[BTD; Tao Version] Second


second

 

 

Title : [BTD; Tao Version] Second

Author : Heena Park

Lenght : Oneshoot

Main Cast :

-Huang Zi Tao

-Kwon Sena

-Other

Ratting : PG-13

Genre : Romance, Friendship

Recommended Song :

-Not Alone [Zhang Liyin]

-Back To December [Taylor Swift]

-White Night [Nell]

Author Notes :

Halllu! Mungkin udah ada yang nunggu kelanjutan Back To December The Series ? [ gak ada ] Wkwk. Kali ini sesuai dengan BTD versi Kai kemarin yang ada Tao nyempil dikit/? Jadi kali ini aku bikin BTD yang versi Tao deh. Enjoy ya ^^

SECOND ©2014

 

Pernah mendengar seseorang berkata bahwa manusia memiliki kembaran paling tidak tujuh orang? Jika iya, maka menemukan dan mencintaimu karena seseorang di masa lalu-ku bukanlah suatu kesalahan bukan?

 

 

*****

Sudah hampir tiga jam Tao menemani Jongin yang sedang memandang Heera dalik balik kaca Rumah Sakit Jiwa sambil sesekali menarik napas berat dan menghembuskannya dengan lemas. Tao berdiri dan menepuk pundak Jongin pelan, bukannya apa, tapi ia tidak bisa terus-terusan menemani Jongin untuk mengamati gadis yang ia cintai tersebut, Tao masih memiliki kehidupan sendiri yang harus ia urusi.

“Kau yakin tidak ingin pulang?” Tao bertanya untuk memantapkan dirinya

Mendengar pertanyaan Tao, Jongin dengan cepat menengok dan menggelengkan kecil kepalanya , “Pulanglah jika kau mau.” Jawabnya dan sedetik kemudian telah mengembalikan pandangannya pada Heera.

Tao mengela napas panjang, ia merasa bahwa sahabatnya tersebut sudah seperti boneka yang terus-terusan menunggu ketidak pastian. Ini bukanlah hal yang aneh karena pada kenyataannya Jongin sedang menunggu gadis yang ia cintai untuk sembuh dan hidup bahagia. Sungguh keinginan yang indah bukan?

“Baiklah..” Tao merogoh ransel hitam miliknya dan mengeluarkan sekaleng minuman soda lalu melemparkan itu tepat di tangan Jongin, “minumlah sebelum kau kehausan.” Sambungnya yang dibalas senyuman kecil di bibir Jongin.

Setelah memberikan sekaleng minuman tersebut, Tao cepat-cepat berbalik dan berjalan ke halte bus sebelum kehabisan bus malam ini. Ia tentu tidak ingin jika pada akhirnya harus berjalan sejauh 40 kilometer untuk sampai di rumahnya.

Ia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini sedikit tertular penyakit Jongin. Ah tidak, bukan penyakit. Melainkan kebiasaan baru Jongin, yaitu menjadi lebih pendiam—Jika Jongin menjadi pendiam karena Heera, maka Tao menjadi pendiam dikarenakan rindu akan kasih sayang seseorang di masa lalunya. Melihat Jongin yang begitu setia pada Heera dan rela memberikan apapun asal gadis itu bisa kembali sehat membuat Tao teringat pada pengorbanan besar seorang wanita untuknya.

Namun itu hanyalah masa lalu, tidak baik bagi Tao untuk terlalu mengingatnya. Lagipula hidup harus tetap berjalan apapun yang terjadi. Tiba di perempatan jalan, matanya melihat seorang gadis berkaos putih dan celana jeans biru tua sedang berjalan santai, sepertinya ia hendak menyeberang jalan. Namun gadis itu tidak menengok ke kanan dan ke kiri, ia langsung berjalan begitu saja. Tao yang terkejut segera menengok dan mendapati sebuah truck sedang menuju ke arah gadis itu dengan kencang.

Cepat-cepat Tao berlari dan menarik gadis itu dalam pelukkannya kemudian kedua kakinya mendorong kedua tubuh itu untuk melompat jauh ke sisi jalan sehingga mereka selamat dari badan truck yang hendak menabrak keduanya.

Ternyata gadis tadi menggunakan earphone sehingga ia tidak sadar jika ada truck yang berjalan ke arahnya, untung saja mereka tidak apa-apa dan hanya terluka kecil akibat bergesekkan dengan badan jalan.

“Ya Tuhan, apa kau tidak apa-apa tuan?” Ujar gadis itu yang secara spontan menarik lengan Tao di atas tangannya.

Tao menggeleng pelan sambil meringis, “Tidak, aku tidak apa-apa, kau tidak perlu mengkhawatirkanku.” Jawabnya pelan

Gadis itu menghela napas panjang lalu menaikkan wajahnya sehingga poni panjang yang semula menutupi mukanya jatuh terurai dengan indah. Dan begitu melihat wajah sang gadis, ekspresi Tao yang semula meringis kesakitan kini berubah kaget. Pikirannya seolah-olah terbang dan apakah ini nyata? Tidak mungkin.

“Tuan, kau benar – benar tidak apa-apa kan? Apa ada yang sakit?” Tanya gadis itu lagi karena mendapati mulut Tao yang sedang ternganga kecil.

“Natasha..?”

“Maaf ?”

Tao menggeleng cepat, ia mencoba mengembalikan pikirannya yang tidak mungkin pernah terwujud. Tidak mungkin gadis ini adalah Natasha, “Tidak, tidak apa-apa.” Gumamnya meyakinkan.

“Baiklah..” Ia berhenti sebentar dan menarik lengan tangan Tao untuk membantunya berdiri sebelum ada kendaraan lain lagi. Tao yang terkejut karena sentuhan gadis di depannya barusan awalnya hanya diam saja, namun setelah gadis itu menaikkan alis kanannya ia baru mengerti bahwa gadis itu ingin membantunya berdiri sehingga ia cepat-cepat bangkit dari duduknya.

“Kau yakin tidak apa-apa?” Tanyanya lagi karena belum yakin bahwa Tao baik-baik saja

“Tentu saja.”

“Syukurlah…” Ia mengamati Tao sebentar dan membungkuk sembilan puluh derajat, “aku benar-benar berterimakasih atas yang kau lakukan tadi tuan..”

“Panggil saja aku Tao.”

Ia mengangguk, “Ah ya, terimakasih Tao-ssi…aku tidak tahu apa jadinya jika kau tidak ada tadi.”

Tao hanya memandang gadis itu dengan tatapan tak mengerti, ia bukannya tidak mendengarkan perkataan terimakasih dari gadis di depannya, namun otaknya masih berpikir. Bagaimana mungkin gadis ini bisa sangat mirip dengan wanita di masa lalunya? Apakah ini hanya ilusi?

 

*****

 

 

“Aku mengerti ibu, sudah dulu ya sepertinya paman tadi memanggilku.” Ucapnya kemudian memencet tombol ‘end’ pada layar ponselnya dan kemudian bangkit dari ranjang menghampiri paman Ying.

“Kenapa lama sekali kau ini? Sekarang cepat antarkan barang-barang ini ke alamat yang ada di kertas.” Gumamnya sambil memberikan secarik kertas bertuliskan alamat pembeli.

Tao mengangguk pelan dan langsung mengangkat dua buah kardus yang ada di lantai, “Paman, bolehkah aku pergi latihan setelah mengantar ini?” Tanyanya

Paman Ying tertawa renyah, “Tentu saja boleh, kau bersikap seperti anak kecil saja.” Balasnya

Tao hanya tersenyum tipis melihat pamannya, ia juga tidak mengerti kenapa bertanya seperti tadi. Biasanya ia akan pergi begitu saja jika ingin latihan tanpa pamit kepada paman atau bibinya.

Selepas menaruh kardus tersebut dan menalinya dengan kencang, Tao segera menancap gas dan pergi menuju alamat yang dimaksud.

Motornya berjalan pelan menyusuri pertokoan yang terletak sekitar 30 km dari rumahnya. Ia berhenti disebuah Restaurant sederhana yang menjual ramen. Terlihat seorang wanita sedang menyiram tanaman di depan Restaurant, tubuhnya membelakangi Tao sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita tersebut.

Ia hendak menghampiri wanita yang sedang membelakanginya tadi, namun sebelum sempat berjalan ke arahnya, dua orang pria telah terlebih dahulu datang dan menendang tanaman yang baru saja di siram oleh wanita itu. Secara refleks wanita itu menaikkan wajahnya dan ketakutan, dan betapa terkejutnya Tao begitu mengetahui bahwa wanita yang sedang ketakutan itu sama dengan wanita yang kemarin ia selamatkan.

Tanpa pikir panjang Tao langsung menghampiri wanita itu dan membantunya berdiri, kedua matanya menatap tajam dua orang pria yang terlihat marah.

“Apa yang kalian lakukan?!” Teriak Tao

“Bocah sepertimu tahu apa? Gadis ini belum membayar pajak berjualan di wilayah kami!” Balas dua orang bertampang seram yang tadi menghancurkan tanaman milik gadis di samping Tao

“Setahuku tempat ini adalah miliknya dan kau tidak berhak meminta uangnya.”

“Sialan kau!”

Tiba-tiba kedua orang itu menyerang Tao dan memukulinya tanpa henti dan bersamaan, Tao yang tak menyangka bahwa orang-orang itu akan menyerangnya segera berusaha untuk menyelamatkan diri.

 

 

*****

 

“Ahh.. apakah tidak bisa lebih pelan sedikit?” Gerutu Tao sambil meringis merasakan obat yang beberapa kali di oleskan pada kulitnya oleh gadis yang ia tolong tadi.

“Ini sudah sangat pelan Tao-ssi.” Jawabnya lembut

Tao terkekeh, “Kau masih ingat namaku?”

“Aku bukanlah tipe gadis yang melupakan seseorang yang telah membantuku, apalagi sudah dua kali kau membantuku.”

Tao hanya tersenyum tipis mendengar jawaban gadis di sampingnya, tiba-tiba terbesit di benaknya untuk menanyakan siapakah nama gadis ini. Gadis yang sangat mirip dengan seseorang di masa lalunya sehingga membuat Tao merasa terpanggil untuk melindunginya.

“Siapa namamu?” Tanya Tao yang kini telah memandang tepat ke dalam mata gadis di sampingnya

Pandangan Tao membuatnya sedikit risih, ia berdehem kecil dan menjawab, “Kwon Sena, kau bisa memanggilku Sena.” Balasnya lalu kembali mengobati luka pada kulit Tao sebelum terinfeksi.

 

****

 

Sudah 1 jam semenjak latihan usai dan Tao masih duduk menyandar pada dinding sambil memandangi foto seorang gadis berambut panjang yang sedang tersenyum lebar di balik meja kasir, sesekali Tao tersenyum dan kembali terfokus pada foto itu. Sebenarnya ini sudah sedikit gila karena Tao sempat mengambil gambar Sena secara diam-diam, bukanya apa, namun semenjak melihat Sena untuk pertama kalinya ada dua hal yang terlintas dalam pikiran Tao. Yang pertama adalah Sena sangat mirip dengan Natasha, dan yang kedua adalah, Tao tanpa syarat jatuh cinta padanya dengan semudah itu.

 

*****

 

Sena berkacak pinggang di pinggir jembatan lalu menopang tubuhnya dengan kedua tangannya yang  ia tempatkan pada palang jembatan. Celana jens biru tua, kaos lengan panjang dan sebuah topi bundar nampak indah melekat pada tubuh langsing Sena. Sebenarnya hari ini ia ada janji dengan Tao untuk menraktir pria itu karena telah menolongnya sebanyak dua kali.

Tidak perlu waktu lama, Sena bisa melihat Tao sedang berjalan ke arahnya dengan kedua tangan yang diselipkan dalam jaket kulit coklatnya. Tentu saja Sena langsung menautkan kedua ujung bibirnya sehingga membentuk senyuman yang sangat menawan, dan Tao suka melihat itu.

“Jadi kau pergi ke toko pamanku dan meminta nomor ponselku hanya untuk mengajakku makan siang?” Sungguh, sebenarnya Tao hanya bercanda dengan pertanyaannya.

Sena memajukan bibirnya, “Setidaknya aku sudah berusaha untuk membalas kebaikkanmu, walaupun hanya sekedar makan siang saja.”

Tao tertawa “Aku tidak tahu mengapa kau tidak mengajakku makan ramen di Restauranmu saja. Kau kan menjual ramen.” Jawabnya ringan.

Sena hanya tertawa masam. Benar sekali, kenapa ia tidak mentraktir pria ini makan ramen di tempatnya saja, lagipula Tao sendiri yang memberikan ide seperti itu.

“Ah, benar juga, kalau begitu aku akan menraktirmu makan ramen sepuasnya di tempatku, asal jangan terlalu banyak saja.”

“Haha, baiklah Kwon Sena, kau bisa pegang itu.” Jawab Tao sembari mengedipkan sebelah matanya dan kemudian menggenggam tangan Sena sehingga gadis itu hampir saja melompat terkejut.

 

*****

 

Kedua mata lentik itu masih belum bisa terpejam, jauh di dalam benak Sena, ia masih memikirkan perkataan Tao yang tanpa ada angin dan hujan melamar untuk menjadi pelayan di Restaurant-nya. Lagipula ia dan Tao baru saja kenal dan terasa aneh jika Sena menerima permintaan Tao tersebut.

Namun di sisi lain Restaurant ramen miliknya memang membutuhkan pelayan baru karena ia tidak bisa membiarkan ibunya yang sudah tua untuk bekerja seberat itu, apalagi sang ibu kerap mengeluh sakit punggung yang semakin membuat Sena merasa bersalah. Sepertinya menerima Tao untuk bekerja di tempatnya bukanlah hal yang buruk. Entah kenapa Sena merasa percaya pada Tao, ia yakin bahwa Tao adalah pria yang baik. Bukan hanya karena mengacu pada kenyataan dimana Tao telah menyelamatkannya sebanyak dua kali, namun juga dengan melihat tatapan Tao yang terasa sejuk dan tulus. Ia belum pernah melihat tatapan pria setulus itu, hanya saja, di setiap ketulusan dari Tao, Sena merasa ada sesuatu yang mengganjal di antara mereka, entah itu apa.

Setelah benar-benar merasa yakin pada keputusannya, akhirnya Sena menyerah dan meraih ponsel bewarna putih di meja samping tempat tidurnya. Ia men-scroll layar dan mencari nama Tao dalam daftar kontaknya kemudian berusaha merangkai kata yang tidak muluk namun juga tidak terlalu menyepelekan untuk menerima Tao menjadi pelayan baru di Restaurantnya.

 

Send To : Tao

“Ku harap aku tidak mengganggu tidurmu hanya untuk menyampaikan ini, karena pada akhirnya aku menyerah dan memilih untuk menerimamu menjadi pelayan di Restaurantku. Ku harap besok kau datang tepat waktu. Pukul 3 tepat! Ingat itu”

 

*****

 

Tao berkaca sambil tersenyum simpul melihat dirinya memakai pakaian pelayan Restaurant bewarna abu-abu dan putih bersih yang baru saja ia dapatkan. Di sisi lain terlihat Sena sedang mengikat rambutnya kemudian menutupnya dengan topi bewarna putih yang membuat Tao benar-benar tak menyangka bahwa Sena sangatlah mirip dengan Natasha. Tangannya merogoh saku dan mengambil dompet kemudian membukanya, terselip foto seorang gadis berambut coklat yang sedang tersenyum lebar dengan baluatan syal dan topi musim dingin—Natasha.

Dengan adanya Sena di sini membuat Tao merasakan kehadiran Natasha untuk yang kedua kalinya, setiap kali memandang foto Natasha dan kemudian beralih pada Sena, ia selalu merasa bahwa ada semacam ikatan antar keduanya. Ada sebuah takdir dimana Tuhan mungkin telah menggariskan bahwa Sena datang sebagai pengganti Natasha baginya, bagi hidupnya.

Setelah merasa cukup, Tao bergegas mengembalikan dompet itu pada sakunya dan menghampiri Sena yang sudah bersiap di balik meja kasir diiringi dengan senyumnya yang khas.

“Jadi, bisakah aku bekerja sekarang?” Tanya Tao basa-basi

Sena mengangguk dan memasangkan papan nama di baju Tao “Kau sudah bisa mulai bekerja setelah aku memasangkan ini untukmu, Tao-ssi.” Jawabnya ringan lalu mengedipkan sebelah matanya “Baiklah Huang Zi Tao, berhentilah memandangiku mesum seperti itu dan cepat bekerja sebelum aku memecatmu.” Canda Sena.

Tao memalingkan wajahnya ke samping dan menunjukkan barisan gigi putihnya dalam senyum manis miliknya “Kau bisa membuatku tergila-gila padamu jika terus-terusan melakukan hal itu padaku.” Gumamnya tidak jelas

“Apa?”

“Tidak.” Balasnya yang disertai gelengan kepala penuh arti.

 

*****

 

Sudah Seminggu semenjak Tao menjadi karyawan di Restaurant milik Sena dan mau tidak mau merekapun menjadi semakin dekat. Sering mengobrol basa-basi, makan siang bersama dan bahkan tanpa segan seringkali Tao mengantarkan Sena untuk berangkat ke salah satu Universitas tempat sena menuntut ilmu.

Kedekatan mereka seringkali membuat pelayan lainnya berpikir bahwa ada semacam hubungan yang disembunyikan oleh keduanya, namun ketika ditanya tentang itu, mereka hanya tertawa dan melambaikan tangan.

Malam ini nampaknya langit lumayan mendung, tentu saja, ini adalah bulan Desember. Cuaca dingin seakan-akan menggenggam tubuh Sena sehingga ia menggigil dan sempat beberapa kali menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya dengan mulut.

Tao yang tidak sengaja melihat Sena sedang kedinginan di sebuah tempat duduk tepat di depan Restaurantnya-pun menghampirinya sambil membawa jaket kulit coklat yang sering ia gunakan kemanapun ia pergi.

“Hanya gadis bodoh yang membiarkan tubuhnya menggigil kedinginan.” Tao memakaikan jaketnya pada tubuh langsing Sena lalu duduk disampingnya.

Sena menengok memandang Tao yang kini telah berada tepat di sampingnya, “Hanya pria idiot yang mengikuti gadis bodoh untuk menggigil kedinginan di tempat seperti ini.” Balasnya tidak mau kalah.

“Namun lebih idiot lagi jika seorang pria melihat gadis sedang kedinginan dan ia hanya diam saja tanpa membantu sedikitpun.”

Sena menghela napas panjang dan kembali menatap lurus ke depan, “Baiklah, aku kalah Tao-ssi.” Ungkapnya.

Tao berdehem, “Apa yang sedang kau lakukan di tempat seperti ini?”

“Hmm…” Sena berhenti sebentar dan menyilangkan kedua kakinya, “aku selalu merasa damai jika duduk di sini, rasanya seperti terbawa angin, seperti terbebas dari segala macam persoalan hidup.”

“Akupun begitu..”

“Maksudmu?” Sena tak mengerti akan perkataan Tao barusan.

Mengetahui bahwa Sena sedang bertanya-tanya akan apa yang sedang ada dalam pikirannya, Tao berbalik dan menatap Sena, kemudian kedua tangannya meraih tangan Sena dan menggenggamnya erat.

“Aku tidak akan mengatakan bahwa aku menyukaimu karena pada kenyataannya perasaanku padamu masih sulit untuk dimengerti, ditambah lagi kita masih sebagai dua orang asing yang secara tidak sengaja bertemu dan berlanjut seperti ini. Kau mungkin merasa bingung karena perasaanku yang terasa berbeda padamu hanya dalam waktu Seminggu. Namun pada intinya, aku ingin melindungimu, dan aku berjanji soal itu, Kwon Sena.”

Suaranya tergagap, Sena tidak tahu harus membalas perkataan Tao bagaimana. Ia benar-benar tidak menyangka jika Tao akan berkata seperti itu. Ini terlalu cepat baginya, namun tidak, sebenarnya Tao tidak mengungkapkan perasaannya secara terbuka, ia hanya berkata bahwa ada sesuatu yang berbeda, dan itu sudah cukup membuat Sena merasa gemetar karena pada kenyataannya Sena juga merasakan hal yang sama pada Tao. Sesuatu yang berbeda namun sepertinya tidak bisa di artikan sebagai perasaan cinta.

Tao mendekatkan bibirnya secara perlahan pada kening Sena. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, penuh perasaan dan ketenangan disertai bayang-bayang tentang Natasha yang terkadang masih terlintas dibenaknya, hingga akhirnya bibir yang dingin itu benar-benar menempel pada kening wanita di sampingnya.

Sena tidak menolak, ia hanya menutup mata dan membiarkan bibir Tao mengecup keningnya. Suatu hal yang tidak pernah ia lakukan selama hidupnya bersama pria lain dan Tao adalah yang pertama.

 

*****

 

Sepertinya cuaca semakin buruk dan hujan yang tidak menentu datangnya membuat Sena kerempongan harus membawa payung ataupun jas hujan kemanapun dia pergi, tapi sialnya saat ini, disaat ia harus kembali dari kampus dan hujan lebat yang tiba-tiba saja turun, Sena malah tidak membawa kedua barang tadi sama sekali.

Ia berjongkok di lantai kampus dan berharap agar hujan segera reda, ia tidak ingin ibunya mengurus Restaurant terlalu lama, ya walaupun mereka memiliki beberapa pelayan, namun sebagai pemilik, ibu Sena selalu ingin turun tangan menghadapi konsumen.

Terlintas di pikirannya untuk menghubungi Tao dan meminta pria itu menjemputnya, namun dalam keadaan seperti ini apakah Tao mau untuk melakukannya? Lagipula hujan sangat deras dan angin yang bertiup cukup kencang pasti membuat seseorang harus berpikir dua kali untuk keluar rumah.

“Aku baru tahu bahwa kau benar-benar bodoh.”

Sena menengok setelah mendengar kalimat berusan. Matanya melebar begitu melihat Tao sudah berdiri di sampingnya sambil memegang sebuah payung besar dan menyodorkan jas hujan bewarna hijau padanya.

“Ibu sangat khawatir, ia berjalan kesana-kemari karena anak gadisnya sedang terjebak hujan tanpa membawa payung ataupun jas hujan. Lagipula, kau ini bagaimana sih? Sudah tahu musim dingin, kenapa tidak membawanya hah?” Omel Tao yang terdengar seperti seorang wanita.

Sena mengerucutkan bibirnya, “Aku lupa membawanya..” Ia bangkit dan menerima jas hujan yang di ulurkan oleh Tao, “Dan aku juga baru sadar bahwa kau ternyata lebih cerewet dari ibuku.” Ledeknya yang kemudian secepat mungkin memakai jas hujan tersebut lalu berjalan mendahului Tao.

“Ya! Kwon Sena!” Teriak Tao yang ditinggalkan oleh Sena begitu saja. Ia berlari mengejar Sena lalu berjalan menyeimbangi gadis itu, “Kau ini benar-benar… Ahhh.”

Ucapan Tao terpotong saat Sena tiba-tiba berbalik dan mencium bibirnya secara tidak terduga. Matanya membulat dan terpaku karena kelakuan gadis di depannya. Tangan Sena yang masih memegang kedua pipinya dan bibir yang hanya saling bersentuhan itupun mampu membuat Tao tak berkutik selama beberapa waktu.

Payung yang ia genggam bersama dengan dompetnya-pun terjatuh di tanah. Sena yang tidak sengaja melihat dompet Tao terbuka begitu terkejut dan langsung menghentikan kegiatannya. Ia berjongkok dan mengambil dompet Tao kemudian memandangi foto seorang gadis berwajah mirip dirinya sedang berfoto dengan Tao sambil membuat Love sign.

“Kwon Sena..” Tao berusaha mengambil dompetnya dari tangan Sena, namun gadis itu tidak memberikannya dan mendorong Tao untuk menjauh darinya.

“Jadi ini alasannya?”

“Ku mohon, kau tidak mengerti Kwon Sena.”

Sena mengangguk setuju dan mengembalikan dompet itu kepada Tao. Ia menggigit kecil bibir bawahnya dan matanya perlahan memerah—sembab—Sena menahan tangisnya, “Kau memang benar. Aku tidak mengerti. Tapi itu dulu, dan sekarang aku telah mengerti. Kau bersikap manis padaku karena aku mirip dengan orang di foto itu kan?!”

“Aku benar-benar tidak seperti itu Kwon Sena!”

“Tapi kau seperti itu, aku benar-benar menyesal telah menaruh harapan padamu..” Suaranya semakin kecil dan mulailah terdengar isak tangis yang sudah tidak bisa ia tahan lagi, ini terlalu mengejutkan dan menyakitkan bagi Sena, “Kau dipecat dan jangan pernah menemui aku lagi, Tao-ssi.”

Begitu mengucapkan kalimat barusan, Sena berbalik dan berjalan meninggalkan Tao yang berulang kali memanggil namanya. Ia ingin berhenti, namun hatinya sakit. Ia benar-benar merasa sebagai cadangan bagi Tao. Seorang pengganti dari gadis yang berada di foto tadi. Dan itu sangat menyakitkan.

 

*****

 

Kaleng berisi soda yang sekiranya tinggal setengah itu di goyang-goyangkan oleh seorang gadis yang sedari tadi hanya diam dan melamun di ujung kelas dengan pandangan kosong dari balik jendela kaca kampusnya. Kelakuannya terbilang aneh beberapa hari ini, tidak napsu makan, hanya berkata seperlunya—tidak—ia hanya berkata sedikit, dan bahkan sangat sedikit.

“Well, sampai kapan kau akan terus bersikap seperti mayat hidup, hm?”

Baekhyun—Seorang pria manis yang berusia dua tahun di atas Sena duduk tepat di depannya sambil menarik kaleng soda tersebut dari tangannya.

Sena menggeleng dan menggerutu lalu merebut kaleng soda itu kembali padanya, “Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kau katakan.” Jawabnya singkat.

Baekhyun tersenyum dan mengacak-acak rambut Sena, “Come on, I know you miss him“

“Ahh..”

“Right?”

“No, I’m not.”

Baekhyun bangkit dan menarik tubuh Sena untuk berdiri tepat di depannya, kedua tangannya menepuk pundak Sena dan menatap mata gadis itu dalam-dalam.

“Kau harus menemuinya, aku tahu perasaanmu.”

Sena menggeleng, “Aku tidak punya alasan untuk itu.”

“You will never find a reason when love someone, it’s because a true love comes with no logical reason.”

“But..”

“Kwon Sena.”

Sena menggaruk-garuk kepalanya dan melepaskan kedua tangan Baekhyun dari pundaknya, “Aku benci berbicara dengan orang pintar sepertimu sehingga membuatku kalah.”

“Hahaha, kau hanya membuat alasan Kwon Sena.” Gumam Baekhyun disertasi tawa.

“Sudahlah, lebih baik aku pulang saja, lagipula sekarang sudah pukul lima sore.” Ujarnya untuk mengalihkan pembicaraan.

Baekhyun yang tidak menyadari bahwa Sena sedang mengalihkan pembicaraanpun segera menawari tumpangan bagi gadis itu dan langsung di iyakan oleh Sena tanpa basa-basi. Lagipula mereka sering pulang bersama sebelumnya, dan kegiatan itu sempat terhenti beberapa kali ketika Tao menjemput Sena dulu.

Mobil yang dikendarai Baekhyun berjalan tidak terlalu cepat, Sena yang mulai merasa bosan akhirnya memilih untuk menyalakan LCD TV pada mobil pria itu, karena sungguh, sebenarnya ia lebih suka untuk pulang menggunakan motor, sama seperti saat Tao menjemputnya dulu—Benar, dulu.

Ia menggonta-ganti channel karena tampaknya sinyalnya tidak terlalu bagus dan yang ia benci adalah sinyal TV tersebut menjadi sangat bagus di acara berita sehingga mau tidak mau hanya itulah yang bisa ia tonton.

“Ya, Kwon Sena berhentilah bersikap seperti anak kecil.” Gumam Baekhyun yang sesekali melirik Sena sedang mengerucutkan bibirnya.

Sena hanya bergumam kecil, “Aku kan dua tahun lebih muda darimu.”

 

‘Terjadi kebakaran besar di daerah Myoengdong yang sampai sekarang…..’

 

Kepala Sena langsung berputar begitu mendengar berita tentang kebakaran di daerah Myeongdong, matanya membelalak begitu teringat bahwa Tao tinggal di daerah itu. Ia buru-buru meminta kepada Baekhyun untuk berputar arah dan pergi ke Myeongdong sebelum semuanya terlambat.

Sebisa mungkin Baekhyun melajukan mobilnya dengan cepat, suara rengekkan Sena disampingnya benar-benar membuat Baekhyun frustasi. Ia benar-benar tidak mengerti akan jalan pikiran Sena. Namun ia tahu satu hal yang pasti benar, Sena mencintai Tao.

Ia berharap bahwa kisah cinta khas anak muda labil ini tidak berakhir tragis selayaknya di film-film dimana pada akhirnya Sena harus kehilangan Tao karena kebakaran ini.

Mereka berhenti tepat di depan polisi yang menghadang jalan, tanpa permisi Sena langsung keluar dari mobil dan menerobos empat polisi yang sedang bertugas tersebut. Baekhyun yang berusaha mengikuti Sena harus menelan rasa kecewa karena ketika ia tidak bisa menerobos pala polisi tersebut.

Sedangkan kini Sena sedang berlari secepat mungkin, ia merasa aneh dengan tempat ini karena kini kanan dan kiri hanya terlihat kobaran api yang panas dan besar. Ia tidak bisa menemukan dimana rumah Tao. Terlebih lagi ia harus melihat beberapa polisi dan pemadam kebakaran yang sibuk mengangkat korban jiwa dengan luka bakar di tubunya.

Bahkan ada juga korban jiwa yang hampir seluruh tubuhnya telah melepuh dan tidak terselamatkan lagi, ia sangat takut jika Tao berada di antara kumpulan korban jiwa tersebut. Ia tidak mau hal itu terjadi.

Matanya tiba-tiba mendapati nama toko Tao yang berjarak tidak jauh darinya, segera ia berlari ke sana dan menerobos kumpulan orang-orang yang sedang mencoba memadamkan api tersebut bersama dengan pemadam kebakaran yang silih berdatangan.

Tiba-tiba tubuhnya tersenggol seseorang berbaju oranye, yang tidak lain adalah seorang pemadam kebakaran. Wajah pemadam itu kelihatan sangat bingung sehingga membuat jantung Sena semakin tidak karuan.

“Apa yang terjadi pak?” Tanya Sena.

“Seseorang terjebak di dalam sana dan tubuhnya terbakar, namun api sudah begitu besar sehingga tidak memungkinkan bagi kami untuk masuk dan menyelamatkannya.” Ujar pemadam tersebut sambil menunjuk rumah Tao dengan jari telunjuknya

“Tao…” Perlahan cairan bening membasahi wajah Sena, ia tidak bisa membayangkan jika nantinya tubuh Tao ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa dan bernasib seperti orang-orang yang ia lihat tadi. Wajahnya yang sudah rata bahkan hilang. Sena tidak ingin hal itu terjadi.

“Aku harus menyelamatkannya!” Ujarnya yang tidak lama kemudian berlari untuk masuk ke dalam kobaran api, namun dengan sigap para pemadam tersebut menahan Sena dengan kencang karena apa yang dilakukan oleh Sena ini sangat berbahaya.

“Ku mohon lepaskan aku! Aku harus menyelamatkan Tao di dalam sana!” Teriaknya semakin tidak jelas bersamaan dengan air matanya yang terus mengalir.

“Nona, kau tidak bisa masuk ke sana, kau bisa mati.”

“Aku tidak perduli, aku harus menyelamatkan Tao!”

Sena semakin meronta-ronta, lengan bajunya sobek karena para pemadam itu mencoba menahannya. Ia masih belum berhenti, berkali-kali Sena mencoba melepaskan diri. Samar-samar ia bisa melihat kobaran api kecil berjalan keluar dari rumah dan membentuk seperti badan seseorang. Tangisannya semakin kencang begitu orang dengan api itu terjatuh begitu saja. Dan saat itu pula para pemadam melepaskan Sena dan berlari ke arah orang tadi lalu mengguyur air di tubuhnya.

Sena terjatuh di tanah, ia tidak sanggup jika harus melihat Tao sudah pergi. Ia tidak sanggup melihat keadaan Tao yang terbakar tersebut. Ia benar-benar menyesal karena tidak mendengarkan penjelasan Tao beberapa hari yang lalu.

“Tao-ssi…” Isak Sena sambil menggaruk tanah. Hatinya terasa sakit. Ia tidak pernah berpikir jika harus kehilangan Tao secepat ini, ia belum sanggup untuk mengenang Tao dan tidak bisa memeluknya, tidak bisa menatap matanya.

Seharusnya Sena bisa melindungi Tao seperti pria itu melindunginya. Seharusnya ia bisa menyelamatkan Tao seperti pria itu menyelamatkannya. Namun semua sudah terlambat. Sena tidak bisa melakukan semua itu karena pada kenyataannya dirinyalah yang selalu dilindungi Tao.

“Kwon Sena..”

Jantungnya terasa berhenti berdetak, telinganya mendengar suara serak seorang pria. Dengan perasaan tak menentu Sena memutar kepalanya dan mengangkatnya perlahan ke atas. Oh God…

Sena menelan ludahnya dengan susah payah, matanya terpaku pada sosok pria yang kini sedang berdiri di depannya sambil menyunggingkan senyum teduh dan wajah yang terlihat kotor juga bajunya yang sobek pada beberapa bagian.

“Maafkan aku Kwon Sena, aku ti..”

Sena tidak mendengarkan perkataan pria itu dan langsung menghambur untuk memeluknya. Kedua lengannya memeluk pria itu dengan begitu erat seakan-akan tidak ingin melepasnya lagi.

“Aku tidak perduli Tao-ssi, kau mau menganggapku sebagai pengganti gadis di foto dalam dompetmu atau apapun itu, aku tidak perduli asalkan kau selalu ada di dekatku.” Ujar Sena terisak.

Tao semakin mengembangkan senyumnya dan kemudian mencium ujung kepala Sena sebentar lalu melepaskan Sena dari pelukkannya dan memegang kedua pundak gadis itu, “Aku tidak pernah menganggapmu sebagai gadis di dalam foto itu. Kau adalah Sena dan dia adalah Natasha. Dan aku jatuh cinta kepada Sena, jauh lebih besar dari cintaku kepada Natasha, dan ku harap kau mengerti itu.” Jelas Tao dan sedetik kemudian kembali menenggelamkan Sena dalam pelukkannya.

“Promise me you’ll always stay with me, no matter what happen..Kwon Sena?”

Sena mengangguk, “Yes, I’ll…” Sena berhenti sebentar, ia menatap Tao penuh tanya, “Jika kau selamat, lalu siapa orang yang baru keluar dari tokomu?”

“Kau tidak tahu?”

“Apa?”

“Kami sudah pindah sejak dua hari lalu, tapi papan nama toko belum di pindah.” Ujarnya menjelaskan, “Kenapa? Kau takut kehilanganku?”

Sena mengerucutkan bibirnya, “Tidak, aku hanya tidak ingin menyesal karena tidak bisa bersamamu.” Jawabnya singkat lalu berpindah di samping kiri Tao dan menggandeng lengannya, “Bagaimana kalau sekarang aku akan mengobatimu?” Tawarnya

Tao mengangguk dan membiarkan Sena membawanya untuk di obati. Entah apa yang akan dilakukan Sena, tapi yang terpenting adalah kini ia bersama Sena. Dan itu adalah obat paling mujarab baginya.

 

END

Iklan

12 pemikiran pada “[BTD; Tao Version] Second

  1. huwwwaa…romantic kungfu panda,,,hehehe…
    lucu ngebayangin tao yang melankolisnya,,,eh tapi di mv 902014 juga dia berperan kaya gt kok,,,
    rasanya gimanaaa gitu liat dia biasa garang,,,wkwkwkw…
    lovely story…gomawoyo…

  2. aaaah perasaanku campur aduk waktu baca ini. antara senyam senyum geje sampe mau nangis tapi gajadi :” a good story kyaaa >< i love it

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s