Forbidden Love Part I


forbidden-loveps

 

 

Title : Forbidden Love

Author : Heena Park

Ratting : PG-15

Genre : Romance, Sad, Marriage Life

Lenght : Multichapter

Main Cast :

-Shin Hee Ra

-Kim Jong In

-Do Kyungsoo

-Park Chan Yeol

Poster

by Sifixo @ Poster Channel

Author Notes :

Well, pemain di FF ini akan berganti dengan siapa saja yang muncul pada part tersebut. Dan di part I ini konfliknya emang belum ketahuan karena masih di awal/?

 

 

Keberuntungan—Satu hal yang membuat seseorang merasa sangat bahagia dalam hidupnya. Namun bagaimana jika keberuntungan yang datang itu tiba-tiba menjadi sebuah masalah yang rumit?

Sungguh, tidak ada seorang-pun di dunia ini yang ingin mendapatkan masalah yang membuat logika dan perasaan menjadi bertolak belakang sehingga harus menetapkan hati untuk memilih salah satu di antara keduanya. Suatu pilihan yang sangat sulit bukan?

Shin Hee Ra duduk cemas di bangku Rumah Sakit sembari menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya, keringat dingin turun membasahi tubuhnya, dan berkali-kali bergumam, “Ya Tuhan, selamatkan wanita itu.”

“Keluarga pasien?”

Seorang dokter dan dua perawat keluar dari Ruang Gawat Darurat sembari melepaskan masker dari mulutnya. Hee Ra buru-buru berdiri dan menghampiri dokter tersebut.

“Anda keluarga pasien?” tanya sang dokter.

Hee Ra menggeleng pelan, “Bukan, saya bukan keluarganya…”

“Bisa saya berbicara dengan keluarga pasien?” tanya sang dokter lagi.

Mendengar pertanyaan tersebut, rasa bingung kembali datang menerpa gadis itu. Ia tidak tahu siapa keluarga dari pasien yang dibawanya ke Rumah Sakit tadi. Ia hanya tahu bahwa wanita tua itu tergeletak pingsan di jalanan yang sepi dengan luka di beberapa bagian tubuhnya.

“Maaf dokter, tapi saya tidak tahu siapa keluarganya. Saya menemukan pasien tergeletak di pinggir jalan dengan keadaan seperti itu,” ia berhenti sebentar, “Kalau boleh, saya bersedia mewakili keluarga pasien,” lanjutnya sambil memasang wajah melas pada sang dokter.

Dokter itu tersenyum, “Baiklah, pasien mengalami patah tulang pada bagian kaki dan harus segera di operasi. Apakah nona bersedia untuk membayar seluruh tagihannya?”

“A..apa? Operasi?” Hee Ra mengeluarkan suaranya dengan sedikit pelan. Mendengar kata operasi membuatnya langsung teringat pada biaya yang pasti tidak sedikit.

“Ya, jika tidak pasien bisa mengalami kelumpuhan nona.”

Hee Ra menghembuskan napas berat dan menatap tas kecil yang menggantung di lengannya, “Baiklah dok.”

“Kalau begitu saya permisi dulu nona.”

Begitu mengucapkan kalimat barusan, dokter itupun pergi bersama dengan dua perawatnya meninggalkan Hee Ra.

Ia benar-benar bingung sekarang. Tubuhnya yang sudah lemas kini telah kembali duduk pada bangku Rumah Sakit dan dengan berat ia menyandarkan punggungnya. Ia tidak mungkin menghabiskan seluruh tabungannya untuk membiayai operasi wanita tua yang ia temukan di jalan tersebut.

Namun jika ia tidak menolong wanita itu, sungguh, betapa jahatnya ia sebagai seorang manusia. Bukankah sesama manusia harus saling membantu? Tapi bagaimana sekarang? Ia tidak memiliki cukup uang untuk membantu wanita itu.

“Shin Hee Ra!”

Suara seseorang mengagetkan Hee Ra. Ia menengok dan mendapati Park Chan Yeol—Kekasihnya sedang berlari ke arahnya. Pria itu terengah-engah. Ia hanya mengenakan sweater abu-abu dan celana jeans panjang bewarna biru tua sekarang.

“Kau tidak apa-apa kan?” Chan Yeol khawatir. Ia menarik Hee Ra dalam pelukkannya dan mencium kening kekasihnya.

Chan Yeol benar-benar khawatir ketika Hee Ra berkata bahwa ia sedang di rumah sakit. “Apa ada yang terluka? Bagian mana?” tanyanya lagi sembari melihat setiap bagian tubuh Hee Ra.

Hee Ra menggeleng dan melepaskan kedua lengan Chan Yeol yang memegangi lengannya, “Aku tidak apa-apa Yeol,” ia berhenti sejenak dan menatap pintu Ruang Gawat Darurat, kemudian kembali melanjutkan perkataanya, “wanita di dalam sanalah yang sekarang sedang dalam bahaya. Aku menemukannya tergeletak pingsan di jalanan yang sepi dengan luka di beberapa bagian tubuhnya. Aku tidak mungkin meninggalkannya, jadi kubawa dia ke Rumah Sakit, lalu dokter berkata bahwa wanita itu harus operasi. Sedangkan aku? Aku tidak mungkin menggunakan seluruh tabunganku untuk membiayai wanita itu.”

Chan Yeol berjalan ke depan pintu Ruang Gawat Darurat dan mengintip dari balik kaca. Seorang wanita tua sedang terbaring lemah di sana. Tak lama kemudian ia kembali menghampiri Hee Ra dan membelai lembut rambut gadis itu, “Tak apa, kau adalah gadis yang baik Shin Hee Ra. Kau tidak perlu khawatir, biar aku yang membayar seluruh biaya operasi dan perawatan wanita itu.”

“Tapi orang tuamu?”

“Selama aku tidak memberitahukan hal tersebut, mereka tidak akan pernah tahu bukan?”

Hee Ra menundukkan kepalanya, “Aku tidak ingin membuat ibumu semakin membenciku…”

Chan Yeol mendecakkan lidah. Ia teringat pada hubungannya dan Hee Ra yang memang tanpa restu dari ibunya. Bukan masalah materi atau apapun. Namun ibunya telah menjodohkan Chan Yeol dengan wanita lain, sehingga ia sangat tidak ingin jika Chan Yeol dekat dengan Hee Ra.

“Aku berjanji ibuku tidak akan pernah mengetahuinya, Shin Hee Ra.”

“Tapi..”

“Sstt..” Chan Yeol meletakkan jari telunjuknya di bibir Hee Ra sebagai kode bahwa ia ingin Hee Ra berhenti berbicara, “Percayalah padaku. Kumohon,” lanjutnya.

Hee Ra akhirnya menyerah. Ia mengangguk dan menuruti perkataan Chan Yeol lalu menuju bagian administrasi dan membayar biaya operasi sehingga wanita itu bisa segera diselamatkan.

“Maaf Tuan, kami tidak berhasil menemukan dimana Nyonya Kim berada,” ujar seorang pria berjas hitam dan berkacamata yang baru saja datang.

Jong In menghempaskan tubuhnya ke kasur dan mengacak-acak rambutnya sendiri, “Bagaimana kalian ini? Menemukan nenek saja tidak becus!” teriaknya dan kemudian kembali bangkit.

“Tapi Nyonya tidak meninggalkan tanda sedikitpun Tuan,” balasnya lagi.

Jong In tidak perduli. Wajahnya memerah dan emosinya semakin memuncak, “Aku tidak mau tahu, kalian harus menemukan nenek secepat mungkin!” Perintahnya penuh amarah.

Segera setelah mendengar perintah Jong In, pria itu berbalik dan kembali berusaha mencari dimana keberadaan Nyonya Kim.

“Sabarlah sedikit, kau terlihat kacau hari ini,” ujar seorang pria yang kini duduk di samping Jong In. Pria itu mengusap-usap punggung Jong In lalu menyandarkan dagunya pada pundak Jong In, “Aku yakin nenek pasti akan segera ditemukan,” gumamnya.

Jong In menatap pria di sampingnya dan mengusap pipi pria tersebut kemudian mendaratkan ciuman manis di keningnya, “Kau memang selalu mengerti aku Kyung Soo-ya,” balasnya diselingi senyuman.

“Tentu saja, aku ini kan kekasihmu dan sebentar lagi akan segera menikah denganmu, bukan?” gumam Kyung Soo yang kemudian menutup kedua matanya dan menggenggam erat lengan kiri Jong In. Ia terlalu yakin bahwa hubungan keduanya bisa dilanjutkan.

Menikah?

Jong In dan Kyung Soo adalah pasangan kekasih homoseksual yang telah berjalan selama 2 tahun. Kyung Soo lebih tua dua tahun daripada Jong In. Awalnya Jong In tidak tertarik dengan Kyung Soo, namun pria itu selalu berusaha menarik perhatiannya dengan berbagai cara, sehingga pada akhirnya Jong In menyerah dan bertekuk lutut pada pria yang kini sedang bermanja di sebelahnya.

Ia sendiri juga tidak mengerti bagimana mungkin perasaan itu bisa muncul. Mengingat dia dan Kyung Soo sama-sama seorang pria dan kemudian saling tertarik hingga akhirnya bisa mengadu kasih seperti ini.

“Jadi, kapan kau akan melamarku?” Kyung Soo menatap Jong In lekat-lekat, ia butuh jawaban pasti.

Jong In mengerutkan keningnya dan berpikir, apakah mungkin ia dan Kyung Soo akan menikah? Sungguh, sebesar apapun rasa cintanya pada Kyung Soo, Jong In masih tetap memiliki keinginan untuk menikah dengan wanita, bukan dengan pria yang dianggapnya sebagai wanita seperti ini.

“Kita lihat saja nanti,” jawabnya singkat.

Kyung Soo membuang napasnya gusar, “Ah, baiklah.”

Jong In jelas bisa mendengar nada kecewa pada suara serak Kyung Soo barusan. Namun bagaimana lagi? Ia masih benar-benar tidak habis pikir jika akhirnya harus menikah dengan Kyung Soo.

Tring…

iPhone milik Jong In bergetar. Ia buru-buru mengambil dan mengamati layar ponselnya kemudian menyipitkan mata. Sebuah nomor yang tidak pernah ia simpan sebelumnya. Apakah itu orang iseng? Atau orang penting?

“Yoboseo..”

Terdengar suara seorang wanita dari seberang. Jong In semakin bertanya-tanya, siapakah wanita itu dan ada urusan apa ia menghubungi Jongin?.

“Apa ini benar keluarga dari Kim Eun Sang?”

Jong In terbelalak begitu mendengar nama neneknya disebut. Ia buru-buru menanggapi perkataan wanita itu. Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk pada neneknya. Semoga saja—

“Bagaimana?”

Hee Ra mematikan ponselnya dan membasahi bibirnya yang hampir kering karena harus menjawab banyak pertanyaan dari seorang pria yang baru saja ia hubungi.

“Dia akan kemari nek,” Hee Ra meringis. Ia bisa melihat ekspresi bahagia yang menghiasi wajah wanita tua dengan rambut yang hampir seluruhnya telah memutih di dekatnya. Wanita itu baru saja sadar sekitar satu jam yang lalu setelah di operasi kemarin malam.

“Syukurlah, aku kira anak itu sudah tidak perduli lagi padaku,” celotehnya. Ia mengamati Hee Ra dengan seksama sehingga membuatnya menjadi sedikit salah tingkah. “Wanita muda sepertimu apa tidak memiliki kesibukan?” tanya Eun Sang.

Hee Ra terkekeh, “Saya masih kuliah, dan kebetulan hari ini libur. Dan sebentar lagi saya harus pergi ke cafe untuk bekerja. Kenapa nek?”

“Tidak apa-apa. Orang tuamu?”

“Mereka tinggal di luar kota, saya merantau sendiri karena mendapatkan beasiswa.”

“Aku jarang sekali melihat ada gadis sepertimu. Ku kira semua orang di dunia ini telah disibukkan oleh ego masing-masing sehingga tidak terpikir lagi untuk menolong orang lain.”

Hee Ra tersenyum tipis. Ia tidak tahu apakah itu suatu pujian baginya atau kritikkan dari nenek tersebut untuk orang disekitar mereka.

“Kau suah memiliki kekasih, nak?”

Lehernya menegang. Kekasih? Chan Yeol adalah kekasihnya. Namun apakah hubungan yang tidak memiliki restu dari orang tua bisa dikatakan sebuah hubungan yang baik? Bukankah percuma jika terus melanjutkan hubungan tersebut? Ingin mengakhiri namun hati berkata bahwa mereka masih saling cinta, ingin melanjutkan namun sudah jelas pada akhirnya mereka tidak akan bisa bersama.

Krek..

Seorang pria muncul dari balik pintu. Ekspresinya dingin dan datar. Ia menghembuskan napas berat lalu menghampiri wanita tua yang kini sedang tergeletak lemas di ranjang, “Kenapa nenek melakukannya?”

Setelah melayangkan pertanyaan tersebut, pria itu menengok ke kiri dan melihat Hee Ra. Ia menggerakkan kecil kepalanya sebagai tanda bahwa lebih baik Hee Ra meninggalkan kedua orang tersebut. Hee Ra mengangguk, lagipula ia juga tidak ingin tahu tentang mereka.

Hee Ra berdiri di balik pintu sambil menggaruk-garuk kepalanya. Aneh sekali orang itu. Ia bahkan tidak mengucapkan terimakasih padanya karena telah menolong neneknya. Pantas saja tadi sang nenek bersyukur karena nyatanya orang itu masih perduli padanya, mengingat sifatnya yang dingin dan entahlah Hee Ra tidak bisa menggambarkan seperti apa orang itu.

Hee Ra memainkan jari-jari lentiknya pada wajah Chan Yeol yang kini sedang memejamkan mata dalam pangkuannya. Menikmati pemandangan Sungai Han bersama malam yang bertabur bintang dengan ditambahkan pantulan cahaya dari lampu bewarna-warni di sekitarnya membuat semua menjadi lebih indah. Apalagi kini ia bersama Chan Yeol. Pria yang sangat ia cintai sejak satu tahun lalu. Pria yang berhasil mengubah hati kerasnya menjadi begitu lembut. Pria yang membuat harinya menjadi begitu bewarna, dan juga pria yang telah membuatnya mengerti betapa beratnya pengorbanan cinta yang tidak direstui.

“Bagaimana keadaan nenekyang kemarin?” Chan Yeol masih menutup matanya. Ia menarik tangan Hee Ra yang tadi bermain di wajahnya untuk berpindah ke atas dadanya.

“Cucunya sudah menjemputnya,” Hee Ra membuang napas gundah.

“Aku akan menikah dengan wanita pilihan ibuku Minggu depan.”

Jantung Hee Ra seakan berhenti begitu mendengar Chan Yeol mengatakan kalimat barusan. Menikah minggu depan? Apa-apaan ini?

Chan Yeol membuka matanya dan bangkit dari tidurnya. Ia memegang kedua pipi Hee Ra kemudian menarik gadis itu untuk menatap kedua matanya lekat-lekat. Ia tidak ingin kehilangan Hee Ra. Bagaimanapun dalam hatinya hanya ada nama Hee Ra, ia tidak ingin jika gadis lain merebut tempat tersebut.

“Menikahlah denganku Shin Hee Ra. Aku akan membawamu keluar negeri,” Chan Yeol menatapnya melas, berharap bahwa Hee Ra akan menerima lamarannya. Namun apakah itu mungkin?

Hening. Hee Ra tak tahu harus berkata apa sekarang. Ia memang mencintai Chan Yeol, namun untuk menikah? Come on, Hee Ra masih berusia 20 tahun sekarang. Sifatnya masih sangat kekanakkan dan ia belum benar-benar siap untuk menjadi seorang istri atau bahkan yang terburuk adalah ibu.

“Kau tidak mau, ya?” sambar Chan Yeol lagi. Seulas senyum pahit tergambar di wajah polosnya yang begitu sarat akan kekecewaan.

Tidak, Hee Ra bukannya tidak ingin menikah dengan Chan Yeol, dia hanya belum siap jika harus menikah dengan pria itu sekarang. Mungkin jika Chan Yeol menanyakan hal ini 3 tahun lagi maka Hee Ra pasti akan menjawab ‘Ya’ tanpa perlu banyak berpikir.

Namun sekarang keadaannya berbeda. Ia masih sangat belia dan begitu pula Chan Yeo. Pria itu baru saja menginjak usia 25 tahun. Mereka masih memerlukan kebebasan dan ibu Chan Yeol telah merencanakan pernikahan anaknya dengan gadis pilihannya sehingga satu-satunya cara agar pernikahan itu tidak pernah terjadi adalah Hee Ra harus menerima pinangan Chan Yeol dan menikah secepatnya. Tapi Hee Ra tidak bisa. Ia benar-benar tidak bisa.

“Maafkan aku…”

Rasa bersalah yang begitu mendalam tak bisa dipungkiri oleh Hee Ra. Mengapa hubungan yang indah ini harus diberikan cobaan yang sangat berat? Awalnya Hee Ra berharap bahwa setelah ia wisuda maka dia dan Chan Yeol akan menikah kemudian hidup sebagai keluarga yang bahagia. Namun takdir berkata lain. Baru berjalan 1 tahun dan Chan Yeol akan mengikat janji dengan gadis lain yang entah seperti apa orangnya.

Chan Yeol mengusap wajah Hee Ra dengan kedua tangannya dan mendaratkan sebuah ciuman manis di kening wanita itu, kemudian mengacak-acak rambutnya pelan, “Tak apa, aku akan mencari cara lain untuk membatalkan pernikahan ini. Kau tidak perlu khawatir, Shin Hee Ra.”

Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Dalam keadaan yang sudah sangat mendesak seperti ini ia masih bisa berkata pada Hee Ra bahwa ia akan mencari jalan keluar lain agar pernikahan itu tidak pernah benar-benar terjadi  jika pada kenyataannya hal itu akan sia-sia dan dia akan berdiri di altar bersama dengan wanita asing itu nantinya.

Mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, Chan Yeol menatap jam tangan dan bangkit dari kursi, “Sudah jam 10, aku akan mengantarmu pulang. Bukankah besok kau ada kuliah?”

Hee Ra mengangguk. Ia membiarkan Chan Yeol menarik tubuhnya dengan kedua lengan panjang pria itu dan kemudian merangkul pundaknya, “Besok aku akan pulang terlambat, kau bisa pulang sendiri kan?” tanya Chan Yeol lagi.

Ia begitu mengerti kesibukkan Chan Yeol sebagai seorang mahasiswa fakultas kedokteran. Ia sangat mendukung cita-cita Chan Yeol karena yang terlintas dalam pikirannya adalah betapa kerennya memiliki suami seorang dokter. Tunggu, suami? Apakah itu bisa terwujud?

“Kau tidak perlu khawatir pak dokter, aku akan menjaga diri dengan baik,” Hee Ra mangacungkan jempolnya sembari mengucapkan kalimat tersebut sehingga membuat Chan Yeol sedikit tertawa.

Ya, setidaknya hal itu bisa membuat keadaan emosional mereka sedikit membaik daripada saat Chan Yeol mengungkapkan bahwa ia akan segera menikah tadi.

Semenjak malam itu. Benar, malam dimana Hee Ra dan Chan Yeol menghabiskan waktu di sungai Han, tidak ada lagi pertemuan antara keduanya sampai sekarang. Sudah 3 hari dan Chan Yeol tidak pernah membalas pesannya, tidak pernah mengangkat telfonnya, dan tidak pernah membalas emailnya.

Sebenarnya ada apa dengan lelaki itu? Kenapa dia bersikap seperti itu? Apa gadis yang akan dijodohkan dengannya ternyata jauh lebih cantik dan menarik dari Hee Ra? Mengapa Chan Yeol bisa mengubah hatinya dengan begitu cepat? Jika memang dia seperti itu, seharusnya dari awal Chan Yeol tidak perlu berjanji untuk mencoba melepaskan diri dari perkawinan yang tinggal 4 hari lagi tersebut.

“Pria macam apa dia itu, seenaknya meninggalkan gadisnya seperti ini,” So Ra yang muncul bersama dengan setoples roti kering dan beberapa minuman bersoda langsung duduk di samping Heera, “lupakan saja dia, masih banyak pria yang mau padamu Shin Heera.”

Hee Ra menggeleng, “Aku tidak bisa melakukannya So Ra-ya.”

“Why?”

Hee Ra menaruh ponselnya, “I don’t know, I just can’t,” ia berhenti sejenak dan melihat jam dinding dalam rumah kecil yang ia sewa, “Aku harus pergi bekerja, kau mau pulang ke rumah atau tetap di sini?” sambungnya.

So Ra menggerutu kecewa. Ia baru saja mengambil makanan lalu Hee Ra sudah mengusirnya. Kenapa gadis ini benar-benar tidak mengerti sih?

Tapi pada akhirnya So Ra menyerah dan menutup kembali toples yang baru saja ia ambil kemudian berkacak pinggang, “Kau benar-benar tidak bisa melihatku senang, Shin Hee Ra,” protesnya.

Hee Ra meringis. Ia bukannya tidak ingin melihat So Ra senang, namun tubuh wanita itu sudah terlalu besar, dan jika ia terus-terusan makan seperti itu, maka entahlah apa yang akan terjadi padanya nanti.

Setelah merasa bahwa So Ra sudah siap untuk keluar rumah, Hee Ra buru-buru mengambil tas lengan kecil yang merupakan pemberian dari Chan Yeol ketika mereka sedang berjalan-jalan di Jeju. Melihat barang itu sama saja dengan melihat Chan Yeol bagi Hee Ra. Ya, setidaknya ia bisa menyembuhkan sedikit kerinduannya pada kekasihnya tersebut.

Setelah mengunci pintu dan melambaikan tangan pada So Ra yang baru saja melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah, Hee Ra menaikkan resleting jaketnya dan berharap bahwa hujan tidak turun malam ini. Ia khawatir jika nantinya harus menginap di cafe tempatnya bekerja karena satu-satunya payung yang ia miliki hilang entah kemana.

Jam menunjukkan pukul 6 dan itu berarti ia harus segera pergi sebelum bosnya marah dan memotong gajinya. Tentu saja, Mrs. Han adalah orang yang bisa langsung memotong gaji karyawan yang terlambat 1 menit saja atau bahkan memecatnya. Sungguh orang yang sangat disiplin.

Ketika kakinya baru saja melangkah sebanyak 3 kali, seseorang menepuk punggungnya dan betapa terkejutnya Hee Ra ketika mengetahui bahwa orang yang sedang berada di depannya sekarang adalah cucu dari orang yang pernah ia tolong dulu.

“Shin Hee Ra, menikahlah denganku!”

Jong In menggaruk kepalanya frustasi. Mendengar perkataan neneknya barusan benar-benar membuatnya ingin mengucapkan sumpah serapah begitu saja.

“Tapi nek..”

“Tidak ada tapi-tapian, keputusan nenek sudah bulat, jika kau benar-benar menginginkan harta warisan nenek maka kau harus berhenti berhubungan dengan kekasih sesama jenismu itu dan mendapatkan hati gadis yang telah menolong nenek tempo hari!”

Kim Eun Sang menutup sebagian tubuhnya dengan selimut dan berbalik membelakangi Jong In. Ia terpaksa bersikap seperti itu karena sudah tidak tahan lagi jika harus melihat satu-satunya cucu yang ia punya dan ia sayang harus menjalin hubungan dengan sesamanya.

Jong In sangat tampan dan berpendidikkan, tapi hatinya tidak. Ia terlalu polos dan bodoh karena memberikan hatinya pada Kyung Soo yang notabendnya adalah pria. Kim Sang Eun bahkan tidak sudi jika harus melihat wajah Kyung Soo.

Dulu saat Jong In pertama kali mengakui hubungannya dengan Kyung Soo di depannya, wanita itu hampir saja terkena serangan jantung dan meninggal. Gara-gara hal itu Eun Sang bahkan menolak untuk makan selama 2 hari.

“Tapi aku tidak mengenalnya nek,” Jongin memelas.

“Aku tidak perduli. Kau kan punya otak. Gunakan otakmu untuk menarik hatinya. Kau bisa dengan mudah menarik hati seorang pria, seharusnya kau bisa lebih mudah lagi untuk menarik hati seorang wanita bukan, Kim Jong In?”

Cukup sudah. Jong In tidak bisa mengelak perkataan Kim Eun Sang. Ia akhirnya memilih untuk mengalah dan melakukan apa yang wanita tua itu inginkan. Ia tidak bisa membiarkan jika seluruh harta keluarga Kim harus  di berikan pada panti asuhan dan akhirnya ia harus mulai bekerja dari nol.

Jong In menutup pintu kamar rawat Kim Eun Sang dan menatap Kyung Soo yang sedari tadi menunggu mereka di luar. Pria itu memasang wajah cemas ala seorang kekasih yang berada dalam drama-drama romantis.

“Kau tidak apa-apa kan?” tanyanya sembari mengelus pelan lengan Jong In.

Jong In menggeleng dan memandangi lengan mungil pria itu lalu melepasnya, “Aku tidak apa-apa.” Ia tersenyum dan menjauhkan tangan Kyung Soo, “Aku ada urusan, kau bisa pulang sendiri kan?”

Kyung Soo mengangguk, “Baiklah. Jika kau sudah selesai, hubungi aku ya, sayang.”

Setelah mengucapkan kalimat barusan, Kyung Soo mencium sekilas pipi Jong In karena takut jika ada orang yang melihat mereka dan kemudian bergegas untuk pergi dari Rumah Sakit. Sedangkan Jong In sedang memikirkan cara untuk menemukan siapa dan di mana gadis itu berada.

Ia sama sekali tidak tahu menahu soal gadis yang menolong neneknya beberapa waktu lalu. Namun tiba-tiba otaknya mendapat ide. Kenapa ia tidak langsung tanya pada bagian administrasi Rumah Sakit? Bukankah saat itu yang membayar operasi neneknya adalah gadis itu? Benar sekali. Kau memang cerdas Kim Jong In.

Jong In buru-buru berjalan ke bagian administrasi dan menyuruh suster di sana untuk mencari nama gadis yang membayar operasi neneknya. Awalnya sang suster sempat menolak, namun dengan alasan untuk membalas budi, akhirnya suster itupun lunak dan memberikan data diri gadis tersebut pada Jong In.

Namanya Shin Hee Ra, tinggal tidak jauh dari Sungai Han, dan Jong In harus segera menemui gadis itu lalu membuatnya tertarik dan mendapatkan harta warisan dari neneknya.

Lalu bagaimana dengan Kyung Soo? Entahlah. Jong In belum memikirkan orang itu sekarang. Ia pasti bisa mendapatkan alasan untuk menjelaskan semuanya pasa Kyung Soo nanti. Lagipula harta itu juga untuk Kyung Soo kan?

Ia buru-buru menyuruh sopirnya untuk pergi ke alamat yang diberikan oleh suster barusan. Rasanya aneh jika ia harus mencari gadis yang bahkan ia tidak sempat menamati seperti apa wajahnya. Yang Jong In ingat hanyalah, Shin Hee Ra memiliki rambut panjang dan berponi, selebihnya ia tidak ingat sama sekali. Bahkan wajah gadis itu pun terbayang samar di benak Jong In. Ia benar-benar tidak tahu seperti apa dia.

Mobil tersebut berhenti di samping sebuah rumah kecil berpagar kuning dan nampak tenang. Jong In bisa melihat seorang gadis baru saja keluar dari rumah tersebut. Jika dilihat dari rambutnya, sepertinya ia adalah Shin Hee Ra.

Sepertinya gadis itu akan pergi. Jong In tidak bisa tinggal diam, ia berjalan mengikuti Hee Ra dari belakang dan berteriak dengan bodohnya, “Shin Hee Ra, menikahlah denganku!”

Bodoh! Jong In bodoh, bagaimana bisa ia mengucapkan kalimat tersebut secepat ini? Dasar bodoh.

 

TO BE CONTINUED

Iklan

286 pemikiran pada “Forbidden Love Part I

  1. Reader baru salam kenal thor.___.

    Ga nyangka kyungso sama kai wkwk
    Aku pikir kyungsoo orang ketiga yang suka sama hyera xd
    Keren thor…
    Baru chapter satu jadi belum banyak berkomentar xd
    Btw konfirm Apinkej ya min :v

  2. Kyaaaa. Jangin error, ngajakin mikah diaaa… Muuuuuuuuu, hahaha
    Kaget pas liat kaisoo hahTapi ga akan bertahan kan thorr? anti yaoi soalnyaa , hahahah

    Next chapt izin bacaaaaaa . 😌😉😉

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s