[FF Request] Hostility Part II [END]


request-poster-heena-park-hostility

Title :

Hostility

Author :

Heena Park [@arumnarundana]

Lenght :

Twoshoot

Ratting :

PG

Genre :

Action,Romance

Poster :

icaqueart

Cast :

-EXO Baekyun [Bernard]

-Jung Je In

Notes :

Hai…Ini adalah FF Request-an dari junginion,akhirnya sampe part akhir juga/? Haha padahal juga Cuma 2 part._. Semoga suka ya…dan jangan lupa tinggalin comment ^^

Recommended Song :

-Painkiller [SPICA]

-Miracles in December [EXO]

© Hostility ©

 

Baekhyun merasakan nyeri yang begitu dalam pada lengannya,ia berusaha membuka matanya,berat rasanya untuk duduk dan melihat sekitar,namun ini berbeda.Ia sudah tak ada di jalanan dengan tubuh yang sekarat dan hampir mati,ia sudah berada di dalam rumah seseorang yang ia tidak tahu siapa itu.

Baekhyun memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri bingung karena berada di tempat yang asing baginya,namun tak lama kemudian matanya menangkap seorang gadis tengah berdiri di ambang pintu sambil membawa sebuah cangkir di tangan kanannya—Jung Je In,apa?

“Kau sudah sadar ternyata” Ujar Je In.Ia berjalan menghampiri Baekhyun dan meletakkan cangkir tersebut pada meja kecil di samping Baekhyun “Kemarin malam kau menelfonku dengan suara yang membuatku khawatir,kau hanya berkata minta tolong dan kemudian aku tidak mendengar suaramu lagi,kemudian ku coba mencarimu dan ternyata kau berada di gang buntu dengan keadaan yang berbahaya,aku meminta bantuan dan berlari kesana-kemari hingga akhirnya bisa membawamu kemari” Jelas Je In

Baekhyun memegangi kepalanya dan mengangkat lengan kanannya “Kau yang mengobati lenganku?” Tanyanya pada Je In

Je In menggeleng “Tidak,kakakku yang melakukannya,dia adalah seorang dokter” Jawabnya ramah,tiba-tiba Je In membelalakkan matanya dan mengambil secangkir teh yang tadi ia buat untuk Baekhyun “Ini minumlah,setelah ini aku akan memasak sarapan untukmu”

Baekhyun menurut,ia menyesap tah hangat tersebut.Rasanya nyaman sekali,tubuhnya yang kemarin terasa remuk kini bisa menjadi lebih baik sekarang “Ngomong-ngomong,aku sering melihatmu bernyanyi di beberapa tempat” Tanya Baekhyun penasaran

Je In tersenyum simpul “Sejak kecil aku ingin bernyanyi dengan bebas kesana dan kemari,aku tidak suka pekerjaan yang terlalu mengikat” Jawabnya

“Apa kau berasal dari Korea? Ah..maaf aku terlalu banyak bertanya” Baekhyun menunduk,rasa penasaran yang bersarang di hatinya begitu besar pada gadis ini.Layaknya takdir yang tak bisa di hindari,bertemu dengan Jung Je In seperti jalan hidupnya yang mungkin akan menuntunnya untuk ke hal yang lebih dalam lagi,mungkin seperti..Jatuh Cinta?

Je In memiringkan kepalanya,keningnya berkerut sama “Aku? Aku memang berasal dari Korea,aku pindah ke New York karena ayahku memiliki pekerjaan di sini.Oh ya Mr.Bernard,kau sendiri juga terlihat seperti orang Korea bukan?”

“Ah benarkah? Sepertinya wajah Asiaku begitu menonjol ya haha,aku juga berasal dari Korea” Tawa Baekhyun hambar

“Aku tidak menyangka akan bertemu orang Korea di sini,jadi apa pekerjaanmu? Dan kenapa kemarin malam di samping tubuhmu terdapat wig dan kumis? Apa kau..”

Baekhyun mengibaskan tangannya “Hahaha,tidak,tentu tidak,kemarin aku baru saja membeli wig dan kumis untuk pamanku,pekerjaanku? Hanya pekerja kantoran biasa saja,tidak ada yang istimewa” Dusta Baekhyun.Sebenarnya ia tidak terlalu pintar dalam berbohong sehingga mungkin jawabannya tadi terdengar bodoh dan sedikit tidak masuk akal

“Lalu bagaimana bisa kau tergeletak di jalan dengan keadaan seperti itu?” Tanya Je In lagi,namun kali ini Baekhyun hanya diam dan mengunci bibirnya rapat-rapat

“Oh..Lebih baik sekarang kita pergi ke dapur,aku akan memasakkan sarapan untukmu dan setelah sarapan kau baru boleh pergi,jangan menolak Mr.Bernard,ini demi kesehatanmu” Perintah Je In

Baekhyun mengangguk,ia di tuntun oleh Je In ke arah dapur dan Je In langsung mencari-cari sesuatu di kulkas dan meraciknya.Baekhyun yang mulai merasa bosan-pun akhirnya berdiri dan pergi ke arah ruang keluarga.

Foto-foto keluarga Je In bergantungan disana-sini,seorang pria dengan tiga orang wanita cantik di sekelilingnya.Baekhyun mendekati foto tersebut,mengamati setiap foto dan tersenyum simpul seperti berkata “Keluarga yang bahagia”

“Ini adalah ayahku,yang di samping kanan adalah ibuku,dan di samping kiri adalah kakakku,sedangkan yang memeluk leher ayah dari belakang adalah aku” Seseorang tiba-tiba menjelaskan.Baekhyun terkejut dan hampir saja melompat,untung dia cepat sadar bahwa itu adalah suara Je In,gadis itu datang dengan tiba-tiba

“Ah maaf aku mengagetkanmu,aku sungguh tidak bermaksud” Sesal Je In. Baekhyun menggeleng sambil mengibaskan tangannya “Apa? Tidak,tentu saja tidak,aku yang seharusnya meminta maaf karena sudah lancang masuk ke ruang ini dan melihat-lihaat”

Je In menepuk pundak Baekhyun “Tidak apa,aku tahu pria sering merasa bosan dengan cepat” Jawabnya lalu berbalik “Lebih baik kita sarapan sekarang” Ajak Je In yang langsung berjalan mendahului Baekhyun

Terlihat sandwich daging dan dua gelas susu putih di meja makan “Aku tidak tahu harus memasak apa,di dalam kulkas hanya ada sedikit bahan makanan,mungkin nanti aku harus pergi berbelanja” Gumam Je In

Baekhyun duduk di ujung meja makan “Tidak,ini adalah sarapan terbaik yang ku makan” Jawabnya yang membuat pipi Je In merona “Kalau begitu mari makan bersama” Ajak Je In yang kemudian duduk di dekat Baekhyun dan mulai menyantap sandwich juga susu buatannya

Baekhyun menatap Je In samar “Apa yang bisa ku lakukan untuk membalas kebaikkanmu Je In?”

 

© Hostility ©

 

“Mr.Bernard? Ya Tuhan,ku kira kau sudah tewas di tangan Garry” Mr.Albert yang terkejut melihat kehadiran Baekhyun di kantor,ia menghampiri Baekhyun dan berteriak “Hentikan pencarian Mr.Bernard,ia telah kembali!” Perintahnya dan segera dilaksanakan oleh Arro

“Mr.Bernard,apa yang terjadi padamu kemarin?” Tanya Mr.Albert

“Aku berusaha mengejar Garry namun ia malah menyerangku” Jelasnya sambil meringis

Mr.Albert memandang Baekhyun sebentar dan mengambil sebuah map hijau di atas meja kerjanya lalu memberikan map tersebut pada Baekhyun “Aku mendapatkan data diri Garry, cap tangan yang kau dapatkan malam itu sangat membantu Mr.Bernard”

Baekhyun menerima map tersebut dan membacanya—Garry memiliki nama asli Jung Tae Han—Warga negara Korea Selatan—Usia 53 tahun—dan bahkan data tersebut disertai dengan wajah Garry,namun sayang tidak ada tempat tinggal di data tersebut

“Dengan data ini maka penangkapan Garry akan lebih mudah” Mr.Albert berjalan ke arah jendela,ia merasakan setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya “Sudah 5 tahun aku mengejarnya dan aku yakin sebentar lagi kita akan mendapatkannya” Matanya menerawang,ia berbalik menghadap Baekhyun dan menepuk pundak pria di depannya “Aku yakin kaulah yang memang ditakdirkan untuk menangkapnya,kau yang akan menjadi pahlawan kami”

Baekhyun hanya terdiam,ia tidak tahu harus memberikan respon apa pada kata-kata Mr.Albert yang baru saja ia dengar,di satu sisi Baekhyun merasa senang karena disebut sebagai pahlawan dan di sisi lain ia merasa bimbang karena seorang pahlawan selalu melakukan suatu hal dengan sepenuh hati—Sedangkan ia tidak,sebenarnya ia sendiri sama sekali tidak tertarik dengan tugas ini—Ia hanya ingin bekerja dan ia bukan pahlawan

Sepeninggal ia dari ruangan Mr.Albert,Baekhyun menatap data-data di tangannya.Ia mengamati foto di data tersebut,rasanya familiar sekali. Ya benar.Bukankah wajah orang Korea memang sedikit—Hampir—Mirip?

Setelah menamatkan foto tersebut beberapa saat,Baekhyun menyimpannya ke dalam tas dan baru saja ia menutup tas tersebut dan matanya menangkap sebuah kalung berliontin huruf J , tidak salah lagi ini adalah milik Garry yang kemarin berhasil ia dapatkan.

Baekhyun berniat kembali ke ruangan Mr.Albert untuk memberikan benda itu padanya,namun ia mengurungkan keinginannya tersebut karena otaknya berkata bahwa sebaiknya benda itu tetap ada padanya—Ia tidak tahu pasti mengapa,tapi itulah yang ada di pikirannya sekarang.

“Hei Mr.Bernard?” Suara Aaron setidaknya mampu menyadarkan Baekhyun dari lamunannya—Ia menoleh menatap Aaron yang sedang berdiri di ambang pintu ruangannya sambil memasang wajah tak percaya bahwa Baekhyun ternyata masih hidup , apalagi kemarin Mr.Albert sempat menggempor-gempor bahwa Baekhyun menghilang bersama Garry

“Kau baik-baik saja bukan?” Tanyanya masih tak percaya,matanya memandang Baekhyun dari ujung kepala sampai ujung kaki dan itu cukup membuat Baekhyun merasa tidak nyaman

“Apakah aku terlihat sedang sakit?” Tanya Baekhyun balik yang hanya direspon sebuah gelengan kecil dari kepala Aaron—Baekhyun menyunggingkan senyum dan menepuk pundak Aaron “Aku harus segera pergi” Ujarnya pamit lalu meninggalkan Aaron yang masih tak percaya akan keadaan Baekhyun sekarang.

Ia tidak begitu memperdulikan tatapan Aaron padanya,yang Baekhyun pikirkan sekarang adalah ia harus segera menuju ke Taman Kota dan menemui Je In sesuai janjinya tadi pagi,entah apa yang merasuki pikiran gadis itu sehingga ia meminta Baekhyun untuk menemuinya di Taman Kota,apa ada yang menarik disana?

Ia sedikit kebingungan harus melajukan mobilnya kemana,beberapa kali Baekhyun tampak bertanya hingga akhirnya ia sekarang telah memakirkan mobilnya di pinggir jalan.Persoalan selanjutnya adalah dimana Je In berada? Sekarang sudah pukul 6 sore,tepat seperti yang diminta oleh Je In,ia bahkan berkata mereka bertemu di bawah pohon dengan bangku bercat kuning,namun hei..apa dia bercanda ? Semua bangku di sini bercat kuning.

Baekhyun memandang ke kanan dan ke kiri berharap bisa menemukan Je In diantara kerumunan orang-orang ini,ia mencoba menghubungi Je In menggunakan ponsel namun gadis itu tidak menjawab panggilannya.Baekhyun benar-benar merasa seperti telah dibodohi dengan gadis itu,apakah dia main-main? Tidak tahukan dia bahwa Baekhyun sedang sibuk? Ia harus mendapatkan Garry,orang paling berbahaya di New York,orang yang bisa mengancam nyawa siapapun bahkan orang yang tak melakukan kesalahan padanya sekalipun.

Baekhyun mengerjap begitu melihat sekerumunan orang membentuk sebuah lingkaran di tengan Taman,apa telah terjadi sesuatu?

Baekhyun yang penasaran akhirnya mencoba menerobos kerumunan tersebut dan betapa terkejutnya dia begitu mengetahui Je In-lah yang telah menarik perhatian para manusia itu hingga berkumpul seperti ini—Je In,menggunakan dress bewarna abu-abu sebatas lutut dan rambut tergerai duduk di depan piano sambil menyanyikan sebuah lagu

When, I saw you for the first time
I knew you were the one.
You didn’t say a word to me.
But love, was in the air.

Then you held my hand
Pulled me into your world
From then on my life
Has changed for me

Now I’ll never feel lonely again
Coz you are in my life…

Love…
How can I explain to you
The way I feel inside when I think of you..
I thank you for everything that you showed me.
Don’t you ever forget that I love you.

Love, I know that someday real soon
You’ll be right next to me.
Holding me so tight.
So I will always be yours.
Although we can’t be together now.
Remember I am here for you.

And I know you’re there for me.
Whenever I want to be with you
I just close my eyes and pretend you’re near
I see you, I touch you, I feel you, like real

Nothing can ever change what I feel inside.

How long must I be far away from you?
I don’t know dear, but I know we are One…

 

Tidak ada yang dilakukan Baekhyun selain menikmati keindahan suara Je In beserta kelihaiannya bermain piano,gadis itu benar-benar berhasil membuatnya jatuh hati dalam pesona permainan musik dan suaranya

Begitu musik selesai,semua bertepuk tangan dengan meriah dan sesaat kemudian Je In berdiri lalu membungkuk mengucapkan salam dan pandangannya tak sengaja terarah pada Baekhyun sehingga gadis itu hampir saja melompat karena terkejut.Ia buru-buru berlari ke arah Baekhyun dan mengucapkan maaf karena membuat pria itu kesusahan mencarinya

“Mr.Bernard? Maafkan aku,seharusnya aku tadi mengatakannya padamu jika aku berada di sini” Sesalnya

Baekhyun menggeleng “Tidak,tidak masalah,ngomong-ngomong suara dan permainan pianomu semakin bagus,seperti suara seorang dewi” Puji Baekhyun yang ternyata berhasil membuat pipi Je In merona.Namun seakan tak ingin terlalu larut dalam kesenangan atas pujian Baekhyun tersebut Je In berusaha mengalihkan pembicaraan “Sebenarnya aku tidak berniat bernyanyi dan bermain piano,oh ya,kau belum makan malam bukan? Di sekitar sini ada restaurant yang ku fikir cocok untuk dicoba olehmu” Ujar Je In sambil mengedipkan matanya lalu sedetik kemudian sudah berjalan mendahului Baekhyun sehingga pria itu terpaksa untuk sedikit berlari kecil agar bisa mengimbangi Je In.

Mereka sudah duduk di meja nomor 14 sebuah restaurant biasa-biasa saja dan bisa dikatakan tidak terlalu menarik namun sepertinya keadaan restaurant ini berbanding berbalik dengan pengunjungnya,terlihat hampir semua meja terisi penuh dan bukan hanya itu,beberapa pengunjung bahkan tidak segan-segan untuk menambah porsi.

Je In memilihkan makanan untuk Baekhyun karena memang nyatanya Baekhyun sama sekali tidak mengerti makanan apa saja yang berada di dalam menu,namun tak masalah,ia percaya dengan Je In

“Bagaimana dengan lenganmu?” Je In mencoba untuk memulai pembicaraan

Baekhyun menaikkan kedua pundaknya “Sepertinya lebih baik,ya kurasa” Jawabnya sambil menggerak-gerakkan lengannya “Kau sendiri,apa saja yang telah kau lakukan seharian ini?” Baekhyun balik bertanya

“Hanya berjalan-jalan dan menghabiskan waktu,kebetulan hari ini aku tidak ada job sama sekali” Jawab Je In dengan riang

Tiba-tiba mata Baekhyun mengarah pada leher Je In,sebuah kalung berliontin huruf J yang sama persis dengan mirip Garry menggantung indah di sana,mencoba peruntungan,Baekhyun-pun memberanikan diri bertanya pada Je In tentang kalung tersebut “Kalungmu?”

Je In menurunkan pandangannya ke kalung yang ada di lehernya kemudian mengeluarkan kalung tersebut dan menunjukkan liontinnya pada Baekhyun “Oh kalung ini,aku mendapatkannya dari ayah,setiap anggota keluargaku memiliki kalung ini—Aku,kakakku,ibuku dan ayahku—Tentu saja dengan liontin yang sama”

Lidah Baekhyun terasa kelu,ia menyipitkan matanya dan menatap Je In nanar “Kalau boleh tahu,siapa nama ayahmu” Suara itu terdengar lebih pelan dan hati-hati membuat suasana menjadi canggung

Je In menatap Baekhyun bingung,namun ia tidak berpikir panjang,lagipula bertanya nama ayah-kan adalah hal yang wajar,bukankah begitu?

“Tae Han,Jung Tae Han” Jawab Je In tiba-tiba

Jantung Baekhyun saat ini terasa berdebar lebih kencang dan mungkin bisa saja lepas dari tempatnya,bagaimana mungkin? Garry ? Adalah ayah Jung Je In? Apakah ia tidak salah dengar ? Baekhyun yakin pasti ada kesalahan di sini

 

© Hostility ©

 

Kepala Baekhyun terasa pusing sampai ke ubun-ubun,ia hanya melirik sebentar ponsel yang tergeletak di meja.Terdengar beberapa kali ponsel tersebut berbunyi,dan ia yakin betul itu adalah pesan dari Je In,gadis itu sepertinya mulai tertarik dengan Baekhyun

Namun sekarang bagaimana ? Ia berada dalam kenyataan yang sulit—Bahwa nyatanya Jung Je In,wanita yang menolongnya itu adalah anak dari Garry,seorang pembunuh dan pencuri atau perampok atau apalah itu yang paling berbahaya di New York—Kenyataan kedua adalah,Je In yang sangat memperhatikannya sejak makan malam mereka dua hari lalu dan itu tidak menutup kemungkinan bahwa ia dan Je In sama-sama tertarik satu sama lain

Memikirkan tentang Je In yang ternyata adalah anak seorang pembunuh dan perampok sudah cukup membut Baekhyun bergidik ngeri.Apakah Je In mengetahuinya? Besar kemungkinan bahwa Je In tidak tahu apa-apa dan itu berarti ia harus menjaga rahasia ini agar Je In tidak mengetahuinya atau gadis itu akan shock.

Baekhyun berdiri dari ranjang dan mengambil handuk lalu mandi dengan cepat,ia memiliki janji dengan Je In hari ini.Segera mungkin ia menuju ke tempat yang dikatakan oleh Je In,begitu menemukan gadis itu sedang duduk sambil membaca sebuah novel,Baekhyun langsung menghampirinya dan menyentuh pundak gadis itu hingga membuatnya sedikit terperanjat

“Mr.Bernard” Ujar Je In kaget

Baekhyun menggeleng “Tidak,jangan panggil aku Mr.Bernard lagi,kita hanya berbeda satu tahun bukan?” Tutur Baekhyun

Je In mengangguk mengerti,mulutnya belum terbiasa memanggil Baekhyun hanya dengan Bernard saja,tapi ia akan mencoba,setidaknya itu membuatnya menjadi lebih akrab dengan Baekhyun. Je In berdehem kecil dan memandang Baekhyun “E..hem Bernard?” Ia mengucap dengan pelan, Baekhyun segera menengok dan menatap Je In “Ya?”

“Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,kau tidak keberatan?”

Dahi Baekhyun berkerut namun beberapa saat kemudian ia menyunggingkan senyum “Tentu saja tidak,memang kita mau kemana?”

Begitu mendengar jawaban Baekhyun, Je In segera bangkit dan meraih tangan Baekhyun kemudian mengajak pria itu untuk pergi ke suatu tempat—Dan oh…Ternyata Je In mengajak Baekhyun ke taman bermain, gadis itu suka dengan permainan yang menegangkan seperti rollercoaster , dan itu cukup membuat Baekhyun meneguk air ludahnya sendiri—Ia benci tempat seperti ini

“Mari kita mencoba permainan ini!” Ajak Je In pada Baekhyun sambil terkekeh, Baekhyun hanya terdiam namun tiba-tiba Je In menariknya ke dalam antrian

“Tapi Je In-ssi,sebenarnya aku..” Belum sempat Baekhyun melanjutkan kata-katanya,Je In sudah menariknya lagi hingga kini mereka telah duduk di bangku paling depan rollercoaster,Oh God—

Tidak ada lagi yang dirasakan Baekhyun kecuali ingin mual dan segera turun begitu rollercoaster itu berjalan, sedangkan Je In disampingnya nampak baik-baik saja dan sibuk berteriak sambil tertawa-tawa senang.Tidak bisakah siksaan ini segera berakhir? Baekhyun bisa saja pingsan jika rollercoaster ini tidak segera berhenti

Oh Tuhan terimakasih

Mungkin itulah yang sedang diucapkan Baekhyun sekarang.Begitu turun dari rollercoaster ia segera berlari ke toilet meninggalkan Je In begitu saja—Je In yang melihat tingkah laku Baekhyun merasa bersalah sekali,ia merasa bodoh karena telah mengajak pria itu menaiki rollercoaster. Mencoba menebus kesalahannya, Je In bergegas membeli minuman dan memberikan itu pada Baekhyun setelah pria berwajah imut tersebut keluar dari toilet

Ia kemudian menuntun Baekhyun untuk duduk di bangku dan mengelus punggung pria tersebut “Bernard,kau baik-baik saja?” Bodoh “Maksudku,bagaimana keadaanmu? Maafkan aku,seharusnya aku tidak mengajakmu untuk menaiki permainan seperti itu,aku menyesal” Sesal Je In

Baekhyun masih sibuk mengatur nafasnya yang terdengar menyedihkan,namun ia berusaha membalas perkataan Je In barusan “Tidak apa-apa…” Ia berhenti dan memejamkan matanya sebentar “Kalau kau tidak keberatan,bisakah kita pergi ke tempat lain saja?” Lanjutnya yang langsung direspon anggukan oleh Je In

Mereka pergi ke sebuah caffé yang tidak terlalu jauh dari taman bermain,namun Baekhyun tiba-tiba berhenti di ambang pintu dan menggerayahi saku celananya lalu menepuk dahinya “Ah,ponselku!” Serunya lalu hendak kembali ke mobil,tangan Je In mencoba menghentikan langkah Baekhyun hingga membuat pria itu bingung dan memandang Je In dengan dahi berkerut

Je In melepaskan pegangannya dan maju satu langkah melebihi Baekhyun “Aku akan mengambilkannya untukmu,lihatlah dirimu,kau bahkan tadi menyetir dengan sedikit melantur dan aku tak akan membiarkanmu mengambil ponsel lalu pingsan,tidak akan” Gumam Je In sambil mengibas-kibaskan jari telunjuknya

Baekhyun tersenyum dan mengacak-acak rambut Je In sampai gadis itu mengerucutkan bibirnya lalu ia mengangguk dan mengikuti perkataan Je In.Ia mengambil tempat tidak jauh dari pintu agar Je In tidak bingung mencarinya.

Sementara itu Je In mulai mengobrak-abrik mobil Baekhyun dan menemukan ponsel milik pria itu pada kursi belakang di atas map bewarna hijau.Rasa penasaran tiba-tiba datang menggerayangi hati Je In,selama ini ia tidak pernah tahu apakah pekerjaan Baekhyun sebenarnya, dan mungkin saja dengan melihat map tersebut maka ia bisa tahu apakah pekerjaan Baekhyun.

Je In menatap ke kanan dan kiri untuk melihat apakah ada orang yang lewat,setelah merasa aman ia meraih map tersebut dan membukanya secara perlahan—Beberapa detik setelah map tersebut dibuka wajah Je In berubah seakan tak percaya akan apa yang telah dia baca barusan,matanya membelalak tajam dan tiba-tiba saja rasa takut menggerayangi tubuhnya..

Jadi…selama ini Mr.Bernard adalah……

 

© Hostility ©

Inginku bercerita pada embun..

Baru ku mulai,ia sudah menghilang…

Inginku bernyanyi bersama angin..

Baru ku mulai,ia telah pergi…

Inginku hidup bersamamu..

Baru ku mulai,ternyata itu tak akan bisa terjadi

……………………………………..

Gadis bersweater abu-abu itu duduk termangu dengan diary bewarna coklat di tangannya,matanya menatap kosong almari yang berada tak jauh darinya.Betapa bodohnya dia selama ini.Bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta pada pria yang baru dikenalnya lebih dari seminggu, hanya karena malam itu sang pria datang menolongnya bagaikan kisah-kisah di dongeng.

Namun ini bukanlah dongeng,ini dunia nyata yang faktanya Baekhyun adalah agen FBI dan sedang mengincar ayahnya, dan itu berarti Baekhyun selama ini mendekatinya hanyalah salah satu tak-tik untuk mendapatkan informasi mengenai ayahnya.

Sekarang bagaimana? Je In benar-benar tidak menyangka jika sang ayah yang selama ini ia kenal hangat dan bersahabat ternyata adalah seorang penjahat yang sangat di incar seantero New York,ia adalah pemimpin kelompok Zorus yang bahkan sangat ia kecam ketika melihat beritanya di televisi.

Otaknya terasa berpikir dengan lambat,ini berarti sebentar lagi Baekhyun akan segera menangkap ayahnya dan tidak menutup kemungkinan bahwa ayahnya akan dihukum mati—Ia harus membantu sang ayah membebaskan diri

Namun di satu sisi,ada rasa khawatir jika ia membiarkan Baekhyun terus seperti itu,mengingat kejadian beberapa hari lalu,ketika Baekhyun menghubunginya dengan keadaan sekarat dan ia bahkan tak tahu dimana pria itu berada,namun untunglah dengan GPS ia dapat menemukan pria itu.

Ia tidak bisa membiarkan ayahnya jatuh di tangan Baekhyun,tapi ia juga tidak bisa membenarkan kelakuan ayahnya,mengingat berapa banyak orang yang telah menjadi korban kekejamannya,lalu ia harus bagaimana ? Ini pilihan yang sulit.

“Jung Je In”

Sebuah suara membuyarkan lamunan Je In, ia menengok dan mendapati ayahnya telah berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.Je In memicingkan matanya dan jantungnya berdebar kencang,ia adalah anak dari seorang pembunuh.

“Kau sudah makan?” Tanya Tae Han,tangan kanannya menyodorkan sepiring nasi dengan lauk ayam dan sayuran “Kata ibu-mu sedari tadi kau tidak turun dan makan,kau baik-baik saja bukan?” Lanjut Tae Han,kali ini tangannya membelai lembut kepala Je In.

Oh Tuhan,bagaimana mungkin pria sebaik ini adalah seorang pembunuh? Ini pasti salah.

Je In menaikkan kepalanya dan menatap mata sayu Jung Tae Han.Seorang pria yang sopan dan senyuman bak malaikat pagi,orang yang selama ini menjadi kebanggaannya dan juga orang yang sangat ia benci,tentu saja ketika tahu bahwa Tae Han adalah seorang pembunuh

“Je In,katakan pada appa,sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apakah kau patah hati? Pria mana yang berani menyakiti hati anak appa? Appa pasti akan menghajarnya!” Kali ini Jung Tae Han mengangkat lengannya dengan gaya bersiap untuk menonjok orang yang menyakiti anaknya

Andai Tae Han tahu bahwa orang yang telah menyakiti Je In adalah dirinya sendiri,apakah ia juga akan menghajar dirinya sendiri? Apakah ia mampu?

Je In tanpa permisi langsung memeluk tubuh ayahnya dan menenggelamkan kepalanya dalam-dalam,ia tidak mengerti kenapa,tapi ia merasa bahwa saat ini adalah saat-saat terakhir ia bisa bersama dengan sang ayah

Pria pertama yang sangat ia cintai di dunia ini,orang yang selalu memberikan keyakinan pada Je In,pria yang selalu mendukungnya dalam diam,pria yang selalu berusaha melindungi Je In sejak ia baru terlahir sampai sekarang, dan bahkan Tae Han tidak pernah marah ketika Je In dengan blak-blakkan berkata bahwa ia sangat benci pada pemimpin Zorus dan bahkan akan membunuh orang itu jika mereka bertemu

Lalu sekarang? Itu benar-benar terjadi.Pemimpin kelompok Zorus adalah ayahnya sendiri,orang yang selama ini ia percayai,dan ini berarti ia harus rela jika suatu hari nanti ayahnya harus dihukum mati.

“Appa…aku mencintaimu..tidak perduli seperti apa dirimu,aku tetap anakmu yang selalu bangga padamu” Tangis Je In,ia tidak bisa menahan bendungan air mata yang sudah berada di ujung kelopaknya

“Hei..hei..appa juga mencintaimu” Tae Han melonggarkan pelukkannya “Apapun yang terjadi dan apapun yang kau dengar nanti,bahkan jika hal itu sangat mengecewakanmu,ingatlah perkataan dan janji appa…Selama hidup ini masih terus berjalan dan selama kita masih bersatu,selama itulah appa akan menyayangi kalian”

Je In semakin memeluk erat ayahnya,ia ingin menghabiskan hari ini bersama dengannya karena mungkin saja setelah hari ini ayahnya akan berhenti untuk memeluk erat tubuhnya,berhenti untuk menggenggam tangannya dan berhenti untuk berkata bahwa ia mencintai keluarganya.

I Love U APPA ♥

 

© Hostility ©

 

Malam ini terasa lebih dingin daripada biasanya—Baekhyun berdiri di depan kaca melihat badannya yang telah dibalut oleh jaket kulit hitam beserta celana jeans hitam pula—Ia bahkan menggunakan sepatu hitam mengkilat dan sebuah pistol yang tersembunyi dalam saku jaketnya.

Namun kali ini ia tidak akan lupa untuk mengisi peluru atau ia akan bernasib sama seperti beberapa hari yang lalu.Sebuah walky talky berbentuk jam tangan sudah melingkar indah di tangannya,ia telah siap untuk melakukan penyergapan malam ini di markas Zorus yang akhirnya telah berhasil dilacak oleh tim.

“Test…agen Bernard di sini,aku akan berangkat ke markas kelompok Zorus” Ujar Baekhyun sambil mendekatkan walky talkynya ke bibir,untung saja walky talky tersebut tersambung pada headset yang berada di telinga Baekhyun sehingga ia tak perlu mendekatkan walky talky itu ketika harus mendengar

“Bagus,segera ke sana.Jackson dan Harry telah bersiap,mereka berada di halaman depan,sedangkan Sam dan Joan berada di halaman belakang,kau akan bertemu dengan Ray di gerbang dan kalian akan masuk berdua” Jelas Mr.Albert pada Baekhyun

“Yes sir!” Balas Baekhyun lalu melajukan mobilnya ke tempat yang dimaksud,sekitar 45 menit dan akhirnya ia sampai pada sebuah gudang tak berpenghuni dan tentu saja gelap.Baekhyun memperhatikan sekitar dan matanya menangkap Jackson di sebelah kanan sedang bersembunyi dibalik semak,sedangkan Harry berada di sebelah kiri menyamar sebagai penduduk sekitar

“Aku sudah sampai” Ucap Baekhyun dengan hati-hati

“Berjalanlah dengan pelan,Ray ada tepat dibelakangmu” Jawab Mr.Albert—Ya,pria itu tahu segalanya,setiap orang yang ditugaskan selalu disertai dengan kamera kecil sebagai pengintai,sebuah kamera yang diletakkan di pundak atau terkadang pada saku “Aku dan yang lain akan segera datang,ku harap penyergapan ini akan berhasil” Lanjut Mr.Albert—Dalam hatinya yang terdalam,ia sangat yakin bahwa penyergapan ini akan berhasil,mengingat banyaknya kemajuan yang terjadi setelah Baekhyun bergabung.

Baekhyun menengok kebelakang dan agak kaget begitu melihat Ray sudah ada dibelakangnya,namun itu tak berlangsung lama.Mereka memutuskan untuk masuk dan melihat seperti apa di dalam sana.Mereka berjalan layaknya berjinjit,berharap derap sepatu tak terdengar dan tetap tenang dalam kegelapan.

Mereka melewati dua pintu tanpa kayu,tempat ini sangat tak terurus dan siapapun pasti tak menyangka bahwa kelompok paling berbahaya di New York ternyata bermarkas di sini.Matanya sesekali melirik ke kanan dan ke kiri,takut ketahuan.

Begitu sampai pintu yang ke-4,akhirnya mereka melihat ruangan dengan cahaya lampu yang terang.Garry atau Jung Tae Han atau juga ayah dari Jung Je In—Kenyataan itu…Tidak,untuk sementara Baekhyun tidak boleh teringat kembali akan gadis itu.

“Bernard di sini,kami telah sampai di TKP,masuk sampai ke pintu ke-4 dan kalian akan menemukan kami” Baekhyun berbisik pada walky talkynya dan direspon bahwa mereka telah sampai setengah perjalanan,tentu saja bersama petugas keamanan lain.Sambil menunggu yang lainnya datang,Baekhyun dan Ray mengamati kelompok tersebut.

Beberapa wanita terlihat bersama mereka,tak lupa narkoba, minuman keras dan…hasil rampokkan mereka.Tak sengaja Baekhyun mengamati Garry,melihat betapa miripnya mata dan bibir pria itu dengan Je In,dan sekali lagi hatinya seperti teriris.

Srekk..

Ray tak sengaja menginjak kumpulan kertas,mata Baekhun membelalak takut akan apa yang telah dilakukan Ray akan ketahuan oleh Zorus.Ternyata benar,mereka berdiri dan memandang ke arah dimana Baekhyun dan Ray berada

“Siapa kalian!” Teriak Garry—Suaranya begitu khas orang Korea Selatan “Aku tahu kalian berada di balik pintu!” Lanjut Garry lagi.Karena tak menerima balasan,Garry berbalik sebentar dan mengambil sebuah pistol lalu berjalan ke arah Baekhyun dan Ray.

Tak ingin sesuatu buruk terjadi,akhirnya Baekhyun mengambil pistolnya dan menembakkannya ke lantai kemudian berlari—Hal itu membuat Garry semakin marah,ia menyuruh pasukkannya untuk mengejar Baekhyun dan Ray,mengerti bahwa ia sedang dalam bahaya,Baekhyun beberapa kali menembakkan pistolnya kebelakang,ia tak tahu apakah terkena atau tidak,yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya menghindari para pembunuh itu.

Namun tiba-tiba otaknya memerintahkan ia untuk berbalik dan menghadapi Garry,entah itu angin atau apa tapi “Ray aku akan kembali ke dalam,kau tunggulah yang lainnya dan dapatkan bantuan” Perintahnya pada Ray

“Tapi Bernard?”

“Aku akan baik-baik saja” Gumam Baekhyun meyakinkan,ia menatap mata Ray dengan yakin lalu kembali dan melihat 2 mayat berlumuran darah segar dan 4 luka-luka tergeletak di lantai,ia tahu itu perbuatannya.

Ia tidak terlalu perduli pada orang-orang itu,yang ia harus lakukan sekarang adalah menangkap Garry.

“Aku tahu kau akan kembali nak” Gumam Garry begitu melihat Baekhyun sampai di ambang pintu,Baekhyun menegakkan tubuhnya dan mendekat pada Garry “Aku bukan pria pengecut yang mudah kalah,Jung Tae Han-ssi” Balasnya

Garry menepuk tangannya yang terdengar seperti sebuah sindiran “Hahaha,benar-benar pria yang tangguh,dan kau? Memanggilku dengan sopan hahaha” Tawa Garry terdengar renyah

“Jangan banyak basa-basi kau!”

“Aku? Oh..nonono”

Baekhyun tersenyum tipis dan memperlihatkan kilatan matanya “Je In pasti sedih jika tahu ayahnya seperti ini” Gumamnya sambil menatap mata Garry yang tiba-tiba saja berubah,ia tahu pria itu shock.Bagaimana mungkin Baekhyun tahu bahwa Je In?

“Kau,apa yang kau lakukan pada putriku?!” Garry berteriak

“Tentu saja aku melakukan hal yang lebih baik dari apa yang kau lakukan” Baekhyun semakin menyunggingkan senyumnya

“Keparat kau!”

Setelah mengatakan umpatan tadi,Garry langsung berlari ke arah Baekhyun dan hendak melayangkan pukulan namun berhasil di hindari oleh Baekhyun,mereka satu sama lain saling menyakiti,menendang—Memukul—Bahkan hampir menusuk.

Garry mendapatkan lengan Baekhyun dan memutar tubuh pria muda itu lalu menempelkannya ke dinding dan memegang lehernya “Aku akan membunuhmu” Ancamnya pada Baekhyun

Tangannya telah bersiap dan otot-ototnya mulai bekerja,ia dengan sekuat tenaga menghimpit leher Baekhyun hingga pria itu kehabisan nafas dan berbatuk-batuk,nyawanya kini kembali di ambang kematian.

 

© Hostility ©

 

Je In yang baru saja keluar dari supermarket tak sengaja melihat mobil FBI dan polisi lewat di depannya,apakah ini tandanya?

Ia tanpa pikir panjang mengikuti mobil itu dari belakang dan berhenti pada sebuah gudang yang lusuh,segera ia mencoba masuk ketika para petugas FBI dan polisi sedang sibuk untuk penyergapan.Ia menyusup lewat pintu samping dan betapa kagetnya ia ketika melihat Bernard sedang di cekik oleh ayahnya sendiri.

Je In hampir saja berteriak karena melihat wajah Baekhyun yang sudah mulai pucat,ia bisa melihat dengan jelas keringat dingin yang keluar dari tubuh pria itu,otaknya berpikir.Ia harus menyelamatkan Baekhyun,tapi ia tak ingin sampai menyakiti ayahnya,sekarang ia harus bagaimana?

“Appa!” Je In berteriak dan membuat Garry menghentikan perbuatannya,matanya membelalak begitu melihat anaknya sedang menangis,ia tahu pasti Je In kecewa padanya

Je In beberapa kali menggeleng dan berlari ke arah Baekhyun lalu mencoba untuk membantu pria itu berdiri “Apa yang appa lakukan? Kenapa appa seperti ini?!” Je In masih berteriak,ia mengingat kata-kata ayahnya kemarin,saat ayahnya berkata bahwa ia mencintai keluarganya

“Je In,appa bisa jelaskan” Garry mencoba menggenggam tangan Je In,tapi Je In melepaskannya

“Tidak perlu ada penjelasan lagi,aku kecewa..orang yang selama ini aku bangga-banggakan,ternyata adalah seorang pembunuh!” Ia menekankan pada kata-kata pembunuh dan itu membuat Garry sakit hati

Je In sudah tak perduli lagi pada ayahnya,sekarang FBI bisa bebas menangkap ayahnya,apapun yang terjadi,ayahnya telah bersalah,ia harus menerima hukuman.Namun tiba-tiba sebuah tangan menarik lengan Baekhyun hingga membuat Je In yang tak kuat menjadi terpelanting

Garry mencoba untuk menembak tepat di otak Baekhyun namun dengan sigap Je In bangun dan mencoba mengambil pistol itu,Garry tak memberikannya,ia berusaha untuk menghempaskan Je In jauh-jauh darinya dan membiarkan gadis itu melihat Baekhyun yang terbunuh di tangannya,namun Je In tidak akan membiarkan semua itu terjadi

Tangannya dengan berat menarik sebuah pisau kecil dari saku Garry dan seakan semuanya menjadi slow motian,Je In sambil berteriak dan menangis menancapkan pisau tajam tersebut ke dalam perut Garry dalam-dalam lalu mencabutnya kembali dan tak lama setelah itu menusuknya kembali—Apakah ia sekarang menjadi anak durhaka?

Garry memegangi perutnya yang berlumuran darah,ia terjatuh di lantai dengan air mata yang tak terbendung lagi

“Je…In..” Suara serak itu muncul lagi

Je In berlutut dan mengangkat kepala ayahnya “Appa…maafkan aku..aku tidak bermaksud..Ya Tuhan! Bodoh apa yang sudah aku lakukan? Appa bertahanlah aku akan membawamu ke Rumah Sakit” Tangis Je In,ia berusaha mengangkat tubuh ayahnya namun Garry menghalanginya

Pria itu tersenyum kecil dan mengelus pipi Je In yang penuh akan tangisan “Tidak apa-apa Je In…tidak apa-apa” Garry menghapus air mata yang berlinang dari mata Je In “Katakan pada ibu dan kakakmu..” Garry mengambil napasnya dalam-dalam dan berbatuk parah “Appa minta maaf…appa sangat mencintai kalian…selamanya kita adalah keluarga”

“Appa!”

Garry menutup matanya,saat itu juga tangisan Je In langsung pecah,ia berusaha menggoyang-goyangkan Garry dan meminta pria itu untuk kembali,ia belum siap untuk kehilangan sosok ayah yang selama ini ia bangga-banggakan,ia masih mencintai Garry sebagai ayahnya.Ia masih membutuhkan Garry,masih—

 

© Hostility ©

 

Je In,Eun Hi,dan ibu mereka duduk pilu melihat pria satu-satunya dalam keluarga itu harus pergi,kepedihan jelas terlihat di wajah mereka.Terlebih lagi Je In,pasalnya sang ayah harus meninggal di tangannya sendiri.Ia membunuh orang tuanya sendiri.

Begitu jasad sampai di pemakaman,tangis mereka kembali pecah.Harus melihat sang ayah dikubur dalam tanah.Je In yang merupakan anak paling muda dalam keluarga langsung memeluk batu nisan ayahnya,perasaan bersalah begitu kental di hatinya,ia tak bisa berhenti menyalahkan diri sendiri

Namun Je In merasakan kehangatan,seorang pria memeluknya dari samping dan membantunya untuk berdiri,ternyata Baekhyun,pria itu memeluk Je In dan menggunakan tangannya untuk mengusap air mata pedih yang mengalir di pipi Je In

“Bernard…” Je In tertatih

Baekhyun menggeleng dan memegan pipi Je In dengan tangannya “Tidak..jangan Bernard lagi..panggil aku Baekhyun..Byun Baekhyun”

Baekhyun kembali menarik Je In dalam pelukkannya,ia tidak ingin gadis itu menjadi rapuh,ia sadar akan perasaannya sendiri.Ia sadar tugas ini membuatnya jatuh cinta pada Je In.Anak dari orang yang menjadi musuh utamanya,namun tidak apa-apa.Perasaannya tak bersalah,ia hanya harus merasakan dan menjalaninya,hanya itu—

Baekhyun mengelus rambut belakang Je In “Mulai saat ini,aku berjanji..aku berjanji akan menjagamu” Ia melonggarkan pelukkanya “Aku mencintaimu Jung Je In,aku akan menjagamu..selamanya”

 

© Hostility ©

 

 

25 Agustus 2015

 

Hai appa…

Bagaimana kabarmu?

Sudah lama sejak kejadian itu dan kita berpisah bukan?

Appa..apa kau sudah makan? Apa kau bahagia di sana?

Aku di sini bahagia appa,aku bersama dengan orang yang aku sayangi..

Aku tahu mungkin ini salah,tapi aku menyayangi Ber..oh tidak tapi Baekhyun..

Ku harap appa tidak marah padaku hehe

Tapi aku minta izin..

Aku ingin menikah dengannya appa…

Bulan depan..

Jadi,appa restuilah kami ^^

With love—Jung Je In♥

 

 

THE END

Iklan

20 pemikiran pada “[FF Request] Hostility Part II [END]

  1. Keren thor…. Untung je in cpet dteng klo ƍäª baekhyun pasti Ʊϑªh menyandang gelar mendiang.. Di tunggu karya selanjutnya thor!!

  2. Pas adegan jein sm taehan itu sedihh banget,meleleh gua bacanyaaa
    Tapi ini aku ssuka banget action sama romancenya passs
    Keep writing yoo

  3. Hmmm…kayanya udah pernah baca dan komen tp lupa di blog ini ato blog sebelah ya…hahahaha..
    Males scroll lg…hehehehe…
    But it was perfect..cerita, karakter, plot…semuanya…termasuk baekhyun nya…xixixixixi
    Gomawoyo

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s