When Chanyeol Become A Babysitter


when chanyeol

 

 

 

Title : When Chanyeol Become A Babysitter

Author : Heena Park

Lenght : Oneshoot

Ratting: G

Genre : Comedy, AU, Family

Main Cast :

-Park Chan Yeol

-Park Yoo Ra

-Kwon Ji Hyun

-Park Lee Ae

Author’s Note :

Kya~ FF ini aku bikin special buat Ultah Chanyeol. Bikinnya cuma sehari, jadi kalo ceritanya agak ngawur dan aneh mohon di maafkan yak

~OoO~

 

 

From : Kwon Ji Hyun

“Aku tidak bisa Park Chan Yeol, aku harus belajar untuk Ujian! Kau tahu kan aku sudah kelas 12

-_- “

 

Chan Yeol menggerutu. Kenapa di saat seperti ini gadis itu malah sibuk pada urusannya sendiri? Sebenarnya itu bukanlah hal yang salah karena jika diingat-ingat memang Ji Hyun akan segera menghadapi ujian, dan sebagai kekasih yang baik maka Chan Yeol tidak bisa mempengaruhinya untuk meninggalkan belajar dan memilih untuk menemaninya seharian ini.

 

To : Kwon Ji Hyun

“Ah.. Ayolah, hanya dua jam saja.. pleaseeeee.”

 

Baiklah. Chan Yeol menyerah. Ia sedang berusaha untuk mempengaruhi Ji Hyun agar gadis itu mau menutup buku tebalnya dan menerima ajakan Chan Yeol.

 

From : Kwon Ji Hyun

“Tidak Park Chan Yeol. Sudah sana pergilah, kau membuatku menjadi tidak konsen saja-_-“

 

Menyebalkan sekali wanita itu. Chan Yeol melempar ponselnya ke kasur dan menghempaskan tubuhnya dengan keras kemudian mendengus. Moodnya buruk dan mungkin harinya akan menjadi sangat buruk.

“Ya! Park Chan Yeol, apa yang kau lakukan? Cepat bangun dan bantu nuna!”

Chan Yeol mencoba menutup telinga lebarnya dengan kedua telapak tangannya. Teriakkan Park Yoo Ra cukup membuat telinganya mendengung hebat. Kenapa semua wanita harus seberisik ini sih?

“Park Chan Yeol!”

Yoo Ra memukul badan belakang Chan Yeol dengan bantal. Kebiasaan buruk Chan Yeol membuatnya menjadi sedikit frustasi. Pria ini selalu saja malas-malasan jika sedang liburan. Ia bahkan hanya keluar dari kamar jika kelaparan dan hendak kencan dengan Kwon Ji Hyun.

“Ah, aku sedang sibuk nuna.” Jawab Chan Yeol malas

“Sibuk apanya? Kau mau cepat bangun atau ku siram dengan air dingin hah?”

Chan Yeol menyerah. Ia mengangkat tubuhnya dan duduk di pinggir kasur, “Baiklah-baiklah.” Mulutnya cemberut, ia terlihat seperti anak SD sekarang, “Jadi apa yang harus ku lakukan?”

Berhasil membuat Chan Yeol menurut dengan kemauannya sudah cukup membuat hati Yoo Ra senang hari ini. Ia menarik lengan Chan Yeol dan membawa pria itu ke dalam kamarnya, “Nuna akan pergi berbelanja dengan mama, jadi kau harus menjaga Lee Ae sampai kami kembali.” Ujar Yoo Ra bahagia. Ia tahu pasti bahwa Chan Yeol tidak suka berurusan dengan bayi, terlebih lagi Lee Ae sangat sensitif dan suka menjambak rambut orang. Chan Yeol benci jika rambutnya disentuh. Ini adalah neraka.

“Apa? Ah tidak mau, aku tidak mau melakukannya!” Chan Yeol membelakangi Yoo Ra

“Hei, kau ini kan calon ayah. Bagaimana mungkin nanti kau bisa mengurus anakmu jika tidak latihan sejak sekarang?”

“Mencari babysitter kan bisa.”

“Jadi dia anakmu atau anak si babysitter?”

“Nuna—“

“Sudah, nuna tidak mau tahu. Aku dan mama akan berangkat sepuluh menit lagi. Ah iya, kau bisa membuat susu kan? Dan jangan lupa untuk menyuapi Lee Ae dua jam lagi.” Yoo Ra tersenyum puas. Ia mengambil tas lengan bewarna coklat yang telah disiapkannya. Cocok sekali dengan pakaian yang ia pakai sekarang.

 

 

~OoO~

 

Chan Yeol duduk bersila sambil menyilangkan kedua tangannya. Matanya mengawasi Park Lee Ae yang sedang terbengong melihat banyak mainan di sekitarnya. Matanya yang bulat serta pipinya yang berisi membuat siapapun menjadi gemas pada anak itu. Namun tidak untuk Chan Yeol, ia tidak suka anak kecil.

“Ya, kenapa kau tidak bermain?” Chan Yeol menggerutu. Tiba-tiba Lee Ae menangis karena mendengar gerutuan Chan Yeol. Oh God, kenapa anak kecil sangat menyusahkan sekali?

“Ya, ya kenapa kau malah menangis?” Chan Yeol menggaruk kepalanya frustasi. Ia menghampiri Lee Ae dan membaringkan anak itu kemudian tersadar bahwa Lee Ae mengompol.

Oh Shitt! Park Yoo Ra tidak memakaikan popok pada anaknya.

“Ah, kenapa kau harus mengompol sih?” Ia berdiri dan mencari-cari dimana popok itu disimpan oleh kakaknya. Demi apapun, Chan Yeol ingin mengutuk dirinya sendiri karena telah membuat pilihan yang salah. Seharusnya tadi pagi-pagi sekali ia sudah pergi ke rumah Baek Hyun dan terbebas dari tugas menyebalkan ini.

Begitu mengambil sebuah popok, ia buru-buru membersihkan badan Lee Ae dari ompolnya sambil menggunakan penjepit baju untuk menutup hidungnya agar terhindar dari bau tidak enak itu.

Huekk, ku harap anakku nanti tidak akan pernah mengompol!” Chan Yeol berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak muntah. Setelah berhasil memakaikan popok pada Lee Ae, ia membersihkan lantai agar cairan  itu tidak menghalangi jalan dan membuat seseorang terpeleset.

Tringgg~

Ponselnya berbunyi, Chan Yeol segera merogoh saku celananya dan melihat siapa yang memanggil. Ternyata Park Yoo Ra. Apakah wanita itu akan tertawa puas sekarang? Menyebalkan sekali.

“Ada apa?” Chan Yeol menjawabnya dengan malas

“Kenapa sensi sekali sih,” Yoo Ra menghentikan ucapannya sebentar, “kau mau titip sesuatu atau tidak?” Lanjutnya.

“Apa? Tidak aku tidak mau. Aku hanya ingin kau segera pulang dan mengurus anakmu. Aku bisa gila jika terus menghadapinya!”

“Hah? Berlebihan sekali sih. Aku masih lama, kau baik-baiklah dengan dia atau aku akan memutus lehermu jika terjadi apa-apa dengan Lee Ae. Ingat itu.”

“Apa? Aku tidak ak— Oh shitt. Kenapa wanita selalu bersikap seenaknya sendiri?”

Chan Yeol memasukkan ponselnya kembali ke saku begitu tiba-tiba Yoo Ra memutus panggilannya. Sudah jam 12, itu berarti ia harus menyuapi Lee Ae seperti yang dibilang oleh Yoo Ra. Ngomong-ngomong soal menyuapi. Bukankah harus ada makanan jika ingin menyuapi seseorang? Sedangkan Chan Yeol sama sekali tidak bisa memasak walaupun itu hanya sebatas bubur bayi. Ia tidak tahu harus memberi air panas seberapa banyak dan harus seperti apa tekstur bubur tersebut. Ini benar-benar hari yang buruk.

Ia mencoba membuat bubur bayi sebisanya, bubur bubuk dan air panas yang kebanyakan sehingga membuatnya nampak seperti air. Chan Yeol tidak yakin bahwa Lee Ae akan senang dengan bubur buatannya. Ia akhirnya menambahkan sedikit bubuk bubur ke dalamnya hingga lebih kental dan berisi.

Matanya menerawang setiap sudut dapur dan terkejut. Ia benar-benar perusak yang handal. Ia berhasil membuat dapur seperti kapal pecah hanya karena membuat bubur untuk seorang bayi yang masih berusia 8 bulan.

“Baiklah, sekarang waktunya untuk makan anak kecil.” Chan Yeol menyunggingkan senyum lebar layaknya orang idiot. Ia berniat untuk menggendong Park Lee Ae, namun sepertinya anak itu tidak menyukai lengan Chan Yeol. Ia menangis dengan kencang dan membuat Chan Yeol bingung.

“Ssst diamlah bayi kecil..” Chan Yeol membuka dan menutup wajahnya dengan satu telapak tangan sambil menggendong Lee Ae di dadanya. Tapi ia tidak berhenti menangis. Ah, apa yang harus Chan Yeol lakukan?

“Ayolah, menurut kepada paman.” Ia masih berusaha. Chan Yeol menggendong Lee Ae dengan lengannya dan mengangkatnya di atas kepala seolah ia sedang terbang, dan benar! Lee Ae tertawa, ternyata anak kecil menyukai tempat yang sedikit tinggi—Seperti itulah.

Sekiranya Lee Ae sudah mulai tenang, Chan Yeol mulai menyuapinya dengan bubur yang entah seperti apa rasanya. Namun Lee Ae tidak protes. Anak itu terlihat menyukai bubur buatan Chan Yeol. Tidak, sebenarnya tentang Lee Ae tidak protes itu adalah salah satu hal bodoh yang terpikir oleh Chan Yeol. Lagipula Lee Ae masih kecil, bagaimana mungkin ia bisa protes pada pamannya akibat bubur yang  tidak jelas rasanya itu?

“Ah, anak pintar, karena kau sudah menghabiskan bubur buatan paman, maka paman akan mengajakmu jalan-jalan. Kau senang kan?” Tanya Chan Yeol.

Lee Ae membalas ucapan Chan Yeol dengan sebuah tawa kecil. Apakah anak itu mengerti apa yang di ucapkan oleh Chan Yeol? Wah, hebat sekali.

“Kalau begitu paman akan mengambil gendongan bayi dulu, kau duduklah yang tenang. Okay?”

Chan Yeol mengerjapkan sebelah matanya dan kemudian menghambur ke dalam kamar Park Yoora untuk mencari dimana gendongan bayi yang biasa digunakan oleh kakaknya itu berada. Tidak perlu waktu lama, Chan Yeol telah menemukan gendongan tersebut tepat di atas lemari dan segera menghampiri Lee Ae.

Ia menggendong Lee Ae di punggung, tidak lupa memakaikan jaket dan topi agar anak itu tidak kedinginan.

“Jadi, kau sudah siapkan?” Tanya Chan Yeol lagi meskipun ia tahu bahwa pertanyaannya tidak akan mendapatkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ dari Park Lee Ae.

Chan Yeol menggendong Lee Ae layaknya seorang ayah. Ia membawa Lee Ae ke beberapa tempat menggunakan bus seperti Kebun Binatang dan Taman Bermain. Siapapun yang melihat mereka pasti berpikir bahwa Chan Yeol adalah seorang ayah yang sangat baik karena mau menggendong dan mengajak anaknya berjalan-jalan.

Di sepanjang jalan bahkan beberapa kali mereka menjadi pusat perhatian. Para ibu-ibu yang gemas melihat tingkah laku keduanya tidak tahan untuk mencubit dan bahkan mencium pipi Lee Ae. Bahkan sempat terlontar beberapa kalimat pujian seperti, “Aku berharap nantinya suami anakku akan sebaik dirimu.” , “Istrimu pasti sangat bahagia karena punya suami sepertimu.” , “Ya Tuhan, aku tidak menyangka masih ada seorang pria yang mau melakukan hal ini bersama anaknya!”

Chan Yeol hanya tersenyum dan berterima kasih atas segala pujian yang ia terima hari ini. Andai saja orang-orang itu tahu bahwa Chan Yeol bukanlah ayahnya. Namun sepertinya dianggap menjadi ayah yang baik untuk keponakkannya bukanlah hal yang buruk.

Setelah lelah, akhirnya Chan Yeol mengajak Lee Ae untuk pulang. Mereka menghabiskan waktu sekitar 4 jam hanya untuk berjalan-jalan. Sesampainya dirumah ia harus segera memandikan Lee Ae dan kembali memberi makan keponakkannya tersebut.

 

~OoO~

 

Chan Yeol tidur dengan Lee Ae yang berada di atas dadanya. Ia bisa mendengar napas lega dan panjang Lee Ae yang sangat menikmati tidurnya. Hari ini ia benar-benar merasa seperti seorang ayah. Ia tidak tahu bahwa menjadi ayah akan sangat menyenangkan seperti ini. Walaupun sebenarnya ia hanyalah sedang mengasuh anak kakaknya, tapi ia tidak apa, ia menyukai itu.

Dokk

Dokk

Matanya mengerjap, siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini? Ah tidak, sebenarnya ini masih pukul 7, Chan Yeol saja yang terlalu berlebihan.

“Ah, tunggu sebentar!” Chan Yeol menguap, sedetik kemudian ia telah berdiri dan menuju pintu untuk melihat siapa yang mengganggu tidurnya.

Klekk

“Happy Birthday Chan Yeol~ Happy Birthday Chan Yeol!”

“Ya, idiot Happy Birthday!”

Chan Yeol memutar bola matanya dan hampir saja terkesiap karena mendapati ibu, kakak, serta kekasihnya sudah berada di luar rumah sambil membawa kue ulang tahun berlapis coklat putih dengan lilin membentuk angka 22 [umur korea] .

“Hai tukang tidur, ingat umurmu sekarang, jangan malas-malasan lagi.” Ji Hyun mengedipkan sebelah matanya kepada Chan Yeol.

“Benar,” Park Seun Yo memukul kecil lengan Chan Yeol, “Eomma akan memukulmu lebih keras lagi jika kau masih saja menjadi tukang tidur.”

Chan Yeol tertawa, “Ya, soal itu aku tidak bisa menjajikannya.” Jawabnya kemudian tertawa lebih keras lagi.

“Berhentilah tertawa dasar bodoh, sekarang tiuplah lilinmu dan jangan lupa make a wish.” Yoo Ra maju satu langkah.

“Aku benar-benar tidak tahu harus meminta apa,” Chan Yeol meletakkan jari telunjuknya di dagu dan menyunggingkan senyum di satu ujung bibirnya lalu menutup mata dan tidak lama kemudian meniup lilinnya.

“Yee!” Mereka semua bertepuk tangan bersama.

“Ngomong-ngomong apa permintaanmu tadi?” Park Yoo Ra menyipitkan matanya.

Chan Yeol mengibas-kibaskan telapak tangannya, “Hanya aku dan Tuhan yang tahu, nuna.” Jawabnya singkat dan terkesan cengegesan.

“Hah, anak ini,” Yoo Ra memajukan bibirnya, “Eh, ngomong-ngomong dimana Lee Ae?”

“Dia ada di kamar, sedang tidur. Aku akan membunuhmu jika ia sampai terbangun!” Ancam Chan Yeol yang membuat Yoo Ra sedikit menjauhkan kepalanya.

“Ya! Kenapa jadi kau yang protektif padanya, aneh sekali.” Yoo Ra mengibaskan rambutnya ke wajah Chan Yeol dan memberikan seloyang kue tart yang tadi dibawanya kepada pria itu lalu pergi ke kamar untuk melihat anaknya yang kemudian di susul oleh Park Seun Yoo—Ibunya.

Kini hanya tinggal Chan Yeol dan Ji Hyun yang berada di luar rumah. Mereka saling berpandangan dan tertawa kecil seperti ABG yang baru saja berpacaran. Lucu sekali.

“Eh..” Ji Hyun memegang lengan Chan Yeol, “Kau benar-benar tidak ingin memberitahu padaku apa permintaanmu tadi?” Tanya Ji Hyun penasaran.

Chan Yeol mengangkat kedua bahunya, “Kau ingin tahu?”

“Hmm..”

Chan Yeol menunduk dan menghela napas panjang, “Aku… Aku meminta kepada Tuhan agar menjadikanku sebagai ayah yang baik kelak. Mungkin ini permintaan yang aneh tapi—“

Ji Hyun menutup mulut Chan Yeol dengan jari telunjuknya, “Kau tahu? Itu permintaan terindah yang pernah ku dengar, Park Chan Yeol.” Ungkapnya dan sedetik kemudian telah menarik Chan Yeol dalam pelukkannya.

 

END

Iklan

19 pemikiran pada “When Chanyeol Become A Babysitter

  1. Nice story, heena ssi,,
    aih,,aq bersedia kok jd ibu untuk anak2 kita yeol/tendang ji hyun/plak! Ditimpuk author

    eh itu di akhir ada typo, harusnya ji hyun ya, bukan yoora yg nutup mulut chanyeol pake tng.

  2. yeaaayyy~ chukkae Chanyeol…
    aq harap km sehat slalu, trkabul apa yg diinginkn, n senantiasa nyebarin happy virus trus… Amiiin.. 🙂

    whoaaa ngebayangin Yeol jd seorang ayah kya nya mnarik bgt dc… psti mnyenangkn punya appa ky Yeol bt ank nya nnti…
    ini ff sderhna, tp menarikkk !
    mmm endingnya agk tmbhin dkit kg kli ya romance nya, biar lbih manis 🙂

    ditunggu krya slnjutnya ya Heena…

  3. ihhh….
    lucu bangett….
    suka sosok chanyeol disini,,,serasa kebapak an banget,,,padahal aslinya yang kita liat di tv itu jauh banget kayanya,,,hahahaha…
    what a lovely story…
    sooo sweeet banget 🙂
    gomawoyo..

  4. jadi ceritanya chanyeol dikerjain ya krna dia ultah gitu, tapi dia kyaknya lumayan menikmati deh jadi babysister wkwkwk, calon appa yg baik daahh

  5. Yaaahhh..baru baca….
    Sukaaaa….
    Ngebayangin chanyeol sama anaknya bikin senyum sendiri….
    Kayanya bakal mirip kaya yg di superman return…udah cocok dia jd ayah anak2 aq
    Hahahahah…
    Mian..xixixixix
    Gomawoyo

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s