Damai Bersama Senja


O.O huwaaaa Heena comeback lagi masa.-. Kali ini bawa cerpen sih yaw…Sebenernya ini tugas buat dikumpulin pas sekolah-______- Tapi berhubung beberapa minggu ini aku nggak share FF di blog ini,jadi aku putusin buat share cerpen ini aja huwaks~

Oh ya,BTW cerita di cerpen ini terlalu cepet dan mungkin gak bakal dapat feelnya,soalnya aku jarang bikin cerpen atau FF oneshoot-_- biasanya kalau bikin yg oneshoot itu bisa lebih dari 15 halaman.Nah ini cuma 9 -_-“.

Okelah,lanjut aja deh ;))))

 

damai bersama senja

 

 

 

Ketika hidupmu perlahan hancur—Maka iman,harapan,impian,dan harga dirilah yang harus tetap kau pertahankan

 

 

Senja berlalu dibalik lepas pantai Selatan.Reina—Seorang gadis cantik berambut ikal sebahu dengan warna hitam berkilau dan mata bulat layaknya bintang timur yang muncul setiap malam.Matanya sayu menatap deburan ombak yang datang seolah tanpa beban,bermain ke sana – ke mari dengan riang tanpa harus memikirkan sulitnya hidup.

Rasanya ingin sekali mulutnya yang mungil itu mengumpat dan mengeluarkan seluruh keluh kesahnya selama ini,namun toh ? Apa itu berguna ? Memangnya hanya dengan berteriak-teriak dan menyumpah-nyumpah ia akan terbebas dari segala masalah ? Tidak.Hidup tidak seinstan itu—

Muak.Mungkin hanya itu kata yang bisa ia gambarkan sekarang untuknya.Di usianya yang menginjak enam belas tahun ini-pun ia merasa hidupnya hanya sia-sia.Terlahir dalam sebuah keluarga berantakkan yang entah bagaimana cara untuk menggambarkannya.

Ayah dan Ibu-nya yang sebentar lagi akan bercerai,saudara perempuan yang usianya terpaut dua tahun lebih tua darinya terjebak dalam pergaulan bebas,dan seorang saudara angkat laki-laki berusia Sembilan belas tahun dengan kepribadian yang sedikit urakkan dan susah di atur itu membuatnya semakin frustasi.

Namun,keluarga tetaplah keluarga.Bukan keluarga namanya jika salah satu anggotanya pergi begitu saja ketika masalah sedang menimpa.

Ia tersadar dari lamunanya,di ambilnya sebuah ponsel bewarna putih di balik saku jaketnya.Ia yakin pasti tadi ibunya sempat menelponnya karena ponselnya mengeluarkan cahaya bewarna merah.

Ia menatap layar ponselnya,tujuh kali panggilan dan itu semua berasal dari ibunya.Ia yakin pasti sekarang sang ibu sedang mencarinya karena sudah hampir tiga jam ia berada di tempat ini.Di sebuah pantai yang jauh dari kata bising , ramai,berisik,dan ah terserahlah.

Baru saja tangannya menyahut alas kaki yang berada di sampingnya,namun sepertinya seseorang sedang memanggil namanya.Dan dengan refleks Reina menengok,menatap seorang pria di antara senja yang berdiri sambil memegang sepeda gunung hitam.Pria itu mengkerutkan keningnya seolah sedang menunjukkan raut muka kecewa lalu bergumam “Kamu ini ke mana saja ? Daritadi mama mencarimu” Ujarnya lalu menggerakkan kepalanya menunjuk sepedanya “Cepat naik,kita harus segera sampai di rumah,mama dan papa ingin mengatakan sesuatu”

Mengatakan sesuatu ? Reina tersenyum pahit membayangkan apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tuanya.Ia sudah bisa menebak bahwa mereka pasti akan membicarakan tentang perceraian yang telah lama mereka persiapkan.Sepertinya takdir sedang bermain-main dengannya,atau ia-lah yang sedang mempermainkan takdir ? Entahlah—

Kakinya melangkah maju lalu duduk di boncengan sepeda,tumben sekali Naufal menggunakan sepeda.Biasanya ia lebih sering menggunakan motor jika harus mencarinya.Dan alasan mengapa Naufal-lah yang selalu mencarinya adalah karena saudara laki-lakinya itulah yang mengerti tentangnya dan hafal betul di mana tempat persembunyiannya.Saudaranya itu seperti memiliki sebuah insting yang kuat terhadapnya.

Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam dalam kecanggungan,dan begitu sampai di rumah tanpa basa-basi kedua orang itu langsung berjalan masuk.Kedua mata Reina mendapati orang tuanya,dan Raisa.Saudara perempuannya,sudah duduk di sofa dengan tampang serius.Kedua orang tuanya menoleh dan menyuruh Reina dan Naufal untuk duduk.

Begitu mereka duduk,sang ayah langsung mengawali pembicaraan “Usia kalian sudah beranjak dewasa,papa dan mama tidak ingin berbasa-basi lagi” Ia berhenti sejenak “Tidak ada yang menginginkan perpisahan,tapi jika itu yang terbaik maka lakukanlah.Bukankah begitu ma ?” Pria itu melanjutkan perkatannya dan menatap istrinya yang mengangguk setuju.

Wajah Reina berubah muram,rasa sakit berkecambuk dalam hatinya yang paling dalam.Bagaimana mungkin mereka bisa berpikir seperti itu ? Ia tahu bahwa seharusnya ia sudah berpikir dewasa dalam menanggapi hal ini,namun yang namanya anak tetap akan berpikir seperti anak.Apapun yang terjadi,entah itu besar atau kecil.Di dunia ini tidak ada anak yang ingin orang tuanya berpisah dalam sebuah kata perceraian.

“Apa sudah tidak bisa dipertahankan lagi?” Bagus.Ia harus bertanya.Walaupun mungkin itu adalah pertanyaan paling bodoh dalam hidupnya.Tapi wajahnya memelas mengharap adanya sedikit harapan yang akan terwujud.

Kedua manusia yang disebut sebagai ‘orang tua’ itu menoleh pada Reina dengan kening yang mengkerut tanpa mengharap penjelasan.Tanpa dijelaskan-pun ia sudah mengerti apa yang dimaksud oleh Reina.Kemudian sang ibu tersenyum dan menyahut “Kalau masih bisa dipertahankan,maka hal ini tidak akan terjadi”

Tidak ada ekspresi yang di keluarkan Reina,hanya termenung setelah mendengar perkataan ibunya.Percuma ia berkata,tetap saja tidak akan di gubris,lebih baik diam dan segera pergi.

“Oh ya Reina tadi pelatih di sanggar-mu menelpon,katanya besok kamu harus datang lebih awal untuk mempersiapkan lomba,maaf mama tidak bisa mengantarmu,mama ada urusan bisnis” Lanjut ibunya

“Papa?”

“Maaf,papa juga tidak bisa.Besok papa tugas keluar kota” Sesalnya.

“Kalau begitu,biar aku saja yang mengantarnya” Raisa yang sedari tadi terdiam akhirnya berani mengeluarkan suaranya,dan dengan tegas langsung di bantah oleh ibunya “Tidak ! Mama tidak akan pernah membiarkan kamu keluar dengan kondisi seperti ini ! Kamu ingin membuat malu keluarga lagi dengan memperlihatkan kondisi kehamilanmu hah?”

Kalau saja saat itu Raisa tidak terjebak dalam pergaulan bebas,pasti ibunya tidak akan bersikap seperti itu padanya.Semua seolah berubah seratus delapan puluh derajat sejak kejadian itu.Hidup yang semula baik-baik saja perlahan menjadi buruk dan hancur,dan sejak kejadian itulah kedua orang tua mereka menjadi sering bertengkar dan membesar-besarkan persoalan yang sebenarnya spele.

Sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya salah Raisa—Malam itu,ia terlambat pulang dari rumah teman karena mengerjakan  beberapa tugas yang telah menumpuk.Di persimpangan jalan tak jauh dari rumah temannya,beberapa orang pria sedang berpesta minuman keras,dan tanpa permisi atau seuntai kata mereka menghampiri Raisa lalu melakukannya tanpa rasa bersalah.

Setiap kali mengingat hal itu,Raisa selalu merasa sangat hina dan tak pantas hidup.Untuk apa ia hidup jika harus mendapat perlakuan seperti itu? Ini sangat tidak adil.Mencoba melupakan bayangan tadi,Raisa menggelengkan kepalanya dan menunduk “Maaf,Raisa minta maaf pada mama dan papa,Raisa memang bukan anak yang bisa dibanggakan,Raisa memang anak yang kotor”

“Baguslah kalau kamu tahu”

Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut ibunya.Bagaimana mungkin seorang ibu bisa berkata seperti itu pada anaknya ? Semua mata tertuju pada wanita setengah baya itu lalu kembali mengarah pada Raisa.Jelas saja wajahnya berubah semakin kelam.Kini mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan akan semakin dalam dan lebih dalam membawanya hingga ia tak tahu apakah ia bisa kembali.

“Aliya,kamu ini apa-apaan berkata seperti itu? Ingat dia ini anak kita!” Tiba-tiba sang ayah menengahi

“Aku tahu mas,tapi dia sudah mencemarkan nama baik keluarga.Ah sudahlah , aku lelah.Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu!”

Wanita itu mengalihkan pandangannya lalu berjalan pergi meninggalkan ke-tiga anaknya dan suaminya yang wajahnya hampir memerah padam.Setelah wanita itu menghilang,pria yang disebut sebagai ‘ayah’ itu mendekat pada Raisa.Tangannya menepuk pelan pundak anaknya dan berucap “Mamamu memang seperti itu,jangan khawatir kamu masih memiliki papa,adik,dan kakakmu” Ujarnya seraya menatap Naufal dan Reina.

 

OoOoO

 

“Baiklah sudah cukup latihannya” Ujar seorang wanita bermata abu-abu.Manik matanya menatap lurus gadis di depannya “Kamu baik-baik saja ? Tidak biasanya kamu bersikap semurung itu” Perempuan itu mengkerutkan keningnya sebagai tanda ribuan pertanyaan melintas di kepalanya.Melihat ekspresi Miss.Lauren,Reina menarik ke-dua ujung bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman pahit lalu menggeleng sejenak “Ah tidak,tidak ada apa-apa” Dustanya lalu berdiri

“Ah,ya sudahlah,oh ya,rajin-rajinlah latihan.Kali ini kamu harus membawakan Tari Merak.Tarian itu tidak semudah yang kamu pikirkan” Sambungnya serius—Reina menoleh pada Miss.Lauren,tatapannya masih sendu tapi ia mengangguk tanda mengerti.

Waktu berlalu dengan lambat hingga akhirnya senja-pun tiba.Reina mengayuh sepeda gunung milik Naufal menuju ke rumahnya,di ujung jalan terlihat Vita sedang menunggunya,gadis bertubuh mungil itu melambaikan tangannya pada Reina dan langsung disambut senyuman hangat darinya—Reina melajukan sepedanya ke arah Vita dan menyapanya “Hai” Ujarnya sedikit kaku.

Vita bergeming pelan melihat wajah Reina yang kusut,tidak biasanya orang seceria Reina bisa memasang wajah seperti itu “Kamu tidak apa-apa?” Tanya-nya khawatir.Jauh di lubuh hati Reina,ia ingin sekali menceritakan hal yang selama ini mengganjal hatinya dan membuatnya tak bisa berpikir jernih.Namun,percuma ia menceritakan itu pada Vita,ia yakin Vita tidak akan bisa mengerti apa yang sedang menimpanya,karena bagaimanapun tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa mengerti apa yang kau rasakan kecuali kau sendiri.

Apakah itu terdengar egois ? Tidak masalah.Semua manusia memiliki sisi egoisnya sendiri—Bagaimanapun caranya,egois adalah salah satu sifat yang memang sudah ada dalam diri manusia sejak penciptannya pertama kali.

Reina menggeleng pelan mencoba membuyarkan lamunan bodohnya yang singkat itu,lalu menengok menatap Vita “Ah,tidak.Oh ya,sepertinya kita tidak bisa pulang bersama,aku ingin mampir sebentar ke tempat nenekku” Ia mencoba mengalihkan perhatian.

Vita mendecakkan lidahnya “Well..Ngomong-ngomong minggu depan kita jadi berangkat bersama kan?” Tanyanya,ia sekedar bertanya tentang rencana mereka untuk pergi ke tempat lomba bersama.Reina mengangguk “Tentu saja,aku akan menghubungimu minggu depan.Kalau begitu aku pergi dulu ya,bye”

Reina melajukan sepedanya memasuki sebuah perumahan di daerah pinggiran Kota Yogyakarta,di perempatan ia berbelok dan memasuki blok E.Sepedanya berhenti di depan rumah ber-nomor 14.Terlihat seorang wanita tua sedang duduk di sebuah kursi goyang dengan tangan yang sibuk membolak-balik buku,Reina menghampirinya “Assalamualaikum” Ujarnya yang disambut senyuman oleh wanita tua tersebut “Waalaikumsallam,masuk nduk”

“Ono opo to nduk ? Apa ada masalah lagi to karo mama-papamu?” Wanita itu bertanya dengan lembut sambil mengelus pundak cucunya yang sedang menyandar pada kakinya “Reina nggak tahu nek,Reina bingung gimana jelasinnya”

Wanita tua itu menatap Reina dan mengusap pipi gadis di depannya “Nduk,ojo ngono .Percaya nduk,doa karo Gusti Allah,setiap masalah iku mesti ono jalan keluare…Ya nduk”

Mata Reina berkaca-kaca,kenapa ia sama sekali tidak ingat akan hal itu ? Apa mungkin karena hati dan pikirannya yang sudah tercemar oleh kecemasan ? Dalam satu hentakkan,Reina berhasil memeluk tubuh neneknya dan mulai terisak “Reina takut nek,takut jika waktu Reina habis namun semua belum selesai”

“Reina,arti namamu damai,mereka itu berharap kowe ki lo nduk,iso nggae uripe damai.Percaya nduk,percaya.Masalah mesti iso diselesaikan”

 

 

OoOoO

 

 

Kalender menunjukkan tanggal 2 Mei 2013.Reina telah bersiap,ia berdiri di depan kaca sambil melihat penampilannya hari ini.Di kepalanya terdapat sebuah topi berbentuk layaknya burung merak  bewarna merah,sedangkan tubuhnya di balut pakaian adat Jawa.

Drrtt

Ponselnya bergetar,diraihnya benda kecil bewarna putih itu .Matanya menatap layar ponselnya dan mendesah berat,ternyata pesan dari ibunya.

 

Massage from : Mama

15.00

Sayang,mama tidak bisa datang hari ini.Ternyata mama masih ada jadwal meeting

 

Tubuhnya yang tegap tiba-tiba saja terjatuh di lantai seolah tak memiliki kekuatan lagi,ponsel di tangannya terjatuh,ia hampir saja menggeliat di lantai sebelum tiba-tiba Vita datang sambil membawa dua buah cup air mineral—Gadis itu begitu terkejut sampai-sampai air di tangannya terjatuh.

“Reina ! Reina,kamu kenapa ? Reina” Ia menggoyang-goyangkan tubuh Reina,gadis itu memang tidak pingsan tapi tubuhnya memberonta seolah sedang diterpa kesakitan yang begitu dahsyat.Kedua tangannya sibuk melepas topi di kepalanya dan menarik rambutnya sendiri sambil sesekali menekan kepalanya “Aku..tidak apa-apa ! Tolong..Argh”

“Reina,tolong apa ?Aku akan membantumu” Ujar Vita gemetaran.Reina menunjuk tas lengannya , ia tidak bisa berkata apapun lagi selain menunjuk tas itu.Namun Vita mengerti apa yang dimaksud Reina,pasti gadis itu ingin ia mengambil obat di dalam sana,dan dengan cepat Vita menegakkan tubuhnya.Tangannya memperoleh sebuah tabung kecil berisi obat-obatan milik Reina,ia lalu mengambil air dan menyuruh Reina segera meminumnya.

Perlahan keadaan Reina mulai membaik,Vita mencoba untuk membujuk Reina agar tidak jadi mengikuti lomba ini.Namun Reina mengelak,ia tetap ingin mengikuti lomba ini,ia yakin mampu.Dan jika sudah seperti ini,tidak ada yang bisa menghentikannya.

Tepat setelah itu nama sanggar mereka di panggil dan itu artinya mereka harus segera tampil.Vita memegang erat lengan Reina,takut jika temannya itu tiba-tiba saja terjatuh.Sedangkan Reina ? Dia terlihat tenang-tenang saja,wajahnya memang terlihat lemas.Namun matanya berkata bahwa ia ‘yakin’ bisa.

Mereka berdiri di tengah panggung,dan begitu musik dimainkan .Tubuh yang lemah gemulai itu mulai bergerak seperti semestinya.Reina menatap bangku penonton,ia berhasil menemukan keluarganya.Ayahnya,Neneknya,dan ke-dua kakaknya,dan satu bangku kosong.Bangku itu adalah milik ibunya yang lebih memilih meeting daripada harus melihatnya.Penampilan terakhirnya.

Sudahlah,Reina tidak boleh bersedih.Percuma ia bersedih,itu tidak akan menyelesaikan masalah.Sekarang yang lebih penting adalah ia berhasil berdiri di panggung ini.Ia berhasil membawa nama sanggar yang telah melatihnya.Dan sekarang ia harus membuat seluruh siswa sanggar bangga padanya.Juga keluarga,terutama ibunya.

Kepalanya kembali sakit,tapi dia tidak boleh menyerah mengingat bahwa sebentar lagi tarian ini akan segera selesai.Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.Dan ia kembali bergetar,keadaan itu disadari oleh Vita yang tidak sengaja menengok pada Reina.Namun toh,ia tidak mungkin berhenti menari lalu menghampiri Reina.

Sedangkan di kursi penonton.Naufal yang sedari tadi hanya berdiam diri,kini mulai menyadari perilaku aneh Reina.Walaupun adik angkatnya itu berada lumayan jauh darinya namun ia bisa merasakan perubahannya.Tanpa permisi Naufal berdiri dan berlari ke belakang panggung takut jika setelah ini terjadi sesauatu.Ia sempat dipanggil oleh ayahnya,namun pria itu tidak menggubrisnya.

Jantungnya berdebar kencang,tubuhnya lunglai,bibirnya terasa kering.Ia harus segera menyelesaikan tarian ini.Sebentar lagi,tidak sampai lima menit..Sebentar lagi..

Brukk

Semua terasa gelap,dunianya sudah berakhir.Reina terjatuh,ia tak sadarkan diri.Samar-sama ditelinganya masih terdengar suara keributan orang-orang yang terkejut akan dirinya.Tapi tubuhnya terlalu lemas,hingga akhirnya ia benar-benar tidak mendengar apapun.

 

OoOoO

 

 

“Dokter,itu tidak mungkin.Anak saya tidak menderita penyakit itu!” Aliya hampir saja berteriak di Rumah Sakit,dia histeris begitu mendengar bahwa Reina menderita Kanker Otak primer stadium akhir.Tubuhnya menjadi lemas,dan ia hampir saja terjatuh namun untung saja suaminya dengan cepat menahannya.

Sedangkan Naufal,Raisa,Vita dan sang nenek hanya termenung.Mereka tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi pada Reina.Pantas saja beberapa hari ini sifat Reina berubah hampir seratus delapan puluh derajat.

“Apa tidak ada jalan keluarnya dok?” Tanya Naufal tiba-tiba.Ia tahu,dan ia sangat perduli dengan Reina melebihi rasa perdulinya sebagai seorang saudara.Mungkinkah ia ?

Bagaimanapun Naufal tetaplah seorang pria yang memiliki perasaan,dan selama ini sepertinya ia menganggap Reina bukan hanya sebagai adik,namun juga sebagai seorang perempuan di mata laki-laki

“Ada,operasi dan kemoterapi”

“Kalau begitu cepat laksanakan dok,berapapun biayanya saya pasti akan membayarnya” Aliya tiba-tiba menengahi pembicaraan itu dengan tidak sabar.Dia rela miskin asalakan Reina selamat.Reina anaknya—

 

 

OoOoO

 

Setelah kau berusaha dengan sekuat tenaga—Entah kau berhasil atau tidak—Cobalah untuk bersyukur dan tersenyum.Itu akan memudahkanmu

 

Reina membuka matanya,samar-samar ia menangkap cahaya dari arah jendela.Tubuhnya masih lemas,tapi ia yakin telinganya tidak.Ia tadi mendengar suara ibunya.Dan benar saja begitu ia menengok ke kanan,seorang perempuan setengah baya sedang menangis tersedu .

Wanita itu tidak sengaja melihat Reina,wajahnya semakin sendu.Kedua manik matanya menatap Reina yang sedang tersenyum tipis.Lalu tiba-tiba saja wanita itu berlari kecil menghampiri Reina—Melingkarkan kedua lengannya pada tubuh anaknya dan mengecup keningnya.

Surga…

Itulah yang pertama Reina pikirkan,selama ini ibunya yang sibuk selalu membuatnya merasa iri pada teman-temannya.Ia sangat jarang mendapat pelukkan dari ibu dan ayahnya.Namun hari ini,ibunya memeluknya.

Apakah ini pelukkan terkahir ? Entahlah—

“Sayang,maafkan mama…Mama tidak tahu kalau keadaanmu seperti ini,kenapa kamu tidak memberitahu mama?”

Reina menggeleng “Reina tidak ingin membuat mama khawatir,lagipula ini hanya penyakit biasa.Reina bisa mengatasinya” . Aliya memeluk Reina lagi “Mulai sekarang,jangan berbohong pada mama.Mama berjanji,mama pasti akan meluangkan waktu untukmu.Mama menyayangimu”

“Reina tahu” Jawabnya lalu menarik kedua ujung bibirnya untuk tersenyum.Ia menatap wajah ibunya,jelas saja tersimpan begitu banyak kesedihan di sana.Ia bisa merasakannya.Sungguh—

Waktu berjalan dengan cepat begitu ia bersama dengan keluarganya.Sekarang,waktunya untuk operasi.Senja terlihat dibalik jendela,dan itu membuat Reina merasa lebih relaks.Badannya yang kecil memakai pakaian khusus untuk operasi dan ia sedang berbaring di ranjang.

Ibu-nya sedari tadi terus memegang tangannya,sang ayah-pun juga begitu.Sedangkan Naufal dan Raisa,mereka berdiri di belakang ibunya sambil menatap Reina nanar.Neneknya sedang dalam perjalanan kemari,sebenarnya tadi ayahnya sudah menawari sang nenek untuk dijemput,namun ia mengelak dan lebih memilih datang bersama supir.

Krekk

Pintu bergerak,seorang dokter dan dua orang perawat masuk ke dalam kamar rawatnya.Seorang dokter muda dengan wajah tampan yang berusia sekitar akhir dua puluhan.Wajahnya berseri ramah.Ia kemudian berkata “Sudah siap untuk operasi hari ini girl?” Tanyanya riang.Reina mengangguk “Tentu saja” Jawabnya yakin.

Dokter,ke-dua perawat dan keluarga Reina mendorongnya sampai di depan ruang operasi.Di sana mereka berhenti sebentar.Reina memandang keluarganya satu-persatu “Ma,Pa,Mas,Mbak,Doakan Reina ya” Ujarnya meminta doa.

Mereka semua mengangguk lalu ibunya mewakili “Tentu saja sayang,tentu” Ia berhenti sejenak,mengambil napas dan mengeluarkannya “Kamu berjanji kan untuk sembuh dan kembali berada di tengah-tengah keluarga?” Sambung sang ibu.

Reina mengkerutkan keningnya,tangannya memegang dadanya “Tentu saja,jika kalian berjanji untuk kembali bersatu,dan jika mama mulai menerima keadaan Mbak Raisa” Ia tersenyum puas.

Seketika ke-dua orang tuanya berpandangan dan tersenyum malu.Kemudian Aliya menatap Raisa.Sebenarnya ia sangat menyayangi Raisa,bagaimanapun Raisa tetap anaknya.Ia sadar sekarang,ia sudah keterlaluan pada Raisa.Ia seolah tidak pernah member kesempatan pada Raisa,tapi sekarang ia berjanji.Ia tidak akan egois,ia akan memberi Raisa kesempatan.

Aliya mengangguk “Ya,mama berjanji..Mama menyayangi kalian semua—Dan sekarang,penari kecil mama harus berjanji pada mama untuk bertahan”

Bolehkah ia menangis sekarang ? Tanpa permisi Reina menitikkan air matanya begitu saja,walau hanya setetes,tapi itu air mata bahagia.Ia memeluk ibunya dan membiarkan dirinya jatuh dalam kasih sayang itu.Dan sekarang ia benar-benar berharap bahwa ia bisa mendapatkan pelukkan lagi setelah saat ini.

Semoga saja ia masih memiliki umur yang panjang untuk merasakannya.Semoga—

Tidak lama kemudian mereka melepaskan pelukkan itu.Kembali sang dokter mendorongnya masuk ke dalam ruang operasi.Ruangan yang selama ini belum pernah ia jamah,dan sekarang ia akan bertaruh nyawa di sana.Tapi dia yakin , ia pasti kuat.

Di saat senja seperti ini,ia memiliki kekuatan yang lebih besar.Ia menyukai senja,senja membuatnya nyaman.

Akhirnya,perlahan Raina mulai menghilang dibalik pintu,semua seolah berhenti sesaat.Namun semua akan kembali normal,semoga saja.

 

 

 

The End

 

Iklan

TINGGALKAN JEJAK YA^^ .. DON'T BE A SILENT READERS !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s