WOLF Part IV


WOLF NEW

 

 

 

Title :

WOLF

Author :

Heena Park

Ratting :

PG-15

Genre :

Fantasy,Action,Romance,Thriller

Lenght :

Multichapter

Main Cast :

Shin Heera

Kim Jong In

Kris Wu [Wu Yi Fan]

Han Sooji

Oh Sehun

And Other,You cand find on the story

Sunmary :

“Kami mungkin satu klan,tapi ketahuilah bahwa dia lebih berbahaya dan licik”

Recommended Song :

Jay Chou [Ye Qu and 夜的第七章]

Spica [Painkiller]

Poster :

Heena Park Artwork

Author Notes:

 Hallu! Maaf ya part IV nya lama soalnya kemarin-kemarin lagu UN dan males ngetik 😐 Tapi akhirnya setelah berjuang melawan ke-malesan/? lanjutan dari FF Wolf-pun di share juga^^

WOLF ©2014

 

 

 

 

 

Suasana masih tegang, suara kesakitan Kris semakin menjadi-jadi. Mereka yang diluar hanya bisa berharap bahwa tidak ada hal serius yang terjadi pada pria itu. Begitu pula Heera. Untuk pertama kalinya, ia merasa khawatir pada Kris. Ia tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi intinya sekarang yang ada dalam otaknya adalah, bagaimana caranya untuk membuka pintu ini dan melihat keadaan Kris.

“Apakah tidak ada yang bisa mendobrak pintu ini?” Heera menatap satu-persatu pria yang ada di dekatnya, mereka terlihat putus asa dan menggeleng

“Kalau begitu cobalah untuk mendobrak bersama!” Kali ini kesabarannya mulai hilang, Heera berjalan menjauh dan memasang wajah seolah mengisyaratkan bahwa ia mohon dengan sangat agar mereka mau mendobrak pintu itu secara bersamaan, ia benar-benar merasa khawatir sekarang.

Mungkin setelah ini Heera akan mengutuk dirinya sendiri karena mengkhawatirkan orang yang telah membuat hidupnya sengsara, tapi untuk saat ini saja, ia ingin melupakan hal itu dan mulai berpikir jernih dengan rasa kemanusiaan yang tinggi. Ia dengan segala kerendahan hati berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Kris.

Para pria itu sudah mulai bersiap-siap untuk mendobrak pintu secara bersamaan, namun Jongin tidak. Ia malah menyandar pada dinding dan menyilangkan kedua lengannya. Sempat terpikir di benak Heera, apakah pria itu sudah gila? Di saat seperti ini, ia masih saja bisa santai seperti itu.

“Satu..” Suara Sutradara Baek mengawali hitungan

“Dua..”

“Ti…”

Klek..

Sebelum mereka sempat mendobrak, pintu telah terbuka—Kris berdiri di sana sambil menatap kaku orang-orang di depannya. Heera yang sedari tadi memasang wajah khawatir kini telah menghela napas panjang tanda bahwa ia sudah lega karena pada akhirnya Kris telah keluar dari kamar dan tidak terjadi apa-apa.Mungkin—

Tapi sungguh, fisik Kris terlihat baik-baik saja, tubuhnya masih tetap tegap dan tatapannya selalu tajam, lalu apa arti teriakkan tadi?

“Mr. Apa terjadi sesuatu?” Tanya Sutradara Baek, dia memandangi sekujur tubuh Kris dan memastikan bahwa tidak ada satupun yang kurang dari pria didepannya tersebut

Kris menggeleng “Memang ada apa?” Tanyanya balik

Semua berpandangan, bagaimana mungkin orang yang mereka tanya malah bertanya balik seperti itu. Apakah suara barusan hanyalah halusinasi mereka saja? Namun itu adalah hal yang mustahil. Jelas-jelas mereka mendengar Kris berteriak kesakitan dari dalam kamar

“Tadi kami mendengar kau sedang kesakitan.” Gumam Sutradara Baek lagi, ia benar-benar yakin akan apa yang telah ia dengar barusan

Kris melengus, dia diam dan tidak lama kemudian mengibas-kibaskan tangan kanannya “Tidak, aku yakin kalian salah dengar. Daritadi aku tertawa bukan kesakitan, haha sudahlah lupakan saja. Bukankah ini waktunya untuk istirahat?”

Begitu Kris mengucapkan kalimat tadi, semua rasa lelah yang tadi sempat hilang karena terdorong oleh rasa khawatir akan Kris-pun telah kembali, tubuh mereka terasa pegal dan sedikit luka di beberapa bagian yang sebagian besar adalah akibat dari pohon-pohon berduri di dalam hutan. Tapi itu tidak berbahaya, hanya membengkak dan gatal-gatal saja, seharusnya begitu—

“Hahaha, sudahlah kalian bisa istirahat.” Ujar Kris lagi sambil tertawa dan berkacak pinggang. Ini sungguh aneh, tidak biasanya Kris tertawa

Mereka mengangguk dan mengikuti perkataan Kris. Tidak perlu waktu lama orang-orang itu telah berpencar untuk masuk ke dalam kamar masing-masing, terkecuali Heera, ia mendekat pada Kris dan menatap pria dengan seksama. Ia yakin bahwa tadi tidak salah dengar, suara Kris begitu keras dan banyak orang juga mendengarnya. Pasti ada yang tidak beres dari pria ini, Heera yakin. Kali ini dia tidak akan salah

“Kau menyembunyikan sesuatu?” Heera mengawali pembicaraan

“Aku? Baiklah Shin Heera, sejak kapan kau jadi perduli padaku?”

“Ini bukan soal perduli dan tidak perduli..” Heera mengelak “kau berteriak sesaat setelah aku dan Sehun membuka pintu di ruang bawah tanah Yifan-ssi!”

Kris terkekeh lalu sedetik kemudian memegang kedua pundak Heera “Kau terlalu berlebihan sayang, kau terlalu mengkhawatirkanku hingga seperti itu. Yah, kau sepertinya mulai mencintaiku bukan?” Tutur Kris yang terdengar sedang mengalihkan pembicaraan

Alih-alih menyadari bahwa Kris sedang mengalihkan pembicaraan. Heera dengan sigap melepaskan pegangan Kris dari kedua pundaknya “Berhenti mengatakan hal yang tidak akan pernah terjadi, itu hanya akan menyakitimu.”. Perkataan Kris yang memuakkan membuatnya merasa menyesal karena telah mengkhawatirkannya, ia benar-benar idiot, seharusnya ia menyadari bahwa pria seperti Kris tidak akan merasakan hal yang namanya kesakitan atau membutuhkan bantuan. Heera benar-benar menyesal—Dan tanpa basa-basi ia langsung berbalik meninggalkan Kris menuju ke kamarnya

Menatap punggung Heera yang mulai menjauh dan pada akhirnya lenyap dibalik pintu membuat Kris kehilangan senyum di wajahnya, bibirnya yang semula baik-baik saja kini tiba-tiba mengeluarkan darah dan dengan cepat pria itu menggunakan ibu jarinya untuk mengusap darah segar tersebut

“Aku tau, bahkan sekarangpun kau telah menyakitiku, Shin Heera.” Gumam Kris pelan sambil menatap darah yang menempel pada ibu jarinya.

 

 

*****

 

 

“Operasi?” Heera menghimpit ponselnya dengan pundak dan telinga, ia membuka tirai kamar dan kembali duduk di ranjang “Baiklah, uangnya akan ku kirim sekarang juga.” Lanjutnya yang sedetik kemudian memutuskan hubungan.

Ia menatap Sooji yang masih terlelap di kasur, sepertinya temannya tersebut benar-benar sakit, mengingat sedari kemarin tubuhnya demam. Tapi untung saja di desa ini ada seorang dokter yang telah memeriksa Sooji.

Segera Heera mencari Sutradara Baek dan meminta seperempat uang honor dari filmnya tersebut, ia harus mencari ATM atau Bank sekarang, semoga saja ada.

Heera keluar dari villa dan berjalan menelusuri jalanan desa, terlihat pasar di ujung pertigaan dan hei, ia melihat sang penjaga villa sedang duduk di sebuah warung kecil tak jauh darinya. Tanpa rasa ragu Heera segera menghampiri penjaga villa kemudian menepuk pundaknya sehingga penjaga villa itu terkejut dan hampir saja melompa. Untung saja ia cepat sadar bahwa orang yang mengagetkannya barusan adalah Shin Heera, sehingga penjaga villa tersebut bisa mengelus dadanya sekarang.

“Ah nona.” Gumam penjaga villa

Heera terkekeh dan mengangkat kedua tangannya meminta maaf “Maafkan aku jika mengagetkanmu.”

Penjaga villa mengibaskan tangannya “Tidak masalah, apa ada yang bisa ku bantu?” Tanya-nya lagi

“Apa di sekitar sini terdapat ATM? Aku harus segera mengirim uang.”

Penjaga villa tersebut berpikir sejenak lalu tak lama kemudian menatap ke arah jalan keluar desa “Sepertinya tidak ada, tapi kau bisa mengirimnkan uang lewat Kantor Pos.” ia kembali memandang Heera “tidak jauh, pada pertigaan di depan, nona bisa belok ke kiri sekitar satu kilo dan Kantor Pos-nya berada di kanan jalan” Lanjut penjaga villa.

“Ah baiklah..terima kasih.” Heera mengangguk-anggukkan kepalanya, setidaknya penjelasan dari penjaga villa tadi membuatnya cukup mengerti tentang jalan di desa ini. Semoga saja ia tidak tersesat.

Heera baru saja akan berbalik dan meninggalkan penjaga villa, namun tiba-tiba penjaga villa tersebut berkata seolah-olah Heera sedang dalam bahaya, ia tidak tahu kenapa penjaga villa berkata seperti itu. Namun intinya, Heera harus berhati-hati karena ‘dia’ sudah menemukan orang yang tepat.

Jujur saja Heera tidak tahu siapa yang dimaksud ‘dia’ oleh penjaga villa, dan Heera benar-benar tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Tapi apa mau dikata, sepanjang perjalanan otaknya terus saja berpikir, siapakah ‘dia’ tersebut. Apakah nanti ‘dia’ akan membahayakan Heera, atau hanya sekedar perkataan biasa?

Heera tidak menyangka harus berjalan ke Kantor Pos yang cukup jauh dengan berjalan, sepertinya di sepanjang perjalanan ia terus saja melihat warga yang prioritas bekerja sebagai nelayan dan beternak. Bahkan di kantor pos-pun tidak jarang dari warga tersebut yang membawa hasil laut-nya, sepertinya orang-orang itu juga ingin mengirim uang pada keluarganya atau..entahlah.

Untung saja pegawai Kantor Pos tersebut terlihat seperti orang kota, dan ternyata benar saja, ia memang berasal dari Seoul sehingga Heera merasa lebih nyaman.Seorang wanita berusia sekitar empat tahun lebih tua dari Heera. Ia sudah bekerja di Kantor Pos ini selama dua tahun terakhir, ia tinggal di kos-kosan yang tak jauh dari Kantor Pos dan pulang ke Seoul setiap dua minggu sekali.

“Aku sudah mengirim uangnya lewat Kantor Pos, mungkin nanti malam atau besok akan sampai” Heera memandang kertas tanda bukti pengiriman

Mom tenang saja, aku akan meminta izin pada sutradara untuk diperbolehkan pulang sebentar saja” Ujarnya yang kemudian menghela napas panjang

“Baiklah, aku tutup mom

Hatinya sudah lebih lega sekarang karena uang untuk operasi ayah-nya telah terkirim. Ia tidak tahu pasti apakah uang itu cukup atau tidak karena bahkan ibunya tidak memberi tahu berapa uang yang ia butuhkan, namun tenang saja. Setelah ia mendapat ijin dari Sutradara Baek untuk pulang, maka ia akan segera menjual beberapa barangnya yang sekiranya cukup untuk menambah biaya operasi.

Bahkan uang yang baru saja ia kirim barusan adalah gaji dari bermain filmnya. Seharusnya ia belum mendapatkan uang itu, namun dalam keadaan seperti ini Heera bisa apa? Ia terpaksa memohon kepada Sutradara Baek yang pada akhirnya pria itu mau menghadap pada Kris untuk meminta seperempat gaji Heera.

Sebenarnya tanpa menyuruh Sutradara Baek-pun, Heera bisa mendapatkan gajinya dengan langsung meminta pada Kris. Namun ia tidak mau, pria itu pasti menggunakan kesempatan ini untuk meminta hal-hal yang tidak-tidak dari Heera. Ia tidak ingin hal itu terjadi padanya.

“Tidak baik melamun ketika sedang berjalan, Shin Heera.”

Sebuah suara tiba-tiba menyadarkan Heera dari lamunannya, ia menengok ke kiri dan ke kanan mencari darimana asal suara tersebut.

“Kau bahkan tidak bisa menemukanku yang berada tepat di belakangmu.”

Sekali lagi Heera mendengar suara seseorang, ia segera menghadap ke belakang dan menemukan Jongin sedang berdiri dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana. Apakah Jongin sudah mengikutinya sejak tadi?

“Aku tidak mengikutimu, kau tahu?” Ia berjalan sebentar dan berhenti tepat di samping Heera “aku melihatmu di persimpangan” Lanjutnya yang kemudian berjalan mendahului Heera.

Cepat-cepat Heera berlari mengejar Jongin dan mengimbangi cara pria itu berjalan. Nampaknya Jongin sedang senang, wajahnya nampak bersinar tapi… ia melihat bercak bewarna merah pada baju pria itu..memang hanya sedikit, tapi cukup mencurigakan.

“Kau bisa membaca pikiranku?” Tanya Heera tiba-tiba, ia tidak tahu kenapa ingin bertanya seperti itu, padahal seharusnya yang ia tanyakan pada Jongin adalah mengapa ada bercak merah pada baju pria itu.

“Aku? Tanpa belajar untuk membaca pikiranpun, semua orang pasti sudah tahu apa yang dipikirkan oleh gadis sepertimu yang sedang berjalan sendirian, kemudian dikagetkan oleh suara seorang pria di belakangnya yang belum ia kenal” Sahutnya

“Aku mengenalmu”

Heera menyahut, apa yang dikatakan Jongin barusan memang sedikit-banyak ada benarnya, tapi soal pria yang ‘belum dikenal’ sepertinya Jongin salah, karena pada faktanya mereka telah mengenal satu sama lain

Jongin berhenti, ia berbalik menatap Heera “Aku bahkan tidak ingat kalau kita pernah berkenalan”

“Kalau begitu mari berkenalan…” Heera mengangkat tangan kanannya dan mengulurkan telapaknya ke arah Jongin “Aku Shin Heera, kau bisa memanggilku Heera.”

Jongin terkekeh pelan dan menyambut uluran tangan Heera “Lelucon macam apa ini?” Tanya-nya yang terdengar tidak memerlukan jawaban. Namun baru beberapa detik mereka berdua sama-sama terdiam, Jongin kembali mengeluarkan suaranya “Apa terjadi sesuatu? Ku lihat tadi pagi kau sempat berdebat dengan Sutradara Baek?”

Heera mendengus, kenapa tiba-tiba beberapa pria yang bekerja sama dengannya ini menjadi seolah memperhatikannya—Sehun—Jongin—dan…Kris?

“Ayahku akan operasi, jadi aku terpaksa meminta seperempat dari gajiku” Ia berhenti sebentar “ayahku dikeluarkan dari perusahaan dan semenjak itu hidup kami berubah, mungkin dia stres, lalu…malam itu sebuah truck bertabrakkan dengan mobilnya..sebenarnya, ibu-ku tidak memperbolehkanku untuk bermain film lagi, namun hanya ini jalan satu-satunya” Lanjutnya. Sebenarnya ia tahu bahwa Jongin hanya bertanya mengapa ia tadi berdebat dengan Sutradara Baek, namun entah kenapa tiba-tiba ada sebuah perasaan yang mendorongnya untuk bercerita lebih dalam lagi. Ia hanya merasa nyaman dengan Jongin. Itu saja.

“Kau mau ikut denganku?”

“Ya?”

Jongin tiba-tiba meraih tangan Heera dan menggenggamnya “Ku harap Kris tidak melihatku melakukan ini padamu, tapi jika dia tahu biarlah. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang pasti kau belum pernah melihatnya” Ia kemudian menarik Heera untuk berlari dan masuk ke dalam hutan. Apakah ini aman?

Mereka terus saja berlari, walaupun kali ini terasa lebih pelan, namun merasakan tangan Jongin yang hangat menggenggamnya, Heera seolah-olah berlari dengan cepat. Ia merasakan getaran yang begitu hebat. Ia tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul, namun semenjak melihat pria ini Heera merasa memiliki kekuatan yang besar, meskipun mereka memang jarang berbicara satu sama lain.

Mereka berhenti di ujung tebing, sangat tinggi dan curam. Heera mengeratkan pegangannya pada Jongin, lagipula pria itu juga membalasnya. Jongin memandang raut wajah Heera yang sedikit tegang lalu menariknya mendekat.

“Aku tahu kau mungkin sedikit takut, tapi percayalah padaku ini akan indah.” Gumam Jongin.

Heera hanya terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Berdiri di atas tebing yang curam dan membentuk kerucut ini membuatnya takut kalau-kalau nanti tebingnya longsor dan mereka berdua akan terjatuh.

Namun Jongin tidak, pria itu benar-benar santai. Ia kemudian menarik tubuh Heera agar berdiri di depannya lalu menyelipkan kedua lengannya di antara lengan Heera dan bertemu di depan perut wanita itu. Atau bisa disebut dengan..memeluk dari belakang.

Heera bisa merasakan hangatnya kedua lengan Jongin yang memeluknya serta tubuh pria itu yang menempel pada punggungnya. Ia percaya pada Jongin bahwa pria itu tidak akan menyakitinya.

“Sekarang tutuplah matamu dan rasakan semilir angin yang menerpa seluruh tubuhmu.” Perintah Jongin yang langsung dilaksanakan oleh Heera.

Ia menutup kedua matanya, merasakkan hembusan angin yang pelan dan damai, membuat tubuhnya seperti melayang namun tetap dalam kehangatan dari pelukkan pria di belakangnya. Masalahnya seperti lepas terbawa angin. Heera merasa ia benar-benar hidup dalam kebahagiaan sekarang. Jiwa yang tenang, hati yang damai, dan..seorang pria..yang mungkin..akan mengisi hari-harinya—Mungkin.

“Dan setelah aku menghitung sampai tiga kali, bukalah matamu secara perlahan” Gumam Jongin lagi. Ia semakin mempererat pelukkannya dan menaruh kepalanya pada pundak Heera.

“Satu…”

“Dua…”

“Tiga..”

Sontak Heera membuka matanya dengan pelan. Perlahan tapi pasti, ia melihat matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat. Kumpulan burung yang sedang terbang untuk kembali ke sarangnya, dan yang paling indah adalah ketika ia melihat ke bawah. Satu-persatu rumah dibawah sana menyalakan lampunya beriringan yang membuatnya terlihat begitu mempesona.

Tak lama kemudian sebuah lampu besar yang berada dibelakang mereka beberapa meter-pun menyala, membuat keduanya seolah disinari oleh cahaya khusus dalam suasana yang begitu romantis. Hal ini membuat Heera menjadi lupa pada rasa takutnya.

“Tidak semua hal yang kelihatannya menyeramkan, memang benar-benar menyeramkan.” Gumam Jongin yang masih menyandarkan kepalanya pada pundak Heera.

“Aku tahu sekarang…” Heera berbalik sehingga kali ini kedua lengan Jongin berada pada punggung gadis itu “Terima kasih Kim Jong In” Ia merangkul leher Jongin dengan kedua lengannya dan tenggelam dalam pelukkan pria itu.

Ini tidak biasa, bagaimana mungkin Heera bisa memeluk seseorang dengan secepat itu. Ia sadar betul bahwa mungkin Jongin akan mendorongnya karena kaget, namun ia salah, karena pada kenyataannya Jongin malah membalas pelukkannya dan semakin mengeratkan tautan kedua lengannya tersebut pada tubuh Heera.

“Mau ku beritahu sesuatu yang lebih indah lagi dari ini?” Jongin menunduk, menatap Heera yang masih berada dalam pelukkannya. Namun tak butuh waktu lama bagi Heera untuk menganggukkan kepalanya dan menyetujui perkataan Jongin.

“Kalau begitu tegakkan tubuhmu dan tutuplah matamu sekali lagi.” Ujar Jongin.

Heera memaksa tubuhnya untuk berdiri tegap, demi apapun ia masih ingin berada dalam pelukkan pria itu. Tapi apa mau dikata, Jongin sudah menyuruhnya untuk berdiri.

Bagus, sekarang Heera sudah berdiri tepat di depan Jongin, ia lalu menutup matanya dan membiarkan Jongin memberitahu apa yang jauh lebih indah daripada tempat ini.

Perlahan Jongin mendekatkan kepalanya pada kepala Heera, ia sedikit memiringkan kepalanya dan dalam beberapa detik akhirnya kedua bibir itu saling menyentuh satu sama lain. Ia bisa merasakan bahwa Heera sedikit terkejut, bahkan gadis itu membuka matanya lalu menatap Jongin tak percaya.

Namun Jongin tak perduli, ia tetap melanjutkan aktivitasnya yang kini sudah mulai melumat bibir gadis di depannya tersebut. Ia tahu ini memang terlalu cepat dan mungkin saja Kris bisa datang tiba-tiba lalu memukulnya hingga terjatuh dari tebing.

Tapi biarlah saja, hanya ini kesempatannya untuk mencurahkan isi hatinya pada Heera. Perasaan yang datang dengan cepat, perasaan yang membuatnya ingin melindungi Heera, perasaan yang membuatnya harus berani bertanding dengan Kris. Menang atau Mati.

 

 

*****

 

 

“Dimana Heera?” Kris menutup pintu kamar Heera dan Sooji dengan sedikit kasar. Pria itu melipat kedua lengannya dan berdiri di samping Sooji yang masih terbaring di kasur.

Sooji terbangun dan menatap di sekeliling kamarnya lalu mengkerutkan keningnya sibuk mencari dimana Heera berada. Ia sama sekali tidak tahu jika Heera pergi karena sedari tadi kemarin ia terus tertidur efek dari tidak enak badan.

“Ia tidak memberitahu-ku.” Ujar Sooji lemas, ia memandang ke laci dan menemukan ponsel Heera berada di sana “ia bahkan tidak membawa ponselnya!” lanjutnya dengan nada terkejut yang sedetik kemudian sudah berlari keluar kamar dan mencari dimana Heera berada serta diikuti oleh Kris di belakangnya.

“Shin Heera!”

Sooji berteriak sambil menge-check setiap ruangan di dalam villa. Ini sudah malam dan Heera tidak ada dimanapun. Tunggu, mungkin saja Heera berada di belakang villa—Sooji segera keluar dari villa dan berlari mengitari villa tersebut namun hasilnya nihil. Heera tidak berada di sana.

“Aku sudah mengelilingi villa.” Ujar Kris yang baru tiba di belakang Sooji.

Gadis itu terduduk di tanah dan mengacak-acak rambutnya “Shin Heera, dimana kau ini sebenarnya? Ah..” Keluhnya frustasi

Au~

“Suara apa itu?” Sooji sentak berdiri dan mendekat pada Kris

“Itu..cepat masuk ke villa!” Ujar Kris yang sedetik kemudian sudah meraih tangan Sooji lalu mengajaknya untuk berlari masuk ke villa, ini tidak baik, lagipula sepertinya malam ini adalah malam bulan purnama.

 

 

*****

 

 

Mereka berjalan pelan keluar dari hutan. Sibuk dengan pikiran masing-masing yang masih membayangkan kejadian barusan. Senang, bingung, terkejut, semuanya menjadi satu.

Jongin juga tidak mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya, mereka benar-benar ada dalam keadaan hening sampai pada akhirnya sebuah aungan binatang membuat keduanya menghentikan langkah. Ini gawat, pasti ada hewan yang siap menerkam mereka.

“Tetaplah di belakangku” Ujar Jongin, ia segera menggenggam tangan Heera dan membiarkan gadis itu berlindung di belakangnya.

Mereka berjalan pelan serta mengendap-endap layaknya orang yang ingin mencuri. Satu gesekkan antara kaki dan daun kering bisa saja membuat keduanya berada dalam bahaya.

“Aku berani bersumpah, jika kau mengikuti perintahku maka kita akan selamat sampai di villa” Ujar Jongin lagi, ia berhenti sebentar dan menengok pada Heera dibelakangnya “Jika nanti aku menyuruhmu lari, maka larilah, jangan pedulikan aku”

“Tapi..” Heera hampir membantah

“Tidak ada tapi-tapian!” Seru Jongin. Ia menggelengkan kepalanya “tidak maafkan aku, aku tidak berniat membentakmu, sungguh”

Heera mengangguk “Tak apa, aku mengerti” Ia berhenti sebentar dan menatap Jongin “aku akan melakukannya, aku harap kau sampai di villa tanpa kurang suatu apapun”

Jongin tersenyum, ia memeluk Heera sebentar dan menyiapkan tenaganya. Ia tahu betul bahwa makhluk itu pada akhirnya akan mengejar Heera. Terlebih lagi kenyataan bahwa pintu penghubung antara Heera dan ‘dia’ telah terbuka.

Jongin tidak akan membiarkan Heera dalam bahaya sendirian, ia akan melindungi Heera. Bukankah ia memang datang kesini untuk melindungi Heera? Ia harus menyelamatkan Heera, apapun taruhannya. Karena ia percaya bahwa Kris juga akan melakukan hal yang sama dengannya.

Selepas mereka berpelukkan, Jongin kembali menyuruh Heera berjalan di belakangnya dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Au~

Sekali lagi suara itu terdengar, samar-samar dibalik semak terlihat beberapa bola bewarna kuning ke emasan serta beberapa bewarna merah.

“Dia datang” Ujar Jongin

Mereka terhenti, berdiri mematung dengan Heera yang semakin menyembunyikan tubuhnya dibelakang Jongin, Heera bahkan hampir mencakar Jongin karena tubuhnya mulai bergetar ketakutan.

“Heera, dengarkan perintahku” Ujar Jongin lagi “aku akan menghitung dari satu sampai tiga dan kemudian larilah.” Sambungnya.

Heera mengangguk, tidak ada hal lain lagi yang bisa ia lakukan. Ia harus mengikuti perintah Jongin, karena ia percaya bahwa nantinya Jongin akan menyusulnya dengan keadaan baik-baik saja.

“Satu..” Jongin memandang jauh ke dalam mata Heera

“Dua…” Kali ini Jongin mulai melonggarkan genggamannya dan menatap tajam ke arah mata yang sedang mengamati mereka

“Tiga!”

Drakk!

Begitu Heera berlari meninggalkan Jongin, terdengar suara bahwa pria itu ditabrak sesuatu. Namun Heera tak bisa berbalik, jika ia berbalik maka Jongin akan kecewa padanya. Ia terus berlari, telinganya berkali-kali mendengar suara kesakitan Jongin yang jauh dibelakang dan bodohnya ia malah meninggalkan pria itu.

Tidak!

Heera harus kembali ke belakang dan menyelamatkan Jongin apapun yang terjadi, tidak masalah jika nantinya hanyalah kulit ataupun tulang-belulang yang ditemukan oleh Heera. Setidaknya ia harus menyelamatkan pria itu walaupun tidak dalam keadaan hidup.

Heera memutuskan untuk berbalik, ia kembali berlari. Namun kali ini tangannya membawa sebuah kayu dengan ukuran yang cukup besar, ia berharap kayu itu bisa membantunya sedikit.

Namun nihil, begitu sampai di tempat kejadian Heera tidak melihat Jongin atau hewan-hewan buas tadi. Yang ada hanyalah pohon dan suara burung hantu serta hewan malam lainnya.

Dimana Jongin ? Apa ia telah dimangsa habis oleh hewan buas tadi?

“Jongin-ssi!” Teriak Heera, ia berlari ke sana dan ke mari mencari Jongin. Ia tidak akan pulang jika tidak menemukan apapun yang berhubungan dengan Jongin. Ia bersumpah akan hal itu

“Kim Jong In kau dimana?!” Teriaknya sekali lagi, namun tetap tidak ada jawaban.

“Kim Jo—“

“Heera, pelankan suaramu”

Seseorang tiba-tiba menutup mulut Heera dan menariknya ke bawah pohon. Heera berbalik dan mendapati Jongin sudah bersamanya sekarang. Ya Tuhan, untung saja.

“Kau?” Heera membulatkan matanya lebar-lebar dan meraba wajah pria di depannya tersebut “kau masih hidup? Syukurlah..” Lanjutnya yang sedetik kemudian telah menenggelamkan tubuhnya dalam tubuh Jongin

“Kau kira aku akan mati semudah itu?” Ia membelai rambut Heera “kecuali jika kau membunuhku.” Sambungnya dengan lebih pelan

“Ya?”

Jongin menggeleng “Tidak, ayo pulang, ku rasa mereka semua pasti khawatir pada keadaan kita berdua” Jawabnya mengalihkan pembicaraan.

Heera setuju, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan kembali ke villa. Untung saja kali ini semua baik-baik saja, tidak ada gangguan seperti tadi. Apakah Jongin telah mengalahkan makhluk itu? Aneh sekali, bagaimana mungkin ia bisa selamat? Apa dia…

Lamunan Heera terhentikan begitu mereka sampai di depan pintu villa. Perlahan Jongin membuka knop pintu.

Dakk!

Kris langsung memukul Jongin yang muncul dari balik pintu hingga pria itu terpental ke belakang. Heera yang terkejut langsung berlali ke arah Jongin dan membantu pria itu untuk bangkit.

“Yifan, apa yang kau lakukan?!”

 

 

 

TO BE CONTINUED

Iklan

84 pemikiran pada “WOLF Part IV

  1. Saeng-i…akht nya qmu muncul lg …hahahhaha.
    Aq nungguin tau…apa lg the time ending.gggrrrhhh…
    D tnggu noh lnjutannya….jgn lama2 y..lumutan nnti readers yg nunggu…wkwkwk

  2. Sumpah demi apa pun …
    Dia itu siapa ? Apa hubungan nya sama herra ??

    Cepat” di post kelanjutan nya yaa ya penasaran bangettt nih !! Kasian jong in di pukull kris

  3. Next chapternya ya thor.. ceritanya semakin menarik thor.
    Nampaknya kris sangat menyukai heena sampai-sampai ia khawatir tidak menemukan heena dan saat heena kembali bersama kai kris langsung memukul kai.
    next chapter cepat ya thor

  4. Seru ceritanya..jadi ngerasa nostalgia sama era wolf EXO..
    Jongin sama Heera aja, biar Kris sama aku..hha
    Next chap jangan lama” y authornim..ditunggu^^

  5. Annyeong ^^
    aku nu reader. Mian bru komen, jeongmal mianhae 😦 huhuhu aku trlalu serius n saking penasarannya aku langsung lanjut k next chapt. Ottokhe? Gwencana? :/
    mian hiks hiks.*abaikan!
    Authooooorrrrr!!! Daebak, aku sukaaaa :*
    request ah, heera sama jongin aja neeee 😀
    keep writing, d tunggu next chaptnya segera! 😉

  6. ya ampuuun demi apapuuuunn , ini ff gue tunggu bangeeeet >< akhrinyaaaa ya allah di post juga .. author yang cantik baik dan tidak sombong di mohon untuk next jangan lama2 oke :") , fighting!!

  7. finally update!!1
    it’s been a long time xD
    missing this story so much actually
    kekeke
    sebenernya itu makhluk apa sih? apa hubungannya sama haera? dy jadi target gitu?
    terus apa hubungannya dengan jongin yg bilang k haera “kecuali kau yang membunuhku”?
    hemmm penuh dengan misteri..
    ditunggu update an ceritanya yaa
    xD

  8. Wahhh ffnya seru bgt. Maaf thor bru bsa komen skrng.
    Apa mksd jongin brkata “kecuali kmu yg membunuhku”?
    “Dia” itu siapa thor?
    Ff ini mkin lma mkin keren deh. Next scepatnya yah thor I LOVE YOU :*

  9. Itu si “dia” ya yg nyerang jongin ama heera , ada apa lg ini , daebakk thor , keren bgt ff nya . Next part jgn lama” ya hehehe. Fighting thor ^^

  10. Gila ini beneran keren sumpah thor >< demi apa terus yg di maksud 'dia' itu siapa makluk serigala?? Atau cowo yg di caritain mati di teaser pas di jerman itu loh?

  11. huwaaa….
    daebakk….
    cerita nya makin menarik aja ^_^
    karena update nya lama kirain ga bakalan diterusin,,,hehehe…
    ternyata gara2 UN ya,,,hehehe…
    lanjut ya thor,,harus (maksa,,,xixixxii)
    gomawoyo 🙂

  12. oh my…… apa2ini ini. Bikin shock bgt…..
    Oh q lpa. Hy thor… q readers bru di blogmu ini lbh tptnya di ff ini.
    Q pnasaran ama jdulnya ini sdh q dga diliat dri jdulnya “Wolf” biasanya itu fantasy. ya… q lgsg bca dn bbr2 fantasy bgt…..
    Maaf bru bsa comment *hehe…. Tpi daebak thor q ska sma ffmu, tpi… posternya bsa bikin lbh serem lgi gk?? biar lbh wow gtu…
    Q tunggu klanjutannya….

  13. Akhirnya ff nya di lanjut juga.. woaaa daebak thor chap yg ini… cepet di next ya… uda penasaran bgt ni.. ke ke ke ^^

  14. Akhirnya di post juga. Ya ampun kenapa pas langsung di post bagus banget :). Udah khawatir apa yang terjadi sama kai. Tau taunya kai baik baik saja. “Dia” itu siapa? Apakah “Dia” sama Heera punya satu ikatan? Jadi Kris ngelindungin Heera juga. Yey aku seneng Kris ma Kai berantem. Tapi aku lebih seneng kalau Kris ma Kai baik kan aja. Sama sama ngelindungin Heera dari “Dia”

  15. aku snang ff ni dah d lnjtin lgi
    sbnarnya qw pnasaran siapa heera.,bknnya kai ama kris itu jga w0lf ya?trus mang da w0lf lain yg ngincar heera?

  16. akhirnyaaa keluar juga ni ff.. nunggunya ampe lumutann..
    padahal udah mau pasrah ga mau baca lagii krn authornya ga update …
    sumpah makin bingung dia itu siapa??
    kai yipan juga gw masih bingung siapa sig mereka????
    oke..jangan lama* post nya yee

  17. kai-ah~ you’re so sweet, you know that? mau dong dipeluk dipinggir tebing sama kai~ >.<

    most romantic scene in movies (twilight ?) though 🙂 (i cant clearly remember)

    deg2an abis thor pas baca waktu tiba2 ada suara auman 😮

    next…next bacaaa~

    bgus thooor~~

  18. seru,ikut seneng heera bahagia sama jongin/?
    tapi jongin so sweet sekali pas sama heera itu
    penasaran entar jadinya gimana antara sehun kris jongin sama heera

  19. Author makasih pw chap 4nya 🙂

    Kyaaa makin seru aja ^_^
    Heera sama Jongin romantis banget, lihat sunset dari atas tebing pasti indah banget ^_^
    Ko Yifan bisa ga kenapa kenapa? padahal di chap 3 dia berteriak kesakitan tapi kenapa dia baik baik aja?
    Heera please bersikap baik ke Kris kasihan Kris 😦

    Yang di maksud “dia” itu siapa sih thor? apa “dia” itu ga sama kaya Jongin dan Kris?

    Jadi Jongin sama Kris suka sama Heera? Semoga Kris sama Jongin bisa lindungi Heera.

    Keep writing author 🙂

  20. kereeeeen akhirnya kesampean juga baca chapter ini wkwk makin seruuu aja ini ceritanya wkwk kris sangar bgt baru aja pada dateng main tonjok aja ckck udah heera sama jongin aja cocok kok 😀

  21. jongin dteng emng buat nylametin heera? dia dia dia? dia spa? astagterlalu bnyak pertanyaan di otak ini..banguss bangett thorrr..semakin seruu nihhh=)))

  22. hoho berasa nonton twilight/? Atuhlah jadi suka banget sm jongin grgr ini ff wkwk. Gk pernah ngerti deh kalo ada darah darah/? Kaya dibibirnya kris sm dibajunya jongin haha. Daebak pisan dapokonya mahh 😀

  23. Tadaa sepertinya tetjadi cinta segitiga di sini #tepokjidat
    Abang yifan ama gw aja sni 😀 *Rotfl*

    “dia” sapa sih? Brasa liat harry potter “do you know who” lolol

    Dan lagi warganya knapa sih, kayak mereka tw aja kalp “dia” nargetin heera
    Atw mereka emg tw kalo “dia” emg ngincer heera? Apa gara2 heera yg bebasin “dia”?
    Harusnya makasih donk bukannya mw ngebunuh heera, kan udh d bebasin??

    Au ahhhh bingung gw #tepokjidat

  24. waahh keasikan baca baru smpet komen d part inih .. hehe mian ..
    aaa kereenn nyentuh bgt ffnya nyampe bisa ngebayangin jelas setiap adegannya .. daebakk ..

  25. Thank you for another wonderful post. Where else may just anybody get that type of info in such a perfect means of writing?
    I have a presentation subsequent week, and I’m on the search
    for such information.

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s