tanpa perlu menjawab pertanyaan Kris, ia langsung mengajak Kris untuk berlari ke arah roller coaster. Untung saja hari ini tidak begitu ramai sehingga mereka tidak perlu mengantri terlalu lama.

Tidak ada lagi kata yang bisa menggambarkan perasaan Stella saat ini selain ‘bahagia’. Pria yang bertemu pertama kali dengannya saat di Bandara kemarin dengan keadaan sangat tidak tepat itu kini menjadi satu-satunya orang yang berhasil membuat ingatan suramnya menghilang walaupun hanya sebentar. Setidaknya untuk beberapa waktu Stella tidak harus mengingat orang itu.

Mereka tidak hanya mencoba satu wahana permainan, namun belasan dan hampir puluhan. Stella bersyukur karena pria yang bersamanya saat ini tidak mengeluh sama sekali, hanya saja sepertinya pria itu sedikit kelelahan dan mengajak Stella untuk beristirahat.

Sementara Kris sedang mengatur napasnya, Stella beranjak untuk membeli sesuatu. Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa dua buah es krim rasa vanilla dan coklat.

“Ini untukmu,” Stella menyodorkan es krim coklat pada Kris lalu memakan es krimnya sendiri, “tempat ini benar-benar luar biasa!” Sambungnya takjub.

Kris menerima es krim dari Stella dan ganti memakannya, “Kau suka?”

Mendengar pertanyaan Kris, Stella menengok dan menggeleng kecil, “Kau gila? Aku sangat-sangat menyukainya!”

“Kalau begitu aku akan mengajakmu ke tempat yang lain nanti.” Gumam Kris. Ia meluruskan kedua kakinya dan kembali berbicara, “Ngomong-ngomong siapa namamu?”

“Eh? Aku Stella Choi, kau?”

“Orang-orang memanggilku Kris.”

“Memanggil? Lalu namamu?”

Kris hanya tertawa dan menaikkan kedua pundaknya, tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Stella, “Liburan?”

Stella mengerti maksud pertanyaan Kris yang berusaha mengalihkan pembicaraan mereka, “Tidak, bertemu dengan seseorang.”

“Kekasihmu?” Kris memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Stella secara lebih detil.

Stella menggeleng, “Ibuku, dia akan menikah dengan penduduk Korea.”

“Penduduk?”

“Hmm, calon suami ibuku berkebangsaan Kanada, tapi karena urusan pekerjaan akhirnya ia menetap di Korea, meskipun kadang kala ia harus kembali ke Kanada.”

“Dan kau tidak menyukainya?”

“Hah?” Stella tertawa hambar, “Bukan begitu, aku bahkan belum bertemu dengan calon ayahku, hanya saja memikirkan untuk memiliki orang tua baru membuatku merasa sedikit..ya…takut. Awalnya aku tidak berniat untuk datang ke Seoul.”

“Aku mengerti,” Kris menimpali, “Jadi?”

“Jadi apa?”

“Apa yang membuatmu berubah pikiran?”

Tidak. Lagi-lagi Stella teringat pada hal itu lagi. Pertanyaan Kris barusan membuat ekspresinya berubah drastis.

“Aku tidak memaksamu, Stella.” Melihat Stella yang berubah murung menimbulkan munculnya rasa bersalah dalam diri Kris.

Tapi baiklah, tidak ada salahnyakan jika Stella menceritakan hal itu pada Kris?

“Aku…mencoba melupakan seseorang yang memang harus segera ku lupakan.” Stella menundukkan kepalanya sehingga rambut panjangnya jatuh tergerai begitu saja menutupi sebelah wajahnya.

Kris yang tiba-tiba menarik rambut tersebut ke belakang telinga membuat Stella sedikit terkejut. Ia tidak tahu kenapa, tapi perlakuan dari pria ini benar-benar membuatnya kehilangan kontrol.

“Kau tidak harus melupakannya, hanya berilah dia ruang di hatimu beserta maaf yang tulus, itu akan lebih baik.”

Stella tersenyum mendengar ucapan Kris. Ternyata pria ini jauh berbeda dari perkiraannya. Hanya dengan mendengar ucapan dan perlakuannya hari ini saja sudah membuat Stella menyimpulkan bahwa Kris adalah tipe orang berperasaan hangat dan penyayang walaupun itu tidak tergambar sama sekali di wajahnya.

“Baiklah, sekarang giliranmu?” Stella menunjuk Kris menggunakan jari telunjuknya.

“Giliranku?”

“Tentu saja, jadi apa alasanmu datang ke Seoul?”

Lagi-lagi Kris menaikkan pundaknya, “Bekerja, kau bahkan sudah tahu asalanku bukan?”

Namun Stella menolak, ia yakin masih ada alasan lain dibalik bekerja, “Yang lain?”

“Kau benar-benar,” Kris menghentikan kalimatnya dan mengacak-acak rambut Stella sambil tertawa kecil. Gadis berwajah manis di depannya ini berhasil membuat Kris melakukan hal yang hanya ia lakukan pada mantan istri dan anaknya, yaitu mengacak-acak rambut orang tersebut dengan lembut. Apakah itu berarti bahwa gadis ini begitu menarik baginya? Entahlah, Kris sendiri tidak tahu kenapa melakukan hal itu.

“Aku..memiliki seorang bidadari kecil berusia 4 tahun yang sangat menyukai bintang, sehingga aku harus bekerja keras untuk membawakannya bintang setiap hari,” Kris melihat jam tangannya sebentar dan kembali melanjutkan ceritanya, “Sebelum istriku meninggal, ia membuat surat yang mengatakan bahwa jika putri kami merindukannya maka ia cukup melihat bintang, maka dari itu So Ra sangat menyukai bintang.”

“Maaf.. aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih..”

Kris menggeleng, “Tak apa, lagipula sudah 4 tahun berlalu semenjak kepergian istriku bukan? Lagipula tidak baik terlalu lama larut dalam kesedihan, dan yang terpenting istriku telah memberikan So Ra sebagai penggantinya untuk selalu menemani hari-hariku, karena itu pula aku memberikan nama pada putriku sama seperti ibunya. So Ra. Aku berniat untuk mengunjungi makam istriku, kau mau ikut?”

“Eh, apa? Tidak.. aku tidak ingin mengganggumu untuk hal ini.” Tolak Stella. Ia sadar betul bahwa Kris membutuhkan waktu sendiri untuk mengunjungi istrinya dalam peristirahatan abadi.

“Ngomong-ngomong,” Stella kembali membuka percakapan, “di usiamu yang masih 26 tahun dan menjadi single parent, kau benar-benar hebat, Kris.”

“Ahh.. Aku tahu itu,” Kris membuka lengan kanan dan kirinya, “Kau orang kesekian dan sekian kalinya yang mengatakan itu padaku, tapi kau tahu darimana kalau usiaku 26 tahun?”

“Apa? Eh, aku tadi tidak sengaja membaca profilmu di berkas, maafkan aku.”

“Tidak masalah, kenapa kau harus meminta maaf?”

“Aku merasa tidak sopan..”

Kris tersenyum, “Aku tahu kau gadis yang baik, Stella. Lalu, berapa usiamu? Tunggu, biar ku tebak dulu, mungkinkah 18 tahun? 20 tahun?”

Stella tertawa renyah dan memukul pelan lengan Kris, “Kau mengejekku ya? Usiaku sudah lebih tua dari itu.” Gumamnya lalu kembali tertawa, “24 tahun Kris, sudah 24.”

“Benarkah?” Kris menyilangkan lengannya, “Kau benar-benar beruntung memiliki wajah yang terlihat muda Stell.”

“Apa? Jadi maksudmu aku sudah tua?”

“Bukan begitu, tapi..”

“Tapi apa?”

“Emmm, ntahlah.” Kris mencoreng wajah Stella dengan es krimnya dan kemudian berlari mendahului gadis itu.

“Ya! Tunggu aku!” Teriak Stella sambil membersihkan wajahnya dari es krim lalu berlari mengejar Kris yang mengejeknya sambil menjulurkan lidah.

Kedua orang ini, apakah mereka sudah lupa pada usianya?

*****

I never thought that you would be the one to hold my heart

But you came around

And you knocked me off the ground from the start

 

You put your arms around me

And I believe that it’s easier for you to let me go

You put your arms around me and I’m home

Lirik lagu Christina Perri-Arms

Ting

Bel pintu kamar Stella berbunyi, gadis bercelemek pink yang tadinya sedang mendengarkan lagu sambil menata makanan itu segera berlari dan membukakan pintu. Nampak Kris mengumbar senyum cerahnya begitu melihat Stella.

Rencananya hari ini Kris dan Stella akan mengunjungi Sekretaris Yin yang sedang dirawat di Rumah Sakit, oleh karena itu Stella memutuskan untuk membuat bubur yang sekiranya bisa dimakan oleh Sekretaris Yin.

“Kau sedang sibuk?” Begitu masuk ke dalam kamar Stella, Kris langsung berkomentar, ia melihat beberapa peralatan dapur yang tergeletak di atas meja.

“Tidak, aku baru saja selesai membuat bubur, aku akan ganti baju, duduklah dulu.” Stella melepaskan celemeknya dan berjalan ke arah kamar mandi, namun tepat sebelum pintu kamar mandi benar-benar ditutup olehnya, Stella menoleh ke arah Kris dan kembali berbicara, “Aku tidak butuh waktu berjam-jam untuk berdandan, percayalah.” Gumamnya dan sedetik kemudian menutup pintu kamar mandi rapat-rapat.

Ternyata benar, Stella tidak membutuhkan waktu lama untuk berdandan.Kemeja biru, celana jeans biru, sepatu putih dengan corak bewarna biru, juga rambut dikuncir kuda sudah membuat Stella nampak cantik.

Perjalanan ke Rumah Sakit membutuhkan waktu sekitar 10 menit menggunakan kendaraan bermotor. Begitu masuk ke kamar nomor 40, wajah pucat seorang pria yang diperkirakan berusia 35 tahunan menyambut dengan seuntai senyum manis yang mengembang begitu saja.

“Bagaimana keadaanmu?” Kris menempelkan telapak tangannya pada kening pria yang sedang terbaring di ranjang.

“Kau tidak perlu memegangku seperti itu Kris, nanti nona ini berpikir yang tidak-tidak.” Gumam Sekretaris Yin lalu tertawa, “Tidak-tidak, aku sudah lebih baik. Mungkin besok sudah bisa pulang.” Lanjutnya.

Mendengar selera humor Sekretaris Yin yang sudah mulai kembali, Kris menjadi yakin bahwa pria ini memang sudah lebih baik. Mengingat Stella yang kini berdiri di sampingnya, Kris menarik tangan gadis tersebut dan mengenalkannya pada Sekretaris Yin.

“Ini Stella, dia gadis yang sempat menggantikanmu kemarin.”

Sekretaris Yin mengacungkan jempolnya ke arah Stella, “Kau adalah penyelamat kami nona.” Ujarnya riang.

Stella bingung harus menjawab apa, ia memilih untuk mengangguk dan sedikit salah tingkah akibat disebut sebagai penyelamat. Bagaimanapun sebenarnya sang penyelamat sebenarnya adalah Kris, karena pria itu datang disaat nyawanya hampir saja melayang.

“Oh ya, perkenalkan aku Yin Chao Xing.”

Stella membungkukkan badannya sembilan puluh derajat, “Aku Stella Choi, senang bertemu denganmu.” Balasnya ramah.

“Nama yang bagus, Stella Choi…Ku pikir orang tuamu pasti sangat senang ketika kau terlahir hingga ia memberimu nama Bintang.” Sekretaris Yin memandang Stella sambil menebak-nebak.

“Bintang?” Kris yang semula terdiam kini mulai angkat bicara.

“Ah..” Sekretaris Yin mengkerutkan keningnya, “Kau tidak tahu bahwa Stella itu berarti bintang?”

Sementara Kris yang masih berusaha mencerna perkataan Sekretaris Yin, Stella hanya meringis. Memang benar perkataan Sekretaris Yin, arti namanya adalah bintang. Orang tuanya sengaja memberi nama itu karena dahulu Stella lahir tepat ketika bintang pertama di langit malam muncul.

Tring…

Ponsel Stella tiba-tiba berbunyi, ia buru-buru merogoh sakunya dan meminta izin pada Kris dan Sekretaris Yin untuk keluar sebentar. Nama ibunya tertulis pada layar handphone, apa dia sudah kembali ke Seoul?

“Hallo.”

“Kamu dimana? Mama udah mau nyampe Seoul.”

“Aku lagi di Rumah Sakit.”

“Rumah Sakit? Kamu sakit?”

“Enggak ma, udah dulu ya nanti kalo mama udah sampe di hotel telepon aku lagi aja, soalnya nggak enak nih lama-lama di luar.”

“Ah, yaudah, palingan 2 jam lagi mama nyampe.”

“Mama please, itu masih lama.” Stella memasang raut wajah datar yang tidak akan dilihat oleh ibunya.

“Hehe, yaudah nanti mama hubungi lagi ya, see you.”

Begitu sang ibu memutus panggilan, Stella segera menyimpan ponselnya dan hendak kembali ke kamar rawat Sekretaris Yin. Namun baru saja membalik badan, Stella telah dikejutkan oleh Kris yang sudah berdiri dengan jaram 2 meter darinya.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Mengagetkan saja.” Protes Stella kesal.

Kris menggaruk kepalanya sambil meringis, “Maafkan aku, siapa tadi? Kau berbicara dalam Bahasa Indonesia?”

Mendapati Kris yang penasaran semakin membuat Stella merasa nyaman. Entah kenapa setiap perhatian yang ditunjukkan oleh Kris terasa hangat bagi Stella. Mungkinkah ia merindukan sosok pria dalam hidupnya? Ayolah, ia baru saja berpisah dengan kekasihnya dua minggu lalu, lagipula Kris juga telah memiliki anak, Stella bukanlah tipe wanita dengan sifat keibuan yang cocok untuk menjadi orang tua dari anak berusia 4 tahun.

“Begitulah.” Jawab Stella singkat.

“Ingin kembali?”

“Hmm?”

Kris mendekati Stella, “Aku sudah pamit pada Sekretaris Yin, jika kau ingin pulang sekarang, aku akan mengantarmu.” Jelas Kris.

“Ah,” Aku Stella, “Sebenarnya aku masih memiliki waktu sekitar dua jam sebelum ibuku sampai.”

“Mau ikut denganku?”

“Kemana?”

“Taman Kota.”

*****

Udara musim dingin rupanya benar-benar membuat Stella menggigil. Seharusnya tadi ia memakai jaket tebal dan sarung tangan, sekali lagi ia mengingat bahwa penyesalan memang datang terakhir.

Peka pada gerak-gerik Stella yang menggigil, Kris segera melepas jaket kulitnya dan memakaikannya pada Stella. Awalnya Stella sempat menolak, namun akhirnya ia menurut juga setelah tiba-tiba bersin.

“Kenapa kau memakai pakaian seperti ini?” Kris menyilangkan lengannya.

“Maafkan aku..”

Kris menoleh dan menatap Stella dengan seksama, “Kenapa kau selalu meminta maaf? Itu akan membuatmu nampak menyedihkan.”

“Entahlah, aku hanya berpikir bahwa dengan meminta maaf akan meringankan suatu masalah..”

Mendengar jawaban tidak masuk akal yang baru saja keluar dari mulut Stella membuatnya semakin tidak mengerti. Matanya yang tidak sengaja melihat mesin kopi tidak jauh dari tempat mereka duduk sekarang membuat Kris memiliki ide, setidaknya kopi bisa membuat keduanya lebih hangat bukan?

Sekitar 3 menit berlalu, Kris kembali sambil membawa dua cup kopi panas yang tercium menggiurkan. Ia duduk di samping Stella dan meminum kopinya terlebih dahulu dan menaruh sisanya, sedangkan kopi di tangan kirinya masih ia pegang dengan erat.

“Menurutmu, apa ada yang salah dari orang sepertiku?” Kris memberikan sebuah pertanyaan yang membuat Stella harus memutar otaknya dengan lebih keras.

“Maksudmu?”

“Apa salah jika aku menjadi orang tua di usiaku sekarang?”

Stella menggigit lembut bibir bawahnya, ia tahu bahwa dibalik sikap hangat Kris tersimpan rasa lelah yang begitu dalam karena ia harus menjadi single parent di usia yang bisa dibilang masih sangat muda.

“Tidak Kris, kau tidak salah, putrimu, istrimu, mereka juga tidak salah Kris. Kau adalah orang yang hebat, aku bahkan merasa bangga padamu walaupun kita belum lama bertemu.”

Kris menarik kedua ujung bibirnya dan tersenyum kecil, ia memandang Stella sebentar dan menyodorkan kopi yang semula ia genggam di tangan kirinya, “Jika kau meminum habis kopi ini, maka kita pacaran. Jika kau hanya meminumnya setengah, maka kau menolakku. Dan jika kau hanya meminumnya sedikit, maka kau sama sekali tidak tertarik padaku.”

Apa katanya barusan?

Stella membulatkan matanya, ia tidak menyangka bahwa Kris akan berkata seperti itu. Mengingat betapa singkatnya pertemuan mereka yang bahkan bisa dihitung dengan jari, dan kini pria itu bertanya apakah Stella mau menjadi kekasihnya?

Tangannya kaku, ia berusaha mengambil kopi dari tangan Kris dan mendekatkan kopi tersebut pada mulutnya, matanya tetap fokus pada wajah Kris yang terlihat menunduk, dengan satu keyakinan Stella mulai meminum kopi tersebut. Kini matanya menutup, ia tidak perduli dengan panas yang membuat lidahnya terasa ngilu, ia sudah yakin untuk melakukan ini.

Dalam sekali teguk Stella berhasil menghabiskan satu cup kopi dan memberikan gelas kosong tersebut tepat di depan mata Kris.

Kris yang tidak menyangka bahwa Stella akan menerimanya langsung menarik gadis itu dalam pelukkannya. Cinta tidak memerlukan banyak waktu, cinta tidak mengenal status. Selama perasaan itu muncul tanpa alasan, maka tidak ada salahnya untuk mengatakannya.

Tring…

Bunyi ponsel Stella kembali berdering, Kris yang semula memeluk erat gadis itu kini mulai melepaskan kedua lengannya dan membiarkan Stella untuk mengambil ponselnya.

“Kenapa?” Tanya Kris.

Stella bangkit dari duduknya dan menarik lengan Kris, “Ibuku sudah sampai, kita harus cepat.” Jawabnya tergesa-gesa.

Menghabiskan waktu bersama Kris membuat Stella lupa diri. Satu hari bersama pria itu terasa seperti satu jam. Walaupun terdengar aneh, tapi inilah kenyataannya. Dan Stella tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan paling indah dalam hidupnya ini.

To Be Continued

Iklan

4 pemikiran pada “[BTD-Kris Version] –STARELLA [1/2]

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s