WOLF Part VII


wolf new cover

 

 

Title :

WOLF

Author :

Heena Park

Ratting :

PG-15

Genre :

Fantasy,Action,Romance,Thriller

Lenght :

Multichapter

Main Cast :

  • Shin Heera
  • Kim Jong In
  • Kris Wu [Wu Yi Fan]
  • Han Sooji
  • Oh Sehun

Sunmary :

“Kami mungkin satu klan,tapi ketahuilah bahwa dia lebih berbahaya dan licik”

Recommended Song :

  • Jay Chou [Ye Qu and 夜的第七章]
  • Spica [Painkiller]

Poster :

blacksphinx @ Poster Channel

Author Notes:

Maaf sekali karena part VII-nya lumayan molor._.V

 https://soundcloud.com/arumnarundana/spica-painkiller

WOLF ©2014

 

 

 

 

Ia masih tertegun melihat Jongin yang tiba-tiba berubah menjadi seekor srigala. Jauh di dalam hatinya bergejolak sebuah perasaan takut dan khawatir. Ia takut jika Jongin bisa saja melukainya, namun di sisi lain ia juga takut jika harus kehilangan Jongin.

“Kau lihat Shin Heera? Pria yang kau pilih ternyata sama denganku!” Tawa Kris menggelegar. Mata pria itu perlahan berubah menjadi merah dan terlihat menyeramkan.

Perasaan takut semakin menerpa diri Heera. Ia tidak tahu harus apa sekarang. Berada di dalam ruangan yang sama dengan dua makhluk yang tidak bisa dijelaskan dengan akal dan pikiran.

Situasi ini membuatnya benar-benar ingin pergi jauh dan meninggalkan tempat aneh ini. Ia bersumpah akan mengakhiri kontraknya untuk bermain film daripada harus dimangsa oleh dua srigala yang kini berada di hadapannya. Walaupun ia tidak yakin bahwa Jongin akan melakukan itu. Namun Kris? Tidak ada yang tahu seperti apa isi hatinya.

Namun tiba-tiba tanah bergetar, gelas yang semula berada di atas meja itupun perlahan bergerak. Heera menjadi semakin panik. Sepertinya sedang terjadi gempa bumi. Ia mencoba menyelamatkan diri. Namun baru saja ia turun dari ranjang, tangan seseorang menarik dan mengangkatnya hingga gadis itu berada dalam gendongan orang tersebut.

Ia tidak bisa melihat siapakah orang itu dengan jelas karena kini tubuhnya sedang berada di atas punggung. Matanya menatap kaos yang dipakai orang itu dan ia baru tersadar bahwa pria yang menarik kemudian menggendongnya adalah Jongin.

Heera terlalu takut untuk menatap ke  depan karena tadi begitu Jongin menggendongnya, pria itu langsung melompat memecahkan kaca jendela lantai dua villa dan berlari dengan kencang. Heera tidak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya. Ia hanya harus melingkarkan kedua lengannya ke leher Jongin dengan erat atau ia akan terjatuh dan entah apa yang akan terjadi kemudian.

Ia bisa mendengar setiap deru napas Jongin yang begitu menggebu ketika setiap langkah kakinya menginjak tanah. Pria itu terus berlari dan melewati kerumunan manusia yang sedang kalang kabut karena gempa bumi yang terjadi.

Ia berhenti di samping sebuah mobil bewarna hitam metalik dan mendorong Heera untuk masuk kemudian duduk di kursi pengendara.

“Apa yang akan kau lakukan?” Heera menatap pria yang sedang menyalakan gas di sampingnya.

“Kita harus pergi, desa ini akan segera hancur!” Jawab Jongin cemas

Heera menggeleng, ia tidak bisa pergi. Sooji masih berada di desa ini, ia tidak akan pernah meninggalkan Sooji sendirian dalam bencana, “Tidak. Aku tidak bisa meninggalkan Sooji,” Ia berhenti sebentar dan hendak membuka pintu, “jika kau ingin pergi maka pergilah. Aku tidak akan pergi tanpa Sooji!” Lanjutnya kemudian benar-benar membuka pintu mobil tersebut.

Jongin menggaruk kepalanya frustasi. Ia terpaksa mengikuti Heera untuk turun dari mobil dan mencoba untuk menghalangi gadis itu pergi sendirian.

“Baiklah,” Ia berhenti sebentar dan berdiri tepat di depan Heera, “Kita cari Sooji bersama-sama. Aku tidak cukup gila untuk membiarkanmu berjalan sendirian disaat desa yang kau tuju itu sedang dilanda gempa bumi yang tidak murni kejadian alam. Itu terlalu berbahaya untukmu!”

“Jika itu berbahaya untukku, maka itu juga berbahaya untuk Sooji.”

“Kau tidak mengerti Shin Heera!”

Heera menggertakkan giginya, “Benar, aku memang tidak mengerti. Terutama padamu dan Kris. Aku bahkan tidak tahu makhluk seperti apa kalian ini sebenarnya!”

Jongin menunduk, ia tahu betul bahwa Heera pasti sangat terkejut dan shock ketika mengetahui bahwa Jongin bukanlah manusia biasa, “Aku benar-benar tidak berniat membohongimu, aku tidak pernah berbohong padamu. Kau hanya tidak pernah bertanya tentang siapa aku ini sebenarnya, Shin Heera.”

Heera terdiam. Jawaban Jongin masuk akal. Ia memang tidak pernah bertanya tentang asal-usul Jongin dan sebagainya. Ia terlalu jatuh dalam pesona Jongin sehingga lupa pada pertanyaan paling mendasar yang seharusnya diketahui ketika sedang menjalin sebuah hubungan.

Jongin meraih tangan Heera dan menggenggamnya, “I’m promise to protect you. Please..”

Mendengar perkataan Jongin yang sepertinya memang sungguh-sungguh. Hati Heera tergerak. Entah ada dorongan apa, perlahan hatinya luluh dan mulai mempercayai Jongin. Ia mengikuti perintah Jongin untuk kembali masuk ke mobil dan mencari keberadaan Sooji bersama.

Perlahan Jongin melajukan mobilnya kembali ke desa. Rumah-rumah penduduk nampak roboh dan beberapa di antaranya hanya rusak ringan. Bahkan Heera bisa melihat korban jiwa yang berlumuran darah akibat tertimpa bangunan atau pohon yang tumbang. Para warga nampak bergotong royong untuk membebaskan para korban yang sudah meninggal ataupun masih hidup tersebut.

Sampai sekarang Polisi dan Paramedis belum juga datang. Jalur yang jauh dan sulit dicapai menjadi salah satu kendala yang menerpa mereka. Mungkin saja ketika Paramedis datang, para korban yang awalnya tidak terlalu parah menjadi sekarat dan mati.

“Sooji-ya dimana orang itu..” Wajah Heera berubah cemas, ia meniup-niup pelan tangannya dan berharap akan menemukan Sooji secepatnya. Heera tentu tidak sanggup jika harus kehilangan Sooji.

Jongin menyipitkan matanya, ia tidak sengaja melihat gadis berambut hitam bergelombang yang sedang menangis tersedu bersama dengan pria yang tidak jelas tampangnya karena membelakangi Jongin.

“Apakah itu Sooji?” Jongin menghentikan mobilnya dan menunjuk gadis di ujung jalan. Seketika Heera mengangguk dan langsung keluar dari mobil untuk menghampiri gadis itu kemudian memeluknya tanpa permisi.

“Han Sooji!” Heera menenggelamkan Sooji dalam pelukkannya, “Kau! Ku pikir sesuatu buruk terjadi padamu dan Ya Tuhan, kau hampir saja membuatku mati ketakutan!” Gumamnya khawatir.

Sooji melepaskan tubuhnya dari pelukkan Heera dan menghapus air matanya sendiri, “Bodoh, seharusnya aku yang mengkhawatirkanmu karena kau berada di villa dan aku meninggalkanmu.” Ia sesenggukkan.

Heera menggeleng dan membantu Sooji untuk berdiri, kemudian menatap pria yang sedang bersama Sooji. Tidak lain dan tidak bukan, ia adalah Sehun.

“Terima kasih karena kau sudah bersamanya,” Heera tersenyum kecil, “lebih baik sekarang kita segera pergi dari sini.” Sambungnya lalu mengajak Sehun dan Sooji untuk masuk ke dalam mobil.

Jongin yang sedari tadi menunggu di samping mobil-pun kini membantu untuk membuka pintu belakang. Setelah Sooji dan Sehun masuk, ia menutup pintu tersebut kemudian bersiap untuk pergi dari desa ini.

Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka. Bahkan Sooji dan Sehun terlihat sedang tertidur dengan nyenyak di kursi belakang. Sepertinya kedua orang itu kelelahan, sedangkan Heera masih terjaga serta sesekali melirik ke arah Jongin. Ia tidak habis pikir, bagaimana caranya Jongin bisa mendapatkan mobil ini? bukankah mereka semua berangkat menggunakan bus?

“Kita akan istirahat di penginapan yang tidak terlalu jauh dari sini, aku juga perlu membeli bensin untuk mobil ini.” Jongin yang semula diam akhirnya angkat bicara. Matanya tetap menatap ke depan tanpa melirik sedikitpun ke arah Heera.

Mereka berhenti di sebuah motel kecil dan sederhana yang berjarak sekitar 2 jam dari kota. Keadaan motel itu tidak terlalu terawat, namun sepertinya tidak buruk untuk situasi yang sudah sangat mendesak seperti ini.

“Aku akan turun dan memesan tempat, bangunkanlah Sehun dan Sooji,” Jongin membuka pintu mobil, “dan satu lagi. Jangan keluar sebelum aku menyuruhmu.” Lanjutnya yang hanya dibalas dua kali anggukkan oleh Heera.

Begitu Jongin masuk ke motel, Heera buru-buru membangunkan Sehun dan Sooji. Ia tidak mengerti mengapa Jongin tidak memperbolehkannya untuk keluar, apakah ada bahaya lagi diluar sana?

“Dimana kita?” Sooji menarik kedua lengannya dan mengerutkan keningnya memandang bangunan sederhana yang berada di kanan mereka, “Apa kita akan menginap di sini?” Tanyanya lagi.

“Kita tidak memiliki pilihan lain.” Heera menaikkan kedua pundaknya, “Aku harap kau tidak akan alergi karena tidur di tempat seperti ini, Oh Sehun.” Ia memandang Sehun yang nampak cemas. Artis papan atas sepertinya tidak mungkin terbiasa dengan tepat seperti ini. Ya, Heera harap pria berkulit mulus itu tidak akan merasa jijik atau mengeluh untuk tinggal di tempat ini sebentar.

“Entahlah,” Ia menundukkan kepalanya, “Aku pasti bisa menyesuaikan diri.” Gumamnya lagi.

Jongin berdiri di teras motel. Ia melambaikan tangannya sebagai tanda agar mereka segera keluar. Dan tanpa menunggu lebih lama, mereka segera mengikuti perintah Jongin dan menghampiri pria itu.

“Aku sudah memesan dua kamar, Heera dan Sooji sedangkan aku bersama Sehun.” Ia memberikan satu kunci ke Sooji dan satunya lagi ke Sehun, “masuklah, dan aku juga sudah meminta kotak P3K untuk mengobati luka kalian.” Gumamnya.

Mereka mengangguk, Sooji dan Sehun berjalan mendahului Heera, sedangkan gadis itu masih terpaku di samping Jongin dan enggan untuk bergerak.

“Kau tidak masuk?” Jongin bertanya dengan nada perhatian.

“Kau sendiri kenapa tidak masuk?” Heera bertanya balik.

Jongin menunjuk mobil yang diparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri, “Aku harus membeli bensin, jika kau ingin pulang besok.” Jawabnya

Heera membuang napasnya berat, ia menundukkan kepalanya dan menggosok-gosokkan tangannya dingin, “Bagaimana kau bisa mendapatkan mobil itu?”

“Apa?”

Ia menghadap ke Jongin dan memutuskan untuk menatap mata Jongin dalam-dalam, “Apa kau sudah tahu bahwa kejadian tadi akan terjadi?”

Mendengar pertanyaan Heera yang seolah meng-skak mat dirinya, Jongin hanya tersenyum kecil dan menepuk kecil pundak Heera, “Adakalanya kita seperti mendapat firasat tentang sesuatu buruk yang akan terjadi, maka tidak ada salahnya kan jika kita berjaga-jaga setelah mendapatkan firasat tersebut?”

“Tapi kenapa harus berjaga-jaga dengan mobil? Bagaimana mungkin kau bisa—“

Jongin menutup mulut Heera menggunakan jari telunjuknya, “Sudah ku bilang, kau hanya harus percaya dan selalu berada di sisiku, maka semuanya akan baik-baik saja.”

“Bagaimana mungkin aku bisa percaya padamu sedangkan kau menyembunyikan padaku tentang siapa kau sebenarnya…”

Jongin tersentak mendengar jawaban Heera, ia selalu kalah jika harus beradu argumentasi dengan wanita ini, “Tapi kau sekarang sudah mengetahuinya bukan?” Ia meraih tangan Heera dan membelainya lembut, “jadi, bisakah kau percaya padaku sekarang?”

Heera kehabisan kata-kata. Ia ingin percaya pada Jongin, tapi apakah pria itu benar-benar tulus padanya?

“Baiklah, aku pergi dulu. Segeralah masuk ke kamar. Aku berjanji akan kembali sebelum satu jam dari sekarang.” Ia membalik badan Heera dan mendorong punggung gadis itu pelan untuk masuk ke dalam motel.

 

*****

 

Jongin baru saja pulang dari membeli bensin. Ia berniat untuk masuk ke dalam kamar, namun tiba-tiba seseorang memanggil dan menyuruhnya untuk berhenti.

Shin Heera berdiri tepat di ambang pintu kamarnya dan menutupnya pelan. Ia berjalan ke arah Jongin dan menatap pria itu dari atas hingga bawah.

“Apa ada yang salah denganku?” Jongin menyipitkan matanya.

Heera menggeleng, matanya merah. Apa dia habis menangis?

“Are you okay?” Jongin menaikkan wajah Heera dan memegang dagunya.

“I don’t know..”

Jongin mendesah, ia menarik Heera dalam pelukkannya, “Kau kenapa? Ceritakanlah kepadaku.” Pintanya lembut.

Sesungguhnya, selama Jongin hidup ia tidak pernah berlaku selembut ini pada seseorang. Ia tidak pernah menggunakan perasaannya dengan penuh untuk bersikap pada seseorang. Namun sekarang? Ia bersikap begitu lembut pada Heera, sangat perduli pada gadis itu, ia tidak ingin Heera terluka walau hanya segores-pun.

Sejujurnya, dengan ia memiliki perasaan pada Heera itu sama saja dengan menyalahi apa yang telah di amanatkan oleh kedua orang tuanya sebelum kalah dalam perang melawan Ratu Kegelapan. Namun apa mau dikata, perasaan tetaplah perasaan. Cinta ini muncul begitu saja sejak Jongin menatap kedua manik mata Heera ketika pertama kali.

“Aku hanya… Apakah dengan aku mengetahui bahwa kau bukanlah manusia maka aku tidak bisa menaruh perasaan padamu lagi?” Heera membalas pelukkan Jongin. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba otaknya berpikir seperti itu. Ia hanya takut Jongin akan meninggalkannya, dan bukankah biasanya makhluk seperti Jongin akan tetap hidup dan muda dalam ratusan tahun?

Hatinya bergetar. Ia tidak percaya Heera mengatakan itu padanya. Apakah pertanyaan tadi sebagai bukti bahwa Heera benar-benar memiliki perasaan padanya?

“Cinta datang pada siapapun tanpa memandang status. Cinta tidak mengenal perbedaan, kau tetap milikku, begitupun sebaliknya. Kau mengerti, Shin Heera?” Jongin melonggarkan pelukkannya dan memegang kedua pipi Heera yang terasa dingin dan basah.

Walaupun Jongin menjawab seperti itu, namun tetap saja ada yang mengganjal di hati Heera. Ia benar-benar masih takut jika suatu hari nanti Jongin akan meninggalkannya, tapi setidaknya apa yang ia dengar barusan dapat menenangkan hatinya meskipun hanya sedikit.

“Selama kau tidak menghindar dariku karena kenyataan ini, aku akan selalu bersamamu. Tapi, sebenarnya apapun yang terjadi, aku akan selalu melindungimu.” Begitu selesai mengucapkan kalimat barusan, Jongin mendekatkan bibirnya pada kening Heera secara perlahan dan menciumnya dengan lembut, selembut kasih dan cintanya pada Heera yang begitu mendalam.

 

*****

 

“Khamsahamnida.” Jongin membungkukkan sedikit badannya setelah check out dari motel. Heera, Sooji dan Sehun telah menantinya di mobil untuk segera kembali ke Seoul.

“Benarkah? 3 kru meninggal? Bagaimana Sutradara Baek?”

Baru saja Jongin masuk ke mobil, telinganya telah mendengar berita buruk. Sehun nampak terkejut ketika mendengar berita bahwa 3 orang kru film meninggal akibat gempa bumi kemarin.

Sooji yang sedang membaca berita di salah satu situs segera mencoba untuk menjawab pertanyaan Sehun, “Sepertinya ia hanya luka kecil, atau mungkin selamat, karena aku tidak melihat namanya di daftar korban, tapi entahlah.”

“Apa aku menghubunginya saja?” Heera yang tiba-tiba menyahut segera merogoh sakunya. Beberapa detik kemudian wajahnya berubah menjadi cemas, “Ah, aku lupa jika meninggalkan ponselku di meja.” Sesalnya, “mom pasti sangat khawatir padaku.” Sambungnya lalu menghempaskan punggung ke kursi mobil.

Jongin meraih ponselnya dan memberikan pada Heera, “Kau bisa gunakan ponselku, aku menyimpan nomor Sutradara Baek.” Tawarnya.

Dengan senang hati Heera menerima tawaran Jongin, ia segera mengambil ponsel pria itu dan menelpon Sutradara Baek.

“Yoboseo… Bagaimana keadaan anda?…. Ya Tuhan, syukurlah…Aku bersama dengan Jongin, Sehun, dan Sooji.. Kami akan kembali ke Seoul, maafkan kami…. Benarkah? Terima kasih Sutradara terima kasih..”

“Apa katanya?” Sooji langsung melontarkan pertanyaan inti begitu Heera memutus panggilan

“Dia hanya luka kecil, ia bertanya dimana kita berada dan aku menjawab bahwa kita akan kembali ke Seoul. Ku pikir dia akan marah, tapi ternyata dia malah sangat senang karena ternyata kita baik-baik saja dan menyuruh kita untuk segera kembali ke Seoul dan beristirahat.”

“Lalu, bagaimana dengan Mr. Kris?” Sehun melontarkan pertanyaan itu tanpa pikir panjang. Keadaan berubah sunyi, Sooji nampak menggaruk kecil lehernya sedangkan Heera membuang napasnya berat.

“Aku berani bertaruh bahwa Kris pasti akan baik-baik saja.” Ucapan Jongin membuat ketiganya tersentak dan mengkerutkan kening penuh tanda tanya. Bagaimana mungkin pria itu bisa berkata demikian ketika mereka bahkan tidak tahu bagaimana keadaan di desa itu sekarang? Namun sungguh, Heera percaya pada perkataan Jongin. Ia memang tidak bisa menjelaskan pada Sooji dan Sehun tentang apa yang sebenarnya terjadi. Andai saja mereka tahu, pasti kedua orang itu sudah mengangguk dan duduk tenang karena percaya.

“Bagaimana kau tahu?” Sehun menatap Jongin penuh curiga.

“Hanya tebakkan…..yang tidak akan meleset.” Ia menyalakan mesin mobil dan memilih untuk menatap ke depan kemudian menjalankan mobilnya agar tidak membuang-buang waktu dengan sia-sia.

 

*****

 

“Kau yakin ingin tidur di Rumah Sakit?” Jongin menghentikan mobilnya di depan pintu masuk Rumah Sakit. Mereka sudah mengantarkan Sooji dan Sehun ke rumahnya masing-masing.

Heera mengangguk yakin, “Aku harus segera menemui dan menemani mom.” Jawabnya kemudian mengukir senyum tipis di wajahnya.

“Boleh aku ikut?”

“Apa?”

Jongin menengok ke arah Heera dan memajukan bibirnya sedikit karena melihat ekspresi terkejut Heera, “Kau membuatku merasa di tolak, Shin Heera.”

“Ah..” Heera mengibas-kibaskan tangannya, “Bukan begitu, aku hanya terkejut. Kau yakin ingin ikut?”

“Tentu saja, lagipula aku tidak punya pekerjaan lain lagi sekarang, tentu saja selain melindungimu.”

“Tapi…”

“Aku tidak memaksa.”

Heera menggaruk keningnya sebentar dan meringis, “Baiklah, kalau begitu ayo keluar. Aku akan mengenalkanmu dengan mom.”

Jongin tersenyum dengan begitu lebar. Ia bahkan menunukkan barisan rapi gigi putihnya pada Heera. Mereka berjalan melewati koridor Rumah Sakit dengan tangan Jongin yang selalu menggenggam erat tangan Heera seolah ia tidak akan pernah melepaskan gadis itu apapun yang terjadi.

Mereka berhenti di kamar dengan nomor 046. Perlahan Heera memutar knop pintu dan sosok Shin Min Young sedang tertidur sembari memegang tangan suaminya yang sama-sama sedang memejamkan mata.

“Mom…” Heera memanggil ibunya dengan sedikit berbisik.

Shin Min Young-pun terbangun. Wajahnya yang lelah langsung berubah cerita ketika melihat Heera telah berdiri di depannya. Ia buru-buru berdiri dan memeluk Heera penuh kasih sayang. Dua Minggu tanpa anak semata wayangnya itu terasa seperti dunia yang hampa bagi Shin Min Young. Ia terus-terusan memikirkan keadaan Heera. Apakah ia baik-baik saja? Apakah ia sudah makan? Apakah ia akan segera pulang? Dan sebagainya.

“Kenapa kau tidak menjawab panggilan Mom?” Shin Min Young mencubit kecil lengan Heera sehingga gadis itu meringis kesakitan

“Aw, sakit mom,” Ia menghentikan kalimatnya sebentar dan kembali memeluk Shin Min Young, “Maafkan aku, ponselku hilang mom.”

“Bagaimana bisa hilang? Mulai sekarang pakai saja ponsel mom.” Shin Min Young menyarankan. Ia baru saja akan berjalan ke laci dan mengambil ponselnya, namun Heera menghentikan wanita setengah baya tersebut.

“Tidak mom, aku berjanji akan segera membeli ponsel baru.”

“Baiklah kalau begitu,” Ia baru sadar jika ada seorang pria berdiri di belakang Heera. Wajahnya tampan, apalagi sekarang pria itu sedang tersenyum manis ke arah Shin Min Young.

“Dia?” Shin Min Young menunjuk pria itu. Heera dengan cepat menyuruh Jongin untuk berdiri di sampingnya.

“Dia Kim Jong In mom,” Aku Heera, “Dia adalah… Mom mengerti maksudku kan?” Heera memotong ucapannya karena ia percaya Shin Min Young pasti mengerti apa yang akan dikatakan oleh Heera.

Wanita itu tertawa, “Hahaha, iya aku mengerti.”

“Salam Ahjuma.” Jongin membungkukkan badannya 90 derajat untuk memberi salam pada ibu Heera.

Melihat ekspresi ibunya, sepertinya ia akan merestui hubungan Heera dengan Jongin. Tentu saja jika rahasia tentang siapa Jongin sebenarnya tetap tersimpan rapat-rapat

 

*****

 

“Apa yang kau lakukan!” Wajah dan matanya memerah penuh emosi.

“Aku sudah memperingatkanmu bukan?” Seorang wanita dengan gaun hitam panjang duduk santai di singasananya sembari menyesap segelas darah segar yang baru saja ia dapatkan.

“Aku tidak akan segan-segan bertindak jika kau berani menyentuh Shin Heera walau hanya sedikit!”

Perempuan itu menaruh gelasnya pada nampan dan berjalan mendekati Kris, “Wah.. Sepertinya itu ancaman yang menarik,” Ia menyunggingkan senyum licik dan berbalik membelakangi Kris, “Kita lihat saja apa yang akan terjadi, Kris Wu.”

 

 

 

TO BE CONTINUED

 

Iklan

32 pemikiran pada “WOLF Part VII

  1. aduh maki penasaran sama jalan cerita nya

    apa yg lagi ngobrol sama kris itu ratu ke gelapan

    akhh masih banyak misteri kaya nya

    dan itu belum terungkap

    di tunggu kelanjutan nya yah thor

  2. Hah?? Kris sebenarnya siapa? Kok dia bisa kenal sama ratu kegelapan? Cepet di next ya thor.. seru banget.. dtunggu lo ya.. kekeke ^^

  3. Aduhh konfliknya makin banyak aja, sebenarnya siapa “Wanita” yang lagi bicara sama Kris? segitu cintanya ya Kris sama Heera tapi Heera cintanya sama Kai kasihan Kris 😦

    Next chapnya ditunggu thor.
    Keep writing 🙂

  4. wah…wah…wah…
    nampaknya ini ketenangan sebelum ada badai,,,hehehehe…
    so swewt baca scene jong in sama ibu nya heera 🙂
    cerita ke depannya nampak akan menarik ya chingu,,,jadi tambah penasaran,,,heheh..
    ditunggu lanjutannya ya…
    gomawoyo..

  5. woahhhh kakak,,,,,lama nya d post…q ampe bulukan loh heheheh beuhhhh gk salah aq nunggu ff ini dr kpan two,,,kmren2 q pkir Heera bakalan benci sma Jong In ekhh ternyata kekuatan cinta mnyatukan mrk akhhh so sweet bngettt,,,ohh yahhh d awal2 crta mnurut ku yhhh alurnya agk kcepetan jatohnya jd bingung ngebayangin tempat2 y d singgahin Heera,,,kya rumah2 y ancur kan km crtannya singkat jd agk krng dpt feel nya….tp tenang kak wlpun gtu mnurut aq keseluruhannya kerennn binggo ahhahahaha,,,,, dtmbah ini ff sedikit pula,,mkin tegang baca dn mkin nangihh ajjj,,,,klo bsa d chap tar jngan lma2 yakk….q penasaran apkah Kris diem ajj??? liat Heera sma Jong In???? krna q dukung Heera sam Jong In,,, 🙂 dn sebernya Kris tuh jhat ap engga??? ratu kegelapan itu modusnya ap??? akhhh bnyak pertnyaan dh d otak y msti km jelasin tar d chap2 selnjutnya,,,ok kak!!!!!!
    satu req….Romansa Heera-Jong In donkkk perbanyak lagi ehheheh kngennnn wkwkkwkwkw

  6. Ckckck Kris cintanya bertepuk sebelah tangan :3
    Kesian dia :v
    Dan ini keren banget sumvehh
    Kirain heera bakal benci ma jongin eeh malah makin lengket/?
    Masih kagak ngerti sihh ama karakternya si Kris, kadang sadis, tapi baik :v
    Okelahh..
    Ditunggu chap selanjutnya kak~

  7. Yaaahhh selalu pendek 😦
    semangat eonnieee!!! Cepet2 posting ya 😀 hehe
    itu.. Aaaakhh aku penasaran sama kai n kris jadinya.. Kenapa mereka bisa musuhan? N kayanya.. Main conflict udah agak2 deket. Keep writing neeeee ^^

  8. Gak tau knp, aku justru terpesona sm Sehun di sini 😀
    Dan yeah, aku msh terus penasaran gimana Heera ngalahin si dark queen itu, so, next part terus ditunggu 😉

  9. lanjut atuhlah 😦 kurang panjang ini mah/?

    Da atuhlah kan katanya kris werewolf yg licik kan/? Tapi kok dia mau ngelindungin heera mulu yaakk,apa jangan2 ada niat terselubung/? .g

    saikkk jongin direstuin sm momnya heera,dadnya suruh sadar dong/?gk cape apa koma mulu /abaikan.wwkwk

  10. Baru nemuin ini ff langsung jth cinta.. 😀
    di lanjut dong chingu ceritanya, jangan bikin kita para reader menanti terlalu lama #yaelah bahasanya 😀
    segera di post ya chingu next chapnya..

    keep writing!!!!!

  11. Kris hebat ya ydh d tolak heera berkali2 mash aja baik sama heera
    Bahkan sampk mw ngelindungin segala
    Lelaki sejati tu 😀

    Welll ibuya heera pasti gak sesuju kalo tw jongin sapa, secara mana ada org tua yg mw anaknya berhubungan sama werewolf :/

    Btw, smpk chapter ini blom d jelasin hubungan heera sama kris sebelumnya
    Gw kira bakalan ada penjelasan barang secuil, ypi gak ada kayaknya :/
    Gak masalah, gw tungguin update selanjutnya 😀

  12. Untung ja jongin ma haera Udh Di seoul ga bayangin haera nglawan ratunaa..

    Tp tb nya nempatin nya g tepat 😂😂 hrs NY rada bawahan tuu xD biar g bikin ngantung

    Chinguvcptan update yaaa

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s